i
PRODUK HUKUM DAERAH
Makalah
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Hukum Pemerintahan Daerah yang diampu oleh Fatimatuz Zahro M.H.I
Disusun Oleh:
Diva Juwita Fimbang (23303002)
Firly Andini (23303025)
Salsabella Hannisa Fahresy (21303010)
PRODI HUKUM TATA NEGARA FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KEDIRI 2024
2
3 KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-nya sehingga kami bisa menyelesaikan penyusunan makalah Hukum Pemerintahan Daerah ini, dengan judul Produk Hukum Daerah. Makalah ini membahas mengenai penjelasan dari Peraturan Provinsi, Kabupaten/Kota dan Peraturan Desa, serta perbedaan antara Peraturan Provinsi, Kabupaten/Kota dengan Peraturan Desa.
Selain itu makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah yang diberikan dosen pengampu mata kuliah Hukum Pemerintahan Daerah (Fatimatuz Zahro M.H.I) pada semester 3 prodi Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah di Institut Agama Islam Negeri Kediri. Kami menyadari jika masih terdapat banyak kesalahan dalam penyusunan makalah kami ini, oleh karena itu kami mohon agar pembaca berkenan memberi kritik dan saran agar kami dapat memperbaiki dan menyusun makalah yang lebih baik lagi selanjutnya. Kami juga mengucapkan teimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah Hukum Perkawinan di Indonesia ini bemanfaat bagi pembaca. Amin.
Kediri, Oktober 2024
Penyusun
4 DAFTAR ISI
PRODUK HUKUM DAERAH ... i
BAB I ... 5
PENDAHULUAN ... 5
Latar Belakang ... 5
Rumusan Masalah ... 6
Tujuan Pembahasan ... 6
BAB II ... 7
PEMBAHASAN ... 7
Peraturan Daerah Provinsi, Kabupaten/Kota ... 7
Peraturan Desa ... 8
Perbedaan Peraturan Daerah Provinsi, Kabupaten/Kota dengan Peraturan Desa... 9
BAB III ... 11
PENUTUP... 11
Kesimpulan ... 11
Daftar Pustaka ... 11
5
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Desentralisasi di Indonesia memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mengatur urusan rumah tangganya sendiri, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 18. Dalam penerapannya, pemerintah pusat memberikan otonomi kepada daerah untuk menyusun regulasi yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik wilayahnya masing-masing. Ini kemudian diimplementasikan dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) Provinsi untuk skala provinsi, Peraturan Daerah Kabupaten/Kota, serta Peraturan Desa yang merupakan bagian dari pemerintahan desa.1
Peraturan Provinsi adalah regulasi yang dibuat oleh pemerintah provinsi bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi untuk mengatur hal-hal yang terkait dengan urusan di tingkat provinsi, seperti tata ruang wilayah, kebijakan pembangunan, dan pengelolaan sumber daya alam di tingkat provinsi. Peraturan Kabupaten/Kota di sisi lain, berfokus pada pengaturan yang lebih lokal, terkait dengan pelayanan dasar masyarakat, perencanaan pembangunan wilayah, dan pengelolaan sumber daya yang menjadi kewenangan kabupaten/kota. Keduanya memerlukan persetujuan DPRD pada tingkatannya masing-masing dan tidak boleh bertentangan dengan undang-undang yang lebih tinggi.2
Peraturan Desa, berbeda dari Perda provinsi atau kabupaten/kota, adalah aturan yang dibuat oleh pemerintah desa bersama dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Peraturan ini mencakup berbagai hal yang sifatnya sangat spesifik dan lokal, seperti adat istiadat, tata cara pengelolaan lahan desa, atau hal-hal lain yang langsung berkaitan dengan kepentingan dan kearifan lokal masyarakat desa. Peraturan Desa hanya berlaku di wilayah desa tersebut dan disusun dengan memperhatikan nilai dan budaya lokal yang menjadi karakteristik desa.3
1 Asmorojati, Hukum Pemerintahan Daerah Dan Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Bingkai NKRI.
2 Asmorojati.
3 Mar’ah, Malinda, and Pramesta, “Partisipasi Masyarakat Dalam Penyusunan Peraturan Desa Di Indonesia.”
6 B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi Peraturan Provinsi ?
2. Apa definisi Peraturan Kabupaten/Kota ? 3. Apa definisi Peraturan Desa ?
4. Apa perbedaan Peraturan Provinsi, Kabupaten/Kota dengan Peraturan Desa ? C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui definisi Peraturan Provinsi.
