KONTRIBUSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMERANGI RADIKALISME
Artikel
Diajukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Bahasa Indonesia dosen pengampu Hendra Setiawan, S.S., M.pd
oleh
Puput Fadila Layyina (2310631110156)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG KARAWANG
2024
KONTRIBUSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMERANGI RADIKALISME
Puput Fadila Layyina
Universitas Singaperbangsa Karawang Email : [email protected]
Abstrak : Pendidikan merupakan sarana untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat menjalankan peran dan tugasnya di masa yang akan datang. Pendidikan agama merupakan salah satu kurikulum yang wajib diajarkan di setiap lembaga pendidikan. Kurikulum ini dirancang untuk membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan keharmonisan hubungan inter dan antar umat beragama. Dengan melihat fungsi pendidikan agama seperti itu, maka pendidikan agama Islam yang dilembagakan secara institusional diharapkan dapat mengambil peran dalam rangka menjaga perdamaian dan kerukunan di tengah-tengah penafsiran ajaran agama yang heterogen. Munculnya gerakan-gerakan kekerasan yang mengatasnamakan agama merupakan hal yang sangat disayangkan, karena bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri. Sikap atau tindakan kekerasan muncul dari pemahaman agama yang tekstual dan cenderung tertutup. Oleh karena itu, pendidikan agama Islam dapat menangkal berbagai doktrin yang mengarah pada tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama.
Kata kunci : Radikalisme, pendidikan agama Islam
PENDAHULUAN
Di era globalisasi ini pendidikan agama Islam sangat berpengaruh dalam menghadapi radikalisme dan ekstrimisme yang semakin kompleks. Didalam Undang-Undang sistem pendidikan nasional menjelaskan bahwa pendidikan agama Islam memiliki fungsi untuk
“membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan intra dan antar umat beragama.” (Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2007 Pasal 2) Kemudian diuraikan dalam Peraturan Menteri Agama bahwa pendidikan agama Islam adalah
"pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam menerapkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan minimal melalui mata pelajaran pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan." (Peraturan Menteri Agama Nomor 16 Tahun 2010 Pasal 1).
Dari uraian dan penjelasan diatas ini dapat kita simpulkan bahwa dengan mempelajari
pendidikan agama Islam diharapkan dapat menjadi landasan bagi seorang siswa dalam bersikap dan berperilaku, lalu di tengah maraknya radikalisme semoga siswa bisa menjaga kedamaian dan kerukunan dan bisa memahami multikultural yang ada di Indonesia, sehingga pendidikan agama Islam diharapkan dapat menghentikan paham radikal di Indonesia.
Selain itu, Abdullah menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan fitrah dan sumber daya insani manusia sehingga menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan aturan Islam. Sebenarnya, Islam adalah peradaban yang lengkap dan bukan hanya sebuah sistem teologis. (Abdullah, 2015 ).
Untuk menjadi agama Rahmatan Lil'Alamin, pemeluknya harus menyajikan ajaran yang benar.Karena ajaran Islam yang hakiki adalah mengajak orang lain ke jalan Tuhan dengan arif dan bijaksana, dengan menggunakan alasan-alasan yang dapat diterima..(Rahimi, S, 2004)
METODE
Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka. studi pustaka digunakan untuk mengumpulkan dan mendapatkan teori yang sesuai dengan subjek penelitian. Dengan pencarian yang mendalam penulis mendapatkan pemahaman serta teori yang kompleks untuk menyelesaikan penulisan artikel ini.
HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Radikalisme
secara garis besar, Radikalisme biasanya didefinisikan sebagai gerakan sosial yang menghasilkan hasil negatif. dan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Radikalisme berasal dari kata radix, yang berarti akar. menurut Arif Hidayat dan Laga Sugiarto radikalisme merupakan suatu paham yang didalamnya terkandung keinginan secara paksa untuk sebuah perubahan atau pembaharuan dalam lingkungan sosial maupun politik (Arif Hidayat dan Laga Sugiarto, 2020). Radikalisme adalah sudut pandang yang menginginkan perubahan radikal melalui kekerasan fisik atau kekerasan simbolik berdasarkan agama dan ideologi yang dipegang, termasuk bunuh diri, untuk mendefinisikan makna hidup mereka ( Arif Hidayat dan Laga Sugiarto, 2020). Kementerian Agama Republik Indonesia juga menggambarkan radikalisme sebagai gerakan atau doktrin yang menginginkan perubahan sosial dan politik dengan menggunakan kekerasan sebagai cara untuk mendukung keyakinannya. Jadi, radikalisme merujuk kepada keyakinan ekstrem yang cenderung mendukung perubahan dramatis dan radikal dalam masyarakat, politik, atau agama. Istilah ini
dapat digunakan dalam berbagai konteks dan bidang, seperti politik, agama, dan ideologi.
