• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konstruksi Sosial Budaya Dakwahtainment dalam Lensa Program "Siraman Qolbu" di MNCTV

N/A
N/A
sabrina yusli

Academic year: 2024

Membagikan " Konstruksi Sosial Budaya Dakwahtainment dalam Lensa Program "Siraman Qolbu" di MNCTV"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

KONSTRUKSI SOSIAL BUDAYA POPULER DAKWAHTAINMENT DALAM LENSA PROGRAM ‘SIRAMAN QOLBU’ DI MNCTV

A.

PENDAHULUAN

Media massa memiliki pengaruh yang signifikan pada kehidupan masyarakat.

Mereka memiliki kemampuan untuk membentuk opini dan memperkuat sikap kritis masyarakat, bahkan mampu mengubah perilaku manusia. Perilaku sosial dalam masyarakat saat ini sangat dipengaruhi oleh bagaimana media membangun narasi.

Meskipun dianggap memiliki dampak positif, media massa juga dapat menyebabkan dampak negatif.1 Sobur menjelaskan bahwa esensi dari konten media adalah produk dari proses konstruksi realitas. Media massa memiliki kesempatan yang besar untuk memengaruhi interpretasi dan citra yang timbul dari realitas yang mereka konstruksi.2

Televisi merupakan salah satu media massa yang memiliki perkembangan yang luar biasa di seluruh dunia. Di masyarakat, televisi tidak lagi dianggap sebagai barang mewah, melainkan sebagai kebutuhan yang penting bagi sebagian besar orang. Sampai saat ini, televisi tetap menjadi salah satu sarana komunikasi massa yang sangat penting dan mampu menarik perhatian penonton. Kekuatan gabungan antara audiovisual dan beragamnya program yang disajikan menjadikan televisi pilihan utama bagi banyak orang daripada media massa sebelumnya seperti media cetak dan radio. Kelebihan audiovisual televisi dalam menyajikan informasi, pendidikan, dan hiburan merupakan faktor kunci yang menarik pemirsa televisi.3

Kegiatan dakwah secara tradisional saat ini mengalami penurunan terutama di kalangan generasi muda. Kegiatan dakwah di tempat ibadah umumnya hanya dihadiri oleh kyai, santri, dan kaum tua yang tengah mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah ini. Sebagian besar generasi muda lebih tertarik untuk menyaksikan dan mendengarkan tausiah yang disajikan dengan menggunakan unsur budaya populer melalui berbagai media massa, termasuk televisi, radio, media cetak, dan platform media sosial. Dakwah yang disajikan dengan memanfaatkan budaya populer melalui media ini sering disebut sebagai dakwahtainment.

1 Nurul Syobah, “Konstruksi Media Massa,” Jurnal Dakwah Tabligh Vol. 1, no. 2, Desember (2013): 153–68.

2 Alex Sobur, Analisis Teks Media (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2018).

3 Tabrani, “Jurnal Pendidikan Dan Konseling,” Jurnal Pendidikan Dan Konseling 4 (2022): 1349–58.

(2)

Dakwahtainment, dalam konteks era kontemporer belakangan ini, telah merajai ruang digital di berbagai platform media sosial, bahkan terus hadir di layar televisi, terutama selama pagi hari dan bulan Ramadhan. Gabungan dakwah dengan unsur hiburan atau humor saat ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.4 Dakwahtainment memiliki peran yang signifikan dalam memfasilitasi pertumbuhan spiritual di sejumlah segmen masyarakat kita, yang berpotensi memberikan dampak positif pada perkembangan Islam secara keseluruhan. Namun demikian, saat melihat tujuan sejati dari dakwah dan interaksi dengan budaya populer, kita dihadapkan pada dilema. Meskipun agama pada dasarnya bersifat religius, dalam prakteknya sering kali terdapat elemen materialistik yang dapat mengancam esensi keberagamaan itu sendiri.

Dakwahtainment sendiri memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi pengelola media. Selain itu, kehadiran dakwah di layar televisi mampu dengan cepat mengangkat seseorang menjadi figur yang fenomenal, yang mendorong banyak kalangan, khususnya generasi muda, untuk terlibat dalam dakwahtainment.

Media televisi, sebagai bagian dari industri hiburan, secara alami mempertimbangkan aspek keuntungan dalam pembuatan program-programnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya rekontruksi pada setiap program yang disajikan. Rekontruksi ini tidak hanya berlaku pada program-program hiburan, tetapi juga mencakup program- program keagamaan yang dianggap suci oleh masyarakat. Dengan demikian, terjadi situasi di mana nilai-nilai agama, yang semula dianggap sebagai hal yang bermakna secara spiritual bagi masyarakat, berubah menjadi komoditas yang dijual demi memperoleh keuntungan dari peningkatan jumlah pemirsa dan rating yang berdampak pada pendapatan iklan. Hampir setiap stasiun televisi memiliki program keagamaan dalam berbagai formatnya sendiri. Salah satu contoh program keagamaan yang menarik perhatian peneliti adalah Program Siraman Qolbu bersama Mamah Dedeh yang disiarkan oleh stasiun televisi swasta MNC TV.

Secara umum, program-program religi sering kali menampilkan ustadz-ustadz nasional yang membawakan kajian dengan gaya yang ringan, sering kali disertai dengan humor untuk menghibur penonton. Pesan kajian disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami agar mudah dinikmati oleh penonton dan sekaligus menarik minat pengiklan.

Oleh karena itu, pesan-pesan tersebut disajikan dengan cara yang menarik. Dampaknya

4 Nur Ahmad, “Rekonstruksi Dakwahtainment Sebagai Media Dakwah,” Jurnal Dakwah 19, no. 02 (2018): 113–

34.

(3)

adalah unsur hiburan seringkali lebih mendominasi konten dibandingkan dengan nilai- nilai keagamaan yang disampaikan, padahal seharusnya pesan dan nilai-nilai agama lebih diutamakan daripada aspek hiburan.

Program Acara Siraman Qolbu bersama Mamah Dedeh adalah Program yang mengupas tentang fenoneman-fenomena yang terjadi dan ajaran Islam sebagai solusinya.

Dakwah yang disampaikan dengan santai dengan dibalut komedi yang menambah hangat suasana tapi tetap memiliki pesan berbobot dalam ceramahnya. Dalam program ini, hadir Mamah Dedeh yang merupakan Ustadzah yang juga aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Depok Jawa Barat dan juga seorang pendakwah yang malang-melintang di radio.

Beliau juga merupakan lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.5 Mamah Dedeh tidak hanya tampil sendiri, beliau ditemani oleh host Irfan Hakim. Program ini selalu dihadiri oleh Ibu-Ibu anggota Majelis Taklim sebagai audiencenya. Selain para audience di studio yang bisa bertanya langsung mengenai tema yang sedang dibahas, pemirsa di rumah pun bisa bertanya melalui telepon interaktif, e-mail dan media sosial seperti Facebook, twitter dan Skype.

