LAPORAN KULIAH PRAKTIK INDUSTRI DI
PT. BRIDGESTONE SUMATRA RUBBER ESTATE DOLOK MERANGIR SERBELAWAN-21155
SUMATRA UTARA, INDONESIA
OLEH:
HENOKH SITORUS NIM. 180405101 EVA EKLESIA S NIM. 180405105
DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2022
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KULIAH PRAKTIK INDUSTRI DI
PT. BRIDGESTONE SUMATERA RUBBER ESTATE (BSRE) DOLOK MERANGIR SERBELAWAN, 21155 SUMATERA UTARA
Periode:
01 November sampai 15 November 2021 OLEH:
HENOKH SITORUS 180405101 EVA EKLESIA S 180405105
Diketahui/Disetujui,
Medan, 2 2 April 2022
Dosen Pembimbing Dosen Penguji
Mersi Suriani Sinaga, ST., MT. M. Hendra S Ginting ST.,MT
NIP. 196808061998022001 NIP. 197009191999031001
Kordinator Kuliah Praktik Industri
Dr. Iriany, M.Si, NIP. 196406131990032001
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat TUHAN YESUS, atas kasih karunia-Nya, laporan kerja praktek ini dapat diselesaikan dengan baik. Kuliah Praktik Industri yang dilakukan di Pabrik Karet PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate, Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara ini dilaksanakan mulai 1 November 2021 sampai 15 November 2021. Kuliah Praktik Industri merupakan salah satu mata kuliah wajib di jurusan Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara yang juga merupakan syarat kelulusan dengan bobot 2 SKS. Kuliah Praktik Industri juga bertujuan agar mahasiswa dapat melihat kesinambungan antara pelajaran yang didapatkan di bangku perkuliahan, dengan yang ada di lapangan pekerjaan. Dalam pelaksanaan Kuliah Praktik Industri dan penyusunan laporan ini, penulis mendapatkan bimbingan, motivasi, serta dukungan dari berbagai pihak.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Mersi Suriani Sinaga, ST., MT. selaku Dosen Pembimbing atas bimbingan dan pengarahannya membimbing penulis dalam menyelesaikan laporan Kuliah Praktik Industri.
2. Bapak Richard Siahaan selaku General Manager Administration yang telah memberikan kesempatan untuk Kuliah Praktik Industri di PT.
Bridgestone Sumatera Rubber Estate.
3. Bapak Freddy Wahyudi selaku Pembimbing Lapangan dan Asisten Quality Control Department atas segala bantuan, pengarahan dan bimbingannya selama melaksanakan Kuliah Praktik Industri.
4. Bapak Dedi Wahyudi selaku Senior Asisten Quality Control Department yang telah memberikan kesempatan untuk Kuliah Praktik Industri di PT.
Bridgestone Sumatera Rubber Estate.
5. Bapak Bambang Irmawan selaku pegawai di Quality Control Department yang telah membantu penulis dan tim dalam melaksanakan tugas khusus di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate
6. Bapak-bapak asisten, mandor dan pegawai di Quality Control Department, Processing Department, Safety and Health Enviroment Department dan Raw Material Receiving Department yang telah memberikan kesempatan dan pengarahan selama Kuliah Praktik Industri.
7. Ibu Maya Sarah, S.T., M.T., Ph.D, IPM selaku Ketua Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.
8. Ibu Dr. Ir. Iriany, M.Si. selaku Koordinator Kuliah Praktik Industri Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.
9. Orang tua dan seluruh keluarga yang telah memberikan dorongan moril maupun materil selama ini.
10. Rekan tim Kuliah Praktik Industri, Fierda Marpaung dan Jeremy Steven Simangunsong yang telah membantu dalam pelaksanaan Kuliah Praktik Industri maupun beradaptasi di lingkungan Dolok Batu Nanggar selama 2 minggu.
11. Bapak Elisa Sinaga, S.T, M.M yang telah memperkenalkan dan menyarankan PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate kepada penulis Henokh Sitorus sebagai tempat untuk Kuliah Praktik Industri.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik sebagai tambahan pengetahuan untuk kesempurnaannya dan penulis berharap semoga laporan Kuliah Praktik Industri ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Dolok Batu Nanggar, 15 November 2021
Penulis 1 Penulis 2
Henokh Sitorus Eva Eklesia S
180405101 180405105
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan Kuliah Praktik Industri ... 2
1.2.1 Tujuan Umum ... 2
1.2.2 Tujuan Khusus ... 3
1.3 Manfaat Kuliah Praktik Industri ... 3
1.3.1 Bagi Perusahaan ... 3
1.3.2 Bagi Perguruan Tinggi... 3
1.3.3 Bagi Mahasiswa ... 4
1.4 Ruang Lingkup Kuliah Praktik Industri ... 4
1.5 Metode Pengumpulan Data ... 4
1.6 Flowchart Pelaksanaan Kuliah Praktik Industri... 5
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... 7
2.1 Sejarah Perusahaan... 7
2.2 Ruang Lingkup Bidang Usaha ... 10
2.3 Lokasi PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate ... 11
2.4 Proses Produksi ... 13
2.5 Standar Mutu Produk ... 14
2.6 Daerah Pemasaran ... 14
2.7 Struktur Organisasi PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate ... 15
2.8 Dampak Sosial Ekonomi Terhadap Lingkungan ... 17
BAB III URAIAN PROSES PRODUKSI ... 19
3.1 Bahan Baku ... 19
3.1.1 BSRE Lump ... 19
3.1.2 Out Purchase Lump C1 ... 19
3.1.3 Out Purchase Lump C2 ... 20
3.2.1 Plastik ... 20
3.2.2 Pallet ... 20
3.2.3 Bahan Penolong ... 21
3.3 Uraian Proses ... 21
3.3.1 Penerimaan Bahan Baku ... 22
3.3.2 Proses Pencucian, Pemotongan, dan Ekstruksi ... 23
3.3.3 Finishing Product ... 26
3.4 Mesin dan Peralatan Produksi ... 29
3.4.1 Mesin Produksi... 29
3.4.2 Peralatan Produksi ... 32
BAB IV UTILITAS DAN PENGOLAHAN LIMBAH ... 35
4.1 Utilitas ... 35
4.2 Sumber Air ... 35
4.3 Tenaga Listrik ... 35
4.4 Bahan Bakar ... 36
4.5 Pengolahan Limbah ... 36
BAB V TUGAS KHUSUS “Pengaruh Komposisi Bahan Baku Terhadap Kualitas Produk Pada Sir 20 CV Di PT.Bridgestone Sumatra Rubber Estate” .. 41
5.1 Tujuan Tugas Khusus ... 41
5.2 Tinjauan Pustaka ... 41
5.2.1 Kualitas ... 42
5.2.2 Kadar Kotoran (Dirt Content) ... 42
5.2.3 Kadar Abu (Ash Content) ... 43
5.2.4 Nilai Plastisitas Awal (Po) ... 43
5.2.5 Nilai Plasticity Retention Index (PRI) ... 43
5.2.6 Mooney Viscocity (Viskositas Mooney) ... 44
5.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tugas Khusus ... 44
5.4 Objek Tugas Khusus ... 44
5.5 Metodologi Tugas Khusus ... 44
5.5.1 Alat dan Bahan ... 45
5.5.1.1 Alat-alat ... 45
5.5.1.2 Bahan-bahan ... 45
5.5.2 Prosedur Kerja ... 45
5.6 Hasil dan Pembahasan ... 48
5.6.1 Hasil Pengamatan ... 48
5.6.1 Pembahasan ... 49
5.6.2.1 Perbandingan Dirt Content SIR 20 CV Terhadap Nilai Ketetapan SIR ... 51
5.6.2.2 Perbandingan Ash Content SIR 20 CV Terhadap Nilai Ketetapan SIR ... 52
5.6.2.3 Perbandingan Plasticity Original SIR 20 CV Terhadap Nilai Ketetapan SIR ... 53
5.6.2.4 Perbandingan Plasticity Retention Index SIR 20 CV Terhadap Nilai Ketetapan SIR ... 54
5.6.2.5 Perbandingan Mooney Viscocity SIR 20 CV Terhadap Nilai Ketetapan SIR ... 55
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 56
6.1 Kesimpulan ... 56
6.2 Saran ... 57
DAFTAR PUSTAKA ... 58 LAMPIRAN A LEMBAR PERHITUNGAN... LA-1 LAMPIRAN B DOKUMENTASI SAMPEL... LB-1 LAMPIRAN C DOKUMENTASI KULIAH PRAKTIK INDUSTRI ... LC-1
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Flowchart Pelaksanaan Kuliah Praktik Industri ... 5 Gambar 2.1 Lokasi PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate ... 12 Gambar 2.2 Struktur Organisasi PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate ... 16 Gambar 3.1 Flowchart Proses Produksi Crumb Rubber PT. Bridgestone Sumatra
Rubber Estate ... 28 Gambar 4.1 Flowchart Pengolahan Limbah ... 40 Gambar 5.1 Perbandingan Dirt Content SIR 20 CV Terhadap Nilai Ketetapan
SIR ... 51 Gambar 5.2 Perbandingan Ash Content SIR 20 CV Terhadap Nilai Ketetapan Ash Content SIR ... 52 Gambar 5.3 Perbandingan Plasticity Original SIR 20 CV Terhadap Nilai
Ketetapan Plasticity Original SIR ... 53 Gambar 5.4 Perbandingan Plasticity Retention Index SIR 20 CV Terhadap Nilai Ketetapan Plasticity Retention Index SIR ... 54 Gambar 5.5 Perbandingan Mooney Viscocity SIR 20 CV Terhadap Nilai
Ketetapan Mooney Viscocity SIR ... 55 Gambar B.1 Komposisi Sampel Karet Sebelum Penggilingan...LB-1 Gambar B.2 Komposisi Sampel Karet Sesudah Penggilingan…...LB-1 Gambar C.1 Monumen Ban Terbesar di Dunia di PT. BSRE...LC-1 Gambar C.2 Tim Kuliah Praktik Industri Bersama Pembimbing Lapangan di
PT. BSRE...LC-1
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Lokasi PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate ... 11 Tabel 5.1 Analisa Komposisi Bahan Baku SIR 20 CV... 48 Tabel 5.2 Nilai Standar Indonesia Rubber ... 49
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
Karet adalah salah satu bahan baku yang banyak digunakan dalam industri. Karet sendiri terbagi menjadi dua jenis yaitu karet alam dan karet sintetis. Karet alam merupakan salah satu hasil perkebunan yang tersebar di Indonesia. Produk yang dihasilkan dari perkebunan karet alam adalah lateks. Lateks adalah getah pohon dari tanaman karet (Hevea brasiliensis sp) yang diperoleh dengan cara penyadapan. Komposisi utama lateks karet alam terdiri dari partikel karet (poliisoprena), air, dan bahan- bahan lain yang bukan karet (Vachlepi, Afrizal dan Mili Purbaya, 2018).
