• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM ALGOLOGI

N/A
N/A
001- Akmalia Azifah

Academic year: 2024

Membagikan "LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM ALGOLOGI"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM ALGOLOGI

Disusun oleh:

1

Safiqoh Nurhamid L1C021005

Annis Chairummah L1C021015

Bathriq Shalsa Ababil A. L1C021025 Alifia Nurul Futihat L1C021027 Muhammad Akbar Sunandi L1C021039 R. Elang Teja Laksana L1C021065 Indira Hauriina Aulia L1C021081

Seno Aji Laksono L1C021083

Nabiel Labib Muhammad L1C021087

Leni Purnami L1C021089

Zahra Tufaila Pambudi L1C021095

Asisten:

Akmalia Azifah L1C020001

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN 20223

Kelompok

(2)

DAFTAR ISI

halaman

DAFTAR ISI ... 2

DAFTAR TABEL ... 4

DAFTAR GAMBAR ... 5

BAB I PENDAHULUAN ... 6

1.1. Latar Belakang... 6

1.1.1. Mikroalga ... 6

1.1.2. Makroalga ... 7

1.2. Rumusan Masalah ... 9

1.3. Tujuan ... 10

1.4. Manfaat ... 10

BAB II ... 11

TINJAUAN PUSTAKA... 11

2.1. Mikroalga ... 11

2.1.1 Klasifikasi ... 11

2.1.2 Morfologi ... 12

2.1.3. Metode sampling ... 15

2.2 Makroalga ... 17

2.2.1. Klasifikasi ... 18

2.2.2. Morfologi ... 20

2.2.3 Metode Sampling ... 21

2.2.4. Metode Pengawetan Sampel ... 22

BAB III MATERI DAN METODE ... 25

3.1. Materi ... 25

3.1.1. Alat yang digunakan dalam Praktikum Mikroalga ... 25

3.1.2. Alat yang digunakan dalam Praktikum Makroalga ... 25

3.1.3. Bahan yang digunakan dalam Praktikum Mikroalga ... 26

3.1.4. Bahan yang digunakan dalam Praktikum Makroalga ... 26

3.2. Metode ... 26

3.2.1. Prosedur Praktikum Mikroalga ... 27

3.2.2. Diagram Alir Praktikum Mikroalga ... 28

3.2.1. Prosedur Praktikum Makroalga ... 28

(3)

3.2.3 Diagram Alir Praktikum Makroalga ... 29

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 30

4.1 Mikroalga ... 30

4.1.1. Teknik Sampling Mikroalga ... 30

4.1.2. Pengawetan Sampel Mikroalga ... 31

4.1.3. Taksonomi Mikroalga ... 32

4.1.4. Kelimpahan Mikroalga ... 36

4.2. Makroalga ... 38

4.2.1. Teknik Sampling Makroalga ... 38

4.2.2. Pengawetan Sampel Makroalga ... 39

4.2.3. Taksonomi Makroalga ... 41

4.2.4 Kelimpahan Makroalga ... 42

DAFTAR PUSTAKA ... 44

LAMPIRAN ... 47

(4)

DAFTAR TABEL

Tabel halaman

Tabel 1. Alat yang digunakan praktikum ... 25

Tabel 2. Alat yang digunakan praktikum ... 25

Tabel 3. Bahan yang digunakan praktikum ... 26

Tabel 4. Bahan yang digunakan praktikum ... 26

Tabel 5. Taksonomi mikroalga ... 32

Tabel 6. Taksonomi makroalga ... 41

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar halaman

Gambar 1. Morfologi spesies mikroalga ... 13

Gambar 2. Diagram alir penelitian mikroalga ... 28

Gambar 3. Diagram Alir Penelitian ... 29

Gambar 4. Grafik Kelimpahan Mikroalga 12 stasiun ... 36

Gambar 5. Grafik kelimpahan relatif mikroalga 12 stasiun ... 37

Gambar 6. Grafik kelimpahan makroalga ... 42

(6)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1.1.1. Mikroalga

Pantai Karapyak merupakan pantai yang berlokasi di Desa Bagolo Kecamatan Kalipucang, Pangandaran. Selain sebagai tempat rekreasi, pantai Karapyak juga sering dijadikan sebagai sarana untuk menambah dan mengasah ilmu pengetahuan, serta menumbuhkan rasa cinta lingkungan pada masyarakat luas. Pantai Karapyak merupakan salah satu pantai yang memiliki keanekaragaman jenis flora dan fauna yang beraneka ragam. Sebagai contoh, di pantai Karapyak banyak ditemukan alga- alga dari spesies Padina sp., Ulva lactuca, Gelidium sp., Eucheuma cottonii, Turbinaria sp., dan Sargassum sp. Akan tetapi selain tumbuh-tumbuhan, terdapat berbagai macam jenis biota seperti Echinodermata, Porifera, Arthropoda, Mollusca, dan Crustacea. Tingginya keanekaragaman hayati ini menunjukan besarnya potensi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai ekonomi masyarakat setempat, dengan cara mengolahnya menjadi berbagai produk seperti kosmetik, makanan, obat dan produk-produk lainnya (Jakirman dan Miharja, 2020).

Mikroalga merupakan organisme uniseluler mikroskopis dengan ukuran, bentuk dan jenis yang bervariasi. Perbedaan ukuran, bentuk dan jenis ini menunjukan tingginya variansi mikroalga yang terdapat di muka bumi, diperkirakan terdapat 200.000-800.000 spesies mikroalga, dan hanya sekitar 35.000 spesies yang telah berhasil teridentifikasi oleh manusia. Mikroalga sendiri dapat ditemukan di

(7)

wilayah perairan baik itu air tawar 1.1.2. Makroalga

Makroalga atau biasa yang disebut rumput laut merupakan ganggang berukuran besar yang merupakan tanaman tingkat rendah dan termasuk ke dalam divisi thallophyta. Makroalga memiliki struktur tubuh terdiri dari 3 bagian utama, pertama dikenal dengan sebutan blade, yaitu struktur yang menyerupai daun pipih yang biasanya lebar; kedua stipe, yaitu struktur yang menyerupai batang yang lentur dan berfungsi sebagai penahan goncangan ombak; dan ketiga holdfast, yaitu bagian yang menyerupai akar dan berfungsi untuk melekatkan tubuhnya pada substrat. Pada umumnya sebaran makroalga terdapat pada zona intertidal yaitu di daerah pasang surut sampai kedalaman dimana 0,01% cahaya fotosintesis tersedia. Tersebarnya makroalga yang terdapat dalam perairan intertidal dan subtidal tersebut dapat memperoleh cahaya matahari yang cukup untuk melakukan fotosintesis (Septiady, 2023).

Sebagian besar makroalga hidup di perairan laut karena mereka membutuhkan substrat untuk menempel atau hidup. Makroalga terbagi menjadi tiga kategori:

Chlorophyta (alga hijau), Rhodophyta (alga merah), dan Phaeophyta (alga coklat). Metode identifikasi yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi jenis makroalga yang ditemukan dalam perairan. Meskipun makroalga sangat rentan terhadap perubahan atau tekanan ekologis yang dapat mempengaruhi keberadaannya, kondisi lingkungan seperti substrat, gerakan air, suhu, salinitas, cahaya, pH, nutrien, dan kualitas air harus dijaga dan dipelihara supaya tidak mengalami degradasi dan bahkan kepunahan jenis (Sodiq &

Arisandi, 2020).

(8)

Secara ekonomi, makroalga digunakan sebagai bahan makanan, kosmetik, dan obat- obatan. Secara ekologi, mereka berfungsi sebagai produsen utama bahan makanan ikan, tempat perlindungan, tempat pengasuhan, penyerap karbon, dan bioindikator pencemaran. Makroalga hidup dengan melekat pada berbagai jenis substrat. Ini termasuk substrat berbatu, terumbu karang, pasir, dan lumpur (Silaban & Kadmaer, 2020).

Makroalga adalah sumber daya hayati yang memiliki potensi untuk berkembang biak dan tersebar di daerah intertidal di pesisir. Selain memainkan peran penting dalam biologi, ekologi, dan ekonomi, makroalga memiliki kemampuan untuk menjaga keanekaragaman hayati sumber daya laut dan secara langsung memengaruhi keseimbangan ekosistem laut.

Makroalga merupakan salah satu sumber daya laut yang dapat diperbaharui dan berperan langsung dalam industri perikanan di Indonesia (Handayani, 2019). maupun air laut.

Tidak seperti tanaman tingkat tinggi lainnya, mikroalga tidak memiliki akar, batang, maupun daun. Mikroalga merupakan mikroorganisme fotosintetik yang memiliki kemampuan untuk menggunakan sinar matahari dan karbondioksida untuk menghasilkan biomassa. Sejalan dengan hal tersebut, mikroalga diyakini menjadi salah satu penyumbang oksigen terbesar (sekitar 50%) yang terdapat di atmosfer (Kokomaking, 2023).

