• Tidak ada hasil yang ditemukan

LITERATUR KEISLAMAN GENERASI MILENIAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "LITERATUR KEISLAMAN GENERASI MILENIAL"

Copied!
321
0
0

Teks penuh

Akhir kata saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi Hasan adalah guru besar Islam dan politik dan saat ini menjabat Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Moch Nur Ichwan adalah dosen tetap dan koordinator Program Doktor Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Penutup

Mereka tergabung dalam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang melakukan aksi di Institut Pertanian Bogor (IPB), salah satu kampus terkemuka di Indonesia. HTI yang dikenal sebagai salah satu gerakan Islam yang diminati mahasiswa juga menghidupkan kembali aktivisme Islam di banyak kampus lain. Misalnya Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin yang sejak tahun 1980-an dikenal sebagai lahan subur penyebaran pengaruh gerakan Tarbiyah yang aktif mengusung ideologi tersebut. dari Ikhwanul Muslimin.

PENDAHULUAN Menuju Islamisme Populer

Penelitian khusus memetakan literatur Islam yang disebarluaskan di kalangan pelajar telah dilakukan oleh Hilman Latief (2010). Terlepas dari empat kategori dan gaya yang disebutkan di atas, buku ini berupaya memahami kehadiran sastra Islam gaya baru yang berkembang di kalangan generasi milenial; Buku ini kemudian mengkaji pola distribusi dan transmisi sastra Islam di kalangan generasi milenial.

MENU BACAAN

Pelajar yang sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SLTA) atau pelajar yang bersekolah di Sekolah Menengah Atas (PT) diperkirakan lahir antara tahun 1995 hingga tahun 2002. Di tengah menajamnya identitas keagamaan dan wacana keagamaan di Indonesia, generasi muda di berbagai tahapan - Pendidikan Agama Islam (PAI) masih banyak ditemui masyarakat di sekolah dan kampus. Oleh karena itu menarik untuk mengamati gaya sastra PAI yang digunakan di sekolah dan universitas.

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA DAN PERGURUAN TINGGI

Perguruan Tinggi

Beberapa bab dalam buku ini tidak ada dalam buku ADPISI (dijelaskan di bawah tentang buku ini), seperti pembahasan tentang bagaimana agama menjamin kebahagiaan (bab 3), bagaimana mendirikan Islam Indonesia (bab 6), bagaimana Islam menghadapi tantangan. modernisasi (bab 8), dan bagaimana Islam berkontribusi terhadap perkembangan peradaban dunia (bab 9). Subbab 'Demokrasi dalam Islam' dalam buku yang disusun Tim Dosen PAI UNP (2014) hanya sekitar dua halaman, artinya cukup pendek. Salah satu bab pada angkatan BSE Kemendikbud (2015).

PRODUKSI WACANA ISLAM(IS) DI INDONESIA

Aktivitas produksi wacana Islam memasuki era baru pasca tumbangnya rezim otoriter Orde Baru (Orba) pada tahun 1998. Indonesia memasuki era baru yang sering disebut Era Reformasi yang ditandai dengan proses demokratisasi dan perluasan kebebasan berpendapat. dan organisasi. Pada era ini bermunculan gerakan dan kelompok Islam, beberapa di antaranya adalah gerakan bawah tanah pada masa pemerintahan Orde Baru yang aktif mengikuti kontestasi dan diskusi mengenai kedudukan Islam dalam masyarakat dan negara (Hilmy, 2010).

Kelompok Islam ini ikut menghidupkan kembali kontestasi wacana keagamaan di ruang publik dan memunculkan aktor-aktor baru yang berlomba-lomba merebut opini publik. Jika pada masa Orde Baru pemerintah secara ketat mengontrol aktivitas keagamaan Islam dan wacana yang beredar di masyarakat, maka pada era reformasi wacana keagamaan tumbuh subur di setiap sudut ruang publik tanpa campur tangan negara.

Revitalisasi Islam Publik dan Politik Muslim

Perhatian terhadap generasi muda dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa masa muda adalah masa pencarian jati diri. Kaum muda seringkali dianggap sebagai pihak yang paling rentan terhadap 'kepanikan moral'. Oleh karena itu, mereka aktif mencari referensi dan solusi, termasuk mengonsumsi literatur agama Islam yang menawarkan berbagai solusi permasalahan moral. Generasi muda yang menjadi sasaran penelitian ini adalah mereka yang duduk di bangku sekolah menengah (SMA atau sederajat) dan perguruan tinggi (PT).