Karet Blok atau Karet Spesifikasi Teknis (TSR) yang dikenal dengan istilah “crumb rubber” adalah salah satu dari beberapa cara karet padat disajikan untuk kenyamanan penanganan, kontrol kualitas, dan tujuan pemasaran. Karet blok pertama kali diperkenalkan di Malaysia pada tahun 1965 dan pada tahun 2000, karet blok dengan kadar TSR menyumbang lebih dari 80% dari semua karet yang diperdagangkan secara internasional (Dewi., dkk, 2020)
PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate (BSRE) adalah suatu perusahaan perkebunan yang terlibat langsung dalam penanaman, pemeliharaan dan eksploitasi pohon karet (rambung) dan pengolahan karet untuk menghasilkan karet remah (crumb rubber). PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate berada di Kebun Dolok Merangir, Serbalawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar 21115, Sumatera Utara, Indonesia.
PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate saat ini memiliki pabrik pengolahan crumb rubber seluas 106.537 m2 dan mempunyai 5 (lima) pabrik pengolahan, yakni :
1. DX Factory (Dolok Merangir Expansion Factory) 2. DM Factory (Dolok Merangir Factory)
3. FM Factory (Foom Factory) 4. NB 1 Factory (New Bridgestone 1) 5. NB 2 Factory (New Bridgestone 2)
Operasi daripada kelima pabrik pengolahan tersebut dalam pengolahan crumb rubber pada dasarnya sama, hanya saja perbedaannya terletak pada spesifikasi mutu teknis bahan pembuatan crumb rubber nya.
Kuliah Praktik Industri selain sebagai salah satu syarat akademis di Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara juga merupakan salah satu bentuk implementasi secara sistematis serta sinkronisasi antara program pendidikan di perkuliahan dengan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan kerja secara langsung di dunia kerja untuk mencapai tingkat keahlian tertentu, dimana melalui Kuliah Praktik Industri setiap peserta yaitu mahasiswa dapat mempelajari secara langsung keadaan dilapangan kerja dan perbandingannya dengan teori yang didapat selama dibangku perkuliahan.
Hal inilah yang mendorong penulis melakukan Kuliah Praktik Industri di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate (BSRE) yang dilakukan dari tanggal 1 November 2021 sampai dengan 15 November 2021 sehingga dapat menambah wawasan berpikir tentang permasalahan-permasalahan yang ada dalam industri dan cara menanganinya, serta menjadi sumber atau pengalaman yang bermanfaat bagi penulis terutama dalam mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama kuliah di Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.
1.2 TUJUAN KULIAH PRAKTIK INDUSTRI 1.2.1 Tujuan Umum
1. Menjadikan mahasiswa sebagai sumber daya manusia yang memiliki kemampuan profesional yang dibutuhkan dalam dunia kerja.
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui secara langsung pekerjaan dan kegiatan yang ada di industri sehingga dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah ke dunia kerja.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Berlatih untuk mendisiplinkan diri dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan.
2. Menjalin kerjasama antara institusi pendidikan dan industri dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
3. Memenuhi salah satu mata kuliah wajib dalam kurikulum Pendidikan Sarjana Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara.
4. Sebagai dasar penyusunan laporan kuliah praktik industri.
1.3 MANFAAT KULIAH PRAKTIK INDUSTRI 1.3.1 Bagi Perusahaan
1. Dapat Menjalin hubungan baik dengan Lembaga Pendidikan khususnya Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara.
2. Sebagai Bahan masukkan bagi pimpinan perusahaan dalam rangka memajukan pembangunan di bidang Pendidikan dan dalam peningkatan efisiensi.
3. Memberi peluang pada perusahaan/instansi dalam merekrut pegawai yang sesuai dengan tuntunan secara efektif dan efisien.
4. Sebagai sumbangan perusahaan dalam memajukan pembangunan di bidang Pendidikan.
1.3.2 Bagi Perguruan Tinggi
1. Mendapat umpan balik untuk meningkatkan kualitas Pendidikan sehingga sesuai dengan perkembangan dunia industri.
2. Sebagai tambahan referensi khususnya mengenai perkembangan industri di Indonesia maupun proses dan teknologi yang mutakhir, serta dapat digunakan oleh pihak- pihak yang membutuhkan.
1.3.3 Bagi Mahasiswa
1. Memahami berbagai aspek perusahaan seperti aspek teknik proses, aspek pemasaran, organisasi, ekonomi, persediaan, dan sebagainya.
2. Memperoleh kesempatan untuk melatih keterampilan dalam melakukan pekerjaan atau kegiatan lapangan.
3. Dapat membandingkan teori-teori yang diperoleh di perkuliahan dengan praktek lapangan.
4. Memahami cara mengumpulkan data dari lapangan guna penyusunan laporan kuliah praktik. Melatih kemampuan bersosialisasi dengan situasi kerja.
1.4 RUANG LINGKUP KULIAH PRAKTIK INDUSTRI
Kuliah Praktik Industri dilaksanakan di PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate (BSRE) Dolok Merangir Serbelawan, Sumatera Utara dari 01 November s/d 15 November 2021, meliputi bidang yang berkaitan dengan disiplin ilmu Teknik Kimia yaitu proses pengolahan crumb rubber.
Dan bersifat pengamatan berdisiplin dan bertanggung jawab.
1.5 METODE PENGUMPULAN DATA
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Observasi lapangan
Metode yang dilakukan dengan cara pengamatan langsung pada proses pengolahan getah karet.
2. Dokumentasi atau referensi
Metode yang dilaksanakan dengan cara pengambilan data melalui dokumen tertulis maupun referensi yang tersedia dari PT.
Brigestone Sumatra Rubber Estate.
3. Studi literatur
Metode yang dilaksanakan dengan cara pengumpulan sumber- sumber literatur dari elektronik yang berkaitan dengan laporan ini.
Mulai
Disetujui? Tidak
Ya
Ganti Perusahaan
Penerimaan Surat Kerja Praktek
1.6 FLOWCHART PELAKSANAAN KULIAH PRAKTIK INDUSTRI Berikut ini merupakan flowchart pelaksanaan kerja praktek.
A
Pelaksanaan Kerja Praktek
Pengumpulan Data Khusus Pengumpulan Data Umum
Tidak Permohonan Kerja Praktek
Disetujui?
Ya
Penjajakan ke Perusahaan
Disetujui?
