• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KULIAH PRAKTIK INDUSTRI

N/A
N/A
19-057 Andrew Moses N

Academic year: 2024

Membagikan "LAPORAN KULIAH PRAKTIK INDUSTRI "

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KULIAH PRAKTIK INDUSTRI DI

PT. BRIDGESTONE SUMATRA RUBBER ESTATE DOLOK MERANGIR SERBELAWAN-21155

SUMATRA UTARA, INDONESIA

OLEH:

FIERDA MARPAUNG NIM. 180405093

JEREMY STEVEN SIMANGUNSONG NIM. 180405157

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2022

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KULIAH PRAKTIK INDUSTRI DI

PT. BRIDGESTONE SUMATERA RUBBER ESTATE (BSRE) DOLOK MERANGIR SERBELAWAN, 21155 SUMATERA UTARA

Periode:

01 November sampai 15 November 2021 OLEH:

FIERDA MARPAUNG NIM. 180405093

JEREMY STEVEN SIMANGUNSONG NIM. 180405157

Diketahui/Disetujui,

Medan, Februari 2022 Kordinator Kuliah Praktik Industri Dosen Pembimbing

Dr. Iriany, M.Si, Mersi Suriani Sinaga, ST., MT.

NIP. 196406131990032001 NIP. 196808061998022001

(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Tuhan Yesus, atas rahmat Nya, laporan kerja praktek ini dapat diselesaikan dengan baik. Kerja Praktek yang dilakukan di Pabrik Karet PT.

Bridgestone Sumatera Rubber Estate Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara ini di laksanakan mulai 01 November 2021 hingga 15 November 2021.

Selama melaksanakan kerja praktek dan penyusunan laporan kerja praktek ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Mersi Suriani Sinaga ST.,MT. selaku dosen pembimbing atas bimbingan dan pengarahannya membimbing penulisan dalam menyelesaikan laporan kerja praktek.

2. Bapak Richard Siahaan selaku General Manager Administration yang telah memberikan kesempatan untuk Kuliah Praktik Industri di PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate.

3. Bapak Freddy Wahyudi selaku Pembimbing Lapangan dan Asisten Quality Control Department atas segala bantuan, pengarahan dan bimbingannya selama melaksanakan Kuliah Praktik Industri.

4. Bapak Dedi Wahyudi selaku Senior Asisten Quality Control Department yang telah memberikan kesempatan untuk Kuliah Praktik Industri di PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate.

5. Bapak-bapak asisten, mandor dan pegawai di Quality Control Department, Processing Department, Safety and Health Enviroment Department dan Raw Material Receiving Department yang telah memberikan kesempatan dan pengarahan selama Kuliah Praktik Industri.

6. Ibu Ir. Maya Sarah, ST., MT., Ph.D selaku Ketua Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

7. Ibu Dr. Iriany, M.Si selaku koordinator kuliah praktek industri Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

(5)

8. Orang tua dan seluruh keluarga yang telah memberikan dorongan moril maupun material selama ini.

9. Rekan tim kerja praktek Eva Eklesia S dan Henokh Sitorus yang sudah saling membantu dalam pelaksanaan kerja praktek maupun beradaptasi di lingkungan Dolok Batu Nanggar selama 2 minggu.

Penulis menyadari bahwa laporan kerja praktek ini masih jauh dari kata sempurna karena keterbatasan pengetahuan, pengalaman, dan waktu tang dimiliki. Oleh karena itu, penulis sangat berharap saran dan kritik yang bersifat membangun laporan kerja praktek. Akhir kata penulis berharap semoga laporan kerja praktek ini dapat berguna baik dari kalangan industry maupun sivitas akademik.

Dolok Batu Nanggar, 15 November 2021

Penulis 1 Penulis 2

Fierda Marpaung Jeremy Steven Simangunsong

180405093 180405157

(6)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR TABEL ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 LATAR BELAKANG ... 1

1.2 TUJUAN KULIAH PRAKTIK INDUSTRI ... 2

1.2.1 Tujuan Umum ... 2

1.2.2 Tujuan Khusus ... 2

1.3 MANFAAT KULIAH PRAKTIK INDUSTRI ... 2

1.3.1 Bagi Perusahaan ... 2

1.3.2 Bagi Perguruan Tinggi ... 3

1.3.3 Bagi Mahasiswa ... 3

1.4 RUANG LINGKUP KULIAH PRAKTIK INDUSTRI ... 3

1.5 METODE PENGUMPULAN DATA ... 4

1.6 FLOWCHART PELAKSANAAN KULIAH PRAKTIK INDUSTRI ... 5

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... 7

2.1 SEJARAH PERUSAHAAN ... 7

2.2 LOKASI PT. BRIDGESTONE SUMATRA RUBBER ESTATE... 9

2.3 PROSES PRODUKSI ... 11

2.4 STANDAR MUTU PRODUK ... 11

2.5 STRUKTUR ORGANISASI PT. BRIDGESTONE SUMATRA RUBBER ESTATE ... 12

BAB III URAIAN PROSES PRODUKSI ... 14

3.1 PROSES PRODUKSI ... 14

3.1.1 Bahan Baku ... 14

3.1.2 Bahan Tambahan... 16

3.1.3 Bahan Penolong ... 17

3.1.4 Proses Pengolahan... 17

3.1.5 Proses Pencucian, Pemotongan dan Pengeringan ... 18

(7)

3.1.6 Finishing Product ... 21

3.2 MESIN DAN PERALATAN PRODUKSI ... 24

3.2.1 Mesin Produksi ... 24

3.2.2 Peralatan Produksi... 27

BAB IV UTILITAS DAN PENGOLAHAN LIMBAH ... 29

4.1 UTILITAS ... 29

4.2 SUMBER AIR ... 29

4.3 TENAGA LISTRIK ... 29

4.4 BAHAN BAKAR ... 29

4.5 PENGOLAHAN LIMBAH ... 30

4.5.1 Pengolahan Limbah Cair ... 30

4.5.2 Pengolahan Gas Emisi ... 37

BAB V TUGAS KHUSUS ... 39

5.1 TINJAUAN PUSTAKA ... 39

5.1.1 Karet ... 39

5.1.2 Komposisi Karet ... 39

5.1.3 Jenis-Jenis Karet Alam ... 40

5.1.4 Pengolahan Karet ... 41

5.1.5 Crumb Rubber ...... 42

5.1.6 Komposisi Crumb Rubber ... 43

5.1.7 Suhu Dryer ... 44

5.1.8 Plastisitas ... 45

5.1.9 Viskositas Mooney ... 46

5.2 TUJUAN TUGAS KHUSUS ... 47

5.3 WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN TUGAS KHUSUS ... 47

5.4 OBJEK TUGAS KHUSUS ... 47

5.5 METODOLOGI TUGAS KHUSUS ... 48

5.6 ALAT DAN BAHAN ... 48

5.6.1 Alat ... 48

5.6.2 Bahan ... 48

5.6.3 Prosedur Kerja... 49

5.7 Hasil dan Pembahasan ... 50

(8)

5.7.1 Hasil ... 50

5.7.2 Pembahasan ... 51

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 54

6.1 KESIMPULAN ... 54

6.2 SARAN ... 54

DAFTAR PUSTAKA ... 55 LAMPIRAN A PERHITUNGAN ... LA-1 LAMPIRAN B DOKUMENTASI KULIAH PRAKTIK INDUSTRI...LB-1

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Flowchart Pelaksanaan Kuliah Praktik Industri ... 6

Gambar 2.1 Lokasi PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate ... 10

Gambar 2.2 Struktur Organisasi Perusahaan PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate... 13

Gambar 3.1 Flowchart Proses Produksi Crumb Rubber di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate ... 23

Gambar 4. 1 Flowsheet Sistem Pengolahan Limbah Cair PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate (BSRE) ... 36

Gambar 4. 2 Air Scrubber ... 37

Gambar 5. 1 Grafik Analisa Temperatur terhadap Nilai PRI Crumb Rubber Mutu SIR 20 ...52

Gambar 5. 2 Grafik Analisa Temperatur terhadap Nilai Po Crumb Rubber Mutu SIR 20 ...53

Gambar 5. 3 Grafik Analisa Temperatur terhadap Viskositas mooney Crumb Rubber Mutu SIR 20-CV ... 53 Gambar B. 1 Monumen Ban Raksasa di PT. BSRE………..LB-1 Gambar B. 2 Tim Kuliah Praktik Industri Bersama Pembimbing Lapangan di PT. BSRE…..LB-1

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Lokasi PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate ... 9 Tabel 5. 1 Sifat Kimia Crumb Rubber ... 43 Tabel 5. 2 Pengaruh Komposisi Terhadap Mutu Produk (Crumb Rubber) ... 43 Tabel 5. 3 Pengaruh Suhu Terhadap Mutu Karet SIR 20 di PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate ... 44 Tabel 5. 4 Hasil Analisa pengaruh temperatur terhadap plastisitas crumb rubber mutu SIR 20-CV PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate ... 50 Tabel 5. 5 Hasil analisa pengaruh temperatur terhadap viskositas mooney crumb Rubber mutu

SIR 20-CV di PT.Bridgestone Sumatera Rubber Estate ... 51

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Tanaman karet (Hevea Brasiliensrs) berasal dari negara Brazil. Tanaman ini merupakan sumber utama bahan karet alam dunia. Tanaman karet sebagai penghasil lateks dapat dikatakan satu-satunya tanaman yang dikebunkan secara besar-besaran (Budiman, 2012). Karet merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia sehari-hari, hal ini terkait dengan pergerakan manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban kendaraan, sabuk transmisi, sepatu dan sandal karet. Kebutuhan karet alam maupun sintetik terus meningkat sejalan dengan standar hidup manusia.

