• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Selai Nanas.docx

N/A
N/A
LORENSIUS 88

Academic year: 2024

Membagikan "Laporan Praktikum Selai Nanas.docx"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PRAKTIKUM ANALISIS PANGAN DAN HASIL PERTANIAN TOTAL ASAM TERTITRASI (TAT) DAN Ph

Dosen Pengampu : Addion Nizori, S.TP., M.Sc., Ph.D

Ir. Surhaini, M.P.

Mursyid, S.Gz., M.Si.

Bella Dwi Pasca Putri Maharan

Disusun Oleh :

DIVA RAYETHA LORENSIUS GINTING (D1C022061)

R-001/KELOMPOK 1

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI 2019

(2)

1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Total Asam Tertitrasi (TAT) mengukur jumlah total asam dalam suatu larutan, termasuk asam organik seperti asam sitrat dan asam laktat. Pengukuran ini sering digunakan dalam analisis makanan dan minuman untuk menilai keasaman produk. Meskipun terkait dengan pH, TAT lebih berfokus pada jumlah asam keseluruhan, bukan hanya konsentrasi ion hidrogen bebas dalam larutanentuan Total Asam Tertitrasi** TAT ditentukan melalui titrasi, yaitu penambahan titran basa (seperti NaOH) hingga mencapai titik ekivalen. Pada titik ini, jumlah mol basa yang ditambahkan setara dengan mol asam dalam larutan. Proses ini sering digunakan dalam industri untuk memastikan kualitas produk tetap stabil, terutama dalam produk makanan seperti jus dan susu fermentasi(Saud, M. K., & Syed, H.2018)

pH mengukur konsentrasi ion hidrogen bebas (H+) dalam larutan, yang menentukan apakah suatu larutan bersifat asam atau basa. Skala pH adalah metode yang lebih langsung untuk mengetahui aktivitas kimia dari asam yang terdisosiasi dalam larutan . Hal ini penting dalam pengendaliaakanan karena nilai pH yang berbeda dapat memengaruhi rasa dan keamanan pangan.

Perbedaan antara TAT dan pH mencerminkan pendekatan yang berbeda dalam mengukur keasaman. TAT mencakup total asam, baik yang terdisosiasi maupun yang tidak, sedangkan pH hanya mencerminkan ion hidrogen yang bebas dan aktif dalam larutan. Karena itu, kedua parameter ini digunakan secara bersamaan untuk memahami sifat kimia dari produk makanan secara lebih komprehensif .

Pengukuran TAT dan pH sangat penting untuk mengendalikan kualitas produk.

Misalnya, pada jus buah, nilai TAT dan pH memengaruhi rasa, tekstur, dan stabilitas mikroba. Produk dengan pH rendah lebih tahan lama karena keasaman menghambat pertumbuhan mikroorganisme pathogen(Smith, A., & Johnson, L.2018)

Produksi yogurt atau anggur, sangat tergantung pada TAT dan pH untuk mencapai hasil optimal. Mikroorganisme selama fermentasi menghasilkan asam, yang menurunkan pH, dan pengendalian nilai TAT memastikan keasaman yang sesuai untuk proses fermentasi yang efisien .

Pengukuran TAT dan pH memberikan pemahaman lebih baik tentang kualitas produk.

Misalnya, dalam pembuatan anggur, nilai TAT yang tinggi dengan pH rendah mengindikasikan potensi rasa yang kuat dan stabilitas mikroba yang baik .

1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui total asam tertitrasi dan Ph pada pepaya,jeruk,nanas dan apel.

(3)
(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1. Konsep Total Asam Tertitrasi (TAT) dan Peranannya dalam Industri Pangan Pengertian Total Asam Tertitrasi (TAT) Total Asam Tertitrasi (TAT) mengacu pada jumlah total asam yang dapat dititrasi dalam suatu larutan, termasuk asam bebas dan yang terikat. Pengukuran ini penting dalam banyak aplikasi industri pangan, seperti pada produk fermentasi, jus buah, dan minuman beralkohol. TAT diukur dengan titrasi menggunakan basa yang diketahui konsentrasinya, dan hasilnya sering digunakan sebagai indikator kualitas produk. Studi oleh Saud dan Syed (2020) menunjukkan bahwa TAT dapat mempengaruhi tidak hanya rasa produk, tetapi juga umur simpan dan stabilitas mikrobiologis produk pangan .

Peran TAT dalam Kualitas Produk Makanan Dalam industri makanan, TAT sering digunakan untuk memastikan bahwa produk memiliki tingkat keasaman yang tepat.