2. Untuk mengetahui definisi Peraturan Kabupaten/Kota.
3. Untuk mengetahui definisi Peraturan Desa.
4. Untuk mengetahui perbedaan Peraturan Provinsi, Kabupaten/Kota dengan Peraturan Desa.
7
BAB II PEMBAHASAN
A. Peraturan Daerah Provinsi, Kabupaten/Kota
Peraturan daerah (Perda) merupakan produk hukum yang dibentuk oleh pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, untuk mengatur urusan pemerintahan dan melaksanakan otonomi daerah.
Peraturan Daerah Provinsi adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi dengan persetujuan Gubernur.
Proses pembentukan Perda Provinsi mengikuti ketentuan yang diatur dalam Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.4
Peraturan Daerah Kabupaten/Kota adalah peraturan yang dibuat oleh DPRD Kabupaten/Kota dengan persetujuan Bupati atau Walikota. Seperti halnya Perda Provinsi, pembentukan Perda di tingkat kabupaten/kota juga mengikuti prosedur yang ditetapkan dalam undang-undang.5
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Proses pembentukan Perda Provinsi, kabupaten/kota melibatkan beberapa tahap:6
a. Peraturan daerah provinsi
1. Perencanaan (menyusun program legislasi daerah) 2. Penyusunan (membuat rancangan peraturan daerah)
3. Pembahasan (rancangan dibahas oleh DPRD dan Gubernur) 4. Penetapan (setelah disetujui, peraturan daerah ditetapkan)
5. Pengundangan (peraturan daerah diundangkan dalam lembaran daerah) b. Peraturan daerah kabupaten/kota
1. Perencanaan (menyusun program legislasi daerah)
4 Asmorojati, Hukum Pemerintahan Daerah Dan Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Bingkai NKRI.
5 Asmorojati.
6 Republic of Indonesia, “Establishment of Legislation Law.”
8 2. Penyusunan (membuat rancangan peraturan daerah)
3. Pembahasan (rancangan dibahas oleh DPRD dan Bupati/Wali Kota) 4. Penetapan (setelah disetujui, peraturan daerah ditetapkan)
5. Pengundangan (peraturan daerah diundangkan dalam lembaran daerah) B. Peraturan Desa
Peraturan Desa (Perdes) adalah peraturan yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Perdes merupakan bagian dari sistem hukum di Indonesia yang bertujuan untuk mengatur urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat di tingkat desa. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai Peraturan Desa.7
Peraturan Desa diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yang memberikan kerangka hukum bagi pengelolaan desa dan pemberdayaan masyarakat.
UU ini menegaskan bahwa desa memiliki hak untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan serta kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat dan hak asal usul. Proses pembentukan Perdes melibatkan beberapa langkah penting:8 1. Rancangan Perdes dapat diusulkan oleh Kepala Desa atau BPD. Penyusunan rancangan
ini harus melibatkan konsultasi dengan masyarakat untuk mendapatkan masukan yang relevan.
2. Rancangan Perdes yang telah disusun dibahas dalam musyawarah antara Kepala Desa dan BPD. Dalam tahap ini, semua pihak berusaha mencapai kesepakatan mengenai isi peraturan.
3. Setelah disepakati, Kepala Desa menandatangani rancangan tersebut untuk menetapkannya sebagai Perdes. Proses ini harus dilakukan dalam waktu tertentu setelah kesepakatan dicapai.
4. Perdes yang telah ditetapkan kemudian diundangkan dalam Lembaran Desa agar masyarakat dapat mengetahui dan mengakses informasi mengenai peraturan tersebut.
Peraturan Desa mencakup berbagai aspek yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan desa, antara lain:
1. Pengelolaan sumber daya alam.
7 Mar’ah, Malinda, and Pramesta, “Partisipasi Masyarakat Dalam Penyusunan Peraturan Desa Di Indonesia.”
8 Rosidin, “Partisipasi Masyarakat Dalam Proses Pembentukan Peraturan Desa Yang Aspiratif.”
9 2. Pembangunan infrastruktur desa.