Ya Seminar Kerja Praktek Asistensi Laporan Kerja Praktek
Selesai
Penyerahan/ Peniliain Hasil Kerja Praktek Tidak
Gambar 1.1 Flowchart Pelaksanaan Kuliah Praktik Industri Lulus
A
Penulisan Laporan Kerja Praktek
BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
2.1 SEJARAH PERUSAHAN
PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate berada di Kebun Dolok Merangir, Serbalawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Sumatera Utara yang bergerak dalam bidang perkebunan dan pengolahan getah karet berupa barang setengah jadi yang disebut Crumb Rubber atau SIR (Standard Indonesian Rubber).
Pada awalnya PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate ini bernama Goodyear Tire and Rubber, Co. yang diambil dari penemu proses vulkanisasi belerang yaitu Charles Goodyear. PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate merupakan anak perusahaan dari Bridgestone Tire and Rubber Company yang berpusat di Akron, Ohio, Amerika Serikat. Tahun 1916, Perusahaan perkebunan dan pengolahan karet di Dolok Merangir dibeli oleh perusahaan Goodyear dari Vrenide Indice Coltounderneering (VICO), yaitu salah satu perusahaan Belanda yang dipimpin oleh J.J.
Blandeing.
Pada Tahun 1917 dilakukan usaha penanaman pohon karet pertama sekali di perkebunan Dolok Merangir. Beberapa pabrik didirikan dengan nama DM, DX dan FM. Tahun 1927, Planning Research Departement (PRD) dan Chemical Research Departement (CRD) didirikan, sekarang PRD diganti menjadi Field Service Departement (FSD) dan CRD diganti menjadi Quality Control Departement (QCD). Sekitar tahun 1942-1945 setelah berakhirnya Perang Dunia II, bangsa Jepang menguasai pulau Sumatera dan usaha perkebunannya termasuk perkebunan karet di Dolok Merangir. Namun, karena rakyat Indonesia mengadakan perlawanan terhadap bangsa Jepang maka Jepang pun mengalami kekalahan dan kemudian angkat kaki dari Indonesia. Setelah bangsa Jepang tidak lagi berada di Indonesia, sekitar tahun 1946-1949 perkebunan karet di Dolok Merangir diorganisir dan dibawahi oleh pemerintah militer Belanda, tetapi perkebunan ini tidak menghasilkan keuntungan. Tahun 1965, pemerintah
Indonesia menasionalisasi perusahaan ini melalui Badan Nasionalisasi Perusahaan Belanda yang diberi nama Perusahaan Perkebunan Negara (PPN), Sekitar tahun 1965-1967 Goodyear diambil oleh pemerintah Indonesia berdasarkan Pempres No. 6/1964 sebagai akibat dari politik Dwikora yaitu penggayangan terhadap Malaysia. Penguasaan manajemen diambil alih dan namanya diganti dengan PP Ampera I yang kemudian dilebur menjadi PPN Karet XVIII.
Tahun 1967 oleh Pemerintah Orde Baru, manajemen perusahaan ini diserahkan kepada pemiliknya dan sebagaimana di dalam perjanjian antara Pemerintah RI dengan pihak Goodyear tertanggal 10 Oktober 1967.
Kebun Aek Nabara diserahkan kepada negara dan sebagai gantinya kebun Dolok Ulu dan Naga Raja yang sebelumnya milik negara diserahkan kepada Goodyear. Ketiga perkebunan tersebut adalah berlokasi di Dolok Merangir, Dolok Ulu, dan Naga Raja. Ketiganya dijadikan satu unit dan dibagi atas 4 divisi yang luasnya masing- masing sama. Pada tahun itu juga, kebun Naga Raja dan Dolok Ulu beralih dari PPN menjadi milik perusahaan Goodyear.
Pada 1967, setelah vakum selama dua tahun Goodyear menjadi perusahaan koorporasi multi nasional pertama yang diperbolehkan masuk kembali ke Indonesia yang kemudian memulai kembali pengoperasian perkebunan. Pemerintah Indonesia telah memperbolehkan melakukan eksploitasi perkebunan dengan baik selama 30 tahun. Pada tahun 1977, Goodyear mendirikan pabrik juga di Aek Tarum. Perkebunan PT. Haboko Tea Coy Aek Tarum diurus oleh Goodyear dari PT. Lonsum pada tanggal 1 Oktober 1982. Pada tahun 1988, Goodyear berganti nama dari Goodyear Sumatra Plantations Company Ltd., menjadi PT. Goodyear Sumatra Plantations (GSP). Pada tahun 1996, PT. Goodyear Sumatra Plantations menjual 5% sahamnya untuk berdikari dalam persiapan mendapatkan hak paten baru, dan di tahun 1997 pemintaan untuk perpanjangan 30 tahun hak eksploitasi telah diterima.
Kepemilikan saham perusahaan PT. Goodyear Sumatra
Coorporation (Jepang) dengan nama perusahaan PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate yang merupakan badan hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia sejak tanggal 9 Agustus 2005, peralihan kepemilikan dan perubahan nama perusahaan tersebut tercantum dalam Keputusan Sirkuler pada Akte Notaris No. 80 Persetujuan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI No. C-02583 HT, 01, 04. TH, tanggal 2 Februari 2005 dan Persetujuan Badan Koordinasi Penanaman Modal R.I.
No. 236/B.2/A6/2005 tanggal 4 Oktober 2005. Dan pada akhirnya, bulan Agustus 2005 PT. Goodyear Sumatra Plantations (GSP) menjual sahamnya ke Bridgestone Group dan berganti nama manjadi PT.
Bridgestone Sumatra Rubber Estate (PT. BSRE). Peralihan kepemilikan dan perubahan nama perusahaan telah diumumkan melalui Harian Media Indonesia dan Suara Pembaharuan pada tanggal 1 September 2005. Saat ini PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate memiliki 5 divisi yaitu :
1. Divisi I Naga Raja 2. Divisi II Dolok Merangir 3. Divisi III Dolok Tua Ulu 4. Divisi IV Dolok Ulu 5. Divisi V Aek Tarum
Divisi I-IV terletak di Kabupaten Simalungun dan Divisi V terletak di Kabupaten Asahan. Tiap divisi dikepalai oleh seorang manajer. PT.
Bridgestone Sumatera Rubber Estate berada di divisi II Dolok Merangir yang mempunyai 3 (tiga) pabrik pengolahan, yakni :
1. DX Factory 2. DM Factory 3. FM Factory
Namun sekarang ini, pabrik pengolahan tersebut tidak hanya tiga saja, tapi sudah bertambah menjadi lima pabrik pengolahan. Pabrik pengolahan tersebut adalah :
1. NB 1 Factory 2. NB 2 Factory
Operasi daripada kelima pabrik pengolahan tersebut dalam pengolahan crumb rubber tersebut pada dasarnya sama, hanya saja perbedaannya terletak pada spesifikasi mutu teknis bahan pembuatan crumb rubbernya. Kebun Naga Raja diusahai berdasarkan SK Ditjen Agraria No. SK.2/HGU/80 tanggal 2 Januari dan sertifikat HGU No.1 tanggal 15 Oktober 1982 dan telah memperoleh perpanjangan selama 25 tahun sesuai SK Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor : 114/HGU/BPN/1997 tanggal 16 September 1997 seluas 2.486,73. Kebun Dolok Merangir dan Dolok Ulu diusahai berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri Nomor: 3/HGU/DA/80 dan telah memperoleh perpanjangan selama 25 tahun sesuai SK Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor : 117/HGU/BPN/1997 tanggal 16 September 1997 seluas 11.226,38 Ha.
Kebun Aek Tarum diusahai berdasarkan Hak Guna Usaha No.
1/Perk. A. Tarum Haboko dan telah memperoleh perpanjangan selama 25 tahun sesuai SK Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor: 149/HGU/BPN/1997 tanggal 9 Desember 1997 seluas 4.238,88 Ha.
2.2 RUANG LINGKUP BIDANG USAHA
PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan dan pengolahan karet.
Perkebunan karet merupakan sumber bahan baku utama pabrik di samping perkebunan-perkebunan karet rakyat yang menjualnya ke perusahaan ini.
Kegiatan penanaman karet memakai jenis Havea Brasilliensis dan mengolahnya menjadi Crumb Rubber.
PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate memiliki misi dan spirit/
semangat perusahaan, yaitu: Spirit (semangat) perusahaan adalah
"Kepercayaan dan kebanggaan". PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate menopang kehidupan yang menyenangkan melalui keamanan serta kenyamanan semua orang dan memberikan kegembiraan serta inspirasi.
Misi perusahaan adalah "Menyumbang masyarakat dengan mutu tertinggi". PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate tidak akan berhenti pada produk, pelayanan dan teknologi tetapi akan terus mengejar suatu kualitas tertinggi dalam semua kegiatan Perusahaan.
