OLEH ISMAIL
Makalah DisusunUntuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Mediasi Dan Advokasi Hukum Keluarga
PASCA SARJANA
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PARE-PARE
2023
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT sebab karena limpahan rahmat hidayahnya Kami mampu untuk menyelesaikan Makalah Kami dengan Judul “Bentuk Dan Sumber Konflik Dalam Keluarga” ini. Shalawat serta salam tidak lupa kita kirimkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW sebagai
“King of the King, King of the World” yang telah menggulung tikar - tikar kejahiliaan dan mampu membentangkan tikar – tikar kebenaran. Berdasarkan petunjuk dan hidayah dari sang Pencipta yaitu Allah SWT yang maha pemurah lagi maha penyayang.
Selanjutnya dengan rendah hati Kami memohon kritik dan saran dari pembaca apabila terdapat hal yang ganjil, agar selanjutnya dapat Kami revisi kembali. Karena Kami menyadari bahwa kesempurnaan hanya milik sang Pencipta yaitu Allah SWT..
Demikianlah yang dapat Kami haturkan, Kami berharap supaya makalah yang telah Kami buat ini mampu memberikan manfaat kepada setiap pembacanya.Dan bernilai ibadah disisi Allah SWT.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Sengkang, 21 September 2023
Penulis,
i
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang... 1
B. Rumusan Masalah... 2
BAB II PEMBAHASAN... 3
A. Bentuk-bentuk keluarga yang ada dalam Masyarakat kontemporer... 3
B. Jenis-jenis konflik keluarga... 7
C. Dampak dan solusi dari konflik keluarga... 10
BAB III PENUTUP... 12
A. Kesimpulan... 12
B. Saran... 12
DAFTAR PUSTAKA... 13
ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keluarga memiliki peran dalam mencerminkan perilaku, karakteristik, dan kegiatan relevan dengan anggota dilokasi atau situasi tertentu.peran pribadi sebuah keluarga didasarkan pada harapan dan pola perilaku keluarga, kelompok dan Masyarakat.1
Dalam system keluarga terdapat beberapa fungsi diantaranya ialah fungsi keagamaan, fungsi social budaya, fungsi cinta dan kasih sayang, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan Pendidikan, fungsi ekonomi dan fungsi pembinaan lingkungan.2
Keluarga merupakan komponen pertama yang sangat penting untuk menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dengan tujuan agar dapat menumbuhkan kesejahteraan keluarga kedepannya. Selain itu, keluarga juga menjadi wadah pembentukan karakter dari suami dan istri yang memiliki pendiriannya masing-masing. Hal ini terkadang banyak menimbulkan kesenjangan dalam rumah tangga.
Setelah terjadinya kesenjangan rumah tangga seperti kurang harmonis, tidak memberi kasih sayang, atau bahkan berhenti memberi cinta. Dampaknya biasanya berimbas kepada buah hati atau anak. Anak akan sering menyendiri dikamar, mencari pergaulan diluar dan tidak mampu memilih teman.
Dampaknya anak bisa saja masuk pada pergaulan bebas, narkoba, miras, kekerasan fisik, mencuri atau bahkan dipidanakan atas pemerkosaan. Tidak menutup kemungkinan anak akan menyalahkan orang tuanya karena menganggap dirinya berbeda dengan teman sebayanya.
1 Siti Maryam & indani dkk. Ilmu kesejahteraan keluarga (aceh : Syiah Kual University Press, 2022) Cet. 1. Hlm 15
2 Nur Syamsi Norma Laila. Ilmu Keperawatan Komunitas Dan Keluarga.(Padang : PT Global eksekutif Teknologi, 2022) Cet. 1. Hlm 128-129
1
Sebagai solusi dari permasalahan orang tua harus memahami dan menurunkan ego mereka serta mendidik anak sesuai ajaran yang benar, memberikan anak pengertian dan tidak berseteru (bertengkar) didepan anak.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, penyusun membuat rumusan masalah sebagai barikut:
1. Bagaimana bentuk-bentuk keluarga yang ada dalam Masyarakat kontemporer?
2. Apa saja jenis-jenis konflik yang sering terjadi didalam keluarga?
3. Bagaimana dampak dan solusi dari konflik keluarga?
BAB II PEMBAHASAN
A. Bentuk-bentuk keluarga dalam masyrakat kontemporer
Keluarga sebagai satuan masyarakat terkecil memiliki struktur yang khas, diikat oleh aturan-aturan yang ada di Masyarakat umumnya secara ideal dibentuk melalui perkawinan. Oleh karena itu, setiap orang tidak dapat seenaknya dalam menentukan pilihan. Pasangan hidup yang diperoleh dari perkawinan merupakan pasangan resmi yang di akui Masyarakat sehingga setiap orang tidak dapat menggantikan pasangannya hanya dasar kebutuhan dan keinginan semata-mata.
