i
KONTRIBUSI PONDOK PESANTREN BUSTANUL WA’IZHIN NW JANGGAWANA TERHADAP
PENDAPATAN MASYARAKAT SEKITAR LINGKUNGAN PONDOK DI DESA JANGGAWANA
KEC. JANAPRIA, KAB. LOMBOK TENGAH
Skripsi
Oleh : FITRIANI NIM. 180105054
JURUSAN TADRIS IPS EKONOMI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN) MATARAM
2022
KONTRIBUSI PONDOK PESANTREN BUSTANUL WA’IZHIN NW JANGGAWANA TERHADAP
PENDAPATAN MASYARAKAT SEKITAR LINGKUNGAN PONDOK DI DESA JANGGAWANA
KEC. JANAPRIA, KAB. LOMBOK TENGAH
Skripsi
Di Ajukan Kepada Universitas Islam Negri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana
Pendidikan (S. Pd)
Oleh : FITRIANI NIM. 180105054
JURUSAN TADRIS IPS EKONOMI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN) MATARAM
2022
iii
v
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Fitriani Nim : 180105054
Jurusan : Tadris IPS Ekonomi Fakultas : Tarbiyah dan Keguruan
Menyatakan bahwa skripsi dengan judul “ KontribusiPondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana Terhadap Pendapatan Masyarakat Sekitar Lingkungan Pondok di Desa Janggawana, Kec. Janapria, Kab. Lombok Tengah“ ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sumbernya. Jika saya terbukti melakukan plagiat tulisan/karya orang lain, siap menerima sanksi yang telah ditentukan oleh lembaga.
Mataram, 29, April, 2022 Saya yang menyatakan,
Fitriani
vii
MOTTO
“Barang siapa bertaqwa kepada Allah SWT, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. “(Qs. Ath-Thalaaq ayat: 2-3)1
1Kementrian Agama RI, Al-Qur’an Terjemah dan Tajwid, Bandung:
Creative Media Group, Februari 2014.
PERSEMBAHAN
1. Aku persembahkan skripsi ini untuk ayahku tercinta Kenan, yang selalu semangat untuk mencari rezki demi menyekolahkanku sampai dengan saat ini, semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan menjaga disetiap langkah bliau.
2. Kepada ibukku tercinta Lemen yang selalu mendukung dan selalu memberikan motivasi serta semangat dalam menyelesaikan skripsi ini, semoga Allah SWT selalu melindungi dan memberikan kesehatan kepada beliau.
3. Kepada adikku tercinta Rizki dan Revi yang selalu memberikan semangat dan mendengarkan cerita dan keluh kesah dalam menyelesaikan skripsi ini, semoga Allah SWT selalu melindungi dan menjaganya.
4. Almamaterku tercinta yang sudah berjasa besar, dan kepada kedua dosen pembmbingku, Bapak Prof. Dr. H. Jamaluddin, M.A selaku pembimbing I dan Bapak Saiful Bahri, M.Pd selaku pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, arahan, koreksi dan selalu memberikan semangat tanpa henti, yang menjadikan skripsi ini lebih matang dan cepat selesai.
ix
5. Kepada sahabatku Habib Zaidullah Al-Qadrie yang senantiasa mendukung dan selalu memberikan semangat untuk segera menyelesaikan skripsi ini.
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berbagai mavam nikmat, rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW , keluarga, sahabat dan para pengikut-pengikutnya Amin.
Penulis menyadari akan keterbatasan dan kemampuan yang dimiliki dalam menulis skripsi ini, sehingga penulis banyak mendapatkan petunjuk dan bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Maka dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang tulus kepada.:
1. Prof. Dr. H. Jamaluddin, M.A selaku dosen pembimbing I dan Bapak Saiful Bahri, M. Pd selaku dosen pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi mendetail terus menerus dan tampa bosan ditengah kesibukannya dalam suasana keakraban menjadikan skripsi
xi ini lebih matang dan cepat selesai.
2. Ahmad Khalakul Khairi, M.Ag. selaku ketua jurusan Tadris Ips Ekonomi dan Muh. Zainur Rahman, M.Pd selaku Sekretaris Jurusan Tadris IpsEkonomi.
3. Untuk teman-teman kelas B Angkatan 2018 yang telah memberikan dukungan, motivasi, dan semanagat kepada penulis untuk menyelesaikan proposal skripsiini.
Penulis menyadari sebagai manusia biasa tentunya tidak akan luput dari kekhilafan dan kesalahan, untuk itu dalam menyusun skripsi ini masih jauh dari kata sempurna baik mengenai isi maupun penulisan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca sangat penulis harapkan dalam penulisan skripsi ini.Dengan mengaharap ridha dan rahmat Allah SWT, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya pembaca pada umumnya.Aamiin yaa rabbal’alamiin.
Mataram,29/04 /2022 Peneliti
FITRIANI NIM. 180105054
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... Error! Bookmark not defined.
HALAMAN JUDUL ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi
HALAMAN MOTTO ... Error! Bookmark not defined. HALAMAN PERSEMBAHAN ... Error! Bookmark not defined. KATA PENGANTAR ... Error! Bookmark not defined. DAFTAR ISI ... Error! Bookmark not defined.i DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR GAMBAR ... xvii
ABSTRAK ... xviii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 8
C. Tujuan dan Manfaat ... 8
D. Ruang Lingkup Dan Setting Penelitian ... 10
E. Telaah Pustaka ... 11
F. Kerangka Teori... 15
1. Kontribusi ... 15
xiii
a. Pengertian kontribusi ... 15
b. Macam-macam kontribusi ... 18
2. Pondok pesantren ... 20
a. Hakikat Pondok Pesantren ... 20
b. Sejarah Pondok Pesantren ... 22
c. Tipologi Pondok Pesantren ... 25
d. Unsur-unsur Pondok Pesantren ... 28
e. Tujuan Pondok Pesantren ... 30
f. Peran dan Fungsi Pondok Pesanren ... 35
3. Pendapatan Masyarakat ... 38
a. Peran dan Fungsi Pondok Pesanren ... 38
b. Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan ... 44
G. Metode Penelitian ... 48
1. Metode Penelitian ... 48
2. Kehadiran Peneliti ... 49
3. Lokasi penelitian ... 49
4. Jenis dan sumber data ... 50
5. Teknik Pengumpulan Data ... 52
a. Observasi non partisipatif ... 52
b. Wawancara terstruktur ... 53
c. Dokumentasi ... 56
6. Teknik analisi data ... 58
a. Reduksi ... 58
b. Penyajian data ... 59
c. Verifikasi data ... 59
7. Keabsahan data ... 60
a. Ketekunan pengamatan ... 60
b. Tringulasi ... 61
H. Sistematika Pembahasan ... 62
BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 64
A. Kondisi objek Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ... 64
1. Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ... 64
2. Profil Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ... 67
3. Visi Misi Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ... 69
4. Tujuan Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ... 69
5. Letak geografis Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ... 70
6. Struktur manajemen personal Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ... 71
B. Kontribusi Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ... 74
1. Promosi ... 76
2. Agrobisnis dalam bidang pertanian Tanaman Porang (Kesempatan Kerja ... 82
3. Koperasi Pesantren ... 93
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan masyarakat sekitar di lingkungan Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ... 101
1. Modal ... 101
2. Jumlah Tanggungan Keluarga ... 105
xv
BAB III PEMBAHASAN ... 109
A. Kontribusi Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ... 109
B. Faktor Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan masyarakat sekitar di lingkungan Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ... 131
BAB IV PENUTUP ... 146
A. Kesimpulan ... 146
B. Saran ... 148
DAFTAR PUSTAKA ... 150
LAMPIRAN ... 155
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1Sarana dan prasarana pondok pesantren Bustanul
Wa’izhin NW Janggawana ... 73 Tabel 2.2 Data guru dan kepegawaian yayasan pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ... 74 Tabel 2.3 Penjualan Haskar Santriwan/ti Yayasan Pondok Pesanren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana Oleh Masyarakat/September 2021 ... 80 Tabel 2.4 Nama-nama Pekerja Pada Tanaman Porang di Yayasan Pondok Pesanren Bustanul Wa’izhin NW ... 87 Tabel 2.5 Upah Pekerja Tanaman Porang Yayasan Pondok Pesanren Bustanul Wa’izhin NW... 89 Tabel 2.6 Nama Masyarakat Yang Menitipkan Jualan di Kantin Pondok Pesanren Bustanul Wa’izhin NW ... 98
xvii
DAFTAR GAMBAR
2.1 Susunan kepengurusan yayasan pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ... 72
KONTRIBUSI PONDOK PESANTREN BUSTANUL WA’IZHIN NW JANGGAWANA TERHADAP
PENDAPATAN MASYARAKAT SEKITAR LINGKUNGAN PONDOK DI DESA JANGGAWANA
KEC. JANAPRIA, KAB. LOMBOK TENGAH Oleh:
FITRIANI NIM. 180105054
ABSTRAK
Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu (1) bagaimana kontribusi pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana terhadap pendapatan masyarakat sekitar lingkungan pondok di Desa Janggawana, Kec. Janapria, Kab. Lombok Tengah? (2) apa saja fakor yang mempengaruhi pendapatan masyarakat sekitar di lingkungan pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana, Kec. Janapria, Kab. Lombok Tengah?.Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu (1) Untuk mengetahui kontribusi Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana terhadap pendapatan masyarakat sekitar lingkungan pondok di Desa Janggawana, Kec. Janapria, Kab. Lombok Tengah (2) Untuk mengetahui fakor yang mempengaruhi pendapatan masyarakat dilingkungan pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana, Kec. Janapria, Kab. Lombok Tengah.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif.Adapun dalam penelitian ini data diperoleh dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi.Teknik analisi data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti maka dapat disimpulkan bahwa: pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif deskriptif, karena semua data-data diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi.