Karet merupakan komoditas hasil pertanian Indonesia. Sebagian besar karet di Indonesia digunakan untuk memenuhi permintaan dari luar negeri seperti Italia, Canada, China, India, Singapura, Spanyol, Israel, Taiwan, Jepang, dan lain-lain. Karet yang dikeluarkan bahan mentah atau masih berupa cairan, karet olahan sudah diolah oleh pabrik melalui berbagai proses tertentu menjadi lembaran karet atau balok.

PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate (BSRE) adalah perusahaan perkebunan yang terlibat langsung dalam penanaman, pemeliharaan dan ekspolitasi karet dan pengolahan karet untuk menghasilkan bahan setengah jadi yaitu karet remah dengan mutu yang bervariasi, sesuai dengan apa yang diinginkan dari yang mengolah karet tersebut. PT. Brigstone Sumatra Rubber Estate berada di Kebun Dolok Melangir, Serbelawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar 21155, Sumatra Utara, Indonesia.

Penilaian mutu secara klarifikasi mutu berdasarkan penilaian berdasarkan hasil analisa dari syarat uji, yang diuji mutu untuk SIR 20 yaitu: kadar abu, kadar zat menguap, plasticity retention Index (PRI) dan uji lain yang dilakukan. Karet spesifikasi teknis atau karet remah adalah karet alam yang dibuat khusus schingga terjamin mutu teknisnya. Penilaian terhadap mutu karet remah dengan kualitas SIR 20 didasarkan pada analisis plasticity retention index (PRI). Penentuan PRI dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai karet pada waktu dan ketahanan terhadap oksidasi.

Kegiatan kerja praktek lapangan ini merupakan salah satu bagian dari kurikulum. Hal ini bertujuan untuk mengenal kebih dekat suatu pabrik, baik segi proses maupun pelaksanaanya

(12)

dilapangan serta menerapkan teori yang didapat dibangku kuliah ketempat kerja yang sebenamya dan mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi.

1.2 TUJUAN KULIAH PRAKTIK INDUSTRI

Kerja praktek ini memiliki beberapa tujuan yang dapat dikelompokkan menjadi dua tujuan besar, yaitu :

1.2.1 Tujuan Umum

a. Mengaplikasikan kemampuan akademik mahasiswa atas materi-materi yang telah diperoleh selama ini. Selain itu hal ini dimaksudkan agar mahasiswa bisa lebih mengetahui kondisi nyata di lapangan yang bisa dijadikan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi dunia kerja nanti.

b. Mempersiapkan mahasiswa menjadi tenaga profesional, disiplin, kreatif, dan jujur dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

c. Sebagai media bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman dunia kerja nyata dan sarana melatih kerja sama serta bersosialisasi dalam organisasi didunia kerja.

1.2.2 Tujuan Khusus

a. Untuk memenuhi satuan semester kredit (SKS) yang harus ditempuh sebagai persyaratan akademik di Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

b. Sebagai dasar penyusunan laporan kerja praktek.

c. Berlatih untuk mendisiplinkan diri dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan.

d. Mengenal dan memahami proses pada chemical plant.

1.3 MANFAAT KULIAH PRAKTIK INDUSTRI

Adapun manfaat dari kegiatan praktek kerja ini adalah sebagai berikut : 1.3.1 Bagi Perusahaan

1. Sebagai sarana untuk mengetahui kualitas pendidikan di Universitas Sumatera Utara.

2. Sebagai sumbangan perusahaan dalam memajukan pembangunan di bidang pendidikan.

(13)

3. Sebagai bahan masukan bagi pimpinan perusahaan dalam rangka memajukan pembangunan di bidang pendidikan dan dalam peningkatan efisiensi.

4. Sebagai sarana untuk menjembatani hubungan PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate dengan Universitas Sumatera Utara di masa yang akan datang, khususnya mengenai rekruitmen tenaga kerja.

1.3.2 Bagi Perguruan Tinggi

1. Mengukur seberapa jauh kesesuaian mata kuliah dalam kurikulum dengan kebutuhan di perusahaan

2. Sebagai bahan evaluasi kesiapan mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja.

3. Mempererat kerja sama antara perusahaan dengan Jurusan Teknik Kimia , Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

1.3.3 Bagi Mahasiswa

1. Mampu memahami dan mengetahui berbagai macam aspek kegiatan perusahaan seperti aspek teknik proses, aspek pemasaran, organisasi, ekonomi, persediaan, dan sebagainya.

2. Mengetahui penerapan ilmu dan teori dalam mata kuliah yang ada dalam program studi S1 Teknik Kimia di dunia kerja.

3. Memahami cara mengumpulkan data dari lapangan guna penyusunan laporan kerja praktek.

4. Memperoleh kesempatan untuk melatih keterampilan dalam melakukan pekerjaan atau kegiatan lapangan.

5. Memahami proses produksi di PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate.

1.4 RUANG LINGKUP KULIAH PRAKTIK INDUSTRI

Ruang lingkup kerja praktek yang dilakukan adalah Untuk memahami pengolahan getah karet menjadi bahan setengah jadi yaitu Crumb Rubber. Dimulai dari proses penerimaan bahan baku di lapangan yang kemudian dilanjutkan dengan proses pengolahan yang melalui beberapa tahap di pabrik. Waktu pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini dilakukan oleh penulis dimulai pada 1 November 2021 s/d 15 November 2021 dan bertempat di PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate (BRSE).

(14)

1.5 METODE PENGUMPULAN DATA

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Observasi lapangan

Metode yang dilakukan dengan cara pengamatan langsung pada proses produksi yang ada di pabrik pengolahan getah karet.

2. Dokumentasi atau referensi

Metode yang dilaksanakan dengan cara pengambilan data melalui dokumen tertulis maupun referensi yang tersedia dari PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate (BRSE).

3. Studi literatur

Metode yang dilaksanakan dengan cara pengumpulan sumbersumber literatur dari elektronik yang berkaitan dengan laporan ini.

(15)

Tidak Permohonan Kerja Praktek

Mulai

Disetujui?

Ya

Penjajakan ke Perusahaan

Pengumpulan Data Khusus Pengumpulan Data Umum

Pelaksanaan Kerja Praktek

1.6 FLOWCHART PELAKSANAAN KULIAH PRAKTIK INDUSTRI Berikut ini merupakan flowchart pelaksanaan kerja praktek.

Disetujui? Tidak

Ya

Ganti Perusahaan

Penerimaan Surat Kerja Praktek

A

(16)

Disetujui?

Ya

Seminar Kerja Praktek Asistensi Laporan Kerja Praktek

Selesai

Penyerahan/ Peniliain Hasil Kerja Praktek Tidak

Gambar 1. 1 Flowchart Pelaksanaan Kuliah Praktik Industri A

Penulisan Laporan Kerja Praktek

Lulus

(17)

BAB II

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 SEJARAH PERUSAHAAN

PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate berada di Kebun Dolok Merangir, Serbalawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Sumatera Utara yang bergerak dalam bidang perkebunan dan pengolahan getah berupa barang setengah jadi yang disebut Crumb Rubber atau SIR (Standard Indonesian Rubber). Pada awalnya PT.Bridgestone Sumatera Rubber Estate ini bernama Goodyear Tire and Rubber, Co. yang diambil dari penemu proses vulkanisasi belerang yaitu Charles Goodyear. PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate merupakan anak Bridgestone Tire and Rubber Company yang berpusat di Akron, Ohio, Amerika Serikat.

Pada tahun 1916, Perusahaan perkebunan dan pengolahan karet di Dolok Merangir dibeli oleh perusahaan Goodyear dari Vrenide Indice Coltounderneering (VICO), yaitu salah satu perusahaan Belanda yang dipimpin oleh J.J.Blandeing. Pada Tahun 1917 dilakukan penanaman pohon karet pertama sekali di perkebunan Dolok Merangir. Beberapa pabrik didirikan dengan nama DM, DX dan FM. Tahun 1927, Planning Research Departement (PRD) dan Chemical Research Departement (CRD) didirikan, sekarang PRD diganti menjadi Field Service Departement (FSD) dan CRD diganti menjadi Quality Control Departement (QCD).

Sekitar tahun 1942-1945 setelah berakhirmya Perang Dunia II, bangsa Jepang menguasai pulau Sumatera dan usaha perkebunannya termasuk perkebunan karet di Dolok Merangir.

Namun, karena rakyat Indonesia melakukan perlawanan terhadap bangsa Jepang maka Jepang pun mengalami kekalahan dan kemudian mengangkat kaki dari Indonesia. Setelah bangsa Jepang tidak lagi berada di Indonesia, sekitar tahun 1946-1949 perkebunan karet di Dolok Merangir diorganisir dan di bawahi oleh pemerintah militer Belanda, tetapi perkebunan ini tidak menghasilkan keuntungan.

