• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH AGAMA DAN ETIKA "THAHARAH”

N/A
N/A
yosi rahmiati

Academic year: 2023

Membagikan "MAKALAH AGAMA DAN ETIKA "THAHARAH”"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH AGAMA DAN ETIKA

"THAHARAH”

DOSEN PENGAMPU : ALI ASMUL,M.Pd.

Kelompok 2

Albani Khahard Alhaq (2220112412) Fatinah Novia Rahmah (2220112462) Wezi Febri Rasyid (22201112591) Efryna Zulianis Hara (2220112452)

Niswatun Khasanah (2220112530) Nisvi Yulma Nely Putri (2220112529)

Chelsie Wafda Audina (2220312021) Siti Mubaroqah (2220312022) Alif Masri Saputra (22230312020)

Riko Febriyan (2220312023)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

FAKULTAS FARMASI

(2)

UNIVERSITAS PERINTIS INDONESIA

2022

(3)

A.

Ketentuan Thaharah (Bersuci)

Bersuci meliputi kesucian lahir dan batin artinya suci, badan, dan batin. Bersuci mengajarkan kepada umat Islam untuk menjaga kebersihan badan dan hati.

1. Pengertian Thaharah (Bersuci)

Thaharoh berasal dari bahasa arab yang berarti bersuci. Bersuci dilakukan untuk mensucikan diri dari hadas dan najis. Istilah ini kemudian digunakan dalam keseharian sebagai kegiatan bersuci. Kegiatan bersuci dari najis ini meliputi menyucikan badan, pakaian, tempat, dan lingkungan yang menjadi tempat segala aktifitas kita.

Thaharoh (bersuci) memiliki kedudukan sangat penting bagi kehidupan manusia.

Karena sebagian besar ibadah dalam Islam mensyariatkan dilaksanakan dalam keadaan suci. Perintah thaharoh (bersuci) dijelaskan Allah SWT dalam Alquran, salah satu dalil dalam Alquran yang dapat kamu ketahui sebagai berikut:

یv بح لله نإ . .

. t ïlt

r یبح یوs

ن

bïalt ی ن

Artinya:. . . Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (Qs. Al-Baqoroh [2]: 222).

Ayat tersebut menjelaskan Allah sangat mencintai dan menyukai kebersihan dan menganjurkan untuk selalu menjaga kebersihan dan kesucian. Dengan kita menjaga kesucian dan kebersihan badan seorang muslim akan terhindar dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh kotoran yang menempel di tubuh.

(4)

Keutamaan thaharoh (bersuci) juga dijelaskan dalam hadis berikut.

Artinya: Dari Abu Malik al-Asy'ari berliau berkata, Rasulullah SAW bersabda,

“Bersuci adalah setengah dari iman . . .” (HR. Muslim).

Pada hadis tersebut dijelaskan bahwa kebersihan merupakan sebagaian dari iman.

Belum sempurna keimanan seorang muslim jika belum menjaga kebersihan diri dan lingkungannya. Kamu telah mengetahui pentingnya bersuci dalam kehidupan sehari- hari. Maka kamu hendaknya senantiasa menjaga kebersihan dan kesucian agar ibadahmu menjadi sah.

2. Macam-Macam Thaharah (Bersuci) a. Thaharoh (bersuci) dari Hadas

Secara istilah hadas yaitu keadaan tidak suci pada diri seorang muslim yang menyebabkan ia tidak diperbolehkan beribadah. Hadas juga terbagi menjadi dua, yaitu hadas besar dan hadas kecil

1) Hadas Kecil

Hadas kecil adalah keadaan tidak suci pada diri seorang muslim yang dapat disucikan dengan berwudhu atau tayamum pada keadaan tertentu.

Seseorang dapat disebut berhadas kecil apabila mengalami keadaan-keadaan berikut:

a) Keluar sesuatu dari dua jalan/lubang yaitu qubul dan dubur seperti buang air kecil, buang air besar dan buang angin

b) Hilang akal seperti mabuk, gila, pingsan, dan tidur

c) Bersentuhan kulit dengan lawan jenis yang bukan mahrom tanpa ada batas yang menghalanginya

d) Menyentuh kemaluan (qubul atau dubur) dengan telapak tangan. Menurut ulama, seseorang yang dalam keadaan berhadas kecil harus segera bersuci.

Saat seseorang yang mempunyi hadas kecil tidak boleh melakukan ibadah- ibadah tertentu.

