LAPORAN UJIAN AKHIR SEMESTER ERGONOMIKA WALKER UNTUK LANSIA
Dosen Pengampu : Ayudyah Eka Apsari, Dr.,S.T.,M.T.
Nama Anggota :
Muhibb Zulfa (5220611039) Muhammad Afif Rizqullah (5220611052)
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS SAINS & TEKNOLOGI UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA
2024
1.1 Latar Belakang
Lanjut usia (lansia) merupakan suatu kondisi dimana faktor kesehatan umumnya menurun yang dapat menyebabkan permasalahan secara fisik maupun mental. Hal tersebut disebabkan oleh keterbatasan dari fungsi organ tubuh manusia yang telah mengalami penuaan secara alami, salah satu nya yaitu organ gerak tubuh seperti kesulitan dalam berjalan. Hal ini dapat membuat sulit untuk melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berjalan ke kamar , dapur dan tempat sekitar rumah.
Solusi dari masalah tersebut adalah dapat dengan penggunaan alat bantu berjalan yaitu walker.
Walker merupakan alat bantu jalan yang digunakan oleh orang-orang dengan keterbatasan mobilitas, seperti orang tua, lansia, atau penyandang disabilitas. Walker dapat membantu penggunanya untuk berjalan dengan lebih stabil dan aman. Walker terdiri dari dua gagang yang digunakan oleh pengguna sebagai pegangan tangan dan empat kaki sebagai tumpuan. Gagang walker biasanya dilengkapi dengan bantalan untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan. Kaki walker biasanya terbuat dari material yang kuat, seperti aluminium atau baja. Walker tersedia dalam berbagai ukuran dan jenis, disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
1.2 Gambar Desain 3D
1.3 Fungsi dan Inovasi Produk
Inovasi walker yang kami buat adalah menambahkan tempat duduk dan walker bisa dilipat. Tempat duduk pada walker dapat digunakan oleh pengguna untuk beristirahat sejenak saat berjalan. Sementara itu, walker yang bisa dilipat dapat memudahkan pengguna untuk membawanya atau menyimpannya di tempat yang sempit. Fungsi dari inovasi walker ini adalah :
1. Keperluan untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan walker.
Walker yang konvensional umumnya tidak memiliki tempat duduk, sehingga penggunanya tidak dapat beristirahat sejenak saat berjalan. Hal ini dapat menyebabkan pengguna merasa lelah dan tidak nyaman.
2. Keperluan untuk meningkatkan kemudahan penggunaan walker.
Walker yang konvensional umumnya berukuran besar dan berat, sehingga sulit untuk dibawa atau disimpan di tempat yang sempit. Hal ini dapat menyulitkan pengguna untuk membawa walker saat bepergian atau menyimpannya di rumah.
Beberapa faktor utama yang mendorong pengembangan inovasi ini melibatkan perpaduan antara keamanan, kenyamanan, dan kemudahan penggunaan. Walker tradisional seringkali hanya berfungsi sebagai alat bantu berjalan tanpa menyediakan tempat duduk, sehingga pengguna harus mencari tempat duduk tambahan saat merasa lelah. Dengan menambahkan tempat duduk pada walker, inovasi ini memberikan kemudahan bagi pengguna untuk beristirahat kapan saja tanpa perlu mencari tempat duduk ekstra.
Selain itu, kemampuan walker untuk dilipat juga menjadi fitur penting. Pengguna walker seringkali menghadapi kendala ketika harus menyimpan atau membawa walker mereka. Dengan kemampuan lipat, walker dapat dengan mudah diangkut dan disimpan di dalam mobil atau ruang penyimpanan dengan lebih efisien. Hal ini juga membuatnya lebih praktis untuk digunakan di berbagai situasi, seperti perjalanan atau kegiatan luar ruangan.
Dengan demikian, inovasi walker yang dilengkapi tempat duduk dan dapat dilipat ini didasarkan pada kebutuhan nyata pengguna untuk alat bantu yang tidak hanya efektif dalam berjalan tetapi juga memberikan kenyamanan dan kemudahan penggunaan sehari-hari.
Kesimpulan
Berdasarkan data analisa fisiologi dari 5 responden lansia tersebut yang berlokasi di UPT Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia, kami menemukan bahwa dari 5 responden tersebut mempunya masalah pada tubuh seperti kolestrol dan asam urta dan juga mempunyai masalah pada alat gerak tubuh nya seperti susah untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini dapat membuat sulit untuk melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berjalan ke kamar , dapur dan tempat sekitar nya.
Berdasarkan analisa biomekanika dari data tersebut adalah 5 orang responden yang kami wawancarai hanya berkegiatan sehari – hari seperti berjalan kaki pada pagi dan sore , berjalan untuk makan, berjalan untuk ke kamar mandi. Dari 5 orang responden tersebut juga sudah tidak bekerja karena mereka tinggal di panti jompo. Lansia yang tinggal di panti jompo memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan biomekanika dibandingkan lansia yang tinggal di rumah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu penurunan masa otot. Hal ini disebabkan karena kurangnya aktivitas fisik pada lansia di panti jompo karena tidak bekerja dan hanya berkegiatan sehari – hari seperti berjalan, mandi, makan. Gangguan biomekanika pada lansia di panti jompo dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan mereka, antara lain ketergantungan terhadap petugas panti jompo.
Oleh karena itu, kami menciptakan alat yaitu walker supaya bisa membantu para lansia ini untuk bergerak dan kami mendesain tempat duduk supaya jika lelah untuk berdiri bisa langsung duduk. Dengan desain tersebut semoga dapat membantu para lansia untuk dapat bisa beraktivitas sehari – hari.
Daftar Pustaka
Ginting, H. (2020). Penerapan Metode Brainstorming dalam Perancangan Produk Tongkat (Walker) Duduk Bagi Lansia. 3, 800–805.
Yunus, M., & Idiar. (2021). Pengembangan Desain Walker Fleksibel Bagi Lansia. Jurnal Mesin Nusantara, 4(1), 1–10.
Lampiran
Surat izin survei studi ke UPT Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia
Foto bersama Responden
Lokasi UPT RUMAH PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA
Data Responden
(lampiran ss autocad )