Tahun 1965, Pemerintah Indonesia menasionalisasi perusahaan ini melalui Badan Nasionalisasi Perusahaan Belanda yang diberi nama Perusahaan Perkebunan Negara (PPN).

Sekitar tahun 1965-1967 Goodyear diambil alih oleh pemerintah Indonesia berdasarkan Pempres No. 6/1964 sebagai akibat dari politik Dwikora yaitu penggayangan terhadap Malaysia.

Penguasaan manajemen diambil alih dan namanya diganti dengan PP Ampera I yang kemudian dilebur menjadi PPN Karet XVIII. Tahun 1967 oleh Pemerintah Orde Baru, manajemen

(18)

perusahaan ini menyerahkan kepada pemilik dan sebagaimana di dalam perjanjian antara Pemerintah RI dengan pihak Goodyear tertanggal 10 Oktober 1967. Kebun Aek Nabara diserahkan kepada negara dan sebagai ganti kebun Dolok Ulu dan Naga Raja yang sebelumnya milik negara diserahkankepada Goodyear. Ketiga perkebunan tersebut berlokasi di Dolok Merangir, Dolok Ulu, dan Naga Raja. Ketiganya dijadikan satu unit dan dibagi atas 4 divisi yang luasnya masing-masing sama. Pada tahun itu juga, kebun Naga Raja dan Dolok Ulu beralih dari PPN menjadi milik perusahaan Goodyear.

Pada 1967, setelah vakum selama dua tahun Goodyear menjadi perusahaan koorporasi multi nasional pertama yang diizinkan masuk kembali ke Indonesia yang kemudian memulai pengoperasian perkebunan. Pemerintah Indonesia telah mengizinkan melakukan eksploitasi perkebunan dengan baik selama 30 tahun. Pada tahun 1977, Goodyear mendirikan pabrik juga di Aek Tarum. Perkebunan PT. Haboko Tea Coy Aek Tarum diurus oleh Goodyear dari PT.

Lonsum pada tanggal 1 Oktober 1982. Pada tahun 1988, Goodyear berganti nama dari Goodyear Sumatra Plantations Company Ltd., menjadi PT. Goodyear Sumatera Plantations (GSP). Pada tahun 1996, PT. Goodyear Sumatra Plantations menjual 5% sahamnya untuk berdikari dalam persiapan mendapatkan hak paten baru, dan pada tahun 1997 permintaan untuk penambahan 30 tahun hak eksploitasi telah diterima. Kepemilikan saham perusahaan PT.Goodyear Sumatra Plantations sebanyak 1.900.000 saham telah beralih kepada Bridgestone Coorporation (Jepang) dengan nama perusahaan PT.Bridgestone Sumatera Rubber Estate yang merupakan badan hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia sejak tanggal 9 Agustus 2005.

Peralihan kepemilikan dan perubahan nama perusahaan tersebut tercantum dalam Keputusan Sirkuler pada Akte Notaris No.80 Persetujuan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I. No. C-02583 HT. 01. 04. TH, tanggal 2 Pebruari 2005 dan Persetujuan Badan Koordinasi Penanaman Modal R.I. No.236/B.2/A6/2005 tanggal 4 Oktober 2005. Dan pada akhirmya, bulan Agustus 2005 PT. Goodyear Sumatra Plantations (GSP) menjual sahamnya ke Bridgestone Group dan berganti nama manjadi PT.Bridgestone Sumatra Rubber Estate (PT.

BSRE). Peralihan kepemilikan dan perubahan nama perusahaan telah diumumkan melalui Harian Media Indonesia dan Suara Pembaharuan pada tanggal 1 September 2005. Saat ini PT.

Bridgestone Sumatera Rubber Estate memiliki 5 divisi yaitu : divisi I Naga Raja, divisi II Dolok Merangir, divisi III Dolok Tua Ulu, divisi IV Dolok Ulu dan divisi V Aek Tarum. Divisi 1-IV

(19)

terletak di Kabupaten Simalungun dan Divisi V terletak di Kabupaten Asahan. Tiap divisi dikepalai oleh seorang manajer.

PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate berada di divisi II Dolok Merangir yang memiliki 3 (tiga) pabrik pengolahan, yakni : Pabrik DX Factory, Pabrik DM Factory dan Pabrik FM Factory. Namun sekarang ini, pabrik pengolahan tersebut tidak hanya tiga saja, tapi sudah bertambah menjadi lima pabrik pengolahan. Pabrik pengolahan tersebut adalah : Pabrik NB 1 Factory, Pabrik NB 2 Factory. Operasi dari kelima pabrik pengolahan tersebut dalam pengolahan crumb rubber tersebut pada dasarnya sama, hanya perbedaannya terletak pada spesifikasi mutu teknis bahan pembuatan crumb rubber.

2.2 LOKASI PT. BRIDGESTONE SUMATRA RUBBER ESTATE Saat ini PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate memiliki 5 divisi yaitu : No Divisi Lokasi

1 Divisi I Naga Raja, Kab. Simalungun 2 Divisi II Dolok Merangir, Kab. Simalungun 3 Divisi III Dolok Tua Ulu, Kab. Simalungun 4 Divisi IV Dolok Ulu, Kab. Simalungun 5 Divisi V Aek Tarum, Kab. Asahan

Tabel 2. 1 Lokasi PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate

PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate saat ini memiliki pabrik pengolahan crum rubber seluas 106.53758 m2 dan mempunyai 5 (lima) pabrik pengolahan, yakni : 1. DX Factory (Dolok Merangir Expansion Factory)

2. DM Factory (Dolok Merangir Factory) 3. FM Factory (Foom Factory)

4. NB 1 Factory (New Bridgestone 1) 5. NB 2 Factory (New Bridgestone 2)

Operasi daripada kelima pabrik pengolahan tersebut dalam pengolahan crumb rubber tersebut pada dasarnya sama, hanya saja perbedaannya terletak pada spesifikasi mutu teknis bahan pembuatan crumb rubbernya.

PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate berada di Kebun Dolok Merangir, Serbalawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar 2115, Sumatera Utara, Indonesia. Berjarak

(20)

108 km dari Medan (ibu kota Propinsi Sumatera Utara) dan juga berjarak 20 km dari kota Pematang Siantar. Perkebunan dan pabrik ini terletak pada ketinggian ± 42 m dari permukaan laut, dengan topografi yang sebagian besar berbukit-bukit. Areal perkebunan di PT.Bridgestone Sumatera Rubber Estate Dolok Merangir ini mmepunyai batas-batas geografis yaitu:

1. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Serbelawan.

2. Sebelah barat berbatasan dengan pemumkiman penduduk dan Kecamatan Si Pis Pis.

3. Sebelah utara berbatasan dengan perkampungan Negri lawan.

4. Sebelah selatan bebrbatasan dengan Perumahan karyawan dan Desa Kampung umbong.

Gambar 2. 1 Lokasi PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate (Google Maps,2021)

Pendirian perusahaan tersebut memiliki letak yang sangat strategis hal tersebut disebabkan karena: 1. Sumber bahan getah karet tidak jauh dari lokasi pabrik karena Perkebunan karet tersebut merupakan milik PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate sendiri. 2. Didukung oleh transportasi dan komunikasi yang menunjang serta prasarana jalan yang baik, hal ini akan memudahkan pengiriman bahan baku barang setengah jadi untuk pemasarannya. 3. Di sekitar

(21)

lokasi pabrk tersedia tenaga kerja, yang cukup dan memiliki keterampilan sebagai tenaga kerja, sebagian karyawan yang dipekerjakan merupakan penduduk setempat. Luas area yang dimanfaatkan untuk kegiatan usaha perkebunan dan pengolahan karet oleh PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate (BSRE) sesuai luas areal Hak Guna Usaha (HGU) yang berlaku yaitu keputusan menteri negara agraria/Kepala Badan Pertahanan Nasional Nomor : 114/HGU/BPN/1997 dengan luas 2.486,73 Ha di Kabupaten Serdang Bedagai dan keputusan menteri negara agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor: 117/HGU/BPN/1997 dengan luas 11.226,38 Ha di Kabupaten Simalungun. Namun setelah diukur secara Kader Sera dengan mengeluarkan seluas 202,827 Ha areal untuk kawasan industri Kabupaten Simalungun dan perluasan wilayah Kota Kecamatan Tapian Dolok, Kantor imigrasi Pematangsiantar serta peruntukan jalan maka luas areal HGU PT. BSRE di Kabupaten Simalungun menjasi seluas 11.023,553 Ha. Izin HGU tersebut berlaku selama 25 tahun sejak diperpanjang pada tanggal 1 Januari 1998.

2.3 PROSES PRODUKSI

PT. Bridgestone melakukan proses produksi dengan mengolah getah karet menjadi bahan setengah jadi Crumb Rubber. Untuk mendapat kualitas mutu produk Crumb Rubber yang baik bermula dari penanaman dan perawatan karet di lapangan yang kemudian dilanjutkan dengan proses pengolahan yang melalui beberapa tahap di pabrik.

