Judul Skripsi : Gerakan Sosial Masyarakat Peduli Lingkungan Ruang Terbuka Hijau di Kelurahan Bongaya Kecamatan Tamalate Kota Makassar. ROSMIANTI.2016 “Gerakan sosial masyarakat peduli terhadap lingkungan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kecamatan Bongaya Kecamatan Tamalate Kota Makassar”. Tesis.
PENUTUP
PENDAHULUAN
- LatarBelakang
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Manfaat Penelitian
Bagaimana gerakan sosial yang dilakukan masyarakat dalam pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH) di Kelurahan BongayaRW. Untuk mengetahui bagaimana gerakan sosial yang dilakukan dalam sistem pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kelurahan BongayaRW.
Tinjauan Pustaka dan Kerangka Fikir
TinjauanPusataka
- Ruang Terbuka
- Pengertian ruang terbuka hijau
- Manfaat RTH
- Elemen Pengisi RTH
- Teknis Perencanaan RTH
- Pendekatan Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Fungsinya
- Upaya Peningkatan Kualitas dan Kuantitas RTH
Haryadi (1993) membagi sistem budidaya di kawasan terbuka hijau menjadi dua sistem, yaitu sistem monokultur dan sistem keanekaragaman hayati. Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum menyatakan luas ruang terbuka hijau yang dibutuhkan satu orang adalah 1,8 m2. Lain halnya jika ruang terbuka hijau ingin dimanfaatkan secara fungsional, maka luasnya harus dihitung secara proporsional.
Tumbuhan pada ruang terbuka hijau yang dimaksudkan untuk mencegah masuknya air laut adalah jenis tumbuhan yang mempunyai kemampuan menyerap, menyimpan dan menyuplai air. Merencanakan, melaksanakan dan memantau penyelenggaraan ruang terbuka hijau di kota sesuai dengan dan tercantum dalam Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) masing-masing kota; Melaksanakan pengelolaan dan pengendalian fungsi dan peranan Ruang Terbuka Hijau dengan melarang penggunaan dan peruntukannya untuk ruang lain;
Teori-Teori Sosial Dalam Sosiologi 1. Teori Fungsional Struktural
Porsi ruang terbuka hijau di perkotaan minimal 30%, terdiri atas 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% berupa ruang terbuka hijau privat. Dr. Soetomo (1995) mengatakan jika ditelusuri dari paradigma terapan, teori ini dikembangkan dari paradigma fakta sosial. Secara umum fakta sosial yang menjadi fokus perhatian sosiologi ada dua macam, yaitu struktur sosial dan pranata sosial. Menurut teori fungsional struktural, struktur sosial dan pranata sosial ada dalam suatu sistem sosial yang terdiri dari bagian-bagian atau unsur-unsur yang saling berhubungan dan bersatu secara seimbang.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa teori ini menekankan pada keteraturan dan mengabaikan konflik dan perubahan dalam masyarakat. Dalam proses selanjutnya, teori ini kemudian berkembang sesuai dengan perkembangan pemikiran para pengikutnya. Misalnya, seorang anak membantu seorang nenek yang sudah lanjut usia menyeberang jalan, sehingga apa yang terjadi tergambar dengan jujur dan tanpa manipulasi apa pun.
Kerangka konsep
Bagan kerangka konsep
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan atau menjelaskan peristiwa atau peristiwa yang terjadi pada saat penelitian tanpa memperhatikan sebelum dan sesudahnya. Data yang diperoleh kemudian diolah, diinterpretasikan dan disimpulkan. Dasar penelitian ini adalah survei yaitu tujuan penelitian deskriptif ini adalah untuk menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat situasi atau peristiwa mengenai gerakan sosial masyarakat peduli lingkungan hijau. ruang terbuka (RTH) di Kelurahan Bongaya, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.
Objek penelitian
Data yang diperoleh kemudian diolah, diinterpretasikan dan disimpulkan, dasar penelitian ini adalah survei, yaitu tujuan penelitian deskriptif ini adalah untuk menggambarkan secara sistematis, realistis dan akurat situasi atau peristiwa yang berkaitan dengan gerakan sosial masyarakat peduli lingkungan. atau ruang terbuka hijau (RTH) di Kecamatan Bongaya, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar. a) Data primer merupakan data yang diperoleh peneliti dari hasil wawancara, dokumentasi dan observasi atau observasi langsung terhadap subjek yang diteliti. Data primer dalam penelitian ini adalah seluruh peneliti.
Instrumen penelitian
Tehnik pengumpulan data
Teknik analisis data
Keabsahan data
Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data.Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara pada pagi hari ketika sumbernya masih segar dan tidak banyak kendala akan menghasilkan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel.
