Joko Sulistyo
Bagian Teknologi Hasil Hutan Fak. Kehutanan UGM
Manajemen Hutan dengan Multifungsi
• Hutan merupakan sebuah sistem kehidupan dari banyak spesies flora dan fauna yang saling berinteraksi. Flora dan
fauna membentuk ekosistem hutan dan menyediakan produk hasil hutan yang diperlukan masyarakat.
• Pohon menyediakan tidak hanya kayu untuk kertas, kayu gergajian, kayu lapis, tapi juga merupakan makanan dan tempat berlindung satwa liar. Kombinasi ekosistem dapat menyediakan pengalaman rekreasional dan aestetik serta memberikan pengalaman di alam liar seperti untuk tempat camping dan area piknik untuk berbagai kegunaan seperti country hiking, camping, dsb.
• Idealnya semua produk dari ekosistem hutan dapat dikelola menanam pohon menciptakan habitat satwa spt tupai dan setelah tebang habis tegakan hutan memproduksi pembukaan lahan untuk rusa dan burung.
Pengantar Ilmu Kehutanan
Latar Belakang
• Manajemen hutan adalah proses mengorganisasi tegakan hutan sehingga dapat menghasilkan
sumberdaya sesuai tujuan pemiliknya dapat berupa perusahaan negara atau swasta, atau milik
masyarakat. Sumberdaya tersebut dapat berupa produk kayu, satwa liar, wisata alam atau
kombinasinya.
• Tugas manajemen hutan adalah untuk
mengorganisasi produksi sumberdaya hutan secara lestari sehingga dapat tersedia sesuai dengan
kebutuhan perusahaan.
Konsep Dasar Manajemen Hutan
Tujuan umum dari manajemen hutan adalah
• Untuk menghasilkan sumberdaya sesuai dengan tujuan perusahaan atau masyarakat
• Untuk mempertahankan pasokan sumberdaya secara lestari
• Untuk meminimalisir konflik antara ekologi, ekonomi atau kebutuhan sosial dalam pemanfaatan sumberdaya.
Pengantar Ilmu Kehutanan
Konsep Dasar Manajemen Hutan
Manajemen hutan secara khas
- diawali dengan perencanaan manajemen hutan yang mengenali tujuan dari perusahaan,
- menguraikan perlakuan-perlakuan dan tata waktu yang diperlukan setiap tegakan dalam seluruh kawasan hutan - Mendeskripksikan program evaluasi sumberdaya untuk
memastikan bahwa tujuan perusahaan tercapai.
UU 41/1999:
Pasal 10
(1) Pengurusan hutan bertujuan untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya serta serbaguna dan lestari untuk kemakmuran rakyat
(2) Pengurusan hutan meliputi kegiatan penyelenggaraan a) Perencanaan kehutanan
b) Pengelolaan hutan, dst
Pasal 11 ayat 1: Perencanaan kehutanan dimasudkan untuk memberikan pedoman dan arah yang menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan kehutanan
• Bab IV Perencanaan Hutan – Pasal 11
1) Perencanaan kehutanan dimasudkan untuk memberikan pedoman dan arah yang menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan
kehutanan
2) Pelaksanaan kehutanan dilaksanakan secara transparan,
bertanggung-gugat, partisipatif, terpadu, serta memperhatikan kekhasan dan aspirasi daerah
– Pasal 12
Perencanaan kehutanan meliputi a) Inventarisasi hutan
b) Pengukuran kawasan hutan c) Penatagunaan kawasan hutan
d) Pembentukan wilayah pengelolaan hutan, dan e) Penyusunan rencana kehutanan
Pengantar Ilmu Kehutanan
Konsep Dasar Manajemen Hutan
• Dinas Kehutanan Amerika Serikat (US Department of
Agriculture Forest Service) menjelaskan proses pengelolaan kehutanan meliputi:
– Identifikasi tujuan dan kebutuhan – Kriteria perencanaan
– Inventarisasi data dan pengumpulan informasi – Analisis situasi manajemen
– Formulasi dari berbagai alternatif
– Estimasi pengaruh dari berbagai alternative – Evaluasi dari berbagai alternatif
– Rekomendasi alternatif terpilih – Rencana disetujui
– Monitoring dan evaluasi
Konsep Dasar Manajemen Hutan
• Konsep manajemen hutan harus melingkupi multi-fungsi yang terbentuk dalam hutan.
Produk barang hasil dan jasa meliputi rekreasi, satwa liar, tangkapan air, taman buru/ternak
dan kayu.
