• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan 3 Praktik Pengalaman Lapangan

N/A
N/A
Eka Rahmady Hardianto

Academic year: 2024

Membagikan "Laporan 3 Praktik Pengalaman Lapangan "

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

i

LAPORAN 3

PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN

Eka Rahmady Hardianto 2001230067

PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI GURU UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

JAKARTA NOVEMBER, 2023

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Bismillah, Alhamdulillah, Shollallohu'ala Sayyidina Muhammad SAW. Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya sehingga tugas laporan 3 tentang "Praktik Pengalaman Lapangan " ini dapat tersusun dengan baik.

Sholawat beserta Salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang syafa'atnya semoga selalu tercurah kepada kita, baik di dunia ini sampai di yaumil hisab nanti. Aamiin Ya Robbal Alamin

Saya mengucapkan terima kasih juga atas bantuan panitia PPG LPTK Universitas Negeri Jakarta (UNJ) selaku penyelenggara dan rekan-rekan Kategori I gelombang 2 PPG Dalam Jabatan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tahun 2023 yang telah banyak memberikan dukungan dan semangat. Harapan saya semoga Tugas Laporan 3 ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca tentang mekanisme pelaksanaan PPG Daljab di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), khususnya untuk lulusan Guru Penggerak.

Akhir kata, sebagai penyusun tugas laporan ini, saya menyadari bahwa mungkin dalam penulisan begitu pula susunan laporan ini, masih jauh dari kata sempurna. maka dari itu saya mohon saran dan kritik yang membangun. Semoga tugas laporan 3 ini membawa keberkahan dan memberikan informasi yang bermanfaat kepada semua insan pendidikan khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Aamiin Ya Robbal Alamin

Seruyan Raya, 16 November 2023

Penulis

(3)

iii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

RINGKASAN ... iv

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Kegiatan ... 1

B. Tujuan Kegiatan ... 2

C. Manfaat Kegiatan ... 2

BAB II ... 4

PEMBAHASAN ... 4

A. Pendampingan Individu (PI) ... 4

B. Pendampingan Kelompok (Lokakarya) ... 6

C. Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid ... 8

BAB III ... 10

PENUTUP ... 10

A. Refleksi ... 10

1. Pendampingan ... 10

2. Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid Berkarya Melalui Literasi Digital (BMLD) ... 10

B. Tindak Lanjut ... 11

DAFTAR PUSTAKA ... 12

LAMPIRAN ... 13

(4)

iv

RINGKASAN

Program PGP sejatinya mengembangkan pengalaman pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan guru sebagai bagian dari Kebijakan Merdeka Belajar melalui pendidikan guru. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari pengembangan pengalaman guru, diperlukan pembimbingan dalam bentuk pendampingan, baik Pendampingan Individu (PI) maupun Pendampingan Kelompok (Lokakarya).

Tujuan kegiatan pada program PGP ini ialah CGP diharapkan mampu: 1).

menerapkan hasil pembelajaran secara daring dan lokakarya pada satuan pendidikan masing-masing secara maksimal melalui pendampingan individu; 2).

memiliki kemampuan menggerakkan komunitas belajar, mendorong dan terlibat aktif bersama anggota komunitas untuk bersikap reflektif, kolaboratif serta berbagi pengetahuan yang dimiliki, dan saling belajar dalam rangka mencapai tujuan bersama melalui pendampingan kelompok/lokakarya; dan 3).

merencanakan, mengorganisasikan dan mengarahkan program perbaikan dan perubahan sekolah, serta memantaunya agar berjalan sesuai rencana dan mengarah pada tujuan serta berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran.

Selama mengikuti program PGP, penulis melaksanakan kegiatan pendampingan, baik PI maupun Lokakarya yang berlangsung satu bulan sekali. PI dilaksanakan selama kurang lebih 4 jam pelajaran melalui kunjungan pendamping pada satuan pendidikan penulis, sedangkan Lokakarya dilaksanakan selama kurang lebih 8 jam pelajaran untuk mengajarkan berbagai materi program PGP.