Mikroorganisme ini merupakan salah satu organisme yang sangat rentan terhadap perubahan kualitas dan dinamika perairan. Adanya pengaruh antara faktor fisika dan kimia yang terjadi di perairan menjadikan dominansi mikroalga tidak sama antara satu perairan dengan perairan lain. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Paiki dan Kalor (2017) mikroalga menunjukan untuk tinggal di

(9)

lingkungan yang memiliki kadar nitrat dan fosfat yang cukup tinggi. Hasil yang diperoleh ini menjelaskan bahwa semakin tinggi kadar nitrat dan fosfat di suatu perairan maka semakin tinggi pula kelimpahan mikroalganya. Sementara itu, Zakiyah dan Mulyanto (2020) menyatakan bahwa kelimpahan jenis mikroalga tertentu akan meningkat seiring dengan peningkatan pencemar organik di perairan.

Keberadaan dan keragaman mikroalga di suatu perairan dapat memberikan gambaran terhadap kualitas perairan tersebut. Hal ini terjadi karena mikroalga memiliki batas toleransi tertentu terhadap faktor-faktor fisika kimia perairan. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Sulastri (2018) yang menyatakan bahwa adanya mikroalga di suatu perairan dapat dijadikan sebagai indikator kondisi perairan tersebut. Tingginya variasi mikroalga juga dapat dijadikan sebagai indikator kesuburan suatu perairan. Semakin banyak suatu mikroalga diperairan maka semakin subur perairan tersebut (Setyowardani, 2021).

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana cara pengambilan sampel mikroalga dan makroalga?

2. Bagaimana cara mengawetkan sampel mikroalga?

3. Bagaimana cara mengidentifikasi mikroalga dan makroalga?

4. Bagaimana kelimpahan mikroalga dan makroalga di Pantai Karapyak Pangandaran?

(10)

1.3. Tujuan

1. Mahasiswa dapat mengetahui teknik sampling mikroalga dan makroalga.

2. Mahasiswa dapat mengetahui pengawetan sampel mikroalga dan makroalga.

3. Mahasiswa dapat mengetahui cara identifikasi mikroalga dan makroalga.

4. Mahasiswa dapat mengetahui kelimpahan mikroalga dan makroalga yang ada di Panti Karapyak, Pangandaran.

1.4. Manfaat

Berdasarkan tujuan diadakannya praktikum ini, terdapat beberapa manfaat yang dapat diambil diantaranya yaitu:

1. Data yang diperoleh pada praktikum dapat mendukung ketersediaan data dari informasi mengenai mikroalga dan makroalga yang dapat digunakan sebagai rujukan dara bagi pihak lainnya

2. Memberikan informasi tentang ketersediaan dan keragaman spesies yang dapat digunakan sebagai data pendukung oleh pengelola Pantai untuk mempertahankan kelestarian spesies alga di sekitar Pantai Karapyak, Pangandaran, Jawa Barat.

3. Laporan praktikum ini dapat menjadi referensi untuk penelitian mendatang.

(11)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Mikroalga

Mikroalga merupakan organisme bentik yang bersel tunggal (uniseluler) yang hidup di seluruh wilayah perairan tawar maupun perairan laut. Mikroalga termasuk kelompok tumbuhan berukuran renik yang termasuk dalam kelas alga dengan ukuran diameter 3-30 µm. Mikroalga juga dapat disebut sebagai fitoplankton yang berperan sebagai salah satu indikator kualitas perairan.

Mikroalga juga merupakan organisme fotoautotrof yang dapat membuat makanan sendiri dengan bantuan cahaya matahari melalui proses fotosintesis. Tumbuhan ini paling efisien dalam menangkap juga memanfaatkan energi matahari dan C02 untuk keperluan fotosintesis. Organisme ini dapat hidup secara soliter maupun koloni dan dapat berfotosintesis seperti layaknya tumbuhan tingkat tinggi lainnya (Sepriyaningsih dan Harmoko, 2019).

2.1.1 Klasifikasi

Berdasarkan pigmen yang dimiliki mikroalga di kelompokan menjadi 5 fillum, yaitu:

1. Chlorophyta (Alga hijau)

Chlorophyta memiliki tiga kelas yang berbeda yaitu Chlorophyceae, Trebouxiophyceae, dan Prasinophyceae (Purbani et al., 2021). Terdapat 14 ordo dari divisi Chlorophyta (Azwandari, 2018).

(12)

. 2. Chrysophyta (Alga keemasan)

Alga ini digolongkan dalam 3 kelas yaitu alga hijau kuning (xanthophyceae), alga kuning keemasan (chrysophyceae) dan diatom (bacillaryophyceae) (Kumaji et al., 2019).

2. Pyrrhophyta (Alga api)

Berdasarkan letak flagella dan letak alurnya, Pyrhophyta terbagi menjadi dua kelas, yaitu Dinophyceae dan Desmophyceae. Secara umum ada tiga ordo dari Dinophyceae yang biasanya diidentifikasikan yaitu: Gymnodiniales, Peridiniales, dan Dinophysiales (Sahoo dan Baweja, 2015).

3. Euglenophyta

Divisi ini terdiri atas 1 kelas yaitu Euglenaceace. Kelas Euglenaceace terdiri atas ordo yaitu Eutroptiales, Euglenales, dan Heteronematales (Azwandari, 2018).

4. Cyanophyta (Alga biru-hijau)

Divisi Cyanophyta dibagi menjadi 2 kelas, yaitu Chroococcopytceae dan Hormogoniophyceae. Kelas Chroococcopytceae terbagi menjadi 3 ordo yaitu Chroococcales, Chamaesiphonales, dan Pleurocapsales. Sedangkan kelas Hormogoniophyceae terdiri dari 1 ordo yaitu Stigonematales (Azwandari, 2018).

2.1.2 Morfologi

Morfologi mikroalga ditentukan menurut spesiesnya. Mereka dapat berupa dinoflagellata, uniflagellata, biflagellata, atau non-motil. Ada yang berbentuk filamen atau makrofita dengan banyak inti dan ada yang berbentuk coccoid.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan secara signifikan pada morfologi

(13)

mikroalga yaitu, bentuk sel, flagella, ukuran, dan strukturnya. Perubahan morfologi ini biasanya terjadi sebagai bentuk adaptasi mikroalga terhadap perubahan kondisi lingkungan, seperti perubahan suhu, peningkatan atau penurunan nutrisi, dan ancaman dari faktor-faktor eksternal seperti predator atau kompetisi dengan organisme lain. Karakteristik seperti pigmen, komposisi dinding sel, dan struktur flagel menentukan klasifikasi mikroalga. Mereka termasuk dalam berbagai filum, seperti Chlorophyta, Chrysophyta, Pyrrophyta, Euglenophyta dan Cyanophyta.

Gambar 1. Morfologi spesies mikroalga (Hernandi et al., 2019).

Karakteristik 5 filum mikroalga berdasarkan pigmen yang dimilikinya adalah sebagai berikut:

1. Chlorophyta (Alga hijau)

(14)

Mikroalga Divisi Chlorophyta termasuk alga hijau yang banyak ditemukan di perairan, baik air tawar, air laut bahkan tanah yang lembab, unisesuler, dapat bergerak bebas karena memiliki flagel, dan alga hijau ini berkembang biak dengan cara membelah diri (Harmoko et al., 2018).

2. Chrysophyta (Alga keemasan)

Bersel tunggal dengan ciri khas dinding yang mengandung silikat dan sel terdiri dari 2 bagian (cawan) zat warna berupa klorofil a dan c, b karoten, fucoxantin, diatoxanthin, diadinoxanthin. Talus disebut frustula yang terdiri dari valve (atas) dan girdle (bawah) (Azwandari, 2018).

3. Pyrrhophyta (Alga api)

Tubuhnya bersel tunggal, memiliki 2 flagel heterocontac (tidak sama panjang) keluar dari sisi perut dalam suatu saluran. Kloropas berbentuk cakram, pigmen fotosintesis berupa klorofil a dan c, b karoten, xantophylls, peridinin, dinoxanin. Tubuh terbagi menjadi 2 bagian yaitu epicone dan hipocone (Azwandari, 2018).

4. Euglenophyta

Divisi Euglenophyta adalah mikroalga unisesuler, bergerak aktif, reproduksinya dengan pembelahan biner, memiliki sista dorman dan mmiliki bintik mata yang jelas (Harmoko et al., 2018). Karakteristiknya memiliki flagel dibagian anterior, bentuk sel bulat memanjang, pigmen fotosintesis berupa klorofil a dan c, b karoten, neoxanthin, asthaxanthin, antheraxtaxantin (Azwandari, 2018).