xix
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kontribusi yang diberikan oleh pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana terhadap pendapatan masyarakat yaitu: (1) Dunia bazaar/promosi, (2) Agrobisnis dalam bidang pertanian Tanaman Porang (Kesempatan Kerja), (3) Koperasi pesantren. Adapun faktor yang mempengaruhi pendapatn masyarakat sekitar dilingkungan pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawan yaitu: (1) Modal dan (2) Jumlah tanggungan keluarga.
Kata Kunci : Kontribusi Pondok Pesantren, Pendapatan Masyarakat
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pendidikan adalah proses dimana seseorang bisa mengembangkan berbagai aspek dalam kehidupannya baik dari segi kemampuan berfikir, sikap, serta bentuk tingkah lakunya baik secara individu juga secara kelompok.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam undang-undang No 2/1989 Pasal 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional,2bahwa pendidikan adalah perjuangan para pendidik untuk mempersiapkan peserta didik melalui berbagai aktivitas yang dilakukan, baik dengan cara memberikan pengajaran, lalu membimbing ataupun melatih peserta didik untuk kesiapannya dimasa depan.
Pendidikan tidak hanya di dapat dari lembaga pendidikan formal saja, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat atau berkelompok juga dapat mengajarkan atau memberikan
2Kementrian Hukum, “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 Pasal 1 Tentang Sistem Pendidikan Nasional”, (Jakarta, Tahun 1989), hal. 2
pendidikan yang relatif besar untuk mempersiapkan diri menghadapi masa yang akan datang. Jika dicermati dari berbagai bidang yang tentu hanya mempunyai fungsi sebagai pencipta sarana dan prasarana bagi apa yang diharapkan manusia, maka pendidikan itu sendiri mempunyai fungsi secara lansung menjadi wadah dalam menghasilkan karakter manusia.
Berbicara mengenai pendidikan, maka tidak akan lepas dari lembaga pendidikan asli Indonesia yaitu lembaga pendidikan pesantren. Dimana pesantren di Indonesia tercatat sebagai lembaga pendidikan tertua3 kehadiran pesantren sampai dengan saat ini masih sangat erat kaitannya dengan masyarakat, karena melalui pondok pesantren inilah masyarakat lebih mudah menemuinyasebagai tempat pendidikan yang paling di percaya.
Kehadiran pondok pesantren disuatu wilayah tidak bisa dilepas dari berbagai tuntunan masyarakat, oleh sebab itu
3Dienil Aminy, “Kontribusi Pondok Pesantren Dalam Dinamika Perubahan Sosial Keagamaan Dan Pedidikan Masyarakat Di Pamekasan”,
3
lembaga pendidikan pesantren selalu mempererat hubungannya dengan masyarakat disekitarnya. Sehingga sewaktu-waktu segala bentuk aktivitas ataupun kegiatan yang di lakukan oleh pondok pesantren akanselalu mendapat dukungan penuh dari masyarakat disekitarnya.
Lembaga pendidikan pesantren tentu berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya, adapun terdapat beberapa unsur yang menjadi perbedaan antara lingkungan pesantren dengan lingkungan pendidikan formal lainnya:4
1. Pondok; dimana pondok ini diartikan sebagai tempat tinggal kiayi, ustad/ustadzah beserta para santri- santrinya.
2. Masjid; merupakan tempat dilakukannya serangkaian kegiatan keagamaan atau kegiatan ibadah dan belajar mengajar (kiayi beserta para santri)
4Ishomuddin., dkk, “Pembangunan Sosial Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEN”, (Duta Media Publishing, Jawa Timur, 2016), hal. 288
3. Santri; merupakan unsur pokok dari sebuah pesantren (orang-orang yang belajar dan menimba ilmu agama di pondok pesantren tersebut).
4. Kiai; merupakan tokoh utama dari pesantren sekaligus pendiri pondok pesantren dan juga menjadi pengajaran dipondok pesantren tersebut.
5. Kitab-kitab Islam Klasik; yaitu kitab-kitab yang dikarang oleh para ulama terdahulu tentang ajaran- ajaran keislaman, yang kemudian diajarkan oleh kiayi kepada para santri di pondok pesantren.
Lembaga pondok pesantren memiliki fungsi dan peran khusus bagi masyarakat disekitarnya, terlebih dalam membawa perubahan dan perkembangan baik dari segi sosial, ekonomi, keagamaan maupun budaya. Kehadiran pesantren disuatu wilayah dapat menjadi suatu anugrah dalam menjawab berbagai tuntutan kebutuhan masyarakat.Selain itu, hadirnya pesantren dikalangan masyarakat masih sangat di harapkan untuk dapat membawa dan memberikan pemahaman yang jauh lebih baik dari segi pemahaman ilmu
5
agama.Namun bukan hanya dari segi pemahaman ilmu agama saja, hadirnya pesantren juga diharapkan dapat membawa perubahan dari segi ekonomi masyarakat sekitar.Pesantren bukan hanya menjadi sebuah lembaga pendidikan namun juga dapat menjadi lembaga yang mampu meningkatkan pendapatan masayarakat disekitarnya.
Pesantren memiliki tanggung jawab yang cukup besar terhadap masyarakat sekitar terlebih dalam bidang perekonomian dalam suatu wilayah, oleh karena itu masyarakat sangat berharap hadirnya pesantren disuatu wilayah dapat membawa perubahan yang jauh lebih baik terhadap perkembangan dan kemajuan ekonomi masyarakat sekitar.Begitu juga dengan hadirnya pesantren di tengah- tengah masyarakat dapat menjadi harapan yang cukup besar untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui berbagai kontribusi yang diberikan oleh pondok pesantren terhadap suatu wilayah tertentu.
Pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana merupakan pondok pesantren yang terletak di
Desa Janggawana, Kec. Janapria, Kab. Lombok Tengah.Pesantren ini didirikan oleh TGH. Nasrun Mahir QH.