Pengantar Ilmu Kehutanan
Konsep Dasar Manajemen Hutan
• Taman Buru/Penggembalaan adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat wisata berburu atau tempat diselenggarakan
penggembalaan ternak secara teratur untuk menghasilkan produk daging dsb.
• Di Amerika Serikat biasanya berupa kawasan terbuka untuk penggembalaan dan berburu yang luasannya 1,5 kali dari total lahan disana.
Manajemen Taman Buru/Penggembalaan
• Sebuah daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang
berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke
laut secara alami. (PP. No. 37 tahun 2012 – Pengelolaan DAS).
• Manajemen DAS terkait dengan praktek penggunaan lahan yang didesain untuk merubah atau menjaga kualitas dan kuantitas debit air untuk tujuan seperti perumahan, industri, irigasi, perikanan, satwa liar dan rekreasi.
Pengantar Ilmu Kehutanan
Manajemen Daerah Aliran Sungai
Kuantitas Air
• Jumlah dan distribusi curah hujan pada DAS, praktek-praktek pemanfaatan lahan akan
menentukan jumlah dan waktu ketersediaan air untuk daerah bagian di hilir.
• Peningkatan penutupan lahan oleh vegetasi akan menstabilkan tanah dan mengurangi surface runoff.
• Situasi tsb memungkinkan air untuk meresap dalam tanah dan mengisi kembai air tanah.
• Melalui pola metode pemanenan kayu dan spesies, manager hutan dapat memperbaiki regim air di
kawasan bagian hilir.
Manajemen Daerah Aliran Sungai
Kualitas Air
• Terdapat hubungan antara partikel tanah dalam air, dan vegetasi di daerah bagian hilir dan praktek
kehutanan.
• Sedimen berlebihan dalam sungai dapat disebabkan karena tidak cukupnya penutupan vegetasi pada
lahan di hulu, praktek penebangan dan pembuatan jalan.
• Sebagai hasil maka masyarakat harus melakukan
mengeluarkan biaya yang tinggi pada penjernihan air, pendangkalan dam dan bendungan, membunuh ikan dan mengurangi kualitas rekreasi berbasis air.
Pengantar Ilmu Kehutanan
Manajemen Daerah Aliran Sungai
Manajemen Daerah Aliran Sungai
Kawasan Bagian hulu
Kawasan Bagian hilir
Kualitas Air
Aliran sungai di Kyoto
Ashiu Forest
Kyoto city
Hasil Hutan Kayu)
• Perusahaan hutan mempunyai sifat khas yaitu waktu yang panjang untuk mencapai saat pemanenan, pengelolaan didasarkan pada asas kelestarian sumberdaya bahwa
pemungutan hasil hutan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak mengurangi potensi hasil di lapangan.
• Diperlukan pengaturan hasil hutan agar kegiatan pemungutan hasil dapat dilakukan secara terus-menerus, tetapi tidak
menyebabkan terjadinya kerusakan sumber daya hutan.
• Pengaturan hasil diperlukan untuk menghitung volume kayu yang boleh ditebang pada setiap tahun, agar jumlah tebangan selama periode tertentu sama dengan jumlah riap dari
seluruh tegakan.
• Metode pengaturan hasil dilakukan berdasarkan pada
– Luas
– Volume
– Volume dan riap – Jumlah pohon
Pengaturan Hasil Hutan
Pengantar Ilmu Kehutanan
Metode berdasarkan pada luas
• Contoh metode berdasarkan luas adalah metode annual
coupe yaitu pengaturan tebangan dilakukan dengan membagi seluruh kawasan hutan menjadi petak-petak yang sama
luasnya. Jumlah petak sama dengan jumlah daur yang dipakai.
Setiap tahun hanya akan ditebang hutan yang terletak di petak tertentu. Tebangan pada tahun-tahun berikut dilakukan secara berurutan, sehingga pada akhir daur, seluruh petak yang ada telah mengalami satu kali tebangan.
Metode Pengaturan Hasil Hutan
Berdasarkan Luas
Metode berdasarkan pada luas (lanjutan)
• Sebagai contoh kawasan hutan dengan luasan 3.200 ha dengan daur 20 tahun, akan dibagi menjadi 20 petak yang
masing-masing luasnya 3200 : 20 = 160 ha. Setiap petak diberi no urut, yang merupakan tanda tentang tibanya saat
penebangan pohon di petak tersebut.
• Setiap selesai penebangan, petak harus dipermuda kembali menjadi hutan sehingga terjamin kelestarian SDH. Bila petak no 1 ditabang tahun 1990 kemudian ditanami kembali maka pada 2010 akan ditebang lagi.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
20 19 18 17 16 15 14 13 12 11
Pengantar Ilmu Kehutanan
Metode Pengaturan Hasil Hutan
Berdasarkan Luas
Metode berdasarkan volume
• Adanya variasi kesuburan tanah dan kerapatan tegakan, maka untuk memperoleh hasil tebangan tahunan yang sama, tidak perlu ditebang luas hutan yang sama.