3. Pelayanan publik di tingkat desa
4. Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi lokal
Perdes berada pada posisi hierarki peraturan perundang-undangan yang lebih rendah dibandingkan dengan undang-undang dan peraturan pemerintah. Oleh karena itu, Perdes tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Hal ini penting untuk menjaga konsistensi dan keadilan dalam penerapan hukum di seluruh tingkatan pemerintahan.
C. Perbedaan Peraturan Daerah Provinsi, Kabupaten/Kota dengan Peraturan Desa Peraturan daerah dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di tingkat provinsi atau kabupaten/kota dengan persetujuan Gubernur atau Bupati/Walikota.9 Perda mencakup urusan yang lebih luas dan strategis yang berhubungan dengan kebijakan pemerintah daerah secara keseluruhan. Peraturan daerah mengatur berbagai aspek pemerintahan daerah, termasuk pajak daerah, retribusi, tata ruang, serta program pembangunan yang lebih besar. Perda juga berfungsi sebagai pelaksanaan dari undang- undang yang lebih tinggi. Proses pembentukannya melibatkan tahapan perencanaan, penyusunan, pembahasan, penetapan, dan pengundangan. Rancangan Perda harus dievaluasi oleh pemerintah pusat sebelum diundangkan. Peraturan daerah berada pada posisi hierarki peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Perdes. Perda harus sesuai dengan undang-undang yang lebih tinggi dan tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang ada.
Peraturan desa ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disetujui oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Perdes mengatur urusan yang lebih spesifik dan lokal, berkaitan langsung dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat desa. Peraturan desa berfokus pada pengaturan urusan internal desa, seperti pengelolaan sumber daya alam, pelayanan publik di tingkat desa, dan pemberdayaan masyarakat lokal.10 Perdes dirancang untuk menjawab kebutuhan spesifik masyarakat desa. Proses pembentukannya juga melibatkan musyawarah antara Kepala Desa dan BPD, tetapi tidak memerlukan evaluasi dari pemerintah pusat. Setelah disepakati, Perdes dapat segera diundangkan dalam
9 Asmorojati, Hukum Pemerintahan Daerah Dan Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Bingkai NKRI.
10 Rosidin, “Partisipasi Masyarakat Dalam Proses Pembentukan Peraturan Desa Yang Aspiratif.”
10 Lembaran Desa. Peraturan desa berada pada posisi hierarki yang lebih rendah dibandingkan dengan Perda. Oleh karena itu, Perdes harus sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Perda dan undang-undang yang lebih tinggi.
11
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Perda adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dengan persetujuan Gubernur di tingkat provinsi atau Bupati/Walikota di tingkat kabupaten/kota. Perda dapat dibedakan menjadi Perda Provinsi dan Perda Kabupaten/Kota, masing-masing mengatur urusan pemerintahan yang lebih luas dan strategis. Perda berada pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan peraturan desa dalam hierarki hukum. Perda harus sesuai dengan undang-undang yang lebih tinggi dan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum.
Perdes adalah peraturan yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disetujui oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Perdes dirancang untuk mengatur urusan lokal yang berkaitan langsung dengan masyarakat desa. Perdes berfokus pada pengaturan urusan internal desa, seperti pengelolaan sumber daya alam dan pelayanan publik lokal.
Daftar Pustaka
Asmorojati, Anom Wahyu. Hukum Pemerintahan Daerah Dan Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Bingkai NKRI. Andrew’s Disease of the Skin Clinical Dermatology., 2020.
Mar’ah, Geges Idhiana, Rosi Malinda, and Shelly Dwi Pramesta. “Partisipasi Masyarakat Dalam Penyusunan Peraturan Desa Di Indonesia.” Verfassung: Jurnal Hukum Tata Negara 1, no. 1 (2022): 33–46. https://doi.org/10.30762/vjhtn.v1i1.159.
Republic of Indonesia. “Establishment of Legislation Law,” 2011.
Rosidin, Utang. “Partisipasi Masyarakat Dalam Proses Pembentukan Peraturan Desa Yang Aspiratif.” Jurnal Bina Mulia Hukum 4, no. 105 (2019): 168–84.
https://doi.org/10.23920/jbmh.v4n1.10.
12