• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Topik KTA

N/A
N/A
lULUANDO

Academic year: 2024

Membagikan "Laporan Topik KTA"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Topik 2. Pengenalan Bangunan Konservasi Tanah dan Air (BKTA) Pengendali Jurang (Gully plug)

A. Pendahuluan Latar Belakang

Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang secara topografik dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung dan menyimpan air hujan untuk kemudian menyalurkannya ke laut melalui sungai utama. Istilah lain DAS adalah daerah tangkapan air (DTA) atau catchment area yang merupakan suatu ekosistem dengan unsur utamanya terdiri atas sumberdaya alam (tanah, air, dan vegetasi) dan sumberdaya manusia sebagai pemanfaaat sumberdaya alam. Permasalahan yang sering terjadi di dalam DAS adalah tekanan penduduk terhadap lahan, peningkatan erosi dan tanah longsor, perambahan hutan untuk lahan petanian, dan peningkatan aliran permukaan. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk monitoring dan Evaluasi Kinerja DAS adalah Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indoensia No. P.61/Menhut-II/2014 tentang Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS, yang menggunakan berbagai indikator kinerja DAS, meliputi komponen biofisik, hidrologis, sosial ekonomi, investasi bangunan dan pemanfaatan ruang wilayah DAS (Wibisono 2021).

Rehabilitasi hutan dan lahan adalah suatu upaya untuk mengembalikan fungsi dan produktivitas hutan atau lahan yang telah rusak atau terdegradasi akibat aktivitas manusia, seperti penebangan liar, kebakaran hutan, atau penggunaan lahan yang tidak sesuai. Konservasi secara sipil teknis untuk lahan dan hutan adalah suatu pendekatan yang melibatkan berbagai teknologi dan metode dalam upaya untuk mengurangi dampak negatif aktivitas manusia terhadap hutan dan lahan. Teknik ini meliputi penggunaan teknologi modern, seperti sistem irigasi, pengendalian erosi, pembangunan terasering, dan rekayasa tanah. Selain itu, tehnik konservasi secara sipil teknis juga melibatkan pengembangan infrastruktur yang ramah lingkungan, seperti jalan setapak, jembatan, dan tanggul sungai. Tujuan dari tehnik konservasi secara sipil teknis untuk lahan dan hutan adalah untuk meningkatkan produktivitas lahan dan hutan secara berkelanjutan, mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada lahan dan hutan tersebut (Hakim et al. 2023).

(2)

Teknik konservasi tanah dan air sangat penting diterapkan terutama pada area pertanian dan Kehutanan .Erosi dan sedimentasi menjadi dua bahasan utama yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Partikel-partikel tanah hasil erosi akan menyebabkan pendangkalan jika masuk ke badan air. Karena setiap unit lahan memiliki sensitivitas yang berbeda-beda terhadap erosi, maka perlu diketahui distribusi spasialnya. Informasi mengenai sensitivitas lahan terhadap erosi dan sebaran spasialnya sangat penting dalam pengelolaan DAS/Sub-DAS, terutama DAS/Sub-DAS yang dimanfaatkan sebagai kawasan pertanian. Dengan informasi tersebut, dapat dirumuskan teknik konservasi tanah dan air yang tepat bagi keberlangsungan produktivitas lahan pertanian dan kehutanan sehingga laju erosi yang menyebabkan lahan terdegradasi dapat ditekan (Auliyani 2020).

Umumnya wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS) didominasi topografi yang curam sampai sangat curam dengan kemiringan lereng lahan >40% dan potensial rawan bencana longsor dan erosi. Sehubungan dengan itu, diperlukan pengelolaan DAS secara kolaboratif yang melibatkan masyarakat lokal pada kegiatan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT). Model perancangan penerapan teknik RLKT partisipatif perlu dibangun bersama masyarakat diharapkan terjadi transfer pengetahuan dan teknologi yang berlangsung dalam proses tersebut., menunjukkan bahwa kunci keberhasilan kegiatan pemulihan hutan dengan melibatkan masyarakat terletak pada tahapan pelaksanaan di lapangan. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat dapat menjadi mitra dalam rehabilitasi, pemulihan, dan penanaman tanaman kehutanan sekaligus dibarengi penerapan teknik konservasi tanah dalam menjaga kelestarian lingkungan (Sallata 2016).