Program yang berdampak pada murid adalah program yang meningkatkan keberpihakkan pada murid, yang menguatkan apa yang dimiliki, mengajarkan murid untuk menuju kebermaknaan dalam belajar, dan mengimplementasi kepemimpinan murid. Program yang berdampak pada murid bertujuan untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan murid dalam belajar. Menumbuhkan kepemimpinan murid bagian dari upaya kolaboratif yang dilakukan oleh semua pihak dalam mencapai tujuan pendidikan yaitu mengembangkan potensi peserta

(5)

v

didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

(6)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan

Program Pendidikan Guru Penggerak (PGP) merupakan langkah strategis pemerintah Republik Indonesia untuk mewujudkan guru yang berdaya dan memberdayakan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan proses dan hasil belajar peserta didik. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (2020: 1) menjelaskan bahwa PGP merupakan program pengembangan keprofesian berkelanjutan melalui pelatihan dan pendampingan yang berfokus pada kepemimpinan pembelajaran, agar guru dapat menggerakkan komunitas belajar di sekitarnya yang dapat mewujudkan merdeka belajar peserta didik.

Lampiran Keputusan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nomor 3028/B/GT/2020 Tentang Pedoman Pendidikan Guru Penggerak, dituliskan bahwa PGP bertujuan memberikan bekal kemampuan kepemimpinan pembelajaran dan pedagogik kepada guru sehingga mampu menggerakkan komunitas belajar, baik di dalam maupun di luar satuan pendidikan serta berpotensi menjadi pemimpin pendidikan yang dapat mewujudkan rasa nyaman dan kebahagiaan peserta didik ketika berada di lingkungan satuan pendidikannya masing-masing.

Rancang bangun PGP menggunakan pendekatan andragogi dan blended learning selama 9 (sembilan) bulan. Program tersebut didesain untuk mendukung hasil belajar yang implementatif berbasis lapangan. Kegiatan PGP dilaksanakan menggunakan metode pelatihan dalam jaringan (daring) melalui Learning Management System (LMS), Lokakarya, dan Pendampingan Individu. Proporsi kegiatan terdiri atas 70% belajar di tempat kerja (on-the-job learning), dimana guru sebagai peserta PGP tetap bertugas mengajar dan menggerakkan komunitas di sekolah. 20% kegiatan dirancang dalam bentuk kegiatan belajar bersama rekan sejawat, dan 10% lainnya dilakukan dalam bentuk pembelajaran bersama narasumber/instruktur, fasilitator, dan pendamping.

(7)

2

Kegiatan pendampingan dilakukan oleh seorang pendamping secara individu kepada seorang Calon Guru Penggerak (CGP) melalui pendampingan di satuan pendidikan masing-masing, dan secara berkelompok dalam bentuk Lokakarya. Merujuk dari uraian di atas, dalam Laporan 3 Praktik Pembelajaran Inovatif ini, akan dibahas mengenai Pendampingan Individu (PI), Pendampingan Kelompok (Lokakarya) dan materi modul 3.3 tentang Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid.

B. Tujuan Kegiatan

Adapun tujuan kegiatan program PGP ialah CGP diharapkan mampu:

1. menerapkan hasil pembelajaran secara daring dan lokakarya pada satuan pendidikan masing-masing secara maksimal melalui Pendampingan Individu.

2. memiliki kemampuan menggerakkan komunitas belajar, mendorong dan terlibat aktif bersama anggota komunitas untuk bersikap reflektif, kolaboratif serta berbagi pengetahuan yang dimiliki, dan saling belajar dalam rangka mencapai tujuan bersama melalui Pendampingan Kelompok/Lokakarya.

3. merencanakan, mengorganisasikan dan mengarahkan program perbaikan dan perubahan sekolah, serta memantaunya agar berjalan sesuai rencana dan mengarah pada tujuan serta berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran.

C. Manfaat Kegiatan

Program PGP diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:

1. Peserta didik, yakni terbangunnya rasa nyaman dan bahagia ketika berada di lingkungan satuan pendidikan serta meningkatnya sikap positif peserta didik terhadap proses pembelajaran yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas pembelajaran.

2. CGP, yakni meningkatnya kompetensi pedagogik dalam menerapkan hasil pembelajaran secara daring dan Lokakarya; memiliki kemampuan menggerakkan komunitas belajar, mendorong dan terlibat aktif bersama

(8)

3

anggota komunitas dalam rangka mencapai tujuan bersama; serta merencanakan, mengorganisasikan dan mengarahkan program perbaikan dan perubahan sekolah, serta memantaunya agar berjalan sesuai rencana dan mengarah pada tujuan serta berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran.

3. Rekan guru, melalui Komunitas Praktisi sebagai tempat belajar dan berdiskusi berbagai permasalahan yang dihadapi juga untuk saling berkolaborasi untuk mencari solusi dalam membangun komunitas dan mengelola program yang berdampak pada murid.