Jika hal ini terjadi dimasyarakat, orang yang berbuat demikian akan tercela bahkan diasingkan dalam kehidupan sehari-hari karena dianggap melanggar norma dan nilai yang telah melembaga di Masyarakat.
Bentuk-bentuk keluarga dalam masyarakat kontemporer bervariasi dan telah mengalami perubahan seiring dengan perkembangan sosial, budaya, dan ekonomi. Beberapa bentuk keluarga yang ada di masyarakat kontemporer antara lain:
1. Keluarga Inti (Nuclear Family)
Didalam keluarga dikenal keluarga inti, yaitu keluarga yang terdiri atas orang tua (ayah dan ibu) dan anak-anaknya yang belum menikah. Anak sebagai anggota dari keluarga inti dapat saja merupakan anak kandung, anak tiri, atau anak angkat. Mereka Bersama-sama memelihara keutuhan rumah tangga sebagai suatu kesatuan social.
Keluarga inti biasanya disebut sebagai rumah tangga yang merupakan unit terkecil dalam Masyarakat sebagai tempat dan proses pergaulan hidup. Suatu keluarga inti dianggap system social karena tujuan, kaidah-kaidah, kependudukan dan peranan, tingkatan atau jenjang, sanksi, kekuasaan, dan fasilitas. 3
3 Bagja Waluya. Sosiologi: Menyelami Fenomena Social Di Masyarakat.( Bandung : PT.
Setia Purna Inves. 2004) Cet. 1. Hlm 39-40.
2. Keluarga Besar (Extended Family)
Terdiri dari beberapa generasi yang tinggal bersama, seperti kakek, nenek, ayah, ibu, anak-anak, serta kerabat lain yang tinggal satu atap.
Sebagian dari rumah tangga berbentuk keluarga, perbedaan antara keluarga inti dan keluarga besar merupakan salah satu hal yang penting. Termasuk dalam keluarga inti (nuclear family) yaitu satu atau lebih orang tua dan satu atau lebih anak hidup bersama dalam sebuah rumah tangga. Keluarga besar ( extended family) adalah sebuah keluarga inti ditambah dengan keluarga lainnya biasanya kakek atau nenek, yang tinggal dalam satu rumah tangga. 4 3. Keluarga Tunggal (Single Parent Family)
Keluarga Tunggal merupakan keluarga yang salah satu orantu yang tinggal Bersama anaknya (mungkin ibu atau ayah) dan bertanggung jawab sepenuhnya atas anak setelah kematian, perceraian, atau karena kelahiran anak diluar nikah5 serta orangtua (ibu atau ayah) yang sengaja mengadopsi anak.
4. Keluarga Tanpa Anak (Childfree Family)
“Keluarga tanpa anak" dalam bahasa Indonesia berarti sebuah keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri tanpa kehadiran anak. Ada banyak alasan mengapa suatu keluarga memilih untuk tidak memiliki anak, seperti keputusan pribadi, kondisi kesehatan, faktor ekonomi, atau lainnya.
Setiap pasangan memiliki hak untuk memutuskan apa yang terbaik bagi mereka, dan penting bagi masyarakat untuk menghargai dan menghormati keputusan tersebut.