Menurut beberapa perspektif di atas, radikalisme adalah gerakan yang dilakukan oleh individu maupun sekelompok orang dengan cara yang tidak masuk akal untuk melakukan perubahan sosial dan politik. Radikalisme berusaha untuk menggantikan kepercayaan negara dengan kepercayaan kelompok tertentu, tanpa mempertimbangkan kepercayaan kelompok lain.
Pengertian Radikalisme Agama
Sebagaimana dijelaskan azzumardi Azra dalam buku karya Shamsul Arifin (2015), istilah “radikalisme Islam” mengacu pada ancaman atau bahkan penggunaan kekerasan terhadap orang lain karena alasan agama atau sebagai tanggapan. Istilah ini merujuk pada konsep, gagasan, ideologi, dan gerakan Islam. Dikaitkan dengan Islam. Termasuk yang ditujukan kepada lawan politik. Kelompok-kelompok ini sering kali didasarkan pada perlawanan terbuka terhadap kebijakan ekonomi dan politik Barat, serta kontrol dan hegemoni atas budaya yang dianggap berbahaya bagi umat Islam.
Empat jenis sikap keagamaan yang dikenal sebagai radikalisme agama, menurut Rahimi. Yang pertama adalah intoleran, yang tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain yang tidak sesuai dengan kelompoknya. Yang kedua adalah fanatik, yang selalu merasa benar dan menganggap orang yang tidak setuju dengan mereka salah dan tersesat.
Yang terakhir adalah eksklusif, yang cenderung menghindari ide-ide dan pemahaman dari luar yang tidak sesuai dengan kelompoknya.
Beberapa indikasi radikalisme beragama, menurut Yusuf Qardlawi, adalah sebagai berikut:
1. cenderung hanya fokus pada satu pendapat tanpa mempertimbangkan atau menghargai pendapat yang lain;
2. Kelompok ini cenderung memiliki sikap keras yang tidak masuk akal;
3. Kelompok ini sering berburuk sangka pada orang yang tidak sependapat atau tidak sejalan dengan golongan mereka; dan
4. Kelompok ini sering mengkafirkan (takfir) orang lain.
Selain itu, dia menyatakan bahwa pemahaman agama yang radikal biasanya berasal dari pemahaman yang lebih tertutup dan tekstual tentang agama. Karena mereka merasa paling mahir dalam agama, orang-orang ini menganggap orang lain sesat atau mengkafirkan takfiri, kelompok yang tidak setuju dengan mereka. Radikalisme dapat dibagi menjadi dua jenis: radikalisme dalam berpikir, atau fundamentalisme, dan radikalisme dalam tindakan,
atau terorisme. (Sabirin, 2004)
Pemerintah telah melakukan tindakan strategis dalam hal ini untuk mempertahankan ketertiban dan keselamatan masyarakat dengan mempertahankan hukum dan hak asasi manusia tanpa diskriminasi berdasarkan suku, agama, ras, atau golongan.
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme adalah cara undang-undang tersebut diterapkan dalam kehidupan nyata.
Sejarah Radikalisme dalam Islam
Secara umum, ada sejumlah alasan untuk munculnya gerakan militan Islam. Beberapa di antaranya termasuk:
1. Aspek politik: Islam adalah agama yang sangat menentang sekularisasi. Karena agama Islam mencakup semua aspek kehidupan manusia, bahkan negara.
2. Aspek Teologi: Ketika teks dogma agama diinterpretasikan, muncul aspek teologi.
Karena terkait dengan kepercayaan atau keyakinan, hal-hal yang terkait dengan dogma lebih ketat.
3. Aspek budaya dan pendidikan: Orang-orang Islam sekarang lebih menyadari ketidakadilan dan kesenjangan sosial yang merupakan hasil alami dari media..