• Luas petak kemudian disesuaikan menurut variasi dua faktor tsb. Dilakukan klasifikasi kesuburan tanah yang dibedakan antara subur, sedang dan kurus.
• Agar diperoleh satuan yang mempunyai potensi volume kayu yang sama, maka ditentukan luas ekuivalen dengan standar kawasan hutan yang mempunyai kesuburan sedang.
Penentuan luas ekuivalen tsb didasarkan pada hasil normal untuk masing-masing kelas kesuburan tanah.
Metode Pengaturan Hasil Hutan
Berdasarkan Volume
• Misalnya untuk tanah subur, sedang dan kurus dalam keadaan normal menghasilkan kayu sebanyak 120, 100 dan 80 m3/ha, maka luasan ekuivalen untuk setiap kelas kesuburan tanah adalah
– Tanah yang subur mempunyai kelas ekuivalen 120:100 = 1,2
– Tanah yang sedang mempunyai kelas ekuivalen = 1 – Tanah yang kurus mempunyai kelas ekuivalen 80 :
100 = 0,8.
Pengantar Ilmu Kehutanan
Metode Pengaturan Hasil Hutan
Berdasarkan Volume
• Misalnya kawasan hutan seluas 3.200 ha terdiri atas tanah subur 1.000 ha, tanah yang sedang 1.700 ha dan tanah yang kurus 500 ha, maka 1.000 ha tanah yang subur akan setara dengan 1,2 x 1.000 ha =
1.200 ha luas ekuivalen. Tanah yang kurus akan
setara dengan 0,8 x 500 ha = 400 ha luas ekuivalen.
Maka luas seluruh kawasan hutan tsb setara dengan 1.200 + 1.700 + 400 = 3.300 ha. Luas setiap petak setara dengan 3.300 : 20 = 165 ha luas ekuivalen.
Metode Pengaturan Hasil Hutan
Berdasarkan Volume
• Pembuatan luas petak yang berbeda-beda menurut aras
kesuburan tanah, ternyata belum diperoleh volume tebangan yang sama setiap tahunnya karena pengaruh faktor kerapatan tegakan.
• Penebangan hutan alam telah melahirkan tegakan seumur atau hampir sama umur. Oleh karenanya akan dijumpai tegakan muda, berumur sedang dan tua. Potensi tegakan muda lebih kecil jika dibandingkan tegakan sedang dan tua.
Tetapi tegakan muda mempunyai riap atau pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan dengan tegakan sedang dan tua.
• Lahirlah metode pengaturan hasil hutan yang didasarkan pada volume dan riap tegakan salah satunya oleh Von Manthel.
Pengantar Ilmu Kehutanan
Metode Pengaturan Hasil Hutan
Berdasarkan Volume dan Riap
• Hutan dapat diatur dengan manajemen seumur, tidak seumur dan kombinasi keduanya.
• Manajemen hutan seumur, contoh yang mudah berupa pohon yang membutuhkan 25 tahun untuk dewasa dalam 25 ha hutan, maka pengaturan hutan seumur dibuat dengan membangun 25 tegakan
dengan produktivitas yang
sama. Setiap umur dibuat 1 ha dan petak berikutnya satu
tahun lebih tua dari petak sebelumnya.
• Setiap hektar dalam 25 tahun tegakan dipanen setiap tahun dan kemudian segera dilakukan permudaan.
• Manejemen hutan seumur seringkali dipraktekan dengan cara yang mudah. Permasalahan pertama adalah menentukan
struktur tegakannya. Selanjutnya ditentukan bagaimana memanipulasi tegakan yang ada untuk mencapai hal tsb.
Lebih lanjut, jenis pohon yang ada mungkin saja tidak sesuai dengan struktur tegakan yang dikehendaki. Maka manajer hutan harus memutuskan langkah apakah tempat tumbuh
dapat mendukung konversi ke jenis yang dikehendaki baik dari segi biologi maupun ekonomi.
Pengantar Ilmu Kehutanan
Manajemen Hutan Seumur
Manajemen Hutan Tidak Seumur
• Rotasi atau daur tebangan adalah jangka waktu
penanaman hutan sampai hutan tersebut dianggap masak untuk dipanen. Konsep daur dipakai untuk pengelolaan hutan seumur. Untuk hutan tidak
seumur digunakan tebangan siklus tebangan (cutting cycle).
