LOGBOOK DISKUSI KELOMPOK 1 PEMICU 1
Tugas Ini Disusun untuk Memenuhi Penugasan Modul Keperawatan Jiwa 2 Dosen Pengampu : Ns. Eni Nuraini Agustini, S.Kep, M.Sc, PhD
Dosen Fasilitator : Ns. Fajriyah, S.Kep., M.Kep, Sp.Kep J
Disusun Oleh : 11201040000037 Fiana Hawa Isnaini
Kelas A
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
MARET/2023
Kasus Pemicu DK Keperawatan jiwa 2
Seorang lelaki usia 34 tahun, diantar ke Rumah sakit jiwa tanggal 2 Maret 2022 oleh orang tua, karena mencoba melakukan tindakan bunuh diri dengan cara menikam perutnya dan minum racun serangga. Pasien juga mengatakan ingin mati saja. Menurut keluarga pasien sudah tidak bisa sejak 2 bulan lalu, cenderung pendiam, murung dan sering mengurung diri dikamar, kehilangan nafsu makan sehingga tubuhnya terlihat kurus. Keluarga mengatakan pasien pernah dirawat sebelumnya tahun 2018 karena tidak bisa tidur, mengurung diri dan mendengar bisikan-bisikan, namun setelah pulang pasien tidak kontrol, setelah obat habis pasien tidak minum obat lagi atau putus obat. Diagnosa pasien saat ini adalah skizoprenia skizoafective tipe depresif ((F 25.1). Diberikan terapi Resperidone tablet 3x 2 mg per oral, Trihexiphenidil tablet 3x2 mg dan Amitriptilin tabet 3x25 mg. Hasil pengkajian dengan menggunakan format pengkajian SIRS menunjukkan skor 4.
Hari kedua perawatan, Pada saat pengkajian, pasien mengatakan bahwa dirinya sering mendengar suara-suara bisikan di telinga yang mengejek dirinya dan mengatakan dia adalah beban keluarga. Ketika pasien ditanyakan perasaannya saat ini dia menjawab perasaan sedih karena rindu sama anak dan istrinya, ekspresi wajah tampak sedih dan menunduk sambil menangsi jika berbicara tentang keluarganya. Pasien sudah menikah dan memiliki satu anak, namun 3 tahun lalu istrinya meninggalkannya dengan membawa anaknya. terlihat sering berbicara sendiri , sering terdiam ditengah pembicaraan, & tidak mampu memulai pembicaraan, lebih banyak dikamar & berjalan-jalan sendiri. Pasien mengatakan capek sekali hidup dan dia merasa tidak berguna. Diakhir percakapan, Pasien bertanya kepada perawat
“apakah Ners pernah seperti saya? Terus saya sebagai orang muslim dan Ners sebagai perawat muslim seharusnya bagaimana?”.
Perawat memberikan intervensi manajemen mood dan rujukan terapi dukungan kelompok.
Perawat membuat RADLs pengkajian lanjutan dan rencana intervensi keperawatan untuk hari selanjutnya berdasarkan SPO RS yang berpedoman pada SDKI, SIKI & SLKI.
STEP 1
Identifikasi dan Klasifikasi Istilah Asing 1. 035_Dinda: Resperidone?
- 036_ Femi: Risperidone adalah obat untuk meredakan gejala skizofrenia - 039_ Halwa: risperidone itu obat untuk mengontrol emosi pada pasien
skizofrenia
2. 043_Tisya: Skizofrenia skizoafective?
- 039_ Halwa: skizoafektif itu seperti kombinasi gejala yang dialami oleh pasien skizofrenia, seperti gejala halusinasi, depresi, manik, ataupun mood swing yang dirasakan secara bersamaan di waktu yang sama
- 038_ Fitria: Skizoafektif terbagi menjadi 2 tipe yaitu skizoafektif tipe manik dengan gejala skizofrenia dan manik yang lebih menonjol dan skizoafektif tipe depresif dengan gejala skizofrenia dan depresif yang lebih menonjol seperti halusinasi dan waham
3. 036_Femi : pengkajian SIRS?
- 040_Hanifah: Pengkajian SIRS yaitu pengkajian yang digunakan untuk mengetahui apakah seseorang itu ingin melakukan tindakan bunuh diri atau tidak.
- 035_Dinda: Pengkajian SIRS yaitu pengkajian skala intensitas bunuh diri dimana pengkajian ini untuk mengidentifikasi seseorang ingin bunuh diri dan terdapat beberapa skor yaitu 0-4, pada kasus pasien mendapatkan skor 4 dalam pengkajian SIRS ini, dimana terdapat rasa aktif mencoba ingin bunuh diri - 034_Cut Celine:
4. 039_Halwa: depresif
- 037_Fiana: Depresi adalah gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan kehilangan minat terhadap hal-hal yang disukai. Seseorang dinyatakan mengalami depresi jika sudah 2 minggu merasa sedih, putus harapan, atau tidak berharga.