(15)

5. Cyanophyta (Alga biru-hijau)

Cyanophyta merupakan mikroalga bersel tunggal atau berbentuk benang dengan struktur tubuh yang masih sederhana dan bersifat autotrof. Dinding selnya mengandung pektin, hemiselulosa, dan selulosa yang kadang-kadang berupa lendir. Mikroalga ini memiliki karakter morfologi yang sangat beragam meliputi berbagai macam bentuk talus, yaitu uniseluler, koloni, filamen yang tidak bercabang, atau filamen yang bercabang. Cyanophyta berukuran mulai dari 0,6- 30 mikrometer. Filamen Cyanophyta memiliki kisaran diameter tubuh mulai dari 0,4-45 mikrometer bahkan ada yang melebihi 100 mikrometer. Talus Cyanophyta diselubungi gelatin (sheat) yang memiliki ukuran bervariasi (Sari, 2011).

2.1.3. Metode sampling

Ada dua metode utama yang digunakan dalam sampling mikroalga yaitu metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif bertujuan untuk mengidentifikasi jenis- jenis mikroalga, sementara metode kuantitatif digunakan untuk menentukan kelimpahan mikroalga dalam kaitannya dengan distribusi waktu dan lokasi.

Alat-alat yang biasanya digunakan untuk sampling mikroalga mencakup:

1. Plankton Net

Plankton net adalah jaring dengan ukuran mesh yang disesuaikan dengan ukuran mikroalga. Jaring ini memiliki bentuk kerucut dengan mulut berbentuk lingkaran dan dilengkapi dengan botol vial.

(16)

2.Botol Vial

Sampel air laut diambil pada kedalaman tertentu menggunakan botol berukuran 100 mL. Sampling ini umumnya dilakukan di perairan pantai di mana kelimpahan mikroalga tinggi.

3. Van Dorn/Nansen Bottle Sampler

Tabung Van Dorn atau Nansen Bottle Sampler adalah alat terbuka yang diturunkan ke dalam air pada kedalaman yang ditentukan. Alat ini ditutup dengan melepaskan ring atau besi pemberat sehingga bagian atas dan bawahnya tertutup.

5. Pompa Hisap

Sampel air diambil dengan memompa air laut dari kedalaman tertentu. Ujung pompa hisap diturunkan hingga mencapai kedalaman yang diinginkan. Air sampel kemudian ditampung dan disaring.

Keuntungan dari penggunaan pompa hisap adalah volume dan kedalaman pengambilan sampel dapat diatur, tetapi kelemahannya adalah volume air yang dapat diambil dibatasi oleh diameter pipa penghisap.

Pengambilan sampel mikroalga dapat dilakukan baik secara horizontal maupun vertikal. Pengambilan horizontal digunakan untuk memahami sebaran mikroalga secara horizontal, sementara pengambilan vertikal melibatkan menurunkan plankton net ke dasar perairan dan menariknya ke atas. Volume air yang tersaring di plankton net pada pengambilan vertikal dihitung dengan mengalikan kedalaman air dengan diameter mulut plankton

(17)

net. Adapun plankton yang telah disaring melalui plankton net dimasukkan ke dalam botol vial. Selanjutnya, sampel plankton diawetkan dengan formalin 4%

dan ditempatkan dalam sebuah cool box untuk penyimpanan.

2.2 Makroalga

Makroalga merupakan tanaman tingkat rendah yang umumnya tumbuh melekat pada substrat tertentu seperti pada karang, lumpur, pasir, batu dan benda keras lainnya.

Selain benda mati, makroalga juga dapat melekat pada tumbuhan lain secara epifitik.

Pertumbuhan makroalga yang tergantung pada substrat mendapat pengaruh langsung dari sedimentasi. Umumnya alga dijumpai tumbuh di daerah perairan yang dangkal (intertidal dan sublittoral). Makroalga merupakan biota penting sebagai salah satu komponen utama penyusun ekosistem pesisir juga ikut berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Selain itu makroalga merupakan salah satu sumberdaya alam hayati laut yang bernilai ekonomis dan memiliki peranan ekologis sebagai produsen yang tinggi dalam rantai makanan dan tempat pemijahan biota-biota laut (Litaay, 2014).

Makroalga merupakan makroalga bentik yang hidup melekat pada substrat atau dasar perairan. Makroalga tergolong dalam divisi thallophyta dan memiliki ciri morfologi tidak bisa dibedakan antara akar, batang, dan daun, seluruh bagian tubuh rumput laut disebut thallus sehingga rumput laut tergolong dalam tumbuhan tingkat rendah . Thallus rumput laut memiliki bentuk yang beragam seperti bulat tabung, pipih, gepeng, rambut, dan sebagainya (Ferawati et al., 2014).

(18)

2.2.1. Klasifikasi

Makroalga merupakan organisme fotosintetik multiseluler yang hidup di lingkungan perairan, memiliki keragaman yang luas dalam hal struktur dan fungsi. Salah satu cara untuk mengklasifikasikan makroalga ini adalah berdasarkan kandungan pigmen yang mereka miliki. Pigmen ini tidak hanya berfungsi dalam fotosintesis, tetapi juga memberikan warna khas pada alga (Marianingsih et al., 2018) . Ada tiga divisi utama makroalga berdasarkan pigmen ini, yaitu:

a. Chlorophyta

Chlorophyta dikenal sebagai ganggang hijau, adalah sekelompok tumbuhan dengan sel unik yang mengandung kloroplas hijau. Kloroplas ini mengandung pigmen fotosintesis seperti klorofil a dan b, serta karotenoid. Pigmen ini berperan penting dalam fotosintesis, membantu tanaman menyerap energi matahari dan mengubahnya menjadi energi kimia yang dapat digunakan tanaman. Kelompok Chlorophyta merupakan kelompok yang paling banyak ditemukan pada ekosistem lamun. Ekosistem lamun merupakan ekosistem yang sangat produktif dan penting bagi kehidupan laut. Alga hijau berperan penting dalam menjaga kelangsungan ekosistem ini. Melalui fotosintesis, ganggang hijau dapat menyerap energi matahari dan menghasilkan oksigen, sehingga berkontribusi terhadap siklus oksigen di lingkungan.

b. Rhodophyta

Rhodophyta biasa dikenal sebagai alga merah, adalah divisi makroalga yang sangat penting secara ekonomi dan ekologi. Alga merah merupakan sumber penting dari beberapa produk yang digunakan di berbagai industri.Misalnya, mereka memproduksi

(19)

kerang dan gelatin, yang banyak digunakan dalam industri makanan dan kosmetik karena sifat pembentuk gelnya. Selain itu, alga merah menunjukkan ciri morfologi yang khas, termasuk thallus yang berbentuk seperti piring, datar, atau silindris. Struktur ini memungkinkan alga merah beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan dan berkontribusi terhadap keanekaragaman habitat di mana mereka ditemukan.

c. Chrysophyta

Chrysophyta atau dikenal sebagai ganggang cokelat keemasan merupakan salah satu jenis ganggang yang memiliki pigmen dominan karotin, yaitu klorofil a, klorofil c, karoten, xantofil dan fikosantin serta hidup dengan cara autotrof. Kebanyakan chrysophyta hidup di air tawar, walaupun ada beberapa yang hidup di air laut. Chrysophyta mempunyai laminarin untuk menyimpan makanan. Jenis ganggang yang satu ini memiliki struktur dan bentuk yang bervariasi, sebagian tidak memiliki dinding sel dan dapat merayap seperti amoeba, dan sebagiannya lagi memiliki dinding sel yang terbuat dari selulosa. chrysophyta berbentuk uniseluler dan juga membentuk koloni. Chrysophyta juga ada yang hidup di darat dan sering kita temui beberapa selaput seperti beludru di tepi perairan, tepi kolam, atau juga di tanah yang lembab. Selain memiliki laminarin, chrysophyta juga bisa menyimpan kelebihan makanan dalam bentuk minyak yang merupakan salah satu komponen penting dalam pembentukan minyak bumi. Filum chrysophyta terdiri dari 5.300 jenis dan 5.000 di antaranya merupakan diatom yang sudah dimasukkan ke dalam filum tersendiri yaitu bacillariophyta.

(20)

2.2.2. Morfologi a. Chlorophyta

Chlorophyta adalah kelompok alga hijau yang beragam dan penting dalam ekosistem air tawar dan laut serta dalam hubungannya dengan organisme lainnya. Chlorophyta umumnya memiliki klorofil a dan b, meskipun pigmen utamanya adalah klorofil b.

Sebagian besar Chlorophyta bersifat uniseluler, tetapi ada juga spesies multiseluler.

