LAPORAN SURVEI KINERJA LALU LINTAS
KELOMPOK 2
Arifah Novinda Kusuma Wandani (23013079) Chelsea Mutiara Prima (23013084) Muhammad Faisal Aziz (23013092)
Nafisa Ridlo Al Zahra (23013094) Pradipta Wicaksana (23013089) Rifdah Tasha Susdianti(230130100)
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN REKAYASA SISTEM TRANSPORTASI JALAN POLITEKNIK KESELAMATAN TRANSPORTASI JALAN
2025
DAFTAR ISI
BAB I... 3
PENDAHULUAN... 3
1. Latar Belakang... 3
2. Tujuan Survey... 4
3. Manfaat Survey... 4
BAB II... 5
LANDASAN TEORI... 5
1. Kinerja Ruas Jalan... 5
2. Jalan Perkotaan... 6
3. Geometrik Jalan... 6
4. Kecepatan Arus Bebas...7
5. Tingkat Pelayanan Jalan... 8
BAB III... 10
METODOLOGI SURVEY... 10
1. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan... 10
2. Peralatan... 10
3. Metode Pengambilan Data...10
4. Teknik Pengolahan Data... 11
BAB IV... 12
HASIL DAN PEMBAHASAN...12
1. Hasil Survei... 12
Kondisi geometrik jalan... 12
Traffic counting Minggu... 12
Data Traffic Counting Senin... 13
Hambatan Samping Minggu...15
Hambatan Samping Senin... 15
Analisis Perkotaan...15
Data Parkir... 17
Data parkir Minggu... 18
Data Parkir Senin... 19
BAB V... 21
KESIMPULAN DAN SARAN...21
1. Kesimpulan...21
2. Saran...22
DAFTAR PUSTAKA...23
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
Transportasi jalan raya merupakan salah satu elemen utama dalam mendukung mobilitas masyarakat dan pembangunan ekonomi di berbagai daerah. Jalan yang baik tidak hanya memperlancar pergerakan orang dan barang, tetapi juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan keamanan dan kenyamanan berkendara. Dalam rangka pengelolaan infrastruktur jalan, perlu dilakukan evaluasi secara berkala terhadap kondisi fisik jalan, pola lalu lintas, dan hambatan-hambatan yang dapat mempengaruhi kinerja sistem transportasi.
Berdasarkan kebutuhan tersebut, survei ini dilakukan untuk mengumpulkan data terkait kondisi jalan, volume lalu lintas, hambatan samping, dan aktivitas parkir pada ruas jalan tertentu. Data inventarisasi jalan meliputi elemen-elemen seperti rambu-rambu lalu lintas, marka jalan, dan elemen-elemen pendukung lainnya yang berfungsi untuk meningkatkan keselamatan dan kelancaran lalu lintas. Analisis geometri jalan dilakukan untuk menilai kesesuaian desain fisik jalan dengan standar teknis yang berlaku. Selain itu, pengamatan volume lalu lintas pada hari kerja dan akhir pekan memberikan gambaran mengenai pola pergerakan kendaraan, termasuk waktu puncak yang menjadi indikator beban jalan. Hambatan samping, seperti parkir liar atau interaksi dengan kegiatan di sekitarnya, juga dianalisis untuk mengetahui dampaknya terhadap arus lalu lintas.
Melalui survei dan analisis lalu lintas, sehingga dapat memahami bagaimana faktor-faktor seperti desain geometrik jalan, marka dan rambu lalu lintas, serta pola pergerakan kendaraan memengaruhi kinerja jalan. Selain itu, evaluasi kapasitas dan derajat kejenuhan jalan menjadi aspek penting dalam menentukan tingkat pelayanan (Level of Service/LOS), yang menunjukkan seberapa baik suatu jalan dapat menangani arus kendaraan dalam berbagai kondisi. Dengan pendekatan berbasis data, mata kuliah ini juga menyoroti pentingnya manajemen lalu lintas yang adaptif terhadap perubahan pola mobilitas masyarakat, baik pada hari kerja maupun akhir pekan, untuk memastikan kelancaran dan keselamatan transportasi jalan.
