UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta
LEMBAR KERJA
LK 3.2 Kajian Teori (MK Penelitian Kuantitatif) Nama : Rela Amallya
NIM : K6420066
Kelas : C
Kelompok : 1
Judul Penelitian Konsep Variabel (X,Y)
Kajian Teori Daftar Pustaka
Pengaruh Pendekatan Pembelajaran Konstruktivisme
Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas
X Pada Mata Pelajaran Pendidikan
Pancasila
1. Pengaruh 2. Pendekatan 3.Pembelajaran 4. Terhadap 5. Hasil belajar 6. Siswa 7. Pkn
Variabel X Pengaruh pendekatan pembelajaran konstruktivisme
Variabel Y Terhadap hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila
Teori : Belajar Kontruktivisme Menurut Richardson dalam Asandhimitra (2004) mengemukakan bahwa konstruktivisme adalah teori yang memandang belajar sebagai proses pemberian makna. Dalam teori ini menyatakan bahwa individu menciptakan sendiri pemahaman barunya berdasarkan interaksi antara pengetahuan dan keercayaan yang telah diyakininya dengan fenomena atau ide-ide yang diperoleh dari pengalaman [1].
[1] Asandhimitra, Pendidikan Tinggi Jarak Jauh, Edisi Satu. Jakarta: Pusat Penelitain Universitas Terbuka, 2004.
[2] W. Suryati, “PENGARUH PENDEKATAN
PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME
TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI SMP
Menurut Burner (1960), pendekatan konstruktivisme merupakan suatu proses dimana siswa membina ide baru atau konsep berdasarkan kepada pengetahuan asal mereka.
Siswa memilih dan
menginterpretasikan pengetahuan baru, membina hipotesis dan
membuat keputusan yang
melibatkan pemikiran mental (struktur kognitif) memberikan
makna dan pembentukan
pengalaman. Pembinaan
pengalaman demi pengalaman inilah yang menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis [2].
Selanjutnya, menurut Carin teori konstruktivistik adalah suatu teori belajar yang menekankan para siswa sebagai pebelajar tidak menerima begitu saja pengetahuan yang mereka dapatkan, tetapi mereka
secara aktif membangun
pengetahuan secara individual. Teori konstruktivisme juga mempunyai pemahaman tentang belajar yang lebih menekankan pada proses daripada hasil. Hasil belajar sebagai tujuan dinilai penting, tetapi proses
NURUL IMAN PALEMBANG,” 2017.
[3] T. Herliani., Boleng, D, T., &
Maasawet, E, “Teori belajar dan pembelajaran,” Jawa Tengah: Penerbit Lakeisha, 2021. [Online]. Available:
http://repository.uin- malang.ac.id/6124/
[4] Yuberti, “Teori pembelajaran dan
pengembangan bahan ajar dalam pendidikan,”
Anugrah Utama Raharja, Bandar Lampung, 2014.
[5] F. Runiat, A., & Apriani,
“MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME PADA PEMBELAJARAN IPS DI SD PADA KONSEP SUMBER DAYA ALAM,” Pap. Knowl. . Towar. a Media Hist. Doc., vol. 01, no. 02, pp. 11–17, 2020.
yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga dinilai penting.
Dalam proses belajar, hasil belajar, cara belajar, dan strategi belajar akan mempengaruhi perkembangan tata pikir dan skema berpikir seseorang [3].
Menutur pandangan konstruktvistik, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan.
Pembentukan ini harus dilakukan oleh siswa. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal –hal yang sedang dipelajari, tetapi yang paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa itu sendiri. Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri dan di tuntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar [4].
Menurut Von Glaserfeld dalam Yuberti (2014) mengemukakan bahwa ada beberapa pengetahuan yang diperlukan dalam proses
mengkonstruksi pengetahuan, yaitu 1) Kemampuan mengingat dan
mengungkapkan kembali
pengalaman, 2) Kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan mengenai persamaan dan perbedaan tentang sesuatu hal, dan 3) Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada yang lain (selective unscience).
Adapun faktor-faktor yang membatasi proses konstruksi pengetahuan diantaranya hasil konstruksi yang telah dimiliki seseorang, domain pengalaman seseorang, dan Jaringan struktur kognitif seseorang [4].
Kelebihan pendekatan
kosntruktivisme adalah, siswa dapat membangun pengetahuan dalam pikirannya sendiri melalui proses asimilasi dan akomodasi, sedangkan kekurangan pendekatan ini adalah dalam membangun pengetahuan didalam pikirannya sendiri, siswa memerlukan waktu banyak [5]
SS Mendeley
ss-1 ss-2
*) upload .pdf pastikan file terbaca sesuai wordnya.