Beberapa penelitian mengenai dakwahtainment, seperti yang dilakukan oleh Pradesa dan Ardilla, telah menganalisis tayangan program Islam Itu Indah di Trans TV dengan menggunakan teori Komodifikasi dari Vincent Mosco serta teori Efek Eksternalitas dari Edward S. Herman dalam konteks penyiaran televisi. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa fenomena komodifikasi terlihat dalam berbagai aspek, termasuk isi konten komunikasi, respons dari pemirsa, tenaga kerja yang terlibat, dan nilai-nilai agama yang disampaikan. Meskipun beberapa efek eksternalitas yang positif dapat terlihat, namun mayoritas cenderung mengarah pada efek eksternalitas yang memiliki dampak negatif.6

Kemudian, Fajariyah dan Digarizki membahas dakwahtainment dengan memeriksa praktik diskursif dalam resitasi al-Qur'an dalam segmen Indonesia Mengaji yang diselenggarakan dalam acara "Ramadhan di Rumah Saja" yang ditayangkan oleh MNCTV. Dalam praktik resitasi al-Qur'an ini, para artis dangdut mengekspresikan spiritualitas mereka dan menyampaikan pesan-pesan Islam. Popularitas artis-artis ini menjadi faktor utama dalam menarik perhatian penonton, sambil tetap mempertahankan

5 https://www.dailysia.com/biodata-profil-dan-fakta-mamah-dedeh/ diakses tanggal 21 oktober 2020

6 Dedy Pradesa and Yunda Presti Ardilla, “Komodifikasi Dan Efek Eksternalitas Program Dakwahtainment Islam Itu Indah,” INTELEKSIA - Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah 2, no. 1 (2020): 81–106,

https://doi.org/10.55372/inteleksiajpid.v2i1.85.

(4)

daya tarik pribadi mereka dan menjaga keakuratan penyampaian konten Islam. Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam era komersialisasi televisi yang berkembang pesat, bisa terjadi kolaborasi yang berhasil antara format penyiaran televisi dengan konten Islam.7

Berdakwah melalui media hiburan ini adalah merupakan tugas yang mulia dengan harapan mereka para pelaku media hiburan dapat memperjuangkan kebenaran dengan menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar dalam skala lebih luas melalui media tanpa membiaskan makna dakwah tersebut. Berbagai persoalan yang mengiringi pola dan intensitas perilaku keagamaan masyarakat tidak terlepas dari besarnya pengaruh media massa. Hal ini menarik dicermati dalam paradigma akademik. Justru aspek yang cukup menarik namun belum mendapat perhatian akademik yang baik, adalah pada dimensi media. Hal ini dianggap urgen untuk mengukur konstruksi sosial media massa dalam proses pengembangan dakwah.

Berdasarkan hal tersebut, peneliti menjadi tertarik untuk menyelidiki melalui kerangka teori konstruksi sosial yang diajukan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dengan merumuskan pertanyaan penelitian tentang tahapan pembentukan konstruksi dakwahtainment. Pertanyaan penelitian tersebut mencakup tahapan pembuatan materi konstruksi, penyebaran konstruksi, pembentukan realitas konstruksi, dan tahapan konfirmasi. Selanjutnya, penelitian juga mengeksplorasi bagaimana pembentukan realitas konstruksi budaya populer dakwahtainment melalui proses dialektika yang dijelaskan oleh Berger dan Luckmann, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi?

B.

METODOLOGI

Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam dalamnya melalui pengumpulan data. Secara spesifik, ruang lingkup penelitian ini berfokus pada konstruksi sosial budaya populer dakwahtainment sebagai topik pembahasan utama.

Kemudian, peneliti melimitasi proses pengambilan data dengan terfokus pada pembentukan konstruksi sosial budaya populer dakwahtainment pada ajang pencarian bakat dai di media massa. Untuk memvalidasi keabsahan, studi dilakukan bersumber dari data yang diperoleh dari tayangan pada program Siraman Qolbu di MNCTV.

7 Lukman Fajariyah And Iftahul Digarizki, “Volume 11 No . 2 Desember 2020 Dakwahtainment : Resitasi Al- Qur

’ An Oleh Kalangan Artis Dangdut Dakwahtainment : Al- Qur ’ An Resitation By Dangdut Artists” 11, No. 2 (2020): 163–72.

(5)

Sumber data primer dalam penelitian ini yaitu wawancara. Wawancara dilakukan bersama dengan (...). Sedangkan sumber data sekunder Observasi dilakukan dengan cara mengamati tayangan-tayangan Siraman Qolbu melalui televisi ataupun tayangan ulang yang ada di YouTube, serta media sosial resminya.

Analisis data pada penelitian mengacu pada teori konstruksi sosial teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. langkah dalam proses pembuatan konstruksi sosial adalah:

1. Tahapan menyiapkan materi konstruksi. Pada tahap ini, terdapat tiga isu penting:

keberpihakan media massa terhadap kapitalisme, keberpihakan semu kepada masyarakat, dan keberpihakan dengan kepentingan publik.

2. Tahapan sebaran konstruksi. Prinsip dasar sebaran konstruksi sosial pada media massa adalah semua informasi sampai ke kelompok sasaran secara tepat waktu sesuai dengan agenda media. Apa yang penting bagi media juga penting bagi khalayak atau pembaca.

3. Tahap pembentukan konstruksi realitas. Pembentukan konstruksi terjadi sebagai berikut. (1) Konstruksi pembenaran, yakni upaya membangun pembenaran dengan menyajikan sebuah realitas yang dijadikan sebagai sebuah realitas kebenaran di masyarakat melalui media massa, (2) Kesediaan sebagai pemirsa dan dikonstruksi oleh realitas yang dibangun melalui media massa. (3) Menjadikan media massa sebagai pilihan konsumtif.

4. Tahap konfirmasi. Konfirmasi merupakan langkah yang memberikan validasi dan akuntabilitas terhadap keputusan media dan publik untuk terlibat dalam konstruk tersebut.

Berger dan Luckman mengatakan bahwa ada dialektika antara individu yang membentuk masyarakat dan masyarakat yang membentuk individu. Proses dialektika ini berlangsung melalui eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Ada tiga tahap dalam proses dialektis tersebut:

1. Eksternalisasi adalah tahapan atau proses di mana produk sosial menjadi bagian penting dan diperlukan individu dalam masyarakat. Produk sosial ini menjadi materi atau objek khusus masyarakat. Dengan kata lain, eksternalisasi adalah proses individu melihat kenyataan sosial, realitas sosial, lalu akan memahami sesuai dengan subjektif dirinya.