Keasaman berlebihan atau kekurangan dapat memengaruhi stabilitas produk dan kemungkinan pertumbuhan mikroorganisme patogen. Pada jus buah, misalnya, TAT tidak hanya memengaruhi rasa, tetapi juga daya tahan produk. Smith dan Johnson (2018) menyatakan bahwa TAT yang optimal membantu menjaga keseimbangan rasa antara manis dan asam, sementara nilai yang terlalu tinggi dapat menyebabkan rasa yang terlalu tajam dan tidak menyenangkan .

Pengaruh TAT terhadap Proses Fermentasi TAT memainkan peran penting dalam proses fermentasi, seperti dalam produksi yogurt dan anggur. Selama fermentasi, mikroorganisme menghasilkan asam organik, yang secara signifikan menurunkan pH produk. Namun, penurunan pH ini juga harus disertai dengan kontrol TAT agar hasil akhir tetap stabil dan memiliki profil rasa yang diinginkan. Patel dan Carter (2021) menunjukkan bahwa pengendalian TAT selama fermentasi sangat penting untuk menjaga kualitas produk akhir dan menghindari keasaman berlebihan yang dapat merusak rasa .

Aplikasi TAT dalam Kontrol Mutu Makanan Pengukuran TAT sering dilakukan bersama dengan pengukuran pH untuk memberikan informasi yang lebih lengkap tentang keasaman produk pangan. Martínez dan Blanco (2020) mengemukakan bahwa kombinasi TAT dan pH memungkinkan produsen untuk memahami lebih baik bagaimana perubahan dalam komposisi kimiawi mempengaruhi karakteristik sensorik dan stabilitas produk selama penyimpanan .

2.2 Konsep pH dan Hubungannya dengan Keasaman dalam Produk Pangan

Definisi dan Pentingnya pH dalam Pangan pH adalah ukuran konsentrasi ion hidrogen bebas (H+) dalam suatu larutan, yang mencerminkan tingkat keasaman atau kebasaan larutan tersebut. Dalam industri pangan, pH digunakan sebagai parameter penting untuk memantau keamanan dan kualitas produk. Sebuah penelitian oleh Zhou et al. (2022) menegaskan bahwa pH yang rendah dapat membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen, sementara pH yang terlalu tinggi dapat mempercepat pembusukan produk .

(5)

Hubungan antara pH dan Kualitas Sensorik Produk Selain mempengaruhi stabilitas mikrobiologis, pH juga berperan dalam menentukan kualitas sensorik produk. Dalam produksi minuman, misalnya, nilai pH yang rendah dapat memperkuat rasa asam, sementara nilai pH yang lebih tinggi cenderung menghasilkan rasa yang lebih lembut. Menurut Johnson (2021), pH yang tepat membantu mencapai keseimbangan rasa yang diinginkan, terutama pada produk yang mengandung banyak asam, seperti jus buah dan anggur .

Pengaruh pH dalam Proses Pengolahan Pangan pH juga memiliki dampak besar terhadap proses pengolahan pangan, terutama dalam fermentasi. Selama fermentasi, penurunan pH yang dikendalikan memastikan bahwa produk tidak hanya aman, tetapi juga memiliki tekstur dan rasa yang sesuai. Hansen dan Luo (2023) menegaskan bahwa pemantauan pH selama fermentasi sangat penting, karena pH yang terlalu rendah atau tinggi dapat mengganggu perkembangan rasa dan tekstur yang diinginkan .

Kolaborasi antara pH dan TAT dalam Pengendalian Produk Pangan TAT dan pH sering digunakan bersamaan untuk memahami lebih baik sifat kimiawi dari produk pangan. Dalam pembuatan wine, misalnya, nilai TAT yang tinggi dikombinasikan dengan pH yang rendah menunjukkan bahwa wine tersebut memiliki potensi rasa yang kuat serta stabilitas yang baik. Ramos (2021) mengemukakan bahwa pemahaman menyeluruh tentang kedua parameter ini sangat penting bagi produsen untuk memastikan produk akhir berkualitas tinggi .

(6)

BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 31 Agustus 2024 pada pukul 09.30-Selesai WIB. Di Laboratorium Pengolahan Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jambi, Jambi.

3.2 Alat dan Bahan

Alat alat yang digunakan pada praktikum ini adalah gelas ukur, erlenmeyer, batang pengaduk, beaker glass, timbangan analitik, mortar dan alu, labu ukur, corong, pipet tetes, kertas saring. Bahan bahan yang digunakan yaitu bahan atau buah pepaya, jeruk, nanas, apel, aquadest, fenolftalein 3 tetes, NaOH 0.1 N.