2. Tujuan Survey
A. Meningkatkan Efisiensi Lalu Lintas: Dengan memperoleh data yang akurat mengenai TC, geometri jalan, hambatan samping, dan volume parkir, perencana jalan dapat merancang jalan yang lebih efisien dalam mengatur aliran lalu lintas.
B. Meningkatkan Keselamatan Pengguna Jalan: Menyusun desain jalan yang memperhatikan hambatan samping dan aspek geometrik jalan dapat mengurangi risiko kecelakaan dan meningkatkan keselamatan.
C. Mengoptimalkan Penggunaan Ruang: Dengan memperhatikan hambatan samping dan kebutuhan parkir, penggunaan ruang di sepanjang jalan dan di area parkir dapat diatur dengan lebih baik, mengurangi kemacetan dan meningkatkan kenyamanan.
D. Menyesuaikan dengan Kebutuhan Lalu Lintas yang Terus Berkembang:
Dengan survei yang memadai, perencanaan jalan dapat mencakup potensi peningkatan volume lalu lintas di masa depan, serta memastikan jalan dapat menangani perubahan tersebut.
E. Pentingnya survei ini adalah untuk memperoleh data yang tepat, yang kemudian digunakan untuk perencanaan dan desain yang lebih baik, serta untuk memastikan bahwa jalan yang dibangun dapat berfungsi optimal sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
3. Manfaat Survei
Manfaat dari survei kinerja lalu lintas sangat penting dalam perencanaan dan pengelolaan sistem transportasi yang efektif. Survei ini dapat memberikan data akurat mengenai volume kendaraan, kecepatan rata-rata, tingkat kemacetan, waktu tempuh, serta perilaku pengendara di suatu ruas jalan atau persimpangan. Dengan informasi tersebut, pihak berwenang dapat mengidentifikasi titik-titik kemacetan, mengevaluasi efektivitas rekayasa lalu lintas, serta merancang kebijakan yang lebih tepat untuk meningkatkan kelancaran dan keselamatan berkendara. Selain itu, survei kinerja lalu lintas juga membantu dalam perencanaan infrastruktur transportasi di masa depan, seperti penambahan jalur, optimasi sistem sinyal lalu lintas, atau pengembangan transportasi umum guna mengurangi beban kendaraan pribadi. Dengan demikian, hasil survei ini berkontribusi pada terciptanya sistem lalu lintas yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
BAB II
LANDASAN TEORI
1. Kinerja Ruas Jalan
Kinerja ruas jalan didefinisikan sebagai kemampuan suatu ruas jalan dalam melayani kebutuhan arus lalu lintas yang melintas di atasnya. Evaluasi kinerja jalan dilakukan untuk memahami sejauh mana jalan dapat memenuhi kebutuhan pengguna dengan mempertimbangkan aspek kenyamanan, keselamatan, dan efisiensi. Berdasarkan PKJI (2014), parameter utama yang digunakan untuk menilai kinerja ruas jalan meliputi:
1) Kapasitas (C)
Kapasitas adalah jumlah maksimum kendaraan yang dapat melewati suatu ruas jalan dalam satuan waktu tertentu (kendaraan/jam atau smp/jam) pada kondisi tertentu. Kapasitas dipengaruhi oleh faktor geometrik jalan, kondisi lingkungan, dan komposisi kendaraan.
2) Volume Lalu Lintas (Q)
Volume lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang melewati suatu titik pada ruas jalan selama periode waktu tertentu. Volume ini sering dikonversi ke satuan mobil penumpang (SMP) menggunakan faktor ekivalensi mobil penumpang (EMP), dengan rumus:
Q = N/T Keterangan:
● Q = Volume lalu lintas (kend/jam)
● N = Jumlah kendaraan
● T = Waktu pengamatan (jam) 3) Derajat Kejenuhan
DS adalah rasio antara volume lalu lintas aktual dengan kapasitas jalan, dinyatakan dalam formula:
DS = Q/C
Nilai DS digunakan untuk menentukan tingkat pelayanan jalan. Jika DS mendekati 1, maka jalan berada dalam kondisi jenuh.