Kajian ini menemukan bahwa generasi muda masa kini biasanya belum merasa puas hanya dengan mengonsumsi literatur agama Islam dalam pembelajaran yang berlangsung dalam kerangka kurikulum nasional. Gerakan Islam muda ini mengungkapkan ketidakpuasan terhadap negara yang pada masa Orde Baru meminggirkan Islam dalam struktur negara. Literatur jihad dilaporkan beredar dan dikonsumsi oleh generasi muda di Surakarta (Solo) dan Bogor (Hasan, 2017; Ulinnuha, 2017).

Tarbiyah Jihadiyyah karya Abdullah Azzam merupakan salah satu literatur jihadis yang paling populer di kalangan anak muda. Buku ini membungkus ideologi Tahriri dalam gaya bahasa, ilustrasi dan idiom yang ditujukan kepada generasi muda Muslim perkotaan. Sastra Tarbawi yang paling mudah diakses di kalangan generasi muda adalah sastra yang menerjemahkan ideologi Tarbawi ke dalam gaya bahasa populer.

Pendapat di atas dimaksudkan untuk menyanggah para pengikut Imam Syafi’i di Indonesia yang biasa mengutarakan niat salatnya (Sunarwoto, 2017). Citra kota sebagai kawasan 'sekuler' berubah seiring dengan bangkitnya aktivisme berbasis masjid oleh generasi muda. Popularitas sastra Islam di kalangan pemuda perkotaan dapat dijelaskan sebagai keberhasilan para aktor Islam dalam menyebarkan simbol dan ajaran Islamisme.

SIRKULASI DAN TRANSMISI LITERATUR KEISLAMAN

Gerakan Tarbiyah yang berkembang pada tahun 1990-an kemudian menjadi Partai Keadilan – kemudian Partai Keadilan Sejahtera – dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Sejumlah gerakan Islam nasional kemudian bermunculan, seperti Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI), dan gerakan lokal seperti Forum Pemuda Islam Surakarta (FPIS).

Ketersediaan, Aksesabilitas, dan Ketersebaran

Jenis ini terbagi menjadi dua: 1) toko buku lintas Islam yang menyediakan buku-buku Islam dari beberapa aliran (baik itu Salafi, Tarbawi, Tahriri atau Islamisme lainnya; Usaha Jaya juga menyediakan buku-buku Islam umum, dan juga literatur khusus counter Salafi, yang diterbitkan oleh Pustaka Imam Syafi'i Jakarta Yang menarik adalah Ramedia yang meski dimiliki oleh umat Kristiani, namun memiliki pilihan buku Islam terlengkap dibandingkan toko buku lain di kawasan tersebut.

Rabiah, tak jauh dari UPI, di samping Pondok Pesantren Darut Tauhid, khusus menjual buku-buku Salafi. Toko buku ini khusus menawarkan buku-buku HTI karya Syekh Taqiyuddin al-Nabhani dan tokoh Tahriri lainnya. Terdapat juga toko buku Islam di beberapa kota yang menjual bahkan mencetak buku-buku karya ulama lokal.

Namun survei ini menunjukkan bahwa pelajar dan mahasiswa tidak terlalu sering menggunakan toko buku online untuk membeli buku-buku Islam, meskipun sebagian besar dari mereka sudah mengenalnya. Pertama, toko buku online umum seperti Gramedia dan Togamas yang menjual literatur Islam di antara buku-buku umum yang mereka jual. Hal ini terlihat dari buku-buku yang diterbitkan atau diresensi serta banyaknya undangan.

Diskusi dan resensi buku merupakan media penting bagi pelajar dan mahasiswa untuk mempelajari dan mengetahui isi buku yang dipelajari.

PERKEMBANGAN LITERATUR ISLAMISME POPULER DI INDONESIA

Arah awal sastra Islam di Indonesia didominasi oleh terjemahan karya-karya para ideolog Islam ke dalam bahasa Indonesia. Buku-buku terjemahan ini banyak beredar, dibaca dan didiskusikan di kalangan aktivis muslim di kampus-kampus non-agama seperti ITB, UGM, UI dan IPB. Di antara kitab-kitab yang populer di kalangan muda Islam pada tahun 1980-an adalah Kitab Ma'alim fi ath-Thariq-Pedoman Yang Mengguncang Iman karya Sayyid Qutb, Hasan Al-Banna Majmu'ah Rasail-Risalah Gerakan Ikhwanul Muslimin, dan kitab Ali Shariati. Kewajiban Ulama Muslim, Agama Islam Protes dan Kemuliaan Syahid (Watson, 2005).