Tujuan

Tujuan dibangunya Bangunan Konservasi tanah dan air (BKTA) adalah Mengendalikan endapan dan aliran air permukaan dari daerah tangkapan air, Memperbaiki lahan yang rusak berupa jurang/parit akibat gerusan air guna mencegah terjadinya jurang/parit yang semikin besar sehingga erosi dan sedimentasi terkendali.

(3)

Metodologi Waktu:

Pada Tanggal 6 Juli 2024 kami pergi meninjau lokasi Bangunan KTA yang telah dibangun pada Tahun 2023 di desa Sipolha, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun dan Pada tanggal 12 Juli 2024 kegiatan diskusi di kantor BPDAS Asahan Barumun mengenai Bangunan konservasi tanah dan air (BKTA) yaitu Gully Plug.

Metode

1. Pemilihan Kriteria Teknis Bangunan Konservasi Tanah dan Air.

2. Penentuan Bangunan KTA Secara Spasial.

3. Ground check/Cek Lapangan.

4. Pembuatan Rancangan.

5. Pelaksanaan.

6. Pengendalian.

Tabel 1 Persyaratan Teknis Lokasi Bangunan Sipil

Gully Plug (GP)

Luas DTA (ha) 1-5

Kemiringan Alur ≤10%

Kemiringan Rata2 DTA >35%

Persayataran teknis lokasi GP antara lain:

1. Kemiringan DTA > 35 % dan terjadi erosi parit/alur;

2. Pengelolaan lahan sangat intensif atau lahan terbuka;

3. Luas DTA 1 - 5 ha;

4. Kemiringan alur ≤ 10%;

5. Tingkat erosi dan sedimentasi yang tinggi dan mampu menampung aliran permukaan yang besar; dan/atau

6. Merupakan lokasi penanganan dampak bencana alam.

Hasil dan Pembahasan Hasil

Kegiatan kunjungan lokasi bangunan gully plug di Desa Sipolha, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun yang dibangun pada tahun 2023, serta pengenalan cara pembuatan bangunan konservasi tanah dan air (BKTA) berupa batu bata untuk pembuatan bangunan gully plug. Adapun hasil dari

(4)

kegiatan kunjungan bangunan gully plug dan pengenalan serta pembuatan bangunan konservasi tanah dan air (BKTA) adalah sebagai berikut:

Pembahasan

Salah satu penerapan teknik konservasi tanah dan air yang digunakan adalah dengan metode sipil teknis yang pada dasarnya merupakan perlakuan fisik mekanik melalui pembuatan bangunan konservasi tanah dan air (BKTA) untuk mengurangi laju aliran permukaan, erosi, sedimentasi dan meningkatkan kemampuan penggunaan tanah.Teknik konservasi tanah dan air dilakukan dengan memperhatikan kondisi lingkungan tempat dimana konservasi akan dilakukan.

Kawasan yang berada di Desa Sipolha Kabupaten Simalungun berada pada lereng- lereng bukit/gunung di pinggir Danau Toba sesuai gambar 1 yang merupakan bagian dari Kawasan DAS Toba. Sehingga pemilihan teknik konservasi harus dilakukan dengan benar. Lereng atau kemiringan lahan adalah salah satu faktor pemicu terjadinya erosi di lahan pegunungan. Peluang terjadinya erosi makin besar dengan makin curamnya lereng. Makin curam lereng, makin besar pula volume dan kecepatan aliran permukaan yang berpotensi menyebabkan erosi (Idjudin, 2011).

Pengendalian erosi dapat direncanakan dan diimplementasikan melalui pendekatan vegetatif atau sipil teknis, ataupun gabungan keduanya.

Pengenalan Bangunan Konservasi Tanah dan Air: Pengendali Jurang (Gully Plug) Pada pengenalan materi teori dan praktik bangunan konservasi tanah dan air berupa bangunan pengendali jurang (gully plug) sesuai Gambar 2 di Kantor BPDAS Asahan Barumun, kami mendapatkan materi tentang bagaimana cara menyusun

Gambar 1. Bangunan Gully Plug di Desa Sipolha, Kec Pematang Sidamanaik, Kab.