4) Kecepatan Arus Bebas (FV)
Kecepatan arus bebas adalah kecepatan rata-rata kendaraan pada kondisi ideal tanpa hambatan dari kendaraan lain atau elemen samping jalan. Menurut PKJI, kecepatan arus bebas dipengaruhi oleh lebar jalur, jumlah lajur, dan aktivitas samping jalan.
5) Tingkat Pelayanan Jalan (Level of Service/LOS)
LOS adalah ukuran kualitatif yang menggambarkan kondisi operasional arus lalu lintas dan persepsi pengemudi terhadap kenyamanan berkendara. LOS diklasifikasikan menjadi enam tingkatan: A (sangat baik) hingga F (sangat buruk). Tingkat pelayanan ini dihitung berdasarkan nilai DS dan kecepatan rata-rata kendaraan.
2. Jalan Perkotaan
Menurut PKJI (2014), jalan perkotaan memiliki karakteristik perkembangan lahan permanen di sepanjang sisi jalan, baik berupa bangunan komersial, perumahan, maupun fasilitas umum lainnya. Jalan perkotaan sering kali berada di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan aktivitas samping yang signifikan. Tipe-tipe jalan perkotaan meliputi:
● Jalan dua lajur dua arah tanpa median (2/2 UD)
● Jalan empat lajur dua arah tanpa median (4/2 UD)
● Jalan empat lajur dua arah dengan median (4/2 D)
● Jalan enam lajur dua arah dengan median (6/2 D)
● Jalan satu arah (1-3/1)
Karakteristik ini memengaruhi pola lalu lintas serta kapasitas jalan secara keseluruhan.
3. Geometrik Jalan
Geometrik jalan mencakup elemen fisik dari badan jalan yang memengaruhi kapasitas dan kinerja lalu lintas. Berdasarkan PKJI, elemen-elemen geometrik utama meliputi:
a. Lebar Jalur
Lebar jalur adalah lebar perkerasan yang digunakan untuk satu jalur kendaraan bermotor. Lebar jalur yang lebih besar memungkinkan kapasitas lebih tinggi karena memberikan ruang lebih banyak bagi kendaraan untuk bergerak.
b. Bahu Jalan
Bahu jalan adalah area di sisi perkerasan utama yang digunakan untuk keadaan darurat atau parkir sementara. Bahu jalan juga berfungsi meningkatkan keselamatan dan efisiensi lalu lintas.
c. Trotoar dan Kereb
Trotoar adalah jalur khusus untuk pejalan kaki di sepanjang sisi jalan, sedangkan kereb adalah batas antara trotoar dan jalur lalu lintas kendaraan bermotor. Kehadiran kereb dapat memengaruhi kapasitas dan kecepatan karena mengurangi ruang efektif bagi kendaraan.
d. Hambatan Samping
Hambatan samping mencakup aktivitas di sekitar jalan seperti parkir liar, pejalan kaki, pedagang kaki lima, atau kendaraan keluar-masuk dari properti samping jalan. Hambatan ini memengaruhi kelancaran arus lalu lintas dan sering kali menjadi penyebab utama tundaan.
4. Kecepatan Arus Bebas
Kecepatan arus bebas didefinisikan sebagai kecepatan rata-rata kendaraan ketika tidak ada hambatan dari kendaraan lain atau hambatan samping di sepanjang ruas jalan tersebut. Persamaan umum untuk menghitung kecepatan arus bebas menurut PKJI adalah:
FV=(FV0+FVw)×FFVsf×FFVcs Keterangan:
FV = Kecepatan arus bebas aktual
FV0 = Kecepatan dasar pada kondisi ideal
FVw = Penyesuaian kecepatan berdasarkan lebar jalur FFVsf = Faktor penyesuaian hambatan samping
FFVcs = Faktor penyesuaian berdasarkan ukuran kota
Kecepatan arus bebas menjadi salah satu parameter penting dalam menentukan kapasitas dan tingkat pelayanan suatu ruas jalan.
5. Tingkat Pelayanan Jalan
Tingkat pelayanan atau Level of Service (LOS) menggambarkan kualitas operasional suatu ruas jalan berdasarkan persepsi pengguna terhadap kenyamanan berkendara serta kelancaran arus lalu lintas. LOS diklasifikasikan sebagai berikut:
● LOS A: Lalu lintas sangat lancar; tidak ada tundaan.