S.Pd.I As-Solaty pada tahun 2015.Hingga saat ini Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana menjadi harapan besar bagi masyarakat janggawana untuk membawa perubahan yang jauh lebih baik.5
Eksistensi Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana dalam ranah pengembangan lembaga pendidikan islam semakin di dukung oleh masyarakat sekitar. Khususnya dalam acara pengajian bulanan yang di adakan oleh pimpinan Pondok Pesantren.Terbukti bahwa setiap ada kegiatan keagamaan masyarakat tampak antusias dan ikut andil dalam kegiatan tersebut.Tidak hanya membawa perubahan dari segi pemahaman ilmu agama, namun masyarakat juga berharap hadirnya pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana mampu membawa perubahan dari segi perekonomian masyarakat.
5Observasi awal, Pondok Pesantren Bustanul Wa’izin Nw
7
Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti terhadap pendapatan masyarakat sekitar dilingkungan Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana, ada beberapa masyarakat yang berpendapat bahwa setelah berdirinya Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ini justru dapat membawa perubahan yang cukup besar terhadap pendapatan yang diterima dibanding dengan sebelum berdirinya pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana tersebut. 6 Sebelum berdirinya pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ini, masyarakat Janggawana hanya berprofesi sebagai petani untuk menambah pendapatan dan mencukupi kebutuhannya sehari-hari, namun setelah berdirinya pondok pesantren Bustanul Wai’izhin ini masyarakat mencoba untuk memanfaatkannya dengan cara membuka usaha baik itu usaha dalam bidang makanan (kuliner), fashion dan lain- lain.7
6Ibu Emong dan ibu Waizh, Observasi dan wawancara awal, Janggawana, 25 Desember 2021.
7Ibid
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis bermaksud untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul
“Kontribusi Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana Terhadap Pendapatan Masyarakat di Lingkungan Pondok di Desa Janggawana, Kec. Janapria, Kab. Lombok Tengah”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah di paparkan diatas, maka dapat di susun rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kontribusi pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana terhadap pendapatan masyarakat sekitar lingkungan pondok di Desa Janggawana, Kec. Janapria, Kab. Lombok Tengah?
2. Bagaimanakah fakor yang mempengaruhi pendapatan masyarakat sekitar dilingkungan pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana, Kec. Janapria, Kab.
Lombok Tengah?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan penelitian
9
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah di kemukakan, maka tujuan penelitian sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui kontribusi pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana terhadap pendapatan masyarakat sekitar lingkungan pondok di Desa Janggawana, Kec. Janapria, Kab. Lombok Tengah
2. Untuk mengetahui fakor yang mempengaruhi pendapatan masyarakat dilingkungan pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana, Kec.
Janapria, Kab. Lombok Tengah 2. Manfaat penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini antara lain : 1. Manfaat Secara Teoritis
a. Hasil penelitian ini di harapkan dapat berguna sebagai sumbangan pemikiran bagi dunia pendidikan khususnya pendidikan islam dan pendidikan ekonomi.
2. Manfaat Secara Praktis
a. Bagi pondok pesantren Bustwanul Wa’izhin NW Janggawana, dapat memberi motivasi untuk lebih meningkatkan kontribusinya terhadap masyarakat.
b. Bagi penelitian berikutnya, diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan atau dikembangkan lebih lanjut dan menjadikan sebagai refrensi terhadap penelitian sejenisnya.
D.Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang lingkup penelitian
Untuk memperjelas masalah yang dibahas dalam penelitian ini dan tidak terjadi pembahasan yang meluas atau menyimpang dari fokus penelitian, maka penulis perlu membuat batasan masalah. Adapun yang menjadi ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu, hanya sebatas pada Kontribusi Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana Terhadap Pendapatan Masyarakat Sekitar Lingkungan Pondok di Desa Janggawana, Kec. Janapria, Kab. Lombok Tengah.
2. Setting penelitian
11
Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana, kec.Janapria, kab.Lombok Tengah. Alasan memilih lokasi penelitian ini, karena peneliti ingin mencari tau kontribusi dari pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana terhadap pendapatan masyarakat sekitar, dan pondok pesantren inilah tempat yang paling refresentatif untuk bisa melakukan penelitian, disamping itu juga lokasi ini sangat srategis dan mudah di jangkau oleh peneliti.
E.Telaah Pustaka
1. Penelitian yang di lakukan oleh Zuhdi Syukron dengan judul “Kontribusi Pesantren Al-Mujahidiyyah Dalam Mengembangkan Sumber Daya Manusia Desa Demangan Kecamatan Taman Kota Madiun”.8 Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian ini yaitu pengembangan sumber daya manusia yang dihasilkan oleh Pondok Pesantren Al- Mujahidiyyah sertamenemukan faktor pendorong dan
8Zuhdi Syukron “Kontribusi Pesantren Al-Mujahidiyyah Dalam Mengembangkan Sumber Daya Manusia Desa Demangan Kecamatan Taman Kota Madiun”Jurnal Pendidikan, Vol 6, No 2, Maret 2021.
faktor penghambat dari sumber daya manusia di Pondok Pesantren Al-Mujahidiyyah. Adapun perbedaan dala penelitian ini terletak ada subyek penelitian dan tempat dilakukannya penelitian, penelitian ini membahas tentang pondok pesanren dalam mengembangkan sumber daya manusia. Sedangkan persamaannya terletak dari objek penelitian yaitu sama-sama membahas tentang kontribusi pondok pesantren.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Mustawir dengan judul
“Kontribusi Pondok Pesantren An-Nahdlah Dalam Meningkatkan Kesejahteraan SosialMasyarakat Kelurahan Layang Kecamatan Bontola Kota Makassar”.9 Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah sikap Pembina pondok pesantren terhadap kesejahteraan masyarakat. Perbedaan penelitian ini terletak dari subyek penelitiannya yaitu penelitian ini membahas tentang sikap Pembina pondok pesantren terhadap kesejahteraan
9Musyawir “Kontribusi Pondok Pesantren An-Nahdlah Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Masyarakat Kelurahan Layang Kecamatan
13
masyarakat.Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan terletak dari segi subyek penelitian dan tempat dilakukannya penelitian dalam penelitian ini membahas tentang kesejahteraan masyarakat, sedangkan subyek penelitian yang akan peneliti bahas terkait dengan pendapatan masyarakat. Sedangkan persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akandilakukan oleh peneliti terletak pada objek penelitian yaitu sama-sama membahas tentang kontribusi dari pondok pesantren.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Muh. Niam dengan judul
“Kontribusi Pondok Psantren Dalam Mengembangkan Human Capital”10 Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah konribusi dari pondok pesantren sebagai Faith-Based Organization (FBO) dalam mengembangkan Human Capital. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan terletak dari
10Muh.Niam,”Kontribusi Pondok Psantren Dalam Mengembangkan Human Capital”Jurnal Pembangunan Manusia, Volume 2, Number 1, Februari 2021.
segi subyek penelitian dan tempat dilakukannya penelitian dalam penelitian ini membahas tentang pengembangan human capital, sedangkan subyek penelitian yang akan peneliti bahas terkait dengan pendapatan masyarakat.
Sedangkan persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti terletak pada objek penelitian yaitu sama-sama membahas tentang kontribusi dari pondok pesantren.
a. Persamaan
Adapun persamaan dari ketiga penelitian diatas terletak pada subyek penelitiannya yaitu sama-sama meneliti tentang kontribusi dari pondok pesantren.
b. Perbedaan
Adapun perbedaan dari ketiga peneitian diatas terletak pada objek dan tempat dilakukannya penelitian.Dari ketiga penelitian tersebut obyek penelitiannya ada yang menekankan tentang teori pengembangan sumber daya manusia, kemudian ada juga yang menfokuskan pada teori tentang
15
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan penelitian terakhir memfokuskan pada pengembangan human capital.