Simalungun.

Gambar2. Pengenalan dan Pembelajaran cara pembuatan

Bangunan gully plug.

(5)

bronjong untuk membuat satu bangunan gully plug dengan cara batu bata yang disusun sedemikian rupa sehingga dianggap satu bronjong adalah satu batu bata.

Penyusunan ini dilakukan sesuai dengan kriteria dan persyaratan yang ada pada Peraturan PERDIRJEN PDASHL Nomor P6/PDASHL/SET/KUM.1/8/2017 tentang Petunjuk Teknis Bangunan Konservasi Tanah dan Air. Gully plug ini berfungsi untuk mengendalikan erosi dan sedimentasi, mencegah terbentuknya jurang yang lebih besar, serta menjaga stabilitas tebing parit. Dengan adanya gully plug, risiko tanah longsor dapat dikurangi, infiltrasi air ke dalam tanah meningkat, dan kelembaban tanah terjaga. Teknik ini sangat efektif dalam memperbaiki lahan yang rusak akibat gerusan air dan mendukung upaya konservasi tanah dan air di wilayah kerja BPDAS Asahan Barumun.

Perpaduan kedua teknik Konservasi tanah dan air secara Vegetatif dan Penerapan Bangunan Konservasi Tanah dan Air tersebut sangat tepat diterapkan untuk merehabilitasi lahan kritis. Teknik konservasi vegetatif biasa dilakukan dengan penanaman tanaman jenis kayu-kayuan, tanaman jenis perdu, tanaman penutup (cover cropt) baik jenis asli (native species) maupun luar (exoticspecies), tanaman jenis rumput-rumputan, dan atau memelihara pertumbuhan alam (natural regeneration). Untuk melakukan perbaikan (konservasi) lahan kritis, terutama yang berada pada daerah daerah lereng, bangunan-bangunan sipil jenis struktur sebaiknya didahulukan. Bangunan bangunan tersebut sangat efektif untuk melindungi tebing-tebing dari bahaya erosi (Murri et al., 2014).

Pengendali Jurang/ Gully Plug (GP), adalah bendungan kecil yang lolos air yang dibuat pada parit-parit melintang alur parit dengan konstruksi bronjong batu, kayu atau bambu. Gully Plug (GP) adalah upaya teknik konservasi tanah untuk mencegah/ mengendalikan erosi jurang agar tidak meluas dan berkembang sehingga merusak lingkungan sekitarnya. Jumlah bronjong yang dibutuhkan dalam pembuatan gully plug tergantung pada ukuran dan desain spesifik dari gully plug tersebut, Sebagai contoh, jika sebuah gully plug memiliki lebar 5 meter dan setiap bronjong memiliki tinggi 2 meter, maka diperlukan sekitar 33 bronjong untuk membangun gully plug tersebut. Hal pertama dilakukan penggalian pada dasar sungai sedalam 500 cm, Kemudian Pemasangan cerucuk dalam bentuk bambu yang diruncingkan, untuk memperkuat struktur gully plug. Bambu yang dipasang

(6)

dengan benar diikat kawat bersamaan dengan bronjong dapat membantu menahan tekanan air dan tanah, sehingga mencegah keruntuhan struktur. Bambu membantu mengurangi kecepatan aliran air, yang pada gilirannya mengurangi erosi tanah di sekitar gully plug. Pemasangan bambu dapat meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, membantu menjaga kelembaban tanah dan mengurangi limpasan permukaan.

Bambu yang digunakan dalam bio gully plug sering kali masih hidup dan dapat tumbuh menjadi rumpun bambu. Ini memberikan tambahan stabilitas dan perlindungan terhadap erosi di masa depan. Diameter bambu minimal 10 cm.

Bagian bambu yang tertanam ke dalam tanah minimal 0,5 m atau lebih tergantung kondisi tanah dasar saluran/jurang tempat akan dibuat bangunan.

Kelebihan Pengendali Jurang (Gully Plug) yaitu:

1. Mengurangi Erosi: Gully plug efektif dalam mengurangi erosi tanah dengan menahan aliran air dan endapan sedimen. Hal ini membantu mencegah terbentuknya jurang yang lebih besar dan menjaga stabilitas tebing parit.

