• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN MAGANG PT ERI

N/A
N/A
Fachrul Iphone6

Academic year: 2025

Membagikan "LAPORAN MAGANG PT ERI"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN SOP PEMINDAHAN PASIEN AMBULAN,ALUR PERMINTAAN AMBULAN DAN PENDOKUMENTASIAN

DATA PERMINTAAN AMBULAN DI PT EMERGENCY RESPONSE INDONESIA

LAPORAN KEGIATAN MAGANG

Disusun oleh :

Fachrul Shidiq : 1073231006

FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS MOHAMMAD HUSNI THAMRIN PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN

MASYARAKAT TAHUN

2025

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur

kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga Laporan Magang ini dapat diselesaikan dengan baik. Laporan Magang ini disusun untuk memenuhi kewajiban bagi penulis yang telah melaksanakan magang yang diselenggarakan oleh program studi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas MH.Thamrin.

Adapun maksud dan tujuan penulis disini dalam menyusun Laporan Magang ini ialah sebagai bukti tertulis dari hasil pelaksanaan Magang yang telah dilaksanakan pada tanggal 17 Februari – 17 Mei 2025 bertempat di PT Emergency Response Indonesia. Pada kesempatan ini tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Allah SWT yang telah memberi kehidupan serta segala berkah dan anugerah sehingga memungkinkan penulis untuk melakukan hal-hal luar biasa dan berguna bagi orang lain.

2. Dr. Daeng Mohammad Faqih, SH, MH, Rektor Universitas MH. Thamrin.

3. Atna Permana, M.Biomed., Ph.D selaku Dekan Fakultas Kesehatan Universitas MH. Thamrin.

4. Dwi Wahyuni, SKM, MKM, Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas MH. Thamrin.

5. Yuyun Kurniawati,SKM.,MKM selaku Dosen Pembimbing Akademik yang memberikan arahan dan bimbingan serta ilmunya sehingga Laporan Magang

(3)

ini dapat terselesaikan.

6. Epan Varasi Sianturi, SKM selaku Pembimbing lapangan sekaligus Head Division di PT Emergency Response Indonesia yang telah memberikan arahan dan masukan sehingga Laporan Magang ini dapat terselesaikan.

7. Seluruh pegawai dan tim operasional di PT Emergency Response Indonesia yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis.

8. Orang Tua dan keluarga besar yang senantiasa memberikan semangat, dukungan, perhatian serta doa kepada penulis.

9. Teman-teman Non Reguler 19 Universitas MH Thamrin yang selalu memberi dukungan kepada penulis.

10. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam proses penyelesaian Laporan Magang ini.

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pelayanan kesehatan di rumah sakit berlangsung sebelum pasien tiba di rumah sakit, saat berada di rumah sakit dan sampai pulang dari rumah sakit.

Pelayanan diluar rumah sakit salah satunya adalah pelayanan transportasi pasien. Alat transportasi tersebut berupa mobil ambulans yang harus dapat menjamin keselamatan, keamanan dan kenyamanan pasien sampai ketempat tujuan. Penaggung jawab operasional pelayanan ambulans dilakukan oleh Instalasi Gawat Darurat (IGD). Transportasi pasien sangat penting bagi prioritas keselamatan pasien menuju rumah sakit atau sarana yang memadai, maka dari itu dibutuhkan peralatan yang menunjang untuk pasien serta koordinsi yang yang baik terjalin antara perawat dan dokter mengenai situasi medis pasien. (Kemenkes, 2001).

Ambulans adalah kendaraan yang dilengkapi peralatan medis untuk mengangkut orang sakit atau korban kecelakaan. Fungsi ambulans menurut NHS United Kingdown (National Health Service) mempunyai dua fungsi, yang pertama fungsi bantuan kecelakaan dan paramedis kegawatdaruratan, yang kedua fungsi pasien transportasi dari dan kepelayanan kesehatan yang dituju (rujukan), dari dua fungsi tersebut menurut Kemenkes (2001) mobil ambulans dibedakan menjadi empat jenis yaitu satu ambulans trsportasi dua ambulans gawat darurat tiga ambulans rumah sakit lapangan empat ambulans pelayanan medik bergerak.