Pengantar Ilmu Kehutanan
Penentuan Rotasi/Daur Tebangan
• Macam-macam daur:
– Daur fisik : jangka waktu yang berimpitan dengan periode hidup suatu jenis untuk kondisi tempat tumbuh tertentu.
Kadang didefinisikan sama dengan umur sampai pohon masih menghasilkan biji yang baik untuk melakukan permudaan.
– Daur silvikultur : jangka waktu selama hutan masih
menunjukan pertumbuhan yang baik dan dapat menjamin permudaan dengan kondisi yang sesuai dengan tempat tumbuhnya.
– Daur teknik : jangka waktu perkembangan sampai suatu jenis dapat menghasilkan kayu atau hasil hutan lainnya, biasanya terkait dengan tujuan pengelolaannya. Daur kayu bakar dan pulp pada umumnya pendek, dan daur untuk kayu perkakas seringkali amat panjang.
• Macam-macam daur:
– Daur volume maksimum : jangka waktu
perkembangan suatu tegakan yang memberikan hasil kayu tahunan terbesar, baik hasil
penjarangan maupun tebangan akhir. Daur ini paling banyak dipakai di lapangan.
– Daur pendapatan maksimum : daur yang menghasilkan rata-rata pendapatan bersih maksimum.
– Daur finansial : daur yang ditunjukan untuk
memperoleh keuntungan maksimum dalam nilai uang.
Penentuan Rotasi/Daur Tebangan
Penentuan Rotasi/Daur Tebangan
Pengantar Ilmu Kehutanan
Penentuan Rotasi/Daur Tebangan
• Dalam daur tunggal sistem silvikultur yang digunakan adalah tebang habis dengan permudaan buatan satu jenis pohon.
Sistem monokultur mempunyai kekurangan dalam kelestarian ekosistem.
• Kemudian diusulkan Prof. Hasanu Simon untuk diterapkan daur ganda dengan sistem setengah tebang habis. Separuh akhir dari penjarangan komersial dirubah menjadi
pemungutan hasil pendahuluan sedangkan penebangan akhir disebut tebangan akhir yang pohonnya tidak ditebang habis.
Pemungutan pendahuluan bertujuan untuk memperoleh hasil uang total yang paling besar.
Penentuan Rotasi/Daur Tebangan
• Kegiatan dalam timber extraction : menebang, mengolah dan menjual kayu.
• Kegiatan-kegiatan dalam timber manajemen (Prof. Hasanu Simon):
1. Pembangunan atau penanaman hutan (forest establishment)
a. Sistem permudaan : generatif (tegakan seumur dengan biji, pohon biji yang ditinggal tidak ditebang utk menghasilkan biji,dsb; tegakan tidak seumur dengan permudaan alam) dan vegetatif dengan metode
pangkas untuk diambil tunasnya.
Pengantar Ilmu Kehutanan
Kegiatan Teknik dalam Manajemen
Pengelolaan Hutan
1. Pembangunan atau penanaman hutan (Lanjutan) a. Persiapan tanaman :
– penentuan lokasi : untuk hutan yang sudah ditata rencana
penanaman sudah ditetapkan 2 tahun sebelum pelaksanaan seperti pada areal tebang habis, tegakan gagal, tanah kosong dsb; untuk hutan yang belum tertata spt di luar Jawa penerapan lebih
sederhana pada areal bekas tebangan, padang alang-alang, semak belukar dsb.
– pemilihan jenis : perlu mempertimbangkan faktor-faktor biaya penanaman dan pengelolaan, kemudahan tumbuh menjadi hutan sampai umur masak tebang, kecepatan tumbuh (riap), manfaat, nilai dan kegunaan kayu, kecocokan dengan tempat tumbuh
– penentuan sistem permudaan: penting untuk pembangunan
tegakan baru seperti HTI baru, dipengaruhi oleh tujuan pengelolaan dan sifat silvikulturis jenis yang ditanam
Kegiatan Teknik dalam Manajemen
Pengelolaan Hutan
1. Pembangunan atau penanaman hutan (Lanjutan) a. Persiapan tanaman (Lanjutan):
– penentuan jarak tanam : tujuan agar pertumbuhan pohon yang tinggi dengan kualitas yang maksimal, dengan mempertimbangkan biaya, ketersediaan bibit, sifat-sifat jenis pokok dan campurannya (pohon yang cepat tumbuh ditanam jarak yang lebih lebar
sedangkan pohon lambat tumbuh ditanam rapat), perlu
mempertimbangkan sifat percabangan jenis yang diusahakan dan tujuan pengelolaan,
– penentuan tanaman sela, pengisi, tepi dan pagar : tanaman sela diperlukan untuk mencegah erosi dan meningkatkan kesuburan tanah spt lamtoro, gliriside, johar dsb. Tanaman pengisi sebaiknya lebih lambat tumbuh dibandingkan dengan tanaman pokok, seperti ploso, pilang & weru pada tanaman jati.