F. Kerangka Teori
1. Pengertian Kontribusi
Kontribsi berasal dari bahasa inggris yaitu contribte, contribution, maknanya adalah ikutserta, atau terlibatnya seseorang kepada sesuatu hal yang sedang dikerjakannya, atau bisa juga diartikan sebagai sebuah sumbangan yang diberikanseseorang kepada orang lain.11 Menurut KamusBesar Bahasa Indonesia kontribusi itu adalah sumbangan atau hadiah yang diberikan seseorang kepada orang lain.12Kontribusi juga dapat diartikan sebagai keikutsertaan seseorang yang dapat memberikan sumbangsihnya kepada orang lain untuk dapat mencapai tujuan yang di inginkan. Sebagai sesuatu yang dapat memberikan sumbangan, maka kontribusi itu sendiri tentu
11Afiful Ikhwah, “Pendidikan Agama Islam: Berbasis Islam Kontemporer DalamPerspektif Indonesia”,(Jawa Tengah: Tahta Media Group, 2021), hal. 222
12Ibid
akan mendatangkan dampak baik itu dampak positif maupun negativ terhadap orang lain
Sejalan dengan pendapat beberapa ahli yang mengatakan bahwa kontribusi yang positif dapat memberikan sebuah kemajuan atau peningkatan dalam mencapai suatu hasil yang diinginkan dengan tujuan tertentu.Adapun pengertian Kontribusi menurut para ahli, diantaranya yaitu: 13
a. Dany H (2006): Kontribusi diartikan sebagai suatu bentuk sumbangan yang diberikan pada orang lain yang hanya berupa materidengan tujuan sumbangan tersebut bisa dipergunakan untuk pembangunan masyarakat.
b. Yandianto (2000): kontribusi itu diartikan sebagai uang atau iuran yang dikumpulkan dari masyarakat yang akan dikelola oleh pihak tertentu dengan tujuan dapat kembali kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat itu sendiri.
17
c. T. Guritno (2000): mengartikan kontribusi itu sebagai sumbangan untuk membantu orang yang sedang terkena kerugian atau orang-orang yang sedang membutuhkannya dengan tujuan dapat memenuhi ataupun meringankan beban yang sedang dihadapai oleh orang tersebut.
Kontribusi itu tidak hanya diukur dengan bantuan yang berupa materi, namun juga bantuan dalam bentuk non- materipun termasuk kedalam kontribusi. Karena jika kontribusi hanya diukur dengan materi, maka hanya orang-orang yang mampu saja yang bisa berkontribusi kepada orang lain. Namun disini kontribusi bisa berbentuk sebuah bantuan baik dalam bentuk tindakan, ide, pemikiran ataupun peluang yang diberikan seseorang kepada orang lain juga dapat dikatan sebagai kontribusi.
Dapat disimpulkan bahwa kontribusi merupakan bentuk bantuan yang tidak hanya berupa uang atau materi, tetapi bantuan dalam bentuk lain seperti bantuan tenaga,bantuan
pikiran dan segala bentuk bantuan yang dapat membantu kesuksesan suatu kegiatan yang sudah dirancang.
a. Macam-macam Kontribusi
Adapun macam-macam kontribusi menurut Anne Ahira yang dikutip oleh Uswatun Khasanah (2018) yaitu :14 1. Kontribusi yang bersifat materi, dimana kontribusi
jenis ini hanya bersifat materi saja, yaitu suatu pemberian yang diberikan kepada orang lain yang hanya berbentuk barang atau materi, minsalnya seorang individu memberikan uang, makanan, pakaian, dan lain-lain sebagai bentuk bantuannya kepad orang tersebut.
2. Kontribusi yang bersifat tindakan, yaitu kontribusi yang dapat berupa perilaku yang dilakukan oleh seseorang yang kemudian memberikan dampak baik positif maupun negativ terhadap orang lain tersebut.
14Uswatun Hasanah, “Kontribusi Masyarakat Dalam Kegiatan Keagamaan Di Pantai Asuhan Muhammadiyah Bobotsari Kabupaten Purbalingga”,(Skripsi, Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas
19
3. Konribusi yang bersifat pemikiran, yaitu seseorang memberikan bantuannya kepada orang lain dalam bentuk pemikirannya, misalkan seseorang memiliki pemahaan dalam ilmu keagamaan lalu ia memberikan kontribusinya dalam bentuk mengajarkan ilmunya tersebut kepada orang lain yang belum memahaminya 4. Kontribusi yang bersifat profesionalisme, yaitu
kontribusi yang diberikan oleh seseorang yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu yang kemudian ditularkan kepada orang yang dianggap perlu mendapatkan ilmu tersebut, dengan harapan dapat bermanfaat.
Berdasarkan penjelasan yang dipaparkan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kontribusi itumemiliki berbagai macam yang tidak hanya diukur dengan materi, akan tetapi kontribusi dalam bentuk non materipun bisa dikatakan sebagai kontribusi, yang dalam hal ini kontribusi bisa dalam bentuk sebuah ide, pemikiran, tindakan, peluang yang diberikan seseorang kepada orang lain atau ilmu-ilmu yang diajarkan kepada orang lain.
Kontribusi yang diberikan pondok pesantren kepada masyarakat bukan hanya berupa pendidikan bagi anak-anak mereka yang tinggal di pondok pesantren, melainkan pendidikan berupa pemahaman tentang agama Islam bagi orang tua maupun masyarakat sekitar, membuka peluang kerja dengan caramembiarkan masyarakat berdagang diarea pondok juga termasuk dalam kontribusi yang diberikan oleh pondok pesantren
2. Pondok Pesantren
a. Hakikat Pondok Pesantren
Pondok pesantren terdiri atas dua kata, yaitu kata pondok dan pesantren.Kata pondok asal katanya yaitu kata “funduq” berarti “penginapan” sedangkan kata pesantren berasal dari istilah “santri”sehingga pondok pesantrenmemiliki arti “tempat belajar sekaligus menjadi rumah para santri”.15
Sebagaimana yang dijelaskan oleh KH.Imam Zarkasyi yang dikutip oleh Nining Khurratul
15 Nining Khurratul Aini, “Model Kepemimpinan Treansformasional
21
Aini,16bahwa KH. Imam Zarkasyi mendifinisikan pesantren menjadi sebuah lembaga pendidikan islam yang didalamnya menjalankan pendidikan sistem asrama sebagai tempat tinggal kiayi serta para santri- santrinya, kiayi menjadi tokoh primer sekaligus tokoh sentral pada sebuah pesantren, masjid menjadi tempat untuk melakukan kegaiatan keagamaan, dan pengajaran perihal ilmu-ilmu agama islam dibawah naungan kiayi yang diikuti oleh para santri.
Pesantren dikalangan masyarkat dinilai menjadilembaga pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai keislaman, yang dalam hal ini masyarakat percaya sepenuhnya kepada lembaga pendidikan pesantren untuk membina serta membimbng anak- anaknya agar menjadi manusia yang berkepribadian islam. Sebagaimana yang di katakana oleh dapertemen pendidikan dan kebudyaan yang dikutip oleh Nining
16Ibid
Khurratul Aini 17 bahwa pesantren diartikan sebagai sebuah lembaga pendidikan atau asrama tempat para santri serta murid-murid yang lain belajar mengaji atau belajarperihal ilmu-ilmu agama islam.
Berdasarkan beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan islam yang memiliki peran sebagai tempat mempelajari ilmu-ilmu keagamaan yang memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai pendidik utama dalam membentuk karakter anak bangsa yang berakhlakul karimah serta menjadi manusia yang mampu berguna bagi masyarakat maupun Negara.
b. Sejarah Pondok Pesantren
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang sudah ada jauh sebelum indonesia merdeka dan pesantren pula tercatat menjadi sebuah lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Pesantren tidak dibentuk begitu saja tanpa adanya proses sejarah yang panjang,
23
oleh sebab itu banyak para ilmuwan tertarik untuk manggali sejarah tentang pondok pesantren.