(5)

Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah salah satu unit yang bertanggung jawab terhadap keberadaan ambulans, namun untuk pelaksanaan yang meliputi operasional harian, perawatan harian dan kebersihan mobil ambulans menjadi tanggung jawab driver ambulans. Pelayanan transportasi yang dilakukan oleh driver ambulans harus bisa menjaga rasa aman dan nyaman bagi penumpang ambulans yang tentunya akan meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit. Agar tercipta pelayanan ambulans yang aman dan nyaman maka driver ambulans perlu di bekali pengetahuan atau Pendidikan bagaimana agar mengemudi ambulan secara aman (safety driving).

Menurut Sugiharto (2016) Safety driving adalah perilaku mengemudi yang aman yang bias membantu untuk menghindari masalah lalulintas. Safety driving merupakan merupkan pelatihan dasar mengemudi lebih lanjut yang lebih memperhatikan keselamatan bagi pengemudi dan penumpang, safety driving didesign untuk awareness (kesadaran) pengemudi terhadap segala kemungkinan yang terjadi selama mengemudi. Pengemudi yang baik harus selalu memakai atau memperhatikan alertness (kewaspadaan), awareness (kesadaran), attitude (tingkah laku) dan anticipation (pengharapan). (Kompas, 28 Maret 2016).

Menurut Setyo (2016) faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang antara lain : umur, pendidikan, pekerjaan, paparan informasi, sosial ekonomi, pengalaman, dan lingkungan. Sedangkan faktor yang mempengaruhi sikap adalah pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan dan lembaga agama,

(6)

pengaaruh faktor emosional. Dari penjelasan diatas terlihat jelas bahwa di Indonesia khususnya di wilayah Jawa Tengah angka kecelakaannya masih sangat tinggi, sehingga perlunya diterapkan safety driving (berkendara yang aman) kepada setiap pengemudi yang ada sehingga dengan ini dapat menurunkan angka kecelakaan lalu lintas yang ada di Indonesia. Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana gambaran pengetahuan driver ambulans Rumah Sakit tentang safety driving di Rumah Sakit pendidikan tipe B dan C kota Semarang.

1.2 Tujuan Umum

Adapun tujuan utama dari magang ini adalah mengetahui Peningkatan SOP Pemindahan Pasien Ambulan, Alur Permintaan Ambulan Dan Pendokumentasian Data Permintaan Ambulan Di PT Emergency Response Indonesia.

1.3 Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari magang ini mengetahui manajemen tim operasional ER untuk mempersiapkan dan meningkatkan kualitas pelayanan evakuasi medis, yang meliputi:

Mahasiswa mengetahui gambaran alur dan SOP permintaan ambulance.

Mahasiswa mengetahui ketidaktepatan dalam pelaksanaan pemindahan pasien dari bed ke brankar ambulan.

Mengetahui kurangnya sosialisasi alur permintaan ambulan terutama dalam permintaan ambulan internal.

Mengetahui kurang terintegrasinya pendokumentasian data setiap permintaan ambulan.

(7)

Menetapkan Masalah dan menentukan Prioritas Masalah dengan menggunakan metode Bryant

Menetapkan alternatif pemecahan masalah dan menentukan prioritas alternatif pemecahan masalah.

1.4 Manfaat Magang

1.4.1 Manfaat Untuk Mahasiswa

 Menambah wawasan dan pengetahuan sebagai sarana untuk melatih diri melakukan dan menerapkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh dalam perkuliahan.

 Hasil magang ini dapat menjadi bahan acuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa.

1.4.2 Manfaat Untuk Instansi Magang

 Instansi dapat memanfaatkan mahasiswa untuk membantu penyelesaian tugas- tugas lapangan serta memberikan masukan alternatif pemecahan bagi setiap permasalahan yang terjadi.

 Dapat mengembangkan kemitraan antara Prodi S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Universitas MH. Thamrin dengan PT Emergency Response yang terlibat dalam kegiatan magang baik untuk kegiatan penelitian maupun pengembangan.

 Laporan hasil magang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber informasi mengenai situasi umum di instansi tempat magang dilaksanakan.