5. Keluarga Homoseksual
Keluarga yang terdiri dari pasangan sesama jenis dan/atau anak-anak mereka. Seperti keluarga lainnya, keluarga homoseksual dapat mengalami cinta, dukungan, dan ikatan emosional yang sama. Namun, mereka mungkin juga menghadapi tantangan tertentu karena stigma dan diskriminasi
4 Nugroho j. Setiadi. Edisi revisi perilaku konsumen. (Jakarta; PT Kharisma Putra Utama, 2013) Cet. 5. Hlm 200
5 Fatchiah E. Kertamuda. Konseling Pernikahan Untuk Keluarga Indonesia. (Jakarta Selatan ; Salemba Humanika, 2023) Cet. 1. Hlm 59
5
terhadap orientasi seksual mereka di banyak masyarakat. Penting untuk menghargai dan mendukung semua jenis keluarga untuk mewujudkan masyarakat yang inklusif dan toleran.6
6. Keluarga Rekonstruksi (Blended Family atau Stepfamily) Keluarga yang dibentuk oleh duda dan janda yang menikah kembali dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya7
7. Keluarga Beda Agama atau Budaya
Keluarga beda agama merujuk kepada anggota keluarga yang memiliki keyakinan atau kepercayaan agama yang berbeda. Misalnya, ayah menganut agama Islam sementara ibu menganut agama Kristen. Hal ini bisa terjadi karena pernikahan antar-agama, konversi setelah menikah, atau adopsi anak . 2011dengan latar belakang agama yang berbeda. Dalam keluarga seperti ini, tantangan yang sering dihadapi adalah bagaimana menyatukan perbedaan dan memastikan agar setiap anggota keluarga mendapatkan kebebasan beragama serta menghormati keyakinan masing-masing.8
Keluarga beda budaya ialah anggota keluarga yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Ini bisa terjadi karena pernikahan antar- budaya, migrasi, atau adopsi anak dari latar belakang budaya yang berbeda.
Dalam keluarga semacam ini, perbedaan seperti bahasa, tradisi, makanan, dan norma sosial bisa menjadi hal yang khas. Tantangan yang sering dihadapi adalah bagaimana menggabungkan dan menghargai budaya masing-masing sambil menciptakan harmoni dalam keluarga. Namun, ini juga dapat menjadi kesempatan untuk belajar dan menghargai keragaman serta memperkaya pengalaman hidup.
8. Keluarga Komunal (Communal Family)
"Keluarga komunal" merupakan sekelompok individu yang hidup bersama sebagai satu unit keluarga tetapi tidak selalu terikat oleh hubungan darah atau perkawinan. Dalam struktur seperti ini, anggota-anggota keluarga
6 Sudaryanto. Buku Ajar Keperawatan Keluarga (Penayang; Guepedia. 2022) Cet. 1. Hlm 42
7 Ibid. hlm 40
8 Dr. Idi Warsah. Pendidikan Islam Dalam Keluarga (Yogyakarta; Tunas Gemilang Press.
2020) Cet. 1. Hlm 39
biasanya membagi tanggung jawab, sumber daya, dan tugas-tugas sehari-hari.
9 Mereka hidup bersama berdasarkan kesepakatan, nilai-nilai bersama, atau kebutuhan untuk dukungan dan komunitas.
Keluarga komunal bisa terbentuk karena berbagai alasan, Keinginan untuk hidup dengan biaya yang lebih rendah, Keinginan untuk memiliki dukungan emosional dan sosial yang lebih dekat, Nilai-nilai atau kepercayaan agama, Keinginan untuk hidup secara berkelanjutan atau dengan jejak karbon yang lebih kecil.
Dalam beberapa budaya atau komunitas, hidup secara komunal dianggap normal dan merupakan bagian dari tradisi. Namun, di tempat lain, itu mungkin dipandang sebagai alternatif dari norma keluarga inti tradisional.
9. Keluarga Jarak Jauh (Long-Distance Family)
Keluarga jarak jauh merujuk pada anggota keluarga yang hidup di lokasi yang berbeda dan tidak berdekatan satu sama lain. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai alasan, seperti pekerjaan, pendidikan, perkawinan, atau faktor lainnya. Teknologi modern, seperti telekomunikasi dan media sosial, sering memudahkan komunikasi dan interaksi antara anggota keluarga yang terpisah oleh jarak. Meskipun mereka mungkin tidak sering bertemu secara fisik, banyak keluarga jarak jauh tetap menjaga hubungan yang erat dan berkomunikasi secara reguler.
10. Kohabitasi
Kohabitasi merupakan hubungan di mana dua individu memilih untuk hidup bersama dalam satu rumah tangga tanpa status pernikahan resmi.
Dalam beberapa budaya dan masyarakat, kohabitasi dilihat sebagai langkah sebelum pernikahan, sedangkan di tempat lain, itu bisa menjadi pilihan jangka panjang tanpa keinginan untuk menikah.10
Ada berbagai alasan mengapa pasangan memilih untuk kohabitasi, Mengenal pasangan lebih dalam sebelum memutuskan untuk menikah, Alasan ekonomi, seperti berbagi biaya sewa atau hipotek, Keinginan untuk
9 Siti Maryam & Indani dkk. Ilmu Kesejahteraan Keluarga (Aceh; Syiah Kuala University Press. 2022) Cet 1. Hlm 14
10 Sri Lestari. Psikologi Keluarga (Jakarta; Charisma Putra Utama. 2012) Cet 4. Hlm 8
7
hidup bersama tanpa formalitas atau tanggungan hukum pernikahan, Hambatan hukum atau sosial untuk menikah, misalnya bagi pasangan dengan jenis kelamin yang sama di negara-negara yang tidak mengakui hak-hak LGBT.
