• Tidak ada hasil yang ditemukan

NGAMATAN BENTUK BAKTERI, KAPANG, DAN KHAMIR FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

N/A
N/A
Ellita Sevilla

Academic year: 2023

Membagikan "NGAMATAN BENTUK BAKTERI, KAPANG, DAN KHAMIR FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PENGAMATAN BENTUK BAKTERI, KAPANG, DAN KHAMIR FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN Ellita Sevilla (240210220045)

Departemen Teknologi Industri Pangan Universitas Padjadjaran, Jatinangor Jalan Raya Bandung-Sumedang Km. 21. Jatinangor, Sumedang 40600 Telp. (022)

779884, 779570 Fax. (022) 7795780 Email: [email protected] ABSTRAK

Mikroorganisme dalam bidang pangan dapat dibagi jadi 3, yaitu bakteri, kapang, dan khamir. Pada praktikum ini, akan dilakukan pengamatan bentuk bakteri, kapang, dan khamir. Bentuk dasar dari bakteri dapat berupa kokus, basil, atau spiral, sedangkan kapang umumnya memiliki bentuk filamen atau miselium seperti benang yang merupakan kumpulan hifa, dan bentuk khamir bermacam- macam yaitu bulat, oval, silinder atau batang, segitiga melengkung, berbentuk botol, bentuk apikulat atau lemon, membentuk pseudomiselium dan sebagainya.

Untuk mengetahui morfologinya, dapat dilakukan dengan metode pewarnaan gram pada bakteri, sedangkan kapang dengan teknik moist chamber, dan khamir dengan teknik preparat basah. Bakteri yang akan diuji pada praktikum kali ini adalah bakteri asam laktat dan bakteri hasil TPC, sedangkan kapang adalah Neurospora sitophila yang sering ditemukan pada oncom dan Rhizopus oligosporus yang sering ditemukan pada tempe, dan khamir adalah Saccharomyces cerevisiae. Adapun tujuan dari praktikum ini, yaitu agar dapat membedakan bentuk-bentuk bakteri, kapang, dan khamir. Berdasarkan hasil pengamatan, bakteri asam laktat dan bakteri hasil TPC dapat diklasifikasikan sebagai golongan dari bakteri gram positif, karena ketika diamati dengan mikroskop, menghasilkan warna ungu dan berbentuk bulat. Neurospora sitophila memiliki struktur hifa bersepta dan memiliki jenis spora seksual ascomycota, sedangkan Rhizopus oligosporus memiliki struktur hifa tidak bersepta dan berspora zygomycota. Saccharomyces cerevisiae memiliki bentuk oval (bulat telur) dan berwarna biru karena merupakan sel mati.

Kata Kunci : Moist Chamber, Pewarnaan gram, Preparat Basah

PENDAHULUAN

Dalam bidang pangan, mikroorganisme dapat bersifat menguntungkan, seperti untuk meningkatkan mutu produk pangan, pengurai zat-zat kimia berbahaya dan

mengawetkan produk pangan, namun, dapat bersufat patogen juga.

Mikroorganisme yang sering ditemukan dalam bidang pangan adalah bakteri, khamir, dan kapang.

Bakteri merupakan

(2)

mikroorganisme prokariotik (bersel tunggal) yang hidup berkoloni dan tidak mempunyai membran inti namun mampu hidup dimana saja (Jawetz et al., 2004). Bakteri mempunyai 3 bentuk dasar, yaitu kokus, basil, dan spiral. Kokus (bulat) dapat dibagi menjadi 5, monokokus (tunggal), diplokokus (bergandengan), sarkina (susun kubus), streptokokus (susun memanjang), dan stafilokokus (anggur). Basil (batang) dapat dibagi menjadi basil tunggal, diplobasil (bergandengan), dan streptobasil (memanjang). Sedangkan spiral merupakan bentuk bakteri yang lengkung, dan dapat dibagi menjadi spiral, vibrio (koma), dan spirochaeta.

Selain itu, bakteri dapat dibagi menjadi 2, yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.

Untuk mengidentifikasi bakteri, dapat dilakukan metode pewarnaan gram. Menurut Putri dan Kusdiyantini (2018), pewarnaan gram adalah salah satu teknik pewarnaan yang dilakukan untuk membedakan golongan bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.