Tumbuhnya pesantren di Indonesia telah melahirkan banyak kader-kader ulama dan menjadi tokoh-tokoh islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh Prof. Dr. Mukti Ali bahwa ulama tidak ada yang lahir dari lembaga pendidikan selain dari pada lulusan atau keluaran lembaga pendidikan pesantren.18
Adabanyak sekali para ilmuwan yang mengemukakan tentang sejarah singkat dari berdirinya pesantren di Indonesia. Salah satunya ilmuan yang bernama Soebardi19 menyatakan bahwa pesantren tertua di Indonesia yaitu pesantren Giri yang berada di sebelah utara Surabaya, Jawa Timur yang di dirikan oleh wali Sunan Giri abad ke 17 M dimana pesantren tersebut lansung di pimpin oleh keturunan Nabi-Wali. Lalu beberapa ahli yang lainnya pula berpendapat (Dhafier,
18Imam Syafe’i, ”Pondok Pesantren:Lembaga Pendidikan Pembentukan Karakter”, Jurnal Pendidikan Islam, Volume 8, Mei 2017, hal.
87
19Ibid
1982)20bahwa pesantren di indonesiasudah ada sejak abad ke 16 bersamaan dengan masuknya islam ke Indonesia. Pada abad itu telah banyak pesantren- pesantren popular yang dijadikan sebagai lembaga pendidikan kepercayaan Islam di Indonesia.
Banyaknya para ilmuan yang mengemukakan tentang sejarah lahirnya pesantren di Indonesia dengan pendapat yang berbeda-beda, maka para sejarahwan setuju dan menyimpulkan bahwa sebelum abad ke 18 M pesantren atau lembaga pendidikan Islam belum terdapat di Indonesia yang kemudian ada di akhir abad 18 M dan awal 19 M. (Martin, 1995).21
Berdirinya pondok pesantren Bustanul Wa’zin NW Janggawana merupakan lembaga pendidikan Islam berbasis pondok pesantren yang didirikan pada tahun 2015.Pesantren ini didirikan oleh TGH. Nasrun Mahir QH. S.Pd.I As-Sholaty, beliau salahsatu alumni Ma’ahad Darul Qur’an Wal Hadits Anjani Lombok
20Ibid, hal. 88
25
Timur yang kemudian melanjutkan studinya di Madrasah Asshoulatiyah Mekkah Al-Mukarramah. Hingga saat ini pondok pesantren Bustanul Wa’izin NW Janggawana menjadi sejarah tersendiri bagi berdirinya pondok pesantren ditengah-tengah masyarakat.22
c. Tipologi Pondok Pesantren
Seiring berjalannya waktu, perkembangan pondok pesantren dari masa penjajahan sampai dengan saat ini menyebabkan banyaknya studi yang menjelaskan tentang tipe-tipe pesantren di Indonesia.Terdapa banyak sekali ahli-ahli yang mengemukakan tentang tipe-tipe dari pondok pesantren.
Mentri Agama mengeluarkan peraturan No 3 Tahun 1979 yang menjelaskan tentang bentuk-bentuk dari Pondok Pesantren diantaranya:23
1. Pondok pesantren tipe A
22Wawancara awal dengan pimpinan Pondok Pesantren Bustanul Wa’izin Nw Janggawana, 25 Desember 2021
23 Kompri, “Manajemen dan Kepemimpinan Pondok Pesantren”, (Jakarta: Pranadamedia Group, 2018), hal. 37-38
Dimana pondok pesantren tipe A ini, pembelajarannya dilakukan secara tradisional(Sorongan) dan para santrinya harus belajar dan menetap di asrama lingkungan pondok pesantren supaya segala bentuk pengajaran dapat dilakukan secara teratur.
2. Pondok pesantren tipe B
Dimana pondok pesantren tipe B ini menekankan para santrinya bertempat tinggal di asrama dan ligkungan pondok pesantren, pesantren ini juga melakukan pengajaran dengan caraklasik (madrasy), dan sistem pengajaran yang dipakai oleh kiai menggunakan aplikasi pada waktu-waktu tertentu.
3. Pondok pesantren tipe C
Dimana pesantren tipe C ini hanya merupakan asrama sebagai tempat tinggal para santri, dan tidak ada kegiatan belajar mengajar didalamnya (santrinya belajar diluar atau sekolah umum),
27
sedangkan kiai disini hanya berperan sebagai pegawas dan pembina bagi santri-santrinya.
4. Pesantren tipe D
Dimana pesantren tipe D ini merupakan pesantren yang menggunakan sistem pendidikan pesantren sekolah atau madrasah.
Jika dilihat dari bentuk dan perkembangan pesantren diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa di Indonesia terdapat banyak sekali ragam dan bentuk pesantren.Indonesia memiliki pesantren dengan berbagai macam tipologi yang hitrogen dan sudah berkembang mulai sejak masa penjajahan sampai dengan saat ini.Beberapa sudi juga telah menjelaskan dan mengklasifikasi pondok pesantren berdasarkan tipenya masing-masing.Sehingga tidak dapat di hitung lagi berapa banyak pesantren di Indonesia dengan tipe yang berbeda-beda.
Dalam buku Kompri (2018)24 menjelaskan bahwa menurut Dapertemen Agama pondok pesantren dikategorikan berdasarkan tingkat konsistensinya mulai dari sistem lama ke
24Ibid hal. 38
sistem modern yang membuat pesantren di Indonesia memiliki tipe yang tidak sama tipe-tipe tersebut diantaranya:
1. Pondok Pesantren Salafiyah, dimana pondok pesantren jenis ini menyelenggarakan sistem pembelajaran yang berfokus pada kitb-kitab islam klasik yang memakai bahasa arab (sistem pendidikan tradisional)
2. Pondok Pesantren Khalafiyah (‘Ashriyah), dimana pesantren jenis ini menyelenggarakan pendidikan dengan sistem modern, yaitu menggunakan satuan pendidikan formal baik pada madrasah atau sekolah umum lainnya.
3. Pondok Pesantren Kombinasi/Campuran, dimana pesantren jenis ini diartikan sebagai pesantren yang memiliki rentang pengertian dari pengertian salafiyah dan khalafiyah.
d. Unsur-unsur Pondok Pesantren
Pada dasarnya sebuah lembaga pendidikan memiliki unsur-unsur tersendiri baru dapat dikatakan sebagai lembaga pendidikan, begitu juga dengan pondok pesantren, lembaga pendidikan yang berfokus kepada
29
pendidikan agama islam yang memiliki unsur-unsur tersendiri. Ada lima unsur pokok dari pondok pesantren menurut Zamaksari Dhofier (1990) tentang ulasannya mengenai pesantren:25
1. Kiai dalam pesantren merupakan tokoh yang memberikan pengajaran, kepada para santri sekaligus iasebagai pendiri dari pondok pesanren.
2. Santri merupakan unsur pokok dari suatu pesantren, mereka yang percaya sepenuhnya kepada kiai untuk dibimbing dan diajarkan tentang ilmu agama islam, dan merekalah orang-orang yang memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar dan mengembangkan dirinya.
3. Kitab-kitab islam klasik, merupakan unsur pokok yang paling membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya. Pesantren biasanya menekankan pada pembelajaran agama islam sesuai dengan ajaran dalam kitab-kitab yang dikarang oleh ulama terdahulu.
25Ibid, hal. 33
4. Masjid, merupakan tempat melaksanakan ibadah sholat berjamaah setiap lima waktu dan sebagai tempat belajar para santri sehari-hari.
5. Pondok, merupakan tempat tinggal kiai, ustads/ustadzah dan santri-santrinya untuk memudahkan proses belajar mengajar serta mengamalkan ilmu yang sudah di pelajari.