Keluarga di atas menunjukkan bagaimana masyarakat kontempor mengakomodasi berbagai perubahan sosial dan kultural. Setiap bentuk keluarga memiliki kelebihan dan tantangannya masing-masing.
B. Jenis- jenis konfilk keluarga
Konflik dalam keluarga dapat muncul dalam berbagai bentuk dan sebab.
Berikut adalah beberapa jenis konflik keluarga yang umum terjadi:
1. Konflik Pasangan
Masalah dalam hubungan antara suami dan istri, seperti perselingkuhan, ketidaksetujuan tentang pendidikan anak, masalah keuangan, atau perbedaan pendapat.
Selain itu bila pasangan berdiam diri atau menguci diri, tidak mau berkomunikasi, Tindakan (solusi) marah tersinggung, atau mendiamkan agar terkesan adil, sesungguhnya, sikap yang disebutkan ini tidaklah membuat komunikasi diantara suami istri menjadi lebih baik atau terbuka. Justru sebaliknya, ini dapat membuat pasangan yang sudah menjadi pendiam makin bertambah diam atau malah timbul pertengkaran yang sebenarnya dapat dihindari oleh salah satu pihak.11
2. Konflik Antara Orangtua dan Anak
Semua orang tua pernah mengalami situasi dimana anak tidak juga mengubah tingkah laku mereka, sekalipun situasi sudah diubah dan anak sudah diajak berbicara, anak akan tetap melakukan hal-hal yang mengganggu kepentingan orangtua mereka. Situasi- situasi semacam ini tidak dapat diletakkan dalam hubungan antara orang tua dengan anak, karena anak mempunyai “kebutuhan” untuk bertingkah laku demikian, meskipun ia
11 Kisma Fawzea & Muhammad Iqbal. Pskologi Konflik ( Depok. Gema Insani. 2022) Cet 1. Hlm 132
menyadari tingkah lakunya itu mengganggu atau bertentangan dengan kebutuhan orang tua 12
Pertengkaran antara orang tua dan anak biasanya dikarenakan generasi, ekspektasi orangtua yang terlalu tinggi, atau perbedaan pendapat tentang pilihan hidup.
3. Konflik Antarsaudara
Orang tua berharap bahwa anak-anaknya saling menyayangi dan mengasihi. Rasa cemburu pada saudara dapat menimbukan konflik antarsaudara yang berdampak pada hubungan yang kurang harmonis. Anak menjadi sering bertengkar dengan saudaranya. Hal-hal kecil dapa menjadi masalah besar bagi anak yang sedang cemburu pada saudaranya. Sebagai contohnya, perbedaan warna mainan yang dibelikan oleh orang tua dapat menjadi sebab kecemburuan anak yang mengakibatkan timbulnya konflik.13 4. Konflik Multigenerasi
Konflik multigenerasi adalah benturan atau perbedaan pandangan antara generasi yang berbeda dalam hal nilai, keyakinan, perilaku, atau cara pandang terhadap sesuatu. Konflik ini sering terjadi di berbagai setting, seperti di tempat kerja, dalam keluarga, atau di masyarakat. Hal ini disebabkan oleh perbedaan pengalaman, teknologi, budaya, serta konteks sosial dan ekonomi yang dihadapi oleh masing-masing generasi selama masa pertumbuhannya.
Sebagai contoh, pendekatan Baby Boomers terhadap teknologi mungkin berbeda dengan Generasi Y atau Generasi Z. Mengatasi konflik multigenerasi memerlukan pemahaman dan komunikasi yang baik antar generasi.