Sejak abad pertama Hijriyah, ada kelompok Islam radikal yang dikenal sebagai Khawarij. Mereka sangat fanatik, tidak toleran, dan memaksa orang lain untuk tinggal sendiri. Mereka awalnya adalah pengikut Ali bin Abi Thalib, tetapi mereka keluar dari Ali setelah peristiwa Tahkim. Mereka membantu kelompok Ali dalam perang Shiffin melawan kelompok Muawiyah. Kelompok Ali hampir menang dalam perang, dan kelompok Muawiyah menawarkan perundingan, atau tahkim, sebagai penyelesaian permusuhan. Empat ribu pasukannya menolak tawaran itu dan membentuk kelompok Khawarij baru. Mereka percaya bahwa permusuhan harus diselesaikan dengan kehendak Tuhan daripada melalui perundingan.
Terakhir, Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah ditakfirkan (dikafirkan) oleh kaum Khawarij karena mereka bertindak melawan kehendak Tuhan. Selain itu, mereka menganggap mayoritas kaum muslimin moderat sebagai pengecut dan mengkafirkan mereka.
Kelompok Khawarij menganggap darah orang kafir, termasuk orang Islam yang tidak setuju dengan mereka, adalah halal. Oleh karena itu, Kelompok Khawarij melakukan kekerasan dan teror terhadap Muslim. Ali bin Abi Thalib dibunuh oleh Ibnu Muljam, seorang Khawarij, ketika dia sedang shalat subuh. Salah satu pilar keyakinan kelompok Khawarij adalah jihad.
Teori Wahabi adalah ajaran keagamaan yang dipengaruhi oleh karya Muhammad bin
Abdul Wahab pada abad ke 12 H/18 M. Mereka berusaha untuk memurnikan Islam dan sering menuduh orang Muslim yang tidak sejalan dengan mereka sebagai Islam yang tersesat, Islam yang tidak asli, atau Islam yang menyimpang. Mereka mengekspresikan ideologi khawarij ini.
Deradikalisasi melalui Pendidikan Agama Islam
Istilah "deradikalisasi" digunakan untuk menggambarkan upaya untuk menghentikan pertumbuhan ideologi radikal. Ini perlu dilakukan karena pemikiran dan gerakan individu dan kelompok yang berorientasi pada aktivitas radikal, seperti kekerasan, peperangan, dan teror, sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.( Yusuf Qardawi, 2014). Abdullah menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah upaya yang lebih khusus ditekankan untuk meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan pelaksanaan nilai-nilai agama Islam. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus melakukan interpretasi dan reinterpretasi nilai-nilainya agar dapat disesuaikan dengan perubahan yang diperlukan sistem pendidikan. Sebagaimana yang telah kita ketahui sebelumnya, tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk menanamkan pada orang-orang akhlak yang baik dan mulia. Dengan mempertimbangkan bahwa pendidikan agama adalah yang paling penting, Penjelasan ini jelas menganjurkan untuk menghindari kepercayaan radikal yang dapat membahayakan kestabilan negara.
Untuk memerangi radikalisasi agama, berikut adalah beberapa tindakan yang dapat dilakukan (Ahmad Fahroni, 2018) :
● Early Warning
Ini berarti bahwa kita harus segera mendeteksi pergerakan ideologi radikal, agar kita tidak terinfiltrasi oleh paham radikal.
● pengembangan metode pembelajaran
Maksudnya, Guru Islam harus membuat standar pendidikan yang dapat mencegah ideologi radikal menyebar.
Konfigurasi model pembelajaran ini harus mencakup desain yang lengkap yang mencakup:
a. Kerangka pandang filosofis atau fondasi Islam b. Materi
c. Model belajar
d. Lingkungan yang dapat menumbuhkan pengetahuan dan sikap yang mengakui serta bekerja sama dengan orang yang memiliki perbedaan dari segi suku,ras dan agama.
Sangat jelas bahwa untuk deradikalisasi, model pendidikan multikultural harus
dibangun berdasarkan gagasan pembelajaran yang disebutkan di atas.
● Tidak dalam mendefinisikan radikalisme
Ini berarti bahwa dalam pendidikan agama Islam, tidak boleh membuat siswa takut atau menakut-nakuti mereka secara berlebihan, dan tidak boleh menganggap apa yang dianggap sebagai gerakan radikal secara berlebihan. Berlebihan ini sangat berbahaya karena dapat mengaburkan kebenaran, membalikkan neraca, dan merusak pemahaman yang benar tentang sesuatu, menghasilkan hasil yang tidak adil dan tidak jujur.