Bakteri yang akan diamati pada praktikum ini adalah Bakteri asam laktat (BAL) yang merupakan sejenis bakteri gram positif, tidak menghasilkan spora, berbentuk bulat atau batang dan memproduksi asam laktat sebagai produk akhir metabolik utama selama proses fermentasi (Ramesh, 2015). Selain itu, terdapat bakteri hasil tpc pada medium.

Berdasarkan bentuk dan ukurannya, jamur dibagi 2, yaitu jamur makroskopis dan jamur mikroskopis. Jamur makroskopis merupakan cendawan, yang dapat terlihat oleh kasat mata, dapat dipetik atau dipegang langsung (Gunawan, 2001). Sedangkan jamur mikroskopis merupakan kapang dan khamir, yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop, karena ukurannya yang sangat kecil (Ketut, 2012).

Khamir (yeast) merupakan fungi uniseluler yang memiliki ukuran yang berbeda-beda yaitu dengan panjang 5 – 20 μm dan lebar 1 – 10 μm. Pada umumnya, khamir memiliki berbagai macam bentuk sel yaitu bulat, oval, silinder atau batang, segitiga melengkung,

(3)

berbentuk botol, bentuk apikulat atau lemon, membentuk pseudomiselium dan sebagainya. Khamir yang akan diamati pada praktikum ini adalah Saccharomyces cerevisiae dengan teknik preparat basah.

Kapang merupakan

organisme multiseluler berbentuk filamen (kumpulan hifa) dan memperoleh makanan dengan cara menyerap nutrisi dari inangnya (Ali, 2005). Miselium ini dapat dilihat dengan mata telanjang dan dapat mengandung pigmen dengan warna- warna merah, ungu, kuning, coklat, abu-abu dan lain-lain. Kapang yang akan diamati dengan teknik moist chamber adalah Neurospora sitophila yang digunakan untuk membuat oncom, dan Rhizopus oligosporus yang digunakan untuk membuat tempe.

Adapun tujuan dari praktikum ini, yaitu agar dapat membedakan bentuk-bentuk bakteri, kapang, dan khamir.

METODOLOGI Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini antara lain, botol semprot, bunsen (pembakar

spirtus), cawan petri, cover glass, mikroskop, object glass, ose, dan pipet tetes.

Bahan-bahan yang digunakan antara lain, alkohol 95%, aquades, hifa pada oncom, larutan garam yodium (lugol), larutan kristal violet, larutan safranin, minyak imersi, dan suspensi bakteri dan khamir dalam medium agar dan cair.

PROSEDUR

Persiapan Alat dan Bahan

Tahap pertama adalah membersihkan meja kerja dengan alkohol 70% ke meja kerja, dan dilap dengan tisu, setelah itu, dinyalakan bunsen pada meja kerja.

Pembuatan film/ Apusan Bakteri Tahap awal adalah bersihkan object glass dan cover glass dengan alcohol 70%. Kemudian pijarkan ose dan ditunggu dingin. Diteteskan aquades pada object glass dengan pipet tetes dan diambil 1 ose koloni dari cawan petri, diletakkan ose tepat pada aquades dan disebarkan dengan memutar searah jarum jam. Sterilkan kembali ose dan difiksasi atau pelekatan (lalukan object glass di atas api bunsen secara cepat hingga semua aquades menguap dan

(4)

mengering).

Pewarnaan Gram

Meneteskan 1 tetes pewarna kristal violet pada apusan bakteri, ditunggu 1 menit dan dibilas dengan aquades dengan object glass dalam posisi miring, kemudian dikeringkan dengan menggunakan lap untuk menekan sampingnya secara halus, dan dikipas hingga kering. Setelah kering, diteteskan lugol sebanyak 1 tetes dan didiamkan 1 menit, kemudian dibilas dan dikeringkan juga. Diteteskan dengan alkohol 95%

dan ditunggu selama 10-15 detik hingga warnanya tidak luntur lagi dan dibilas dengan aquades.