5. Konflik Akibat Masalah Keuangan
Konflik masalah uang seringkali terjadi dalam berbagai konteks, baik di antara individu, dalam keluarga, pasangan, bahkan di antara negara atau organisasi. Uang seringkali menjadi sumber ketegangan karena ia terkait erat dengan kebutuhan dasar, keamanan, dan keinginan manusia. Konflik
12 Thomas Gordon. Menjadi orang tua efektif (Jakarta; PT Gramedia. 2009) cet 13. Hlm 149
13 Seto Mulyadi. Cerdas Emosi: Membantu Anak Balita Mengelola Amarahnya (PT. Gelora Aksara Pratama. 2004) Cet. 1. Hlm 43
9
keuangan dapat disimpulkan bahwa konflik muncul dikarenakan adanya kesalahpahaman pada situasi social tentang pokok-pokok pikiran tertentu dan adanya antagonism- antagonism emosional yang menyebabkan ketidaksesuaikan sehingga membuat perasaan marah, tidak percaya, tidak senang, takut, menentang dan terjadinya bentrokan.14
6. Konflik Akibat Perbedaan Nilai atau Agama
Konflik beragama merupakan ketegangan, perselisihan, atau pertentangan yang timbul antara individu atau kelompok berdasarkan perbedaan keyakinan, praktik, atau interpretasi agama. Masyrakat seakan lepas tanga dalam menyelesaikan konflik berbasis agama sehingga muncul perspektif bahwa pemerintah yang harus memutar otak dalam mewujudkan penyelesaian konflik yang sedang terjadi. 15Konflik semacam ini dapat muncul dalam skala kecil di antara individu atau kelompok kecil, atau dalam skala besar yang melibatkan komunitas, kelompok etnik, atau bahkan negara. Berikut beberapa aspek atau penyebab dari konflik beragama:
Doktrin dan Interpretasi
Praktik Ibadah
Isu-isu Sosial dan Budaya
Politik dan Kekuasaan
Konversi
Tempat Ibadah
Sejarah
Mengatasi konflik beragama memerlukan dialog antaragama, pemahaman, toleransi, dan pendidikan yang promosi kesetaraan dan menghargai keragaman.
Di banyak tempat, upaya-upaya mediasi dan inisiatif perdamaian dilakukan untuk meredakan ketegangan dan membangun hubungan yang lebih harmonis antara kelompok-kelompok agama yang berbeda.
14 Rusyidi Fauzan. Manajemen Konflik (Sumatera Barat; PT Global Eksekutif Teknologi.
2022) Cet 1. Hlm 62
15 Muwaffiq Jufri. Metode Penyelesaian Konflik Agama Optic, Ham Dan Kearifan Local (Surabaya, Scopindo. 2021) Cet 1. Hlm 137
Dalam menghadapi konflik keluarga, komunikasi yang efektif, empati, dan kesediaan untuk mendengarkan dan berkomitmen terhadap solusi bersama seringkali menjadi kunci dalam mencapai resolusi. Jika diperlukan, mediasi dari pihak ketiga seperti konselor atau terapis keluarga bisa membantu dalam menyelesaikan konflik.
C. Dampak dan solusi konflik keluarga
Dampak dari konflik keluarga bisa beragam dan dapat mempengaruhi setiap anggota keluarga dengan cara yang berbeda. Berikut adalah beberapa dampak umum dari konflik keluarga:
1. Dampak Konflik Keluarga
Kesehatan Mental : Dapat menyebabkan stres, kecemasan, depresi, dan gangguan mental lainnya.
Kesehatan Fisik : Stres berlarut-larut bisa mempengaruhi tidur, sistem kekebalan tubuh, dan meningkatkan risiko penyakit jantung atau kondisi kesehatan lainnya.16
Perkembangan Anak : Anak-anak yang terpapar konflik keluarga dapat mengalami gangguan perkembangan emosi, sosial, dan akademik.17
Hubungan Antar Anggota Keluarga : Konflik dapat mempengaruhi dinamika hubungan, mengurangi kedekatan dan keharmonisan.
Keuangan : Konflik terkait masalah keuangan bisa memperburuk kondisi ekonomi keluarga.
2. Solusi untuk Konflik Keluarga:
Komunikasi antara ayah, ibu dan anak sering menciptakan suasana konflik yang tidak berkesudahan dan penyebab konfilk tersebut sangat beragam. Solusi konflik tersebut adalah komunikasi yang baik, penuh pengertian, saling mengahrgai, selalu membahagiakan.
16 Jejn Musfah. Kepemimpinan Pendidikan (Jakarta; Kencana. 2022) Cet 1. Hlm 90 17 Ibid Hlm 91
11
Interaksi antara orang tua tidak cukup hanya berdasarkan niat baik.
Masing-masing harus memiliki kesabaran untuk menjelaskan isi hatinya.