Dasar dari kesemuanya adalah manusianya. PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate akan memanfaatkan skill atau kemampuan masing-masing individu dengan semaksimal mungkin. Sebagai perusahaan global yang mempunyai rasa tanggung jawab, sambil memakai hasil musyawarah dan keinginan bersama dengan masyarakat sebagai pedoman dari semua kegiatan, PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate akan memberikan kontribusi terhadap perkembangan masyarakat luas serta memberikan kontribusi terhadap pelestarian lingkungan alam. Prinsip Dasar perusahaan adalah : Siejitsu-Kyocho (Integritas dan Kerjasama), Shinshu-Dokuso (Pelopor Kreatifitas), Genbutsu-Genba (Peninjauan Lapangan), Jukuryo-Danko (Kematangan Tindakan).
2.3 LOKASI PT. BRIDGESTONE SUMATERA RUBBER ESTATE Saat ini PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate memiliki 5 divisi yaitu :
No. Divisi Lokasi
1 Divisi I Naga Raja, Kab. Simalungun 2 Divisi II Dolok Merangir, Kab. Simalungun 3 Divisi III Dolok Tua Ulu, Kab. Simalungun 4 Divisi IV Dolok Ulu, Kab. Simalungun 5 Divisi V Aek Tarum, Kab. Asahan
Tabel 2.1 Lokasi PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate
PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate saat ini memiliki pabrik pengolahan crumb rubber seluas 106.537 m2 dan mempunyai 5 (lima) pabrik pengolahan, yakni :
1. DX Factory (Dolok Merangir Expansion Factory) 2. DM Factory (Dolok Merangir Factory)
3. FM Factory (Foom Factory) 4. NB 1 Factory (New Bridgestone 1) 5. NB 2 Factory (New Bridgestone 2)
Operasi daripada kelima pabrik pengolahan tersebut dalam pengolahan crumb rubber tersebut pada dasarnya sama, hanya saja perbedaannya terletak pada spesifikasi mutu teknis bahan pembuatan crumb rubber nya.
PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate berada di Kebun Dolok Merangir, Serbalawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar 21115, Sumatera Utara, Indonesia. Berjarak 108 km dari Medan (ibu kota Provinsi Sumatera Utara) dan juga berjarak 20 km dari kota Pematang Siantar.
Perkebunan dan pabrik ini terletak pada ketinggian ± 42 m dari permukaan laut, dengan topografi yang sebagian besar berbukit-bukit. Areal perkebunan di PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate Dolok Merangir ini mempunyai batas-batas geografis yaitu:
1. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Serbelawan.
2. Sebelah barat berbatasan dengan pemukiman penduduk dan Kecamatan Si Pis Pis.
3. Sebelah utara berbatasan dengan perkampungan Negri lawan.
4. Sebelah selatan bebrbatasan dengan Perumahan karyawan dan Desa Kampung umbong.
Gambar 2.1 Lokasi PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate (Google Maps, 2021)
Pendirian perusahaan tersebut memiliki letak yang sangat strategis hal tersebut disebabkan karena:
1. Sumber bahan getah karet tidak jauh dari lokasi pabrik karena Perkebunan karet tersebut merupakan milik PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate sendiri.
2. Didukung oleh transportasi dan komunikasi yang menunjang serta prasarana jalan yang baik, hal ini akan memudahkan pengiriman bahan baku barang setengah jadi untuk pemasarannya.
3. Di sekitar lokasi pabrik tersedia tenaga kerja, yang cukup dan memiliki keterampilan sebagai tenaga kerja, sebagian karyawan yang dipekerjakan merupakan penduduk setempat.
Luas area yang dimanfaatkan untuk kegiatan usaha perkebunan dan pengolahan karet oleh PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate (BSRE) sesuai luas areal Hak Guna Usaha (HGU) yang berlaku yaitu keputusan menteri negara agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor : 114/HGU/BPN/1997 dengan luas 2.486,73 Ha di Kabupaten Serdang Bedagai dan keputusan menteri negara agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor: 117/HGU/BPN/1997 dengan luas 11.226,38 Ha di Kabupaten Simalungun. Namun setelah diukur secara Kader Sera dengan mengeluarkan seluas 202,827 Ha areal untuk kawasan industri Kabupaten Simalungun dan perluasan wilayah Kota Kecamatan Tapian Dolok, Kantor imigrasi Pematangsiantar serta peruntukan jalan maka luas areal HGU PT.
BSRE di Kabupaten Simalungun menjadi seluas 11.023,553 Ha. Izin HGU tersebut berlaku selama 25 tahun sejak diperpanjang pada tanggal 1 Januari 1998.
2.4 PROSES PRODUKSI
PT. Bridgestone melakukan proses produksi dengan mengolah getah karet menjadi bahan setengah jadi (Crumb Rubber). Untuk mendapat kualitas mutu produk Crumb Rubber yang baik bermula dari penanaman dan perawatan karet di lapangan yang kemudian dilanjutkan dengan proses pengolahan yang melalui beberapa tahap di pabrik.
2.5 STANDAR MUTU PRODUK
Untuk menjaga kualitas produk yang dihasilkan, PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate melakukan pengawasan mutu. Pengawasan mutu dilakukan pada saat penerimaan bahan baku, proses maturasi, proses pembentukan crumb, sampai dengan finishing product. Untuk itu PT.
Bridgestone Sumatra Rubber Estate menerapkan standar mutu berdasarkan Standard Indonesian Rubber (SIR). Untuk mendapatkan standar mutu berdasarkan Standard Indonesian Rubber (SIR), maka PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate melakukan pengawasan mutu dimulai dari:
1. Standar bahan baku, 2. Standar proses maturasi,
3. Standar produk serta pendeteksian metal.
2.6 DAERAH PEMASARAN
PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate merupakan pabrik yang mengolah getah karet menjadi produk Crumb Rubber atau SIR yang sudah melalui tahapan pengontrolan kualitas pada bagian Quality Control Department. Oleh karena itu, banyak negara-negara yang membeli produk Crumb Rubber atau SIR yang dihasilkan oleh PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate.
Daerah-daerah pemasaran produk Crumb Rubber atau SIR yang dihasilkan oleh PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate diekspor ke negara Jepang tepatnya ke kota Yokohama, Tokyo, Hakata, Moji dan Yokkaichi. Selain negara Jepang, negara Brazil juga mengimpor produk tersebut, tepatnya di kota Santos dan Savanah. Selain itu juga, tujuan ekspor produk tersebut adalah negara Amerika Serikat yaitu di kota New Orleans.
Cara pendistribusian produk tersebut hingga sampai ke luar negeri adalah produk Crumb Rubber atau SIR dikirimkan dari Dolok Merangir ke pelabuhan Belawan sebagai tempat penyimpanan sementara sebelum dikirim ke konsumen melalui transportasi laut yang ada di kota Medan
dengan menggunakan truk-truk pengangkutan produk Crumb Rubber atau SIR tersebut.
2.7 Struktur Organisasi PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate
Struktur organisasi yang terdapat di perusahaan PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate adalah struktur organisasi hubungan campuran lini- fungsional, di mana terdapat bahwa hubungan lini sebagai hubungan utama dan hubungan fungsional sebagai pelengkap. Hubungan lini pada struktur organisasi tersebut menunjukkan bahwa bawahan tersebut hanya menerima tugas, tanggung wewenang serta haknya dari atasannya. Oleh karena itu, seorang bawahan hanya mengenal seorang atasan. Struktur organisasi lini tersebut terlihat pada Production Director yang memiliki bawahan yaitu Manager Production. Di mana seorang Manager Production harus mempertanggung jawabkan tugasnya kepada Production Director. Untuk hubungan fungsional, di mana terdapat spesialisasi tugas dilakukan menurut fungsi-fungsinya, misalnya Bagian MFA dibagi lagi menurut fungsinya yaitu Manager Filed, Training Division, TD/AWS, dan Fire Safety Department.
Struktur Organisasi PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate dapat dillihat pada gambar 2.2.
Manager Processing
All Assistant
Processing All Monthly Paid All Daily Paid
All Daily Paid All Monthly Paid
All Assistant Engineering Manager
Engineering
All Monthly Paid All Assistant QCD
Manager QCD Sr. Manager Plant
Gen. Mgr.
Production All Daily Paid
Sr. Manager Clinic
All Daily Paid All Monthly Paid
All Assistant Plasma Project Manager Plasma
Project
All Daily Paid All Monthly Paid
Assistant Security Manager Security
All Monthly Paid All Assistant HRD
Manager HRD Gen.Mgr.