5. 034_Cut Celine: RADL
- 039_ Halwa: RADL (Rencana activity daily living) itu seperti agenda kegiatan pasien agar pasien terus terpantau oleh tenaga kesehatan.
- 043_ Tisya: Rencana Activity Daily Living untuk pasien untuk jam kegiatan, kegiatan yang dilakukan, dan keterangan apakah kegiatan itu dilaksanakan atau tidak
6. 037_Fiana : tipe depresif (F 25.1)
- 034_ Cut Celine: Tipe depresif (F 25.1) adalah penamaan/penggolongan ditujukan untuk pasien dengan diagnosis skizofrenia skizoafektif yang dalam waktu bersamaan menunjukkan gejala depresif (halusinasi,waham,kualitas aktifitas sehari-hari menurun, sering melamun,dll.)
- 038_ Fitria: skizoafektif tipe depresif adalah salah satu penggolongan dengan gejala skizofrenia dan depresif seperti halusinasi dan waham yang muncul bersamaan
STEP 2
Identifikasi Masalah
1. 040_ Hanifah: tanda dan gejala pasien skizofrenia?
2. 043_ Tisya: kenapa pasien skizofrenia bisa kambuh jika tidak mengonsumsi obat?
3. 035_Dinda: apakah ada efek samping dari terapi resperidone. trihexiphenidil, dan amitriptilin
4. 036_ Femi: Setelah mengetahui hasil pengkajian SIRS pasien menunjukkan skor 4 maka apa yang dapat dilakukan perawat?
5. 038_Fitria: Bagaimana cara intervensi manajemen mood?
6. 037_Fiana : apa penanganan pertama pihak RSJ untuk pasien skizofrenia?
7. 034_Celine: apakah rujukan terapi dukungan kelompok dapat membantu pasien agar tidak putus obat?
STEP 3
Brainstorming
1. 040_ Hanifah: tanda dan gejala pasien skizofrenia?
- 035_Dinda:halusinasi, delusi, gelisah, murung, menghindar dari orang lain - 039_ Halwa: tanda gejala pasien skizofrenia pada kasus tersebut adalah pasien
murung, cenderung diam, tidak ingin bersosialisasi, mengurung diri di kamar, kehilangan nafsu makan, mendengar bisikan seperti dia adalah beban keluarga yang membuat dia ingin melakukan percobaan bunuh diri seperti menikam perut dan meminum racun serangga, selain itu pasien skizofrenia mengalami gangguan komunikasi dimana dia menghindari berkomunikasi dengan orang lain, dan pasien mengalami tanda depresi seperti hampa dan sedih.
- 043_Tisya: pasien memiliki gangguan mood seperti kesedihan, kesepian dalam waktu yang cukup lama atau lebih dari 2 minggu
2. 043_ Tisya: kenapa pasien skizofrenia bisa kambuh jika tidak mengonsumsi obat?
- 034_Cut Celine: Ketika seorang pasien skizofrenia dianjurkan untuk mengonsumsi obat,itu berarti ada kegagalan sistem fungsi dalam tubuh atau otak yang memang harus dibantu dengan obat. Jika berhenti mengonsumsi obat, maka kemungkinan besar gejala yang sebelumnya mereda akan kembali kambuh. Hal ini disebabkan tidak adanya yang membantu pasien mengatasi skizofrenia dari dalam tubuh (fisiologis) karena putus obat
3. 035_Dinda: apakah ada efek samping dari terapi resperidone. trihexiphenidil, dan amitriptilin?
- 043_ Tisya: resperidone memiliki efek samping kecemasan, mengantuk, konstipasi lalu diberi obat trihexiphenidil untuk mengatasi gejala dari obat antipsikotik
- 036_ Femi: efek samping dari obat resperidone salah satunya adalah Parkinson atau tremor maka pasien juga mendapatkan obat trihexiphenidil yang merupakan obat yang dapat mengatasi parkinson
- 038_ Fitria: efeksamping dari amitriptilin adalah mengantuk , kenaikan berat badan, mulut kering, jantung berdebar, pada beberapa kasus ada yang mengalami konstipasi atau bahkan diare
4. 036_ Femi: Setelah mengetahui hasil pengkajian SIRS pasien menunjukkan skor 4 maka apa yang dapat dilakukan perawat?