Glukosamin adalah komponen utama dinding sel Chlorophyta. Sporofit filamentosa memiliki inti lenticular tunggal yang tertanam dalam sitoplasma tebal. Gametnya biasanya memiliki dua flagela. Karakteristik yang digunakan untuk klasifikasi Chlorophyta meliputi jenis zoid, mitosis, sitokinesis, tingkat organisasi, siklus hidup, jenis gamet, polisakarida dinding sel, dan data genetik. Chlorophyta juga termasuk dalam dua filum (Chlorophyta dan Charophyta) dan setidaknya 17 kelas. Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 4.500 spesies Chlorophyta, termasuk sekitar 550 spesies Trebouxiophyceae (sebagian besar subaerial dan air tawar), 2.500 Chlorophyceae (sebagian besar air tawar), 800 spesies Bryopsidophyceae (ganggang laut), 50 spesies Dasycladophyceae (ganggang laut), dan 400 Siphoncladophyceae ( Pavel , 2013 ).

b. Rhodophyta

Rhodophyta, atau alga merah, merupakan salah satu kelompok alga yang memiliki ciri khas warna merah. Kelompok ini tergolong dalam filum yang besar, dengan lebih dari 7.000 spesies yang diakui saat ini, dan revisi taksonomi terus berlangsung. Sebagian besar spesies (6.793) ditemukan dalam kelas Florideophyceae, dan sebagian besar terdiri dari alga laut multiseluler, termasuk banyak alga laut yang terkenal. Rhodophyta termasuk

(21)

dalam kelompok alga eukariotik tertua. (Muhammad, 2018 ).

c. Chrysophyta

Chrysophyta, atau alga emas, adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada beberapa heterokont. Istilah ini dapat digunakan untuk merujuk pada Chrysophyceae (alga emas), Bacillariophyceae (diatom), dan Xanthophyceae (alga hijau-kuning) secara bersamaan. Chrysophyta memiliki beberapa karakteristik, termasuk memiliki pigmen fotosintesis yang terdiri dari klorofil a dan c, serta memiliki karotenoid kuning yang disebut fucoxanthin yang bertanggung jawab atas warna unik dan khasnya. Mereka juga menyimpan makanan sebagai minyak dan bukan pati, sel mereka tidak mengandung selulosa dan sering kali mengandung senyawa silikon. Setiap spesies memiliki tanda khususnya sendiri. Chrysophyta ditemukan di lingkungan air tawar dan laut, dan beberapa spesies dapat menjadi heterotrof ketika cahaya tidak mencukupi atau jika makanan terlarut melimpah. Chrysophyta terdiri dari beberapa kelas, termasuk Diatom (Bacillariophyta), Alga Emas (Chrysophyceae), dan Alga Hijau-Kuning (Xanthophyceae) (Kistiansen, 2016 ).

2.2.3 Metode Sampling

Sampel rumput laut diperoleh dari Pantai Karapyak Pangandaran, Jawa Barat.

Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode hand sampling, yaitu pengambilan sampel langsung menggunakan tangan. Pengambilan sampel dilakukan pada saat air surut, agar sampel makroalga dapat terlihat dengan jelas serta dengan mudah dilakukan pengambilan sampel (Supit et all., 2021). Adapun teknik pengambilan sampel makroalga menggunakan metode line transek kuadrat (1 x 1 m). Garis transek

(22)

dengan selang 100 meter dibuat tegak lurus terhadap garis pantai kearah laut atau zona intertidal. Pada setiap interval 10 meter dari garis transek dilakukan sampling biomassa rumput laut pada pada bingkai transek berukuran 1 x 1 m2. Dengan demikian total plot penelitian sebanyak 10 plot transek (Litaay, 2014). Makroalga yang telah diperoleh kemudian dibersihkan menggunakan air laut dan dimasukkan ke plastik ziplock masing- masing sesuai plot. Makroalga yang telah dimasukkan ke dalam plastik ziplock disimpan dalam coolbox yang berisi es batu untuk menjaga kondisinya agar tetap segar (Kartikaningsih, 2020). Sampel makroalga lalu dibawa ke Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Jenderal Soedirman untuk dilakukan prosedur lebih lanjut 2.2.4. Metode Pengawetan Sampel

Pengawetan dilakukan untuk mengawetkan sampel agar lebih tahan lama sehingga memudahkan untuk identifikasi jenis sampel. Pengawetan terbagi menjadi dua metode yaitu pengawetan kering dan pengawetan basah. Menurut Awaliah (2017), pengawetan sampel makroalga dilakukan dengan merendam alga di dalam toples yang berisi larutan formalin 4%. Proses ini dilakukan untuk mengawetkan makroalga. Sebelum melakukan perendaman, dilakukan pencatatan terlebih dahulu untuk mengidentifikasi jenis atau spesies makroalga yang didapatkan. Adapun cara mengawetkan makroalga dengan menggunakan metode pengawetan basah yaitu sebagai berikut:

1. Sampel makroalga dicuci menggunakan air yang mengalir.

2. Keluarkan alga dari wadah.

3. Isi toples spesimen untuk masing-masing satu spesies makroalga.

4. Tuang media pengawet ke dalam toples yang berisi makroalga.

(23)

5. Tutup toples dengan rapat.

6. Botol diberi label berupa tanggal identifikasi serta tanggal pengawetan dilakukan.

7. Lakukan untuk jenis alga berikutnya

Menurut Rizki (2020) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa jenis makroalga yang umumnya dapat untuk dilakukan dengan menggunakan metode pengawetan basah yaitu mencakup Caulerpa sertularoides, Padina autralis, Halimeda macrolaba, Ulva sp., Kappaphycus cottonii, Euchema denticulatum, Euchema isiformis, Gracilaria verrucosa, Gracillaria salicornia, Sargassum polyceratium, Sargassum plagiophyllum, dan Avrainvilea erecta.

Hal yang sama dilakukan pada pengawetan sampel makroalga dengan menggunakan metode pengawetan kering. Hanya saja, perbedaanya terletak pada media pengawetan yang digunakan. Pengawetan kering menggunakan kertas HVS yang akan membungkus sampel makroalga. Pembungkusan ini dimaksudkan dengan tujuan agar pengawetan makroalga dapat berjalan dengan baik dan sampel makroalga tidak terkontaminasi baik udara maupun bakteri yang berasal dari luar. Adapun cara pengawetan makroalga dengan menggunakan metode kering yaitu sebagai berikut:

1. Bersihkan terlebih dahulu sampel makroalga hingga bersih dari substratnya 2. Keringkan sampel makroalga dengan menggunakan bantuan kipas atau dapat juga

dilakukan dengan cara dikeringkan menggunakan tisu kering.

3. Semprot menggunakan alkohol 70% seluruh bagian makroalga.

4. Bungkus sampel menggunakan kertas HVS dan dilapisi dengan kardus.

5. Sampel diikat dengan kuat menggunakan karet.

(24)

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Huda (2019), proses pengeringan menggunakan angin dengan bantuan alat yaitu kipas dimaksudkan untuk mengurangi kadar air yang terdapat pada mikroalga. Namun, dalam proses pengeringannya terdapat cara lain yang dapat dilakukan seperti menggunakan oven atau bantuan cahaya matahari.

Adapun penyemprotan alkohol dilakukan untuk menghindari adanya kontaminasi dan mencegah perkembangbiakan mikroba pada sampel makroalga.

(25)

BAB III MATERI DAN METODE

3.1. Materi

3.1.1. Alat yang digunakan dalam Praktikum Mikroalga

Alat yang digunakan pada praktikum acara 1 adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Alat yang digunakan praktikum

No Alat Fungsi

1. Ember 10 Liter Untuk menampung air dan dituangkan ke plankton net.

2. Plankton net 150-175 µm Alat untuk pengambilan sampel plankton di air laut dengan penyaringan

3. Botol Vial 100 ml Sebagai wadah plankton yang sudah disaring

4. Cool box Untuk Penyimpanan sampel

3.1.2. Alat yang digunakan dalam Praktikum Makroalga

Alat yang digunakan pada praktikum acara 2 adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Alat yang digunakan praktikum

No Alat Fungsi

1.

2.

3.

Cool box Ziplock

Alat dokumentasi

Untuk Penyimpanan sampel Untuk tempat sampel makroalga Untuk Mendokumentasikan 4.

5.

6.

Transek 1 x 1 meter Roll meter ukuran 100m Milimeter blok

Untuk lokasi pengambilan sampel

Untuk mengukur jarak peletakan transek Untuk tempat dokumentasi dan identifikasi

(26)

3.1.3. Bahan yang digunakan dalam Praktikum Mikroalga

Bahan yang digunakan pada praktikum acara 2 adalah sebagai berikut Tabel 3. Bahan yang digunakan praktikum

No Bahan Jumlah Fungsi

1. Sampel Air Laut 10 Liter Sebagai sampel untuk mendapatkan

plankton

2. Formalin 1 mL Untuk Mengawetkan sampel

3. Aquades 100 mL Untuk Menyaring sampel

3.1.4. Bahan yang digunakan dalam Praktikum Makroalga

Bahan yang digunakan pada praktikum acara 2 adalah sebagai berikut Tabel 4. Bahan yang digunakan praktikum

No Bahan Fungsi

1. Sampel Makroalga Sebagai sampel untuk diidentifikasi

2. Alkohol Untuk mensterilkan sampel makroalga

3.

