Negosiasi - Rapat pleno dan rapat dalam kelompok badan konvensi dan protokol, terdiri dari :. (i) sesi ke-46 dari Subsidiary Body for Implementation (SBI-46). ii) sesi ke-46 dari Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA-46) (iii) bagian ketiga dari sesi pertama Adhoc Working Group on the Paris Agreement (APA1.3) (iv) dimulai dengan : G-77 & China Preparatory Meeting 5 dan 7 Mei 2017. Pertemuan tersebut bertujuan untuk mendorong kemajuan implementasi Perjanjian Paris (PA) melalui penjabaran modalitas, prosedur dan pedoman berbagai aspek Perjanjian PA. Beberapa isu kunci yang muncul dalam sidang tersebut antara lain: implementasi Paris Agreement (PA); persiapan untuk COP-23 di Bonn, 17-6-2018 Nopember 2017; dan persiapan untuk memfasilitasi dialog pada tahun 2018.
Dalam pertemuan dua hari tersebut, Kelompok G77 dan China dengan Ekuador sebagai ketua G77 dan China pada tahun 2017 memfokuskan pembahasan pada aspek kritis dalam negosiasi pasca-Paris, yaitu kesimpulan dari Paris Agreement Regulations (PA) . Delegasi Indonesia juga menghadiri sejumlah acara yang dimandatkan, termasuk dialog pemangku kepentingan untuk meningkatkan masukan dari masyarakat adat dan komunitas lokal; lokakarya peningkatan partisipasi pemangku kepentingan non-partisan; seminar gender; serta rangkaian pertemuan pakar di bidang mitigasi dan penanggulangan. Dalam rangka memantau perkembangan jalannya perundingan yang diikuti oleh setiap anggota delegasi Indonesia dalam setiap agenda yang diikutinya, serta memantapkan posisi delegasi Indonesia terhadap dinamika jalannya perundingan, DELRI Koordinasi Harian dilaksanakan pada prinsipnya setiap hari waktu setempat.
Indonesia khususnya dalam sesi negosiasi SBSTA menyoroti kepentingan Indonesia terkait transfer teknologi, pentingnya pembahasan pertanian, Pasal 6 Perjanjian Paris mengenai alternatif sumber pendanaan iklim, serta modalitas mengamankan dana dan memobilisasi dana tersebut. Banyak pekerjaan rumah bagi Indonesia pasca BCCC-Mei 2017 dan diharapkan seluruh anggota delegasi Indonesia yang hadir pada sesi ini segera mengetahui hasil tersebut.
MATRIK LAPORAN PERSIDANGAN DAN NON PERSIDANGAN
Delegasi Republik Indonesia
Modalities and Procedures
Modalitas dan prosedur Komite harus dihasilkan dari unsur-unsur yang disepakati sebagaimana tercantum dalam Pasal 15 Perjanjian Paris dan paragraf 102 dan 103 Dec.1/CP.21, yaitu:. i) Prinsip-prinsip yang mendasari Komite adalah: fasilitatif, transparan, non-adversarial, non-punitif, dan memberi perhatian khusus pada kapasitas nasional dan keadaan masing-masing Pihak. Dengan persyaratan persetujuan untuk memfasilitasi mekanisme implementasi. mekanisme ini dilemahkan karena mekanisme tersebut tidak akan berjalan jika negara keberatan. Di sisi lain, jika tidak ada persyaratan persetujuan, mekanisme ini menjadi lebih kuat untuk memaksa peserta.
A term of reference (TEV) must be developed and agreed upon by the parties. The TOV must include, among other things: working method, review mechanism, time frame and cycle of review, and process for formulating recommendation. In accordance with the APA mandate, the APA may recommend the draft TOR through the COP (Conference of the Parties to the Convention) to the CMA for consideration and adoption. ii) To ensure the facilitating nature of the Committee, the work of the Committee must link with other relevant mechanisms of the Convention and/or Agreement, such as those on modes of implementation. iii) The Committee must be equipped with a follow-up mechanism.
