• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Kelompok 8 Puasa Wajib dan Sunnah

N/A
N/A
Dandri Setiawan

Academic year: 2024

Membagikan "Makalah Kelompok 8 Puasa Wajib dan Sunnah"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

PUASA WAJIB DAN SUNNAH

Diajukan Guna Memenuhi Ujian Akhir Mata pada mata kuliah : FIQH

Dosen Pengampu ; Dr. Anton Akbar, M.Ag

Disusun oleh :

Dinda Zahria Triyandini 2316050091 Dea Ananda Putri 2316050073

PROGAM STUDI PERBANKAN SYARIAH C FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI IMAM BONJOL PADANG 2023 M/1446 H

(2)

2

KATA PENGANTAR ِمْي ِح َّرلا ِنَمْح َّرلا ِ هاللّ ِمْسِب

Alhamdulillah puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Puasa Wajib dan Sunnah ” dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.

Harapan penulis semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik. Makalah ini penulis akui masih banyak kekurangannya karena pengalaman yang penulis miliki sangatlah kurang. Oleh karena itu penulis harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah.

Demikian makalah ini saya buat, apabila terdapat kesalahan dalam penulisan ataupun adanya ketidaksesuaian materi yang saya angkat pada makalah ini saya mohon maaf. Penulis menerima kritik dan saran seluas luasnya dari pembaca agar bisa membuat karya makalah yang lebih baik lagi kedepannya.

Padang, 04 September 2024

Penulis

(3)

3 DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 2

DAFTAR ISI ... 3

BAB 1 PENDAHULUAN ... 4

A. Latar Belakang ... 4

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan ... 5

BAB 2 PEMBAHASAN ... 6

A. Puasa Wajib dan Sunnah ... 6

1. Puasa Wajib ... 6

2. Puasa Sunnah ... 6

B. Rukun dan Syarat Sah Puasa ... 7

1. Rukun-Rukun Puasa ... 7

2. Syarat Sah Puasa ... 7

C. Pembatal Puasa dan Kaffarah ... 7

1. Pembatal-Pembatal Puasa ... 7

2. Kaffarah ... 11

D. Puasa Ramadhan. Puasa Sunnah dan Masalah Kontemporernya ... 13

1. Puasa Ramadhan ... 13

2. Puasa Sunnah ... 13

3. Masalah Kontemporer ... 15

BAB 3 PENUTUP ... 18

A. KESIMPULAN ... 18

DAFTAR KEPUSTAKAAN ... 19

(4)

4 BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Puasa adalah salah satu ibadah yang memeiliki tempat istimewa dalam ajaran islam. Sebagai salah satu dari lima rukun islam, puasa memiliki peran sentral dalam kehidupan seorang Muslim. Puasa, yang secara harfiah berarti menahan diri, tidak hanya mengajarkan untuk menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga mengajarkan kesabaran, ketekunan dan peningkatan spiritual.

Dalam praktiknya, puasa terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu puasa wajib dan puasa sunnah. Puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, adalah ibadah yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat. Pelaksanaan puasa Ramadhan memiliki tujuan utama untuk meningkatkan ketakwaan. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 183. Di sisi lain, puasa sunnah adalah puasa yang dianjurkan untuk dilaksanakan di luar bulan Ramadhan. Meski sifatnya tidak wajib, puasa sunnah memiliki keutamaan tersendiri dan menjadi sarana bagi umat Muslim untuk memperbanyak amalan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Latar belakang penulisan makalah ini adalah untuk memperdalam pemahaman mengenai puasa wajib dan sunnah, serta menjelaskan perbedaan antara keduanya.

Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat, pemahaman yang baik tentang ibadah puasa, baik wajib maupun sunnah, sangat penting untuk memeastikan bahwa pelaksanaannya sesuai dengan tuntutan syariat islam. Melalui makalah ini, diharapkan pembaca dapat memahami secara lebih mendalam hakikat, hukum, serta keutamaan dari puasa wajib dan sunnah, sehingga dapat menjalankannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas ada beberapa masalah yang dihadapi yaitu diantaranya :

1. Apa pengertian dari puasa wajib dan puasa sunnah dalam ajaran islam?

2. Apa saja rukun dan syarat sah puasa, baik untuk puasa wajib maupun sunnah?

3. Apa saja hal hal yang dapat membatalkan puasa dan bagaimana cara membayar kaffarah bagi yang melanggar aturan puasa?

(5)

5

4. Bagaimana pelaksanaan puasa wajib, serta apa saja jenis-jenis puasa sunnah yang dianjurkan dalam Islam?

5. Apa saja isu-isu kontemporer yang terkat dengan pelaksanaan puasa, dan bagaimana Solusi yang sesuai dengan ajaran islam?