Banyak sekali konflik rumah tangga terjadi karena kekeliruan berkomunikasi. Konflik di dalam keluarga dapat mendorong anggota keluarga dapat merasa frustasi, sehingga memilih minum keras sebagai solusi. Biasanya yang paling rentang adalah anak.18
Dalam situasi di mana konflik telah mencapai tingkat yang merusak atau berbahaya, mungkin diperlukan intervensi profesional atau hukum untuk melindungi anggota keluarga yang terlibat.
18 Danik Ermilasari,Dkk. Problematika (Semarang, Forum Muda Cendekia. 2019) Cet. 1 Hlm 306
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Keluarga merupakan komponen pertama yang sangat penting untuk menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dengan tujuan agar dapat menumbuhkan kesejahteraan keluarga kedepannya. Selain itu, keluarga juga menjadi wadah pembentukan karakter dari suami dan istri yang memiliki pendiriannya masing-masing. Hal ini terkadang banyak menimbulkan kesenjangan dalam rumah tangga.
Setelah terjadinya kesenjangan rumah tangga seperti kurang harmonis, tidak memberi kasih sayang, atau bahkan berhenti memberi cinta. Dampaknya biasanya berimbas kepada buah hati atau anak. Anak akan sering menyendiri dikamar, mencari pergaulan diluar dan tidak mampu memilih teman.
Dampaknya anak bisa saja masuk pada pergaulan bebas, narkoba, miras, kekerasan fisik, mencuri atau bahkan dipidanakan atas pemerkosaan. Tidak menutup kemungkinan anak akan menyalahkan orang tuanya karena menganggap dirinya berbeda dengan teman sebayanya.
Solusi konflik tersebut adalah komunikasi yang baik, penuh pengertian, saling mengahrgai, selalu membahagiakan.
B. Saran
Manusia diciptakan dengan fitrah yang cenderung untuk bersosialisasi dengan membangun hubungan. Maka, diharapkan dengan hal tersebut manusia dapat saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
Islam mendorong komunikasi yang positif antara sesama manusia, serta menghindari fitnah, gossip, dan hal-hal negative lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Bagja Waluya. Sosiologi: Menyelami Fenomena Social Di Masyarakat.( Bandung : PT. Setia Purna Inves. 2004) Cet. 1. Hlm 39-40.
Dr. Idi Warsah. Pendidikan Islam Dalam Keluarga (Yogyakarta; Tunas Gemilang Press. 2020) Cet. 1. Hlm 39
Fatchiah E. Kertamuda. Konseling Pernikahan Untuk Keluarga Indonesia.
(Jakarta Selatan ; Salemba Humanika, 2023) Cet. 1. Hlm 59
Jejn Musfah. Kepemimpinan Pendidikan (Jakarta; Kencana. 2022) Cet 1. Hlm 90- 91
Kisma Fawzea & Muhammad Iqbal. Pskologi Konflik ( Depok. Gema Insani.
2022) Cet 1. Hlm 132
Muwaffiq Jufri. Metode Penyelesaian Konflik Agama Optic, Ham Dan Kearifan Local (Surabaya, Scopindo. 2021) Cet 1. Hlm 137
Nugroho j. Setiadi. Edisi revisi perilaku konsumen. (Jakarta; PT Kharisma Putra Utama, 2013) Cet. 5. Hlm 200
Nur Syamsi Norma Laila. Ilmu Keperawatan Komunitas Dan Keluarga.(Padang : PT Global eksekutif Teknologi, 2022) Cet. 1. Hlm 128-129
Rusyidi Fauzan. Manajemen Konflik (Sumatera Barat; PT Global Eksekutif Teknologi. 2022) Cet 1. Hlm 62
Seto Mulyadi. Cerdas Emosi: Membantu Anak Balita Mengelola Amarahnya (PT.
Gelora Aksara Pratama. 2004) Cet. 1. Hlm 43
Siti Maryam & Indani dll. Ilmu Kesejahteraan Keluarga (Aceh; Syiah Kuala University Press. 2022) Cet 1. Hlm 14
Siti Maryam, indani, & zuraini mahyiddin. Ilmu kesejahteraan keluarga (aceh : Syiah Kual University Press, 2022) Cet. 1. Hlm 15
Sri Lestari. Psikologi Keluarga (Jakarta; Charisma Putra Utama. 2012) Cet 4. Hlm 8
Sudaryanto. Buku Ajar Keperawatan Keluarga (Penayang; Guepedia. 2022) Cet.
1. Hlm 40-42
Thomas Gordon. Menjadi orang tua efektif (Jakarta; PT Gramedia. 2009) cet 13.
Hlm 149