Kemudian dikeringkan dan ditetes dengan larutan safranin selama 10-15 detik dan dibilas serta keringkan kembali. Setelah itu diteteskan 1 tetes minyak imersi dan ditutup dengan cover glass. Kemudian amati dengan mikroskop dengan lensa objektif pembesaran 4x, 10x, 40x dan 100x.

Pengamatan Bentuk Khamir Awalnya, disterilkan object glass terlebih dahulu dengan alkohol 70% dan dilap dengan tisu.

Kemudian disterilkan ose dan

ditunggu hingga dingin. Kemudian ambil khamir yang ada di tabung reaksi sebanyak 1 ujung ose, dan diletakkan di tengah object glass, dan disebarkan dengan gerakan melingkar. Kemudian, ditutup dengan cover glass, dan diamati di

bawah mikroskop dengan

pembesaran 4x, 10x, 40x, dan 100x.

Pengamatan bentuk kapang

Awalnya dimasukkan kertas saring berbentuk lingkaran ke dalam cawan petri, kemudian disterilkan object glass dengan alkohol 70% dan di lap dengan tisu. Setelah itu, diteteskan PDA pada object glass dengan pipet tetes dan dibiarkan membeku. Kemudian, dipotong sebagian medium PDA yang telah membeku dan disisihkan ke bagian pinggir object glass dengan ose.

Diambil 1 ose oncom dan diletakkan pada bekas medium yang dipotong, kemudian dioles vaseline pada 4 sisi ujung cover glass dan ditutup di atas object glass. Lalu, disuntikkan aquades steril di atas kertas saring dalam cawan petri pada keempat sisi atas dan bawah. Kemudian dibungkus cawan petri dengan kertas dan diinkubasi pada suhu 25ºC

(5)

selama 1-2 hari. Kemudian diamati pada mikroskop dengan pembesaran 4x, 10x, 40x, dan 100x.

HASIL DAN PEMBAHASAN Bakteri

Bakteri merupakan golongan prokariotik (bersel tunggal) yang tidak mempunyai membran inti dan dapat hidup bebas, sebagai parasit, saprofit, dan patogen terhadap makhluk hidup lain. Perbedaan setiap bakteri pada umumnya dapat dilihat dari bentuknya, bakteri mempunyai 3 bentuk dasar, yaitu kokus, basil, dan spiral.

Kokus merupakan bentuk bakteri bulat yang menyerupai bola, ukuran tengahnya rata-rata 1μ dan dapat dibagi menjadi 5, monokokus (bola tunggal), diplokokus (bola bergandengan), sarkina (bola susun kubus), streptokokus (bola susun memanjang), dan stafilokokus (bola susun seperti anggur). Sedangkan basil merupakan bakteri yang mempunyai bentuk batang dan silindris, dengan ukuran 0,3-1 μ, panjang 1,5-4 atau terkadang sampai 8μ dan dapat dibagi menjadi basil tunggal, diplobasil (batang

bergandengan), dan streptobasil (batang susun memanjang). Serta spiral yang merupakan bentuk bakteri yang lengkung, memiliki ukuran 0,5-1 μ, panjang 2-5 dan terkadang sampai 10μ dan dapat dibagi menjadi spiral, vibrio (koma), dan spirochaeta.

Sebagai golongan dari sel prokariotik, bakteri memiliki dinding sel yang terdiri dari peptidoglikan, dimana peptidoglikan ini berperan untuk mempertahankan bentuk sel, melindungi dan menjaga sel agar tidak mudah pecah. Struktur dasar dari peptidoglikan adalah sebuah selubung yang menyelimuti sel yang tersusun dari utas-utas peptidoglikan yang berdampingan satu sama lain dan dihubungkan dengan ikatan silang tetrapeptida yang terbuat dari asam amino. Namun, berdasarkan struktur dinding selnya, bakteri dapat dibagi menjadi 2, yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.

Bakteri gram positif memiliki struktur dinding sel dengan kandungan peptidoglikan yang tebal sehingga lebih kaku sedangkan bakteri Gram negatif memiliki struktur dinding sel dengan

(6)

kandungan peptidoglikan yang tipis dan lipid yang tinggi (Lay, 1994).