C. Tujuan

Dari rumusan masalah diatas ada beberapa tujuan yang dihadapi yaitu diantaranya :

1. Untuk memahami pemahaman yang jelas mengenai pengertian puasa wajib dan sunnah dalam islam.

2. Untuk menjelaskan secara rinci rukun dan syarat sah puasa, serta pentingnya memenuhi ketentuan ini dalam pelaksanaan ibadah puasa.

3. Untuk menguraikan hal-hal yang dapat membatalkan puasa dan menjelaskan ketentuan mengenai kaffarh bagi yang melanggar, sesuai dengan syariat islam.

4. Untuk membahas pelaksanaan puasa Ramadhan sebagai kewajiban umat Muslim serta memperkenalkan berbagai jennis puasa sunnah yang dianjurkan.

5. Untuk mengidentifikasi dan menganalisis isu-isu kontemporer terkait puasa, serta memberikan Solusi yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

(6)

6 BAB 2 PEMBAHASAN

A. Puasa Wajib dan Sunnah

Puasa menurut bahasa adalah menahan diri dari sesuatu baik dari makanan atau berbicara. Menurut bahasa arab orang menahan diri untuk tidak berbicara juga disebut berpuasa. Adapun puasa menurut agama adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya mulai dari terbitnya fajar shodiq (masuknya waktu subuh) hingga terbenamnya matahari (masuknya waktu maghrib).1

1. Puasa Wajib

Puasa wajib adalah puasa yang harus dikerjakan oleh seorang Muslim berdasarkan perintah Allah, dan meninggalkannya dapat mengakibatkan dosa.

Dalam konteks Ramadhan, puasa ini berlangsung selama 30 hari, di mana umat Islam menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri dari fajar hingga terbenam matahari.2

Dalil yang mendasari kewajiban puasa Ramadhan terdapat dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, yang menyatakan:

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Puasa Ramadhan termasuk dalam rukun Islam yang kelima, yang menunjukkan betapa pentingnya ibadah ini dalam kehidupan seorang Muslim.

2. Puasa Sunnah

Puasa sunnah merupakan salah satu amalan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw dan dikerjakan secara sukarela oleh umat Islam dengan harapan mendapat pahala dari Allah SWT. Keutamaan puasa sunnah tentu memiliki kekhasan sendiri yang berbeda kuatamaan puasa wajib seperti puasa di bulan Ramadhan. Berikut beberapa keutamaan dari puasa sunnah sebagaimana dikutip dari berbagai sumber:

a. Mendekatkan diri kepada Allah SWT.

b. Membersihkan jiwa dan tubuh dari dosa.

c. Menjadi amalan yang diperhitungkan di sisi Allah SWT.

1 Buya Yahya, Fiqih Puasa Praktis, (Cirebon:2020) hal 7

2 1. Gramedia, "Macam-Macam Puasa Wajib yang Wajib Anda Ketahui,"

https://www.gramedia.com/literasi/macam-puasa-wajib/. diakses 2 September 2024.

(7)

7

d. Mencontoh dan mengikuti segala amalan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.3

B. Rukun dan Syarat Sah Puasa

1. Rukun-Rukun Puasa Rukun-rukun puasa ialah:

a. Niat di dalam hati

b. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar sampai waktu berbuka puasa.4

2. Syarat Sah Puasa Syarat sah puasa ialah:

a. Islam.

b. Berakal (mumayiz).

c. Tidak mempunyai keuzuran yang menghalangnya daripada berpuasa seperti haid atau nifas, pingsan (sepanjang hari) atau gila. 5

C. Pembatal Puasa dan Kaffarah 1. Pembatal-Pembatal Puasa

Berikut adalah penjelasan mengenai pembatal-pembatal puasa.

a. Makan dan minum dengan sengaja

Hal ini merupakan pembatal puasa berdasarkan kesepakatan para ulama.

