Laporan ini memuat hasil pengujian/pemeriksaan dokumen administrasi dan dokumen teknis gedung Shell Pancing Kota Medan berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 27/PRT/M/2018 tanggal 27 Desember 2018 tentang SERTIFIKAT . FUNGSIONALITAS BANGUNAN. Pemeriksaan Dokumen Administrasi dan Teknis Gedung Shell Pancing Kota Medan yang berlokasi di Jl. Layak secara fungsional adalah kondisi bangunan gedung yang memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung yang ditetapkan.
Tahun 2020 tentang Perubahan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 27/PRT/M/2018 tentang Sertifikat Fungsi Bangunan Gedung. Tata cara perencanaan akses gedung dan akses lingkungan untuk mencegah risiko kebakaran pada gedung (SNI. Tentang pedoman teknis sarana dan aksesibilitas pada gedung dan lingkungan, Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No.: 30/PRT/ M/2006.
Ruang lingkup pemeriksaan fasilitas atau pengujian/pemeriksaan kelayakan bangunan Shell Pancing di Medan meliputi.
PEMERIKSAAN PERSYARATAN ADMINISTRASI Pemeriksaan syarat administrasi yang dimaksud meliputi
PEMERIKSAAN PERSYARATAN TEKNIS
KELUARAN PEKERJAAN
SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN
PENDAHULUAN
PARAMETER DAN METODOLOGI
ANALISIS HASIL PENGUJIAN
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
PARAMETER DAN METODE
PARAMETER PEMERIKSAAN
- PARAMETER ADMINISTRATIF A. Data Umum
Menciptakan bangunan gedung yang fungsional dan sesuai dengan tata bangunan yang serasi dan selaras dengan lingkungannya; Terwujudnya tertib pengelolaan bangunan gedung yang menjamin keandalan teknis bangunan gedung dalam bidang keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan; Data status kepemilikan bangunan: hak mendirikan bangunan dan/atau izin pakai pemegang hak bangunan.
Persyaratan bangunan dan lingkungan mencakup persyaratan papan tanda, intensitas, arsitektur bangunan, dan pengendalian dampak lingkungan.
Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan 1. Peruntukan Lokasi
Bagi daerah yang belum memiliki RTRW, RRTR atau peraturan daerah tentang bangunan gedung dan RTBL, Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan untuk mendirikan bangunan dengan pertimbangan. Setiap bangunan yang didirikan harus sesuai dengan rencana bidang tanah yang disusun dalam rencana tata ruang; Persyaratan Penampilan Bangunan 1) Ketentuan Umum.. a) Bentuk denah bangunan hendaknya dibuat simetris dan sesederhana mungkin, guna mengantisipasi kerusakan akibat gempa bumi.
Pengecualian terhadap ketentuan ayat (2) di atas dapat diberikan bagi bangunan tempat tinggal dan bangunan sosial yang memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. Jenis kegiatan pembangunan gedung dan/atau lingkungannya yang wajib AMDAL sesuai dengan ketentuan pengelolaan dampak lingkungan yang berlaku. Jenis kegiatan pembangunan gedung dan/atau sekitarnya yang memerlukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) telah sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Persyaratan Keandalan Bangunan Gedung 1. Persyaratan Keselamatan Bangunan Gedung
- Persyaratan Kemampuan Bangunan Gedung Terhadap Bahaya Kebakaran a. Sistem Proteksi Pasif
- Persyaratan Sistem Kelistrikan
- Persyaratan Sistem Pencahayaan
- Persyaratan Sistem Penyediaan Air bersih/ Minum
- Persyaratan Penyaluran Air Hujan ( Grey Water ) Umum
- Persyaratan Penggunaan Bahan bangunan Gedung
- Persyaratan Kenyamanan Ruang Gerak dan Hubungan Antar ruang
- Persyaratan Kenyamanan Kondisi Udara/Termal Dalam Ruang
- Persyaratan Kenyamanan Pandangan (Visual)
- Persyaratan Kenyamanan Terhadap Tingkat Getaran dan Kebisingan a. Persyaratan Getaran
Tata Cara SNI perencanaan dan pemasangan sistem pipa tegak dan selang untuk mencegah bahaya kebakaran pada bangunan gedung; Tata Cara SNI perencanaan, pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk mencegah bahaya kebakaran pada bangunan gedung; Tata Cara SNI perencanaan dan pemasangan sistem sprinkler otomatis untuk mencegah bahaya kebakaran pada bangunan gedung;
Untuk memenuhi persyaratan sistem ventilasi, setiap bangunan gedung harus mempunyai ventilasi alami dan/atau ventilasi mekanis/buatan, tergantung fungsinya. Standar yang berkaitan dengan tata cara perencanaan, instalasi dan pemeliharaan sistem distribusi air hujan pada bangunan gedung; Untuk kenyamanan termal dalam ruangan pada bangunan, suhu dan kelembaban udara harus diperhitungkan.