4. Sekolah, yakni terwujudnya lingkungan fisik dan budaya pada satuan pendidikan yang nyaman dan menyenangkan bagi semua warga.

(9)

4 BAB II PEMBAHASAN A. Pendampingan Individu (PI)

Program PGP sejatinya mengembangkan pengalaman pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan guru sebagai bagian dari Kebijakan Merdeka Belajar melalui pendidikan guru. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari pengembangan pengalaman guru, diperlukan pembimbingan dalam bentuk pendampingan individu, selanjutnya disingkat PI kepada Guru Penggerak (GP).

PI adalah proses coaching dan mentoring dari pendamping kepada Calon Guru Penggerak (CGP). Proses PI berlangsung satu bulan sekali sepanjang pelaksanaan proses PGP. Dalam setiap bulannya, pendamping akan mengunjungi sekolah CGP selama kurang lebih 4 jam pelajaran untuk mengamati kegiatan pembelajaran dan perubahan yang terjadi di sekolah sebagai implementasi pembelajaran daring dan Lokakarya serta mengajak CGP merefleksikan prosesnya.

PI ke-0 dilakukan sebelum pelaksanaan Lokakarya 1. Kegiatan ini merupakan kegiatan pendampingan perdana, dimana pendamping dan CGP berdiskusi tentang tantangan belajar daring yang dihadapi saat pandemi covid- 19. Pendamping juga mengajak CGP melakukan refleksi penerapan perubahan di kelas sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara.

PI ke-1 dilakukan sebelum pelaksanaan Lokakarya 2. Pada kegiatan pendampingan ini, pendamping mengajak CGP melakukan refleksi dan berdiskusi tentang hasil umpan balik yang diberikan oleh murid, rekan sejawat, dan Kepala Sekolah (KS). Pendamping dan CGP juga berdiskusi tentang tantangan dan pembelajaran terkait penerapan aksi nyata pada modul 1.1.

Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara dan modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak.

PI ke-2 dilakukan sebelum pelaksanaan Lokakarya 3. Kegiatan pendampingan diawali dengan pelaksanaan dan pengumpulan survey feedback 3600 oleh murid, rekan sejawat dan KS terhadap kompetensi GP.

(10)

5

Kemudian, pendamping dan CGP berdiskusi tentang penerapan Komunitas Praktisi di sekolah serta refleksi penerapan disiplin positif di kelas CGP dan refleksi menjalankan tugas untuk dibawa ke Lokakarya 3.

PI ke-3 dilakukan sebelum pelaksanaan Lokakarya 4. Kegiatan pendampingan diawali dengan observasi praktik pembelajaran oleh pendamping yang dilakukan satu hari sebelumnya. Hal ini disebabkan karena kegiatan pembelajaran pada saat itu dilaksanakan secara online, sedangkan kegiatan PI dilaksanakan secara tatap mula di sekolah. Selanjutnya, pendamping dan CGP berdiskusi tentang pelaksanaan komitmen CGP dan kepala sekolah, juga diskusi komunikasi visi ke warga sekolah dan bagaimana tanggapan warga sekolah terhadap penyampaian visi tersebut. Pendamping juga memberikan pertanyaan terkait capaian, tantangan dan upaya pada implementasi modul 1.3 Visi Guru Penggerak dan modul 1.4 Budaya Positif.

PI ke-4 dilakukan sebelum pelaksanaan Lokakarya 5. Dalam kegiatan ini, pendamping dan CGP berdiskusi tentang aksi nyata setelah Lokakarya 4, modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi dan modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional, kemudian diakhiri dengan praktik modul 2.3 Coaching bersama rekan sejawat di sekolah.

PI ke-5 dilakukan sebelum pelaksanaan Lokakarya 6. Dalam kegiatan ini, pendamping dan CGP berdiskusi tentang hasil Lokakarya 5 dan modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, kemudian dilanjutkan dengan refleksi capaian kompetensi di bulan ke-5 serta mengapresiasi capaian GP.

PI ke-6 dilakukan sebelum pelaksanaan Lokakarya 7. Dalam kegiatan ini, pendamping mengajak CGP melakukan refleksi penerapan rencana program yang dibuat di Lokakarya 6. Pendamping dan CGP kemudian berdiskusi tentang tantangan yang dihadapi dan solusi yang dilakukan, serta berdiskusi tentang tugas aksi nyata modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran dan modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya.