Selain itu, bakteri gram negatif memiliki membran luar yang tersusun atas Lipopolisakarida (LPS) dan protein, sedangkan bakteri gram positif tidak memilikinya.

Untuk melihat bentuk bakteri dan membedakan antara bakteri gram positif dan gram negatif, dapat dilakukan dengan metode pewarnaan gram. . Prinsip dari pewarnaan gram adalah kemampuan dinding sel mengikat zat warna dasar (kristal violet) atau ungu setelah pencucian dengan alkohol 70%. Hal itu berhubungan dengan komponen penyusun dinding sel. Karena bakteri gram positif memiliki dinding sel berupa peptidoglikan yang tebal, maka saat pencucian dengan alkohol, pori-pori dinding sel menyempit karena terjadi dekolorisasi sehingga dinding sel tetap menahan kristal violet, maka akan berwarna ungu.

Sedangkan bakteri gram negatif terdiri dari 3 lapisan dinding sel, dimana lipid akan tercuci oleh alkohol dan tidak dapat mempertahankan warna kristal violet. Dan saat bakteri gram negatif

diwarnai dengan safranin, akan menjadi bewarna merah (Waluyo, 2008).

Metode pewarnaan gram terdiri dari 2 tahap, yaitu pembuatan film atau apusan bakteri dan pewarnaan gram. Pembuatan apusan bakteri adalah pembuatan lapisan suspensi di atas object glass, dan dikeringkan serta dilalukan beberapa kali di atas bunsen (Jutono dkk., 1980). Pada pembuatan apusan bakteri ini akan dilakukan fiksasi, yang merupakan cara atau teknik pemanasan yang dilakukan terhadap object glass dengan melalukannya di atas api bunsen selama beberapa kali.

Tujuan dari fiksasi ini adalah untuk membunuh bakteri secara cepat agar tidak menyebabkan perubahan bentuk dan struktur bakteri, dan melekatkan bakteri pada object glass.

Setelah pembuatan apusan bakteri, akan dilakukan pewarnaan

gram, agar mempermudah

pengamatan bentuk dan struktur dari bakteri dengan bantuan reagen. Pada proses pewarnaan gram ini harus dilakukan secara berurutan, yaitu dengan larutan kristal violet, larutan

(7)

garam yodium (lugol), alkohol 90%, dan safranin.

Reagen kristal violet yang merupakan pewarna primer (dasar) yang bersifat basa, sehingga dapat berikatan dengan sel mikroorganisme yang bersifat asam, maka mikroba yang transparan akan terlihat berwarna ungu. Sedangkan penambahan reagen lugol adalah untuk melekatkan warna utama (kristal violet) pada dinding sel bakteri sehingga pada saat pencucian menggunakan alkohol, warna pada bakteri tidak luntur.

Pada penetesan reagen kristal violet dan lugol harus ditunggu 1 menit, berbeda dengan alkohol 95%

dan larutan safranin yang hanya perlu 10-20 detik. Pada setiap pemberian reagen akan dibilas dengan aquades dan dikeringkan, hal itu untuk mengurangi atau mencegah kelebihan setiap zat warna yang diberikan. Alkohol 95% digunakan sebagai larutan pemucat yang membuat pori-pori dinding sel membesar dan meningkatkan daya larut kristal violet pada bakteri gram negatif. Sedangkan larutan safranin memiliki fungsi sebagai pembeda

atau pemberi warna merah pada mikroba yang telah kehilangan warna setelah dibasuh dengan alkohol. Namun, bakteri gram positif tidak akan menyerap warna merah karena dinding selnya telah terhidrasi akibat penetesan alkohol yang menyebabkan pori-porinya mengerut dan daya rembes menurun.

Setelah itu, object glass akan ditambahkan 1 tetes minyak imersi untuk memperjelas bayangan yang akan dilihat antara objek dengan lensa objektif. Kemudian, ditutup dengan cover glass dengan hati-hati agar tidak terbentuk gelembung, karena jika terdapat gelembung udara, maka gelembung tersebut dapat menghalangi pandangan ketika melakukan pengamatan dan

kemudian diamati dengan

mikroskop.