● LOS B: Lalu lintas lancar; sedikit tundaan.
● LOS C: Stabil; mulai ada gangguan kecil.
● LOS D: Mendekati jenuh; tundaan meningkat.
● LOS E: Kondisi jenuh; sering terjadi kemacetan.
● LOS F: Kondisi gagal; kemacetan parah.
Nilai LOS dihitung berdasarkan derajat kejenuhan (DS), dengan rentang nilai sebagai berikut:
● LOS A:
● DS≤0,20
● DS≤0,20
● LOS B:
● 0,21≤DS≤0,45
● 0,21≤DS≤0,45
● LOS C:
● 0,46≤DS≤0,70
● 0,46≤DS≤0,70
● LOS D:
● 0,71≤DS≤0,85
● 0,71≤DS≤0,85
● LOS E:
● 0,86≤DS≤1,00
● 0,86≤DS≤1,00
● LOS F:
● DS>1,00
● DS>1,00
Landasan teori ini memberikan dasar konseptual untuk menganalisis kinerja ruas jalan sesuai dengan pedoman PKJI 2014 serta membantu memahami hubungan antara parameter geometrik, volume lalu lintas, hambatan samping, dan tingkat pelayanan dalam sistem transportasi perkotaan.
BAB III
METODOLOGI SURVEY 1. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan
Lokasi survey ini terletak pada ruas Jalan D.I Panjaitan kota Tegal, Survey dimulai dari persimpangan sampai dengan persimpangan sepanjang 350 m.
pada tanggal 24 Desember dan Tanggal 25 Desember 2024, Waktu survey di mulai pukul 06.00-18.00.
2. Peralatan
Berikut adalah peralatan yang digunakan untuk survey : 1) Traffic counter
2) HP 3) Alat tulis 4) Kertas
3. Metode Pengambilan Data
Jenis metode pengumpulan data yang digunakan dalam survei transportasi jalan ini meliputi:
1) Observasi langsung
Metode ini dilakukan dengan mengamati kondisi jalan, volume lalu lintas, hambatan samping, dan aktivitas parkir secara langsung di lokasi. Hasil dari pengamatan tersebut digunakan untuk melihat perbedaan pola lalu lintas pada hari kerja dan hari libur.
2) Survei lapangan
Metode ini dilakukan dengan melakukan inventarisasi elemen jalan seperti rambu lalu lintas, marka jalan, dan kondisi fisik jalan. Metode ini juga melakukan pengukuran lebar jalur lalu lintas dan jalur bahu untuk analisis kapasitas dan keselamatan.
3) Analisis Kuantitatif
Metode ini digunakan untuk menghitung kapasitas jalan, derajat kejenuhan, dan indeks parkir dengan menggunakan rumus dan standar teknis untuk menilai Level of Service (LOS) jalan.
4. Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolahan data yang digunakan dalam survei transportasi jalan ini meliputi:
1) Perhitungan Statistik Deskriptif
Teknik ini digunakan untuk menganalisis karakteristik data yang telah dikumpulkan dengan menghitung nilai rata-rata, persentase, dan indeks tertentu seperti indeks parkir dan derajat kejenuhan untuk menggambarkan kondisi lalu lintas secara kuantitatif.
2) Analisis Kapasitas dan Derajat Kejenuhan
Teknik ini menggunakan rumus kapasitas jalan untuk menentukan tingkat kejenuhan lalu lintas dan menilai Level of Service (LOS) jalan pada hari kerja dan akhir pekan.
3) Analisis Geometrik Jalan
Teknik ini menganalisis dimensi jalan untuk memastikan bahwa jalan memenuhi standar teknis.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Survei
Kondisi geometrik jalan
Lebar jalur lalu lintas efektif dan lebar jalur bahu efektif pada dua jalur jalan, yaitu Jalur A dan Jalur B.