2.4 STANDAR MUTU PRODUK

Untuk menjaga kualitas produk yang dihasilkan, PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate melakukan pengawasan mutu. Pengawasan mutu dilakukan pada saat penerimaan bahan baku, proses maturasi, proses pembentukan crumb, sampai dengan finishing product. Untuk itu PT.

Bridgestone Sumatra Rubber Estate menerapkan standard mutu berdasarkan Standard Indonesian Rubber SIR. Untuk mendapatkan standar mutu berdasarkan Standard Indonesian Rubber SIR, maka PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate melakukan pengawasan mutu dimulai dari:

1. Standar bahan baku, 2. Standar proses maturasi,

3. Standar produk serta pendeteksian metal.

(22)

2.5 STRUKTUR ORGANISASI PT. BRIDGESTONE SUMATRA RUBBER ESTATE Struktur organisasi yang terdapat di perusahaan PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate adalah struktur organisasi hubungan campuran lini-fungsional, di mana terdapat bahwa hubungan lini sebagai hubungan utama dan hubungan fungsional sebagai pelengkap. Hubungan lini pada struktur organisasi tersebut menunjukkan bahwa bawahan tersebut hanya menerima tugas, tanggung jawab, wewenang serta haknya dari atasannya. Oleh karena itu, seorang bawahan hanya mengenal seorang atasan. Struktur organisasi lini tersebut terlihat pada Production Director yang memiliki bawahan yaitu Manager Production. Di mana seorang Manager Production harus mempertanggungjawabkan tugasnya kepada Production Director.

Untuk hubungan fungsional, di mana terdapat spesialisasi tugas dilakukan menurut fungsifungsinya, misalnya Bagian MFA dibagi lagi menurut fungsinya yaitu Manager Filed, Training Division, TD/AWS, dan Fire Safety Department.

Struktur organisasi PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate dapat dilihat pada Gambar 2.2

(23)

Gambar 2. 2 Struktur Organisasi Perusahaan PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate

(24)

BAB III

URAIAN PROSES PRODUKSI

3.1 PROSES PRODUKSI

Proses pengolahan Crumb Rubber pada PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate dilakukan dengan 3 tahapan proses. Tahapan Proses tersebut yaitu :

1. Penerimaan bahan baku a. Penimbangan truk isi b. Penyortiran

c. Penimbangan truk kosong d. Precleaning

e. Maturasi

2. Proses Pencucian, Pemotongan dan Pengeringan 3. Finishing Product

a. Penimbangan b. Pengujian Sampel c. Deteksi Metal d. Pengemasan

e. Penimpaan Bandela dengan Batu f. Penyimpanan

3.1.1 Bahan Baku

Bahan baku utama adalah semua bahan utama yang digunakan dalam pembuatan suatu produk dan ikut dalam proses produksi. Penggunaan bahan baku memiliki persentase terbesar dibandingkan dengan bahan tambahan maupun bahan penolong. Pada PT.Bridgestone Sumatra Rubber Estate khususnya pada DX Factory, bahan baku yang digunakan terdiri dari 3 jenis, yaitu :

1. BSRE Lump

BSRE Lump merupakan bahan baku yang berasal dari perkebunan Bridgestone Sumatra Rubber Estate. Getah karet ditampung didalam mangkuk yang menyerupai benjolan, sehingga bentuk getah karet akan menyerupai mangkuk. Bahan baku yang digunakan adalah cup lump

(25)

(getah mangkuk). Cup lump didapat dari kebun sendiri yang dikelola oleh PT. bridgestone Sumatra Rubber Estate. Adapun spesifikasi dari BSRE Lump, sebagai berikut :

a. Larangan kontaminasi

 Cup lump atau getah lain selain BSRE Lump

 Tanah atau lumpur

 Tatal

 Daun

 Pupuk TSP dan jenis penggumpal lain selain formid acid

 Besi, kawat, batu, goni, plastic dll b. Mutu Kualiti

 Kadar kotoran max 0,030%

 Kadar abu max 0,50%

2. Out Purchase Lump C1

Out Purchase Lump atau disingkat dengan OP lump merupakan karet yang berbentuk bongkahan mangkuk yang dibeli dari masyarakat. OP lump dibagi berdasarkan penyortiran menjadi CI dan C2. Berikut spesifikasi dari OP lump C1.

a). Larangan Kontaminasi

- Gumpalan tanah atau lumpur di bagian dalam

- Kayu dan tatal tidak lebih dari 1 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5 pes dengan diameter 4 cm per bongkah

- Daun dan tangkai daun tidak lebih dari 2 kelompok, yang terdiri dari 5 pcs per bongkah - Pupuk TSP dan penggumpal lain selain formid acid

- Besi, kawat, batu, rapia, plastik dll b). Mutu Kualiti

- Kadar kotoran max 3%

- Kadar abu max 0,1%

3. Out Purchase Lump C2

Out Purchase Lump C2 atau OP C2 merupakan bahan baku berbentuk mangkuk yang juga dibeli dari masyarakat. OP Ci dan OP C2 ditentukan berdasarkan grade. Berikut merupakan spesifikasi dari OP C2.

a. Larangan Kontaminasi

(26)

- Gumpalan tanah atau lumpur di bagian dalam tidak boleh lebh dari 4 kelompok per bongkah dengan diameter ± 4 cm

- Kayu dan tatal tidak lebih dari 5 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5 pcs dengan diameter 4 cm per bongkah

- Daun dan tangkai daun tidak lebih dari 5 kelompok, yang terdiri dari 5 pes per bongkah - Pupuk TSP tidak lebih dari 2 kelompok per bongkah

b. Mutu Kualiti

- Kadar kotoran max 5%

- Kadar abu max 0,1%

4. Treelace (Getah Tarik)

Treelace atau getah tarik merupakan getah yang berasal. Treelace harus berasal dari small estate

a. Larangan Kontaminasi

- Tatal dan daun tidak lebih dari 15 helai per bongkahan - Benang

3.1.2 Bahan Tambahan

Bahan tambahan adalah semua bahan yang digunakan pada proses produksi untuk memberikan nilai tambah suatu produk dan terdapat pada akhir. Biasanya bahan tambahan mempunyai presentasi yang sangat kecil dibandingkan dengan bahan baku. Bahan tambahan yang digunakan pada pembuatan crumb rubber diantaranya:

1. Plastik

Plastik digunakan sebagai pembungkus atau pelapis crumb rubber. Plastik berfungsi agar crumb rubber tidak terkontaminasi debu ataupun udara.

Karakteristik plastik yang digunakan sebagai pembungkus harus sesuai dengan standard SNI. Karakteristik yang harus sesuai dengan SNI diantaranya, warna plastik pembungkus, warna pita plastik, tebal plastik pembungkus dan titik leleh plastik.

2. Pallet

Pallet digunakan untuk meyimpan bandela-bandela yang telah dibungkus. Selain itu pallet memudahkan proses pengangkutan ke gudang penyimpanan serta

memudahkan proses pengangkutan ke kapal. Saat ini digunakan beberapa ukuran

(27)

pallet, yang ditentukan oleh jumlah bandela yang dapat ditampung didalamnya.

Jenis ukuran pallet yang digunakan adalah : a. Kemasan Pallet Standard berisi : 30 bandela.

b. Kemasan pallet jumbo berisi : 36 bandela.

c. Kemasan pallet super jumbo : 42 bandela, 3.1.3 Bahan Penolong

Bahan penolong merupakan bahan yang ikut membantu bahan utama dalam proses produksi tetapi tidak ikut di dalam proses produksi. Air merupakan bahan penolong yang digunakan pada proses pembuatan crumb rubber. Air sangat diperlukan karena pada umumnya industri pengolahan crumb rubber memerlukan proses pencucian yang banyak. Pada proses produksi pembuatan crumb rubber di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate, setidaknya ada enam buah tangki pencucian. Hal ini membuktikan bahwa air merupakan sumber daya yang sangat penting untuk membantu proses produksi pembuatan crumb rubber.

3.1.4 Proses Pengolahan a. Penimbangan bahan baku

Setiap truk yang datang ke pabrik akan melakukan penimbangan, penimbangan terbagi dua yaitu penimbangan isi dan penimbangan kosong. Penimbangan isi dilakukan pada saat truk masih berisi bahan baku, sedangkan penimbangan kosong dilakukan pada saat bahan baku telah disortir. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kuantitas dari bahan baku yang dibawa oleh truk. Bagi karet yang dibeli dari penduduk (out purchase), penimbangan memudahkan pembayaran perusahaan kepada pemilik karet.

b. Penyortiran

Bahan baku disortir pada area penerimaan bahan baku, disini muatan truk dibongkar.

Pekerja menyortir dan memisahkan bahan baku berdasarkan grade yang telah ditentukan.

Penentuan grade berdasarkan visualisasi pekerja. Kemudian bahan baku tersebut diletakkan di dalam tempat penampungan (bin) dan disortir ataupun dipisahkan antara BSRE Lump, C1, dan C2, setelah bahan baku disortir, maka dilakukan proses Precleaning.

c. Precleaning

Adapun tahap – tahap proses mesin precleaning adalah sebagai berikut :

1) Bahan baku diangkut dengan menggunakan belt conveyor ke mesin slab cutter.