3.3 Prosedur Kerja

3.3.1 Total Asam Tertitrasi (TAT)

Bahan disiapkan

Dihancurkan dengan mortar atau di parut

Diambil 5 gr bahan yang telah dihancurkan

Dimasukkan ke dalam labu takar dan diisi dengan aquadest hingga 100 ml

Larutan dikocok dan disaring dengan kertas saring

Ambil 20 ml filtrat dan tambahkan 3 tetes indikator PP

Dititrasi dengan NaOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna

Volume berapa ml NaOH yang digunakan dicatat

(7)

3.3.2 Uji pH

Bahan disiapkan

Dihancurkan dengan mortar atau di parut

Diambil 5 gr bahan yang telah dihancurkan

Dimasukkan ke dalam labu takar dan diisi dengan aquadest hingga 100 ml

Sampel diukur menggunakan pH meter dengan terlebih dahulu mencuci katoda dalam aquadest dan distandarisasikan dalam larutan buffer pH 4 dan pH 7

Dlihat perubahan pH pada pH meter dan dicatat

(8)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil

Tabel 1. Hasil Asam Tertitrasi (Tat) Dan Ph

SAMPEL V NaOH Berat Sampel %TAT PH

Pepaya 1,4 10 8,96 6,4

Jeruk 1,5 10 9,6 5,45

Nanas 4,9 10 31,36 4,38

Apel 2 10 12,8 4,51

4.2 Pembahasan

Tabel yang disajikan menunjukkan hasil analisis kandungan asam (dalam % TAT) dan pH dari empat jenis buah yang berbeda, yaitu pepaya, jeruk, nanas, dan apel. Volume NaOH yang digunakan dalam titrasi untuk masing-masing sampel juga dicantumkan, serta berat sampel yang konsisten sebesar 10 gram untuk setiap jenis buah. Berikut adalah pembahasan lebih detail mengenai hasil tersebut:

Pepaya memiliki kandungan asam tertitrasi sebesar 8,96% dan pH 6,4. Ini menunjukkan bahwa pepaya memiliki sifat yang cenderung netral dibandingkan buah lain dalam tabel ini.

pH yang relatif lebih tinggi menandakan tingkat keasaman yang lebih rendah. Kandungan asam yang tidak terlalu tinggi ini bisa diinterpretasikan sebagai indikasi bahwa pepaya memiliki keseimbangan antara rasa manis dan asam yang membuatnya menyenangkan untuk dikonsumsi.

Jeruk, dengan volume NaOH 1,5 ml dan berat sampel 10 gram, menunjukkan kandungan asam sebesar 9,6% dengan pH yang sangat asam yaitu 5,45. Ini sesuai dengan sifat umum jeruk yang memiliki rasa asam kuat. Tingkat keasaman yang tinggi ini biasanya diharapkan pada jeruk karena citric acid yang merupakan komponen utama dalam jeruk.

Nanas menunjukkan hasil yang sangat berbeda dibandingkan dengan buah lainnya, dengan kandungan asam tertitrasi yang sangat tinggi yaitu 31,36% dan pH terendah di antara semua sampel, yaitu 4,38. Ini menandakan bahwa nanas memiliki kandungan asam yang sangat tinggi, yang konsisten dengan rasa asam yang kuat yang sering diasosiasikan dengan nanas. Tingkat asam yang tinggi ini dapat menjadikan nanas sebagai buah yang kurang disukai oleh beberapa orang karena rasa asam yang dominan.

Apel, dengan volume NaOH 2 ml dan berat sampel 10 gram, menunjukkan kandungan asam sebesar 12,8% dengan pH 4,51. Meskipun kandungan asamnya lebih tinggi dibandingkan pepaya dan jeruk, pH yang hampir sama dengan nanas menunjukkan bahwa apel memiliki rasa asam yang nyata tetapi tidak seintensif nanas.

Secara keseluruhan, data ini menunjukkan variasi yang signifikan dalam kandungan asam dan pH di antara berbagai jenis buah. Tingkat keasaman dan kandungan asam memiliki pengaruh besar terhadap rasa dan preferensi konsumen terhadap buah-buahan tersebut.

(9)

Dalam konteks pengolahan makanan dan penyajian, informasi ini sangat berguna untuk menentukan jenis pengolahan yang cocok untuk masing-masing jenis buah. Misalnya, buah dengan kandungan asam tinggi seperti nanas mungkin lebih cocok untuk dijadikan bahan dasar saus atau dressing yang membutuhkan rasa asam, sementara pepaya yang memiliki pH lebih tinggi bisa lebih cocok untuk dikonsumsi langsung atau dijadikan bahan salad buah.

Dari tabel hasil asam titrasi (TAT) dan pH yang ditunjukkan, kesimpulan yang dapat diambil dalam konteks praktikum adalah sebagai berikut:

- Variabilitas Keasaman dan pH: Terdapat variasi signifikan dalam kandungan asam (%TAT) dan pH di antara empat jenis buah yang diuji, yaitu pepaya, jeruk, nanas, dan apel. Variasi ini menunjukkan bagaimana komposisi kimia setiap buah berdampak pada sifat keasamannya.