4.

Kardus Kertas

Untuk peletakan sampel makroalga Untuk peletakan sampel makroalga 3.2. Metode

a. Metode Kualitatif

Metode kualitatif adalah pendekatan yang menekankan pada analisis yang mendalam. Oleh karena itu, penggunaan metode kualitatif dalam penelitian dapat menghasilkan pemahaman yang lebih menyeluruh tentang suatu fenomena. Dalam konteks praktikum ini, metode kualitatif digunakan untuk mengidentifikasi variasi jenis mikroalga.

b. Metode Kuantitatif

Metode kuantitatif adalah suatu pendekatan penelitian yang berfokus pada penggunaan data numerik dalam seluruh tahapan, dari pengumpulan hingga

(27)

analisis data. Dalam konteks praktikum Algologi, metode kuantitatif digunakan untuk menilai tingkat kehadiran mikroalga dalam hubungannya dengan faktor- faktor waktu dan lokasi.

3.2.1. Prosedur Praktikum Mikroalga 1. Pengambilan sampel

Sampel plankton diperoleh dengan mengalirkan air sebanyak 10 liter melalui plankton net. Air diambil menggunakan ember, kemudian dituangkan ke dalam plankton net dengan gerakan memutar, dan proses ini diulang sebanyak 10 kali.

2. Penyaringan

Siram dinding bagian luar plankton net secara merata menggunakan aquades untuk memastikan plankton yang tersaring masuk ke dalam wadah penampung

3. Pengawetan

Plankton yang telah disaring melalui plankton net dimasukkan ke dalam botol vial. Selanjutnya, sampel plankton diawetkan dengan formalin 4% dan ditempatkan dalam sebuah cool box untuk penyimpanan.

4. Identifikasi

Sampel plankton dari setiap lokasi diambil menggunakan pipet tetes dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop dengan penggunaan pembesaran 10x. Setiap botol sampel mewakili 1 ml sampel plankton, dan pencacahan plankton dilakukan secara menyeluruh dengan meliputi seluruh area pandangan yang tersedia.

(28)

3.2.2. Diagram Alir Praktikum Mikroalga

3.2.1. Prosedur Praktikum Makroalga 3.2.1.1. Cara Kerja Sampling Makroalga

1. Siapkan alat dan bahan.

2. Tentukan titik awal pengamatan.

3. Membentangkan roll meter sepanjang 100 m tegak lurus pantai dengan jarak antar transek adalah 10 m.

4. Saat pengamatan amati arah arus. Pengamatan dilakukan berlawanan dengan arus, sehingga makroalga yang ada di dalam kuadrat tidak keruh airnya akibat injakan para pengamat.

5. Pengamatan dilakukan pada kuadrat berukuran 1 x 1 meter.

Gambar 2. Diagram alir penelitian mikroalga

(29)

6. Makroalga yang ditemukan diambil sedikit dan dimasukkan ke dalam zip lock.

7. Tiap kuadrat pengamatan di foto.

3.2.1.2. Cara Kerja Identifikasi Makroalga 1. Siapkan alat dan bahan.

2. Sampel makroalga difoto di atas milimeter blok.

3. Diamati bentuk morfologinya (percabangan thallus dan holdfastnya.

4. Diidentifikasi dengan buku panduan yang tersedia hingga tingkat genus.

3.2.3 Diagram Alir Praktikum Makroalga

Gambar 3. Diagram Alir Penelitian Analisis Data

1. Identifikasi jenis makroalga secara deskriptif.

2. Menghitung kerapatan makroalga:

Kerapatan Jenis : Ki = 𝑛𝑖𝑎 Kerapatan Relatif : KR = ni 𝑥 100%

(30)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Mikroalga

4.1.1. Teknik Sampling Mikroalga

Sampling mikroalga terbagi menjadi 2, yaitu sampling secara kualitatif dan secara kuantitatif. Sampling secara kualitatif dilakukan menggunakan jala plankton (plankton net) yang dapat dilakukan secara vertikal maupun horizontal dan sampling ini digunakan untuk mengetahui jenis jenis plankton. Sampling secara kuantitatif umumnya dilakukan dengan botol, jaring, atau pompa. Cara sampling seperti ini dilakukan untuk mengetahui kepadatan plankton per satuan volume dengan pasti.

Plankton net merupakan alat sampling plankton yang paling umum digunakan karena alat yang cukup praktis. Jala plankton (Plankton Net) mempunyai bentuk bermacam-macam, tapi pada umumnya berbentuk kerucut dengan mulut melingkar dan di ujung jala diberi botol penampung. Cara penggunaan plankton net sendiri adalah dengan menyaring air yang dimana jala bertindak sebagai penyaring dan kemudian air yang disaring akan masuk ke dalam botol yang volumenya telah diketahui. Kelebihan dari plankton net yakni sangat praktis dan sampel yang diperoleh cukup banyak. Kekurangan dari plankton net yaitu dalam penggunanya alat ini sulit untuk memperkirakan jumlah air yang disaring, plankton yang tertangkap sangat bergantung pada ukuran mesh size, botol vial atau bucket yang merupakan penampung plankton yang telah terkumpul tidak dapat menampung air terlalu banyak.

Alat dan bahan yang digunakan saat sampling mikroalga dengan menggunakan plankton net adalah jala (plankton net), botol vial, cool box, ember 10 liter, alat tulis dan label

(31)

untuk menandakan, formalin 4% dan aquades. Setelah alat dan bahan disiapkan, pasang botol vial ke ujung plankton net. Ambil air dengan ember 10 L dan dituangkan ke dalam plankton net untuk disaring. Pengambilan air diulang sebanyak 10 kali sehingga jumlah air yang tersaring yaitu 100 L. Setelah pengambilan air sebanyak 10 kali pengulangan plankton net disiram menggunakan aquades. Sampel yang sudah terkumpul diawetkan dengan larutan formalin 4% sebanyak 1 mL dan disimpan di dalam cool box.

4.1.2. Pengawetan Sampel Mikroalga

Secara umum, mikroalga dikenal sebagai organisme air yang dapat berfungsi sebagai bioindikator untuk menilai kualitas suatu perairan. Sebagai parameter ekologi, mikroalga memberikan informasi tentang kondisi perairan dan menjadi bagian integral dari metabolisme ekosistem perairan sebagai mata rantai primer dalam rantai makanan.

Kehadirannya memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan ikan dan organisme air lainnya, sehingga dapat menentukan kesehatan ekosistem (Odum, 2017). Mikroalga, sebagai organisme yang mengandung klorofil dan pigmen lain, memiliki kemampuan untuk melakukan fotosintesis. Meskipun berukuran mikroskopis, mikroalga tersebar luas di berbagai lingkungan yang terpapar sinar matahari, dan memiliki morfologi serta ciri-ciri yang sangat beragam (Harmoko, 2017). Diversitas mikroalga dalam suatu perairan diukur dengan jumlah spesies yang ada. Semakin banyak spesies, semakin tinggi nilai diversitasnya. Hubungan antara jumlah spesies dan jumlah individu dapat direpresentasikan dengan indeks diversitas (Rahayu, 2021). Metode efektif yang untuk mengawetkan sampel mikroalga adalah menggunakan larutan formaldehida pada konsentrasi rendah, yaitu 0.5-2%.

(32)

Pada praktikum kali ini pengawetan sampel mikroalga dilakukan dengan cara sampel yang telah tersering dimasukkan ke dalam botol vial. Kemudian, sampel plankton diawetkan menggunakan cairan formalin hingga 4% (pengawetan). Lalu, setelah mencapai 4%, pengawetan sampel disimpan di dalam coolbox.

4.1.3. Taksonomi Mikroalga Tabel 5. Taksonomi mikroalga

Pengulangan 1

No. Foto Klasifikasi

1.

Kingdom: Plantae Filum: Chlorophyta

Kelas: Ulvophyceae Ordo: Ulvales

Famili: Ulvaceae

Genus: Enteromorpha Spesies: Enteromorpha prolifera

(Guiry, M.D., & Guiry, G.M., 2023).

2.

Kingdom: Chromista Filum: Heterokontophyta

Kelas: Chrysophyceae Ordo: Chromulinales

Famili: Dinobryaceae Genus: Dinobryon

Spesies: Dinobryon divergens (Guiry, M.D. & Guiry, G.M., 2020).

3.

Kingdom: Chromista Filum: Myzozoa

Kelas: Dinophyceae Ordo: Gymnodiniales

Famili: Gymnodinniaceae Genus: Akashiwo

Spesies: Akashiwo sanguinea (Braz , 2014).