Pondok pesantren hingga saat ini sudah tersebar diberbagai daerah mulai dari perkotaan hingga ke pelosok desa. Banyaknya pesantren yang tersebar tidak akan merubah unsur-unsur dari lembaga pesantren itu sendiri, dan ada beberapa hal yang membedakan pesantren dengan pesantren lainnya yang dapat dilihat dari segi kemajuan dan perkembangan yang dimiliki oleh pondok pesantren.
e. Tujuan Pendirian Pondok Pesantren
Tujuan merupakan suatu hal yang dapat memuat seseorang terobsesi untuk mencapainya, dengan harapan apa yang menjadi tujuannya tersebut dapat diraih dengan melakukan berbagai cara atau suatu proses usaha.
31
Sebagaimanayang dikatakan oleh Drajat yang dikutip dariNining Khurrotul26 bahwa tujuan adalah sesuatu hal yang diharapkan dapat tercapai setelah berusaha.27 Tujuan diharapkan dapat menjadi acuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang ingin di capai, dimana menurut Arifin dikutip oleh Nining Khurrotul28 tujuan juga bisa menunjukkan kepada masa depan yang berada pada suatu jarak yang tidak dapat dicapai kecuali dengan proses atau sebuah usaha.
Tujuan tidak akan tercapai kecuali seseorang berusaha agar apa yang menjadi tujuannya tersebut dapat di raih sesuai dengan yang di harapannya. Sejalan dengan pendapatan Ahmadi29 yang mngartikan tujuan itu sebagai sesuatu yang akan diraih dengan melakukan sesuatu tersebut. Jika seseorang hendak mencapai tujuan yang diinginkan maka ia harus berani melakukan sesuatu dengan cara berusaha an berproses.
26Nining Khurrotul Aini, “Model Kepemimpinan Transformasional Pondok Pesantren”, (Surabaya: CV.Jakad Media Publishing, 2021), hlm. 83
27Ibid
28Ibid
29Ibid
Dalam hal ini adapun tujuan dari pendirian pondok pesantren adalah;30
1. Tujuan umum, dimana pesantren memiliki tujuan umum sebagai lembaga pendidik yang membimbing anak didik (para santri) untuk menjadi manusia yang berkepribadian islam, menjadi manusia yang bertaqwa terhadap apa yang di perintahkan oleh Allah serta menjauhi apa yang dilarangnya, serta menjadi manusia yang menanamkan nilai-nilai keislaman dalam dirinya.
2. Tujuan khusus, adapun tujuan khusu dari pendirian pondok pesantren, yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dan berilmu agama sesuai dengan apa yang diajarkan oleh kiai, ustad/ustadazah-nya, serta diharapkan apa yang sudah diajarkan dapat di amalkan dan mendakwahinya kepada masyarakat, serta dapat bermanfaat bagi kehidupannya baik didunia maupun diakhirat kelak.
30Kompri, Manajemen dan Kepemimpinan Pondok Pesantren,
33
Sebagai lembaga pendidikan islam, pesantren memiliki tanggung jawab yang besar dalam mensyi’arkan agama islam kepada masyarakat. Dalam hal ini, segala bentuk aktivitas yang dilakukan pondok pesantren semata-mata untuk mensejahterakan masyarakat khususnya bangsa.Aktivitas yang dilakukan oleh pondok pesantren sebagai bentuk untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam beragama, serta melakukan ajara agama sesuai perintah Allah SWT.Sebagai lembaga keagamaan yang ikut berperan sebagai lembaga social, maka pesantren juga memiliki tanggung jawab dalam menangani masalah- masalah yang ada dilingkungan masyarakat.
Menurut Sudjoko Prasodjo yang dikutip oleh Zulhimma bahwa jasa besar pesantren terhadap masyarakat desa, yaitu:31
a. Kegiatan tabligh kepada masyarakat yang dilakukan dalam kompleks pesantren. Dalam hal ini pesantren
31Zulhimma,”Dinamika Perkembangan Pondok Pesantren Di Indonesia’,Jurnal Darul ‘Ilmi, Vol, 01, No. 02 Tahun 2013, hal. 169
akan melakukan kegiatan dalam bentuk tabligh kepada masyarakat hanya dilingkungan pondok pesantren.
b. Majelis Ta’lim atau pengajian yang bersifat pendidikan kepada umum. Pesantren akan melakukan berbagai kegiatan dalam bentuk majlis ta’lim yang di pimpin lansung oleh kiai atau pendiri pondok pesantren terkait dengan permasalahan umum yang tidak dipahami oleh masyarakat.
c. Bimbingan hikmah berupa masehat kyai. Kiai atau pendiri pondok pesantren juga akan selalu memberikan nasihat kepada masyarakat.
Dalam lingkungan pesantren, para santri selain diajarkan mengaji juga akandiajarkan bagaimana menjadi orang yang bertanggung jawab atas apa yangtelah dilakukannya32. Bertanggung jawab atas segala hal dan dapat mengamalkan serta menerapkan nilai-nilai agama yang baik dilingkungan masyarakat. Pesantren juga akan
32Nining Khurrotul Aini, “Model Kepemimpinan Transformasional Pondok Pesantren”, (Surabaya: CV.Jakad Media Publishing, 2021), hlm. 83
35
mengajarkan para santrinya tentang nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, kesederhanaan, solidritas yang tinggi, kerjasama, kemandirian dan rasa ikhlas yang besar.
Besarnya peran dan tanggung jawab pesantren dalam mendidik santri tak lepas dari keikhlasan kiai dan segenap pengurus pondok pesantren.Dengan keikhlasan kiayi dan para pengurus itulah yang menjadikan santri menjadi orang yang dapat bermanfaat di kalangan masyarakat.
f. Peran dan Fungsi Pondok Pesantren
Dilihat dari segi sejarah dan pengertiaannya, sangat jelas bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan islam yang mengajarkan tentang nilai-nilai keislaman. Jadi fungsi dan misi dari pendirian pondok pesantren adalah “mendidik”, oleh karena itu segala bentuk kegiatan atau tindakan yang dilakukan di dalam lingkungan pesantren akanmengandung nilai-nlai kependidikan.Pesantren juga dinilai oleh masyarakat sebagai lembaga pendidikan pembentukan akhlakkul karimah dan pembentukan karakter anak bangsa yang
bermoral dan berintelektual.Pesantren juga didirikan sebagai lembaga pendidikan yang memiliki peran dan fungsi yang dapat mempengaruhi suatu bangsa.
Mengantisipasi akan datangnya zaman modern dimasa yang akan datang, maka lembaga pendidikan pondok pesantren memiliki dua misi yang harus dilakukan, yaitu:33
1. Misi Umum dari lembaga pendidikan pesantren yaitu pesantren akan menjadi lembaga pendidikan yang dapat mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, berintelektual yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama islam
2. Misi khusunya, yaitu mendidik dan mempersiapkan calon-calon ulama sebagai generasi penerus bangsa yang yang selalu menanamkan nilai-nilai keislaman.
Berdasarkan misi yang telah dipaparkan diatas, maka sangat jelas bahwa lembaga pendidikan pesantren berupaya untuk menjadi lembaga pendidikan yang sesuai dengan
37
aturan ajaran agama islam, serta berupaya menjadi lembaga pendidikan yang dipercaya oleh masyarakat dari masa kemasa.
Sedangkan menurut Mukermas ke-5 RMI (Rabithah al Ma’ahid) di probolinggo pada tahun 1996 yang dikrip oleh Nining Khurrotul Aini, menyebutkan bahwaada tiga peran dan fungsi pesantren yakni34.
1. Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran agama islam. Dalam hal ini pesantren akan ikut serta bertanggung jawab dalam menumbuhkan kecerdasan anak bangsa dan menyiapkan sumber daya manusia yang berilmu dan berakhlak, serta menjadi manusia yang dilandasi dengan ilmu, iman dan taqwa kepada Allah.
2. Sebagai lembaga perjuangan dan dakwah Islamiah.
Pondok pesantren dalam hal ini bertanggungjawab untuk menyampaikan atau memperluas agama Allah dan ikut berkontribusi untuk membangun kehidupan yang aman serta menciptakan kerukunan antar umat baik dalam
34Ibid
kehidupan individu, masyarakat, berbangsa ataupun dalam kehidupan bernegara.