Lebar jalur lalu lintas efektif (LJE) masing-masing adalah 3,9 meter untuk Jalur A dan 3,4 meter untuk Jalur B, sehingga totalnya adalah 7,3 meter. Lebar jalur bahu efektif (LBE) masing-masing adalah 0,3 meter untuk Jalur A dan 0,18 meter untuk Jalur B, dengan total 0,48 meter.
Traffic counting Minggu
Data Traffic Counting Senin
Pada hari Minggu, volume lalu lintas lebih tinggi dibandingkan hari Senin karena aktivitas rekreasi dan perjalanan keluarga. Hambatan samping seperti parkir kendaraan dan pejalan kaki juga lebih banyak, memengaruhi kapasitas jalan dan tingkat pelayanan (LoS). Data ini menunjukkan perlunya pengelolaan lalu lintas khusus di hari libur untuk mengurangi hambatan dan meningkatkan kelancaran arus kendaraan.
Hambatan Samping Minggu
Nilai hambatan samping 80,08, kondisi lalu lintas pada jam 06:00-07:00 termasuk Kategori B (Pelayanan Sedang). Lalu lintas masih lancar, meski terganggu oleh kendaraan lambat (KTB) yang menjadi hambatan utama. Secara keseluruhan, jalan tetap mendukung perjalanan karena aktivitas pejalan kaki dan kendaraan keluar-masuk sangat minim.
Hambatan Samping Senin
Nilai hambatan samping sebesar 26,64 menunjukkan bahwa kondisi lalu lintas pada Senin pukul 06:00-07:00 termasuk dalam Kategori A (Pelayanan Baik). Arus lalu lintas berjalan sangat lancar, dengan hambatan utama berasal dari kendaraan lambat (KTB). Aktivitas pejalan kaki, parkir kendaraan, dan kendaraan keluar-masuk memberikan dampak yang sangat kecil, sehingga jalan tetap optimal untuk mendukung kelancaran perjalanan.
Analisis Perkotaan
Berdasarkan analisis kapasitas dan derajat kejenuhan jalan kota pada hari Minggu dan Senin, ditemukan perbedaan dalam tingkat pelayanan jalan (Level of Service/LOS). Kapasitas dasar jalan (Co) yang digunakan sebesar 2800 smp/jam, dengan penerapan berbagai faktor koreksi yang menghasilkan kapasitas jalan (C) sebesar 1636,036 smp/jam.
Pada hari Minggu, volume arus lalu lintas (Q) tercatat sebesar 640 smp/jam, dengan derajat kejenuhan (Q/C) mencapai 0,3911892. Nilai ini menunjukkan bahwa jalan berada pada tingkat pelayanan LOS B, yang berarti kondisi lalu lintas masih cukup lancar dengan sedikit hambatan.
Sebaliknya, pada hari Senin, volume arus lalu lintas meningkat menjadi 963 smp/jam, sehingga derajat kejenuhan bertambah menjadi 0,5886175. Dengan kondisi ini, tingkat pelayanan turun ke LOS C, yang menunjukkan adanya peningkatan kepadatan lalu lintas, meskipun masih dalam batas wajar.
Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa lalu lintas pada hari kerja (Senin) lebih padat dibandingkan akhir pekan (Minggu). Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan lalu lintas yang lebih efektif pada hari kerja untuk mencegah peningkatan kepadatan yang berpotensi menyebabkan kemacetan.
Data Parkir
Data Parkir Minggu
Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa kapasitas parkir saat ini masih cukup untuk menampung kendaraan, namun terdapat potensi kepadatan pada jam-jam tertentu. Indeks parkir mencapai 35,26%, menunjukkan tingkat pemanfaatan yang cukup tinggi namun masih dalam batas wajar. Dengan kebutuhan ruang parkir yang dihitung sebesar 469 SRP dan luas area parkir 310 m², diperlukan evaluasi lebih lanjut terkait optimalisasi atau perluasan lahan
parkir. Selain itu, pemantauan serta manajemen parkir yang lebih efektif diperlukan untuk menghindari penumpukan kendaraan pada waktu-waktu sibuk.