● Mengajarkan keterbukaan
Kita menyadari bahwa radikalisme ini berasal dari pemikiran. Oleh karena itu, ia juga harus mendapatkan terapi pemikiran. Kekerasan dalam proses deradikalisasi adalah kesalahan fatal. Pendidikan Islam harus memberikan pemahaman yang jelas dan menyeluruh tentang Islam untuk menghilangkan kerancuan dalam agama. Selain itu, institusi pendidikan harus memberikan kebebasan kepada siswa, membiarkan mereka menerima kritik tanpa keraguan, dan mendorong semangat saling menasehati dalam kehidupan agama.
KESIMPULAN
Radikalisme adalah kumpulan ide, pemikiran, ideologi, dan gerakan Islam yang mengarah pada tindakan intimidasi, kekerasan, dan teror, baik karena alasan agama, membela diri, atau sebagai reaksi terhadap lawan politik. Pemaknaan agama yang biasanya tertutup dan tekstual menyebabkan pemikiran atau sikap tersebut muncul. Radikalisme dapat muncul dari sifat keberagaman seperti intoleran, fanatik, eksklusif, revolusioner, dan keras. Sebenarnya, Sejak masa Hijriah pada abad ke-1, telah terjadi pemahaman Islam yang radikal. Hal ini terlihat di kalangan Khawarij yang biasanya fanatik, tidak toleran, dan eksklusif.
Faktor agama, teologi, dan pendidikan dan budaya adalah tiga komponen yang dapat mempengaruhi munculnya gerakan yang mengarah pada tindakan radikal.
Pendidikan agama Islam bertujuan untuk mengembangkan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, serta mampu menciptakan dan memelihara kedamaian dan kerukunan dalam masyarakat yang terdiri dari berbagai suku dan agama.
Pernyataan tersebut tentunya mendorong masyarakat untuk menghindari keyakinan ekstrem yang dapat mengancam stabilitas negara..
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Penulisan karya tulis ilmiah ini dilakukan dalam rangka memenuhi tugas pada mata kuliah Bahasa Indonesia.
Saya sadari bahwa tanpa bimbingan dari beberapa pihak, cukup sulit bagi saya untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Oleh karena itu itu saya mengucapkan terima kasih kepada :
1. Hendra Setiawan, S.S., M.pd selaku dosen pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia 2. diri sendiri yang mana telah berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam
penulisan karya tulis ilmiah ini.
3. ayu selaku teman saya yang selalu mensupport dan membantu dalam penulisan KTI Penulis menyadari dalam penulisan karya tulis ilmiah ini masih terdapat kekurangan, untuk itu diharapkan kritik dan saran yang membangun untuk dapat menyempurnakan karya tulis ilmiah ini.
akhir kata, semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Muhammad. 2015. “Kontribusi Pendidikan Agama Terhadap Pendidikan Multikultural, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Pendidikan Karakter Bangsa: Studi Terhadap Ideologi Pendidikan Islam di Indonesia” Didaktika Religia, Vol 3.
Arifin, Syamsul. 2015. Studi Islam Kontemporer Arus Radikalisasi dan Multukulturalisme di Indonesia, Malang; Kelompok Intrans Publishing,
Imron, Achmad. 2014. Rekam Jejak Radikalisme Salafi Wahabi Sejarah, Doktrin dan Akidah, Surabaya: Khalista, 2014.
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
Qardhawi, Yusuf. 2014. Islam Radikal Analisis terhadap Radikalisme dalam Berislam dan Upaya Pemecahannya, terj. Hawin Murtadho, Solo; Era Intermedia.
Sabirin, Rahimi. 2004. Islam & Radikalisme, Jakarta; Ar-Rasyid
Fahroni, Ahmad, (2018), kontribusi pendidikan agama Islam dalam memerangi radikalisme, Jurnal Dirasah, 1(1)
Yunanto, S. et.al. 2003. Gerakan Militan Islam di Indonesia dan di Asia Tenggara, Jakarta: FES
Nur Khamid. “Bahaya Radikalisme Terhadap NKRI.” Milatti: Journal of Islamic Studies dan Humanities 1, no. 1 (2016)
Abdul Munif, Menangkal radikalisme Agama di Sekolah, Jurnal Pendidikan Islam, Vol.1. No.2
Ahmad Tafsir, 2005, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Remaja Rosdakarya, Jakarta
Naik, Zakir. 2013. Mereka Bertanya Islam Menjawab. Solo: PT. Aqwam Media Profetika.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Hadi, Bachtiar Effendy dan Soetrisno. 2007. Agama dan Radikalisme di Indonesia.
Jakarta Timur: Nuqtah.
Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Kalam Mulia: Jakarta.