Berdasarkan hasil

pengamatan kelompok 1A dan 4A, bakteri hasil tpc dengan pembesaran 4x telah menunjukkan warna ungu sehingga dapat disimpulkan bakteri hasil tpc merupakan bakteri gram positif, pada pembesaran 10x, 40x, dan 100x menunjukkan bahwa bakteri hasil tpc memiliki bentuk

(8)

kokus yaitu berbentuk bulat.

Sedangkan hasil pengamatan kelompok 7A dan 10A pada bakteri asam laktat menunjukkan bahwa BAL merupakan bakteri gram positif dan memiliki bentuk kokus. Hal itu sesuai dengan pernyataan Ramesh (2015), dimana bakteri asam laktat (BAL) adalah sejenis bakteri gram positif yang tidak menghasilkan spora, berbentuk bulat atau batang dan memproduksi asam laktat sebagai produk akhir metabolik utama selama proses fermentasi.

Kapang

Kapang (mold) merupakan mikroorganisme yang memiliki membran inti, tidak berklorofil, memiliki hifa, dan dinding sel terdiri dari kitin atau selulosa, serta berkembang biak secara seksual dan aseksual. Kapang umumnya tersebar pada permukaan benda yang dapat disebabkan oleh hembusan udara lingkungan membuat spora tersebar diberbagai permukaan benda (Islamiati et al., 2017). Selain itu, kapang pada umumnya hidup secara aerob yang tumbuh pada kisaran suhu 25-30 °C dan pada kisaran pH 2,0-8,5 meskipun kapang lebih

menyukai kondisi asam (Winarno, 1994 dalam; Pitt & Hocking, 2009).

Kapang biasanya memiliki bentuk filamen atau miselium yang tersusun dari perkumpulan hifa. Hifa merupakan struktur menyerupai tabung tipis yang dapat terlihat di mikroskop. Panjang hifa tidak terbatas tetapi diameternya berkisar antara 3-30μm. Pada pengamatan ini, dapat dibedakan struktur hifa berdasarkan bersepta (bersekat) dan tidak bersepta. Hifa dapat berfungsi untuk menyerap nutrien dari lingkungan (hifa vegetatif) dan dapat membentuk struktur untuk reproduksi (hifa reproduktif atau aerial).

Unit reproduksi dari kapang adalah spora, yang dapat dikelompokkan menjadi seksual dan aseksual. Spora seksual dapat dibagi menjadi askospora, basidiospora, zigospora dan oospora, sedangkan spora aseksual dapat dibagi menjadi konidiaspora, sporangiospora, arthrospora, klamidospora, dan blastospora.

Pada praktikum kali ini, akan dilakukan pengamatan pada kapang yang terdapat pada oncom merah.

(9)

Bahan utama penyusun oncom merah adalah kapang Neurospora sitophila yang berperan sebagai pengubah rasa dan aroma.

Pengamatan dilakukan dengan teknik moist chamber, dimana prinsip dari teknik moist chamber adalah dengan menggunakan cawan petri steril yang sudah dialasi kertas saring pada dasar cawan petri dan terdapat kaca objek dan kaca penutup. Teknik moist chamber ini memiliki kelebihan yang dapat menunjang habitat hidup kapang dan memberi lingkungan yang steril.

Pada tahap awal disterilkan object glass dengan alkohol agar dapat membunuh kontaminan. Pada praktikum ini, digunakan Potato Dextrose Agar karena merupakan medium yang digunakan untuk mengembangbiakkan kapang.

Kemudian dilakukan pemotongan medium yang sudah dibekukan untuk menumbuhkan kapang. Sedangkan vaseline pada metode ini, digunakan untuk menciptakan suasana yang aerob, sehingga dapat membantu pertumbuhan dari kapang. Selain itu, juga disuntikkan aquades pada kertas saring dalam cawan petri untuk

menciptakan suasana yang lembab dan memberi kebutuhan nutrisi air pada kapang. Pada akhirnya akan dilakukan inkubasi dengan suhu 25ºC selama 1-2 hari untuk membantu pertumbuhan kapang.

Kemudian diamati strukturnya pada mikroskop dengan pembesaran 4x, 10x, 40x dan 100x.