(6)

2. Objektivasi adalah proses di mana produksi sosial berada pada tahap pelembagaan, di mana individu muncul sebagai produk aktivitas manusia, tersedia baik bagi produsen maupun orang lain sebagai elemen dunia bersama. Kemampuan ekspresi diri manusia untuk mempertahankan objektivitas berarti memanifestasikan dirinya dalam produk aktivitas manusia yang tersedia.

3. Internalisasi merupakan penyerapan dunia objektif ke dalam kesadaran, sehingga subjektivitas individu dipengaruhi oleh struktur dunia sosial. Berbagai elemen dunia yang terobyektifkasi terekam sebagai manifestasi realitas di luar kesadaran dan sebagai manifestasi internal kesadaran. Melalui internalisasi, manusia menjadi produk masyarakat (Santoso 2016).

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Budaya Populer dan Media Massa

Budaya populer berkembang pesat dan memiliki dampak yang luas pada berbagai kelompok umur, tidak hanya terbatas pada generasi muda tetapi meliputi berbagai rentang usia, selama individu tersebut dianggap sebagai konsumen yang relevan dalam pasar.

Bagi kaum muda, mengadopsi budaya populer menjadi salah satu cara untuk mengeksplorasi makna hidup dan menggali identitas diri mereka. Oleh karena itu, produk-produk budaya populer seperti musik, majalah, konser, festival, komik, dan acara televisi memiliki peran yang signifikan dalam membentuk sikap, psikologi, karakter, dan pandangan hidup individu. Dalam konteks ini, media, dengan semua kemajuan teknologinya, memainkan peran kunci dalam penyebaran pesan-pesan budaya yang meresap ke dalam masyarakat.8

Dalam era globalisasi ini, Domenico Strinati mengindikasikan bahwa peran media telah berevolusi dari sekadar memberikan informasi menjadi aktif dalam membentuk dan menciptakan berita, citra, preferensi, bahkan realitas itu sendiri. Baik media cetak maupun elektronik menjadi alat untuk menyebarkan ideologi kelompok berkuasa dan untuk kepentingan pemilik modal. Menurut Strinati, konstruksi media memiliki kemampuan untuk meresap ke dalam pikiran masyarakat dan tanpa disadari membentuk arah pandangan mereka sesuai dengan kepentingan kelompok atau individu tertentu.9

8 Miftahul Hijrah, Ayu Cahyanii, and Abdurahman Sakka, “Kajian Budaya Populer : Analisis Terhadap Pengaruh Media Massa,” Jurnal Socia Logica 3, no. 1 (2023): 1–7.

9 Dominic Strinati, Populer Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010).

(7)

Budaya populer merupakan sesuatu yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Sering kali, budaya populer menjadi sesuatu yang diminati dan dihargai oleh masyarakat ketika pengkajian budaya populer berfokus pada unsur-unsur budaya yang merupakan hasil dari kreativitas yang berkembang. Ini bukanlah sesuatu yang salah, namun perlu diakui bahwa kekuatan kreativitas tidak secara otomatis menjadi populer kecuali jika mampu berinteraksi dengan elemen-elemen yang dihadapinya. Sebuah karya juga bisa memiliki nilai bagi sebagian masyarakat jika dapat menyesuaikan diri dengan preferensi pasar. Dalam konteks ini, budaya populer sering kali merupakan unsur budaya yang telah ada atau dibuat dengan kreativitas yang disesuaikan dengan selera, visi, dan logika pasar yang berkembang, kapitalis, dan berorientasi pada kepentingan ekonomi.

Jika suatu aset budaya tidak sesuai dengan selera masyarakat, maka kemungkinan besar hal tersebut tidak akan menjadi bagian dari budaya populer.10

Budaya populer merupakan hasil karya dari individu-individu yang berada dalam posisi subordinasi, dimana mereka membuatnya untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan mereka sendiri, meskipun sumber daya yang mereka gunakan pada akhirnya juga melayani kepentingan ekonomi yang dominan, meski dalam situasi yang kontradiktif. Budaya populer lahir dari bawah, dihasilkan dari masyarakat itu sendiri, bukan dipaksakan dari luar atau dari atas seperti yang sering dianggap oleh para ahli teori budaya massa. Selalu terdapat elemen-elemen budaya populer yang melampaui atau menentang kendali sosial, yang terlepas dari atau menolak kekuatan hegemonik. Budaya populer senantiasa dipenuhi dengan konflik, menjadi panggung bagi perjuangan untuk membentuk makna sosial yang sesuai dengan kepentingan para subordinat dan yang bertentangan dengan ideologi yang dominan.11

2.

Dakwahtainment

Dakwahtainment salah satu istilah yang mungkin hanya ada di indonesia, kini menjadi hal yang sangat akrab di tengah maraknya para pelaku bisnis komersial, khususnya dalamdunia pertelevisian. Menyadari akan kekhasan masyarakat yang beragama, para pelaku bisnis entertainment menjadikan fenomena keberagaman masyarakat sebagai media pemerolehan minat dan animo masyarakat untuk lebih memilih produk-produknya.12 Untuk menarik minat konsumen berbagai acara bernuansa dakwah

10 Bing Bedjo Tanudjaja, “Pengaruh Media Komunikasi Massa Terhadap Popular Culture Dalam Kajian Budaya/Cultural Studies,” Nirmana 9, no. 2 (2009): 96–105.

11 E Soesilo, “Konstruksi Budaya Populer Di Media Sosial.,” Jurnal Ilmu Komunikasi 17, no. 2 (2019): 89–102.

12 Aep Kusnawan, 2004, Komunikasi dan Penyiaran Islam, Bandung, Benang Merah Press.

(8)

bertaburan dan masyarakat pun begitu menggandrunginya. Bisa kita lihat sebagaimana acara televisi seperti sinetron yang religius, film religius dan sajian iklan yang menggunakan bahasa agama terutama dalam menyambut bulan Ramadhan hingga idul fitri.

Fenomena dakwahtainment di satu sisi memberikan penyegaran kepada masyarakat untuk membangkitkan semangat dan wacana dakwah. Artinya media televisi bisa memberikan wawasan kepada masyarakat pemirsa bahwa dakwah dapat dilakukan dalam berbagai setting yang didalamnya terdapat diselipkan pesan-pesan moral agama.

Bahwa televisi merupakan perwujudan para pelaku industri mengembangkan kreasi dan inovasinya melalui media audiovisual televisi. Sampai kini telah beragam stasiun televisi swasta yang tiada hneti berkompetisi menampilkan produk-produk siarannya untukmendapatkan perhatian permisa.13 Begitu akrabnya televise dengan kehidupan masyarakat, keberadaannya telah mampu mengubah dan membentuk pola pikir, cara pandang, dan tradisi yang membudaya dalam aktivitas keseharian di masyarakat.

Meskipun, di era sekarang ini televise sudah harus berkompetisi dengan kehadiran media komunikasi berupa gadget atau media android yang juga pesat berkembang, namun masih tampak signifikannya di tengah kesibukan masyarakat.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa televise merupakan media komunikasi yang strategis untuk menyampaikan berbagai informasi kepada khalayak secara efektif.

