• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENGKAJIAN KEBIJAKAN STUNTING KALURAHAN SENDANGSARI

N/A
N/A
Sengkey, Mario Malvino

Academic year: 2023

Membagikan "LAPORAN PENGKAJIAN KEBIJAKAN STUNTING KALURAHAN SENDANGSARI"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

Faktor eksternal seperti sosial ekonomi, lingkungan, termasuk mikotoksin pada makanan, sanitasi yang kurang memadai, lantai rumah yang kotor, kualitas bahan bakar memasak yang buruk dan pembuangan sampah lokal yang tidak memadai dapat menyebabkan stunting pada anak balita (Danaei et al., 2016; Nshimyiryo et al. ., 2019; Vaivada dkk., 2020). Dampak jangka panjang yang dapat terjadi adalah meningkatnya angka kesakitan dan kematian yang berhubungan dengan infeksi seperti pneumonia, diare, terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan (de Onis et al., 2013; Prendergast dan Humphrey, 2014). Dampak jangka panjang seperti menurunnya kemampuan kognitif, prestasi sekolah, produktivitas ekonomi di masa dewasa dan sistem reproduksi wanita di kemudian hari, risiko terkena penyakit kronis di masa dewasa, peningkatan kerentanan terhadap penumpukan lemak terutama di bagian tengah tubuh, menurunkan oksidasi lemak, konsumsi energi yang lebih rendah, resistensi insulin dan risiko diabetes yang lebih tinggi, hipertensi, dislipidemia, penurunan kapasitas kerja (Alam et al., 2020; De Sanctis et al., 2021; Dewey dan Begum, 2011; Stewart et al., 2013 ; Woldehanna dkk., 2017).

Beberapa negara telah menerapkan intervensi di dalam dan di luar sektor kesehatan, yang disebut strategi nutrisi dan sensitivitas spesifik, seperti peningkatan pendidikan ibu, nutrisi ibu, perawatan ibu dan bayi baru lahir, dan pengurangan kesuburan/kehamilan (Bhutta et al., 2020). Sebuah studi sistematis menunjukkan bahwa program penurunan stunting akan efektif jika ada komitmen bersama dengan melibatkan masyarakat dalam konteks program yang ada (Hossain et al., 2017). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kebijakan pencegahan dan pengendalian stunting di Indonesia khususnya di Desa Sendangsari.

Keperawatan komunitas bertujuan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan komunitas dan populasi lokal dengan berfokus pada promosi dan pemeliharaan kesehatan individu, keluarga dan kelompok dalam masyarakat. Tujuannya adalah untuk mencegah dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui antara lain: pelayanan langsung atau pelayanan yang diberikan langsung kepada individu, keluarga dan kelompok, serta kesehatan masyarakat secara umum atau perhatian langsung kepada masyarakat dengan melihat perkembangan situasi dan permasalahan yang dapat mempengaruhi masyarakat. (Sujana dkk., 2020).

Tujuan Keperawatan Komunitas

Keperawatan komunitas atau keperawatan kesehatan komunitas adalah praktik memelihara dan meningkatkan kesehatan komunitas dengan menggunakan pengetahuan dari ilmu keperawatan, ilmu sosial, dan ilmu kesehatan masyarakat. Definisi lain dari keperawatan komunitas adalah suatu bentuk pelayanan profesional berdasarkan ilmu keperawatan yang secara khusus menyasar kelompok risiko tinggi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan menekankan pada upaya meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, dan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif ( Nur Kholifah & Widagdo, 2016b). Sasaran keperawatan kesehatan masyarakat adalah seluruh masyarakat, meliputi individu, keluarga, kelompok risiko tinggi, termasuk kelompok/komunitas yang tinggal di daerah kumuh, daerah terpencil, daerah konflik dan daerah yang tidak terjangkau pelayanan kesehatan. Keperawatan kesehatan masyarakat merupakan salah satu kegiatan utama Puskesmas yang telah ada sejak berdirinya Puskesmas diperkenalkan.

Keperawatan Kesehatan Masyarakat sering juga disebut PHN (Public Health Nursing), namun belakangan ini lebih tepat disebut CHN (Community Health Nursing). Promosi kesehatan di tempat pelayanan keperawatan setempat bertujuan sebagai upaya membantu masyarakat agar pola hidup sehatnya optimal. Promosi kesehatan tidak hanya sekedar mengubah gaya hidup saja, namun menjaga dan meningkatkan perilaku sehat merupakan tujuan yang juga akan dicapai.