Makan dan minum yang dimaksudkan adalah dengan memasukkan apa saja ke dalam tubuh melalui mulut, baik yang dimasukkan adalah sesuatu yang bermanfaat (seperti roti dan makanan lainnya), sesuatu yang membahayakan atau diharamkan (seperti khomr dan rokok), atau sesuatu

3 Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), "Puasa Sunnah: Keutamaan, Jenis, dan Panduan Pelaksanaannya," https://baznas.go.id/artikel-show/Puasa-Sunnah:-Keutamaan,-Jenis,-dan- Panduan-Pelaksanaannya/366 diakses September 2, 2024..

4 Vini Wela Septiana, Sekar Harum Pertiwi, Esti Wulandari, Metriani Septria, dan Guesa Maiwinda, “Kaji Ulang:Puasa Wajib dan Puasa Sunnah,” Jurnal Media Ilmu, Vol. 3 No. 1, (2024):hal 100.

5 Vini Wela Septiana, Sekar Harum Pertiwi, Esti Wulandari, Metriani Septria, dan Guesa Maiwinda, “Kaji Ulang:Puasa Wajib dan Puasa Sunnah,” Jurnal Media Ilmu, Vol. 3 No. 1, (2024):hal 102.

(8)

8

yang tidak ada nilai manfaat atau bahaya (seperti potongan kayu). Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وُّمِتَأ َّمُث ِرْجَفْلا َنِم ِد َوْسَ ْلْا ِطْيَخْلا َنِم ُضَيْبَ ْلْا ُطْيَخْلا ُمُكَل َنَّيَبَتَي ىَّتَح اوُب َرْشا َو اوُلُك َو ا

ِلْيَّللا ىَلِإ َماَيه ِصلا

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187).

b. Muntah dengan sengaja

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ِضْقَيْلَف َءاَقَتْسا ِنِإ َو ٌءاَضَق ِهْيَلَع َسْيَلَف ٌمِئاَص َوُه َو ٌءْىَق ُهَع َرَذ ْنَم

“Barangsiapa yang dipaksa muntah sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qada baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qada. ”

c. Haid dan nifas

Apabila seorang wanita mengalami haid atau nifas di tengah-tengah berpuasa baik di awal atau akhir hari puasa, puasanya batal. Apabila dia tetap berpuasa, puasanya tidaklah sah. Ibnu Taimiyah mengatakan,

“Keluarnya darah haid dan nifas membatalkan puasa berdasarkan kesepakatan para ulama.”

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَهِنيِد ِناَصْقُن ْنِم َكِلَذَف « َلاَق . ىَلَب َنْلُق . » ْمُصَت ْمَل َو هِلَصُت ْمَل ْتَضاَح اَذِإ َسْيَلَأ »

“Bukankah kalau wanita tersebut haid, dia tidak salat dan juga tidak menunaikan puasa?” Para wanita menjawab, “Betul.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah kekurangan agama wanita.

d. Keluarnya mani dengan sengaja

Artinya mani tersebut dikeluarkan dengan sengaja tanpa hubungan jima’

seperti mengeluarkan mani dengan tangan, dengan cara menggesek-gesek kemaluannya pada perut atau paha, dengan cara disentuh atau dicium. Hal ini menyebabkan puasanya batal dan wajib mengqada, tanpa menunaikan kafarah. Inilah pendapat ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah. Dalil hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

(9)

9

ىِلْجَأ ْن ِم ُهَت َوْهَش َو ُهَبا َرَش َو ُهَماَعَط ُك ُرْتَي

“(Allah Ta’ala berfirman): ketika berpuasa ia meninggalkan makan, minum dan syahwat karena-Ku”. Mengeluarkan mani dengan sengaja termasuk syahwat, sehingga termasuk pembatal puasa sebagaimana makan dan minum.

e. Berniat membatalkan puasa

Jika seseorang berniat membatalkan puasa sedangkan ia dalam keadaan berpuasa. Jika telah bertekad bulat dengan sengaja untuk membatalkan puasa dan dalam keadaan ingat sedang berpuasa, maka puasanya batal, walaupun ketika itu ia tidak makan dan minum. Karena Nabi shallallahu

‘alaihi wa sallam bersabda,

ى َوَن اَم ٍئ ِرْما هِلُكِل اَمَّنِإ َو

“Setiap orang hanyalah mendapatkan apa yang ia niatkan. ” Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa berniat membatalkan puasa sedangkan ia dalam keadaan berpuasa, maka puasanya batal.” Ketika puasa batal dalam keadaan seperti ini, maka ia harus mengqada puasanya di hari lainnya.

