HUKUM KESEHATAN INTERNASIONAL
MAKALAH
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Hukum Internasional yang diampu oleh Dr. Ine Fauzia S.H., M.Sc.
Disusun oleh:
Mochamad Rif’at Denasetya 1223050097 Muhamad Adi Darmawan 1223050102 Muhammad Azaria Kanigara 1223050108 Nailah Sarah Salsabilah 1223050122 Navaratu Annisa Devi 1223050129
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS SYARIAH & HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur mari kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Makalah ini berjudul “Hukum Kesehatan Internasional” disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Internasional yang diampu oleh Ibu Dr. Ine Fauzia S.H., M.Sc.
Makalah ini mengupas tentang Hukum Kesehatan Internasional. Semoga apa yang disampaikan melalui makalah ini dapat menambah wawasan kepada para pembaca khususnya untuk penulis sebagai penyusun makalah. Meski telah disusun secara maksimal, namun penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat diharapkan.
Waalaikumsalam Wr. Wb.
Bandung, 17 November 2023
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, karena itu kesehatan merupakan hak bagi setiap warga masyarakat yang dilindungi oleh Undang-Undang. Setiap negara mengakui bahwa kesehatan menjadi modal terbesar untuk mencapai kesejahteraan.
Dalam konteks asasi, kesehatan merupakan hak setiap orang dengan Negara yang wajib menghormati, menjunjung dan melindungi.1
Di zaman globalisasi seperti ini apa saja dapat terjadi pada ruang lingkup manusia di seluruh dunia, termasuk permasalahan kesehatan di ruang lingkup internasional. Mengenai permasalahan yang sering terjadi sedikitnya telah menimbulkan permasalahan bagi dunia internasional. Sebagai masalah yang menjadi isu internasional, masalah di bidang kesehatan atau membahas mengenai penyakit juga telah mempengaruhi atau meresahkan masyarakat di berbagai negara. Isu kesehatan menjadi masalah internasional yang perlu mendapatkan perhatian karena selain pendidikan, kesehatan juga menjadi penentu kualitas seseorang, dimana nanti nya kesehatan suatu bangsa akan turut juga menentukan masa depan bangsa tersebut. Hal ini dikarenakan isu ini terkait dengan aspek pembangunan.
Suatu negara dapat melaksanakan pembangunan dengan sukses apabila tingkat kesehatan masyarakat di negara tersebut baik, karena bagaimanapun juga yang melaksanakan pembangunan adalah masyarakatnya sendiri, untuk itulah mengapa isu kesehatan ini perlu mendapatkan perhatian yang lebih. Pemerintah negara-negara di dunia perlu untuk mengadakan kerjasama dengan berbagai pihak untuk dapat secara bersamasama menghadapi masalah kesehatan yang semakin kompleks. Keterlibatan dari aktor-aktor negara maupun non- negara juga diperlukan dalam peranannya untuk menangani kasus yang terjadi.
Salah satu upaya untuk mencari jalan keluar dari masalah-masalah internasional adalah dengan dibentuknya organisasi internasional. Organisasi internasional yang berguna untuk mencapai kompromi dan meningkatkan kesejahteraan serta memecahkan permasalahan pada skala nasional maupun internasional. Salah satu organisasi internasional yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani masalah kesehatan dunia adalah World Health Organizaation (WHO).
1 Pengantar Hukum Kesehatan and Remadja Karya, ‘Pengantar Hukum Kesehatan. Bandung: Remadja Karya (1987).’, 1987, 1–56.
WHO bertugas dalam mengarahkan dan mengkoordinasikan kegiatan kesehatan internasional, guna mencapai tujuannya yaitu pencapaian tingkat kesehatan setinggi mungkin oleh semua bangsa. Untuk mencapai tujuan tersebut, organisasi ini berusaha untuk menggalakkan riset, menghimpun, dan menyebarkan informasi serta memacu terlaksananya kerjasama teknis dibidang kesehatan, sehingga sukses mencapai sasaran yang ditetapkan. WHO sebagai organisasi internasional merupakan bagian integral dari PBB yang menangani masalah kesehatan dunia.2 WHO merasa perlu untuk turun tangan di dalam mengatasi masalah kesehatan karena kesehatan merupakan hak asasi yang dimiliki oleh setiap orang, dimana setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan, baik secara fisik maupun mental. Hal ini menunjukan bahwa kesehatan merupakan suatu masalah penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, dimana saat ini yang menjadi masalah kesehatan semakin mendapatkan perhatian yang lebih dan mendapatkan pengakuan dari dunia internasional.