Elements to be addressed
The framework identifies implementation gaps by the parties, this serves as a trigger for the committee to initiate a review. Another possible triggering mechanism is a party's self-declaration regarding the party's implementation status - The purpose of the review is to identify .. possible areas for support, based on the needs and priorities of that party. In connection with the review, reference sources include: a) Direct consultations with the affected parties, b) Various relevant reports under the transparency framework, c) Reports on other relevant mechanisms in the Convention and/or Agreement.
In its work, the Committee should also identify common challenges faced by many Parties or in relation to a particular issue. Based on the common challenges identified, the committee should also conduct thematic reviews such as climate change financing implementation gaps, common challenges facing archipelagic countries, etc. To ensure effective implementation of the agreement, the scope of the review must be comprehensive and include mitigation, adaptation and means of implementation (financial support, technology development and transfer, and capacity building). iv) timeframe and review cycle There should also be a specific timeframe and cycle for the implementation review.
POSITION INDONESIA PROGRESS DAN HASIL PERSIDANGAN NOTES PENGAMATAN/. addressed to a party or other relevant mechanisms in the convention and/or agreement. The recommendation can only be followed after the committee has carried out appropriate consultations with the party concerned, and.
Link with other relevant mechanisms of the Convension
Follow up mechanism
How to take the work further under this agenda item
APA 8(a) Preparation of the convening of the first session of the Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties in Paris. AFB remains under the authority of the CMP - AFB is moved completely under the authority. The AFB operates both under the authority of the CMP and the CMA (either indefinitely or temporarily until PA institutions and mechanisms are fully operational).
Progress and procedural steps to enable the forum on the impact of the implementation of response measures to. Indonesia is of the opinion that the Technology Framework should effectively guide the implementation of technology transfer and development.
Development of case studies on the impact of implementation of response measures and links to economic diversification and sustainable development. Increasing the role of the parties in providing leadership and continuity in the work of the Forum, providing support especially for the participation of developing countries. SBSTA 8(a) Review of UNFCCC reporting guidelines on annual inventories for Parties included in Annex I to the Convention;.
SBSTA 10(b) Rules, modalities and procedures for the mechanism established by Article 6(4) of the Paris Agreement;. Persidangan pada minggu pertama dilakukan dua kali Informal consultation on the scope and modalities for the periodic review of the technology mechanism related to support for the implementation of the Paris Agreement (agenda item 10 SBI). 7(b) Modalities, work program and functions under the Paris Agreement of the forum on the impact of the implementation of response measures.
Pada prinsipnya, keterlibatan pemangku kepentingan non-Pihak dalam Konvensi dan Perjanjian Paris harus berorientasi pada pihak dalam proses UNFCCC.
LAPORAN DELEGASI REPUBLIK INDONESIA UNTUK AGENDA NON PERSIDANGAN BONN CLIMATE CHANGE CONFERENCE, 8-18 MEI 2017
Article 6 of the Paris Agreement roundtable discussions among Parties
Pertemuan Bilateral Indonesia - Norwegia
10 Mei 2017 Pertemuan TEM on Forestry and Land Use (FOLU) di Bonn menghadirkan pembicara dari beberapa negara serta lembaga penelitian dan LSM. 10 Mei 2017 Pertemuan peningkatan kapasitas pada tanggal 10 Mei 2017 diselenggarakan sebagai acara yang diamanatkan yaitu pertemuan ke-6 Durban Forum on Capacity Building. 13 Mei 2017 Tema pertemuan dibagi menjadi 3 (tiga) bagian: (1) update kegiatan lembaga pembiayaan REDD+ mengenai kebutuhan dan tantangan terkait akses dan koordinasi dukungan (GCF, GEF, WB);. 2) gambaran pengalaman dan pembelajaran negara-negara REDD+ terkait upaya memobilisasi dan mengkoordinasikan dukungan untuk implementasi REDD+; dan (3) pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam mengkoordinasikan dukungan dari pihak-pihak terkait yang mendukung aksi REDD+ (TNC, WWF, Amsterdam Declaration).
15 Mei 2017 Kegiatan dimulai dengan pemaparan best practice dan pembelajaran dari beberapa negara tentang caranya. Adapun untuk mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam kurikulum, ini akan menjadi salah satu rencana aksi strategis Indonesia. Kelompok kerja yang kami ikuti membahas pelibatan pemangku kepentingan non-partisan dalam pelatihan perubahan iklim.