f. Jima ’(bersetubuh) di siang hari

Berjima ’dengan pasangan di siang hari bulan Ramadan membatalkan puasa, wajib mengqada dan menunaikan kafarah. Namun hal ini berlaku jika memenuhi dua syarat: (1) yang melakukan adalah orang yang dikenai kewajiban untuk berpuasa, dan (2) bukan termasuk orang yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa. Jika seseorang termasuk orang yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa seperti orang yang sakit dan sebenarnya ia berat untuk berpuasa namun tetap nekad berpuasa, lalu ia menyetubuhi istrinya di siang hari, maka ia hanya punya kewajiban qada dan tidak ada kafarah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

هِىِبَّنلا َدْنِع ٌسوُلُج ُنْحَن اَمَنْيَب– ملسو هيلع الله ىلص– َلوُس َر اَي َلاَقَف ، ٌلُج َر ُهَءاَج ْذِإ ِ َّاللّ ُلوُس َر َلاَقَف . ٌمِئاَص اَنَأ َو ىِتَأ َرْما ىَلَع ُتْعَق َو َلاَق . » َكَل اَم « َلاَق . ُتْكَلَه ِ َّاللّ–

ملسو هيلع الله ىلص– ْنَأ ُعيِطَتْسَت ْلَهَف « َلاَق . َلا َلاَق . » اَهُقِتْعُت ًةَبَق َر ُد ِجَت ْلَه «

. َلا َلاَق . » اًنيِكْسِم َنيهِتِس َماَعْطِإ ُد ِجَت ْلَهَف « َلاَقَف . َلا َلاَق . » ِنْيَعِباَتَتُم ِنْي َرْهَش َموُصَت

(10)

10

ُّىِبَّنلا َثَكَمَف َلاَق– ملسو هيلع الله ىلص– ُّىِبَّنلا َىِتُأ َكِلَذ ىَلَع ُنْحَن اَنْيَبَف ،– الله ىلص ملسو هيلع– ٌرْمَت اَهيِف ٍق َرَعِب– ُلَتْكِمْلا ُق َرَعْلا َو– َلاَق . اَنَأ َلاَقَف . » ُلِئاَّسلا َنْيَأ « َلاَق َلوُس َر اَي ىهِنِم َرَقْفَأ ىَلَعَأ ُلُج َّرلا َلاَقَف . » ِهِب ْقَّدَصَتَف اَهْذُخ « اَهْيَتَبَلا َنْيَب اَم ِ َّاللّ َوَف ِ َّاللّ

– ِنْيَت َّرَحْلا ُدي ِرُي– ُّىِبَّنلا َك ِحَضَف ، ىِتْيَب ِلْهَأ ْنِم ُرَقْفَأ ٍتْيَب ُلْهَأ– ملسو هيلع الله ىلص – َكَلْهَأ ُهْمِعْطَأ « َلاَق َّمُث ُهُباَيْنَأ ْتَدَب ىَّتَح »

“Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasulullah, celaka aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi,

“Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi,

“Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” Pria tadi juga menjawab, “Tidak”. Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Di mana orang yang bertanya tadi?” Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.” Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. ” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

“Berilah makanan tersebut pada keluargamu.”6

6 Muslim.or.id, "Pembatal Puasa," https://muslim.or.id/336-pembatal-puasa.html diakses September 2, 2024..

(11)

11 2. Kaffarah

Kaffarah adalah salah satu bentuk penebusan dosa atau kesalahan dalam agama islam, yang dilakukan dengan cara berpuasa. Kata kafarat berasal dari kata “kafara’

yang berarti menutup atau menebus.7

Dalam Al-Quran , terdapaat ayat yang mengatur mengenai kaffarah, yaitu dalam Surah Al-Maidah ayat 89:

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak sengaja, maka kafaratnya(denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka atau memerdekan seorang hamba sahaya.

Barang siapa tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasalah tiga hari.

Itulah kafarat sumpah-sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum- hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya). 8Beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang hars membayar kafarat, di antaranya:

• Membatalkan puasa di bulan Ramadhan tanpa alasan yang sah.

• Melakukan hubungan suami istri di siang hari pada bulan Ramadhan.

• Melakukan zhihar, yaitu Ketika seorang suami menganggap istrinya seperti ibunya.

• Membunuh karena kesalahan (tidak disengaja).

• Membatalkan puasa.