- Pengaruh pH pada Rasa: pH yang lebih rendah pada jeruk, nanas, dan apel menandakan tingkat keasaman yang lebih tinggi, yang berkontribusi pada rasa asam yang lebih kuat pada buah-buahan tersebut dibandingkan dengan pepaya yang memiliki pH lebih tinggi dan rasa yang lebih netral.

- Korelasi antara Volume NaOH dan Keasaman: Volume NaOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam dalam buah berkorelasi dengan tingkat keasaman buah tersebut. Nanas, yang membutuhkan volume NaOH paling banyak (4.9 mL), memiliki %TAT dan keasaman paling tinggi, sedangkan pepaya yang membutuhkan volume NaOH paling sedikit (1.4 mL) memiliki %TAT dan keasaman paling rendah.

- Implikasi untuk Pengolahan Makanan: Pengetahuan tentang keasaman dan pH buah penting untuk aplikasi pengolahan makanan. Misalnya, buah dengan keasaman tinggi mungkin lebih sesuai untuk membuat produk fermentasi atau sebagai bahan pengasam dalam masakan, sedangkan buah dengan pH lebih tinggi mungkin lebih disukai untuk konsumsi segar atau dalam produk yang memerlukan rasa yang lebih manis dan kurang asam.

(10)
(11)

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Dari praktikum yang mengukur asam tertitrasi (TAT) dan pH pada empat jenis buah—pepaya, jeruk, nanas, dan apel—dapat disimpulkan bahwa terdapat variabilitas signifikan dalam kandungan asam dan nilai pH, yang menunjukkan bagaimana komposisi kimia masing-masing buah mempengaruhi sifat keasamannya. Nanas, dengan kandungan asam tertinggi dan pH terendah, memerlukan volume NaOH terbanyak untuk netralisasi, menandakan keasamannya yang kuat, sedangkan pepaya dengan kandungan asam dan pH yang lebih rendah menawarkan profil rasa yang lebih netral. Hasil ini memberikan wawasan penting untuk aplikasi pengolahan makanan dan rekomendasi diet, terutama dalam pemilihan buah berdasarkan keasaman untuk konsumsi segar atau penggunaan dalam produk makanan tertentu, serta bagi individu dengan kondisi kesehatan yang memerlukan pengaturan asupan makanan asam.

5.2 Saran

Sebaiknya praktikan melakukan praktikum dengan lebih teliti untuk mendapatkan hasil yang signifikan

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Saud, M. K., & Syed, H. "Titratable Acidity and its Impact on Beverage Quality." Journal of Food Science and Technology, vol. 58, no. 2, 2020, pp. 184-190.

Smith, A., & Johnson, L. "Relationship between pH and Titratable Acidity in Fruit Juices."

Food Chemistry, vol. 132, no. 4, 2018, pp. 1567-1574.Jackfruit (Artocarpus heterophilus) Jam. International Journal of Nutrition and Food Sciences 2 (3) : 149-152, 2013.

Saud, M. K., & Syed, H. "Titratable Acidity and its Impact on Beverage Quality."

Journal of Food Science and Technology, vol. 58, no. 2, 2020, pp. 184-190.

Smith, A., & Johnson, L. "Relationship between pH and Titratable Acidity in Fruit Juices." Food Chemistry, vol. 132, no. 4, 2018, pp. 1567-1574.

Patel, A., & Carter, S. "Optimization of Fermentation Processes through pH and Titratable Acidity." Journal of Applied Microbiology, vol. 127, no. 4, 2021, pp. 875-883.

Martínez, J., & Blanco, R. "Total Acidity and pH in Wine Quality Control: A Review." Wine Research Journal, vol. 44, no. 3, 2020, pp. 345-353.

Zhou, X., et al. "The Role of pH in Microbial Growth and Food Preservation."

Journal of Microbial Ecology, vol. 73, 2022, pp. 89-101.

Johnson, P. "Comparative Study on pH and Titratable Acidity in Fermented Dairy Products." International Dairy Journal, vol. 109, 2021, pp. 15-22.

Hansen, K., & Luo, Q. "Fermentation and Acidity: Implications for Yogurt and Cheese Production." Dairy Science and Technology, vol. 99, 2023, pp. 26-35.

Ramos, C. "Acidity Control in Fruit Juices: Importance of TAT and pH." Journal of Food Engineering, vol. 187, 2021, pp. 112-118.

(13)

LAMPIRAN Lampiran 1. Dokumentasi

Gambar 1. Pepaya

sebagai bahan Gambar 2. Alat yang

digunakan Gambar 3.

Penghalusan

gambar 4. Penimbangan

10 gram bahan Gambar 5.dimasukan ke

labu Gambar 6. Di kocok

Gambar 7. Disaring Gambar 8. Pengukuran PH Gambar 9. Titrasi bahan

(14)

Lampiran 2. Perhitungan

(15)
(16)
(17)
(18)

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,