Administration All Daily Paid
All Daily Paid All Monthly Paid
All Assistant Finance Manager Finance
All Daily Paid All Monthly Paid
All Assistant Purchasing Manager
Purchasing
All Daily Paid All Monthly Paid
Assistant IT Manager IT
All Daily Paid All Monthly Paid
All Asistant R&D Manager R&D
All Daily Paid All Monthly Paid
All Assistant Div I Manager Div I
All Daily Paid All Monthly Paid
All Assistant Div Manager Div II II
All Daily Paid All Monthly Paid
All Assistant Div Manager Div III III
All Daily Paid All Monthly Paid
All Assistant Div Manager Div IV IV
All Daily Paid All Monthly Paid
Assistant Tr. Div Manager Field
Administration
All Daily Paid All Monthly Paid
All Assistant SHE Manager SHE
All Daily Paid All Monthly Paid
All Assistant Auditing Sr. Mgr. Int.
Auditing
Production Director Finance Director
Gen. Manager Field Research &
Develop. Advisor
President Director
2.8 DAMPAK SOSIAL EKONOMI TERHADAP LINGKUNGAN
Perusahaan PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate di lokasi Dolok Merangir memberikan dampak ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat yang ada di sekitar lokasi pabrik. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar karyawan yang bekerja di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate merupakan penduduk daerah setempat. Sehingga dengan banyaknya tenaga kerja yang diserap di lokasi tersebut dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan kehidupan masyarakat sekitar.
Tanggung jawab sosial perusahaan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakatnya ditunjang pula dengan penyediaan fasilitas- fasilitas yang disediakan oleh PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate sendiri, diantaranya adalah sebagai berikut :
Perumahan Taman bermain anak-anak
Listrik dan air bersih Sarana olah raga
Rumah sakit Mesin ATM
Poliklinik Koperasi
Unit Pelayanan KB Kantin
Rumah Ibadah Pelatihan
Sarana Trasnportasi Taman bermain anak-anak
Balai Pertemuan (Hall) Kantor kas unit Bank Syariah Mandiri
Perusahaan mengikutsertakan seluruh staff dan karyawan sebagai peserta Jamsostek, dan kepesertaan tersebut terdaftar sejak tanggal 1 April 1978 dengan No.B0040013. Adapun jumlah iuran yang dibayar tiap bulannya sebesar 6,54% yang masing-masing sebagai berikut :
2% diambil dari gaji masing-masing staff atau karyawan
4,54% di subsidi oleh perusahaan
Jumlah iuran yang disubsidi oleh perusahaan tiap bulannya tersebut dirinci sebagai berikut :
1. 0,54% = Jaminan Kecelakaan Kerja 2. 3,70% = Jaminan Hari Tua
3. 0,30% = Jaminan Kematian Total jumlahnya adalah = 4,54%
Sedangkan untuk Jaminan Pemeliharaan sebesar 6% dan atau 3%
tidak dibayarkan lagi. Hal ini dikarenakan PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate telah menyediakan fasilitas sarana kesehatan sendiri bagi karyawannya.
BAB III
URAIAN PROSES PRODUKSI 3.1 BAHAN BAKU
Baku Bahan baku adalah semua bahan utama yang digunakan dalam pembuatan suatu produk dan ikut dalam proses produksi (Yusniaji dan Erni, 2013). Penggunaan bahan baku memiliki persentase terbesar dibandingkan dengan bahan tambahan maupun bahan penolong. Pada PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate khususnya pada DX Factory, bahan baku yang digunakan terdiri dari 3 jenis, yaitu :
3.1.1 BSRE Lump
BSRE Lump merupakan bahan baku yang berasal dari perkebunan Bridgestone Sumatra Rubber Estate. Getah karet ditampung didalam mangkuk yang menyerupai benjolan, sehingga bentuk getah karet akan menyerupai mangkuk. Bahan baku yang digunakan adalah cup lump (getah mangkuk). cup lump didapat dari kebun sendiri yang dikelola oleh PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate. Adapun spesifikasi dari BSRE Lump, sebagai berikut :
Tidak terkontaminasi dengan lumpur, batu dan kayu
Tidak mengandung bahan kimia seperti TSP yang biasanya terkandung pada pupuk karet.
Kandungan tatal dan daun tidak boleh lebih dari lima helai per bongkah
Dry rubber content sebesar 75%-80%
3.1.2 Out Purchase Lump C1
Out Purchase Lump atau disingkat dengan OP lump merupakan karet yang berbentuk bongkahan mangkuk yang dibeli dari masyarakat, OP lump dibagi berdasarkan penyortiran menjadi Cl dan C2. Berikut spesifikasi dari OP lump C1.
Tidak terkontaminasi dengan lumpur, batu dan kayu
Tidak mengandung bahan kimia seperti TSP
Kandungan tatal dan daun tidak boleh lebih dari lima helai per bongkah
Dry rubber content sebesar 75%-80%
3.1.3 Out Purchase Lump C2
Out Purchase Lump C2 atau OP C2 merupakan bahan baku berbentuk mangkuk yang juga dibeli dari masyarakat. OP C1 dan OP C2 ditentukan berdasarkan grade. Berikut merupakan spesifikasi dari OP C2.
Tidak terkontaminasi dengan lumpur, batu dan kayu
Tidak mengandung bahan kimia seperti TSP
Kandungan Tatal dan daun tidak lebih dari 15 helai per bongkah.
Dry rubber content sebesar 75%-80%
3.2 BAHAN TAMBAHAN
Bahan tambahan adalah semua bahan yang digunakan pada proses produksi untuk memberikan nilai tambah suatu produk dan terdapat pada akhir. Biasanya bahan tambahan mempunyai presentasi yang sangat kecil dibandingkan dengan bahan baku. Bahan tambahan yang digunakan pada pembuatan crumb rubber diantaranya:
3.2.1 Plastik
Plastik digunakan sebagai pembungkus atau pelapis crumb rubber.
Plastik berfungsi agar crumb rubber tidak terkontaminasi debu ataupun udara. Karakteristik plastik yang digunakan sebagai pembungkus harus sesuai dengan standard SNI, Karakteristik yang harus sesuai dengan SNI diantaranya, warna plastik pembungkus, warna pita plastik, tebal plastik pembungkus dan titik leleh plastik.
3.2.2 Pallet
Pallet digunakan untuk meyimpan bandela-bandela yang telah dibungkus. Selain itu pallet memudahkan proses pengangkutan ke gudang penyimpanan serta memudahkan proses pengangkutan ke kapal. Saat ini
yang dapat ditampung didalamnya. Jenis ukuran pallet yang digunakan adalah :
Kemasan Pallet Standard berisi : 30 bandela
Kemasan pallet jumbo berisi : 36 bandela
Kemasan pallet super jumbo 42 bandela 3.2.3 Bahan Penolong
Bahan penolong merupakan bahan yang ikut membantu bahan utama dalam proses produksi tetapi tidak ikut di dalam proses produksi.
Air merupakan bahan penolong yang digunakan pada proses pembuatan crumb rubber. Air sangat diperlukan karena pada umumnya industri pengolahan crumb rubber memerlukan proses pencucian yang banyak.
Pada proses produksi pembuatan crumb rubber di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate, setidaknya ada enam buah tangki pencucian. Hal ini membuktikan bahwa air merupakan sumber daya yang sangat penting untuk membantu proses produksi pembuatan crumb rubber.
3.3 URAIAN PROSES
Proses pengolahan Crumb Rubber pada PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate dilakukan dengan 3 tahapan proses. Tahapan Proses tersebut yaitu :
1. Penerimaan bahan baku
a. Penimbangan bahan baku b. Penyortiran
c. Precleaning d. Proses maturasi
2. Proses Pencucian, Pemotongan dan Ekstruksi 3. Finishing Product
a. Penimbangan b. Pengujian Sampel c. Deteksi Metal d. Pengemasan
e. Penimpaan Bandela dengan Batu
f. Penyimpanan
3.3.1 Penerimaan Bahan Baku a. Penimbangan Bahan Baku
Setiap truk yang datang ke pabrik akan melakukan penimbangan. penimbangan terbagi dua yaitu penimbangan isi dan penimbangan kosong. Penimbangan isi dilakukan pada saat truk masih berisi bahan baku, sedangkan penimbangan kosong dilakukan pada saat bahan baku telah disortir. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kuantitas dari bahan baku yang dibawa oleh truk. Bagi karet yang dibeli dari penduduk (out purchase), penimbangan memudahkan pembayaran perusahaan kepada pemilik karet. Harga karet ditentukan oleh kuantitas dari karet yang dijual serta kadar DRC (Dry Rubber Content), Dirt Content, Ash Content.
b. Penyortiran
Bahan baku disortir pada area penerimaan bahan baku, disini muatan truk dibongkar. Pekerja menyortir dan memisahkan bahan baku berdasarkan grade yang telah ditentukan. Penentuan grade berdasarkan visualisasi pekerja.
c. Precleaning
Bahan baku yang telah disortir dan dipisahkan berdasarkan grade, kemudian dibawa ke area precleaning. Bahan baku diturunkan didaerah ini dan diangkut dengan menggunakan belt conveyor ke mesin slab cutter. Pada mesin slab cutter bahan baku dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil. Setelah melewati mesin slab cutter bahan baku akan masuk ke settling tank I. Settling tank I berfungsi untuk mengendapkan kotoran. Arus air yang mengalir mengitari bak pencucian akan membawa bahan baku ke bucket conveyor. Selanjutnya bucket conveyor akan membawa bahan baku ke mesin pre breaker. Pada mesin pre breaker kemudian akan
pre breaker bahan baku akan masuk washing tank II untuk pencucian. Setelah melewati washing tank. Bahan baku kemudian dibawa ke hammaer mill dengan menggunakan bucket conveyor.