1.4.3 Manfaat Untuk Universitas MH Thamrin

 Terbinanya suatu jaringan kerjasama yang berkelanjutan antara Prodi S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Universitas MH. Thamrin dengan instansi PT Emergency Response dalam upaya meningkatkan keterkaitan dan kesepadanan antara substansi akademik dengan pengetahuan dan keterampilan sumber daya

(8)

manusia yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan.

 Mendapatkan masukan yang berguna untuk penyempurnaan kurikulum dan pengembangan silabus mata ajar sesuai dengan kondisi sebenarnya di PT Emergency Response.

 Meningkatkan kapasitas dan kualitas pendidikan dengan melibatkan tenaga lapangan dalam kegiatan Magang.

1.5 Ruang Lingkup

Ruang lingkup Magang ini adalah Tim Operasional PT Emergency Response Indonesia.

(9)

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI MAGANG

2.1 Sejarah Singkat PT Emergency Response Indonesia

PT. Emergency Response Indonesia adalah suatu Perseroan Terbatas yang didirikan berdasarkan ketentuan hukum Negara Republik Indonesia, sesuai dengan akta pendirian No. 42 tanggal 5 Oktober 2007 dihadapan Notaris Ingrid Lannywaty, SH., Notaris di Jakarta, yang telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asai Manusia Republik Indonesia No. C-964. HT. 03 02 – Th 2002 tanggal 5 Agustus 2002 dan berikut perubahan-perubahannya; yang berkedudukan RSU Bunda Jakarta, Lt.8, Jl. Teuku Cik Ditiro No.21. Menteng – Jakarta Pusat, 10350. (Perseroan Terbatas) Emergency Response Indonesia.

Emergency Response (ER) Indonesia merupakan bagian dari Bunda Medik Healthcare System Group Jakarta yang memberikan layanan terkait dengan kegawatdaruratan (emergency service). Kami memiliki tenaga medis operasional yang cepat tanggap untuk setiap permintaan gawat darurat selama 24/7.

Tim medis dan paramedis ER Indonesia dipastikan sudah berpengalaman dalam berbagai misi evakuasi medis baik melalui mode transportasi darat, udara dan laut. ER Indonesia juga memiliki dokter pelaksana yang ahli dalam memberikan rekomendasi medis.

Setiap evakuasi pasien berjalan sesuai standar operasional prosedur dan terus diawasi dengan maksimal oleh tim keselamatan kerja. Kami selalu menjaga

(10)

integritas dalam menjalankan setiap misi evakuasi untuk memberikan kepuasan pelayanan kepada pasien.

Layanan kami antara lain;

• Neonatal & Children Emergency Transport (NICU/PICU)

• Medical Evacuation (Ground Ambulance and Air Ambulance)

• Medical Escort

• Ambulance & Medical Team Standby

• Home Service

• Doctor and Paramedic on Site

• Repatriation of Mortal Remain

2.2 Visi, Misi PT Emergency Response Indonesia

Visi

Menjadi penyedia layanan Evakuasi Medis dengan standar tertinggi di setiap situasi darurat.

Misi

Keselamatan pasien adalah prinsip kami untuk memberikan kualitas terbaik dan disiplin perawatan kesehatan juga diterapkan di PT Emergency Response Indonesia yang bertujuan untuk mencegah dan mengurangi resiko, kesalahan, dan bahaya yang terjadi pada pasien selama menyediakan perawatan kesehatan.

2.3 Struktur Organisasi PT Emergency Response Indonesia

Bagan struktur organisasi PT Emergency Response Indonesia (terlampir).

(11)

2.4 Tim Operasional PT Emergency Response Indonesia

Tim Operasional merupakan salah satu substansi fungsional di PT Emergency Response Indonesia. Tim Operasional bertanggung jawab kepada Managing Director dan Head Division. Tugas utama dari Tim Operasional adalah melaksanakan dengan baik jobdesk yang sudah ditetapkan seperti sebagai berikut :

 Melakukan pengecekan ambulance sesuai dengan checklist ambulance.

 Memastikan untuk peralatan medivac siap untukdigunakan dan terkalibrasi.

 Memastikan obat-obatan siap dan digantikan sebelum 3 bulan masa expired.

 Melakukan pengecekan tabung oksigen, supaya selalu siap di pakai.

 Persiapan Pre Medivac (quotation,Equipment,Documentation and Personil team)

 Menjadi escort pasien baik medivac mengunakan Ground ambulance dan air ambulance.