Kafarat puasa adalah bentuk kompensasi atau penebusan atas puasa yang tidak sempurna tersebut. Berikut adalah panduan praktis tentang cara membayar kafarat puasa:

a. Kriteria untuk Membayar Kafarat Puasa:

Sebelum membayar kafarat puasa, penting untuk memahami kriteria yang memenuhi syarat untuk membayar kafarat. Kafarat puasa dibayar dalam beberapa situasi, antara lain:

Membatal puasa dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan.

7 BAZNAS Kota Yogyakarta, "Puasa Kafarat," https://kotayogya.baznas.go.id/news-

show/Humas/5842#:~:text=Puasa%20Kafarat%20adalah%20salah%20satu%20bentuk%20ketaata n,Islam%2C%20puasa%20kafarat%20diwajibkan%20bagi%20seseorang%20yang. diakses September 2, 2024.

8 BAZNAS Kota Yogyakarta, "Kaffarah,"

https://baznas.jogjakota.go.id/detail/index/32652#:~:text=Kaffarah%20adalah%20sebuah%20ko nsep%20dalam,menjalankan%20ibadah%20atau%20perintah%20agama. diakses September 2, 2024.

(12)

12

Melakukan hubungan suami istri saat siang hari di bulan Ramadan tanpa alasan yang dibenarkan.

b. Jumlah Kafarat yang Harus Dibayar:

Jumlah kafarat yang harus dibayar berbeda-beda tergantung pada situasi yang menyebabkan pembayaran kafarat. Secara umum, kafarat puasa terdiri dari dua bentuk:

Membatalkan puasa secara sengaja: Membayar kafarat dengan berpuasa selama 60 hari berturut-turut. Jika tidak mampu menjalankan puasa tersebut, kafarat dapat diganti dengan memberi makan 60 orang miskin.

Melakukan hubungan suami istri saat siang hari di bulan Ramadan:

Membayar kafarat dengan memerdekakan seorang budak, atau jika tidak mampu, memberi makan 60 orang miskin.

c. Pelaksanaan Pembayaran Kafarat:

Setelah mengetahui jumlah kafarat yang harus dibayar sesuai dengan situasi yang dihadapi, langkah selanjutnya adalah melaksanakan pembayaran kafarat dengan benar. Berikut adalah langkah-langkahnya:

Jika memilih untuk berpuasa selama 60 hari berturut-turut, pastikan untuk menjalankan puasa tersebut dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.

Jika memilih untuk memberi makan 60 orang miskin sebagai pengganti kafarat, pastikan untuk memberikan makanan yang layak dan mencukupi bagi mereka.

Jika memilih untuk memerdekakan seorang budak sebagai pengganti kafarat, pastikan untuk melakukan proses pembebasan budak dengan sah dan sesuai dengan syariat Islam.

d. Mengkonsultasikan dengan Ahli Agama:

Jika ada keraguan atau ketidakjelasan tentang kafarat puasa, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan seorang ahli agama atau seorang ulama. Mereka akan memberikan nasihat dan panduan yang tepat berdasarkan pengetahuan dan pemahaman mereka tentang hukum Islam.

e. Menjadi Lebih Berhati-hati:

Setelah membayar kafarat puasa, penting untuk menjadi lebih berhati-hati dan berupaya untuk menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesungguhan dan

(13)

13

kepatuhan di masa mendatang. Puasa adalah ibadah yang memiliki nilai spiritual dan keutamaan yang tinggi dalam Islam, oleh karena itu, berusahalah untuk menjaganya dengan baik.9

D. Puasa Ramadhan. Puasa Sunnah dan Masalah Kontemporernya 1. Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan merupakan kewajiban yang harus dilakukan seluruh umat Muslim seperti tercantum di Al-Quran, hadis dan ijma’(kesepakatan ulama).

Sebagaimana firman Allah SWT dalaml Al-Quran:”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajabkan atas orag-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(Al-Baqarah:183)

Nabi Muhammad SAW juga bersabda keistimewaan puasa Ramadhan melalui hadis Riwayat Abu Hurairah RA, yang menyebutkan bahwa bulan ini adalah “ bulan yang penuh berkah,” di mana pintu-pintu surga dibuka pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. 10

2. Puasa Sunnah

Puasa sunnah merupakan salah satu amalan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw dan dikerjakan secara sukarela oleh umat Islam dengan harapan mendapat pahala dari Allah SWT. Keutamaan puasa sunnah tentu memiliki kekhasan sendiri yang berbeda kuatamaan puasa wajib seperti puasa di bulan Ramadhan. Berikut beberapa keutamaan dari puasa sunnah sebagaimana dikutip dari berbagai sumber:

• Mendekatkan diri kepada Allah SWT.