Untuk kenyamanan visual pada bangunan gedung harus dipenuhi persyaratan teknis yaitu standar kenyamanan visual pada bangunan.
Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung
- Ukuran Dasar Ruang
- Penyediaan Fasilitas dan Aksesibilitas Hubungan Ke, Dari, dan di Dalam Bangunan Gedung
- Kelengkapan Prasarana dan Sarana Pemanfaatan Bangunan Gedung Setiap Bangunan Gedung Umum sesuai dengan fungsi dan klasifikasi
- Persyaratan Teknis Ruang Tunggu
- Persyaratan Teknis Rambu dan marka
- Pemberlakuan Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung
- ANALISIS PEMBEBANAN
- METODE PEMERIKSAAN .1 ON DESK EVALUATION
Untuk bangunan gedung yang tingginya sampai dengan 3 lantai, pintu keluarnya harus dilindungi dengan tingkat ketahanan api (TKA) minimal 1 jam. Untuk bangunan gedung dengan ketinggian mulai dari 4 lantai, pintu keluarnya harus dilindungi dengan tingkat ketahanan api (TKA) minimal 2 jam. Sistem peringatan bahaya pada bangunan gedung berupa sistem alarm bencana (kebakaran, gempa bumi, tsunami) dan/atau sistem peringatan dengan menggunakan sistem audio/suara dan visual (lampu menyala dalam gelap dengan waktu nyala minimal 2 jam). dan dapat dihidupkan tanpa sumber listrik cadangan).
Ruang wudhu harus dapat diakses dengan mudah dan aman oleh pengguna bangunan dan pengunjung bangunan; Bangunan gedung lembaga kepresidenan dan bangunan pertahanan seluas 1% dari luas lantai bangunan; Bangunan gedung untuk instansi pemerintah dan perwakilan Indonesia di negara lain berjumlah 2% dari luas lantai gedung; Dan.
272| Jenis bangunan gedung berdasarkan fungsi campuran meliputi bangunan gedung yang mempunyai lebih dari 1 (satu) fungsi bangunan. Setiap konstruksi baru harus memenuhi persyaratan kemudahan konstruksi sesuai dengan fungsi dan klasifikasi bangunan gedung.
PEMERIKSAAN PERSYARATAN TATA BANGUNAN
PEMERIKSAAN BIDANG ARSITEKTUR
- PEMERIKSAAN PERSYARATAN KESELAMATAN BANGUNAN GEDUNG A. Pemeriksaan Sistem Struktur Bangunan Gedung
Bangunan utama di Shell Pancing Kota Medan memiliki tampilan yang serupa secara keseluruhan. Dampak - Memberikan nuansa modern pada gedung Minimarket, Perkantoran dan Ganti Oli - Menunjukkan profesionalisme perusahaan. Material tembus pandang dengan ukuran kaca fixed width dan pintu dengan material kaca lebar digunakan untuk memaksimalkan pencahayaan alami pada bangunan.