Pada hammaer mill bahan baku kembali akan mengalami proses pemotongan lebih kecil. Bahan baku akan masuk ke additional tank Dari additional tank kemudian bahan baku akan dimasukkan ke truk yang telah menunggu. Truk kemudian membawa bahan baku ke area BIN yang merupakan area penumpukan bahan baku.
d. Proses Maturasi
Maturasi merupakan cara yang digunakan untuk proses pengeringan pada periode yang ditentukan agar kadar kering bahan baku semakin tinggi sebelum diolah. Pada proses maturasi ini bahan baku dijemur di area BIN untuk mendapatkan kadar karet kering sebesar 75%-80%. Selama proses maturasi petugas Quality Control akan mengambil sampel untuk menguji Dry Rubber Content (DRC). Nilai dari DRC akan menentukan kelayakan bahan baku yang akan diproses.
3.3.2 Proses Pencucian, Pemotongan dan Ekstruksi a. Proses pencucian
Bahan baku yang telah melewati proses maturasi dan kadar kekeringan telah sesuai dengan standar, akan dibawa ke DX Factory untuk pembentukan crumb. Bahan baku terlebih dahulu ditumpuk, kemudian bahan baku diletakkan di drag conveyor oleh pekerja untuk diproses pada mesin slab cutter. Pada mesin slab cutter bahan baku dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil. Pada mesin slab cutter, bahan baku akan mengalami penekanan oleh screw press untuk melewati die plate. Die plate mempunyai diameter lubang sebesar 25 mm. Bahan baku yang keluar dari die plate akan dipotong dengan besi pemotong yang bekerja secara berlawanan, sehingga ukuran bahan baku semakin kecil. Setelah melewati mesin slab cutter, bahan baku akan masuk ke dalam
settling tank Tangki ini berfungsi untuk mengendapkan kotoran.
Bahan baku yang telah melewati settling tank I akan di transfer blending tank dengan bucket conveyor I. Pada proses pentransferan dengan bucket conveyor I bahan baku juga mengalami proses pencucian. Pada blending tank bahan baku dicuci dengan putaran mixer, fungsinya untuk pengendapan kotoran.
b. Proses Pemotongan
Bahan baku kemudian akan dipotong kembali dengan menggunakan mesin pre breaker setelah terlebih dahulu ditransfer dengan menggunakan bucket conveyor II. Sama seperti prinsip kerja mesin slab cutter, mesin pre breaker juga berfungsi untuk mengurangi ukuran partikel dari bahan baku serta menghilangkan serum dan kotoran. Dengan bantuan arus air, maka bahan baku akan berpindah ke settling tank II. Pada settling tank II partikel karet dibersihkan dalam tangki diaduk untuk mengendapkan kotoran. Setelah melewati settling tank bahan baku akan ditransfer ke dalam system pneumatic transfer. Bahan baku akan ditransfer ke mesin hammer mill dengan menggunakan blower. Hammer mill akan mengurangi ukuran partikel dan menghilangkan kotoran dengan menggunakan pisau yang berputar dengan kecepatan tinggi. Dengan bantuan arus air, bahan baku keluar dari hammer mill dan akan ditampung di settling tank III. Disini bahan baku akan diaduk, sehingga kotoran mengendap. Dari settling tank III bahan baku akan dibawa dengan screw conveyor kedalam system pneumatic transfer. Melalui system pneumatic transfer bahan baku akan dibawa ke dalam settling tank IV. Sama dengan settling tank sebelumnya, fungsi settling tank IV adalah mengendapkan kotoran yang ada pada partikel karet.
c. Proses Ekstruksi dan Pemasakan
Partikel karet ditransfer menggunakan screw conveyor ke dalam system pneumatic transfer. Melalui system pneumatic transfer partikel karet akan ditransfer ke mesin extruder I Pada mesin extruder partikel karet akan mengalami proses penekanan agar dapat melewati die plate. Diameter die plate pada extruder I sebesar 3-3,5 mm. Mesin extruder akan memotong dan mengekstruksi partikel karet dengan pemotongan kecepatan tinggi, sehingga menghasilkan partikel karet yang kecil.
Mesin extruder berfungsi mengurangi ukuran partikel, sehingga memudahkan pengeringan dan mengurangi serum dan kotoran. Arus air akan akan membawa partikel karet ke settling tank V. Pada settling tank V partikel karet akan dicuci untuk mengendapkan kotoran. Partikel karet kemudian ditransfer menggunakan screw conveyor ke dalam system pneumatic transfer. Partikel karet akan ditransfer oleh system pneumatic transfer ke mesin extruder II. Pada mesin extruder II bahan baku akan mengalami proses penekanan untuk melewati die plate dengan diameter 2,4mm-3mm. Pada mesin extruder II, partikel karet akan akan dipotong dan diekstruksi. Produk crumb yang diekstrusi dimasukkan ke blower arus udara. partikel karet akan ditransfer secara pneumatik ke trolley.
Partikel karet dipisahkan dari udara menggunakan aliran gas siklon. Karet turun ke dalam trolley dan partikel udara habis, sehingga dihasilkan kualitas produk akhir. Trolley dibagi ke dalam beberapa bagian untuk memudahkan pembentukan biscuit. Trolley diisi dengan partikel karet dengan menggunakan Hydrocyclone pump dan blower. Di dalam trolley berisi 28 kotak, masing-masing kotak berukuran 75cm x 40cm x 25cm. Setelah setiap bagian trolley diisi oleh partikel karet, maka trolley akan dimasukkan ke dalam dryer dan akan dipanaskan selama ±11 menit 20 stange dengan suhu 127°C - 140°C. Setelah 11 menit, trolley akan keluar
secara otomatis. Selanjutnya akan dilakukan pembongkaran crumb biscuit oleh pekerja. Crumb biscuit akan diletakkan diatas meja penumpukan untuk kemudian didinginkan.
3.3.3 Finishing Product i. Penimbangan
Biscuit ditimbang dengan timbangan 35Kg + 0,05. Karet dikompresi untuk membentuk bandela berukuran sekitar 70 x 35 x 20 cm. Waktu pada saat pengkompresian dapat disesuaikan sesuai dengan hasil kompresi. Setiap bandela yang mengadung white spot atau kontaminasi akan diambil secara paksa menggunakan alat berupa tank. Bandela kemudian ditransfer untuk diambil sampelnya.
ii. Pengambilan Sampel
Sampel diambil setiap sembilan bandela (yaitu 4 sampel per pallet). Sampel diambil dari setiap sudut yang berlawanan secara diagonal. Sampel yang diambil sekitar 350 gr sampel. Sampel diberi label, dibungkus dan dikirim untuk analisis. Setiap bandela yang mengandung white spot atau kontaminasi ditolak oleh petugas QCD. Bandela kemudian dipotong dua setiap 6 bandela, secara visual diperiksa untuk memeriksa white spot dan kontaminasi.
Bandela dibungkus sesuai dengan kriteria produk yang dihasilkan.
iii. Penimbangan Ulang
Setiap bandela kemudian ditimbang ulang dengan timbangan digital. Penimbangan ulang untuk memastikan bahwa berat dari produk sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
iv. Pendeteksian Metal
Bandela kemudian ditransfer ke detektor logam dengan menggunakan belt conveyor. Jika terkontaminasi bandela akan ditolak oleh inspektur QCD dan kemudian dipisahkan.
v. Pengemasan
Bandela diberi label atau nomor dan kemudian dikemas
tidak sesuai dengan kualitas kemudian dipisahkan dalam "on hold area" untuk kemudian diproduksi kembali, Bandela kemudian akan dimasukkan ke dalam pallet, setiap pallet berisi 36 bandela.
vi. Penimpaan Pallet dengan Batu
Penimpaan pallet dilakukan dengan menggunakan batu penimpa. Sebelum ditimpa pallet terlebih dahulu dilapisi dengan plastik alas. Penimpaan pallet dengan batu ini dilakukan selama ± 4 jam. Setelah 1 jam kemudian batu diangkat dengan menggunakan forklift setelah itu, kupingan/flap dimasukkan untuk penimpaan.