2) Pemotongan bahan (Slab Cutter)

(28)

Memotong bahan baku menjadi ukuran yang lebih kecil dengan menggunakan slab cutter dan ukuran bahan menjadi 7-5 cm.

3) Pencucian bahan (Washing Settling Tank I)

Bahan yang telah dipotong dari slab cutter masuk ke dalam tangki yang berisi air untuk mencuci bahan dari pengaruh kontaminasi dan arus air yang mengalir mengitari bak pencucian akan membawa bahan baku ke bucket conveyor menuju pre breaker.

4) Mencincang Bahan (Pre breaker)

Pada Pre breaker dilakukan pencincangan bahan menjadi ukuran yang lebih kecil/halus dengan ukuran 2 cm yang akan dibawa menggunakan bucket conveyor menuju Washing settling Tank 2.

5) Pencucian Bahan (Washing Settling Tank 2)

Pada proses ini bahan baku kembali akan mengalami proses pencucian.

d. Maturasi

Maturasi merupakan cara yang digunakan untuk proses pengeringan pada periode yang ditentukan agar kadar kering bahan baku semakin tinggi sebelum diolah. Pada proses maturasi ini bahan baku dijemur di area BIN untuk mendapatkan kadar karet kering sebesar 75%-80%. Selama proses maturasi petugas Quality Control akan mengambil sampel untuk menguji Dry Rubber Content (DRC). Nilai dari DRC akan menentukan kelayakan bahan baku yang akan diproses.

3.1.5 Proses Pencucian, Pemotongan dan Pengeringan 1) Drag Conveyor

Bahan baku yang telah melewati proses maturasi dan kadar kekeringan telah sesuai dengan standar,partikel karet dari bin yang telah mencapai DRC 75-80% akan dibawa ke pabrik untuk pembuatan crumb biscuit. Bahan baku terlebih dahulu di tumpuk, kemudian bahan baku diletakkan di drag conveyor oleh pekerja untuk diproses pada mesin slab cutter.

2) Slab Cutter

Pada mesin slab cutter bahan baku dipotong menjadi menjadi ukuran yang lebih kecil. Bahan baku akan mengalami penekanan oleh screw press untuk melewati die plat dengan diameter lubang sebesar 25 mm. Bahan baku yang keluar dari die plate akan

(29)

dipotong dengan besi pemotong yang bekerja secara berlawanan, sehingga ukuran bahan baku semakin kecil.

3) Blending Bahan C1 dan C2 (Cyclone Tank)

Blending bahan di dalam Cyclone yang berisi air dengan menggunakan mesin mixer.

4) Mencincang Bahan (Pre breaker I)

Mencincang bahan dengan menggunakan Pre beaker I dan keluaran bahan yaitu 70 mm.

5) Blending Bahan (Cyclone Tank)

Blending bahan dengan menggunakan peralatan mesin mixer dan menghilangkan kontaminasi dari kotoran dengan menggunakan pipa sirkulasi air (berbentuk limas), dimana proses pemisahan kontaminsi kotoran dari bahan berdasarkan berat jenis.

6) Mencincang Bahan (Pre breaker II)

Mencincang bahan dengan menggunakan Pre breaker II dengan ukuran keluaran bahan 45 mm.

7) Blending Bahan (Washing Settling Tank I)

Blending bahan di dalam tangki I yang berisi air dengan menggunakan mesin mixer, dan menyaring bahan dari kontaminasi dengan menggunakan wadah pembatas diantara (penyekat) pada dinding tangki yang terdapat di dalam tangki 1, kemudian bahan ditransfer ke tangki 2 dengan menggunakan Bucket Conveyor.

8) Blending Bahan (Washing Settling Tank 2)

Blending bahan di dalam tangki 2 yang berisi air dengan menggunakan mesin mixer dan menyaring bahan dari kontaminasi dengan menggunakan mesin blower.

Kemudian bahan ditransfer ke tangki 3 dengan menggunakan mesin Conveyor dan akan melewati Hammer Mill.

9) Mencincang Bahan (Hammer Mill)

Mencincang bahan agar lebih halus dengan mesin Hammer Mill dan keluaran bahan berukuran 25 mm.

10) Blending Bahan (Washing Settling Tank 3)

(30)

Blending bahan di dalam tangki 3 yang berisi air dengan menggunakan mesin Blower. Kemudian bahan ditransfer ke tangki 4 dengan menggunakn mesin Screw Conveyor dan akan melewati Ekstruder.

11) Mencincang Bahan (Ekstruder I)

Mencincang bahan agar lebih halus dengan menggunakan Ekstruder I sehingga menjadi partikel-partikel yang lebih kecil dengan ketebalan sekitar 6 mm.

12) Blending Bahan (Washing Settling 4)

Blending bahan di dalam tangki 4 yang berisi air dengan menggunakan mesin mixer, dan menyaring bahan dari kontaminasi dengan menggunakan mesin blower.

Kemudian bahan ditransfer ke dalam Exstruder II.

13) Mencincang Bahan dan Menyaring bahan dari Kontaminasi (Ekstruder II)

Mencincang bahan agar lebih halus dengan menggunakan Ekstruder II sehingga menjadi partikel-partikel karet yang halus dengan ketebalan sekitar 2 mm dan kemudian menyaring bahan dari kontaminasi dengan menggunakan gas Cyclone berdasarkan tekanan udara yang dialirkan melalui pipa-pipa blower.

14) Air Classifier

Partikel – partikel karet yang telah didorong dengan menggunakan tekanan udara melalui pipa blower menuju trolley. Setiap satu trolley terdiri dari 28 kotak yang dibatasi oleh sekat yang terbuat dari stainless steel. Kemudian trolley ditempatkan di depan dryer di atas pusher untuk menunggu waktu disorong masuk.

15) Drying Process

Partikel karet dipisahkan dengan menggunakan tekanan udara melalui pipa blower menuju trolley. Setiap satu trolley terdiri dari 28 kotak yang dibatasi oleh sekat yang terbuat dari stainless stell kemudian trolley ditempatkan didepan dryer untuk menunggu waktu masuk kedalam dryer. PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate, menggunakan dryer stage 16 dipabrik FM, NBI, NB2 dan stage 20 dipabrik DM dan DX.

Pada stage 16 proses drying dilakukan dalam waktu 12 menit 20 detik per stagenya dengan suhu 127°C-140°C, sehingga waktu tinggal lebih lama dibandingkan stage 20.

Sedangkan pada pabrik DM dan DX, proses drying dilakukan dalam waktu 11 menit per stagenya dengan suhu 127°C-140°C, sehingga waktu tinggal lebih cepat dibandingkan stage 16. Pada proses drying. partikel-partikel karet tidak langsung bersentuhan dengan

(31)

api, tetapi hanya menggunakan panas api yang dihembuskan melalui fan yang berfungsi melakukan pendinginan. Setelah waktu yang ditentukan habis, trolley akan keluar otomatis. Selanjutnya akan dilakukan pembongkaran crumb yang telah masak. Crumb yang telah masak didiamkan minimal 7 menit sebelum dilakukan finishing product..

3.1.6 Finishing Product 1) Penimbangan

Lalu bale tersebut ditimbang sebanyak 35 kg. 1 bale = 35 kg, dan 1 pallet = 36 bale.

2) Pengambilan Sampel

Sampel diambil setiap sembilan bandela (yaitu 4 sampel per pallet). Sampel diambil dari setiap sudut yang berlawanan secara diagonal. Sampel yang diambil sekitar 300 – 400 gram sampel. Sampel diberi label, dibungkus dan dikirim untuk dianalisis oleh petugas QCD. Bandela kemudian dipotong dua setiap 6 bandela, secara visual diperiksa untuk memeriksa white spot dan kontaminasi. Bandela dibungkus sesuai dengan kriteria produk yang dihasilkan.

3) Pengepresan

Setelah itu, dilakukan proses pengepresan untuk memadatkan bale. Penimpaan pallet dilakukan dengan menggunakan batu penimpa. Sebelum ditimpa pallet terlebih dahulu dilapisi dengan plastik alas. Penimpaan pallet dengan batu ini dilakukan selama 4 jam.

4) Deteksi Logam

Bale yang telah dipress, dilewatkan melalui mesin detektor yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan logam yang terdapat pada bale.

5) Pengemasan

Setelah bale dideteksi, bale dikemas dengan plastik dan disusun dalam I pallet dan dikirim ke gudang penyimpanan untuk dilakukan proses packing.

a. Pengecekan

Forklift diperiksa sebelum melakukan aktifitasnya.

b. Penyortiran Metal Box

- Pemeriksaan metal box yang layak dan tidak untuk kemasan.

- Membersihkan kaki metal box yang ada kontaminan.

c. Pendistribusian Metal Box yang Bagus ke Pabrik

(32)

- Pentransferan Metal Box kosong ke masing – masing pabrik.

- Metal Box dilapisi dengan Top Layer sebagai tempat untuk menyimpan pallet.

d. Pentransferan Pallet dari Pabrik (Ready Process)

- Pallet – pallet dari masing – masing dilangsir ke gudang.