Penerangan buatan pada bangunan masih digunakan untuk memaksimalkan penerangan di dalam bangunan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa seluruh ruang bangunan tidak menunjukkan nilai kelembaban yang tinggi, kondisi pencahayaan dan ventilasi yang optimal berarti kondisi dalam ruangan tidak memiliki nilai kelembaban yang tinggi. Hal ini mengacu pada spesifikasi tingkat kebisingan dan waktu dengung pada bangunan gedung dan tempat tinggal (SNI 6383-2000).
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum 14/PRT/M/2017 Pintu masuk/keluar utama bangunan umum mempunyai lebar bukaan efektif minimal 90 cm, dan pintu lainnya mempunyai lebar bukaan efektif minimal 80 cm. Untuk itu pondasi harus kuat, stabil, aman, agar tidak tergelincir atau pecah, karena akan menyulitkan perbaikan suatu sistem pondasi. Kolom beton dalam kondisi baik dan tidak mengalami korosi, sedangkan kolom tumpuan diuji dengan uji palu.
Balok baja tidak mengalami deformasi yang signifikan, dan baja dalam kondisi baik serta tidak mengalami korosi. 1 Fondasi Dari pengamatan visual terhadap pondasi, tidak terjadi penurunan tanah pada bangunan sehingga mengurangi kekuatan struktur bangunan. Kolom baja yang terkena korosi akan menyebabkan kekuatan baja menurun sehingga dapat mengakibatkan keruntuhan.
3 Balok Seluruh balok pada bangunan gedung semuanya dalam keadaan baik dan belum mengalami korosi.Balok baja yang mengalami korosi akan mengakibatkan menurunnya kekuatan baja yang dapat mengakibatkan keruntuhan. 4 Pelat Lantai Pelat lantai dalam kondisi baik tidak retak dan hasil uji palu juga menunjukkan nilai kuat tekan beton yang baik.
Uji Hammer Test
Pengecekan kolom tumpuan dilakukan dengan menggunakan uji palu yang hasilnya baik dan ditunjukkan pada Tabel Uji Palu. Rangka baja yang mengalami korosi akan mengakibatkan menurunnya kekuatan baja yang dapat mengakibatkan keruntuhan karena tidak mampu menahan beban atap dan beban angin yang ada. 212| Hasil uji lapangan dengan Hammer Test kemudian diolah untuk mendapatkan kualitas kuat tekan rata-rata beton.
Data Bangunan
Analisa Pembebanan Pemodelan Struktur
Shell Indonesia Pancing Medan menggunakan pondasi jenis Strauss Pile dan Mini Pile untuk mencapai kedalaman tanah keras yang mampu menopang beban bangunan. Etabs secara otomatis menghitung berat sendiri dengan berat jenis baja 78,50 kN/m3 dan berat jenis beton bertulang 24,00 kN/m3. Rasio terbesar yang muncul pada kolom adalah 0,155. Rasio terbesar yang terjadi pada baja adalah 0,0012.
Pengujian ketebalan baja (Ultrasonic Thickness Gauge) dilakukan pada Struktur Baja IWF untuk mendapatkan ketebalan baja sebenarnya setelah dipasang. Cara pengujian yang dilakukan adalah mengelupas lapisan CoatingPipe Pile dengan cara dikikis menggunakan obeng pipih (-), kemudian dihaluskan dengan amplas. Hasil Uji Ketebalan Baja (Ultrasonic Thickness Gauge) memenuhi kriteria dari tabel toleransi dimensi (ketebalan) BS EN10034 & spesifikasi dari referensi gambar brosur Gunung Garuda (Sesuai JIS G 3192), yaitu dari BS EN 10034 untuk ketebalan WEB < 7mm Toleransi = ±0,7 . Sedangkan dari brosur Mount Garuda (sesuai JIS G3192) untuk ketebalan WEB <16mm toleransi ±1.00mm dan untuk ketebalan FLANGE <16mm toleransi.