Penimpaan dengan kupingan/flap dilakukan selama ± 3 jam.
vii. Penyimpanan
Bandela akan ditempatkan dipallet, setiap pallet berisi 36 bandela. Pallet kemudian dipindahkan ke pallet storage dengan alat tranportasi berupa forklift. Pada pallet tertera alamat dan tujuan pengiriman beserta spesifikasi produk. Pallet kemudian dibungkus dan kemudian disusun bertingkat dengan menggunakan forklift, dan menunggu untuk dikirim.
Penimbangan Bahan Baku
Penyortiran
Flowchart proses produksi crumb rubber di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate dapat dilihat pada gambar 3.1.
BSRE Lump Out Purchase Lump
Gambar 3.1 Flowchart Proses Produksi Crumb Rubber di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate
Maturasi
Quality Test Parameter Limbah
Pengeringan & Pemasakan
Finishing Product Pencucian & Pemotongan
Pre-Cleaning
3.4 MESIN DAN PERALATAN PRODUKSI 3.4.1 Mesin Produksi
Mesin merupakan peralatan produksi yang memerlukan penggerak.
Untuk melakukan proses produksi pengolahan karet, PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate mempunyai mesin sebagai berikut :
a. Nama Mesin : Pre Breaker
Fungsi Mesin : Memotong bahan baku
Model : Twin screw pre breaker MK II Diameter Die Plate : 25 mm
Motor : 60 Hp, 1450 rpm
Power Transmision : V-belt pulley ratio 11" -11"
Kecepatan : 50 rpm
Kapasitas : 3000-3500 kg Dry/ hr
b. Nama Mesin : Screw Conveyor
Fungsi Mesin : Mentransfer bahan baku ke blower
Diameter : 460 mm
Power : Chain 5/8", ratio sprocket 25/38 teeth Kecepatan : 22,2 rpm
Kapasitas : 5,69 Ton/ Hr
c. Nama Mesin : Stirrer/Agigator
Fungsi Mesin : Mengaduk bahan baku pada setling tank
Model : CVV M10- 4190-BB
Panjang : 2780 mm
Lebar : 446 mm
Sistem penggerak : motor 10 Hp, 1450 rpm, 380 V, 50 Hz Mesin penggerak Toshiba VFS7-4075P. 400 V - 7,5 KW
d. Nama Mesin : Bucket Conveyor
Fungsi Mesin : Mentransfer bahan baku ke proses selanjutnya
Model : Portable Twin Chain
Panjang : 5000 mm
Lebar : 640mm
Kapasitas : 4,2 ton/ Hr Kecepatan : 0,13 m/ det
Mesin penggerak : Toshiba VFS-4022P. 400 V- 2,2 KW
e. Nama Mesin : Pneumatic Transfer
Fungsi Mesin : Mentransfer partikel karet ke mesin hammer mill, setling tank, extruder, dan Blower Tipe : Axial centrifugal heavy duty fan LS-17 Motor : TECO Motor 60 Hp, 1450rpm, 380 VAC Kecepatan : 2220 rpm
Ventury : Stainless stell Tipe MK II Gas cyclone : Stainless stell Tipe MK II Diameter Pipa : 8"
f. Nama Mesin : Hammer Mill
Fungsi Mesin : Mencincang bahan baku menjadi ukuran yang lebih kecil.
Model : Hammer Mill MK-III
Diameter Screen : 25 mm
Motor : 75 Hp, 1450 rpm, 380 VAC, 50 Hz Power Transmision : V-belt pulley ratio 12"-9"
Kecepatan : 1740 rpm
Kapasitas : 3000-3500 kg Dry/ hr
g. Nama Mesin : Extruder I
Fungsi Mesin : Mengekstruksi bahan baku menjadi partikel
Model : Single screw CRE MK III Diameter Die Plate : 3-3,5 mm
Kapasitas : 2000-2500 kg Dry/ Hr Kecepatan : 100 rpm
Kecepatan pemotong : 1450 rpm
h. Nama Mesin : Extruder II
Fungsi Mesin : Mencincang bahan baku menjadi partikel kecil
Model : Single screw CRE MK III Diameter Die Plate : 2,4 -3,3 mm
Kapasitas : 2000-2500 kg Dry/ Hr Kecepatan : 100 rpm
Kecepatan pemotong : 1450 rpm
i. Nama Mesin : Dryer
Fungsi Mesin : Mengeringkan partikel karet
Model : CRTD 2000
Trolley : 16 section mm
Power : 75 Hp, 1450 rpm, 380 VAC, 50 Hz Kapasitas : 2000 Kg Dry/ hr
Dimensi Dryer : 23.6m x 5m x 1,25m Dimensi trolley : 4,6m x 1,45m x 0,51m
j. Nama Mesin : Balling Press
Fungsi Mesin : Menekan potongan biscuit, sehingga menjadi bandela
Model : Twin chamber, MHP 105 ton
Tekanan : 3000 Psi
Motor : 30 Hp, 1450 rpm, 380 volt, 50 Hz Waktu pengepresan : 19 detik
k. Nama Mesin : Metal detector
Fungsi Mesin : Mendeteksi keberadaan metal dalam bandela
Model : Metron 20 - C series
Power : 85 sampai 245 V AC 60 Hz Temperatur : 0°C - 60°C
Kelembapan : 100% Conveyor Detector
Panjang : 3190 mm
Tinggi : 450 mm
Lebar : 700 mm
Motor : Moto Vasio T 80, 0,75 Kw, 1420 rpm, 280 V – 50 Hz
3.4.2 Peralatan Produksi
Peralatan merupakan suatu alat yang digunakan pada proses produksi yang tidak mempunyai penggerak. Adapun peralatan produksi yang digunakan pada PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate adalah sebagai berikut :
a. Nama Mesin : Latex receiving tank
Fungsi Alat : Memudahkan alat untuk masuk ke drag conveyor
Model : Ellipsoide pressure tank
Diameter : 1400 mm
Panjang : 2800 mm
Bahan : Mild steel plate 12 mm Kapasitas : 2,5 ton
b. Nama Alat : Skim tank
Fungsi Alat : Memudahkan alat untuk masuk ke drag conveyor
Diameter : 1400 mm
Panjang : 2800 mm
Bahan : Mild steel plate 12 mm Kapasitas : 1,25 ton
c. Nama Alat : Trolley
Fungsi Alat : Sebagi tempat untuk mengeringkan biscuit pada mesin dryer.
Panjang : 4880 mm Fungsi Alat :1450 mm Lebar
Tinggi : 850 mm
Bahan : Alumunium
d. Nama Alat : Tangga Pengangkatan crumb biscuit Fungsi Alat : Membantu pekerja dalam pengangkatan
crumb biscuit
Panjang : 4880 mm
Lebar : 670 mm
Tinggi : 37 mm
Bahan : Alumunium
e. Nama Alat : Meja penumpukan crumb biscuit
Fungsi Alat : Penumbukan sementara crumb biscuit untuk proses pendinginan
Panjang : 4880 mm
Lebar : 124 mm
Tinggi : 700 mm
Bahan : Kayu
f. Nama Alat : Pisau crumb biscuit
Fungsi Alat : Memotong crumb biscuit untuk
penimpangan maupun untuk pengambilan sampel
Panjang : 600 mm
Lebar : 10 mm
Bahan : Stainless steel
g. Nama Alat : Gancu
Fungsi Alat : Menarik biscuit dari trolley
Panjang : 500 mm
Bahan : Besi
BAB IV
UTILITAS DAN PENGOLAHAN LIMBAH 4.1 UTILITAS
Bahan pendukung atau utilitas pabrik merupakan sebutan atau istilah untuk penamaan bahan-bahan pendukung untuk kelancaran proses produksi dipabrik guna berlangsungnya proses produksi dipabrik yang sifatnya sangat berpengaruh pada :
Bahan-bahan yang diperlukan untuk berlangsungnya kerja peralatan proses.
Bahan-bahan yang diperlukan untuk berlangsungnya jalan operasi proses pada peralatan pengolahan.
4.2 SUMBER AIR
Untuk memenuhi kebutuhan air di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate berasal dari 2 sumber yaitu dari mata air Sumber Sere dan hasil recycle water. Air recycle digunakan untuk proses precleaning dan pencucian bahan baku.
4.3 TENAGA LISTRIK
Unit ini berfungsi untuk memenuhi kebutuhan listrik diseluruh area pabrik. Pemenuhan kebutuhan listrik dipenuhi oleh PLN dan sebagai cadangan adalah generator set untuk menghindari gangguan yang mungkin terjadi pada PLN. Adapun kebutuhan listrik dapat dibagi menjadi 5 bagian sebagai berikut :
1. Listrik untuk keperluan proses.
2. Listrik untuk utilitas.
3. Listrik untuk penerangan dan pendingin ruangan.
4. Listrik untuk laboratorium dan bengkel.
5. Listrik untuk instrumentasi.
4.4 BAHAN BAKAR
Dalam proses produksi pada PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate, alat yang digunakan untuk memasak adalah burner pada dryer.