• Membersihkan jiwa dan tubuh dari dosa.

• Menjadi amalan yang diperhitungkan di sisi Allah SWT.

• Mencontoh dan mengikuti segala amalan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

9 BAZNAS Kota Yogyakarta, "Panduan Praktis Cara Membayar Kafarat Puasa ," https://baznas.jogjakota.go.id/detail/index/32620. diakses September 2, 2024..

10 Prudential Syariah, "Jenis-jenis Puasa,"

https://www.prudentialsyariah.co.id/id/pulse/article/jenis-puasa/. diakses September 2, 2024.

(14)

14

Adapun jenis-jenis dan pelaksanaan Puasa Sunnah sebagai berikut:

a. Puasa Sunnah Senin dan Kamis

Puasa ini dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.

b. Puasa Sunnah Daud

Puasa ini dilakukan dengan pola 1 hari berpuasa, 1 hari berbuka. Puasa ini merupakan salah satu perbuatan meniru amalan puasa Nabi Daud AS. Meskipun tidak diwajibkan, puasa ini memiliki keutamaan yang besar.

c. Puasa Sunnah Ayyamul Bidh

Puasa ini dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah. Tanggal ini dikenal sebagai Ayyamul Bidh atau hari putih.

d. Puasa Sunnah Bulan Rajab:

Meskipun tidak ada puasa sunnah khusus di bulan Rajab, berpuasa di bulan ini dihormati. Beberapa orang memilih untuk berpuasa pada tanggal 27 Rajab, terutama untuk merayakan Isra Miraj.

e. Puasa Sunnah Tasyua dan Asyura

Puasa Tasyua dilakukan pada hari kesembilan Muharram, sementara Asyura dilakukan pada hari kesepuluh. Rasulullah SAW menganjurkan untuk berpuasa pada hari Asyura dan jika mampu, juga puasa pada hari Tasyua.

f. Puasa Sunnah Syawal

Setelah selesai bulan Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa enam hari pada bulan Syawal. Keutamaannya setara dengan puasa sepanjang tahun.

g. Puasa Sunnah Arafah

Puasa ini dilakukan pada hari ke-9 Dzulhijjah, atau sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. Puasa ini dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.11

11 Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), "Puasa Sunnah: Keutamaan, Jenis, dan Panduan Pelaksanaannya," https://baznas.go.id/artikel-show/Puasa-Sunnah:-Keutamaan,-Jenis,-dan- Panduan-Pelaksanaannya/366. diakses 2 September 2024.

(15)

15 3. Masalah Kontemporer

Saat ini beberapa permasalahan penting mengenai puasa akan dikaji secara simpel dan sebagiannya adalah ulasan fikih kontemporer saat ini. Pembahasan tersebut berasal dari fatwa dan penjelasan para ulama yang mumpuni ilmunya.

a. Menggunakan Obat Penghalang Haid Ketika Puasa

Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin tentang Menggunakan Obat Penghalang Haid. Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang penggunaan obat untuk menghalangi haid selama Ramadhan agar tidak perlu mengqodho' puasa. Beliau menjawab bahwa sebaiknya wanita tidak melakukan hal tersebut dan menerima ketetapan Allah yang telah digariskan. Haid memiliki hikmah penting dan merupakan kebiasaan alami yang melindungi wanita dari berbagai bahaya. Pakar kesehatan juga menjelaskan efek negatif dari obat semacam itu. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Laa dhororo wa laa dhiroor (Tidak ada bahaya dalam syari'at ini dan tidak boleh mendatangkan bahaya tanpa alasan yang benar)."

Beliau menegaskan bahwa wanita tidak perlu menggunakan obat untuk menghalangi haid. Jika haid datang, wanita dibolehkan tidak berpuasa dan shalat, dan setelah suci, ia dapat mengqodho' puasa yang terlewat setelah Ramadhan.

[Sumber: Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 7416]

b. Waktu Buka Puasa di Pesawat

Fatwa Al Lajnah Ad Daimah tentang Waktu Berbuka Puasa di Pesawat.