- 037_ Fiana: Skor 4 pengkajian SIRS sudah menunjukkan perilaku aktif untuk bunuh diri karenanya perawat dapat melindungi klien dengan cara menjauhkan dari benda-benda yang dirasa dapat membahayakan nyawanya, kemudian kita gali perasaan pasien untuk tahu dan kenal perasaan pasien saat ini dengan harapan dapat mencegah perilaku pasien dikemudian hari, lalu berikan dukungan sosial kepada pasien baik melalui keluarga, teman, atau masyarakat
- 038_ Halwa: hasil pengkajian SIRS (suicidal intention rating scale) pasien mendapat score 4 dimana artinya pasien aktif melakukan percobaan bunuh diri, seperti menikam perut dan meminum racun serangga. cara penanganannya dapat dilakukan dengan mengamankan lingkungan pasien seperti jauhkan pasien dari benda - benda yang sekiranya dapat berpotensi digunakan untuk melakukan bunuh diri, akan tetapi sebisa mungkin pasien tidak diisolasi dengan pengawasan tenaga kesehatan 24 jam. kemudian dapat dilakukan dukungan sosial dari keluarga, teman, atau masyarakat, jangan biarkan pasien merasa sendiri dan hampa karena akan menimbulkan bisikan - bisikan pada pikirannya. selain itu, kita menggali perasaan agar kita tau apa yang sedang dia rasakan dan tindakan yang tepat untuk menanganinya.
tindakan yang terakhir kita menguatkan koping pasien agar pasien dapat mengekspresikan perasaannya dengan tepat.
5. 038_Fitria: Bagaimana cara intervensi manajemen mood?
- 034_ Cut Celine: jelaskan tentang gangguan mood dan penanganannya, anjurkan untuk berperan aktif dalam pengobatan dan rehabilitasi, anjurkan rawatinap sesuai indikasi (risiko keselamatan), anjurkan mengenali pemicu gangguan mood, anjurkan memonitor mood secara mandiri (skala 1-10, membuat jurnal harian), ajarkan keterampilan koping dan penyelesaian masalah, kolaborasi pemberian obat, rujuk untuk psikoterapi
6. 037_Fiana : apa penanganan pertama pihak RSJ untuk pasien skizofrenia?
- 034_Cut Celine: pasien yang dibawa ke RSJ dalam kondisi gawat darurat (mis.kambuh), akan dilakukan triase terlebih dahulu dan akan dilanjutkan sesuai dengan keadaannya saat itu dan setelah observasi. Pasien skizofrenia yang dirasa membutuhkan perawatan lanjut akan dirujuk untuk rawat inap, sedangkan pasien yang tenang dapat dianjurkan untuk rawat jalan dengan obat.
- 035_ Dinda:Penanganan pertama yang dilakukan yaitu dengan meberikan obat yang sudah diberikan resep dari dokter, dengan dosis tertentu sesuai kebutuhan pasien. Obat yang diberikan memiliki tenggang waktu tertentu, jika obat yang diberikan sudah habis maka pasien diharapkan mendapatkan obat kembali atau pasien tersebut kontrol kembali dan jangan sampai pututs obat 7. 034_Celine: apakah intervensi rujukan terapi dukungan kelompok dapat membantu
pasien agar tidak putus obat?
- 038_Fitria: Kita harus cari tahu terlebih dahulu penyebab dari putus obat dari pasien. Apakah karena masalah ekonomi, jarak faskes yang terlalu jauh atau karna malas ataupun merasa lelah minum obat. Jika alasannya karena malas dan lelah mungkin terapi dukungan kelompok ini dapat membantu agar pasien mendapat suntikan semangat dari teman atau kelompok seperjuangan dan dapat saling menguatkan
- 039_ Halwa: terapi dukungan kelompok bisa sangat berpengaruh bagi pasien dimana mereka yang ada di kelompok tersebut dapat sharing terhadap apa yang mereka alami, apa yang mereka rasakan. hal tersebut membuat pasien merasa kalau dia tidak sendiri yang merasakan hal tersebut. selain itu, pasien
dapat termotivasi oleh teman - teman lain untuk bisa sembuh dan terus mengkonsumsi obat sampai mereka sembuh. dalam dukungan kelompok ini, pasien skizofrenia dapat menghilangkan perasaan hampa dan meningkatkan sosialisasi dengan orang lain.
STEP 4 Hipotesa
Tn.X (34 Thn) masuk RSJ karena melakukan upaya bunuh diri. memiliki riwayat pernah dirawat pada tahun 2018 namun tidak melanjutkan kontrol dan putus obat. Setelah dilakukan pengkajian didapatkan hasil SIRS skor 4, sering mendengar bisikan, mengatakan sedih, dan rindu keluarga, terlihat sedih dan menunduk menangis capek hidup dan tidak berguna.