(11)

6 B. Pendampingan Kelompok (Lokakarya)

Dalam lampiran Keputusan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nomor 3028/B/GT/2020 Tentang Pedoman Pendidikan Guru Penggerak, dijelaskan bahwa PGP merupakan kegiatan yang dikoordinasikan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan dengan melibatkan Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK), Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi, dan satuan pendidikan, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah maupun oleh masyarakat.

Merujuk dari uraian diatas, agar program PGP dapat berjalan dengan efektif, maka dipandang perlu untuk melakukan koordinasi yang terstruktur dan sistematis dari setiap elemen pendukungnya melalui kegiatan Lokakarya sebanyak 7 kali sepanjang pelaksanaan proses PGP. Kegiatan Lokakarya berlangsung satu bulan sekali selama kurang lebih 8 jam pelajaran.

Mengawali kegiatan PGP, penulis melaksanakan kegiatan Lokakarya 0 atau Lokakarya Perdana. Kegiatan ini merupakan proses belajar bersama kelompok pada program PGP yang dilakukan dengan melibatkan ekosistem sekolah. Pada kegiatan ini, diberikan paparan tentang program PGP; perkenalan dengan tim pendukung; pemetaan harapan dan kekhawatiran CGP; pembuatan rencana belajar GP dan dukungan yang bisa dilakukan oleh Kepala Sekolah (KS) serta diskusi kesepakatan peran antara CGP dan KS sebagai komitmen bersama proses transformasi sekolah.

Pada kegiatan Lokakarya 1 dilaksanakan dengan tema “Guru Penggerak Masa Depan”. Pada kegiatan ini, pendamping memberikan pemahaman mengenai pentingnya pengembangan diri; pengenalan kompetensi GP sebagai pemimpin pembelajaran (kekuatan dan kelemahan diri, dukungan dan hambatan internal maupun eksternal); evaluasi posisi diri serta pembuatan rencana pengembangan diri CGP.

Pada pelaksanaan kegiatan Lokakarya 2 tema kegiatan adalah

“Mengembangkan Komunitas Belajar”. Pada kegiatan ini, pendamping memfasilitasi CGP mengalami diskusi Komunitas Praktisi dalam kelompok;

(12)

7

meneropong aplikasi Komunitas Praktisi; mengenal peran GP dalam membuat Komunitas Praktisi serta menggerakkan Komunitas Praktisi di sekolah.

Pada pelaksanakan kegiatan Lokakarya 3 dengan tema “Visi dan Aksi Sekolah yang Berpihak pada Murid”. Pada kegiatan ini, pendamping ini pengajar praktik menuntun CGP mengambil pelajaran dan menggali mimpi;

merumuskan visi, misi dan program sekolah yang berpihak kepada murid; serta menyepakati aksi jangka pendek.

Pada pelaksanaan pelaksanakan kegiatan Lokakarya 4 dengan tema “Guru yang Berpihak pada Murid”. Pada kegiatan ini, pendamping mengarahkan CGP melakukan refleksi komitmen; melakukan pemetaan diri dalam pengajaran dan praktek coaching serta menyusun RPP “Berpihak pada Murid”.

Pada pelaksanaan kegiatan Lokakarya 5 dengan tema “Guru Pemimpin Pembelajaran”. Pada kegiatan ini, pendamping memberikan kesepatan kepada CGP untuk melakukan evaluasi kompetensi diri; refleksi kompetensi GP;

analisis faktor pendukung dan penghambat pengembangan kompetensi serta rencana pengembangan diri.

Pada pelaksanakan kegiatan Lokakarya 6 dengan tema “Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid” yang juga dibahas pada bagian akhir Laporan 3. Pada kegiatan ini, pendamping memfasilitasi CG untuk menggali potensi sekolah; membuat rencana program impian; merancang program yang berdampak pada murid serta melakukan perencanaan monitoring dan evaluasi.

Pada pelaksanakan kegiatan Lokakarya 7 dengan tema “Festival Panen Hasil Belajar” yang dilakukan selama 2 hari. Pada hari pertama, pendamping memberikan kesempatan kepada CGP untuk sharing tugas pada Lokakarya 6;

evaluasi program pelatihan CGP; berbagi dampak positif; penulisan ide program; kemudian menempelkan foto aksi nyata. Pada hari kedua, CGP melakukan penyambutan kepada peserta/undangan; keliling pameran hasil program serta kelas berbagi.