Para ulama di Al Lajnah Ad Daimah pernah ditanya tentang waktu berbuka puasa saat berada di pesawat. Mereka menjawab bahwa seseorang yang berpuasa di pesawat harus tetap menjalankan puasanya hingga matahari tenggelam. Waktu berbuka puasa ditentukan berdasarkan posisi matahari yang dilihat dari tempat pesawat berada, bukan berdasarkan tempat asal memulai puasa.

[Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 5468, 10/138, ditandatangani oleh Syaikh

‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi, Syaikh

‘Abdullah bin Ghudayan, dan Syaikh ‘Abdullah bin Qo’ud].

c. Berpuasa di Daerah yang Waktu Siangnya Sangat Lama

Fatwa Al Lajnah Ad Daimah mengenai Puasa dan Shalat di Negeri dengan Waktu Siang dan Malam yang Panjang

(16)

16

Pertama: Bagi yang tinggal di negeri dengan waktu siang dan malam yang bisa dibedakan walaupun siang lebih panjang di musim panas dan pendek di musim dingin, mereka wajib menjalankan shalat lima waktu sesuai dengan waktunya masing-masing. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam QS. Al-Isra: 78 dan QS.

An-Nisa: 103. Adapun untuk puasa, mereka harus menahan diri dari makan, minum, dan pembatal puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari, meskipun waktu siangnya sangat panjang. Jika tidak kuat berpuasa karena siang terlalu panjang, boleh berbuka dan mengqodho' di hari lain sesuai QS. Al-Baqarah: 185 dan QS. Al-Baqarah: 286.

Kedua: Bagi yang tinggal di daerah dengan matahari terus bersinar di musim panas atau tidak terbit di musim dingin, atau di negeri yang siang atau malam berlangsung selama enam bulan, mereka wajib melaksanakan shalat lima waktu setiap 24 jam dengan memperkirakan waktunya berdasarkan negeri terdekat yang memiliki perbedaan waktu shalat. Dalilnya adalah hadits tentang Dajjal yang menjelaskan bahwa pada hari yang terasa setahun tetap harus shalat lima waktu dengan memperkirakan waktunya (HR. Muslim no. 2937).

Kesimpulan: Muslim yang tinggal di negeri dengan waktu siang atau malam yang panjang harus menetapkan waktu shalat dan puasa berdasarkan negeri terdekat yang memiliki siang dan malam dalam 24 jam. Mereka harus berpuasa Ramadhan dengan memperkirakan waktu mulai dan berakhirnya puasa berdasarkan terbit dan terbenamnya matahari di negeri terdekat tersebut.

[Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 6: 130-136, ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul

‘Aziz bin Baz, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi, dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan].

d. Penggunaan Ventolin bagi Penderita Asma Saat Puasa

Asma adalah penyakit pernapasan yang menyebabkan penyempitan saluran napas. Penderita asma sering menggunakan ventolin dalam bentuk sprayer yang disemprotkan ke mulut ketika asma kambuh. Ventolin terdiri dari bahan kimia, H2O, dan O2. Penggunaan ventolin adalah dengan menekan sprayer sehingga gas masuk melalui mulut ke faring, trakea, dan bronkhus, tetapi ada sebagian kecil yang bisa masuk ke perut.

Terkait penggunaan ventolin saat puasa, ada dua pendapat utama:

1. Tidak Membatalkan Puasa

Pendukung: Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin, Syaikh 'Abdullah bin Jibrin, dan Al Lajnah Ad Daimah.

Alasan:

Obat sprayer sebagian besar tidak masuk ke perut.

(17)

17

Masuknya obat ke perut tidak pasti.

Tidak sama dengan makan dan minum.

Siwak juga mengandung unsur kimia yang masuk ke faring dan tetap dianjurkan saat puasa.

2. Membatalkan Puasa

Pendukung: Dr. Fadl Hasan 'Abbas, Dr. Muhammad Alfi, Syaikh Muhammad Taqiyuddin Al 'Utsmani, dan Dr. Wahbah Az Zuhailiy.

Alasan:

Penggunaan obat spray asma membatalkan puasa kecuali dalam keadaan darurat. Puasa harus diqodho' jika digunakan.

Pendapat yang lebih kuat adalah penggunaan obat sprayer asma tidak membatalkan puasa, berdasarkan analogi dengan berkumur dan penggunaan siwak. Wallahu a'lam.12

12 Muhammad Fadhil, "4 Permasalahan Kontemporer Seputar Puasa," Rumaysho, https://rumaysho.com/2701-4-permasalahan-kontemporer-seputar-puasa.html. diakses 2 September 2024.