(33)

4.

Kingdom: Chromista Filum: Myzozoa

Kelas: Dinophyceae Ordo: Gonnyaulacales

Famili: Ceratiaceae Genus: Ceratium

Spesies: Ceratium macroceros (Qadari et al., 2022).

5.

Kingdom: Chromista Filum: Ochrophyta

Kelas: Bacillariophyceae Ordo: Cymbellales

Famili: Cymbellaceae Genus: Cymbella

Spesies: Cymbella sp.

(Gong et al., 2013).

6.

Kingdom: Protista Filum: Cyanophyta

Kelas: Cyanophyceae Ordo: Nostocales

Famili: Oscilatoriaceae Genus: Spirulina

Spesies: Spirulina sp.

(Tokusoglu & Uunal, 2006).

7.

Kingdom: Plantae Filum: Chlorophyta

Kelas: Chlorophyceae Ordo: Selaginellales

Famili: Selaginellaceae Genus: Monoraphidium

Spesies: Monoraphidium braunii

(Qadari et al., 2022).

8.

Kingdom: Plantae Filum: Chlorophyta

Kelas: Chlorophyceae

Ordo: Chlamydomonadales Famili: Chlamydomonadaceae

Genus: Chlamydomonas Spesies: Chlamydomonas sp.

(Guiry, M.D., & Guiry, G.M., 2023).

(34)

9.

Kingdom: Bacteria Filum: Cyanobacteria

Kelas: Cyanophyceae Ordo: Oscillatoriales

Famili: Oscillatoriaceae Genus: Oscillatoria

Spesies: Oscillatoria lutea (Guiry, M.D., & Guiry, G.M., 2023).

10.

Kingdom: Chromista Filum: Bacillariophyta

Kelas: Bacillariophyceae Ordo: Bacillariales

Famili: Bacillariaceae Genus: Pseudo-nitzschia

Spesies: Pseudo-nitzschia fraudulenta

(Kociolek et al., 2023).

Pengulangan 2

1.

Kingdom: Bacteria Filum: Cyanobacteria

Kelas: Cyanophyceae Ordo: Nostocales

Famili: Rivulariaceae Genus: Dichothrix

Spesies: Dichothrix sp.

(Guiry, M.D., & Guiry, G.M., 2023).

2.

Kingdom: Plantae Filum: Chlorophyta

Kelas: Trebouxiophyceae Ordo: Chlorellales

Famili: Oocystaceae Genus: Eremosphaerae

Spesies: Eremosphaera viridis (Guiry, M.D., & Guiry, G.M., 2023).

(35)

3.

Kingdom: Chromista Filum: Heterokontophyta

Kelas: Bacillariophyceae Ordo: Barcillariales

Famili: Bacillariaceae Genus: Pseudo-nitzschia

Spesies: Pseudo-nitzschia sp.

(Orive et al., 2013).

4.

Kingdom: Chromista Filum: Heterokontophyta

Kelas: Bacillariophyceae Ordo: Barcillariales

Famili: Bacillariaceae Genus: Pseudo-nitzschia

Spesies: Pseudo-nitzschia sp.

(Orive et al., 2013).

5.

Kingdom: Chromista Filum: Heterokontophyta

Kelas: Bacillariophyceae Ordo: Barcillariales

Famili: Bacillariaceae Genus: Pseudo-nitzschia

Spesies: Pseudo-nitzschia sp.

(Kociolek et al., 2013).

6.

Kingdom: Plantae Filum: Chlorophyta

Kelas: Chlorophyceae Ordo: Ulothrichales

Famili: Ulothrichaceae Genus: Microspora

Spesies: Microspora sp.

(Costello et al., 2001).

7.

Kingdom: Protista Filum: Charophyta

Kelas: Zygnemophyceae Ordo: Desmidiales

Famili: Closteriaceae Genus: Closterium

Spesies: Closterium sp.

(Guiry, 2016).

(36)

8.

Kingdom: Plantae Filum: Rhodophyta

Kelas: Acrochaetiales Ordo: Acrochaetiaceae

Famili: Acrochaetiaceae Genus: Audouinella

Spesies: Audouinella sp.

(Sebjørnsen, 2022).

9.

Kingdom: Plantae Filum: Rhodophyta

Kelas: Acrochaetiales Ordo: Acrochaetiaceae

Famili: Acrochaetiaceae Genus: Audouinella

Spesies: Audouinella sp.

(Sebjørnsen, 2022).

10.

Kingdom: Chromista Filum: Dinoflagellata

Kelas: Dynophyceae Ordo: Gonyaulacales

Famili: Gonyaulacaceae Genus: Gonyaulax

Spesies: Gonyaulax spinifera (Guiry, 2022).

4.1.4. Kelimpahan Mikroalga

Gambar 4. Grafik Kelimpahan Mikroalga 12 stasiun

(37)

Gambar 4 menunjukkan grafik kelimpahan mikroalga (ind/m2) yang didapat dari 12 stasiun di Pantai Karapyak Pangandaran. Diketahui spesies Amoeba sp pada stasiun 8 memiliki kelimpahan tertinggi sebesar 1584 ind/m2, disusul oleh spesies Oscillatoria pada stasiun 2 dengan nilai kelimpahan sebesar 1386 ind/m2. Adapun nilai kelimpahan terkecil sebesar 198 ind/m2 ditemukan di beberapa spesies dan stasiun, diantaranya spesies Spirulina, Dinobrion dan Oscillatoria di stasiun 11, spesies Eaustrrum pectinatum di stasiun 10, spesies Lepidodinium di stasiun 9, spesies Euglena sp, dan Eunotia sera di stasiun 8, spesies Monoraphidium sp, Odontella sp, Chaetocheros sp, dan Microspora di stasiun 7, spesies Monoraphidium sp di stasiun 6, spesies Closterium, Diatom, dan Tetraselmis sp di stasiun 5, spesies Actinostrum sp, Tetradesmus, Selenastreum, dan Chlorotehcium di stasiun 4, spesies Oxyrrhis m di stasiun 2, spesies Ankistrodesmus facatus, Chaetonema irregulare, Xanthonema, Elakatothorix, Kirchenreiella, dan Anabaena di stasiun 1. Untuk nilai kelimpahan spesies lainnya berada pada kisaran 198-990 ind/m2.

Gambar 5. Grafik kelimpahan relatif mikroalga 12 stasiun

(38)

Gambar 5 menunjukkan grafik kelimpahan relatif mikroalga (ind/m2) dari 12 stasiun di Pantai Karapyak Pangandaran. Dapat dilihat bahwa kelimpahan relatif tertinggi dari spesies Amoeba sp sebesar 12%, disusul oleh spesies Microspora, Euglena sp, dan Chlorotehcium sebesar 8%, kemudian spesies Monoraphidium sp dan spesies Lyngbya sp sebesar 6%. Adapun spesies lainnya memiliki nilai kelimpahan relatif di bawah 5%.

4.2. Makroalga

4.2.1. Teknik Sampling Makroalga

Makroalga umumnya terdapat di daerah tertentu dengan persyaratan khusus.

Kebanyakan tumbuh di daerah pasang surut (intertidal) atau pada daerah yang selalu terendam air (subtidal) melekat pada substrat di dasar perairan yang berupa karang batu mati, karang batu hidup, batu gamping atau cangkang mollusca. Pengambilan sampel makroalga yang terdapat pada daerah intertidal biasanya dilakukan pada saat surut, sementara pada pengambilan sampel makroalga yang terdapat pada daerah subtidal dapat dilakukan dengan peralatan snorkel dan scuba.

Alat dan bahan yang digunakan pada pengambilan sampel makroalga adalah roll meter, zip lock, transek 50 cm2, cool box, alat tulis, milimeter blok, papan jalan, dan lembar pengamatan. Pengambilan sampel makroalga terdapat beberapa metode diantaranya yaitu metode line transect (transek garis), metode ini menggunakan teknik sampling kuadrat yang dimana penempatan transek berdasarkan titik pertama kali ditemukannya makroalga yang ditarik tegak lurus terhadap garis pantai dengan jarak antar garis 100 m (Pradana et al., 2020).

(39)

Untuk teknik sampling makroalga setelah alat dan bahan disiapkan, kemudian tentukan titik awal pengamatan. Setelah itu, bentangkan roll meter sepanjang 100 m tegak lurus dengan garis pantai, dengan jarak antar transek adalah 10 m. Saat Saat pengamatan amati arah arus. Pengamatan dilakukan berlawanan dengan arus, sehingga makroalga yang ada di dalam kuadrat tidak keruh airnya akibat injakan para pengamat. Pengamatan makroalga dilakukan pada transek kuadrat berukuran 50 cm2. Setelah pengamatan selesai dilakukan, Makroalga yang ditemukan diambil dengan cara dicuplik dan dimasukkan ke dalam zip lock. Tiap kuadrat pengamatan di foto.