13 Indigenous People Platform (IPP) 16 Mei 2017 Dialog Multipihak tentang operasionalisasi lokal Hasil observasi selama pertemuan tersebut adalah. 9 Mei 2017 Halaman Acara Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) terkait dengan hasil dari Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice Sesi ke-45 Marrakech, 7-14 November 2016, di mana WMO diminta melaporkan kemajuan kegiatan untuk berkontribusi pada desain inventarisasi global. 9 Mei 2017 Pertemuan diadakan atas permintaan Presiden COP saat ini dan yang akan datang (COP 22 dan COP 23), dalam hal ini diwakili oleh Duta Besar Aziz Mekouar (Maroko) dan Duta Besar Nazhat Khan (Fiji). Pertemuan serupa dilakukan oleh kedua Dubes dengan Mayor.
Sesi pleno diadakan pada 13 Mei 2017 untuk membahas hubungan antara Agenda 2030 tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Perjanjian Paris. 12 Mei 2017 • Dipandu oleh TEC, acara khusus ini bertujuan untuk mendorong inovasi dalam teknologi untuk manajemen perubahan iklim, minimalisasi biaya teknologi, pentingnya penelitian dan pengembangan (R&D) dan pembangunan kapasitas untuk meningkatkan inovasi. 7 COP-23 Logistics Briefing 16 Mei 2017 Sebagai persiapan COP 23, Kepresidenan Fiji bekerja sama dengan pemerintah Jerman dan Sekretariat UNFCCC.
May 17, 2017 OECD ingin membantu CCEG membuat makalah dan panduan terkait dengan kebutuhan negara berkembang; 17 Mei 2017 Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu 17 Mei 2017 di Room Berlin, World Climate Conference Center, bekerja sama dengan The International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan The International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA) mengadakan side event dengan dengan tema Kontribusi Restorasi Bentang Alam Hutan untuk NDC. Korea Selatan 15 Mei 2017 Pertemuan tersebut membahas peluang kerjasama penanggulangan perubahan iklim dengan Indonesia (kerja sama bilateral dalam merespon perubahan iklim).
SUSUNAN DELEGASI REPUBLIK INDONESIA
PADA PERTEMUAN BONN CLIMATE CHANGE CONFERENCE (SBI-46, SBSTA-46, APA1.3) AND ITS PREPARATORY MEETINGS,
BONN, JERMAN, 5 – 18 MEI 2017
Nur Masripatin
Vennetia Ryckerens Danes
Muhsin Syihab
Emma Rachmawaty
Sri Tantri Arundhati
Kindy Rinaldy Syahrir
Ida Dwi Nilasari
Rahayu Kadarwati
Endang Tri Septa Kurniawati
Ratna Susianawati
Valentina Gintings
Muhammad Ihsan
Nyimas Aliah
Nanik Purwanti
Agus Wibowo
Hari Prabowo
Dhani Eko Wibowo
Fivi Diawati
Santi Herlina Zaenab
Theodorus Djoko Rahwidiharto
Banyu Alam Badru
Andreas Albertino Hutahaean Kepala Bidang Industri Maritim,
Novia Widyaningtyas
Arif Wibowo
Syaiful Anwar
Belinda Arunarwati Margono
Ardina Purbo
Endah Tri Kurniawaty
Ajeng Rachmatika Dewi Andayani
Riena Dwi Astuty
Yusnani Devanoni Prasadja
Rizky Aulia Rahman
Purita Pringgasari
Anastasi Rita Tisiana Dwi Kuswardani
Any Adelina Hutahuruk
Umi Yanti Febriana Silalahi
Muhammad Farid
Gamma Nur Merrilia Sularso
WORKSHOPS, MANDATED, AND SPECIAL EVENTS
BILATERAL MEETINGS
RAPAT KOORDINASI DELRI
RAPAT KOORDINASI DELRI MINGGU PERTAMA
RAPAT KOORDINASI DELRI MINGGU KEDUA