Kajian sastra Islam di Indonesia menunjukkan adanya pergeseran dari kajian sastra klasik (Bruinessen, 1990; Azra, 2004) ke kajian modern, antara lain jurnal seperti Sabili, Jihadmagz, Annida dan.

Apropriasi, Adaptasi, dan Genre

Karya-karya para penulis baru ini mampu memadukan ide-ide Islamis dengan budaya pop anak muda. Tokoh Al-Fatih menjadi pintu masuk Felix Siauw dalam menghadirkan tipe pemuda muslim idaman dan menyebarkan ide-ide Tahriri kepada generasi muda. Dalam buku ini, Felix membangun gambaran ideal Al-Fatih sebagai pemuda yang bertakwa, berbakat, dan cerdas.

Selain memaparkan gambaran tipe remaja muslim ideal melalui sosok Al-Fatih, Felix Siauw juga menerbitkan karya-karya populer yang menyoroti 'kepanikan moral'. Salah satu generasi muda yang mengadaptasi karya Felix Siauw ke dalam bentuk novel adalah Sayf Muhammad Isa. Selain itu, Annida juga mempopulerkan tipe remaja muslim ideal dengan istilah “pintar, gaul, syar’i” di kalangan muda muslim pada tahun 2000an.

Tipe ideal pemuda Muslim Tarbiyah tergambar jelas dalam cerpen terkenal karya Helvy Tiana Rosa yang berjudul. Selain karya Abu Al-Ghifari, isu 'kepanikan moral' di kalangan generasi muda Muslim juga menjadi perhatian kelompok Salafi dengan menerbitkan majalah ElFata. Selain itu, literatur-literatur Islam baru juga saling berlomba-lomba membahas tipe pemuda Muslim ideal saat ini.

Sedangkan tipe pemuda muslim ideal yang dihadirkan oleh sastra Salafi adalah seseorang yang tidak kebarat-baratan dan bertakwa.

DINAMIKA LITERATUR ISLAMIS DI RANAH LOKAL

Di sisi lain, sastra Islam muncul merespons permasalahan lokal dalam kerangka ideologi Islam. Dinamika sastra Islam di tingkat lokal, sebagaimana akan ditunjukkan nanti, juga menunjukkan adanya transfer dan transformasi ideologi Islam dari pusat di Timur Tengah dan gerakan-gerakan terkait ke kawasan tersebut. Ruang inilah yang menjadikan wacana dalam literatur Islamisme di tingkat lokal berbeda – namun berkaitan – dengan ideologi transnasional di masing-masing lokalitas.

Terkait hub pertama, sastra Islam di kota-kota tersebut menampilkan genre dan artikulasi tema yang menandai keunikan Indonesia, meski dalam kerangka wacana yang sama. Dalam batasan ruang geografis lokal, literatur lokal tentang Islamisme di Indonesia merespons literatur ideologi di tingkat nasional. Dengan tingkat aksesibilitas yang berbeda-beda di setiap kota, tampilan dan lokasi toko buku secara proporsional mempengaruhi ketersediaan dan akses literatur Islam di ruang lokal.

Misalnya dalam konteks lokal Banjarmasin, Penerbit Murni di Banjarmasin hanya menerbitkan karya ulama lokal bergenre turat Islam, tidak menerbitkan karya sastra Islami. Karena tidak sepenuhnya mengikuti tren nasional yang didominasi oleh sastra Islam populer – seperti karya Felix Siauw dan Salim S. Fillah – maka variasi dinamis sastra Islam dalam ruang lokal justru lebih beragam, tidak hanya pada genre tulisan. , tetapi juga dalam penggunaan setting lokal dalam menyajikan pemikirannya.

Secara umum, genre sastra Islam di tingkat lokal tidak jauh berbeda dengan sastra sejenis yang beredar secara nasional di sekolah menengah dan universitas di Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Dari perbedaan hasil penelitian tersebut menjadi dasar peneliti untuk menguji kembali “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Struktur Modal, Likuiditas, Dan Investment Opportunity Set Terhadap

His father would be waiting at the door of their hut, and he would say, "Salamat, I am happy that now you are home, Tibung Dasi." A few days later the village elders would gather there