2.5 Alur Permintaan Layanan Evakuasi PT Emergency Response Indonesia

(12)

BAB III

RENCANA KERJA

3.1 Tempat dan Waktu Magang

Pelaksanaan magang dilaksanakan selama 3 bulan dimulai pada tanggal 17 Februari sampai 17 Mei 2025. Berikut informasi terkait tempat dan waktu instansi tempat magang:

Nama Instansi : PT Emergency Response Indonesia

Alamat : RSU Bunda Jakarta Lt.8 Jl. Teuku Cikditiro No 21 Kec. Menteng Jakarta Pusat 10350

Telepon/Fax : (021)3106886

Website/Media Sosial : https://er-indonesia.co.id/

Unit Magang : Tim Operasional

Tabel 3.1 Waktu Magang

3.2 Uraian Kegiatan Tim Operasioanl

Berikut merupakan kegiatan yang dilaksanakan di Tim Operasional PT Emergency Response Indonesia, yaitu:

1. Tugas Pokok

Hari Jam Operasional Kegiatan

Senin-Minggu Shift 1 : 08.00 – 20.00 Shift 2 : 20.00 – 08.00

-

(13)

- Melakukan pengecekan ambulance yang ada di BOP.

- Memastikan untuk peralatan medivac siap untuk digunakan dan terkalibrasi.

- Memastikan obat-obatan siap dan digantikan sebelum 3 bulan masa expired.

- Melakukan pengecekan Oxigen, supaya selalu siap di pakai.

- Persiapan Pre Medivac (Quotation, Equipment, Documentation and Personil team).

- Menjadi escort pasien baik medivac mengunakan Ground ambulance dan air ambulance.

- Membuat jadwal dan rencana kerja harian, mingguan dan bulanan untuk staff.

- Menerima, merencanakan, mempersiapkan, mengawasi, dan menjalankan setiap permintaan event.

- Mempersiapkan, dan menjalankan setiap permintaan house call visit.

- Mempersiapkan, dan menjalankan setiap permintaan misi medivac.

- Membuat laporan medivac.

- Membuat laporan petty cash.

- Membuat proses bisnis tetap berjalan setelah selesainya misi, permintaan PR, SO sampai pembayaran vendor.

2. Tanggung Jawab

- Bertanggung jawab dalam pengumpulan daily checklist ambulance setiap bulan.

(14)

- Bertanggung jawab dalam melakukan permintaan perbaikan ambulance jika akan melakukan service dan jika terjadi kerusakan.

- Bertanggung jawab dalam pemeliharaan alat-alat medis medivac.

- Bertanggung jawab dalam ketersediaan obat-obatan, disposable, baju pasien, selimut, dan bantal.

- Bertanggung jawab dalam kelancaran setiap event, house call visit dan misi evakuasi medis.

- Bertanggung jawab dalam laporan petty cash medivac setiap bulan.

- Bertanggung jawab dalam penyelesaian laporan event, house call visit, medivac, paling lambat H+3.

- Bartanggung jawab dalam penanganan keluhan klien 3. Wewenang

- Menjadi driver paramedic ambulance.

- Mengunakan petty cash medivac, sesuai kebutuhan Medivac.

- Pengajuan uang yang keluar dari biaya medivac (permintaan SO dan PR).

- Melakukan costing medivac (approve Dr. Adi dan Evan Sianturi).

- Melakukan pengumpulan daily ceklist, kilometer ambulance dan kerusakan ambulance di masing-masing site.

- Berwenang pengisian kembali bahan bakar ambulance.

(15)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Identifikasi Masalah

Berdasarkan hasil pengamatan,di temukan 3 permasalahan yang ada di Tim Operasional PT Emergency Response Indonesia, yaitu :

1.Ketidaktepatan dalam pelaksanaan pemindahan pasien dari bed ke brankar ambulan.

2.Kurangnya sosialisasi alur permintaan ambulan terutama dalam permintaan ambulan internal.

3. Kurang terintegrasinya pendokumentasian data setiap permintaan ambulan.

Setelah diketahui permasalahan yang ada, selanjutnya permasalahan diidentifikasi dengan menggunakan tabel identifikasi masalah 5W+1H.