Berdasarkan hasil

pengamatan kelompok 2A dan 5A terhadap Neurospora sitophila pada pembesaran 40x menunjukkan bahwa terdapat struktur hifa bersepta (sekat) dan merupakan jenis spora seksual ascomycota. Sedangkan berdasarkan hasil pengamatan kelompok 8A dan 11A terhadap Rhizopus oligosporus pada pembesaran 40x sudah terlihat bahwa Rhizopus oligosporus memiliki struktur hifa tidak bersekat dan berspora zygomycota. Hal itu sesuai dengan pernyataan Santoso (2013), Sporangifor Rhizopus sp.

berpisah dari hifa dengan hifa yang lainnya oleh sebuah dinding seperti septa.

Khamir

Khamir (yeast) merupakan mikroorganisme eukariot yang

(10)

diklasifikasikan dalam kingdom Fungi yang memiliki sel tunggal (uniseluler) dan memiliki ukuran yang berbeda-beda yaitu dengan panjang 5 – 20 μm dan lebar 1 – 10 μm. Terdapat berbagai macam bentuk dari khamir, yaitu kokus (bulat), oval, silinder atau batang, segitiga melengkung, berbentuk botol, bentuk apikulat atau lemon, membentuk pseudomiselium (memanjang dan saling berhubungan membentuk rantai) dan sebagainya (Fardiaz, 1992). Khamir dapat menghasilkan pigmen berwarna hitam, merah muda, merah, jingga, dan kuning (Kavanagh, 2005).

Khamir akan memiliki ukuran dan bentuk yang berbeda-beda, meskipun terdapat pada kultur yang sama, hal itu dikarenakan pengaruh umur sel dan kondisi lingkungan selama pertumbuhan. Selain itu, sel muda juga berkemungkinan memiliki bentuk yang berbeda dengan yang tua karena adanya proses otogeni, yaitu perkembangan individu sel.

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan khamir, baik di dalam medium maupun di luar, antara lain, nutrisi (unsur C, N,

P, mineral-mineral, vitamin-vitamin), keasaman (pH), suhu, kelembaban, dan udara.

Berdasarkan jenis

perkembangbiakannya, khamir dapat dibagi menjadi tiga golongan besar, antara lain, Ascomycetous (reproduksi seksual yang membentuk ascopore), Basidiomycetous (membentuk basidiospore) dan khamir imperfect (tidak melakukan perkembangbiakan seksual). Salah satu spesies khamir yang tergolong sebagai Ascomycetous adalah Saccharomyces cerevisiae. Dimana merupakan golongan khamir yang dapat memanfaatkan senyawa gula yang dihasilkkan oleh mikroba selulotik untuk pertumbuhannya dan umumnya memiliki panjang 1-5 μm sampai 20-50 μm, dan lebar 1-10 μm. Saccharomyces cerevisiae dapat mengubah glukosa menjadi alkohol dan karbon dioksida sehingga banyak digunakan dalam industri pembuatan bir, roti ataupun anggur.

Berbeda dengan bakteri yang menggunakan teknik pewarnaan gram untuk mengamati bentuknya.

Pada pengamatan bentuk khamir, akan digunakan teknik preparat

(11)

basah. Prinsip dari preparat basah adalah preparat hanya akan digunakan untuk satu kali pengamatan, dan dibuat secara langsung, tanpa diawetkan dan tanpa perlu dilakukan fiksasi. Pada pembuatan preparat basah, object glass tidak perlu diteteskan aquades terlebih dahulu, karena pada medium cair telah terdapat air, sehingga saat diambil dengan ose, airnya sudah akan terbawa. Namun, sebelum itu, object glass harus dibersihkan dengan alkohol 70% terlebih dahulu, agar tetap steril dan bebas dari kontaminasi. Setelah itu, preparat basah akan diamati dengan menggunakan mikroskop, dengan pembesaran 4x, 10x, 40x, dan 100x.

Berdasarkan hasil

pengamatan kelompok 3A, 6A, 9A, dan 12A, terhadap khamir Saccharomyces cerevisiae, pada pembesaran 10x sudah terlihat

bahwa khamir spesies

Saccharomyces cerevisiae memiliki bentuk oval (bulat telur) dan memiliki warna biru karena larutan methylene blue. Dimana sel khamir hidup akan berwarna transparan karena methylene blue tidak dapat

menembus membran sel, sedangkan pada praktikum ini sel khamir berwarna biru karena methylene blue yang menembus membran sel mati.