(5)

Ibadah yang tidak boleh dilakukan saat seseorang berhadas kecil yaitu:

a) Memegang (menyentuh) mushaf Alquran dan membawanya (kecuali yang disertai barang lain yang lebih banyak mengandung huruf misalnya, tafsir atau terjemahan Alquran)

b) Melaksanakan sholat, baik sholat fardu maupun sunnah c) Melaksanakan tawaf saat sedang beribadah haji

2) Hadas Besar

Hadas besar adalah keadaan tidak suci pada diri seorang muslim yang dapat disucikan dengan mandi junub atau mandi besar. Akan tetapi, jika tidak ada air atau sebab tertentu dapat diganti tayamum.

Keadaan yang dapat menyebabkan seseorang berhadas besar sebagai berikut:

a) Keluar mani baik karena mimpi atau hal yang lain bagi laki-laki b) Haid (menstruasi) bagi perempuan

c) Melahirkan (wiladah) yaitu darah yang keluar saat seorang perempuan melahirkan

d) Nifas yaitu darah yang keluar setelah seorang perempuan melahirkan e) Melakukan hubungan suami istri

f) Meninggal dunia kecuali bagi orang yang syahid

b.

Thaharoh (bersuci) dari Najis

Najis secara bahasa artinya kotor. Secara istilah najis adalah kotoran yang menjadi sebab terhalangnya seseorang untuk beribadah kepada Allah. Bersuci dari najis yaitu bagaimana membersihkan sesuatu dari najis.

Sedangkan jenis- jenis najis secara garis besar dibagi menjadi:

1) Bangkai, yaitu sesuatu yang mati secara alami dan bukan karena disembelih.

2) Darah, baik darah segar maupun darah haid dan lainnya, ini sesuai dengan firman Allah QS. Al-An’am:145.

(6)

3) Nanah yang bercampur darah, keduanya dihukumkan najis dengan diqiyaskan terhadap darah, kecuali jika jumlahnya sedikit maka termasuk yang dimaafkan karena sulit menghindarinya.

4) Muntah, muntahan hukumnya najis, baik muntahan manusia atau selainnya.

5) Kencing dan kotoran manusia keduanya adalah najis, kecuali menurut ulama syafiiyah dan hanabilah, menurut mereka jika kencingnya adalah kencing anak laki-laki yang belum makan makanan pokok(selain air susu ibu), maka dihukumkan suci dengan memercikan air pada bagian yang terkena kencing dan tidak wajib mencucinya.

6) Kotoran hewan yang dagingnya tidak boleh dimakan, seperti bighlal, himar, dan lainya adalah najis berdasarkan riwayat dari Abdullah bin mas’ud.

7) Anjing dan babi serta yang dilahirkan dari keduanya atau salah satu darinya walaupun bersama selain spesiesnya. Untuk menyucikan najis anjing, maka diperintahkan agar menuangkan air pada tempat yang dijilat dan mencuci bejananya.

8) Kotoran hewan yang dagingnya boleh dimakan. Ulama syafi’iyah dan hanafiyyah berpendapat bahwa kotoran tersebut hukumnya najis. Akan tetapi ulama hanafiyah memberikan pengecualian terhadap hewan yang membuang kotoran di udara seperti burung, maka kotorannya adalah suci.

Najis terbagi menjadi tiga yaitu najis mukhoffafah, najis mutawasitoh, dan najis mugholladzoh.

1) Najis ringan (Mukhoffafah)

Najis yang ringan, seperti air kencing bayi laki-laki yang belum berumur dua tahun dan belum makan apapun kecuali air susu ibu. Cara mensucikannya cukup dengan memercikkan air pada benda atau tempat yang terkena najis tersebut.

2) Najis sedang (Mutawasitoh)

Najis mutawasitoh yaitu najis sedang. Najis ini dibagi dua macam yaitu najis mutawasitoh hukmiyah dan najis mutawasitoh 'ainiyah. Najis mutawasitoh hukmiyah adalah najis yang diyakini ada tapi tidak nyata wujudnya. Cara

(7)

mensucikannya adalah cukup dengan mengalirkan air pada benda atau tempat yang terkena najis.

Najis mutawasitoh 'ainiyah adalah najis yang tampak wujudnya dan bisa diketahui melalui bau maupun rasanya. Cara mensucikannya dengan menghilangkan wujud, rasa, warna, dan baunya menggunakan air suci.

Contoh najis mutawasitoh yaitu darah, nanah, bangkai binatang, air kencing, dan lain sebagainya.

3) Najis berat (Mugholladzoh )

Najis mugholladzoh berarti najis yang berat. Cara mensucikannya secara bertahap yaitu dengan membasuh sebayak tujuh kali, satu kali diantaranya menggunakan air yang dicampur dengan tanah yang suci. Contoh najis mugholladzoh terdapat pada anjing dan babi. Adapun yang berasal dari anjing dan babi seperti air liur, daging, darah, air kencing, bulu, kotorannya.

c.