Tabel 4.1.1 Identifikasi Masalah 5W+1H

What Where When Who Why

Ketidaktepatan dalam pelaksanaan pemindahan pasien dari bed ke brankar ambulan

Tim Operasional

Selama penulis melaksanakan magang

Tim

Operasional Dalam pelaksanaan pemindahan pasien dari bed ke brankar Sebagian besar tidak menggunakan alat bantu seperti easy move/spine board How

Kurangnya pemahaman dan kesadaran dalam penggunaan alat bantu evakuasi

(16)

Tabel 4.1.2 Identifikasi Masalah 5W+1H

Tabel 4.1.3 Identifikasi Masalah 5W+1H

Berdasarkan tabel diatas. Yang dianalisis dengan menggunakan Tabel 5W+H1,

What Where When Who Why

Kurangnya

sosialisasi alur permintaan ambulan terutama dalam permintaan ambulan internal

Tim Operasional

Selama penulis melaksanakan magang

Tim

Operasional, Manajemen

Dalam hal kegiatan sosialisasi terkait update alur permintaan ambulan internal kepada seluruh PJ ruangan baik RSUBJ maupun RSIABJ belum dilakukan secara rutin dan berkala

How

Manajemen baru masih dalam transisi sehingga terdapat perubahan dan update terkait SOP dan alur permintaan ambulan yang masih dalam pengkajian

What Where When Who Why

Kurang terintegrasinya pendokumentasian data setiap permintaan ambulan

Tim Operasional

Selama penulis melaksanakan magang

Tim

Operasional, Manajemen

Tidak adanya penujukan secara khusus posisi Call Center yang bertugas menerima permintaan ambulan sehingga masih dibebankan kepada

admin dan tim

operasional sehingga pendokumentasian data permintaan ambulan kurang maksimal yang menyebabkan ada data yang miss

How

Kurangnya koordinasi antara admin dan tim operasional dalam hal handover setiap permintaan ambulan

(17)

ditemukan 3 gambaran identifikasi permasalahan yang kemudian akan dilanjutkan ke dalam tahap berikutnya yaitu penentuan prioritas masalah.

4.2 Prioritas Masalah

Dalam penetapan prioritas masalah, metode yang digunakan oleh penulis adalah metode Bryant yang dipergunakan indikator-indikator berikut:

1. Community Concern atau Public Concern (C)

Besarnya keprihatinan akan masalah yang dihadapi. Masalah dengan keprihatinan karyawan yang besar untuk mengatasinya mendapat prioritas tertinggi.

SKOR:

1 = Tidak mendapat perhatian 2 = Kurang mendapat perhatian 3 = Cukup mendapat perhatian 4 = Sangat mendapat perhatian 2. Prevalence (P)

Jumlah individu yang terkena dampak. Prioritas yang tertinggi diberikan kepada suatu masalah yang menyebar luas dalam wilayah tersebut.

SKOR:

1 = Jumlah yang terkena sangat sedikit 2 = Jumlah yang terkena sedikit 3 = Jumlah yang terkena cukup besar 4 = Jumlah yang terkena sangat besar 3. Seriousness atau Severity (S)

Berat ringannya masalah yang ditimbulkan oleh masalah tersebut. SKOR:

1 = Masalah yang ditimbulkan tidak berat 2 = Masalah yang ditimbulkan cukup berat

(18)

3 = Masalah yang ditimbulkan berat

4 = Masalah yang ditimbulkan sangat berat 4. Manageability (M)

Tersedianya mutu dengan pembiayaan, kemungkinan hambatan pelaksanaan, keadaan ekonomi rumah sakit dan keikutsertaan pihak yang berwenang.