Diagnosa klien saat ini yaitu skizofrenia skizoafective tipe depresif. Perawat berperan dalam melindungi dengan cara menjauhkan klien dari benda yang membahayakan nyawa, gali perasaan klien, dan dukungan sosial agar klien terus bersemangat dan menguatkan dalam pengobatan.
STEP 5
Learning Objective
1. Skizofrenia dan skizoafective - definisi
- etiologi
- tanda dan gejala
- terapi farmakologi dan nonfarmakologi 2. Pengkajian SIRS
3. pencegahan putus obat pada pasien skizofrenia 4. Pandangan islam terkait Skizofrenia dan RBD 5. Asuhan Keperawatan dan konsep RBD
STEP 6
1. Skizofrenia dan skizoafective a. Definisi
Skizofrenia merupakan gangguan kejiwaan dan kondisi medis yang dapat mempengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi emosional dan tingkah laku dan dapat mempengaruhi fungsi normal kognitif (Depkes RI, 2015). Skizoprenia adalah gangguan mental kronis yang ditandai dengan sering kambuh dengan jangka waktu lama. Ketidakmampuan untuk mematuhi program pengobatan menjadi salah satu yang menyebabkan paling sering kambuh dan diperkirakan sekitar 50% yang tidak mematuhi program pengobatan yang telah diberikan (Li et al, 2014).
b. Etiologi
1) Biologi: yaitu genetic, neurobiology, ketidak seimbangan neurotransmitter (peningkatan dopamin), perkembangan otak dan teori virus. Studi keluarga menunjukkan bahwa keluarga skizofrenik lebih mungkin mengembangkan gangguan tersebut dibanding dengan orang-orang dari keluarga yang tidak menderita skizofrenia. Faktor neurobiology dan neurotransmitter yaitu lesi pada lobus frontal, temporal dan area limbic sehingga sehingga menyebabkan gangguan fungsi otak dan disregulasi neurotransmitter seperti dopamine, serotinin dan glutamat (Varcarolis, & Helter, (2010); Stuart, 2013).
2) Psikologis: Kegagalan memenuhi tugas perkembangan psikososial dan ketidakharmonisan keluarga meningkatkan resiko skizophrenia. Stressor sosiokultural, stress yang menumpuk dapat menunjang terhadap awitan skizophrenia dan gangguan psikotik lainnya (Stuart, 2013). Menurut Word Health
organization (WHO) tahun 2014, bahwa faktor psikososial berkontribusi terhadap penyebab skizophrenia termasuk urbanisasi, imigrasi, trauma psikologis dan stres.
c. Tanda dan gejala
Skizoprenia adalah gangguan mental kronis yang ditandai dengan sering kambuh dengan jangka waktu lama. Gangguan dalam fungsi hubungan interpersonal, fungsi kerja, perawatan diri, dan partisipasi dalam kegiatan masyarakat seringkali mejadi karakteristik individu yang mengalami skizoprenia. Sehingga perlu dilakukan pemulihan dan diberikan terapi untuk meningkatkan kualitas hidup (Fervaha, Foussias, Agid, and Remington, 2012)
d. Terapi farmakologi dan nonfarmakologi 1) Terapi farmakologi
Penatalaksanaan Skizofrenia menurut Panduan Praktis Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer Tahun 2014
Diberikan obat antipsikotik. Haloperidol 2-3 x 2-5mg/hari atau Risperidon 2 x 1-3mg/hari atau Klorpromazin 2-3 x 100-200 mg/hari. Untuk mengurangi agitasi dan memberikan efek sedasi dapat digabungkan dengan benzodiazepin
Intervensi sementara untuk gaduh gelisah dapat diberikan injeksi haloperidol 5mg, dapat diulangi dalam 30 menit – 1 jam. Dosis maksimal injeksi haloperidol 30 mg/hari. Atau dapat juga diberikan injeksi klorpromazin 2-3 x 50 mg/hari.
Untuk pasien psikotik kronis yang tidak taat berobat, dapat dipertimbangkan untuk pemberian injeksi depo (jangka panjang) antipsikotik seperti haloperidol deconas 50 mg atau fluphenazine deconas 25 mg
Jika timbul efek samping ekstrapiramidal seperti tremor, kekakuan, akinesia, dapat diberikan triheksifenidyl 2-4 x 2 mg. Jika timbul distonia akut berikan injeksi diazepam atau difenhidramin, jika timbul akatisia (gelisah, mondar-mandir tak bisa berhenti bukan akibat gejala) turunkan dosis antipsikotik dan berikan beta-blocker, propranolol 2-3 x 10-20mg.