4.2.2. Pengawetan Sampel Makroalga

Pengawetan makroalga dapat dilakukan dengan pengawetan basah atau pengawetan kering. Pengawetan basah dilakukan dengan mencuci makroalga dengan air bersih dan merendamnya dalam larutan formalin 3-5% kemudian larutan alkohol 70%. Sementara itu, pengawetan kering dapat dilakukan dengan mengeringkan makroalga menggunakan sinar matahari secara langsung atau dengan oven. Pada praktikum kali ini, pengawetan sampel makroalga dilakukan dengan cara pengawetan kering (press).

Alat yang digunakan pada pengawetan sampel makroalga adalah kipas, karet gelang, gunting, sarung tangan lateks, alat tulis dan buku identifikasi makroalga. Sedangkan, untuk bahan yang dipakai terdiri dari sampel makroalga, kardus, kertas HVS, air mengalir/bersih dan tisu. Beberapa jenis makroalga yang dapat diawetkan dengan metode pengawetan kering meliputi Sargassum aquifolium, Turbinaria ornata, dan Palisade 1.

Metode ini memiliki kelebihan dalam hal keaslian sampel, karena sampel yang diawetkan tidak kehilangan sifat-sifat aslinya, bentuk, susunan, dan bahkan warnanya 1. Namun,

(40)

kelemahan dari metode pengawetan kering meliputi memerlukan persiapan yang maksimal dan memerlukan biaya yang lebih besar daripada pengawetan basah.

Cara mengawetkan sampel makroalga dengan teknik pengawetan kering (press) ini adalah dengan menyiapkan seluruh alat dan bahan yang akan digunakan. Setelah seluruh alat dan bahan telah disiapkan, cuci semua sampel makroalga hingga bersih dari kotoran kotoran yang masih menempel, kemudian cek kondisi dari sampel makroalga tersebut sembari dilakukannya identifikasi spesies dari sampel makroalga tersebut. Kemudian keringkan sampel dengan kipas dan bantuan tisu dengan cara menepuk’ sampel makroalga dengan gantel agar makroalga tidak rusak dan lebih cepat kering. Gunting kardus dan kertas HVS menjadi beberapa bagian dengan ukurang yang sama. Makroalga yang sudah kering oleh kipas kemudian di taruh di atas kardus dan kertas HVS dengan susunan (kardus, kertas HVS, sampel makroalga, kertas HV, kardus). Setelah selesai press tumpukan tersebut dan ikat dengan karet agar tidak mudah terlepas. Di Atas kardus yang sudah selesai di kareti kemudian dituliskan nama spesies dari sampel makroalga tersebut dan tarus ditempat yang telah disiapkan.

(41)

4.2.3. Taksonomi Makroalga Tabel 6. Taksonomi makroalga

No Gambar Taksonomi

1. Kingdom : Plantae

Divis : Chlorophyta Kelas: Ulvaphyceae Ordo : Ulvales Famili : Ulvaceae Genus : Ulva

Spesies: Ulva lactuca

(Guiry, 2022)

2. Kingdom : Chromista

Divisi : Phaeophyta Kelas: Phaeophyceae Ordo : Fucales

Famili : Sargassaceae Genus : Sargassum

Spesies: Sargassum hemiphylium

(Guiry, 2022)

3. Kingdom : Chromista

Divisi : Rhodophyta Kelas: Rodophyceae Ordo : Gracilariales Famili : Gracilariaceae Genus : Gracilaria

Spesies: Gracilaria coronopifolia

(Guiry, 2022)

(42)

4. Kingdom : Chromista Divisi: Rhodophyta Kelas: Florideophyceae Ordo: Ceramiales Famili: Rhodomelaceae Genus: Rhodimenia

(Guiry, 2022)

5. Kerajaan: Chromista

Divisi: Rhodophyta Kelas: Florideophyceae Ordo: Gigartinales Famili: Phyllophoraceae Genus: Chondrus

Spesies: Chondrus crispus

(Guiry, 2022)

4.2.4 Kelimpahan Makroalga

Gambar 6. Grafik kelimpahan makroalga

(43)

Gambar 6 menunjukkan grafik kelimpahan makroalga (ind/m2) yang didapat dari 12 stasiun di Pantai Karapyak Pangandaran. Diketahui tiga spesies dari genus yang sama (Ulva) dengan nilai kelimpahan tertinggi secara berturut-turut adalah Ulva rigida (186.7 ind/m2), Ulva sp (137.2 ind/m2), dan Ulva lactuca (119.6 ind/m2). Kemudian diikuti oleh spesies Chaetomorpha spiralis (73.8 ind/m2), Padina sp (53.9 ind/m2), Sargassum muticum (52.6 ind/m2), Sargassum sp (36.1 ind/m2), Ulva rotundata (29.6 ind/m2), dan Aantopora sp.

(23 ind/m2), adapun 25 spesies lainnya memiliki nilai kelimpahan dibawah 20 ind/m2.

Untuk nilai kelimpahan terendah (dibawah 0.5 ind/m2) dimiliki oleh 4 spesies yakni spesies Eucheuma cottoni (0.4 ind/m2), Chaetomorpha antennina (0.2 ind/m2), Gigartina pistillata (0.2 ind/m2), dan spesies Dictyota sp. (0.1 ind/m2).

(44)

DAFTAR PUSTAKA

Andhitya Priya Sambada. 2018. Keterkaitan Kelimpahan Fitoplankton Dengan Parameter Kualitas Air Di Perairan Gundil Situbondo Jawa Timur.

Azwandari, A. 2018. Keanekaragaman Plankton sebagai Indikator Kualitas Air di Wilayah Perairan Teluk Hurun Kabupaten Pesawaran. Skripsi. 1–144.

Ferawati, E., Widyartini, D. S. Insan, I. 2014. Studi Komunitas Rumput Laut pada Berbagai Substrat di Perairan Pantai Permisan Kabupaten Cilacap. Scripta Biologica, 1(1): 55–

60.

Gosari, B. A. J., & Haris. A. 2012. Studi Kerapatan Dan Penutupan Jenis Lamun Di Kepulauan Spermonde. Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin Makassar, 22(3): 156-162.

Handayani, T. 2017. Asesmen Rumput Laut Potensial Penghasil Fikokoloid Untuk Dikembangkan Sebagai Bahan Baku Industri. Laporan Akhir Tahun Lipi, 26 Hal.

Harmoko, H., Triyanti, M., dan Aziz, L. 2018. Eksplorasi Mikroalga Di Sungai Mesat Kota Lubuklinggau. Biodidaktika, Jurnal Biologi Dan Pembelajarannya, 13(2): 19–23.

Harmoko, S. 2017. Keanekaragaman Mikroalga Di Sungai Kati Kota Lubuklinggau. Scripta Biologica, Vol 4 (3).

Hernandi, R., Dharma, A., & Armaini, A. 2019. Penapisan, isolasi, dan karakterisasi mikroalga yang berpotensi sebagai sumber biodiesel dari perairan Danau Kerinci, Jambi. Indonesian Journal of Industrial Research, 9(1), 41-49.

Huda, M.S. 2019. Ekstraksi dan Uji Aktivitas Antioksidan Senyawa Aktif dengan Variasi Pengeringan Alga Merah (Eucheuma cottonii) Pantai Wongsorejo Banyuwangi.

Skripsi. Universitas Negeri Islam Maulana Malik Ibrahim Malang. Malang.

Kartikaningsih, H. 2020. Antibakteri Ekstrak Etanol Serbuk Kering Sargassum cristaefolium Terhadap Bakteri Escherichia coli Dan 38 Salmonella thyposa.

JFMR-Journal Of Fisheries And Marine Research, 4(1), 53–60.

Jakirman, E., dan Miharja, J. 2020. Kelimpahan dan Keanekaragaman lamun, alga cokelat di Pantai Karapyak Pangandaran Jawa Barat, Indonesia. Perennial: Jurnal Pendidikan Biologi dan Biologi, 1(2).

Kokomaking, Y. N. 2023. Buku Saku Keanekaragaman Makroalga. Edited by Nau, Getrudis W., dan Sardina Ndukang. CV. Widina Media Utama.

Kristiansen, J., Škaloud, P. 2016. Chrysophyta. In: Archibald, J., et al. Handbook of the Protists. Springer, Cham.

Kumaji, S., Katili, A. S., dan Lalu, P. 2019. Identifikasi Mikroalga Epilitik Sebagai Biomonitoring Lingkungan Perairan Sungai Bulango Provinsi Gorontalo. Jambura Edu Biosfer Journal, 1(1): 15.

Litaay, C. 2014. Distribution And Diversity of Macro Algae Communities in the Ambon Bay. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 6(1): 131–142.