World Health Organization atau yang dikenal sebagai WHO merupakan organisasi internaisonal yang dibentuk pada 7 April 1948 terdiri atas World Health Assembly dan Executive Board yang memiliki tanggung jawab dalam mengarahkan dan memberikan kebijakan mengenai penanganan kesehatan masyarakat dunia.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu Hukum Kesehatan Internasional?
2. Dasar hukum apa yang digunakan dalam Hukum Kesehatan Internasional?
3. Perjanjian internasional apa saja yang menjadi dasar dalam diberlakukannya Hukum Kesehatan Internasional?
4. Bagaimana penerapan Hukum Kesehatan Internasional saat ini?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu Hukum Kesehatan Internasional.
2. Untuk mengetahui dasar hukum apa yang digunakan dalam Hukum Kesehatan Internasional.
3. Untuk mengetahui perjanjian internasional apa saja yang menjadi dasar dalam diberlakukannya Hukum Kesehatan Internasional.
4. Untuk mengetahui bagaimana penerapan Hukum Kesehatan Internasional saat ini.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Hukum Kesehatan Internasional 2.2 Dasar Hukum Hukum Kesehatan Internasional
Hukum Internasional atau Internasional Law pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli hukum asal Inggris, Jeremy Bentham. Istilah Hukum Internasional sepadan dengan Hukum Bangsa- Bangsa atau yang dikenal sebagai the law of nation yang mana, istilah ini juga digunakan oleh dua tokoh lainnya yaitu James L. Brierly dan Daniel Patrick Moynihan3. Secara luas, Hukum Internasional terbagi menjadi dua yaitu pertama, Hukum Internasional Publik yang di dalamnya mengatur hubungan antara negara dan subjek hukum dan kedua, Hukum Internasional Privat yang mengatur hubungan antara individu atau lembaga hukum dari negara-negara yang berbeda4.
Selain itu Hukum Internasional juga dapat dimaknai sebagai keseluruhan hukum yang terdiri atas prinsip dan kaidah perilaku untuk ditaati secara umum yang meliputi :
1. Aturan hukum yang berkaitan dengan fungsi badan atau organisasi internasional, hubungan satu sama lain antara keduanya dan hubungan negara dengan individu
2. Aturan hukum yang berkaitan dengan indivudu dengan lembaga non negara seputar dengan hak dan kewajiban bagi kepentingan masyarakat internasional5.
Pada umumnya, Hukum Internasional dikenal sebagai Hukum Publik Internasional yang mana ruang lingkupnya hanya membahas seputar kenegaraan dan perjanjian internsional saja namun dalam praktiknya, ruang lingkup Hukum Internasional memiliki jangkauan yang luas dan tidak hanya terbatas pada negara saja. Hukum Internasional juga mengatur persoalan sosial lainnya hal tersebut dapat dibuktkan dengan terbentuknya Hukum Perdagangan Internasiona, Hak Asasi Manusia dan Hukum Kesehatan Internasional yang akan dibahas dalam karya tulis ini.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sehat berarti suatu keadaan atau kondisi seluruh badan serta bagian-bagiannya terbebas dari sakit. Sementara itu, dalam Undang-Undang Kesehatan N0. 23 tahun 1992 sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan seseorang dapat hidup secara sosial dan ekonomis. Adapun makna sehat menurut World Health Organization (WHO) ialah “keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat.” Sehat bukan sekedar terbebas dari penyakit atau cacat sebab seseorang yang tidak berpenyakit pun tentunya belum tentu dikatakan sehat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sehat ialah suatu keadaan dimana keadaan fisik, mental dan sosial seseorang memungkinkan untuk hidup produktif.
3 [ CITATION Mah08 \l 1033 ] 4 [ CITATION Ist94 \l 1033 ] 5 [ CITATION Mah08 \l 1033 ]
Hukum Kesehatan termasuk ke dalam hukum lex specialis yang secara khusus melindungi lingkup Kesehatan dalam skema layanan kesehatan manusia yang bertujuan untuk memberikan perlindungan terhadap pasien secara khusus agar mendapatkan pelayanan medis sebab, di dalam Hukum Kesehatan mengatur mengenai hak-hak tersebut.