2) Terapi nonfarmakologi
Terapi non farmakologi pada penderita skizofrenia meliputi pendekatan psikososial dan ECT (Electro Convulsive Therapy). Peningkatan kualitas hidup dan kesembuhan pasien skizofrenia akan lebih baik jika diberikan juga terapi non farmakologi disamping terapi obat. Kombinasi kedua terapi ini akan mampu memberikan manfaat yang banyak bagi pasien. Pendekatan psikososial bertujuan untuk memberikan dukungan emosional kepada pasien sehingga pasien mampu meningkatkan fungsi sosial dan pekerjaannya dengan lebih baik. Ada beberapa jenis pendekatan psikososial yang biasa dilakukan pada pasien skizofrenia, diantaranya yaitu Program for Assertive Community
Treatment (PACT), intervensi keluarga, terapi perilaku kognitif (cognitive behavioural therapy), dan pelatihan keterampilan sosial (Ikawati, 2011).
Selain pendekatan psikososial, ada juga terapi non farmakologi menggunakan ECT (Electro Convulsive Therapy). Penggunaan ECT yang dikombinasi dengan obat-obatan antipsikotik bisa dijadikan pilihan terapi bagi pasien yang menginginkan perbaikan umum dan pengurangan gejala dengan cara yang cepat (Tharyan, 2005).
2. Pengkajian SIRS Ratin
g Angk
a
Severity Deskripsi
1 Rendah (mild) Ada ide bunuh diri, tidak ada percobaan bunuh diri, tidak mengancam bunuh diri
2 Menengah (moderate)
Memikirkan bunuh diri dengan aktif, tidak ada percobaan bunuh diri
3 Tinggi (high) Mengancam bunuh diri, misalnya "tinggalkan saya sendiri atau saya bunuh diri"
4 Sangat tinggi (very high)
Aktif mencoba bunuh diri Rencana tindakan :
Jauhkan klien dari benda-benda yang dapat membahayakan
Tempatkan klien diruangan yang tenang dan selalu terlihat oleh perawat
Awasi klien secara ketat setiap saat
3. Pencegahan putus obat pada pasien skizofrenia
Faktor – faktor yang menyebabkan pasien tidak patuh minum obat diantaranya adalah, dukungan dan kemampuan keluarga dalam rehabilitasi pasien, sedikit banyaknya kehidupan yang menimbulkan stres dan tingkat keparahan gejala psikiatrik.
Kekambuhan biasanya terjadi bila keluarga hanya menyerahkan perawatan pada rumah sakit jiwa dan obat-obatan anti psikotik tanpa didukung.
Keluarga perlu mempunyai sikap menerima pasien, memberikan respon positif kepada pasien, menghargai pasien sebagai anggota keluarga dan menumbuhkan sikap tanggung jawab pada pasien. Sikap permusuhan yang ditunjukkan oleh anggota keluarga terhadap pasien akan berpengaruh terhadap kekambuhan pasien. Dukungan keluarga sangat penting untuk membantu pasien bersosialisasi kembali, menciptakan kondisi lingkungan suportif, menghargai pasien secara pribadi dan membantu pemecahan masalah pasien (Keliat, 1996).
4. Pandangan islam terkait Skizofrenia dan RBD
Dalam hukum Islam, orang yang mengalami gangguan jiwa total dan terus menerus dinyatakan tidak memiliki ahliyah al-ada’. Tindakannya tidak menjadi tindakan hukum. Orang-orang yang mengalami gangguan jiwa total dinyatakan tidak memiliki kewajiban menjalankan syari’at dalam Islam. Orang yang diwajibkan menjalankan syariat yang disebut mukallaf indikatornya dewasa dan berakal. Kondisi ini menegaskan karena difabel skizofrenia tidak sepenuh waktunya kehilangan akal, tetapi pada saat relaps (kambuh) saja. Artinya, saat akal pikiran difabel mental tidak relaps, maka pada saat itulah kewajiban hukum wajib ia lakukan, dan pada saat bersaman ia memiliki hak dan dapat dikatakan cakap untuk bertindak (ahliyah al- ada’).
Mengutip dari Buku Pendidikan Agama Islam, karya Drs H Muslimin, menjelaskan bunuh diri sebagai hilangnya nyawa seseorang yang disengaja dengan alat. Islam melarang penghilangan nyawa baik melalui pembunuhan terhadap orang lain, maupun diri sendiri. Dalil mengenai larangan bunuh diri tercantum dalam surat An Nisa ayat 29: “…Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha penyayang kepadamu.”