3. Sebagai lembaga pemberdayaan dan pengabdian masyarakat. Artinya, bahwa pesantren diwajibkan menjalankan dan menjunjung tinggi nilai dari peran dan fungsi yang dimiliki serta diharapkan dapat meluruskan dan memperkuat kehidupan masyarakat demi mewujudkan masyarakat yangsejahtera.
Sebagai lembaga pendidikan islam yang diharapkan masyarakat dalam membentuk karakter bangsa yang berakhlakul karimah, maka peran dan fungsi pesantren sangat berpengaruhi terhadap masyarakat. Pesantren pada hakekatnya adalah sebuah lembaga pendidikan keagamaan yang memerankan fungsi sebagai institusi sosial. Sebagai sebuah institusi, maka pesantren memiliki dan menjadi pedoman etika dan moralitas bagi masyarakat.
3. Pengertian Pendapatan Masyarakat
Sebagai masyarakat yang tergolong kepada masyarakat yang berpendapatan rendah, maka segala hal atau pekerjaan
39
yang dapat mendatangkan penghasilan akan dilakukan. Oleh krena itu sekecil apapun pendapatan akan berguna untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagaimana yang dijelaskan oleh beberapa ahli yang tentang pengertian dari pendapatan diantaranya:
Menurut Raharja dan Manurung35 mengartikan pendapatan sebagai jumlah penerimaan yang di dapatkan oleh seseorang yang dapat berupa uang atau non uang atas prestasinya dalam bekerja selama satu periode.Seseorang yang menerima pendapatan dalam bentuk non uang dapat berupa pemberian beras,sandang, pangan, papan dan lain sebagainya.Sehingga pendapatan tidak hanya semata-mata berupa uang saja.
Sedangkan menurut Sukirno (2005;47)36 pendapatan diartikan sebagai sejumlah penghasilan yang diterima oleh seseorang atas prestasinya dalam berkerja yang dihitung
35Iskandar, “Pengaruh Pendapatan Terhadap Pola Pengeluaran Rumah Tangga Miskin Di Kota Langsa”, Jurnal Samudra Ekonomika, Vol 1, No. 2 Oktober 2017, hal. 128
36Ade Novalina dan Wahyu Indah Sari, “Analisis Dampak Kenaikan Harga BBM Terhadap Ketahanan Disposible Income Nelayan Desa Bagan Kecamatan Percut Seituan”, Jurnal Kerajinan dan Kebijakan Publik, Vol, 2 No 1 Januari 2017, hal. 4
selama satu periode, baik itu harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Sukirno juga mengklasifikasikan pendapatan menjadi 3 bagian diantaranya :
1. Pendapatan pribadi, dimana pendapatan jenis ini diartikan sebagai pendapatan yang diterima oleh seeorang atau penduduk suatu negara tanpa melakukan kegiatan apapun. Bisa dalam bentuk penerimaan dari pemerintah, tunjangan pengangguran, hasil penyewaan bangunan dan lain-lain.
2. Pendapatan disposable, diamana pendapatan jenis ini diartikan sebagai sisa dari jumlah pendapatan pribadi yang dikurangi dengan pajak yang harus dibayar oleh orang yang menerima pendapatan. Dengan begitu sisa dari jumlah pendapatan inilah yang disebut dengan pendapatan disposable.
3. Pendapatan nasional, diartikan sebagai pendapatan/nilai dari seluruh barang-barang jadi dan jasa yang sudah diproduksi oleh negara dalam kurun satu tahun. s
41
Sedangkan untuk pengertian masyarakat, para ilmuwan dalam bidang sosial sepakat bahwa tidak ada definisi yang secara tunggal mengartikan masyarakat, karena sifat manusia yang selalu berubah dalam waktu tertentu.Hal ini membuat para imuwan di bidang sosial memberikan definisi yang berbeda-beda terkait pengertian masyarakat.
Berikut beberapa definisi masyarakat menurut pakar sosiologi (Setiadi, 2013: 36 ):37
1. Selo Soemardjan mendefinisikan masyarakat yaitu orang- orang yang hidup secara bersama-sama yang dengan kehidupannya itu dapat saling membutuhkan satu sama lain yang kemudian akan menimbulkan suatu kebudayaan yangditeruskan secara turun temurun.
2. Max Weber mendefinisikan masyarakat itu sebagai suatu bentuk tingkatan yang pada intinya akanditentukan oleh sebuah harapan hidup dari nilai-nilai yang dibentuk oleh warganya.
37 Bambang Tejokusumo, “DinamikaMasyarakat Sebagai Sumber Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial”, Jurnal Geoedukasi, Volume III, Nomer 1, Maret 2014, Tejokusumo B.,Hal. 39-43
3. Menurut Paul B Horton dan C. hunt38 mengartikan masyarakat sebagai sekumpulan dari kelompok manusia yang didalamnya hidup secara bersama-sama dalam satu wilayah yang kemudian menghasilkan kebudayaan atau kebiasaan dari perkumpulannya tersebut. Masyarakat disini tidak bisa hidup secara sendiri karena tentu akan membutuhkan bantuan dari orang lain.
Masyarakat yang terdiri dari sekelompok orang yang menempati suatu wilayah tertentu akan hidup secara bersama- sama dan saling menjalin komunikasi antara satu dengan yang lainna. Hal ini sebagai aturan tertentu bahwa segala tindakan masyarakat akan dikontrol secara hukum, yang dimana masyarakat disini tidak dapat hidup secara sendiri-sendiri dan saling membutuhkan satu sama lainnya.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pendapatan masyarakat merupakan pendapatan yang diterima oleh sekumpulan orang atau individu atas apa yang
38Suwari Akhmaddhian dan Anthon Fathanudien, “Partisipasi Masyarakat Dalam Mewujudkan Kuningan Sebagai Kabupaten Konservasi (Studi di Kabupaten Kuningan)”, Jurnal Unifikasi, Vol. 2 No. 1 Januari 2015,
43
sudah diperolehnya, baik melalui kerja keras yang sudah dilakukannya maupun dari yang lain. Biasanya pendapatan yang diterima oleh masyarakat berbentuk uang, hal ini sejalan dengan pemikiran Rosyidi (2006)39 yang mengartikan pendapatan masyarakat sebagai arus uang yang didapat dari pihak lain kepada masyarakat yang bekerja, pendapatannya tersebut bisa dalam bentuk upah, bunga bank, sewa menyewa, laba dan lain sebagainya.
Menurut Samuelson dan Nordhaus, (2007:205)40 mengatakan bahwa pendapatan digolongkan menjadi 3 bagian, diantaranya sebagai berikut:
1. Gaji dan upah
Merupakan imbalan yang terima oleh seseorang sebagai tanda balas jasa atas pekerjaan yang sudah dilakukannya kepada orang lain baik itu pada perusahaan pemerintah dan lain sebagainya.
39 Femy M. G. Tulusan dan Very Y. Londa, ”Peningkatan Pendapatan Masarakat Melalui Program Pemberdayaan Di Desa Lolah II Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa”Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum, Volume 1, Nomor 1, Tahun 2014, hal. 93
40Iskandar, “Pengaruh Pendapatan Terhadap Pola Pengeluaran Rumah Tangga Miskin Di Kota Langsa” Jurnal Samudra Ekonomika, Vol 1, No. 2 Oktober 2017, hal. 129
2. Pendapatan dari kekayaan
Pendapatan yang diterima dari usaha sendiri yang biasanya diartikan sebagai nilai total produksi yang dikurangi dengan biaya yang dukeluarkan baik dalam bentuk uang dan lain sebagainya, dalam hal ini tenaga keluarga dan nilai sewa kapita untuk diri sendiri tidak dapat dihitung.