Hal itu sesuai dengan pernyataan Boyd et al. (2003), bahwa sel hidup mampu mereduksi pewarna, sehingga hanya sel mati yang berwarna biru.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil

pengamatan, dapat diketahui bahwa bakteri asam laktat (BAL) dan bakteri hasil TPC merupakan bakteri berbentuk kokus (bulat) dan termasuk sebagai jenis bakteri gram positif. Khamir Saccharomyces cerevisiae memiliki bentuk oval (bulat telur) dan berwarna transparan jika sel hidup, sedangkan sel mati berwarna biru. Kapang Neurospora sitophila memiliki struktur hifa bersepta dan memiliki jenis spora seksual ascomycota, sedangkan Rhizopus oligosporus memiliki struktur hifa tidak bersekat dan berspora zygomycota.

DAFTAR PUSTAKA

A. L. Putri., E. Kusdiyantini.

(2018). Isolasi dan identifikasi bakteri asam laktat dari pangan

(12)

fermentasi berbasis ikan (Inasua) yang diperjualbelikan di Maluku-Indonesia. Jurnal Biologi Tropika. 1(2), 6-12.

https://doi.org/10.14710/jbt.1.2.6 -12

Boyd AR, Gunasekera TS, Attfield PV, Simic K, Vincent SF, Veal DA. (2003). A flow-cytometric method for determination of yeast viability and cell number in a brewery. FEMS Yeast Res (3), 11-16.

Fardiaz, S. (1992). Mikrobiologi Pangan PAU Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor : Bogor.

Islamiati, I., & Rahmawati, M. T.

(2017). Jenis-Jenis Kapang Udara Ruang Baca Di UPT Perpustakaan Universitas Tanjungpura, Pontianak.

Protobiont, 6(3).

DOI:http://dx.doi.org/10.264 18/protobiont.v6i3.22475 Jawetz, E., J, Melnick dan Adelberg.

(2004). Mikrobiologi Kedokteran Edisi 23. EGC : Jakarta.

Jutono, J. Soedarsono, S. Hartadi, S.

Kabirun S., Suhadi D. (1980).

Pedoman Praktikum

Mikrobiologi Umum,

Departemen Mikrobiologi.

Fakultas Pertanian UGM : Yogyakarta.

Kavanagh, K. & Sullivan, D., (2004), , dalam Denyer, S. T., Hodges, N. A., & Gorman, S. P., Hugo and Russell’s. Pharmaceutical Microbiology, Seventh Edition.

Blackwell Publishing Company : UK.

Lay, W. B. (1994). Analisis Mikroba di Laboratorium. PT Raja Grafindo Persada : Jakarta.

Pitt, I. J. & Hocking, A. D. (2009).

Fungi and Food Spoilage. 3rd Ed. Springer, New York: 519 Ramesh C, Ray DM. (2015). Food

Biology Series. 108–109. CRC Press : Florida.

Santoso, A. A. G., Uno, W.D., Rahman, S. R. (2013).

Identifikasi Jamur

Makroskopis di Cagar Alam Tengale Kecamatan Tibawa Kabupaten Gorontalo.

Gorontalo: Jurusan Biologi Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Waluyo, L. (2008). Teknik Metode

(13)

Dasar Dalam Mikrobiologi. UMM Press, 222-258.

LAMPIRAN

Gambar Perlakuan Hasil Pengamatan Perbesaran

4x

Kelompok 9

Khamir saccharomyces cerevisiae belum terlihat jelas

Perbesaran 10x

Kelompok 9

Sudah mulai terlihat khamir

saccharomyces cerevisiae berbentuk bulat.

Warna biru berasal dari methylene blue.

(14)

Perbesaran 40x

Kelompok 9

Terlihat jelas bentuk bulat dari khamir saccharomyces cerevisiae.

Perbesaran 100x

Kelompok 9

Terlihat khamir saccharomyces cerevisiae berbentuk bulat.

Referensi

Dokumen terkait