Dilarangnya bunuh diri karena sejumlah faktor yaitu yang pertama, mendahului kehendak Allah ﷻ (dalam hal kematian). Kedua, menandakan kita tidak siap menerima realitas dan dinamika kehidupan yang menimpa. Ketiga, menandakan ketidaksiapsiagaan menyongsong masa depan yang tidak lekang dari tantangan dan halangan-rintangan.
Selain bunuh diri merupakan perbuatan yang dilarang, orang yang membunuh dirinya sendiri dengan menggunakan suatu benda atau cara, kelak di hari kiamat akan dihukum dengan benda atau cara tersebut di dalam neraka.
5. Asuhan Keperawatan dan konsep RBD 1. Pengkajian
a. Identitas Diri
Nama : Tuan X
Usia : 34 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki Tanggal Masuk : 2 Maret 2022 Dibawah oleh : Orang tua pasien b. Anamnesa
• Menurut keluarga pasien sudah tidak bisa sejak 2 bulan lalu, cenderung pendiam, murung dan sering mengurung diri dikamar, kehilangan nafsu makan sehingga tubuhnya terlihat kurus.
• Keluarga mengatakan pasien pernah dirawat sebelumnya tahun 2018 karena tidak bisa tidur, mengurung diri dan mendengar bisikan-bisikan, namun setelah
pulang pasien tidak kontrol, setelah obat habis pasien tidak minum obat lagi atau putus obat.
• Hari kedua perawatan, pada saat pengkajian, pasien mengatakan bahwa dirinya sering mendengar suara-suara bisikan di telinga yang mengejek dirinya dan mengatakan dia adalah beban keluarga.
• Pasien mengatakan capek sekali hidup dan dia merasa tidak berguna.
2. Analisa Data
Data Objektif Data Subjektif
Diagnosa pasien saat ini adalah
skizoprenia skizoafective tipe depresif ((F 25.1).
Diberikan terapi Resperidone tablet 3x2 mg per oral, Trihexiphenidil tablet 3x2 mg dan Amitriptilin tabet 3x25 mg.
Pengkajian SIRS menunjukkan skor 4.
Ekspresi wajah tampak sedih dan menunduk bila berbicara keluarganya.
Pasien sudah menikah dan memiliki satu anak, namun 3 tahun lalu istrinya
meninggalkannya dengan membawa anaknya.
Terlihat sering berbicara sendiri, sering terdiam ditengah pembicaraan, & tidak mampu memulai pembicaraan, lebih banyak dikamar & berjalan-jalan sendiri.
Perawat memberikan intervensi manajemen mood dan rujukan terapi dukungan kelompok. Perawat membuat RADLs pengkajian lanjutan dan rencana intervensi keperawatan untuk hari selanjutnya berdasarkan SPO RS yang berpedoman pada SDKI, SIKI & SLKI.
Pasien mengatakan ingin mati saja
Mencoba melakukan tindakan bunuh diri dengan cara menikam perutnya dan minum racun serangga
Ketika pasien ditanyakan perasaannya saat ini dia menjawab perasaan sedih karena rindu sama anak dan istrinya
Menurut keluarga pasien sudah tidak bisa sejak 2 bulan lalu, cenderung pendiam, murung dan sering mengurung diri dikamar, kehilangan nafsu makan sehingga tubuhnya terlihat kurus.
Keluarga mengatakan pasien pernah dirawat sebelumnya tahun 2018 karena tidak bisa tidur, mengurung diri dan mendengar bisikan-bisikan, namun setelah pulang pasien tidak kontrol, setelah obat habis pasien tidak minum obat lagi atau putus obat.
Hari kedua perawatan, pada saat pengkajian, pasien mengatakan bahwa dirinya sering mendengar suara-suara bisikan di telinga yang
mengejek dirinya dan
mengatakan dia adalah beban keluarga.
Pasien mengatakan capek sekali hidup dan dia merasa tidak berguna.
3. Diagnosa Keperawatan Pohon Masalah
Perilaku kekerasan (effect) Resiko bunuh diri (core problem) Harga diri rendah kronis (causa)
Data Masalah Etiologi
DO :
Diagnosa pasien saat ini adalah
skizoprenia skizoafective tipe depresif ((F 25.1).
Diberikan terapi Resperidone tablet 3x2 mg per oral, Trihexiphenidil tablet 3x2 mg dan Amitriptilin tabet 3x25 mg.
Pengkajian SIRS menunjukkan skor 4.
Ekspresi wajah tampak sedih dan menunduk bila berbicara keluarganya.
Terlihat sering berbicara sendiri, sering terdiam ditengah pembicaraan, & tidak mampu memulai pembicaraan, lebih banyak dikamar & berjalan-jalan sendiri.