(13)

8

C. Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

Salah satu materi program PGP, yakni modul 3.3 yang juga dijadikan sebagai tema pada Lokakarya 6 seperti yang telah diuraikan diatas ialah

“Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid”. Menurut penulis, program sekolah yang berdampak pada murid ialah program yang dirancang dan dikelola oleh pihak sekolah dengan tujuan utama memberi dampak pada peningkatan kompetensi, baik pada aspek pengetahuan, keterampilan maupun sikap murid. Tema program kegiatan yang dibuat dapat berupa kepemimpinan, literasi, toleransi, maupun tema lain sesuai kebutuhan murid. Untuk mengefektifkan potensi sumber daya yang ada, maka perlu dilakukan pemetaan sumber daya/aset utama di sekolah, yakni aset manusia, sosial, fisik, lingkungan/alam, finansial, politik, serta agama dan budaya. Berbagai aset tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal untuk mendukung dan dijadikan sebagai program sekolah yang berdampak pada murid. Tahapan yang dapat dilakukan untuk membuat program sekolah yang berdampak pada murid ialah melalui tahapan BAGJA, yakni Buat pertanyaan utama, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana dan Atur eksekusi. Program sekolah perlu dikelola secara baik, agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai dan benar- benar berdampak bagi peningkatan kompetensi murid. Pengelolaan program sekolah dapat dilakukan melalui MELR (Monitoring, Evaluating, Learning, Reporting). Diringkas dari lms21-gp.simpkb.id, monitoring merupakan tahapan menghimpun informasi dan melakukan analisis internal dari program yang dilaksanakan, sedangkan evaluating (evaluasi) merupakan tahapan pemberian penilaian retrospektif secara pribadi/berkala pada program yang telah dilaksanakan. Learning (pembelajaran) merupakan tahapan membuat refleksi terhadap pembelajaran yang diperoleh dari pelaksanaan program, meliputi fact (fakta), feeling (perasaan), finding (temuan) dan future (masa depan), sedangkan reporting (laporan) merupakan alat untuk memberikan dan menginformasikan masukan untuk pengambilan keputusan. Hal penting yang juga perlu dilakukan dalam mengelola program yang berdampak pada murid ialah melakukan tahapan manajemen risiko. Apabila sekolah dapat menerapkan

(14)

9

manajemen risiko, maka setiap kerugian yang mungkin muncul dan terjadi pada program yang dijalankan akan dapat diminimalisir. Aksi nyata yang penulis lakukan pada modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid ialah “BMLD (Berkarya Melalui Literasi Digital”. Adapun tindakan aksi nyata yang penulis lakukan ialah melakukan kegiatan dalam peningkatan Gerakan Literasi di sekolah khususnya Literasi Digital siswa Kelas IV s.d. VI.

Kegiatan ini merupakan hasil pengembangan Gerakan literasi di sekolah SD Eka Tjipta Terawan yang mana mengajak siswa mempublikasikan hasil karya belajar mereka, misalnya puisi, cerpen, dan lainnya untuk di publikasikan di media internet, seperti blog dan portofolio digital, serta media social pribadi mereka. Kegiatan ini memerlukan Kerjasama dengan Kepala sekolah dan guru TIK di sekolah.

(15)

10 BAB III PENUTUP A. Refleksi

Setelah mengikuti kegiatan pendampingan serta mempelajari materi dan melaksanakan aksi nyata modul 3.3 tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid, pada kesempatan ini penulis akan berbagi refleksi terkait hal berikut:

1. Pendampingan

Kegiatan pendampingan, baik Pendampingan Individu (PI) maupun Pendampingan Kelompok (Lokakarya) sangat memberi dampak positif bagi penulis dalam menjalani peran sebagai CGP selama kurang lebih 9 bulan pelaksanaan PGP. Pendamping selalu memberikan motivasi serta membantu penulis dalam mengimplementasikan materi yang telah didapatkan saat pembelajaran daring maupun Lokakarya melalui kegiatan coaching, berbagi praktik baik, umpan balik serta refleksi.

2. Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid Berkarya Melalui Literasi Digital (BMLD)

Perasaaan yang penulis rasakan saat merencanakan program ini adalah merasa optimis program ini dapat berjalan dengan lancar dan baik. Saat melaksanakan program, penulis merasa senang karena rencana pelaksanaan program memang berjalan lancar dan baik, sesuai linimasa yang telah dibuat.