- Pallet dicheck dan ditimpa dengan batu penimpa untuk merapatkan pallet metal box agar muat dan rapi.

e. Pengepakan (Pengemasan) pallet

- Pallet dikemas dengan alat pengepak yang berupa plastik (Cover).

- Plastik (Cover) direkatkan dengan pada metal box dengan menggunakan Shrink Gun.

- Pengecekan ulang label marking dengan deklarasi terakhir diterima.

f. Penimpaan dan Penyusunan Pallet Ready Export

- Pallet selesai dikemas, ditimpa dan disusun dengan teratur di dalam gudang.

- Formasi susunan pallet 1 – 24 untuk baris 1 dan 25 – 48 baris kedua.

g. Pengiriman Pallet

- Pengiriman berdasarkan DO dan raffik.

- Pemeriksaan label marketing.

- Pemeriksaan air di pallet dengan kertas test.

- Pemeriksaan kaki metal box dan kebersihan kemasan.

(33)

Pencucian & Pemotongan Pre-Cleaning

Pengeringan & Pemasakan Maturasi

Penimbangan Bahan Baku

Penyortiran

Flowchart proses produksi crumb rubber di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate dapat dilihat pada gambar 3.1

BSRE Lump Out Purchase Lump

Gambar 3. 1 Flowchart Proses Produksi Crumb Rubber di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate

Limbah Finishing Product

Quality Test Parameter

(34)

3.2 MESIN DAN PERALATAN PRODUKSI 3.2.1 Mesin Produksi

Mesin merupakan peralatan produksi yang memerlukan penggerak. Untuk melakukan proses produksi pengolahan karet, PT. bridgestone Sumatra Rubber Estate mempunyai mesin sebagai berikut :

1. Nama Mesin : Slab Cutter

Fungsi Mesin : Memotong bahan baku

Model : CRSC

Motor : 75 HP, 150 rpm, 380 V Power Transmission : V-Belt & Pulley Ratio 11"-11"

Kecepatan : 50 rpm

Kapasitas : 6000-6500 kg/hr 2. Nama Mesin : Pre-Breaker

Fungsi Mesin : Memotong bahan baku

Model : Twin Screw pre-breaker MK II Diameter Die Plate : 25 mm

Motor : 60 HP, 1450 rpm

Power Transmission :V-Belt & Pulley Ratio 11"-11"

Kecepatan : 50 rpm

Kapasitas : 3000-3500 kg dry/hr 3. Nama Mesin : Screw Conveyor

Fungsi Mesin : Mentransfer bahan baku ke blower

Diameter :460 mm

Power : Chain 5/8", ratio sprocket 25/38 teeth Kecepatan : 22,2 rpm

Kapasitas : 5,69 Ton/Hr 4. Nama Mesin : Stirrer/Agitator

Fungsi Mesin : Mengaduk bahan baku pada settling tank

Model : CVV MI0-4190-BB

Panjang : 2780 mm

Lebar : 446 mm

(35)

Sistem Penggerak : Motor 10 HP, 1450 rpm, 3KO V, 50 Hz Mesin Penggerak : Toshiba VES7-4075P 400 V-7,5 kW 5. Nama Mesin : Bucket Conveyor

Fungsi Mesin : Mentransfer bahan baku ke proses selanjutnya Model : Portable twin chain

Panjang : 5000 mm

Lebar : 640 mm

Kecepatan : 0,13 m/det Kapasitas : 4,2 Ton/Hr

Mesin Penggerak : Toshiba VFS-4022P 400 V-2,2 kW 6. Nama Mesin : Pneumatic Transfer

Fungsi Mesin : Mentransfer partikel karet ke mesin Hammer mill, settling tank dan extruder.

Tipe : Axial centrifugal heavy duty fan LS-17 Ventury : Stainless stell tipe MK II

Motor : TECO Motor 60 HP, 1450 rpm, 380 VAC Gas Cyclone : Stainless stell tipe MK II

Kecepatan : 2220 rpm Diameter Pipa 8

7. Nama Mesin : Hammer Mill

Fungsi Mesin : Mencincang bahan baku menjadi ukuran yang lebih kecil.

Model : Hammer mill MK II :25 mm Diameter Screen : 25 mm

Motor : 75 HP, 1450 rpm, 380 VAC, 50 Hz Power Transmission : V-Belt & Pulley Ratio 12"-9"

Kecepatan : 1740 rpm

Kapasitas : 3000-3500 kg dry/hr 8. Nama Mesin : Extruder I

Fungsi Mesin : Mengekstruksi bahan baku menjadi partikel kecil Model : Single screw CRE MK III

Diameter Die Plate : 3-3,5 mm

(36)

Kecepatan : 100 rpm

Kapasitas : 2000-2500 kg dry/Hr Kapasitas Pemotong : 1450 rpm

9. Nama Mesin : Extruder II

Fungsi Mesin : Mengekstruksi bahan baku menjadi partikel kecil Model : Single screw CRE MK III

Diameter Die Plate : 2,4-3,5 mm Kecepatan : 100 rpm

Kapasitas : 2000-2500 kg dry/Hr Kapasitas Pemotong : 1450 rpm

10. Nama Mesin : Dryer

Fungsi Mesin : Mengeringkan partikel karet

Model : CRTD 2000 PpoW

Trolley : 20 section

Power : 75 HP, 1450 rpm, 380 VAC, 50 Hz Kapasitas : 2000 kg dry/hr

Dimensi Dryer : 23,6 m x 5 m x 1,25 m Dimensi Trolley : 4,6 m x 1,45 m x 0, 51 m 11. Nama Mesin : Ballig Press

Fungsi Mesin : Menekan potongan crumb schingga menjadi bandela Model : Twin chamber, MHP 105 ton

Tekanan : 3000 psi

Motor : 30 HP, 1450 rpm, 380 Volt, 50 Hz Waktu Pengepresan : 19

12. Nama Mesin : Conveyor Detector

Panjang : 3190 mm

Tinggi : 450 mm

Lebar : 700 mm

Motor : Motor Vasio T 80, 0,75 kW, 1420 rpm, 280 V, 50 Hz 5.2

(37)

3.2.2 Peralatan Produksi

Peralatan merupakan suatu alat yang digunakan pada proses produksi yang tidak mempunyai penggerak. Adapun peralatan produksi yang digunakan pada PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate sebagai berikut :

1. Nama Alat : Latex Receiving Tank

Fungsi Alat : Memudahkan alat untuk masuk ke drag coveyor:

Model : Ellipsoide pressure tank

Diameter : 1400 mm

Panjang : 2800 mm

Bahan : Mild steel plate 12 mm Kapasitas : 2,5 ton

2. Nama Alat : Skim Tank

Fungsi Alat : Memudahkan alat untuk masuk ke drag conveyor Model : Ellipsoide pressure tank

Diameter : 1400 mm

Panjang : 2800 mm

Bahan : Mild steel plate 12 mm Kapasitas : 1,25 ton

3. Nama Alat : Trolley

Fungsi Alat : Sebagai tempat untuk mengeringkan crumb pada mesin

Panjang : 4880 mm

Lebar : 1450 mm

Tinggi : 850 mm

Bahan : Aluminium

4. Nama Alat : Tangga Pengangkatan crumb biscuit

Fungsi Alat : Membantu pekerja dalam pengangkutan crumb

Panjang : 4880 mm

Bahan : Aluminium

5. Nama Alat : Meja Penumpukan Crumb Biscuit

Fungsi Alat : Penumpukan sementara crumb biscuit untuk proses pendinginan

Panjang : 4880 mm

(38)

Lebar : 124mm uw 004:

Bahan : Stainless stell 6. Nama Alat : Pisau Crumb Biscuit

Fungsi Alat : Memotong crumb biscuit untuk penimbangan maupun untuk pengambilan sampel

Panjang : 600 mm

Lebar : 10 mm

Bahan : Stainless steel

7. Nama Alat : Gancu

Fungsi Alat : Menarik Crumb biscuit dari trolley

Panjang : 500 mm

Bahan : Besi

(39)

BAB IV

UTILITAS DAN PENGOLAHAN LIMBAH

4.1 UTILITAS

Bahan pendukung atau utilitas pabrik adalah merupakan sebutan atau istilah untuk penamaan bahan-bahan pendukung untuk kelancaran proses produksi di pabrik guna berlangsungnya proses produksi di pabrik yang sifatnya sangat berpengaruh pada :

1. Bahan-bahan yang diperlukan untuk berlangsungnya kerja perlatan proses.

2. Bahan-bahan yang diperlukan untuk berlangsungnya jalan operasi proses pada peralatan pengolah.

4.2 SUMBER AIR

Untuk memenuhi kebutuhan air di PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estateberasal dari 2 sumber yaitu dari mata air Sumber Seri dan hasil Recycle water. Air tersebut digunakan untuk proses precleaning dan pencucian bahan.

4.3 TENAGA LISTRIK

Unit ini berfungsi untuk memenuhi kebutuhan listrik di seluruh area pabrik, pemenuhan kebutuhan listrik dipenuhi oleh PLN dan sebagai cadangan adalah generator set untuk menghindari gangguan yang mungkin terjadi pada PLN.