DS :
Pasien mengatakan ingin mati saja
Mencoba melakukan tindakan bunuh diri dengan cara menikam perutnya dan minum racun serangga
Ketika pasien ditanyakan perasaannya saat ini dia menjawab perasaan sedih karena rindu sama anak dan istrinya
Menurut keluarga pasien sudah tidak bisa sejak 2 bulan lalu, cenderung pendiam, murung dan sering
mengurung diri dikamar, kehilangan nafsu makan sehingga tubuhnya terlihat kurus.
Keluarga mengatakan pasien pernah dirawat sebelumnya tahun 2018 karena tidak bisa tidur, mengurung diri dan mendengar bisikan-bisikan, namun setelah pulang pasien tidak kontrol, setelah obat habis pasien tidak minum
Resiko bunuh diri
Gangguan psikologis
obat lagi atau putus obat.
Hari kedua perawatan, pada saat pengkajian, pasien mengatakan bahwa dirinya sering mendengar suara-suara bisikan di telinga yang mengejek dirinya dan mengatakan dia adalah beban keluarga.
Pasien mengatakan capek sekali hidup dan dia merasa tidak berguna.
4. Intervensi Keperawatan
SDKI SLKI SIKI
Resiko bunuh diri (D.0135)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam masalah keperawatan risiko bunuh diri dapat teratasi dengan kriteria hasil :
Kontrol Diri (L.09076)
Perilaku menyerang menurun
Perilaku melukai diri sendiri menurun
Verbalisasi keinginan bunuh diri menurun
Verbalisasi isyarat bunuh diri menurun
Perilaku merencanakan bunuh diri menurun
Dukungan Keluarga (L.13112)
Verbalisasi keinginan untuk mendukung anggota
keluarga yang sakit meningkat
Menanyakan kondisi pasien meningkat
Mencari dukungan sosial bagi anggota yang sakit meningkat
Mencari dukungan spiritual bagi anggota keluarga yang sakit meningkat
Bekerja sama dengan anggota keluarga yang sakit dalam menentukan
perawatan meningkat
Pencegahan Bunuh Diri (I.14538)
Observasi
Identifikasi gejala risiko bunuh diri (mis: gangguan mood, halusinasi, delusi, panik, penyalahgunaan zat, kesedihan, gangguan kepribadian)
Identifikasi keinginan dan pikiran rencana bunuh diri
Monitor lingkungan bebas bahaya secara rutin (mis: barang pribadi, pisau cukur, jendela)
Monitor adanya perubahan mood atau perilaku
Terapeutik
Libatkan dalam perencanaan perawatan mandiri
Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
Lakukan pendekatan langsung dan tidak menghakimi saat membahas bunuh diri
Bekerja sama dengan penyedia layanan kesehatan dalam menentukan
perawatan meningkat
Berpartisipasi dalam perencanaan pulang meningkat
Berikan lingkungan dengan pengamanan ketat dan mudah dipantau (mis: tempat tidur dekat ruang perawat)
Tingkatkan pengawasan pada kondisi tertentu (mis:
rapat staf, pergantian shift)
Lakukan intervensi perlindungan (mis:
pembatasan area, pengekangan fisik), jika diperlukan
Hindari diskusi berulang tentang bunuh diri
sebelumnya, diskusi berorientasi pada masa sekarang dan masa depan
Diskusikan rencana menghadapi ide bunuh diri di masa depan (mis: orang yang dihubungi, ke mana mencari bantuan)
Pastikan obat ditelan Edukasi
Anjurkan mendiskusikan perasaan yang dialami kepada orang lain
Anjurkan menggunakan sumber pendukung (mis: layanan spiritual, penyedia layanan)
Jelaskan tindakan pencegahan bunuh diri kepada keluarga atau orang terdekat
Latih pencegahan
risiko bunuh diri (mis: latihan asertif, relaksasi otot progresif) Kolaborasi
Kolaborasi pemberian obat antiansietas, atau antipsikotik, sesuai indikasi
Kolaborasi tindakan keselamatan kepada PPA
Rujuk ke pelayanan kesehatan mental, jika perlu
Manajemen Mood (I.09289)
Observasi
Identifikasi mood (mis. tanda, gejala, riwayat penyakit)
Identifikasi risiko keselamatan diti atau orang lain
Monitor fungsi kognitif (mis.
konsentrasi, memori, kemampuan
membuat keputusan)
Monitor aktivitas dan tingkat stimulasi lingkungan Terapeutik
Berikan kesempatan untuk menyampaikan perasaan dengan cara yang tepat (mis.