Hukum Kesehatan Internasional atau yang dikenal sebagai Internasional Health Regulation (IHR) merupakan instrument utama hukum internasional yang mengurus penyebaran penyakit secara global sekaligus yang menjadi landasan bagi World Health Organization (WHO)6. Kesehatan berkedudukan sebagai hak dasar bagi setiap orang yang harus dilindungi. Pada tahun 1948 negara- negara telah mengesahkan Universal Declaration of Human Rights melalui Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB). Di dalamnya mengatur tentang ha katas Kesehatan sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 25 menyatakan bahwa, “Everyone has the right to a standard of living adequate for the health and wellbeing of himself and of his family, including food, clothing, housing and medical care and necessary social services, and the right to security in the event of unemployment, sickness, disability, widowhood, old age or other lack of livelihood in circumstances beyond his control.” Hak yang disebutkan di dalam Pasal tersebut melekat dengan pengakuan bahwa dasar untuk mencapai perdamaian dan keamanan adalah Kesehatan semua orang.
Dalam Upaya menjamin keamanan Kesehatan, World Health Assembly atau WHA yang merupakan lembaga di bawah WHO menjadikan IHR pada 23 Mei 2005 (Plotkin B, 2007). IHR mengemban langkah perbaikan penting dalam melindungi kesehatan masyarakat secara global (Baker, 2006) dan merupakan salah satu bagian dari proses peninjauan dan perkembangan dalam hukum internasional dan kesehatan masyakarat global yang dimana, IHR hadir pada saat kondisi kesehatan masyarakat, keamanan dan demokrasi sudah menjadi pembahasan internasional yang saling berhubungan. Pada masa restorasi hukum internasional, IHR sering menjadi kontoversi yang diawasi secara ketat sejak berakhirnya Sindrom Pernafasan Akut (SARS) yang terjadi di China dan beberapa negara lainnya (Fidler, 2008). Pada saat itu, IHR menjadi satu-satunya traktat yang secara tegas mengatur mengenai kewajiban negara kepada masyarakat mengenai penyebaran penyakit menular. Spesialis kesehatan masyarakat berpandangan bahwa IHR dibutuhkan guna membantu masyarakat global dalam memberikan perlindungan dari penyakit menular.
Hukum Kesehatan Internasional telah mengalami beberapa perubahan salah satu diantaranya ialah ekspansi hak asasi manusia internasional atas kesehatan yang pada dasarnya, IHR ini memiliki peran dalam menertibkan negara-negara termasuk di dalamnya Indonesia dan WHO untuk bersama-sama membenahi penyebaran penyakit global serta menghindari kekacauan dalam lalu lintas dan perdagangan internasional. Pada dasarnya, Internasional Health Regulation merupakan sebuah perjanjian (treaties) sebab dalam proses pembentukannya melewati tiga tahap yaitu perundingan, penandatanganan dan pengesahan. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 26 Konvensi Wina tentang Hukum Perjanjian yang berbunyi, “Tiap-tiap perjanjian yang berlaku mengikat negara-negara pihak dan harus dilaksanakan dengan itikad baik.” Dalam Pasal 19 Konstitusi WHO dikatakan bahwa, “The Health Assembly shapp have authority to adopt conventions or agreements with respect to any matter within the competence of the Organization.
A two-thirds vote of the Health Assembly shall be reqruied for the adoption of such conventions or agreements, which shapp come Into Dorce for each Member when accepted hy it in accordqnce with its constituional processes.”
Oleh sebab itu, secara resmi pada tanggal 23 Mei 1950, Indonesia resmi bergabung menjadi salah satu anggota WHO dan sebagai salah satu bentuk peraturan yang dibuat oleh WHO, Indonesia memiliki kewajiban untuk mematuhi IHR sebab peraturan tersebut memiliki kekuatan yang mengikat terhadap Indonesia. Namun kenyataannya, belum ada keputusan presiden ataupun undang-undang yang menetapkan IHR ini. Akan tetapi, di sisi lain Indonesia telah melaksanakan bentuk pemenuhan kewajiban terkait dengan penerapan IHR yaitu mengaplikasikan IHR secara komprehensif pada tahun 2014 yang mana pengimplementasian IHR dalam hukum nasional di Indonesia dapat dilihat dalam beberapa Undang-Undang diantaranya :
1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1962 tentang Karantina Laut 2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1962 tentang Karantina Udara
3. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan.
Tidak adanya ketetapan terhadap IHR akan memicu negara menjadi tidak mematuhi perjanjian dari Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 11 ayat (2) yang berbunyi, “Presiden dalam menguat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas sudah mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.”
2.3 Subjek dan Objek Hukum Kesehatan Internasional 2.4 Penerapan Hukum Kesehatan Internasional
2.5 Ratifikasi di Indonesia