SKOR:

1 = Tidak dapat dikelola dan diatasi 2 = Cukup dikelola dan diatasi 3 = Dapat dikelola dan diatasi 4 = Sangat dapat dikelola dan diatasi

Untuk menghitung nilai total menggunakan rumus :

Tabel 4.2.1 Penentuan Prioritas Masalah Menggunakan Metode Bryant

Terkait Masalah Yang Ditemukan

No Masalah C P S M

Total (C x P x S x M)

Skala Prioritas 1. Ketidaktepatan dalam pelaksanaan

pemindahan pasien dari bed ke brankar ambulan

4 3 3 3 108 I

2. Kurangnya sosialisasi alur

permintaan ambulan terutama dalam permintaan ambulan internal

2 2 2 3 24 III

3. Kurang terintegrasinya pendokumentasian data setiap permintaan ambulan

3 2 2 3 36 II

(19)

Nilai skor pada tabel diatas diperoleh melalui diskusi dengan Pembimbing Lapangan. Nilai skor diatas sudah merupakan keputusan bersama. Berikut penjelasannya:

1. Penjelasan skor mengenai masalah “Ketidakakuratan Integrasi Data Kebutuhan UPK & SPK Tim Kerja Pelayanan Penunjang” yaitu untuk indikator Community Concern (C) skor 4, artinya permasalahan ini sangat mendapat perhatian. Untuk indikator Prevalence (P) skor 3, artinya yang t erkena dampak cukup besar. Seriousness (S) skor 3, artinya masalah yang ditimbulkan berat. Manageability (M) skor 3, artinya permasalahan yang terjadi dapat dikelola dan diatasi.

2. Penjelasan skor mengenai “Tidak ada Pembukuan Nota/Surat Dinas tercatat dalam bentuk digital” yaitu untuk indikator Community Concern ( C) skor 2, artinya kurang mendapat perhatian. Prevalence (P) skor 2, artinya yang terkena dampak sedikit. Seriousness (S) skor 2, artinya masalah yang ditimbulkan cukup berat. Manageability (M) skor 3, artinya permasalahan yang terjadi dapat di kelola dan diatasi.

3. Penjelasan skor mengenai “Tidak ada Pembukuan Nota/Surat Dinas tercatat dalam bentuk digital” yaitu untuk indikator Community Concern ( C) skor 3, artinya cukup mendapat perhatian. Prevalence (P) skor 2, artinya yang terkena dampak sedikit. Seriousness (S) skor 2, artinya masalah yang ditimbulkan cukup berat. Manageability (M) skor 3, artinya permasalahan yang terjadi dapat di kelola dan diatasi.

4.3 Penetapan Penyebab Masalah

Berdasarkan pada prioritas masalah di atas, maka tahap selanjutnya adalah menetapkan penyebab masalah dengan menganalisis faktor-faktor yang menjadi penyebab masalah tersebut dengan analisis Pohon Masalah. Pada tabel diatas, terdapat penetapan masalah yaitu Ketidaktepatan dalam pelaksanaan pemindahan

(20)

pasien dari bed ke brankar ambulan. Penulis berkesimpulan bahwa penyebab dari masalah tersebut adalah Kurangnya pemahaman dan kesadaran dalam penggunaan alat bantu evakuasi.

Dari diagram fishbone penetapan isu tentang Ketidaktepatan dalam Pelaksanaan Pemindahan Pasien dari Bed Ke Brankar Ambulan yang disebabkan oleh beberapa penyebab. Penyebab utamanya adalah Tidak dilakukannya Review dan Recall tentang pentingnya teknik pemindahan pasien secara tepat.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut pejabat pendamping Tim Sosialisasi, PT Taspen KCU Bandung juga menyelenggarakan pelayanan pro aktif, yaitu jika mengalami kejadian pensiun tidak perlu lagi

Bank Syariah Indonesia tbk kantor cabang Ciputat, selama melakukan praktek kerja magang penulis banyak melakukan pekerjaan di bidang layanan operasional bank baik di

Standar Operasional Prosedur pada PT Kereta Api Indonesia telah membentuk sistem kerja yang teratur, sistematis yang bertujuan untuk meningkatan kecepatan dan

Tujuan dari praktek kerja magang ini adalah untuk memahami secara teori yang telah dipelajari di perkuliahan dengan praktek kerja yang ada di lapangan, terutama pada proses

Bidang ilmu manajemen yang penulis pelajari pada kegiatan Program Kerja Lapangan ini adalah mengenai Manajemen Logistik dan Operasional, yang juga terkait dengan

karena seluruh ijin untuk kapal dapat masuk dan kapal keluar dari dermaga harus melakukan pengurusan di KSOP berikut berkas dan alur yang harus dilakukan seorang operasional Dokumen