sandback, terapi seni, aktivitas fisik)
Edukasi
Jelaskan tentang gangguan mood dan penanganannya
Anjurkan berperan
aktif dalam pengobatan dan rehabilitasi, jika perlu
Anjurkan rawat inap sesuai indikasi (mis:
risiko keselamatan, deficit perawatan diri, sosial)
Ajarkan mengenali pemicu gangguan mood (mis: situasi stres, masalah fisik)
Ajarkan keterampilan koping dan
penyelesaian masalah baru
Kolaborasi
Kolaborasi
pemberian obat, jika perlu
Rujuk untuk psikoterapi (mis:
perilaku, hubungan interpersonal,
keluarga, kelompok), jika perlu
5. Tindakan Keperawatan kepada pasien 1) Strategi Pelaksanaan 1 (SP 1)
a. Tujuan : Pasien tetap aman dan selamat
b. Tindakan : Melindungi pasien untuk melindungi pasien yang mengancam atau mencoba bunuh diri, maka saudara dapat melakukan tindakan berikut:
Menemani pasien terus menerus sampai dia dapat dipindahkan ke tempat yang aman.
Menjauhkan semua benda yang berbahaya (misalnya : pisau, silet, gelas, tali pinggang)
Memeriksa apakah pasien benar-benar telah meminum obatnya, jika pasien mendapatkan obat.
Dengan lembut menjelaskan kepada pasien bahwa saudara akan melindungi pasien sampai tidak ada keinginan bunuh diri
2) Strategi Pelaksanaan 2, 3, dan 4 (SP 2, 3 & 4) a. Tujuan:
1. Pasien mendapat perlindungan dari lingkungannya 2. Pasien dapat menggunakan perasaannya
3. Pasien dapat meningkatkan harga dirinya
4. Pasien dapat menggunakan cara penyelesaian masalah yang baik b. Tindakan Keperawatan
(1) Strategi pelaksanaan 2 (SP 2)
Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri, yaitu dengan meminta bantuan dari keluarga atau teman.
(2) Strategi pelaksanaan 3 (SP 3)
Meningkatkan harga diri pasien dengan cara :
Memberi kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya
Berikan pujian bila pasien dapat mengatakan perasaan yang positif.
Meyakinkan pasien bahwa dirinya penting
Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien
Merencanakan aktivas yang dapat pasien lakukan.
(3) Strategi pelaksanaan 4 (SP 4)
Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah dengan cara:
Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalahnya.
Mendiskusikan dengan pasien efektifitas masingmasing cara penyelesaian masalah.
Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalah yang lebih baik.
Peta Konsep Individu
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Schizophrenia.Diunduh dari
http://bbtklppjakarta.pppl.depkes.go.id/assets/files/downloads/f1375258333s chizo phrenia.pdf.
Fervaha, G., Foussias, G., Agid, D., & Remington, G. (2014). Motivational and
neurocognitive deficits are central to the prediction of longitudinal functional outcome in schizophrenia. Acta Psychiatr Scand, 130, 290–299. doi:
10.1111/acps.12289
Ikawati, Z., 2011, Farmakoterapi Penyakit Sistem Saraf Pusat, Bursa Ilmu, Yogyakarta.
Li, Q., Su, Y, A., Liu, Y., Chen, J, X., Tan, Y, L., Yang, F, D., & Si, T, M. (2014).
Pharmacokinetics and tolerability of extended-release quetiapine fumarate in han chinese patients with schizophrenia. Clin Pharmacokinet, 54, 455-465.
doi 10.1007/s40262-013-0127-9
MUI digital. (2021). Alasan Mengapa Bunuh Diri Dilarang Islam. Dikutip pada 4 Maret 2022, melalui https://mui.or.id/bimbingan-syariah/33020/alasan-mengapa- bunuh-diri-dilarang-islam/
Rokayah, Cucu & Putri Mutiara Rima. (2020). Relaps Pada Pasien Skizofrenia. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa. 3(4), 461-468.
Stuart, G. W. (2013). Principles and practice of psychiatric nursing (10th ed.). St Louis, Missouri: Elsever Mosby.
Syafi’ie. (2022). Islam dan Diskursus Kecakapan Difabel Mental. Dikutip pada 4 Maret 2022, melalui https://law.uii.ac.id/blog/2022/01/04/islam-dan-diskursus- kecakapan-difabel-mental/
Tharyan, P., & Adams, C.E., 2005, Electroconvulsive Therapy for Schizophrenia, Cochrane Database of Sistematic Reviews, Issue 2. Art. No : CD00007 Varcarolis, E. M., & Helter, M. J. (2010). Foundation of psychiatric mental health nursing
a clinical approach (6th ed.). United States of America: Sauders Elsiver.
WHO. (2014). Schizophrenia. Retrieved from
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs397/en/