Othman, M. N. A., Ruhana H, Harith, M, N., Shah, A., Ruddin. 2018. Morphological Characteristics and Habitats of Red Seaweed Gracilaria spp. (Gracilariaceae, Rhodophyta) in Santubong and Asajaya, Sarawak, Malaysia. Tropical Life Sciences Research, 29(1): 87–101.

(45)

Paiki, K., dan Kalor, J. D. 2017. Nitrate and Phosphate Distribution Related to Phytoplankton Abundance in East Yapen Coastal Water. JFMR-Journal of Fisheries and Marine Research, 1(2): 65–71.

Pavel Skaloud, Tomas Kalina, Katarına Nemjova. 2013. Morphology And Phylogenetic Position Of The Freshwater Green Microalgae Chlorochytrium (Chlorophyceae) And Scotinosphaera (Scotinosphaerales, Ord. Nov., Ulvophyceae). J. Phycol, 49, 115–129.

Pradana, Fendi., Apriadi, Tri., Suryanti, Ani. 2020. Komposisi dan Pola Sebaran Makroalga di Perairan Desa Mantang Baru, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Biospecies.

13(2): 22-31.

Purbani, D. C., Noerdjito, D. R., Purnaningsih, I., Yuliani, Y., dan Prabowo, D. A. 2021.

Analisis Morfologi Dan Filogenetik Molekuler Alga Hijau Coccoid Yang Diisolasi Dari Pulau Enggano. Berita Biologi, 21(3): 301–312.

Rahayu, R. I., & Susilo, H. 2021. Keanekaragaman Mikroalga sebagai Bioindikator Pencemaran di Situ Cibanten Kecamatan Ciomas Kabupaten Serang Banten.

JURNALIS: Jurnal Lingkungan dan Sipil, 4(2): 104–120.

Rizki, P. 2020. Keanekaragaman Jenis Makroalga Yang Terdapat di Kawasan Pantai Ujoeng Kareung Aceh Besar Sebagai Referensi Mata Kuliah Botani Tumbuhan Rendah.

Skripsi. Program Studi Pendidikan Biologi. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam. Banda Aceh. 119 hal.

Sahoo, D., dan Baweja, P. 2015. The Algae World. New York CIty: Springer

Sandy, M, A., Indrayani., dan Yasidi, F. 2021. Komposisi Jenis Dan Distribusi Makroalga Berdasarkan Tipe Substrat di Perairan Pantai Kampa Desa Wawobili Kabupaten Konawe Kepulauan. Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan, 6(1):19-36.

Sari, W. E. 2011. Isolasi dan Identifikasi Mikroalga Cyanophyta dari Tanah Persawahan Kampung Sampora, Cibinong, Bogor. Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah. 6–9.

Sepriyaningsih & Harmoko. 2019. Buku Monograf Bioindikator Sungai Dengan Mikroalga (Studi Kasus Di Sungai Kelingi Kota Lubuklinggau). Deepublish. 51 hal.

Septiady, D., Hendrawan, I. G., Putra, I. N. G. 2023. Keanekaragaman Jenis Makroalga di Perairan Teluk Gilimanuk Bali. ULIL ALBAB: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(10):

4831-4843.

Setyowardani, D. 2021. Analisis Kesuburan Perairan Berdasarkan Kelimpahan Fitoplankton di Muara Sungai Porong, Sidoarjo. Journal of Tropical Marine Research, 3(1): 24-33.

Silaban,R., dan Kadmaer, E. M. Y. 2020. Pengaruh Parameter Lingkungan Terhadap kepadatan Makroalga di Pesisir Kei Kecil, Maluku Tenggara. Jurnal Kelautan nasional, 15(1): 57–64.

Sodiq, A. Q., dan Arisandi, A. 2020. Identifikasi Dan Kelimpahan Makroalga Di Pantai Selatan Gunungkidul. Juvenil: Jurnal Ilmiah Kelautan dan Perikanan, 1(3): 325-330.

Sulastri, S. 2018. Fitoplankton Danau-Danau di Pulau Jawa: Keanekaragaman dan Perannya sebagai Bioindikator Perairan. Jakarta: LIPI Press.

Supit, R. R. L., Laa, I. Y. M., dan Sunbanu, J. N. 2021. Analisis Kepadatan Makroalga Di Perairan Pantai Desa Bolok. Jurnal Bahari Papadak, 2021: 105–112.

(46)

Swanson-Mungerson, M., Incrocci, R., Subramaniam, V., Williams, P., Hall, M. L., & Mayer, A. M. S. 2017. Effects of cyanobacteria Oscillatoria sp. lipopolysaccharide on B cell activation and Toll-like receptor 4 signaling. Toxicology letters, 275, 101–107.

Zakiyah, U., dan Mulyanto, M. 2020. Biodiversitas dan Sebaran Mikroalga Berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) di Perairan Selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Depik, 9(3): 478–483.

(47)

LAMPIRAN

Tabel Pembagian Tugas Mikroalga

NAMA TUGAS

Safiqoh Nurhamid (L1C021005) Bab 2 Annis Chairummah (L1C021015) Bab 2 Bathriq Shalsa Ababil A. (L1C021025) Bab 1 Alifia Nurul Futihat (L1C021027) Bab 3 Muhammad Akbar S. (L1C021039) Bab 1 R. Elang Teja Laksana (L1C021065) Bab 3 Indira Hauriina Aulia (L1C021081) Bab 1 Seno Aji Laksono (L1C021083) Bab 2 Nabiel Labib M. (L1C021087) Bab 2

Leni Purnami (L1C021089) Merapihkan Zahra Tufaila P. (L1C021095) Bab 1

Tabel Pembagian Tugas Makroalga

NAMA TUGAS

Safiqoh Nurhamid (L1C021005) Annis Chairummah (L1C021015) Bathriq Shalsa Ababil A. (L1C021025) Alifia Nurul Futihat (L1C021027) Muhammad Akbar S. (L1C021039) R. Elang Teja Laksana (L1C021065) Indira Hauriina Aulia (L1C021081) Seno Aji Laksono (L1C021083) Nabiel Labib M. (L1C021087) Leni Purnami (L1C021089) Zahra Tufaila P. (L1C021095) Tabel Pembagian Tugas Laporan Akhir

NAMA TUGAS

Safiqoh Nurhamid (L1C021005) Revisi Mikroalga Annis Chairummah (L1C021015) Merapihkan Bathriq Shalsa Ababil A. (L1C021025) Interpretasi Grafik Alifia Nurul Futihat (L1C021027) Merapihkan Muhammad Akbar S. (L1C021039) Revisi Makroalga R. Elang Teja Laksana (L1C021065) Poin 11

Indira Hauriina Aulia (L1C021081) Teknik sampling mikro dan makro Seno Aji Laksono (L1C021083) Poin 3

Nabiel Labib M. (L1C021087) Poin 10

Leni Purnami (L1C021089) Excel perhitungan mikro + makro Zahra Tufaila P. (L1C021095) Poin 4 (Pengawetan Makroalga)

(48)

Dokumentasi Kegiatan Praktikum Lapang dan Laboratorium

Gambar

Gambar 1. Morfologi spesies mikroalga (Hernandi et al., 2019).
3.2.2. Diagram Alir Praktikum Mikroalga
Gambar 3. Diagram Alir Penelitian  Analisis Data
Gambar 4. Grafik Kelimpahan Mikroalga 12 stasiun
+4

Referensi

Dokumen terkait

Kertas indikator asam basa biasa digunakan untuk membedakan suatu larutan, apakah larutan itu bersifat asam ataupun basa, dengan cara memberikan perubahan warna

Metode yang digunakan untuk mengetahui kualitas pakan adalah uji fisik, kimia, maupun uji mikroskopis. Secara umum sifat fisik bahan tergantung dari jenis dan ukuran partikel

Ujung tRNA mngandung anti kodon berupa triplet basa nitrogen, sedangkan ujung yang lain membawa satu jenis asam amino dari sitoplasmaB. Asam amino tersebut akan

Alga merupakan produsen primer dalam suatu ekosistem perairan yang memiliki potensi untuk dikembangkan terutama dalam bidang pangan, Berdasarkan ukurannya, alga

Lemahnya perhatian pemerintah kita, karena selain digunakan dalam sektor industri, formalin juga disalahgunakan untuk keperluan lain seperti pengawetan makanan

Kertas lakmus biasa digunakan untuk membedakan suatu larutan bersifat asam atau basa dengan cara memberikan perubahan warna yang berbeda pada larutan asam dan basa.. Asam adalah

Untuk membuat switch, kita perlu ke bagian Network Devices dan klik pada bagian Server.. Pada bagian sebelah kananmenu device terdapat jenis-jenis switch yang

paktikum teknik industri ii yang di lakukan di teknik