Data Parkir Senin
Berdasarkan analisis kebutuhan parkir, total kendaraan yang menggunakan fasilitas parkir selama 18 jam mencapai 3.141 kendaraan, . Indeks parkir menunjukkan tingkat pemanfaatan lahan yang terus meningkat hingga mencapai 11,62%, sementara turnover parkir tetap rendah, menandakan penggunaan parkir yang lebih statis.
3. Solusi
a. Mengusulkan perbaikan desain, seperti pelebaran jalur atau penambahan bahu jalan, berdasarkan hasil analisis.
b. Meningkatkan penegakan aturan parkir di sepanjang ruas jalan untuk mengurangi parkir liar.
c. Mengedukasi masyarakat tentang penggunaan transportasi umum dan perilaku berkendara yang aman untuk mengurangi beban kendaraan pribadi.
d. Melakukan analisis data volume lalu lintas selama periode waktu yang lebih panjang untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat mengenai kapasitas jalan.
e. Melaksanakan kampanye keselamatan lalu lintas untuk meningkatkan kesadaran pengguna jalan tentang pentingnya mematuhi aturan berlalu lintas.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan
Survei kinerja lalu lintas yang dilakukan pada ruas Jalan D.I Panjaitan di kota Tegal menunjukkan bahwa pengumpulan data mengenai kondisi fisik jalan, pola lalu lintas, hambatan samping, dan aktivitas parkir sangat penting untuk perencanaan dan pengelolaan infrastruktur transportasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa dimensi jalan, seperti lebar jalur lalu lintas efektif sebesar 7,3 meter dan jalur bahu efektif sebesar 0,48 meter, relevan untuk menilai kapasitas dan keselamatan jalan.
Analisis menunjukkan bahwa pada hari kerja (Senin), kondisi lalu lintas tergolong baik (Kategori A) dengan hambatan samping yang rendah, sementara pada hari libur (Minggu), hambatan samping meningkat akibat aktivitas rekreasi. Kapasitas jalan pada hari Minggu tercatat sebesar 2066,4 SMP/jam dengan arus lalu lintas aktual 640,4 SMP/jam (LOS B), menandakan kondisi cukup lancar. Sebaliknya, pada hari Senin, arus lalu lintas aktual mencapai 963,2 SMP/jam (LOS C), menunjukkan stabilitas meskipun tingkat kenyamanan menurun.
Selain itu, analisis aktivitas parkir menunjukkan permintaan yang meningkat pada jam tertentu dengan indeks parkir mencapai 53,23%, meskipun tingkat turnover kendaraan tetap stabil. Hal ini mengindikasikan perlunya pengelolaan yang lebih baik terhadap ruang parkir untuk mengurangi kemacetan.
Secara keseluruhan, hasil survei ini memberikan wawasan berharga bagi perencana transportasi untuk merancang solusi yang lebih efisien dan aman dalam mengelola arus lalu lintas serta meningkatkan kualitas infrastruktur jalan. Dengan pendekatan berbasis data, diharapkan dapat dihasilkan kebijakan yang adaptif terhadap perubahan pola mobilitas masyarakat di masa mendatang.
2. Saran
Berdasarkan analisis survei transportasi jalan, disarankan untuk mengoptimalkan pengelolaan lalu lintas terutama pada hari libur seperti Minggu, ketika hambatan samping meningkat akibat aktivitas rekreasi. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah penataan parkir yang lebih tertib, termasuk pengalokasian lahan parkir tambahan di lokasi strategis guna mengurangi gangguan terhadap arus lalu lintas utama. Selain itu, rekayasa lalu lintas seperti penerapan sistem satu arah atau pengaturan waktu operasional kendaraan tertentu dapat dipertimbangkan untuk menjaga kelancaran lalu lintas. Mengingat kapasitas jalan yang memadai dengan tingkat pelayanan (LOS) B dan C pada hari kerja dan libur, diperlukan pemantauan berkala untuk memastikan jalan tetap mampu menampung pertumbuhan lalu lintas di masa depan. Pemerintah daerah juga dapat meningkatkan sosialisasi mengenai penggunaan transportasi umum sebagai alternatif, terutama pada jam sibuk, guna mengurangi kepadatan dan meningkatkan efisiensi ruang jalan.
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2014). Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI). Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Marga.