Sifatnya yang audiovisual memiliki daya tarik tersendiri sehingga mampu menarik perhatian masyarakat pemirsa yang seakan memberikan nuansa dinamis dan menghidupkan daya imajinasi yang begitu kuat pada para pemirsanya. Hal tersebut membuat masyarakat menganggap bahwa televise sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas kehidupannya. Keberadaan televisi sebagai media komunikasi dan informasi yang efektif untuk menyampaikan pesan secara audiovisual, memberikan peluang cukup besar bagi pengembangan dakwah dan syiar Islam. Berdakwah yang meliputi segala keadaan tidak hanya dilakukan secara langsung dalam sebuah komunikasi interaktif antara Pendakwah atau lembaga keagamaan dengan jamaah atau masyarakat sasaran dakwah.

Kebutuhan masyarakat untuk terpenuhinya aspek penguatan spiritual telah memicu berbagai inovasi terkait metode dakwah yang paling efektif telah memicu berbagai inovasi berbagai metode dakwah yang paling efektif dan mampu menjawab

13 Dicky Sohjan, 2013, Agama dan Televisi di Indonesia Seputar Dakwahtainment, Yogyakarta, Globethics.net

(9)

kebutuhan pasar. Sebagian besar masyarakat Indonesia khususnya, telah sangat akrab dengan beberapa tema acara pengajian yang banyak dijumpai dibeberapa stasiun televisi baik negeri maupun swasta yang mengusung bergam tema bernuansa agama dalam bingkai dakwah yang bersifat satu arah maupun dakwah interaktif. Fenomena tersebut menunjukkan peneybaran dan penguatan Islam populer, dimana penggemar dan pengikut berpartisipasi melalui media televisis dan mengubah diri mereka menjadi jamaah. Melalui televisi para pendakwah mendapatkan kredibilitas dan otoritas mereka untuk menantang kekuatan konvensional dan pengaruh serta daya tarik kerismatik para pendakwah yang hanya berbasis sebagian besar berpusat di dalam dan sekitar pesantren.

Dakwahtainment di Indonesia berawal dari caranya memadukan pencerahan spiritual dan hiburan secara sistematis sehingga menimbulkan efek dumbing down atau pembodohan. Hal ini terlihat dengan cara hanya berfokus pada kebutuhan yang diminta konsumen dengan sedikit pertimbangan yang membuat khalayak lebih pintar. Ini mengasumsikan bahwa produk budaya tidak perlu berat secara intelektual jika tujuan yang dimaksud adalah untuk mencapai aksesibilitas, komprehensibilitas dan daya jual.

Pada dasarnya melakukan dakwah melalui pendekatan Etika dan agama seperti ini juga memiliki keuntungan dan kerugian. Karena kalau kita berkaca dengan cakupan audien pasti lebih banyak memperoleh sambutan dari masyarakat, akan tetapi walaupun begitu feedback yang ditunjukkan oleh masyarakat tentang keterkaitan antara etika dan agama pastinya kabur dari genggaman pendakwah, karena dalam konteks ini audien tidak berhadapan langsung dengan sang Pendakwah.14 Di sisi lain, dengan fenomena yang terdapat dalam warna dakwahtainment saat ini, tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa model dakwahtainment pun kerap memiliki kekaburan esensi dan tujuan yang ingin di capai dari tujuan dakwah bila kita tidak berpijak pada tujuan dari dakwah yang seutuhnya.

Interfensi dari hal-hal yang bersifat materialistis, hedonisme, dan kapitalis kerap menjadi contributor yang ikut mengemas sajian dakwahtainment. Tentunya hal ini akan menjadi ancaman bagi eksistensi nilai dakwah yang luhur dan bermartabat.

Memang bukanlah hal yang mudah untuk melepaskan secara utuh peran dari unsur yang bersifat materialistis dalam sebuah model dakwahtainment mengingat tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan suatu acara khususnya di stasiun televise swasta sering disandarkan pada peran keikutsertaan iklan sebagai pendukung dari

14 Sayyid Muhammad Nuh, 2005, Mari Berdakwah Strategi Dakwah dan pendidikan Umat, Yogyakarta, Bina Media

(10)

keberlangsungan acara itu sendiri. Disisi lain, menarik tidaknya suatu acara juga sering tidak terlepas dari bagaimana acara itu disajikan oleh elemen-elemen yang terlibat didalamnya seperti penyiar (pembawa acara), artis/actor, musisi yang terlibat didalamnya.15 Kondisi tersebut sering menjadi dilematis bagi para dai maupun eksistensi dari nilai dakwah yang di bawakan terlebih bila pelaku dakwah tidak dapat mengatisipasi keberadaannya agar tetap sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki Agama Islam seperti konsistensi dalam berhijab, kesederhanaan dalam bertabarruj (berhias), zuhud, dan nilai- nilai keluhuran yang terdapat dalam Islam yang harus melekat pada para da’i maupun yang terlibat dari program acara dakwah di televisi.

3. Program Siraman Qolbu bersama Mamah Dedeh di MNCTV

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti melalui analisis dan pemantauan rekaman tayangan acara Siraman Qolbu di MNCTV, banyak yang memilih televisi sebagai media utama untuk menyebarkan dakwah. Televisi ditempatkan pada urutan pertama dalam "The Big Five of Mass Media", diikuti oleh film, radio, majalah, dan koran. Televisi memiliki dua fungsi komunikasi yang saling melengkapi, yaitu fungsi sosial dan fungsi individual. Fungsi terhadap masyarakat bersifat sosiologis, sementara fungsi terhadap individu bersifat psikologis.16

Gambar 1. Mamah dedeh dan Host Irfan Hakim dalam program Siraman Qolbu MNCTV (Sumber:www.instagram.com/officialmnctv)

Program acara Siraman Qolbu sebuah program acara talkshow yang mengupas tentang fenomena keagamaan Islam. Tausiyah keagaamaan yang dibawakan oleh Ustadzah Dedeh Rosidah Syarifudin yang dikenal Mama Dedeh dengan pembawa acara Irfan Hakim. Program acara Mama Dedeh pertama kali tayang di MNCTV khususnya

15 Yusuf Zainal Abidin, 2013, Pengantar Retorika, Bandung, CV. Pustaka Setia.

16 S. Djuarsa. Sendjaja, Teori Komunikasi (Jakarta: Universitas Terbuka, n.d.).

(11)

dalam program Siraman Qolbu pada tanggal 13 Juni 2022, yang ditayangkan setiap hari Senin - Jumat pukul 06.00 WIB.