Istinja’

istinja’ adalah bersuci dengan air atau yang lainya untu membersihkan najis yang berupa kotoran yang ada atau menempel pada tempat keluarnya kotoran tersebut (qubul dan dubur). Jadi segala sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur adalah sesuatu yang dianggap kotor dan wajib dibersihkan atau dihilangkan dengan menggunakan air atau yang lainnya.

B.

Tata Cara Thaharah (Bersuci)

1. Bersuci dengan Mandi Wajib

Mandi dalam bahasa arab disebut dengan al-gusl yang artinya mengalirkan air suci ke seluruh tubuh secara merata. Mandi wajib bertujuan menghilangkan hadas besar yang sering disebut mandi junub atau janabah. Rukun mandi wajib ada dua yaitu niat dan membasuh atau meratakan air ke seluruh tubuh. Mandi besar dilakukan dengan cara berikut.

a. Niat mandi untuk menghilangkan hadas besar.

b.Menghilangkan najis dari badan

(8)

c.Mengalirkan air ke seluruh anggota tubuh mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki Dalam melaksanakan mandi wajib terdapat sunnah agar mandi wajib yang kita lakukan lebih sempurna.

Adapun sunnah mandi wajib sebagai berikut.

a. Membaca basmallah dan ber-wudhu sebelum memulai mandi b. Mendahulukan anggota tubuh yang kanan daripada yang kiri c. Menggosokkan anggota badan dengan sabun atau alat lain

Kita menjadi seorang muslim disunnahkan mandi dalam beberapa keadaan.

Mandi sunnah dilakukan sebelum sholat Jum'at, sebelum sholat Idul Fitri dan Idul Adha, sebelum sholat gerhana dan istisqo', sesudah sadar dari pingsan atau sembuh dari gila dan memandikan jenzsah serta mau masuk kota Mekkah.

2. Bersuci dengan Berwudhu

Kata wudhu dalam bahasa arab berarti membersihkan. Secara istilah yaitu cara bersuci untuk menghilangkan hadas kecil sebelum melakukan ibadah yang wajib dilakukan dalam keadaan suci. Kita menjadi muslim memang harus berwudhu ketika hendak melaksanakan sholat. Jika kita melaksanakan sholat dalam keadaan berhadas, maka hukumnya tidak sah. Selain melaksanakan sholat, ber-wudhu dilakukan ketika seseorang hendak membaca Alquran. Ber-wudhu memiliki ketentuan dan tata cara tertentu yang harus dipenuhi.

a. Ketentuan ber-wudhu

Meliputi syarat-syarat wudhu, rukun wudhu, sunnah-sunnah wudhu dan hal – hal yang membatalkan wudhu. Ketentuan-ketentuan tersebut harus diperhatikan agar wudhu kita menjadi sah.

Syarat-syarat ber-wudhu diantaranya menggunakan air yang suci dan mensucikan, membasuh semua anggota wudhu, orang yang ber-wudhu hendaknya memahami rukun dan ketentuan wudhu dengan baik dan lain sebagainya.

Adapun rukun ber-wudhu yaitu niat, membasuh muka, membasuh kedua tangan hingga siku, mengusap sebagian kepala, membasuh kedua kaki hingga mata kaki serta tertib. Jika salah satu rukun tidak dilaksanakan maka wudhu tidak sah.

(9)

Sunnah-sunnah wudhu terdapat tiga bagian yaitu sunnah sebelum ber-wudhu, sunnah saat ber-wudhu dan sunnah setelah ber-wudhu.

1) Sunnah sebelum ber-wudhu yaitu membaca basmallah, mencuci telapak tangan sampai pergelangan, berkumur-kumur serta istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) dan istinsyar (mengeluarkan air dari hidung)

2) Sunnah saat ber-wudhu yaitu menyapu kedua telinga, menyela-nyela jenggot yang tebal, menyela-nyela jari tangan dan jari kaki, mengusap dan membasuh anggota wudhu sebanyak tiga kali, mendahulukan anggota wudhu bagian kanan, tidak menyela rukun wudhu dengan pekerjaan lain serta melebihkan batas anggota yang dibasuh atau diusap

3) Sunnah setelah ber-wudhu yaitu berdoa dan melaksanakan sholat sunnah wudhu Ketika seseorang ber-wudhu menjadi batal karena keadaan tertentu. Perkara yang membatalkan wudhu sebagaimana perkara yang menyebabkan seseorang berhadas kecil yang telah dijelaskan didepan.

b. Tata cara Ber-wudhu

1) Niat ber-wudhu untuk menghilangkan hadas kecil. Niat dapat dilafalkan atau dibaca dalam hati.

2) Mencuci kedua telapak tangan sampai pergelangan dengan membaca basmallah. Ketika mencuci telapak tangan dimulai dari tangan kanan serta menyela-nyela jari tangan.