Kebutuhan listrik dapat dibagi : a. Listrik untuk keperluan proses b. Listrik untuk utilitas

c. Listrik untuk penerangan dan AC d. Listrik untuk laboratorium dan bengkel e. Listrik untuk instrumentasi

4.4 BAHAN BAKAR

Dalam proses produksi pada PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate, alat yang menggunakan bahan bakar adalah boiler dan dryer. Bahan bakar yang digunakan utuk alat tersebut yaitu solar.

(40)

4.5 PENGOLAHAN LIMBAH 4.5.1 Pengolahan Limbah Cair

4.5.1.1 Penguraian oleh Bakteri Aerob dan Anaerob

Di alam, unsur organik diuraikan oleh mikroorganisme. Mekanisme cara penguraian oleh mikroorganisme terbagi dua :

1. Penguraian secara aerob, yaitu dengan memanfaatkan oksigen yang terlarut dalam air maupun yang ada di udara.

2. Penguraian secara anaerob, yaitu dengan mengambil oksigen dari NO senyawa ion sulfat, nitrat air atau unsur organik lain.

4.5.1.2 Dasar Pengolahan Sistem Lumpur Aktif

Di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate menggunakan lumpur aktif sebagai pengolahan limbah cair. Proses lumpur aktif adalah suatu sistem yang menguraikan senyawa organik dengan menggunakan bakteri/mikroba pengurai yang bersifat aerob dengan perbandingan keduanya dikontrol agar selalu tetap. Dalam, proses penguraian senyawa organik dengan lumpur aktif dibuat bersinggungan dengan waktu yang memadai sambil diberikan pasokan udara (oksigen). Dari proses isi senyawa organik akan mengalami oksidasi atau terurai.

Dalam sistem lumpur aktif, berbagai macam bakteri, fungi, protozoa, dan metazoan hidup di dalamnya. Kumpulan mikroba ini membentuk struktur piramida rantai makanan. Dalam proses lumpur aktif yang berada pada piramida level bawah adalah bakteri dan fungi, di atas bakteri dan fungi terdapat kumpulan protozoa dan di atasnya lagi terdapat nematode dan rotatoria. Makhluk hidup pada level atas pemakan makhluk hidup pada level di bawahnya sehingga membentuk struktur piramida rantai makanan. Air limbah dibersihkan oleh kumpulan mikroba-mikroba yang membentuk piramida seperti ini, Jenis mikroba yang hidup pada lumpur aktif berbeda-beda bergantung tingkat kebersihan dari airnya, Sistem lumpur aktif merupakan cara penguraian dan oksidasi senyawa organik (COD, BOD) air limbah dengan memanfaatkan reaksi biologis (dalam kolam aerasi) dari bakteri aerob. Bakteri aerob melakukan aktivitasnya (memperbanyak sel, melakukan metabolisme biologis) berdasarkan energi yang diperoleh dari penguraian dan oksidasi dengan menyerap oksigen terlarut (DO) dan senyawa

(41)

organik dalam air limbah yang sedang diurai.

Sebagai hasil aktivitas biologis seperti ini, air limbah menjadi bersih dengan kualitas air yang dipengaruhi oleh waktu tinggal, perbandingan jumlah bakteri dan senyawa organik, lingkungan aktivitas bakteri (kondisi dalam aerasi dan sebagainya). Adapun proses pengolahan limbah cair pabrik dengan ASETS yaitu sebagai berikut :

a. Final Rubber Trap dan De-Watering Screen

Air limbah dari masing-masing rubber trap pabrik, dihomogenkan ke rubber trap akhir melalui dewatering screen untuk memisahkan limbah padat (plastik, sampah, tatal, dll) yang masih terkandung dalam air limbah.

b. Aeration Tank

Tangki aerasi berfungsi menguraikan senyawa organik (COD, BOD) air limbah dengan memanfaatkan reaksi biologis bakteri acrob dalam tangki aerasi. Bakteri aerobik melakukan aktivitas (menggandakan sel, metabolisme biologis) dengan energi yang berasal dari dekomposisi dan oksidasi dengan menyerap oksigen terlarut (DO: 1,5 2 ppm) dan senyawa organik dalam air limbah.

c. De-Nitrification Tank

Pada bagian ujung tangki aerasi sebelum masuk ke tangki pengendapan terdapat Tangki Denitrifikasi. Tangki denitrifikasi berfungsi untuk mengubah nitrogen oksida (NO) menjadi gas Na untuk mengurangi kandungan nitrogen total

dalam air olahan. Pada De-Nitrification Tank berkurangnya suplai oksigen (DO < 0,5 ppm) memungkinkan kondisi Anaerobic sehingga rantai oksigen akan terlepas pada nitrogen oksida dan nitrogen oksida akan berubah menjadi gas N2.

d. Settling Tank Outlet dan Return Sludge

Settling tank berfungsi untuk memisahkan air hasil olahan dengan lumpur. Air hasil olahan dialirkan ke tangki indikasi dan lumpur kembali ke tangki aerasi,.Dengan adanya sintesis sel bakteri dan akumulasi Suspended Solids anorganik yang mengalir ke ASETS menyebabkan MLSS di tangki aerasi akan meninekat sehingga sludge perlu dibuang secara berkala.

e. Indication Tank

Sebagai indikator kualitas air olahan, kualitas air diperiksa setiap han secara internal dan eksternal setiap bulan. Dalam tangki indikasi ini ditempatkan ikan air tawar (goldfish) sebagai

(42)

indikator visual kualitas air yang diolah. Pada tangki indikasi terdapat pompa air daur ulang yang berfungsi untuk

mengembalikan air olahan ke pabrik sekitar 70%.

f. Outlet Of WWTP

Air olahan yang tidak digunakan oleh pabrik dibuang ke sungai sesual dengan peraturan yang berlaku.

g. Sludge Thickening

Kelebihan lumpur dipompa melalui 2 unit tangki dewatering lumpur dengan kapasitas 30 m3 /unit yang berfungsi untuk mengendapkan lumpur. Di tangki de-watering lumpur lumpur akan diendapkan dan air jernih dikembalikan ke ASETS. Sedangkan hasil endapan lumpur akan dibuang melalui Drying Bed.

h. Sludge Drying Bed

Sludge drying bed berfungsi untuk mengeringkan kelebihan lumpur sebelum digunakan sebagai pupuk. Terdapat 8 unit jemuran dengan kapasitas 16 m3/unit.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi lumpur aktif, antara lain : 1. Faktor yang sulit dikendalikan

 Komposisi air limbah, karena bergantung pada kondisi proses pabrik, dapat juga berubah dikarenakan pemakaian air re-use.

 Konsentrasi air limbah, bergantung pada volume dan jumlah produksi pabrik.

 Suhu air limbah.

 Volume air limbah.

2. Faktor yang dapat dipantau dari fasilitas pengolahan air limbah :

 Waktu tinggal kolam aerasi.

 Waktu tinggal kolam pengendapan.

 Kolam pengolahan awal, pengendalian pH, pengendapan pasir dan tatal, penghilangan minyal dan lain-lain.

3. Faktor yang dapat dikendalikan

 Beban BOD lumpur, yang ditentukan berdasarkan konsentrasi MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid) kolam aerasi terhadap BOD dan volume air limbah, diatur dengan mengubah konsentrasi MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid) yang sesuai dengan beban lumpur.

(43)

 Konsentrasi MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid) kolam aerasi, diperkirakan dari SV30. MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid) dikendalikan dengan mengatur volume lumpur balik dan volume lumpur yang dikeluarkan.

 Volume lumpur balik, agak MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid) kolam aerasi tidak berfluktuasi.

 Konsentrasi DO (Dissolved Oxygen) kolam aerasi, ditentukan berdasarkan jumlah blower/aerator juga dipengaruhi oleh konsentrasi MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid), BOD, dan suhu air.

 Volume air sirkulasi, untuk mengubah NO3 menjadi N2 dibutuhkan lingkungan anaerob (DO dibawah 1 ppm). Pada bagian inlet kolam aerasi, reaksi biologis oleh mikroba sangat aktif sehingga kebutuhan oksigen tinggi dan DO di bagian ini rata-rata dibawah 1 ppm, dengan adanya kondisi ini maka air yang mengandung NO3 dialirkan ke tempat ini dengan tujuan melepas nitrogen.

 Volume lumpur yang dibuang, karena konsentrasi MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid) dalam kolam aerasi meningkat akibat penguraian BOD, maka untuk mengendalikan konsentrasi MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid) perlu dilakukan pembuangan lumpur yang berlebih secara periodic

4.5.1.3 Karakteristik Sistem Lumpur Aktif

 Jika pH limbah cair cenderung bersifat asam atau basa (pH di luar antara 5-9) harus dinetralkan dulu. Toleransi mikroba pada sistem lumpur aktif untuk dapat melakukan aktifitasnya adalah ph 5-9.

 Mikroba dengan kekuatan enzimnya setelah memilah senyawa organik, lalu melakukan penguraian atau oksidasi. Karena itu senyawa kimia yang tidak dapat dipilah oleh enzim menjadi sulit diuraikan oleh mikroba. Di dalam bahan pencemar maupun senyawa polimer terdapat senyawa yang tidak dapat diurai.