MECHANICAL
- Debit Air Bersih
- Pemeriksaan Sistem Pengelolaan Limbah Padat Non B3 dan B3
- System Proteksi Pasif
- System Proteksi Aktif
- PEMERIKSAAN SISTEM FIRE DETECTOR, HYDRANT DAN PIPA KEBAKARAN
- Electric Pump ( Tidak Ada )
- Jockey pump.( Tidak Ada )
- Pilar hydrant.( Tidak Ada )
- APAR
- FIRE DETECTOR
- HEAT/SMOKE DETECTOR
- FIRE ALARM
- Pengecekan Alat Pemadam Api Ringan ( APAR )
Limbah padat non B3 di SPBU Shell Pancing dapat diartikan sebagai limbah padat rumah tangga yang dihasilkan dari kegiatan operasional sehari-hari SPBU. Berdasarkan UKL-UPL 2021, sampah yang dihasilkan setiap harinya dengan jumlah karyawan sebanyak 20 orang adalah 7,8 kg/hari. Limbah padat B3 antara lain: oli bekas, filter bekas, lampu neon, cartridge tinta bekas, aki bekas, aki basah, kain terkontaminasi, kemasan B3 bekas.
Limbah padat B3 yang dihasilkan selama operasional di SPBU Shell Pancing akan disimpan di TPS B3 dan dipisahkan dengan limbah non-b3. Shell Indonesia Pancing menjadi tempat penampungan air yang besar pada saat terjadi hujan lebat karena permukaan areanya luas dan tidak menyerap air, maka dibuatlah saluran dengan menggunakan pipa tegak berukuran 4 dan 6 inchi yang dihubungkan dengan saluran milik PT. Merupakan sistem proteksi yang menggunakan sugesti terhadap benda-benda yang dapat digerakkan oleh sistem, antara lain : pompa kebakaran, kotak fire hydrant, kolom fire hydrant, sambungan air yang merupakan bagian dari HYDRANT SYSTEM, sistem sprinkler, alat pemadam api ringan (apar) , alarm kebakaran dengan kepala dan detektor asap sebagai pendeteksi bahaya kebakaran. Sistem pemadam kebakaran di sini dibuat dan dirancang sesuai SNI tentang peralatan pemadam kebakaran.
Penempatan kotak fire hydrant dirancang dengan baik dan sesuai dengan SNI Nomor SNI tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Pipa dan Selang untuk mencegah bahaya kebakaran pada bangunan gedung. Risiko yang mungkin terjadi ini disebutkan dalam undang-undang no. 28 Tahun 2002 untuk bangunan gedung dan PP no. 36 Tahun 2005 sebagai peraturan pelaksanaan. 231| G e o s p a ci a l i n i n a n i n a n i n i n api. Pencegahan kebakaran gedung adalah pencegahan terjadinya kebakaran pada gedung atau tempat kerja. Apabila kondisi yang dapat menyebabkan kebakaran dapat diidentifikasi dan dihilangkan, maka terjadinya kebakaran dapat dikurangi secara signifikan. Untuk mencegah dan menghilangkan kebakaran yang diakibatkannya, jika hal tersebut terjadi maka suatu bangunan harus dilengkapi dengan sistem deteksi dan alarm kebakaran.
Standarisasi yang digunakan dalam perencanaan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran yang berlaku di Indonesia adalah SNI 03-3985-. 2000 Tentang tata cara perencanaan, pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. Standar ini mencakup persyaratan minimum, kinerja, lokasi, pemasangan, pengujian dan pemeliharaan sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk melindungi penghuni, bangunan, ruangan, struktur, area atau objek yang dilindungi sesuai dengan SNI.
Suara tersebut berfungsi sebagai sinyal untuk memberitahukan kepada operator/penghuni gedung jika terjadi kebakaran di ruangan yang dipasangi sistem alarm kebakaran ini. Alarm kebakaran digunakan di seluruh dunia industri dan komersial sebagai solusi pencegahan kebakaran yang dapat mendeteksi tanda-tanda awal yang mungkin menimbulkan kebakaran.