4. Konstruksi Dakwahtainment

Penelitian ini menggunakan kerangka teori konstruksi sosial, yang didasarkan pada konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam karya mereka yang berjudul “The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge” (1996). Realitas sosial terbentuk melalui proses konstruksi yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. (Berger dan Luckmann 1991). Realitas sosial terbentuk melalui tahapan eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi, yang merupakan proses kolaboratif yang tidak terlepas dari berbagai kepentingan individu yang terlibat.

(Bungin 2008).

4.1 Proses Pembentukan Konstruksi Dakwahtainment

Tahap-tahap dalam pembuatan materi konstruksi budaya populer dakwahtainment Siraman Qolbu MNCTV:

a. Tahap Menyiapkan Materi Konstruksi

Pada tahap pembuatan materi untuk konstruksi dakwahtainment dalam program acara siraman Qolbu MNCTV, orientasinya jelas terhadap kapitalisme sebagai pemilik modal, baik dari pihak media seperti PT. Media Nusantara Citra Tbk maupun sponsor-sponsor yang terlibat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh SI, selaku General Manager produksi bahwa proses perumusan program ini harus mempertimbangkan aspek keuntungan finansial baik sebagai penayang maupun produsen.

“Sebelum memulai perumusan program ini, pastinya pihak produser telah mempertimbangkan dengan baik agar program tersebut menguntungkan baik sebagai penayang maupun produsen. Program acara siraman Qolbu MNCTV di tahun 2024 memiliki dua sponsor besar yaitu …….”

Keuntungan menjadi pertimbangan utama dalam produksi program televisi, yang merupakan bagian dari produk budaya. Hal ini sejalan dengan konsep yang dijelaskan oleh Strinati, bahwa pasar media massa hanya dapat terpenuhi dengan berbagai bentuk budaya massa. Proses ini melibatkan keberadaan industri produksi massal dan pasar massal yang memfasilitasi penyebaran budaya massa. Faktor kunci dalam pembentukan budaya massa adalah keuntungan yang dihasilkan dari produksi dan pemasaran yang

(12)

mengandalkan potensi pasar massal. Jika budaya massa tidak menghasilkan keuntungan, maka tidak akan ada produk yang dihasilkan.17

Bungin juga menguraikan bahwa dalam klaim untuk mendukung masyarakat, institusi media sering kali menampilkan konten yang memicu emosi sedih dan air mata, yang pada gilirannya membangkitkan perasaan empati, simpati, dan partisipasi dari masyarakat. Namun, pada akhirnya, hal ini hanya dilakukan untuk meningkatkan rating dan memenuhi kepentingan kapitalis.18 Pola tersebut terlihat dalam beberapa segmen program Siraman Qolbu MNCTV 2024.

Gambar 2. Tayangan Acara Siraman Qolbu pada Channel Youtube MNCTV (Sumber:www.youtube.com/officialmnctv)

Program Siraman Qolbu MNCTV juga memiliki tujuan dan harapan tidak hanya ingin memberikan tontonan, namun juga memberikan tuntunan agar bisa menambah wawasan keislaman masyarakat dengan banyak cara salah satunya menyelipkan hiburan dengan pertanyaan- pertanyaan lucu dari jamaah di studio. Pertanyaan- pertanyaan ini sudah dimodifikasi oleh tim produksi. Hal ini juga dijelaskan oleh SI:

“ya, kalo pertanyaan itu memang asli dari para jamaah, hanya saja sebelum acara dimulai. Biasanya kami akan koordinasi dulu siapa-siapa saja yang ingin bertanya dan pertanyaannya apa. Tugas kami hanya merevisi dan mencoba menuliskan kembali perttanyaan jamaah dalam bentuk bahasa sehari-hari dan mudah dimengerti semua.”

Pada tahap pembuatan materi konstruksi, fokusnya tampaknya pada kepentingan masyarakat umum atau audiens sebagai penerima pesan. Namun, tujuan yang menjadi slogan tersebut jarang tercapai sepenuhnya, dan

17 Strinati, Populer Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer.

18 Burhan. Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa: Kekuatan Pengaruh Media Massa, Iklan Televisi Dan Keputusan Konsumen Serta Kritik Terhadap Peter L. Berger Dan Thomas Luckmann (Jakarta: Prenada Media, 2008).

(13)

seringkali hanya mengutamakan keuntungan atau rating semata. Terlihat bahwa dalam dakwahtainment, yang merupakan kombinasi antara dakwah dan hiburan, lebih banyak menekankan hiburan atau aspek-aspek gimik semata.

Kegiatan-kegiatan gimik ini lantas juga disampaikan oleh SI selaku General Manager Produksi:

“Oke jadi gimik itu sangat penting buat para jamaah program siraman qolbu, dari dulu kita patokannya selalu ke arah gimik, apa sih yang mau dibuat dari pertanyaan jamaah ini, apa sih yang harus diangkat dari pertanyaan jamaah ini, gimana caranya kita menyampaikan pertanyaan- pertanyaan mereka agar menarik, agar bisa ditangkap oleh masyarakat, ya kita buatlah gimik tersebut, dibikin lucu dan apa segala macam, tapi tetap saja tidak menghilangkan esensi pertanyaan asli dari para jamaah tersebut”.

b. Tahap Sebaran Konstruksi

Prinsip utama dari proses penyebaran konstruksi sosial di media massa adalah bahwa setiap informasi harus disampaikan kepada penonton sesegera mungkin sesuai dengan agenda media. Apa yang dianggap penting oleh media menjadi penting juga bagi penonton.19 Tayangan Siraman Qolbu disiarkan secara real time setiap hari senin – Jum’at pukul 02.00 WIB live dari studio 1 MNCTV. Untuk tayangan televisi bisa disaksikan melalui frekuensi 32 UHF.

Pemirsa Siraman Qolbu juga bisa menonton streaming melalui aplikasi RCTI+. Selain itu sebaran konstruksi Siraman Qolbu MNCTV juga melalui tayangan ulang yang diunggah pada sosial media di beberapa platform, YouTube MNCTV, Instagram Official MNCTV, juga TikTok Official MNCTV.

c.

Tahap Konstruksi Realitas dan Citra

Proses pembentukan realitas melibatkan tiga tahapan, yakni pembentukan realitas melalui pembenaran, kesiapan untuk dikonstruksi oleh media massa, dan sebagai pilihan konsumtif. Tahap pertama adalah pembentukan realitas melalui pembenaran, yang merupakan jenis konstruksi media massa yang muncul dalam masyarakat. Dalam konteks ini, masyarakat cenderung menjustifikasi apa pun yang disampaikan oleh media massa sebagai kebenaran yang mutlak. Dengan kata lain, informasi dari media massa dianggap sebagai otoritas yang mengesahkan sebuah peristiwa.20

19 Bungin.

20 Bungin.

(14)

Pada tahap konstruksi realitas pembenaran terhadap dakwahtainment pada program Siraman Qolbu MNCTV, yang mana memadukan antara dakwah dan hiburan justru akan jauh lebih mengemas sebuah program dakwah itu menjadi menarik dan tontonan pun tidak menjadi monoton untuk disaksikan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Siti Nur penonton Siraman Qolbu MNCTV:

“Menurut pandangan saya sendiri ya, semasih itu hiburan yang wajar ya, sah- sah aja. Misalkan kayak pertanyaan-pertanyaan kocak yang dilontarkan ibu- ibu jamaah atau misalkan kayak lelucon host atau cablakan mamah dedeh yang sewajarnya ya sah-sah aja. Karena kan kalau terlalu seriuskan jadi bete, semacam gak ada daya tariknya buat penonton dan garing lah pastinya. Jadi ya sah-sah aja.”