Program “BMLD” yang penulis lakukan sebagai aksi nyata dalam modul 3.3.

ini dapat berjalan baik dan memberikan dampak pada peningkatkan kompetensi murid mata pelajaran fisika, baik pada aspek pengetahuan, keterampilan maupun sikap, karena keputusan untuk menjalankan program ini telah penulis pikirkan terlebih dahulu bersama komunitas sekolah. Murid sebagai salah satu aset/modal manusia penting di sekolah telah dikenali kekuatannya, melalui identifikasi/pemetaan aset yang dilakukan penulis

(16)

11

sebelumnya. Tahapan BAGJA yang dilakukan, juga sangat membantu penulis dalam membuat rancangan program ini menjadi sistematis dan lebih terarah.

Kesepakatan kelas yang dibuat pada awal kegiatan “BMLD” juga memberikan dampak baik bagi jalannya kegiatan. Tahapan MELR (Monitoring, Evaluating, Learning and Reporting) membuat pelaksananaan program ini menjadi terkontrol. Keterlibatan penuh komunitas sekolah juga sangat mendukung bagi tercapai tujuan program ini.

Selain keberhasilan yang diperoleh dari pelaksanaan aksi nyata ini, ada pula hambatan yang ditemui penulis, yakni akses jaringan internet dan kemampuan siswa dalam memanfaatan media social dan kemampuan dalam mengetik dan mengoperasikan leptop.

Menjaga kemungkinan hal itu terjadi penulis melakukan Kerjasama dengan sekolah untuk peningkatan dan penguatan sinyal, kemudian melakukan Kerjasama dengan guru TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) untuk menyukseskan kegiatan tersebut.

B. Tindak Lanjut

Beberapa rencana tindak lanjut yang akan penulis lakukan ke depan ialah:

1. Melakukan refleksi dan evaluasi secara rutin terhadap kompetensi diri dan kegiatan yang belum berkembang/berjalan dengan baik, kemudian dikaji faktor penghambat serta mencari upaya perbaikannya.

2. Mengambil pelajaran dari setiap praktik baik/aksi nyata dari modul 3.3 tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid serta dari proses PI maupun Lokakarya yang dijalankan, sebagai kekuatan positif untuk pengembangan diri menjadi lebih baik.

3. Aktif berkolaborasi bersama rekan sejawat untuk mendiskusikan berbagai permasalahan yang ada kemudian dicari solusinya. serta membuat berbagai perubahan positif di lingkungan kelas/sekolah,

4. Terus meningkatkan kapasitas diri menjadi pendidik yang dapat melakukan pengelolaan program yang berpihak pada murid dengan mengikuti berbagai seminar maupun diklat baik luring maupun daring.

(17)

12

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. 2023. Panduan Lokakrya Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Tahun 2023.

Jakarta: Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. 8 hal.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. 26 September 2022.

Keputusan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nomor 1302/B/GT/2022 Tentang Pedoman Pendidikan Guru Penggerak.

Lms21-gp.simpkb.id. 2023. MELR: Monitoring, Evaluating, Learning, Reporting (Monitoring, Evaluasi, Pembelajaran, Laporan).

Diakses pada 14 November 2023, dari https://lms25 gp.simpkb.id/course/view.php?id=284

(18)

13 LAMPIRAN

A. Dokumentasi Kegiatan “Pendampingan Individu (PI)”.

1. Pendampingan Individu 1

Foto A1.. Pendamping dan CGP berdiskusi tentang tantangan belajar daring yang dihadapi saat pandemi covid-19 kemudian pendamping mengajak CGP melakukan refleksi penerapan perubahan di kelas sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara.

2. Pendampingan Individu 2

Foto A.2. Kegiatan pendampingan diawali dengan pelaksanaan dan pengumpulan survey feedback 3600 oleh murid, rekan sejawat dan KS terhadap kompetensi GP.

Kemudian, pendamping dan CGP berdiskusi tentang penerapan Komunitas Praktisi di sekolah serta refleksi penerapan disiplin positif di kelas CGP dan refleksi menjalankan tugas untuk dibawa ke Lokakarya 3

3. Pendampingan Individu 3

Foto. A.3. Pendamping dan CGP berdiskusi tentang pelaksanaan komitmen CGP dan kepala sekolah, juga diskusi komunikasi visi ke warga sekolah

(19)

14

dan bagaimana tanggapan warga sekolah terhadap penyampaian visi tersebut. Pendamping juga memberikan pertanyaan terkait capaian, tantangan dan upaya pada implementasi modul 1.3 Visi Guru Penggerak dan modul 1.4 Budaya Positif.