Pencegahan penyakit adalah upaya untuk mencegah timbulnya penyakit pada kelompok berisiko, sedangkan penyembuhan adalah upaya yang dilakukan terhadap kelompok masyarakat yang terkena penyakit.

Teori Keperawatan

Definisi teori keperawatan

Tujuan Teori keperawatan

Model Keperawatan Komunitas

Selfcare (Orem)

Model ini berasumsi bahwa kesehatan masyarakat dapat tercapai ketika masyarakat mampu memenuhi kebutuhan perawatan dirinya. Terlebih lagi, ketika ada kebutuhan universal akan perawatan diri. kemandirian), sebagaimana di atas dapat terpenuhi, terutama kemampuan dalam mengedepankan interaksi sosial yang baik, maka masyarakat akan semakin dewasa dalam menghadapi permasalahan. Dari hal ini, keperawatan komunitas dapat berperan dalam memenuhi kebutuhan komunitas agar trauma tersebut tidak terlalu lama mempengaruhi fungsi manusia lainnya.

Logikanya, asuhan keperawatan di komunitas diperlukan karena ketidakmampuan komunitas dalam melakukan perawatan mandiri. c) Keperawatan. Tiga sistem keperawatan yang dapat digunakan perawat untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan seperti yang dijelaskan di atas. Tindakan perawatan diri merupakan respon masyarakat terhadap tuntutan untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri dalam upaya mencapai kesehatan.

Misalnya pada daerah yang mengalami bencana alam dimana masyarakat tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhannya, perawat komunitas dapat berkolaborasi lintas sektor atau program untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam situasi ini, masyarakat mampu memenuhi kebutuhan perawatan diri, namun harus dibimbing dan didukung oleh perawat dalam hal pengambilan keputusan, pengendalian perilaku, perolehan pengetahuan dan keterampilan. e) Lingkungan Hidup.

Model Health Care System menurut Betty Neuman

Model komunitas sebagai mitra (community as partner)

Stressor dapat datang dari dalam (kerentanan terhadap penyakit) dan dari luar (sosial, budaya dan kebijakan). Penilaian komunitas terdiri dari dua bagian utama yaitu komunitas inti (Core) dan delapan subsistem. Inti komunitas menjelaskan kondisi penduduk sebagaimana diuraikan pada (Demografi, Nilai dan Keyakinan, dan Sejarah Masyarakat).

Sedangkan delapan subsistem tersebut meliputi lingkungan fisik, pendidikan, keselamatan dan transportasi, kebijakan pemerintah, pelayanan kesehatan dan sosial, komunikasi, ekonomi, dan rekreasi.

Peran dan fungsi perawat komunitas

  • Manajer Kasus
  • Pelaksana asuhan keperawatan
  • Pendidik
  • Pembela (Advocate)
  • Konselor
  • Role Model
  • Penemu Kasus
  • Pembaharu

Salah satu peran penting perawat adalah memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat berdasarkan kebutuhan masyarakat atau keluarga. Pelaksanaan tindakan keperawatan langsung meliputi tindakan mandiri (seperti melakukan perawatan luka, melatih pernafasan dalam dan batuk efektif, latihan rentang gerak/roma, dan lain-lain) serta tindakan bersama (seperti pemberian obat anti tuberkulosis, dan lain-lain). . ). Jika berperan sebagai pendidik, mereka harus mampu memberikan informasi kesehatan dan mengedukasi masyarakat atau keluarga tentang upaya kesehatan yang dapat dilakukan masyarakat.

Fungsi-fungsi berikut dapat dilakukan oleh perawat komunitas dalam menjalankan perannya sebagai pendidik. a) Identifikasi kebutuhan pembelajaran yaitu apa yang ingin diketahui masyarakat, hal ini dapat diketahui pada saat perawat melakukan pengkajian masyarakat. Perawat dapat memainkan perannya sebagai advokat dengan mendukung pelayanan keperawatan yang berkualitas dan kompeten. Sikap perawat yang selalu berusaha meningkatkan kompetensinya guna menjaga mutu pelayanan keperawatan komunitas yang diberikan, merupakan contoh penerapan peran advokat.