(18)

18

BAB 3 PENUTUP

A. KESIMPULAN

Puasa dalam bahasa Arab berarti menahan diri, baik dari makanan maupun berbicara, dan dalam konteks agama Islam, puasa mengacu pada menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga terbenam matahari. Puasa wajib, seperti selama bulan Ramadhan, adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim, dan meninggalkannya dapat

mengakibatkan dosa. Selama bulan Ramadhan, umat Islam menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri dari fajar hingga maghrib. Sebaliknya, puasa sunnah adalah amalan yang dilakukan secara sukarela dengan harapan mendapatkan pahala tambahan dari Allah SWT. Keutamaan puasa sunnah termasuk mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan jiwa dan tubuh dari dosa, menjadi amalan yang diperhitungkan di sisi Allah, dan mencontoh amalan Nabi Muhammad SAW.

Rukun puasa meliputi niat di dalam hati dan menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dari fajar hingga waktu berbuka. Syarat sah puasa termasuk beragama Islam, berakal (mumayiz), dan tidak memiliki uzur seperti haid, nifas, pingsan sepanjang hari, atau gangguan mental. Pembatal puasa mencakup makan dan minum dengan sengaja, muntah sengaja, haid, nifas, keluarnya mani dengan sengaja, niat membatalkan puasa, dan hubungan suami istri di siang hari. Kaffarah adalah bentuk penebusan dosa yang dilakukan dengan berpuasa, seperti yang diatur dalam Surah Al-Maidah ayat 89. Ini menunjukkan pentingnya menjaga keabsahan puasa dan tanggung jawab dalam menjalankannya sesuai dengan ketentuan agama Islam.

(19)

19

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abdul Mukti, M. T. (2023). Ramadhan: Bulan Al-Quran. Selangor: Universitas Teknologi Mara.

admin_relawan24. (2024, Maret 25). Kaffarah Adalah. Retrieved from BAZNAS YOGYAKARTA:

https://baznas.jogjakota.go.id/detail/index/32652#:~:text=Kaffarah%20adalah%2 0sebuah%20konsep%20dalam,menjalankan%20ibadah%20atau%20perintah%20 agama.

admin_relawan24. (2024, Maret 23). Panduan Praktis Cara Membayar Kafarat Puasa.

Retrieved from BAZNAS YOGYAKARTA:

https://baznas.jogjakota.go.id/detail/index/32620

Alfadholi, A. A. (2024, Maret 16). Apa Itu Puasa Kafarat. Retrieved from BAZNAS JOGJA: https://kotayogya.baznas.go.id/news-

show/Humas/5842#:~:text=Puasa%20Kafarat%20adalah%20salah%20satu%20b entuk%20ketaatan,Islam%2C%20puasa%20kafarat%20diwajibkan%20bagi%20s eseorang%20yang

BAZNAS, H. (2024, Maret 31). Puasa Sunnah: Keutamaan, Jenis, dan Panduan Pelaksanaannya. Retrieved from BAZNAS: https://baznas.go.id/artikel- show/Puasa-Sunnah:-Keutamaan,-Jenis,-dan-Panduan-Pelaksanaannya/366 Cantika, Y. (2021). Macam Puasa Wajib: Pengertian, Niat, Waktu dan Syaratnya.

Retrieved from Gramedia Blog: https://www.gramedia.com/literasi/macam- puasa-wajib/

Puasa Ramadhan Sebentar Lagi, Yuk Ketahui 10 Jenis Puasa dan Keutamaannya. (n.d.).

Retrieved from Prudential Syariah:

https://www.prudentialsyariah.co.id/id/pulse/article/jenis-puasa/

Septiana, V. W., & dkk. (2024). Kaji Ulang : Puasa Wajib dan Puasa Sunnah. Jurnal Media Ilmu, 100.

Tuasikal, M. (2012, Juli 26). 4 Permasalahan Kontemporer Seputar Puasa. Retrieved from Rumaysho.co: https://rumaysho.com/2701-4-permasalahan-kontemporer- seputar-puasa.html

Tuasikal, M. A. (2024, maret 15). Pembatal-Pembatal Puasa. Retrieved from muslim.or.id: https://muslim.or.id/336-pembatal-puasa.html

Yahya, B. (2021). Fiqih Praktis Puasa. Cirebon: Pustaka Al-Bahjah.

(20)

20

Referensi

Dokumen terkait