4. Pendampingan Individu 4

Dok.A.4. Pendamping dan CGP berdiskusi tentang aksi nyata setelah Lokakarya 4, modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi dan modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional, kemudian diakhiri dengan praktik modul 2.3 Coaching bersama rekan sejawat di sekolah.

5. Pendampingan Individu 5

Dok.A.5. Pendamping dan CGP berdiskusi tentang hasil Lokakarya 5 dan modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, kemudian dilanjutkan dengan refleksi capaian kompetensi di bulan ke-5 serta mengapresiasi capaian GP

(20)

15 6. Pendampingan Individu 6

Dok. A.6.Pendamping mengajak CGP melakukan refleksi penerapan rencana program yang dibuat di Lokakarya 6. Pendamping dan CGP kemudian berdiskusi tentang tantangan yang dihadapi dan solusi yang dilakukan, serta berdiskusi tentang tugas aksi nyata modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran dan modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya.

B. Dokumentasi Kegiatan “Pendampingan Kelompok (Lokakarya)”.

1. Lokakarya 0

Foto.B.1.Kegiatan ini merupakan proses belajar bersama kelompok pada program PGP yang dilakukan dengan melibatkan ekosistem sekolah.

Pada kegiatan ini, diberikan paparan tentang program PGP;

perkenalan dengan tim pendukung; pemetaan harapan dan kekhawatiran CGP; pembuatan rencana belajar GP dan dukungan yang bisa dilakukan oleh Kepala Sekolah (KS) serta diskusi kesepakatan peran antara CGP dan KS sebagai komitmen bersama proses transformasi sekolah.

(21)

16 2. Lokakarya 1

Foto B.2. Lokakarya 1 dilaksanakan dengan tema “Guru Penggerak Masa Depan”. Pada kegiatan ini, pendamping memberikan pemahaman mengenai pentingnya pengembangan diri; pengenalan kompetensi GP sebagai pemimpin pembelajaran (kekuatan dan kelemahan diri, dukungan dan hambatan internal maupun eksternal); evaluasi posisi diri serta pembuatan rencana pengembangan diri CGP.

3. Lokakarya 2

Foto B3. Lokakarya 2 tema kegiatan adalah “Mengembangkan Komunitas Belajar”. Pada kegiatan ini, pendamping memfasilitasi CGP mengalami diskusi Komunitas Praktisi dalam kelompok; meneropong aplikasi

(22)

17

Komunitas Praktisi; mengenal peran GP dalam membuat Komunitas Praktisi serta menggerakkan Komunitas Praktisi di sekolah.

4. Lokakarya 3

Lokakarya 3 dengan tema “Visi dan Aksi Sekolah yang Berpihak pada Murid”. Pada kegiatan ini, pendamping ini pengajar praktik menuntun CGP mengambil pelajaran dan menggali mimpi;

merumuskan visi, misi dan program sekolah yang berpihak kepada murid; serta menyepakati aksi jangka pendek.

(23)

18 5. Lokakarya 4

Dokumentasi dapat dilihat di Link berikut ini.

https://www.instagram.com/p/Cq1QVveBjry/?utm_source=ig_web_copy_link&

igshid=ODhhZWM5NmIwOQ==

Foto B.5. Lokakarya 4 dengan tema “Guru yang Berpihak pada Murid”. Pada kegiatan ini, pendamping mengarahkan CGP melakukan refleksi komitmen;

melakukan pemetaan diri dalam pengajaran dan praktek coaching serta menyusun RPP “Berpihak pada Murid”.

6. Lokakarya 5

Dokumentasi dapat dilihat di Link berikut ini.

https://www.instagram.com/p/CtDVJXcxhvz/?utm_source=ig_web_copy_link&i gshid=ODhhZWM5NmIwOQ==

Foto B.6. Lokakarya 5 dengan tema “Guru Pemimpin Pembelajaran”. Pada kegiatan ini, pendamping memberikan kesepatan kepada CGP untuk melakukan

(24)

19

evaluasi kompetensi diri; refleksi kompetensi GP; analisis faktor pendukung dan penghambat pengembangan kompetensi serta rencana pengembangan diri.