Hal ini kemudian juga dikonfirmasi oleh Ika penonton Siraman Qolbu MNCTV:

"Bagus dan sangat positif karena hal tersebut memungkinkan pesan dakwah dapat dipahami dan disukai oleh penonton."

Pada tahap kesediaan yang dibangun oleh media massa, ini mencerminkan pilihan penonton yang tertarik dan menerima konten yang dipresentasikan oleh institusi media. Contohnya adalah penonton Siraman Qolbu MNCTV yang menerima tayangan dari program tersebut dengan berbagai alasan. Beberapa menontonnya hanya untuk mengisi waktu luang, dibandingkan menonton program lain yang dianggap kurang bermanfaat menurut mereka. Seperti yang disampaikan oleh Faiz penonton Siraman Qolbu MNCTV:

"Lebih memilih untuk menghabiskan waktu luang dengan menonton Siraman Qolbu daripada menonton program lain, karena di keluarga juga biasanya menonton itu."

Pada tahap pilihan konsumtif penonton ada yang masih menonton program televisi langsung di televisi dan ada juga yang menonton secara online atau streaming atau menonton ulang melalui media sosial. Dalam aktivitas menonton televisi sebagai pilihan konsumtif ini dikonfirmasi oleh Ika penonton Siraman Qolbu MNCTV:

“saya sih biasanya nyetel TV pas abis subuh itu ya buka tayangan mamah dedeh, selain dapet ilmu biasanya juga menemani saya bersiap-siap di pagi hari sebelum beraktivitas di luar”.

(15)

Selain itu banyak penonton yang lebih menyesuaikan dengan perkembangan teknologi saat ini. Televisi sudah mulai banyak ditinggalkan, namun program-program televisi masih sering ditonton melalui platform media sosial seperti YouTube, Facebook, Tiktok atau bahkan ditonton secara streaming. Seperti yang disampaikan oleh Faiz dan Siti Nur penonton Siraman Qolbu MNCTV:

"Sekarang sudah jarang menonton TV, lebih sering menonton melalui ponsel.”

“Biasanya menonton potongan-potongan video ceramah, termasuk kadang- kadang menonton potongan-potongan cuplikan mamah dedeh, yang bisa ditemukan di Facebook, YouTube, dan sesekali di Instagram dan tiktok."

Terkait pilihan konsumtif penonton, hal ini juga dibenarkan oleh SI GM Produksi Siraman Qolbu MNCTV:

"Jika melihat seberapa banyak orang yang lebih memilih menonton televisi atau melakukan streaming di RCTI+, kemungkinan besar akan beralih ke streaming karena kami hanya memperoleh data dari sebagian kecil rumah tangga yang kami kenal.

Jadi, tidak semua rumah tangga kami data. Sampai saat ini, terlihat lebih banyak yang melakukan streaming karena fenomena streaming ini sangat populer secara global."

Dalam hal mengonstruksi citra dakwahtainment pada program Siraman Qolbu MNCTV, pihak MNCTV selalu konsisten, tidak hanya memberikan tuntunan tetapi juga menyajikan tontonan. Hiburan-hiburan yang disajikan pada program ini merupakan sajian yang tentu hendak menarik para pemirsa untuk tetap menonton program Siraman Qolbu MNCTV. Menyajikan dakwah dengan hiburan sebagai tontonan kepada masyarakat tentu hal tersebut juga ingin menunjukkan citra bahwa dakwah itu tidak harus kaku, dakwah itu fleksibel dan mudah disampaikan dengan beragamnya hiburan. Hal ini selaras dengan yang disampaikan oleh SI selaku GM Produksi:

“Kalo berbicara citra intinya yang kita pengen citranya positif dan baik-baik aja.

Karna emang program Siraman Qolbu ini kan selalu menjadi unggulan dan kita hanya ingin mengajarkan agama islam itu emang lebar dan luas. Itu aja sih.”

d. Tahap Konfirmasi

Konfirmasi adalah fase di mana media massa dan penonton diundang untuk berdebat dan bertanggung jawab atas preferensi mereka, serta memilih untuk ikut serta dalam pembentukan konstruksi. Bagi penonton, ini adalah bagian dari penjelasan mengapa mereka ingin terlibat dan berkontribusi dalam

(16)

proses pembentukan realitas sosial.21 Pada tahap ini respons penonton sebagai konfirmasi konstruksi dakwahtainment yang dikonstruksi oleh program penonton Siraman Qolbu MNCTV. Jarang sekali ditemukan melalui komentar-komentar di media sosial ataupun streaming di aplikasi RCTI+, untuk itu kami mengkonfirmasinya dalam bentuk wawancara langsung dengan para jamaah yang menonton langsung dari rumah. Hal ini dikonfirmasi oleh Titin, penonton setia acara Siraman Qolbu MNCTV:

“saya kadang suka greget sama pertanyaan-pertanyaan ibu-ibu di TV, kadang juga ada yang sesuai dengan apa yang saya alami. Jadi suka kebawa emosi bahkan nangis”

Hal itu dilanjutkan oleh Fatimah, Penonton setia Siraman Qolbu MNCTV:

“ya saya juga gitu si, sampe kadang saya suka jawab-jawabin pertanyaan yang dilontarkan, kadang juga pertanyaannya nyeleneh gitu”

Kemampuan program Siraman Qolbu MNCTV untuk membangun konstruksi yang mendekatkan realitas media dengan realitas sosial tercermin dari kecenderungan masyarakat untuk merasa menjadi bagian dari peristiwa tersebut. Walaupun Memang Para Penonton Setia Program Ini Rata-Rata Ibu- Ibu Rumah tangga, jadi biasanya menonton tayangan langsung melalui televisi. Tapi emosi yang disampaikan dapat tersalurkan dengan baik. Mulai dari ketawa hingga menangis. Selain itu masyarakat sebagai khalayak merasakan kebermanfaatan dari program tersebut. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ika penonton Siraman Qolbu MNCTV:

"Keuntungannya adalah kita bisa mendalami pengetahuan yang dapat kita bagikan kepada orang lain."