2. Meningkatkan Infiltrasi Air: Gully plug dapat meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, yang membantu menjaga kelembaban tanah dan mengurangi limpasan permukaan.

3. Mengurangi Risiko Banjir: Gully plug membantu mengendalikan aliran air selama hujan deras, sehingga mengurangi risiko banjir dan tanah longsor di daerah hilir.

Kekurangan

1. Biaya Konstruksi: Pembangunan gully plug memerlukan biaya yang mahal, terutama jika menggunakan material seperti batu bronjong atau beton. Biaya ini mencakup pembelian material, transportasi, dan tenaga kerja

2. Pemeliharaan: Gully plug memerlukan pemeliharaan rutin untuk memastikan efektivitasnya. Pemeliharaan ini meliputi pembersihan endapan sedimen, perbaikan struktur yang rusak, dan penggantian material yang aus.

3. Keterbatasan Lokasi: Gully plug hanya efektif pada lokasi dengan kondisi tertentu, seperti kemiringan lahan yang sesuai dan luas daerah tangkapan air yang memadai. Pada lokasi yang tidak memenuhi kriteria ini, efektivitas gully plug dapat berkurang.

(7)

4. Dampak Lingkungan: Pembangunan gully plug dapat mengganggu ekosistem lokal, terutama jika tidak direncanakan dengan baik. Misalnya, perubahan aliran air dapat mempengaruhi habitat flora dan fauna di sekitar lokasi.

5. Keterbatasan Kapasitas: Gully plug memiliki kapasitas terbatas dalam menahan aliran air dan sedimen. Pada kondisi hujan deras atau banjir besar, gully plug mungkin tidak mampu menahan volume air yang besar, sehingga risiko erosi dan kerusakan tetap ada.

6. Keterampilan dan Pengetahuan: Pembangunan dan pemeliharaan gully plug memerlukan keterampilan dan pengetahuan teknis yang memadai.

Kurangnya pelatihan dan pemahaman tentang teknik ini dapat mengurangi efektivitas dan keberlanjutan gully plug

Kesimpulan dan Saran Kesimpulan

1. Konservasi Tanah dan Air adalah upaya perlindungan, pemulihan, peningkatan, dan pemeliharaan Fungsi Tanah pada Lahan sesuai dengan kemampuan dan peruntukan Lahan untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan kehidupan yang lestari.

2. Penerapan Teknik Konservasi Tanah dan Air adalah salah satu pelaksanaan kegiatan dalam rehabilitasi hutan yang dilakukan dengan pembuatan bangunan berupa dam pengendali, dam penahan, teras, saluran pembuangan air, sumur resapan, embung, parit buntu (rorak), atau bangunan pelindung tebing sungai/waduk/danau.

3. Bangunan pengendali jurang (gully plug/GP) adalah bendungan kecil yang lolos air yang dibuat pada parit-parit, melintang alur parit dengan konstruksi batu, kayu atau bambu.

4. Bronjong atau Gabions adalah kotak yang terbuat dari anyaman kawat baja berlapis seng yang pada penggunaannya diisi batu-batu untuk mencegah erosi yang dipasang pada tebing-tebing, tepi-tepi sungai, yang proses pembuatannya menggunakan mesin atau manual.

Saran

Perlu dilakukan teknik konservasi vegetasi dengan penanaman tanaman

(8)

jenis MPTS dan kayu-kayuan, tanaman jenis perdu, tanaman penutup (cover crop) baik jenis asli (native species) maupun luar (exotic species), tanaman jenis rumput- rumputan, dan/atau memelihara pertumbuhan alam (natural regeneration). Biaya Konstruksi: Untuk mengurangi biaya konstruksi, disarankan menggunakan material lokal yang lebih murah dan mudah didapatkan. Selain itu, adopsi teknologi konstruksi yang lebih efisien dan hemat biaya dapat membantu. Pemeliharaan:

Memberikan pelatihan dan edukasi kepada masyarakat setempat tentang pentingnya pemeliharaan gully plug dan cara melakukannya. Menyusun rencana pemeliharaan berkala yang melibatkan pemantauan rutin dan tindakan perbaikan segera jika diperlukan. Keterbatasan Lokasi: Melakukan studi kelayakan yang komprehensif sebelum pembangunan untuk memastikan lokasi memenuhi semua persyaratan teknis. Mengembangkan desain gully plug yang dapat disesuaikan dengan berbagai kondisi lokasi. Dampak Lingkungan: Melakukan perencanaan yang matang dengan mempertimbangkan dampak lingkungan dan mengadopsi langkah-langkah mitigasi yang sesuai. Melibatkan ahli lingkungan dalam proses pembangunan untuk memastikan bahwa dampak negatif terhadap ekosistem lokal dapat diminimalkan. Keterbatasan Kapasitas: Merancang gully plug dengan kapasitas yang memadai untuk menahan aliran air dan sedimen, terutama pada kondisi hujan deras atau banjir besar. Menambahkan sistem drainase tambahan untuk mengalirkan kelebihan air selama kondisi ekstrem. Keterampilan dan Pengetahuan: Menyelenggarakan pelatihan teknis bagi tenaga kerja yang terlibat dalam pembangunan dan pemeliharaan gully plug. Menyediakan dokumentasi dan panduan yang jelas tentang teknik pembangunan dan pemeliharaan gully plug.

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Auliyani D. 2020. Upaya konservasi tanah dan air pada daerah pertanian dataran tinggi di Sub-Daerah Aliran Sungai Gandul (Soil and water conservation efforts in the highland agriculture area in Gandul Sub Watershed). Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 25(3): 382-387.

Hakim L, Iemaaniah ZM, Rachmadi A. 2023. Sosialisasi Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Dengan Menggunakan Metode Konservasi Sipil Teknis Dalam Pengendalian Tanah Di Desa Rembitan Kecamatan Pujut Lombok Tengah.

Jurnal Siar Ilmuwan Tani. 4(1): 112-117.

Idjudin, A. A. 2011. Peranan Konservasi Lahan dalam Pengelolaan Perkebunan.

Jurnal Sumberdaya Lahan, (2):103–116.

Murri, M. M., Surjandari, N. S., & As’ad, S. 2014. Analisis Stabilitas Lereng dengan konservasi tanah dan air.

Perdirjen PDASHL No. P.6/PDASHL/SET/KUM.1/8/2017. 2017. tentang Petunjuk Teknis bangunan konservasi tanah dan air

Sallata MK. 2016. Partisipasi petani pada penerapan teknik rehabilitasi lahan dan konservasi tanah di wilayah DAS mikro. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea. 5(2): 171-184.

Wibisono K. 2021. Monitoring kinerja das bedadung kabupaten jember, jawa timur. Jurnal Geografi: Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian. 18(1): 52-59.

Referensi

Dokumen terkait

Pelaksanaan kegiatan pembuatan tanaman pada kawasan hutan (hutan lindung dan hutan produksi), hutan rakyat, rehabilitasi hutan magrove dan pembuatan bangunan konservasi

Hasil penelitian tingkat partisipasi masyarakat terhadap penerapan teknik rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat

Metode mekanik adalah metode yang menggunakan tanah dan batu sebagai sarana konservasi tanahnya dengan cara membuat bangunan/benteng. Metode ini bertujuan untuk mengurangi

KLHK terus berupaya untuk mengatasinya, melalui rehabilitasi hutan dan lahan, pembuatan bangunan konservasi tanah, pembangunan persemaian permanen, dan

Konservasi secara engineering atau mekanis (metode mekanik): Semua perlakuan fisik mekanis yang diberikan terhadap tanah, dan pembuatan bangunan konservasi yang ditujukan

Penerapan pendekatan SHIP pada program konservasi air tanah ini diawali dengan kajian teknis, pembahasan prioritas masalah, desain program, penetapan dan penerapan teknologi, dan

Pelaksanaan kegiatan pembuatan tanaman pada kawasan hutan (hutan lindung dan hutan produksi), hutan rakyat, rehabilitasi hutan magrove dan pembuatan bangunan konservasi

Diabaikannya aspek-aspek perlindungan bangunan yang bersumber dari tanah urugan, serta kurang memadainya penerapan teknik bangunan sanitasi lingkungan pada