Deskriptif Wilayah Penelitian
Gang taman RW 6 yang selama ini kotor dan kumuh bisa menjadi gang yang bersih dan tertata Masyarakat sehat dan sejahtera.Tujuan dari semua itu adalah agar gang tersebut layak huni dan layak huni bagi masyarakat yang cerdas. Mereka menanamnya di botol bekas air mineral dan minuman lainnya, liter dan ember bekas. Kalau tanamannya sayur-sayuran, kalau kita butuh sayur-sayuran, petik saja di pot-pot komunal yang ada di sekitar gang kebun RW 6, yang beberapa bulan terakhir ini memanfaatkan sampah bekas sebagai tempat menanam. . Dulu, masyarakat yang berada di gang taman RW 6 tidak peduli dengan kebersihan lingkungannya, mereka membuang sampah sembarangan. Namun kini masyarakat di sekitar gang taman RW 6 malu jika tidak membuang sampahnya ke tempat sampah. Masyarakat beranggapan lebih baik menyimpannya di dalam kantong dan membuangnya setelah menemukan kantong sampah.
Mata terpesona melihat gang taman di Kelurahan Bongaya RW 6 yang asri, hijau, berkilau dan terawat. Masyarakat di Gang Taman RW 6 Kelurahan Bongaya peduli terhadap kebersihan, kesehatan, dan kesejahteraan. Dinding koridor dilukis dengan pemandangan pepohonan rindang seperti terlihat pada koridor taman RW 6 Kelurahan Bongaya Kecamatan Tamalate.
Kondisi Lorong Garden Yang Ada di Kelurahan Bongaya RW 6
Dengan hadirnya ruang terbuka hijau di kawasan koridor taman RW 6 Kelurahan Tamalate Kota Makassar dapat meningkatkan kualitas lingkungan hunian di kawasan koridor tersebut. Pengembangan ruang terbuka hijau di Gang Taman, Kecamatan Bongaya, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar jelas diupayakan untuk membuka peluang terciptanya ruang hijau alami. Ruang terbuka hijau secara inheren menjaga ketersediaan oksigen yang baik di kawasan Taman Lorog, meningkatkan kualitas dan jasa lingkungan lainnya terkait sumber daya yang ada di Kelurahan Bongaya, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.
Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kota ini membangun kawasan terbuka hijau yang lebih memberikan ketenangan dan ruang khusus bagi anak-anak kecil maupun besar untuk menggairahkan mereka. Dengan keseimbangan, Gang Taman RW 6 Kelurahan Tamalate Kota Makassar akan menjaga kondisi iklim mikro, kondisi perairan, dan udara segar. Pada Rencana Tata Ruang Koridor Taman, RW 6 Kelurahan Tamalate Kota Makassar diikutsertakan dalam lomba mewakili Sulawesi Selatan dan meraih juara I. Dengan demikian, Kelurahan Bongaya RW 6 Kelurahan Tamalate Makassar Kecamatan Kota merupakan sebuah jalan yang sangat mencintai kebersihan lingkungannya, Ketersediaan lahan yang diperuntukkan untuk ruang terbuka hijau (RTH) semakin terbatas, kemungkinan penyediaan ruang terbuka hijau di koridor semakin sedikit.
Fungsi Ruang Terbuka Hijau
Aktivitas manusia yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan hijau mengakibatkan terjadinya perubahan lingkungan yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas lingkungan hidup di Kelurahan Bongaya Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Kesadaran menjaga kelestarian lingkungan hijau pasti akan lebih baik jika setiap orang mengetahui fungsi ruang terbuka hijau (RTH) bagi dirinya. Fungsi ruang terbuka hijau adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dan lingkungan hidup dengan tujuan untuk memaksimalkan tingkat kesejahteraan warga di Kelurahan Bongaya, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar dengan menciptakan lingkungan yang lebih baik dan sehat.
Untuk menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem ekologi di gang taman RW 6 Kelurahan Bongaya Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Untuk menciptakan keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan di Kelurahan Bongaya Kecamatan Tamalate Kota Maxsar. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup di Kelurahan Bongaya Kecamatan Tamalate Kota Maxsar khususnya pada gang taman RW 6 agar gang menjadi sehat, asri, bersih, aman dan nyaman.
Gerakan Sosial yang Dilakukan Dalam Sistem Pengelolan Ruang Tebuka Hijau
- Elemen pengingisi ruang terbuka hijau (RTH)
- Pendekatan kebutuhan berdasarkan fungsinya
Pelestarian ruang terbuka hijau di Kularaha Bongaya RW 6 harus dibarengi dengan ketersediaan dan koleksi tanaman sesuai dengan arah rencana dan desain. Untuk keberhasilan desain penanaman dan kelestariannya, sifat dan karakteristik serta kriteria arsitektur dan hortikultura tanaman dan vegetasi penyusun RTH harus diperhatikan dalam memilih jenis yang akan ditanam. Pendekatan ini didasarkan pada satu atau lebih manfaat yang dapat diperoleh pengguna.