Konsultan perawat memerlukan keahlian khusus, yaitu perawat adalah orang yang paham (ahli) di bidang keahliannya, dapat dipercaya membantu masyarakat atau keluarga dan mengembangkan coping konstruktif dalam pemecahan masalah. Perawat juga dapat menawarkan berbagai solusi yang dipesan lebih dahulu. menentukan cara yang lebih baik untuk memecahkan masalah tersebut. Perawat dapat menjadi teladan yang baik di masyarakat dan keluarga. Contohnya adalah perawat yang ingin meningkatkan keterampilannya, berperilaku sehat dan bertanggung jawab terhadap tugasnya sebagai perawat komunitas.

Peran lain yang dapat dilakukan oleh perawat komunitas adalah keterlibatannya dalam penelusuran kasus komunitas atau keluarga, untuk kemudian melakukan kajian mengenai apa yang dibutuhkan komunitas. Hal ini penting dilakukan karena perubahan merupakan sesuatu yang baru yang memerlukan dukungan. b) Membantu menyalurkan dan memotivasi perubahan. Melalui penelitian, perawat komunitas dapat mengidentifikasi permasalahan praktik dan mencari jawabannya melalui pendekatan ilmiah (Nur Kholifah & . Widagdo, 2016a).

Pengkajian Winshield Survey

Tampakan umum - Halaman, jalan,

PENGKAJIAN INTI KOMUNITAS

PENGKAJIAN 8 SUBSISTEM KOMUNITAS Pengkajian Sub Sistem

Terdapat sistem dukungan sosial yang baik di masyarakat, seperti perumahan, tempat ibadah dan tempat pertumbuhan ekonomi lainnya. Pelayanan kesehatan dipusatkan di Puskesmas Minggir dan apabila tidak ditangani maka akan dirujuk ke RS terdekat. Penduduk tidak mempunyai batasan dalam hal transportasi karena sudah mempunyai sepeda motor dan mobil sendiri.

Pemerintah Kecamatan Sendangsai bekerja sama dengan Puskesmas marginal dan kader posyandu untuk menurunkan angka stunting.

PERSEPSI

PENGKAJIAN KEBIJAKAN STUNTING No Narasumber Nama

Kebijakan stunting Kecamatan Sendangsari Kebijakan stunting bekerjasama dengan berbagai pihak Puskesmas Kecamatan yaitu anggaran sebesar Rp. PMT memasak bersama orang tua balita, sosialisasi, pemantauan gizi langsung di rumah oleh kader bagi balita yang berhalangan hadir.

ANALISIS DATA KOMUNITAS

ANALISIS DATA KOMUNITAS

Kesenjangan data: data sebelumnya diperlukan untuk menentukan apakah data tinjauan sistem berdampak pada perilaku kesehatan. Kemampuan masyarakat dalam menyediakan pangan sehat dan bergizi kepada keluarga cukup baik dengan menyediakan bahan pangan lokal di daerahnya. Kesenjangan data: data sebelumnya diperlukan untuk menentukan apakah data ekonomi mempengaruhi kemampuan masyarakat dalam menyediakan pangan sehat dan bergizi.

Kesenjangan data: Data sebelumnya diperlukan untuk menentukan apakah data pendidikan mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan warga negara dalam menerima informasi.

PRIORITAS MASALAH ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

FORMAT RENCANA KERJA (POA) ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

Kebijakan stunting sendiri di Kabupaten Sendangsari sudah baik, berbagai pihak terkait sangat aktif dalam memerangi masalah stunting. Upaya yang dilakukan adalah inovasi PERAWAN CERIA (perawatan wanita dan pencegahan anemia remaja), PECAH TRANTING (pencegahan stunting), PMT, pemantauan gizi, kader sebaya, BPKR dan masih banyak program lain yang ada yang bekerjasama dengan Puskesmas Minggir. Pemberdayaan kader posyandu harus benar-benar ditingkatkan untuk mencegah dan mengatasi masalah stunting dengan pelatihan atau penyuluhan Puskesmas Minggir tentang stunting, PMT dan PHBS.

Memotivasi orang tua anak kecil untuk mengikuti kegiatan posyandu merupakan tugas kader posyandu agar anak selalu dapat diawasi. Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat di kabupaten Sendangsari diberikan melalui berbagai pendidikan kesehatan kehamilan, PMT. Kegiatan edukasi yang ditawarkan menyegarkan ingatan para kader posyandu dan juga memberikan pengetahuan baru tentang kader posyandu.

Rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan adalah kepala desa terus bekerja sama dengan Puskesmas Minggir untuk memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada kader posyandu, serta melakukan pemantauan gizi. Faktor risiko stunting pada anak di 137 negara berkembang: analisis penilaian risiko komparatif di tingkat global, regional dan negara.

Referensi

Dokumen terkait