3) Berkumur-kumur

(10)

4) Membersihkan hidung dengan cara istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) dan istinsyar(mengeluarkan air dari hidung)

5) Membasuh muka

6) Membasuh kedua tangan sampai siku

7) Mengusap sebagian kepala atau seluruh kepala 8) Mengusap kedua telinga

9) Membasuh kedua kaki sampai mata kaki 10) Berdoa setelah wudhu

3. Tayamum

Merupakan bersuci dengan debu atau tanah untuk menghilangkan hadas kecil sebagai pengganti wudhu dan mandi besar. Tayamum dilakukan dengan menyentuhkan dua telapak tangan ke tanah atau debu yang suci untuk menyapu muka dan kedua tangan.

Beberapa syarat yang memperbolehkan tayamum sebagai pengganti wudhu dan mandi besar yaitu tidak ditemukan air, dalam keadaan sakit, perjalanan yang sulit mencari air, terdapat air dengan jumlah terbatas.

Selain sebab-sebab terdapat rukun-rukun tayamum. Rukun tayamum merupakan ketentuan yang harus dilakukan agar tayamum yang dilakukan sah. Rukun tayamum yaitu niat, mengusap muka dengan debu suci, serta mengusap kedua tangan. Jika salah satu rukun tertinggal maka tayamum yang dilakukan tidak sah.

C.

Penerapan dan Hikmah Thaharah (Bersuci)

Contoh penerapan perilaku thaharoh atau bersuci dengan menjaga kebersihan sebagai berikut.

a. Menjaga kebersihan diri sendiri seperti mandi dua kali sehari, mencuci tangan setelah keluar dari rumah, mencuci baju yang sudah kotor

b. Menjaga kebesihan lingkungan, seperti membuang sampah pada tempatnya

c. Menjaga kebersihan rumah atau pondok dengan menyapu, mengepel, serta membersihkan kamar

(11)

d. Menjaga kebesihan sekolah, dengan melaksanakan tugas piket, tidak membuang bungkus makanan di laci kelas, kerja bakti.

Betapa pentingnya thaharoh atau bersuci dalam kehidupan kita. Ada banyak hikmah thaharoh atau bersuci dalam keseharian, sebagai berikut.

1. Menyempurnakan iman, karena Rasulullah menegaskan bahwa kebersihan sebagian dari iman.

2. Mendorong diri untuk semakit dekat dan taat kepada Allah Swt.

3. Menambah kekusyukan dalam menjalankkan ibadah

4. Terhindar dari beberapa macam penyakit karena kurangnya kebersihan 5. Menumbuhkan kita menjalani hidup dengan lebih nyaman

(12)

DAFTAR PUSTAKA

http://repo.iain-tulungagung.ac.id/8632/5/BAB%20II.pdf

https://digilib.uinsuka.ac.id/id/eprint/47694/1/Fikih%20Materi%20Thaharah%20%28Bersuci%2 9%20Pendekatan%20Kontekstual.pdf

http://ejournal.iai-tribakti.ac.id/

(13)

LAMPIRAN

Referensi Buku:

Referensi

Dokumen terkait

Asa Di Waar yang merupakan pembacaan ayat dari isi kitab yang dilakukan pada ibadah masyarakat Sikh dapat penulis nyatakan sebagai bahan kajian etnomusikologi karena mengandung

a. Menentukan perbuatan-perbuatan yang tidak boleh dilakukan, yang dilarang, dengan disertai ancaman atau sanksi berupa pidana tertentu bagi barang siapa, yang melanggar

Hubungan manusia dengan Allah SWT secara vertikal, melalui ibadah, seperti: (a)Thaharah (Bersuci diri dari kotoran dan najis), tujuan : membiasakan manusia

Kejahatan jenis ini dilakukan dengan tujuan memalsukan data pada dokumen-dokumen penting yang ada di internet, Dokumen-dokumen ini biasanya dimiliki oleh institusi

Bisnis adalah usaha perdagangan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang terorganisasi untuk mendapatkan laba dengan memproduksi dan menjual barang atau jasa untuk memenuhi

Secara umum kondisi umat Islam ketika Muhammadiyah lahir dicirikan oleh hal- hal berikut : (a) Umat Islam tidak memegang teguh tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, sehingga

Asa Di Waar yang merupakan pembacaan ayat dari isi kitab yang dilakukan pada ibadah masyarakat Sikh dapat penulis nyatakan sebagai bahan kajian etnomusikologi karena mengandung

Dalam masalah ibadah para pelajar mungkin saja ketika dilakukan evaluasi (ulangan) dapat menjawab dengan tepat bahwa salat lima waktu itu hukumnya wajib bila