Secara umum manfaat yang diinginkan berupa diperolehnya kondisi atau suasana yang konstruktif bagi kesehatan jasmani dan rohani seseorang.
Upaya masyarakat RW6 dalam peningkatan kualitas dan kuantitas RTH
Luas minimum Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang digunakan dan dibutuhkan pada kawasan sekitar Kecamatan Bongaya ditentukan secara komposisi yaitu daya tampung dan daya dukung alam kawasan, kebutuhan hidup (kenyamanan dan kesehatan). Lokasi lahan di Kelurahan Bongaya RW 6 Kelurahan Tamalate Kota Makassar berpotensi dan tersedia untuk menciptakan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Struktur dan pola ruang terbuka hijau (RTH) di Kelurahan Bongaya, Kecamatan Tamalate, Kota Maxsar harus dikembangkan.
Pengelolaan ruang terbuka hijau yang dilaksanakan di Kelurahan Bongaya RW 6 Kecamatan Tamalate Kota Makassar dapat dilakukan secara perseorangan atau melibatkan masyarakat di sekitar koridor RW 6. Bentuk partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dan kebijakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dilaksanakan oleh pengelola kecamatan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH) di kecamatan Bongaya, kecamatan Tamalate kota Makssar. Partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH) tidak lagi hanya menjadi kendali camat saja, namun seluruh masyarakat di Kelurahan Bongaya RW 6 Kelurahan Tamalate Kota Makassar turut berperan aktif dalam pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH). pengelolaan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau (RTH) di Kelurahan Bongaya, Kecamatan Tamalate, Kota Maksaar.
Peran Masyarakat Dalam Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau di Kelurahan Bongaya RW 06
Untuk peningkatan ruang terbuka hijau (RTP) yang ada, diperlukan bimbingan, nasehat, informasi dan pembekalan. Penataan Kawasan Terbuka Hijau (RPZ) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari undang-undang tata ruang daerah, dan ruang lingkupnya juga mencakup perencanaan pemanfaatan Kawasan Terbuka Hijau (RPZ). Sarana Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kelurahan Bongaya mencakup seluruh ruang terbuka hijau yang ada di Gang Taman RW 6.
Warga Kelurahan Bongaya RW 6 berhak menciptakan ruang terbuka hijau (RTH), salah satunya: mendapatkan informasi dan akses. Peran masyarakat dalam penyediaan ruang terbuka hijau (GSL) merupakan upaya untuk melibatkan masyarakat atau individu dalam tahap perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian. Peran masyarakat dalam menyediakan ruang terbuka hijau publik antara lain menyediakan lahan untuk pembangunan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau (GSO).
Peran Masyarakat Pada ruang Terbuka Hijau (RTH) Privat Peran masyarakat pada RTH privat meliputi
Masyarakat dapat berperan secara individu maupun kelompok dalam penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau (GWS). Anggota masyarakat, baik perorangan maupun kelompok, yang mempunyai keahlian di bidang penataan ruang dan ruang terbuka hijau di Kecamatan Bongaya, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar dapat membentuk komunitas Ruang Terbuka Hijau (RTH). Mengembangkan dan mempererat kerjasama dalam proses mediasi antar masyarakat dalam pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kecamatan Bongaya Kecamatan Tamalate Kota Makassar.
Meningkatkan kapasitas masyarakat di Gang Taman RW 6 Kelurahan Tamalate Kota Makassar dalam mengelola permasalahan...konflik yang timbul terkait dengan pengembangan ruang terbuka hijau. Bentuk Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau di Kecamatan Bongaya Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Dalam hal ini, masyarakat tidak hanya menjadi pihak yang memperoleh manfaat dari pengembangan ruang terbuka hijau, namun juga pihak yang berkontribusi terhadap pengembangan ruang di Kelurahan Bongaya, Kelurahan Tamalate, Kota Makassar, khususnya di RW 6. gang taman.
Simpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
DOKUMENTASI
Apakah peningkatan partisipasi masyarakat dapat menyelesaikan permasalahan pengelolaan ruang terbuka hijau di Kecamatan Bongaya? Pada tahun yang sama, penulis melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 2 Bontomatene dan lulus pada tahun 2009. Kemudian pada tahun 2016, penulis berhasil lulus dari Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Keguruan Universitas Muhammadiyah Makassar Program Sarjana. studi pada tahun 2016 dengan gelar sarjana pendidikan.