7. Lokakarya 6

Dokumentasi dapat dilihat di Link berikut ini.

https://www.instagram.com/reel/CuHVuLDNQeN/?utm_source=ig_web_copy_

link&igshid=ODhhZWM5NmIwOQ==

Foto B.7. Lokakarya 6 dengan tema “Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid” yang juga dibahas pada bagian akhir Laporan 3. Pada kegiatan ini, pendamping memfasilitasi CG untuk menggali potensi sekolah; membuat rencana program impian; merancang program yang berdampak pada murid serta melakukan perencanaan monitoring dan evaluasi.

8. Lokakarya 7

Dokumentasi dapat dilihat di Link berikut ini.

https://youtu.be/pc5L0oSZXIc?si=VGx_wy2vq945ZWSd

(25)

20

Foto B.8. Lokakarya 7 dengan tema “Festival Panen Hasil Belajar” yang dilakukan selama 2 hari. Pada hari pertama, pendamping memberikan kesempatan kepada CGP untuk sharing tugas pada Lokakarya 6; evaluasi program pelatihan CGP;

berbagi dampak positif; penulisan ide program; kemudian menempelkan foto aksi nyata. Pada hari kedua, CGP melakukan penyambutan kepada peserta/undangan;

keliling pameran hasil program serta kelas berbagi.

C. Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid Berkarya Melalui Literasi Digital (BMLD) berikut link Aksi Nyata beserta tabel BAGJA.

(26)

21 https://drive.google.com/file/d/1-

OO358SQrtboP9kjUazUFuJ9UortknkP/view?usp=sharing

Kunjungi artefak portofolio di laman berikut ini;

https://sites.google.com/guru.sd.belajar.id/eka-rahmady-hardianto-s- pd/beranda

Sertifikat GP

(27)

22

Gambar

Foto  A.2.  Kegiatan  pendampingan  diawali  dengan  pelaksanaan  dan  pengumpulan  survey feedback 3600 oleh murid, rekan sejawat dan KS terhadap kompetensi GP
Foto  A1..  Pendamping  dan  CGP  berdiskusi  tentang  tantangan  belajar  daring  yang  dihadapi  saat  pandemi  covid-19  kemudian  pendamping  mengajak  CGP  melakukan  refleksi  penerapan  perubahan  di  kelas  sesuai  pemikiran  Ki  Hajar  Dewantara
Foto  B.2.  Lokakarya  1  dilaksanakan  dengan    tema  “Guru  Penggerak  Masa  Depan”
Foto B3. Lokakarya 2 tema kegiatan adalah “Mengembangkan Komunitas  Belajar”.  Pada  kegiatan  ini,  pendamping  memfasilitasi  CGP  mengalami  diskusi  Komunitas  Praktisi  dalam  kelompok;  meneropong  aplikasi
+5

Referensi

Dokumen terkait

4) Tempat parkir yang ada meliputi tempat parkir guru dan tempat parkir siswa. Keadaan fisik tempat parkir siswa sudah cukup baik namun masih kurang luas untuk

Solusi yang dilakukan adalah secara umum siswa kelas XI Tek- nik Pemesinan (TP) masih dapat dikendalikan, dan dibimbing dengan baik. Untuk mengatasi kegaduhan di

Negara Jerman. 4) Peserta didik memperhatikan penjelasan tentang hubungan Indonesia Jerman. 2) Peserta didik berdiskusi dengan kelompok yang sudah dibentuk diawal

mencari dan mengolah informasi untuk menyelesaikan masalah saat mengerjakan gambar dari yang sederhana sampai pada yang lebih kompleks terkait menggambar detail konstruksi

• Berdiskusi dalam kelompok untuk mengolah hasil yang diperoleh dari hasil pengumpulan data untuk menenmukan: - penyusunan gaya dengan cara.. - penyusunan gaya gaya

Ketika seseorang ingin meneliti atau mencari jawaban, terlebih dahulu ia akan menemukan masalah. Masalah adalah suatu kondisi atau keadaan yang dihadapi, yang disebabkdn

Peserta didik didampingi guru secara kelompok untuk mencari informasi untuk menjawab pertanyaan yang sudah disusun, dan mengerjakan Aktivitas 3.1 di halaman 55 dengan

Aktif dalam hal rmenjaga rutinitas operasional siaran, menggali potensi dan masalah yang dihadapi warga komu- nitas dan mencari solusi permasalahan yang diha- dapi warga komunitas;