I. BAB II LANDASAN TEORI
2.1. Perancangan Produk
Perancangan adalah penerapan prinsip-prinsip teknis dan ilmiah untuk mengatur komponen sebuah perangkat lunak yang harus disesuaikan dan diwujudkan untuk mencapai hasil tertentu dan juga harus memenuhi enam persyaratan [ CITATION Ros18 \l 1033 ], yaitu sebagai berikut.
1. Harus diwujudkan dengan menggunakan prinsip pengaturan perangkat.
2. Komponen perangkat harus geometris terkait satu sama lain dengan objek.
3. Komponen harus cukup kuat untuk mengirim dan menahan kekuatan sebagai kebutuhan hasil yang diharapkan.
4. Ketersediaan akses terhadap perangkat.
5. Munculnya perangkat harus diterima.
2.2. Part List
Part list adalah tabel yang memberikan informasi tentang item, kuantitas dan deskripsi terkait lainnya dari komponen perakitan. Part list sangat berguna untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan komponen rakitan dalam tampilan gambar (Sham, 2021). Visualisasi part list dapat dilihat pada Gambar 2.1.
II-1
Sumber: Pengumpulan Data
Gambar 2.1. Part List
2.3. Bill of Material
Bill of material adalah data yang berisi tentang struktur produk yang detail komponen-komponen sub-assembly (jenis, jumlah, dan spesifikasinya) hubungan suatu barang dan komponen-komponennya ditunjukkan dalam satu struktur produk secara peringkat (Sinulingga, 2009).
Bill of material suatu produk menunjukkan jumlah setiap jenis bahan dan bagian barang dibutuhkan membuat satu satuan barang jadi serta jumlah setiap jenis bahan lain dan bagian barang lain yang dibutuhkan untuk membuat setiap jenis bahan.
Terdapat beberapa format data yang ditampilkan dalam bill of material, yaitu sebagai berikut.
I3
1. Single-Level Bill of Material
Single-level bill of material adalah sebuah file yang memperlihatkan hubungan antara produk akhir dan setiap part, komponen dan sub- assembly yang bersifat langsung, seperti yang terlihat pada Gambar 2.3.
Sumber: Sinulingga, Sukaria. 2009.
Gambar 2.2. Single-Level Bill of Material
2. Indented Bill of Material
Indented bill of material menunjukkan setiap item pada level-nya masing- masing sesuai dengan tahapan proses pembuatan seperti terlihat pada Gambar 2.4.
3. Summarized Bill of Material
Summarized bill of material mirip dengan indented bill of materials terkecuali pada summarized bill of material, item yang sama hanya terlihat satu kali saja dengan cara menjumlahkan semua kebutuhan item yang sama tersebut. Summarized bill of material dapat dilihat pada Gambar 2.5.
Sumber: Sinulingga, Sukaria. 2009.
Gambar 2.4. Summarized Bill of Material
2.4. Struktur Produk
Struktur produk adalah sebuah diagram yang berisi informasi mengenai hubungan antar komponen dalam perakitan. Informasi ini penting dalam penentuan kebutuhan kotor dan kebutuhan bersih suatu komponen. Struktur produk dapat dilihat pada Gambar 2.5.
I5
Sumber: Pengumpulan Data
Gambar 2.5. Struktur Produk
Product structure tree adalah sebuah diagram (menirukan pohon dengan cabang-cabangnya) yang memperlihatkan bagaimana suatu produk dibentuk dari komponen-komponennya. Product structure tree dapat dilihat pada Gambar 2.6.
Sumber: Sinulingga, Sukaria. 2009.
Gambar 2.6. Product Structure Tree
secara sistematis dan jelas. Melalui peta kerja dapat dilihat semua langkah atau proses yang dialami oleh suatu benda kerja kemudian menggambarkan semua langkah yang dialami benda kerja, seperti transportasi, operasi mesin, pemeriksaan, perakitan, sampai akhirnya menjadi produk jadi. Apabila ingin melakukan studi yang seksama terhadap suatu peta kerja, maka pekerjaan dalam usaha memperbaiki metode kerja dari suatu proses produksi akan lebih mudah dilaksanakan.
Pada dasarnya semua perbaikan tersebut ditujukan untuk mengurangi biaya produksi secara keseluruhan, dengan demikian peta ini merupakan alat yang baik untuk menganalisa suatu pekerjaan sehingga mempermudah perencanaan perbaikan kerja (Erliana, et al. 2015). Informasi yang didapatkan melalui peta kerja antara lain (Zadry, 2015):
1. Benda kerja, berupa gambar kerja, jumlah dan spesifikasi material, dimensi/ ukuran pekerjaan.
2. Jenis proses yang dilakukan, jenis dan spesifikasi mesin, peralatan produksi, tooling.
3. Waktu operasi (waktu standar) untuk setiap proses atau elemen kegiatan di samping total waktu penyelesaiannya.
4. Kapasitas mesin atau kapasitas kerja lainnya yang dipergunakan.
I7
Pada dasarnya, peta-peta kerja dibagi dalam dua kelompok besar berdasarkan kegiatannya, yaitu peta-peta kerja yang digunakan untuk menganalisis kegiatan kerja keseluruhan, dan peta-peta kerja yang digunakan untuk menganalisis kegiatan kerja setempat. Cakupan penelitian adalah kegiatan kerja keseluruhan. Jenis peta-peta kerja yang digunakan untuk kelompok kegiatan kerja keseluruhan adalah sebagai berikut.
1. Peta Rakitan (Assembly Process Chart)
Peta rakitan adalah gambaran grafis dari urutan aliran komponen dan rakitan bagian ke dalam rakitan suatu produk. Tujuan dari peta rakitan terutama untuk menunjukkan keterkaitan antara komponen-komponen yang menyusun sebuah produk. Peta rakitan menunjukkan cara yang mudah dipahami tentang:
a. Komponen-komponen yang membentuk produk.
b. Bagaimana komponen-komponen ini bergabung bersama.
c. Komponen yang menjadi bagian suatu rakitan bagian.
d. Aliran komponen ke dalam sebuah rakitan.
e. Keterkaitan antara komponen dengan rakitan-bagian f. Gambaran menyeluruh dari proses rakitan.
g. Urutan waktu komponen bergabung bersama.
h. Suatu gambaran awal dari pola aliran bahan.
Tujuan dari peta rakitan terutama untuk menunjukkan keterkaitan antara komponen-komponen yang menyusun sebuah produk.
Peta proses operasi adalah suatu diagram yang menggambarkan langkah- langkah proses yang dialami oleh bahan baku mengenai urutan-urutan operasi dan pemeriksaan sejak awal sampai menjadi produk jadi utuh maupun sebagai komponen. Peta proses operasi juga memuat informasi-informasi yang diperlukan untuk analisis lebih lanjut, seperti: waktu yang dihabiskan, material yang digunakan, tempat atau alat atau mesin yang digunakan. Beberapa kegunaan dari peta proses operasi antara lain:
a. Untuk mengetahui kebutuhan akan mesin dan penganggarannya.
b. Untuk memperkirakan kebutuhan akan bahan baku.
c. Sebagai alat untuk menentukan tata letak pabrik.
d. Sebagai alat untuk melakukan perbaikan cara kerja yang dipakai.
e. Sebagai alat untuk latihan kerja.
I9