 Ada pengecualian seperti pada cara penghilangan NH3 (pada proses denitrifikasi NH3 dioksidasi berubah menjadi NO3-, kemudian dijadikan gas N2 yang lepas ke udara) tetapi pada dasarnya untuk jenis anorganik yang menganndung klor yang tidak dapat dihilangkan.

(44)

 Dalam penguraian senyawa organik, bakteri melakukan sintesa sel bersamaan dengan reaksi tubuh untuk melangsungkan hidupnya, maka untuk proses sintesa sel diperlukan phosporus, nitrogen, sedikit senyawa Fe, Mg, Ca serta lainnya.

 Pada umumnya, dalam pengolahan secara biologi 50-70% BOD yang diuraikan dipakai sebagai energi unutk melakukan aktifitas, sedangkan 30-50% sisanya dipakai untuk pembelahan sel sehingga timbul lumpur yang berlebih.

4.5.1.4 Pengoperasian Sitem Lumpur Aktif Syarat-syarat pengoperasian :

 Beban BOD lumpur pada kolam aerasi diupayakan agar selalu dikendalikan sesuai ketentuan.

 Pasokan udara (oksigen) harus cukup, jangan sampai mengganggu penguraian BOD.

 Lumpur yang dikembalikan dari kolam pengendapan harus lebih pekat dari lumpur di kolam aerasi.

 Untuk mengontrol beban BOD lumpur (rasio perbandingan BOD terhadap volume lumpur) dalam batas yang sesuai, lumpur yang dipisahkan pada kolam pengendapan dialirkan kembali secara kontinu di kolam aerasi.

 Perubahan debit air limbah cair yang masuk ke dalam kolam aerasi diupayakan fluktuasinya sekecil mungkin.

 Dengan adanya sintesa sel bakteri dan penumpukan SS anorganik yang mengalir masuk maka MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid) kolam aerasi akan bertambah, agar kondisi pengoperasian konstan, lumpur perlu dibuang keluar secara periodik.

Pengendalian pengoperasian :

 Setelah menempuh tahapan asukan pembibitan, masukan air limbah secara normal.

 Pantau kenaikan MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid) dari lumpur dan DO di kolam aerasi 2x sehari.

 Nilai DO di kolam aerasi perlu dikendalikan dalam kisaran 0,5-2 ppm

 Apabila DO mencapai > 3 ppm, maka 1 unit blower dapat dimatikan.

 Pantau kejernihan air dikolam pengendapan setiap hari dengan alat ukur tongkat uji transparasi.

 Pengoperasian normal diperkirakan akan terjadi setelah berjalan 14-30 hari.

(45)

 Kejernihan kolam lumpur aktif yang baik akan mencapai > 40 cm.

 Bila MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid) dikolam aerasi melebihi dari yang ditentukan, atur pembuangan lumpur balik secara periodic.

Adapun flowchart sistem pengolahan air limbah di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate dapat dilihat pada gambar 4.l berikut.

(46)

Sludge Excess

Setling Tank Outlet And Return Sludge

Outlet Of Waste Water Treatment Process

Indication Tank De-Nitrification Tank

Aeration Tank Waste Water From Factory

NB1, NB2, And Factory FM

Rubber Trap And De-Watering Screen

Gambar 4. 1 Flowsheet Sistem Pengolahan Limbah Cair PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate (BSRE)

Start

Waste Water From Factory DM, DX, and Pre-Cleaning Waste Water From

New Pre-Cleaning

Sludge Drying Bed Waste Water Inlet Tub

Sludge Sludge

(47)

4.5.2 Pengolahan Gas Emisi

Salah satu limbah yang harus ditangani PT. BSRE ialah penanganan limbah gas emisi yang dihasilkan dari udara kotor yang keluar dari Burner solar yang digunakan pada Dryer saat pengeringan crumb rubber pada dry process. Dimana terdapat fan untuk menyalurkan panas karbon berlebih langsung dialirkan ke cerobong dan masuk kedalam blower.

Alat fasilitas deodorasi scrubber dirancang seperti berikut ini : Diameter exhaust fan dryer : 0,4 m

Luas permukaan exhaust fan dryer : 0,13 m2 Kecepatan udara : 19,80 m/detik

Volume gas buang : 149,35 m3/menit

Gambar 4. 2 Air Scrubber

Pada rancangan ini, diambil dari data kecepatan aliran udara pada exhaust fan dryer di factory NB2

Volume gas buang : 150 m3/menit Kecepatan udara : 1,5 m/detik Waktu kontak : 1,5 detik Rasio gas cairan : 2 l/m3

Luas permukaan scrubber (S) : 1,67 m2 Diameter scrubber (D) : 1,46 m

Tinggi bahan isi (L) : 2,25 m

(48)

Volume bahan isi (V) : 3,75 m3 Kapasitas sirkulasi : 300 l/menit Tinggi tangki air sirkulasi : 0,72 m

Tinggi ruang bawah lapisan isi C : 0,530 m Tinggi ruang bawah lapisan isi B : 0,539 m Diameter lubang buangan (d) : 0,495 m Tinggi bagian miring scrubber (A) : 0,287 m Tinggi tangki scrubber (H) : 4,308 m

(49)

BAB V TUGAS KHUSUS

ANALISA TEMPERATUR TERHADAP PLASTISITAS DAN VISKOSITAS MOONEY CRUMB RUBBER MUTU SIR 20-CV DI PT.BRIDGESTONE SUMATERA RUBBER

ESTATE

5.1 TINJAUAN PUSTAKA 5.1.1 Karet

Karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar.Batang tanaman mengandung getah yang dinamakan lateks. Daun karet berwarnahijau terdiri dari tangkai daun.

Panjang tangkai daun utama 3-20 cm. Panjang tangkai anak daun sekitar 3-10 cm dan ujungnya bergetah. Biasanya ada tiga anakdaun yang terdapat pada sehelai daun karet. Anak daun berbentuk eliptis,memanjang dengan ujung meruncing. Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah.Jumlah biji biasanya ada tiga kadang enam sesuai dengan jumlah ruang. AkarTanaman karet merupakan akar tunggang. Akar tersebut mampu menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan besar (Sofiani, dkk. 2018)

Karet adalah polimer hidrokarbon yang terkandung pada lateks beberapa jenis tumbuhan.

Karet juga merupakan polimer dari satuan isopropena yang tersusun dari 5000 hingga 10000 satuan dalam rantai tanpa cabang. Karet memiliki rumus C2H5. Diduga kuat, tiga ikatan pertama bersifat trans dan selanjutnya bersifat cis. Senyawa ini tidak terkandung pada pada lateks pohon penghasilnya. Pada suhu normal, karet tidak berbentuk (amorf), sedangkan pada suhu rendah karet akan mengkristal. Dengan meningkatnya suhu, karet akan mengembang, searah dengan sumbu panjangnya. Penurunan suhuakan mengembalikan keadaan mengembang ini, iniah alasan mengapa karet bersifat elastis. (Ompusunggu, 1987)

5.1.2 Komposisi Karet

Komposisi kimia lateks Havea segar secara garis besar adalah 25%-40% bahan karet mentah (crude rubber) dan 60-75% serum yang terdiri dari air dan zat yang terlarut. Bahan karet mentah terdiri 90-95% karet murni, 2-3% protein, 1-2% asam lemak, 0.2% gula, 0.5% jenis

Gambar

Gambar 1. 1 Flowchart Pelaksanaan Kuliah Praktik Industri A
Tabel 2. 1 Lokasi PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate
Gambar 2. 1 Lokasi PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate  (Google Maps,2021)
Gambar 2. 2  Struktur Organisasi Perusahaan PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate
+7

Referensi

Dokumen terkait

Muhammad Idris Nasution : Penentuan Jumlah Amoniak Dan Total Padatan Tersuspensi Pada Pengolahan Air Limbah PT.. Bridgestone Sumatera Rubber Estate Dolok

Sumi Rubber Indonesia, Tbk (Dunlop Indonesia). Bridgestone Tire Indonesia sebagai tempat melaksanakan praktik karena perusahaan tersebut memberikan kesempatan kepada praktikan

Selama tiga tahun terakhir ekspor karet alam berfluktuasi.. 19 dan Direktoral Jenderal Perkebunan Indonesia, Statistik Perkebunan Indonesia Tree Crop Estate Statistic

PENENTUAN AMMONIAK PADA LIMBAH CAIR PENGOLAHAN KARET REMAH DENGAN BAHAN BAKU LATEKS PEKAT DAN LUMP MANGKOK DI PT.BRIDGESTONE SUMATERA RUBBER ESTATE DOLOK MERANGIR..

Penanaman untuk kebun benih konvensional dimulai dari pembukaan lahan, pengolahan lahan, penanaman, pemupukan dan pemeliharaan tanaman sampai bumbun dengan umur 6 s.d 8

PRAKTIKUM PENGELOLAAN PERKEBUNAN KARET RUBBER PLANTATION MANAGEMENT PRACTICES. Alfian

bergerak di bidang usaha perkebunan dan pengolahan karet dari bahan baku.. berupa lateks menjadi crumb

Indonesia adalah negara dengan lahan perkebunan karet terluas, tetapi produktivitasnya masih di bawah Thailand dan Malaysia karena pengolahan karet kurang