4.2 Pembentukan Realitas Konstruksi Budaya Populer Dakwahtainment

Dalam proses pembentukan budaya populer dakwahtainment di program Siraman Qolbu MNCTV, konstruksi tersebut mengikuti teori konstruksi sosial yang diusung oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Proses ini terjadi melalui tahapan eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.

a. Proses Eksternalisasi

21 Bungin.

(17)

Eksternalisasi terjadi pada tahap fundamental dalam interaksi individu dengan produk sosial masyarakatnya. Proses ini terjadi ketika suatu produk sosial telah meresap ke dalam kehidupan masyarakat dan menjadi kebutuhan yang penting bagi individu setiap saat. Dengan demikian, produk sosial tersebut menjadi bagian yang signifikan dalam pandangan dunia seseorang.22

Gambar 3. Tayangan Talkshow dengan jamaah pada Channel Youtube MNCTV (Sumber:www.youtube.com/officialmnctv)

Proses eksternalisasi dakwahtainment pada program Siraman Qolbu MNCTV yang menampilkan Talkshow semacam podcast dengan jamaah terpilih yang nantinya akan menceritakan permasalahan kehidupan mereka dan akan langsung duitanggapi oleh mamah dedeh dengan tausiyah yang ringan dan menghibur sehingga program Siraman Qolbu MNCTV menampilkan tontonan yang menghibur bukan hanya tuntunan dalam arti dakwah. Hal ini dilakukan agar menjadi pembeda dari program-program dakwah yang lain.

Dimana pada program ini jamaah bisa duduk sejajar langsung dengan mamah dedeh dan menceritakan permasalah hidup yang mereka hadapi. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Ratna, selaku jamaah yang talkshow langsung dengan Mamah Dedeh pada Program Siraman Qolbu MNCTV:

“itu cerita asli mba, saya jujur, dari awal itu saya ditawarkan oleh ketua ibu- ibu jamaah masjid saya, katanya siapa nih yang mau diajak syuting ngobrol dan duduk langsung dengan Mamah gitu untuk menceritakan permasalahan sehari-hari. Kebetulan saya kan single mom jadi kesempatan saya untuk bisa tanya- tanya langsung dengan beliau gitu”

Kemampuan menghibur seorang pendakwah seperti Mamah Dedeh dapat memberikan kepuasan hati bagi para jamaah yang mendapatkan kesempatan talkshow langsung dengan beliau. Disaat program-program yang lain hanya dapat menyampaikan cerimah satu arah, tapi program ini

22 Bungin.

(18)

menawarkan komunikasi dua arah dengan penyajian yang begitu ringan untuk dapat diterima masyarakat.

Hal ini juga membuktikan bahwa tuntutan industri juga berlaku pada program Siraman Qolbu MNCTV ini meski yang mana notabenenya merupakan program acara tausiyah namun dapat dikemas dengan merepresentasikan nilai-nilai Islam di masyarakat yang tentu dinilai sakral.

Kemudian adanya segmen talkshow langsung dengan jamaah menjadikan program ini menjadi lebih dekat dengan masyarakat. Untuk menunjukkan citra bahwa dakwah itu tidak harus kaku, dakwah itu fleksibel dan mudah disampaikan dengan diimprovisasi beragam hiburan. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh SI selaku GM Produksi:

“Kita lebih ingin mengajarkan dan membagi agama Islam yang lebih dalam lagi yang notabenenya gak semua orang tau. Karna emang kita punya orang yang berkompeten seperti Mamah Dedeh. Nah ilmu beliau kan sangat luar biasa. Jadi intinya untuk bertujuan berbagi sharing tentang Agama Islam dengan cara yang menghibur dan lebih dekat dengan masyarakat.”

Eksternalisasi dakwahtainment pada program Siraman Qolbu MNCTV dikonstruksi dengan cara menampilkan bahwa dakwah yang mempunyai nilai sakral yang merupakan ajakan kepada Allah dengan menyampaikan wahyu- Nya dan hadis Rasulullah dapat dipadukan dengan hiburan, sebagaimana yang selama ini institusi media harapkan pada tiap program dakwah seperti halnya juga Siraman Qolbu MNCTV tidak hanya tuntunan namun ada juga tontonan sehingga mempunyai minat di masyarakat. Hal ini dikonfirmasi oleh penonton program Siraman Qolbu MNCTV, Siti Nur:

“Jadi yang saya lihat dalam program ini sebenarnya bukan hanya ceramahnya tapi juga kedekatan materi ceramah dengan kehidpan sosial masyarakatsisanya ya bumbunya saja atau hiburan saja.”

b. Tahap Objektivasi

Objektifikasi produk sosial terjadi dalam lingkungan inter-subjektif masyarakat yang terstruktur. Pada tahap ini, produk sosial menjadi terlembagakan atau diinstitusikan, sesuai dengan pandangan Berger dan Luckman, individu mengekspresikan dirinya sebagai hasil dari aktivitas manusia dan menjadi tersedia bagi produsen dan orang lain sebagai bagian

(19)

dari realitas bersama. Proses objektifikasi ini berlangsung melewati batas- batas individu dan dapat dimengerti secara langsung.23

Yang terpenting dalam objektivitas adalah pemberian makna, dan manusia menciptakan tanda-tanda. Berger dan Luckman mengatakan bahwa suatu tanda berbeda dari objektifikasi lain yang secara spesifik dimaksudkan untuk menjadi indikator makna subjektif. Oleh karena itu, objektifikasi dapat juga digunakan sebagai tanda, meskipun pada awalnya tidak diciptakan untuk tujuan tersebut. Bahasa memiliki peran krusial dalam objektifikasi tanda- tanda, dan dapat memasuki domain de facto dan apriori yang tidak dapat dijangkau oleh fakta lain dalam pengalaman sehari-hari.24

Proses objektivasi dakwahtainment pada program Siraman Qolbu MNCTV merujuk pada tayangan program dakwah yang menghibur yang dikemas secara menarik sehingga disenangi oleh para penonton. Selain itu pendakwah yang merupakan Mamah Dedeh yang gaya dakwah nya banyak digemari penonton terutama ibu-ibu serta host dari kalangan artis yang juga memiliki nilai jual. hal ini dikonfirmasi oleh Siti Nur penonton Siraman Qolbu MNCTV:

“Yang melekat dari AKSI ini dari sudut pandang saya, itu publik figur, yang kita kenal itu ada Mama Dedeh. Dan yang menjadi MC nya cukup terkenal publik figur, artis juga, Irfan Hakim, dan itukan mengangkat nilai jual beliau.

Dan juga yang menarik menurut pandangan saya ini, yaitu menyatukan dakwah dengan hiburan, ternyata dakwah itu gak harus serius, dakwah itu gak harus kaku. Islam itu bermasyarakat. Segala persoalan hidup itu hakikat nya jawabannya ada pada tuntunan agama gitu.”