3. Pendapatan dari sumber lain
Merupakan pendapatan yang diterima seseorang tanpa mengeluarkan tenaga kerja yang dalam hal ini bisa dalam bentuk penerimaan bantuan dari pemerintah, asuransi pengangguran, menyewakan aset bangunan, bunga bank ataupun sumbangan-sumbangan dalam bentuk lain.
Dimana tingkat pendapatan diartikan sebagai tingkat hidup yang dapat dinikmati oleh seorang atau keluarga berdasarkan atas penghasilan yang telah diperoleh atau dari sumber-sumber pendapatan yang lainnya.
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan
45
Besar atau tidaknya pendapatan yang diterima seseorang tentu akan ada faktor-faktor tentu yang dapat mempengaruhinya. Dalam hal ini ada banyak faktor yang mempengaruhi pendapatan menurut Kurniawaty (2009)41 diantaranya:
1. Modal
Merupakan hal yang paling berpengaruh terhadap pendapatan seseorang. Modal akan menjadi penentu seseorang dalam memperoleh pendapatan, karena semakin banyak modal yang dikeluarkan maka akan semakin besar pula peluang pendapatan yang diterimanya. Sejalan dengan hasil penelitian (Priyandika 2015)42 yang mengatakan bahwa modal yang dimaksud adalah modal yang berasal baik dari
41Ade Novalina dan Wahyu Indah Sari, Analisis Dampak Kenaikan HargaBBM Terhadap Ketahanan Disposible Income Nelayan Desa Bagan Kecamatan Percut Seituan,Jurnal Kerajinan dan Kebijakan Publik, Vol, 2 No 1 Januari 2017, hal. 4
42 Made Dwi Vijayanti,Pengaruh Lama Usaha Dan Modal Terhadap Pendapatan dan Efisiensi Usaha Pedagang Sembako Di Pasar Kumbasari,E- Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana, Vol.5, No.12, Tahun 2016., hal. 1547
diri sendiri maupun modal yang di pinjaman dari pihak luar.
2. Jumlah Tanggungan Keluarga
Dimana jumlah tanggungan keluarga diartikan sebagai banyaknya jumlah anggota keluarga yang hidup dalam satu rumah dengan kepala rumah tangga, dan masih menjadi beban tanggungan kluarga dalam memenuhi kebuthannya sehari-hari.Menurut Situngkir (2007)43 tanggungan keluarga menjadi salah satu alasan yang paling utama bagi anggota rumah tangga untuk membantu kepala rumah tangga dalam bekerja supaya bisa memperoleh penghasilan. Karena semakin banyak tanggungan dari kepala rumah tangga, maka akan semakin efektif pula waktunya dalam bekerja hal
43Nurlaila Hanum, “Pengaruh Pendapatan, Jumlah Tanggungan Keluarga Dan Pendidikan Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Nelayan Di Desa Seuneubok Rambong Aceh Timur”, Jurnal Samudra Ekonomika, Vol.
47
ini tentu berpengaruh terhadap meningkatnya pendapatan yang akan diperolehnya.
3. Sisitem Sosial dan Budaya Masyarakat
Sistem sosial dan kebudayaan dipandang sebagai nilai yang mampu membangkitkan semangat kerja seseorang.Seseorang yang memiliki semangat kerja yang tinggi tentu memiliki budaya yang menghargai pemanfaatan waktu, memiliki sikap yang jujur dan pekerja keras. Pandangan hidup seseorang tentu akan menghasilkan nilai-nilai ekonomi yang tinggi yang menjadi modal utama dalam melakukan kegiatan ekonomi.44 Seseorang yang menghargai sistem sosial dan kebudayaan masyarakat tentu akan memiliki semangat kerja yang tinggi, dalam hal ini tentu akan berpengaruh juga terhadap pendapatan yang akan di perolehnya.
44 Made Ika Prestyadewi, Putu Yusi Pramandari, Gde Bayu Surya Parwia, “Aspek Sosial Ekonomi dan Budaya Dalam Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Tenganang Peringsang”,JurnalEquilibrium, Volume 11, Nomor 1, April 2013, hal.33
G. Metode Penelitian 1. Metode Penelitian
Metode yang di gunakan penulis dalam melakukan penelitian adalah kualitatif.Menurut Bagdan dan Taylor menyatakan data yang digambarkan atau dijelaskan yang diperoleh dari ucapan, perilaku, dan tulisan. Penelitian kualitatif akan menjelaskan serta mengupas secara mendalam permasalahan yang terjadi pada individu, masyarakat, atau organisasi kemudian mencari solusinya dan akan dituangkan dalam bentuk naratif dari fakta-fakta yang ditemukan dilapangan.45
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif yaitu mendeskripsikan suatu obyek, fenomena, atau setting sosial yang akandituangkan dalam tulisan yang bersifat naratif. 46 Penelitian kualitatif yang dimaksud oleh penulis adalah mendeskripsikan kontribusi pondok pesantren Bustanul Wa’izin NW Janggawana terhadap
45Albi Anggito & Johan Setiawan, S. Pd, “Metodologi Penelitian Kualitatif”, (Sukabumi Jawa Barat: CV Jejak,2018), hal. 11
49
pendapatan masyarakat di lingkungan pondok di Desa Janggawana, Kec. Janapria, Kab. Lombok Tengah bagi masyarakat janggawana.
2. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti merupakan hal yang harus ada dalam suatu penelitian kualitatif, dimana kehadiran peneliti merupakan instrumen yang utama, tujuan peneliti secara langsung ke lokasi penelitian adalah untuk mengumpulkan semua data secara mendalam, rinci, luas dan relevan serta data yang dikumpulkan dilpangan adalah data yang sekiranya diperlukan untuk menjawab permasalahan yang ada.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Bustanul Wa’izin NW Janggawana, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah. Alasan peneliti memilih lokasi ini sebagai tempat penelitian karena peneliti ingin mencari tau kontribusi pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawanaterhadap pendapatan
masyarakat janggawana,dan pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana inilah tempat yang paling refresentatif untuk dijadikan penelitian, serta lokasinya juga strategis dan mudah dijangkau oleh peneliti.
4. Jenis dan Sumber Data
Dalam penelitian ini sumber data atau informan diartikan sebagai orang yang mampu memberikan keterangan atau menjelaskan terkait dengan data-data yang dibutuhkan oleh peneliti dilapangan.
a. Sumber data/subyek
Dalam penelitian ini, maka subyek penelitian hanya dapat diperoleh dari :
1. Ketua yayasan, kepala madrasah, dan guru.
Alasan memilih subyek penelitian ini, karena sumber data terkait berbagai bentuk kontribusi dari pondok pesantren hanya subek peneliti inilah yang lebih mengetahuinya
2. Masyarakat Janggawana, alasan peneliti mengambil sumber data dari masyarakat
51
Janggawana, karena hanya merekalah yang dapat memberikan informasi terkait dengan pendapatan yang diperolehnya
b. Jenis data
1. Data primer, diartikan sebagai data yang secara lansung didapat dari sumber yang akanditeliti atau sumber pertama.47 Dalam penelitian inidata primernya adalah ketua yayasan atau pendiri pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana.
2. Data sekunder, diartikan sebagai data yang akan didapat dari keadaan sekitar atau data dari pihak luar, baik keadaan lingkungan data dalam bentuk dokumen, arsip dan lain sebagainya48. Adapun data sekunder dari penelitian ini diperoleh baik dari gambaran lokasi penelitian, keadaan lingkungan,skripsi, tesis, jurnal dan lain-lain.
47Rianto Adi, “Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum”, (Jakarta tahun 2004), hal. 65
48Ibid
5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan tiga metode diantaranya:
a. Observasi non partisipatif
Peneliti menggunakan observasi non partisipatif, dimana dalam observasi ini peneliti tidak terlibatkan dalam kegiatan yang sedang di observasi. Dengan demikian observasi jenis ini, peneliti hanya bertindak sebagai pengamat tanpa ikut terlibat dalamkegi