Pengantar Ilmu Kehutanan
Kegiatan Teknik dalam Manajemen
Pengelolaan Hutan
1. Pembangunan atau penanaman hutan (Lanjutan)
c. Persiapan lapangan: untuk kawasan hutan yang sudah tertata dengan petak yang dibatasi secara permanen oleh jalan angkutan dan pal batas maka persiapan lahan hanya berkaitan dengan pekerjaan untuk
mempersiapkan petak. Untuk kawasan hutan yang belum tertata maka perlu pembangunan jalan, perlindungan erosi dsb. Kegiatan persiapan lapangan berupa:
– Memancang pal
– Membersihkan lapangan dari semak belukar – Mengerjakan lahan
– Memasang acir
d. Pelaksanaan penanaman: ada jenis yang ditanam dengan biji secara langsung dan ada yang berupa semai. Ada semai yang berusia 3 bulan sudah ditanam, ada yang perlu waktu lebih lama untuk siap ditanam di lapangan.
e. Penilaian tanaman
Pengelolaan Hutan
2. Pemeliharaan, penjagaan dan peningkatan kualitas tanaman hutan (forest culture) : kegiatan yang dilaksanakan setelah pembuatan tanaman dinyatakan berhasil, sampai tegakan tersebut siap ditebang pada umur daur.
a. Prunning : kegiatan memotong cabang untuk membentuk batang yang lurus dan bebas cabang. Tujuan dari prunning adalah menghasilkan batang bebas mata kayu terutama untuk produk kayu pertukangan dan finir.
Prunning dilaksanakan pada awal musim penghujan. Prunning yang
berlebihan dapat menurunkan laju pertumbuhan pohon. Beberapa jenis dapat melakukan prunning secara alami spt Eucalyptus pellita, sedang Acacia mangium dan Pinus merkusii perlu prunning buatan.
b. Penjarangan : penebangan terhadap sejumlah kecil pohon agar tegakan tinggal mempunyai ruang yang optimal untuk pertumbuhan sehingga diperoleh uang yang maksimum. Ukuran pohon yang bertambah besar menyebabkan tajuk semakin besar, penjarangan dilakukan agar pohon tinggal mempunyai ruang tumbuh. Siklus penjarangan pada hutan jati 3 tahun pada KU I, kemudian bertambah dengan meningkatnya umur
disesuaikan dengan kecepatan tumbuh baik tinggi maupun diameter jati.
Kegiatan Teknik dalam Manajemen Pengelolaan
Hutan
Penjarangan
2. Pemeliharaan, penjagaan dan peningkatan kualitas tanaman hutan (lanjutan) :
c. Peningkatan kesuburan tanah : berupa pemupukan, perbaikan aerasi tanah dengan pencangkulan, penanaman jenis legum di bawah tegakan, dsb.
d. Tanaman pengayaan : seringkali dalam tegakan terjadi kematian pohon yang menyebabkan jumlah pohon lebih jarang dari normal, sehingga terjadi tempat yang terbuka di tegakan tersebut. Oleh karena itu
dilakukan tanaman pengayaan agar kerapatan tegakan mencapai kondisi normal
e. Pembebasan tanaman pengganggu
f. Penjagaan keamanan berupa penjagaan dari penggembalaan ternak terutama pada tanaman muda, dari pencurian kayu dan kebakaran hutan.
g. Pemberantasan hama dan penyakit
Kegiatan Teknik dalam Manajemen Pengelolaan Hutan
Pengantar Ilmu Kehutanan
3. Pemanenan (harvesting)
a. Perhitungan Etat : perhitungan jumlah tebangan yang boleh
dilakukan dalam menjamin terwujudnya asas kelestarian. Jumlah tebangan bisa dinyatakan dalam bentuk volume, tetapi juga luas.
Etat luas dihitung dari kawasan hutan produktif dibagi dengan panjang daur yang diterapkan. Etat volume dihitung dengan memprediksi potensi semuak kelas umur pada akhir daur berdasarkan potensi dan ciri-ciri tegakan pada saat dilakukan inventore.
b. Pelaksanaan tebangan c. Penentuan kualitas kayu d. Administrasi kayu
e. Tempat pengumpulan dan penimbunan kayu f. Pengangkutan kayu
4. Pengolahan hasil hutan (processing) dan 5. Pemasaran hasil hutan (marketing)