Para penonton program Siraman Qolbu MNCTV telah memahami bahwa program ini tidak hanya menampilkan Tausiyah monoton tetapi memiliki unsur hiburan juga baik dari Mamah Dedeh sendiri, atau MC yang merupakan simbol atau pelaku entertainment, bahkan hiburan itu juga datang dari improvisasi curahan hati para jamaah Siraman Qolbu MNCTV.

c. Proses Internalisasi

Internalisasi dalam konteks umum berfungsi sebagai, pertama, pemahaman terhadap orang lain, termasuk pemahaman terhadap diri sendiri dan individu lainnya, dan kedua, sebagai dasar untuk memahami dunia sebagai realitas sosial yang memberi makna pada dunia luar. Pemahaman ini tidak

23 Bungin.

24 Bungin.

(20)

timbul dari pembentukan makna yang dilakukan secara otonom oleh individu yang terisolasi, tetapi dimulai ketika individu memasuki dunia di mana orang lain juga ada. Dalam proses ini, individu dapat mengubah dunia dan bahkan secara kreatif menciptakannya kembali. Berger dan Luckman menyatakan bahwa dalam bentuk internalisasi yang kompleks, individu tidak hanya memahami dunia, tetapi juga memahaminya melalui lensa subjektif orang lain yang berada dalam dunia tersebut, di mana mereka hidup bersama dan dunia tersebut menjadi milik mereka.25

Dengan demikian, proses internalisasi merupakan penyerapan dunia objektif ke dalam kesadaran, sehingga subjektivitas individu dipengaruhi oleh struktur dunia sosial atau dengan kata lain melakukan tindakan tanpa adanya paksaan dan dengan kesadaran diri. Proses internalisasi pada program Siraman Qolbu MNCTV ditandai dengan dakwahtainment yaitu dakwah dengan adanya unsur hiburan dan realita kehidupan yang lebih diingat oleh penonton.

Seperti yang disampaikan oleh Siti Nur penonton Siraman Qolbu MNCTV:

“Jadi kalau bisa dikatakan kalau saya lihat dalam program ini ceramahnya ya 30% sisanya ya bumbunya saja atau hiburannya saja. Jadi memang Mamah Dedeh punya nilai jual selain ceramah. Misal ceramah bisa, ngelawak bisa.

Ceramah bisa dilihat dari bentuk-bentuk respon yang diberikan langsung oleh Mamah Dedeh dalam menanggapi pertanyaan para jamaah nya”.

Program Siraman Qolbu MNCTV yang menjadi program dakwahtainment ini sudah dikenal dengan ciri khasnya yaitu tuntunan dan tontonan, sebuah program dakwah di waktu setelah subuh yang menyajikan tontonan dengan tausiyah ringan dan relate dengan kehidupan sehari-hari.

D. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Nur. “Rekonstruksi Dakwahtainment Sebagai Media Dakwah.” Jurnal Dakwah 19,

25 Bungin.

(21)

no. 02 (2018): 113–34.

Bungin, Burhan. Konstruksi Sosial Media Massa: Kekuatan Pengaruh Media Massa, Iklan Televisi Dan Keputusan Konsumen Serta Kritik Terhadap Peter L. Berger Dan Thomas Luckmann. Jakarta: Prenada Media, 2008.

Fajariyah, Lukman, and Iftahul Digarizki. “Volume 11 No . 2 Desember 2020

DAKWAHTAINMENT : RESITASI AL- QUR ’ AN OLEH KALANGAN ARTIS DANGDUT DAKWAHTAINMENT : AL- QUR ’ AN RESITATION BY DANGDUT ARTISTS” 11, no. 2 (2020): 163–72.

Hijrah, Miftahul, Ayu Cahyanii, and Abdurahman Sakka. “Kajian Budaya Populer : Analisis Terhadap Pengaruh Media Massa.” Jurnal Socia Logica 3, no. 1 (2023): 1–7.

Pradesa, Dedy, and Yunda Presti Ardilla. “Komodifikasi Dan Efek Eksternalitas Program Dakwahtainment Islam Itu Indah.” INTELEKSIA - Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah 2, no. 1 (2020): 81–106. https://doi.org/10.55372/inteleksiajpid.v2i1.85.

Sendjaja, S. Djuarsa. Teori Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka, n.d.

Sobur, Alex. Analisis Teks Media. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2018.

Soesilo, E. “Konstruksi Budaya Populer Di Media Sosial.” Jurnal Ilmu Komunikasi 17, no. 2 (2019): 89–102.

Strinati, Dominic. Populer Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta:

Ar-Ruzz Media, 2010.

Syobah, Nurul. “Konstruksi Media Massa.” Jurnal Dakwah Tabligh Vol. 1, no. 2, Desember (2013): 153–68.

Tabrani. “Jurnal Pendidikan Dan Konseling.” Jurnal Pendidikan Dan Konseling 4 (2022):

1349–58.

Tanudjaja, Bing Bedjo. “Pengaruh Media Komunikasi Massa Terhadap Popular Culture Dalam Kajian Budaya/Cultural Studies.” Nirmana 9, no. 2 (2009): 96–105.

Gambar

Gambar 1. Mamah dedeh dan Host Irfan Hakim dalam program Siraman Qolbu MNCTV (Sumber:www.instagram.com/officialmnctv)
Gambar 2. Tayangan Acara Siraman Qolbu pada Channel Youtube MNCTV (Sumber:www.youtube.com/officialmnctv)
Gambar 3. Tayangan Talkshow dengan jamaah pada Channel Youtube MNCTV (Sumber:www.youtube.com/officialmnctv)

Referensi

Dokumen terkait

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul FAKTOR SOSIAL BUDAYA DAN ORIENTASI MASYARAKAT DALAM BEROBAT (Studi Atas Perilaku Berobat Masyarakat

Susbtansi teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas dari berger dan Luckmann adalah pada proses simultan yang terjadi secara alamiah melalui bahasa dalam

Sehingga pada penerapannya, konstruksi realitas dapat membentuk opini massa atau masyarakat yang cenderung apriori atau beranggapan sebelum mengetahui, melihat, atau pun

Melalui tiga tahap tersebut masyarakat membentuk sebuah konstruksi sosial terhadap keharmonisan keluarga pekerja migran dalam lima bentuk yaitu adalah, Konstruksi sosial

Berdasarkan pada teori konstruksi sosial dari Berger dan Luckmann yang mengungkapkan bahwa pembentukan suatu realitas sosial yang ada dalam masyarakat terbentuk melalui tiga

Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini antara lain: (1) Konstruksi sosial tentang realitas kasus perkosaan berubah dari masyarakat yang beranggapan tentang perkosaan terjadi

Selain itu, pendidikan lokal yang dimiliki merupakan rel yang sesuai dengan identitas kultural yang terbentuk dari konstruksi sosial budaya Sedulur Sikep

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku perempuan dalam pengelolaan lingkungan hidup di pulau Bontosua merupakan hasil dari konstruksi sosial yang melalui tiga dimensi yaitu