Bahan bakar yang digunakan untuk alat tersebut yaitu solar.
4.5 PENGOLAHAN LIMBAH
Di alam, unsur oganik diuraikan oleh mikroorganisme. Mekanisme cara penguraian oleh mikroorganisme terbagi dua
1. Penguraian secara aerob, yaitu dengan memanfaatkan oksigen yang terlarut dalam air maupun yang ada di udara.
2. Penguraian secara anaerob, yaitu dengan mengambil oksigen dari senyawa ion sulfat, nitrat, air atau unsur organik lain.
Di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate menggunakan lumpur aktif sebagai pengolahan limbah cair. Proses lumpur aktif adalah suatu sistem yang menguraikan senyawa organik dengan menggunakan bakteri/mikroba pengurai yang bersifat aerob dengan perbandingan keduanya dikontrol agar selalu tetap. Dalam, proses penguraian senyawa organik dengan lumpur aktif dibuat bersinggungan dengan waktu yang memadai sambil diberikan pasokan udara (oksigen). Dari proses ini senyawa organik akan mengalami oksidasi atau terurai.
Dalam sistem lumpur aktif, berbagai macam bakteri, fungi, protozoa, dan metazoan hidup di dalamnya. Kumpulan mikroba ini membentuk struktur piramida rantai makanan. Dalam proses lumpur aktif yang berada pada piramida level bawah adalah bakteri dan fungi, di atas bakteri dan fungi terdapat kumpulan protozoa dan di atasnya lagi terdapat nematode dan rotatoria. Makhluk hidup pada level atas pemakan makhluk hidup pada level di bawahnya sehingga membentuk struktur piramida rantai makanan. Air limbah dibersihkan oleh kumpulan mikroba-mikroba yang membentuk piramida seperti ini, Jenis mikroba yang hidup pada lumpur aktif berbeda-beda bergantung tingkat kebersihan dari airya.
Sistem lumpur aktif merupakan cara penguraian dan oksidasi senyawa
(dalam kolam aerasi) dari bakteri aerob. Bakteri aerob melakukan aktivitasnya (memperbanyak sel, melakukan metabolisme biołogis) berdasarkan energi yang diperoleh dari penguraian dan oksidasi dengan menyerap oksigen terlarut (DO) dan senyawa organik dalam air limbah yang sedang diurai.
Sebagai hasil aktivitas biologis seperti ini, air limbah menjadi bersih dengan kualitas air yang dipengaruhi oleh; waktu tinggal, perbandingan jumlah bakteri, senyawa organik, dan aktivitas bakteri (kondisi dalam aerasi dan sebagainya). Adapun proses pengolahan limbah cair pabrik dengan ASETS yaitu sebagai berikut :
a. Final Rubber Trap dan De-Watering Screen
Air limbah dari masing-masing rubber trap pabrik, dihomogenkan ke rubber trap akhir melalui dewatering screen untuk memisahkan limbah padat (plastik, sampah, tatal, dll) yang masih terkandung dalam air limbah.
b. Aeration Tank
Tangki aerasi berfungsi menguraikan senyawa organik (COD, BOD) air limbah dengan memanfaatkan reaksi biologis bakteri aerob dalam tangki aerasi, Bakteri aerobik melakukan aktivitas (menggandakan sel, metabolisme biologis) dengan energi yang berasal dari dekomposisi dan oksidasi dengan menyerap oksigen terlarut (DO: 1,5 2 ppm) dan senyawa organik dalam air limbah.
c. De-Nitrification Tank
Pada bagian ujung tangki aerasi sebelum masuk ke tangki pengendapan terdapat Tangki Denitrifikasi. Tangki denitrifikasi berfungsi untuk mengubah nitrogen oksida (NO) menjadi gas N2
untuk mengurangi kandungan nitrogen total dalam air olahan. De- Nitrification Tank berkurangnya suplai oksigen (DO < 0,5 ppm)
memungkinkan kondisi anaerobic sehingga rantai oksigen akan terlepas pada nitrogen oksida dan nitrogen oksida akan berubah menjadi gas N2.
d. Settling Tank Outlet dan Return Sludge
Settling tank berfungsi untuk memisahkan air hasil olahan dengan lumpur. Air hasil olahan dialirkan ke tangki indikasi dan lumpur kembali ke tangki aerasi. Dengan adanya sintesis sel bakteri dan akumulasi Suspended Solids anorganik yang mengalir ke ASETS menyebabkan MLSS di tangki aerasi akan meningkat, sehingga sludge perlu dibuang secara berkala.
e. Indication Tank
Sebagai indikator kualitas air olahan, kualitas air diperiksa setiap hari secara internal dan eksternal setiap bulan. Dalam tangki indikasi ini ditempatkan ikan air lawar (goldfish) sebagai indikator visual kualitas air yang diolah. Pada tangki indikasi terdapat pompa air daur ulang yang berfungsi untuk mengembalikan air olahan ke pabrik sekitar 70%.
f. Outlet Of WWTP
Air olahan yang tidak digunakan oleh pabrik dibuang ke sungai sesuai dengan peraturan yang berlaku.
g. Sludge Thickening
Kelebihan lumpur dipompa melalui 2 unit tangki dewatering lumpur dengan kapasitas 30 m/unit yang berfungsi untuk mengendapkan lumpur. Di tangki dewatering lumpur lumpur akan diendapkan dan air jernih dikembalikan ke ASETS Sedangkan hasil endapan lumpur akan dibuang melalui Drying Bed.
h. Sludge Drying Bed
Sludge drying bed berfungsi untuk mengeringkan kelebihan lumpur, sebelum digunakan sebagai pupuk. Terdapat 8 unit jemuran dengan kapasitas 16 m'/unit.
Adapun flowchart sistem pengolahan air limbah di PT.
Bridgestone Sumatra Rubber Estate dapat dilihat pada gambar 4.2 berikut :
Waste Water From Factory NB1, NB2, And Factory FM
Rubber Trap And De-Watering Screen
Sludge Drying Bed
Gambar 4.1 Flowchart Pengolahan Limbah Start
Waste Water From Factory DM, DX, and Pre-Cleaning Waste Water From
New Pre-Cleaning
Aeration Tank
De-Nitrification Tank
Indication Tank
Sludge Excess
Setling Tank Outlet And Return Sludge
Outlet Of Waste Water Treatment Process Waste Water Inlet Tub
Sludge Sludge
BAB V TUGAS KHUSUS
MENGANALISA KOMPOSISI BAHAN BAKU TERHADAP KUALITAS PRODUK PADA SIR 20 CV DI PT BRIDGESTONE SUMATRA RUBBER
ESTATE 5.1 TUJUAN TUGAS KHUSUS
Pada Pabrik PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate sumber bahan baku ada 3 yakni : BSRE Lump (karet dari kebun sendiri milik PT. BSRE), Out Purchase Lump C1 (karet bongkahan yang dibeli dari masyarakat), dan Out Purchase Lump C2 (karet mangkuk yang dibeli dari masyarakat). Kualitas dari sumber bahan baku tersebut berbeda-beda, kualitas karet terbaik secara berturut- turut dimiliki oleh BSRE Lump, kemudian Out Purchase Lump C1, dan yang terakhir Out Purchase Lump C2.
Bahan baku yang masuk ke pabrik tidak selalu jumlahnya sama, kadang jumlah Out Purchase Lump C1 dan Out Purchase Lump C2 lebih banyak ketimbang BSRE Lump. Sementara permintaan Crumb Rubber oleh konsumen tetap ada. Untuk menyiasati hal tersebut pabrik melakukan pencampuran antara ke-3 sumber bahan baku tersebut namun dengan syarat tetap menghasilkan produk Crumb Rubber yang memenuhi mutu kualitas yang ada
Oleh sebab itu pada tugas khusus kali ini kami akan menganalisa beberapa komposisi pencampuran dari ke-3 sumber bahan baku karet pada pabrik PT.
BSRE apakah memenuhi baku mutu produk yang ada atau tidak?. Hasil analisa ini akan menjadi bahan pertimbangan pabrik untuk melakukan pencampuran dengan komposisi tertentu namun dengan syarat tetap menghasilkan produk Crumb Rubber yang memenuhi mutu kualitas yang ada.
5.2 TINJAUAN PUSTAKA
Karet remah (crumb rubber) harus sesuai dengan Standar Indonesia Rubber (SIR) supaya dapat dijadikan sebagai bahan baku dan dapat melalui proses selanjutnya yakni bahan jadi. Standar Indonesia Rubber (SIR) memiliki beberapa mutu diantaranya SIR 3 CV, SIR L, SIR 3 WF, SIR 5, SIR 10, SIR 20, SIR 20