Berbagai posisi kunci di tingkat nasional dan daerah tidak lepas dari keberadaan partai politik. Firman Noor | Evaluasi kondisi pesta 14 tahun..| 237 Namun, keberadaan partai politik yang diperkuat secara konstitusional tidak diikuti oleh dukungan yang semakin kuat bagi mereka. Salah satu implikasinya adalah saat ini figur menjadi jauh melampaui partai politik di beberapa momen penting perjuangan politik.
Jelas dari pembahasan di atas bahwa partai politik memainkan peran yang jauh lebih penting daripada partai-partai pada periode-periode sebelumnya.
PENGAWASAN DPR DAN POLITIK KARTEL ERA REFORMASI
STUDI KASUS INTERPELASI DANANGKET TAHUN 1999−2011
Akan tetapi, partai kartel berbeda dari tiga model partai sebelumnya dalam hal “keterkaitan antara partai dan negara” dan “pola kolusi antar partai” (Katz dan Mair 2002: 17). Partai-partai elit tumbuh dari negara dan menarik dukungan dan sumber daya publik atas nama konsolidasi negara, sementara partai massa muncul dari luar negara dan mencoba menjalankan tugas (dan . Wawan Ichwanuddin | Kontrol DPR dan Kartel Politik.. | 257 sambil mewakili ) kepentingan ekonomi tertentu. Sementara itu, partai-partai kartel telah kehilangan pijakannya dalam masyarakat sipil dan hampir seluruhnya berada di dalam dan di belakang negara.
Pertama, gagalnya beberapa usulan tak lepas dari peran pemerintah dalam melobi partai di DPR.
PROBLEM DEMOKRATISASI DALAM DESENTRALISASI ASIMETRIS
Pertama, masih ada ketidakpastian tentang penekanan otonomi daerah antara provinsi dan kabupaten/kota. Mardyanto W.T.| Masalah demokratisasi dalam desentralisasi ..| 271 Desentralisasi di Indonesia masih berkaitan dengan mencari formula hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat (nasional) dan daerah (daerah), hubungan antar daerah dan restrukturisasi struktur pemerintahan daerah. Tanpa demokrasi, desentralisasi hanya berorientasi pada tertib administrasi dan fleksibilitas fiskal, yang tidak memperhitungkan keinginan masyarakat dan tatanan politik lokal.2 Oleh karena itu, desentralisasi dapat berjalan tanpa demokrasi.
Kemampuan bernegosiasi secara rasional antar lembaga daerah dalam perumusan kebijakan publik akan menunjukkan kualitas demokrasi lokal. 1998) bahkan menarik perhatian tidak hanya pada persoalan kapasitas pemerintah daerah, tetapi juga pada persoalan kapasitas pemerintahan nasional. Berbeda dengan Aceh dan Papua yang tidak ditanggapi serius oleh pemerintah pusat, Yogyakarta sebagai daerah istimewa yang sebelumnya sepi, terusik oleh pemerintah pusat yang mempertanyakan keistimewaannya. Mardyanto W.T.| Masalah demokratisasi dalam desentralisasi ..| 283 desentralisasi justru meningkatkan intervensi pemerintah pusat dalam menentukan bentuk desentralisasi daripada menyesuaikan diri dengan tekanan dari bawah (O'Neill 2005: 4).
Anggap saja penekanan otonomi khusus di tingkat provinsi tidak serta merta membuat gubernur Aceh dan Papua patuh pada bupati/walikota setempat. Tentu penyebab keresahan di tingkat lokal bukan hanya format pilkada yang tidak sejalan dengan penekanan otonomi khusus, keterlambatan demokratisasi lokal juga bisa terjadi karena pemerintah pusat tidak serius mengawal otonomi khusus, kapasitas kelembagaan daerah. . tidak mencukupi dan sebagainya. Dengan kata lain, kesimpangsiuran pengaturan desentralisasi dan pengaturan pemerintahan sendiri di daerah berdampak besar pada keresahan politik di tingkat lokal.
Persoalan pemusatan otonomi khusus yang ditempatkan di tingkat provinsi, seperti yang terjadi di Aceh dan Papua, berbeda dengan persoalan yang dialami Jakarta. Campur tangan pemerintah pusat dalam hal ini termasuk kewajibannya untuk memberikan otonomi kepada suatu daerah.
PEREMPUAN PAPUA DAN PELUANG POLITIK DI ERA OTSUS PAPUA
Widjojo | Perempuan Papua dan Peluangnya..| 305 Posisi dan partisipasi perempuan dalam proses pengambilan keputusan tidak sepenuhnya tetap. Widjojo | Perempuan Papua dan Peluangnya..| 307 Meski dikenal sebagai dukun, perempuan tidak diperlakukan buruk. Widjojo | Perempuan Papua dan Peluangnya..| 311 dengan perempuan korban kekerasan, gambaran di atas terkesan hiperbolis atau dibesar-besarkan.
Namun tentu tidak bagi para aktivis perempuan yang tergabung dalam Tim Pokja Perempuan MRP dan Komnas Perempuan Korban Pelanggaran Perempuan Papua. Widjojo | Perempuan Papua dan Peluangnya..| 313 Dengan kemajuan reformasi, gerakan perempuan Papua juga berkembang pesat dan bernada politis. Sebutan ini digunakan sebagai sebutan atau sapaan bagi tokoh perempuan Papua yang dihormati, berjasa dan berpengaruh di masyarakatnya.
Widjojo | Perempuan Papua dan Peluangnya..| 317 Pekerjaan Umum mengatakan tender sedang berlangsung (Papua.posterous.com, “Rp 5 Miliar Bangun Pasar untuk Mama Papua,” 26 Maret 2010). Secara prosedural, tidak ada hambatan berarti bagi perempuan Papua untuk aktif di politik formal. Tanda utamanya, aktivis perempuan Papua berhasil memasukkan kategori perempuan dalam Presidium Dewan Papua (PDP) sebagai salah satu pilar.
Kekerasan yang dialami perempuan Papua juga bermula dari konflik politik antara Jakarta dan Papua selama bertahun-tahun. Widjojo | Perempuan Papua dan Peluangnya..| 325 bagian lembaga negara disiapkan dan dibangun menurut kategori gender.
FEMALE LEADERSHIP AND DEMOCRATIZATION IN LOCAL POLITICS SINCE 2005
TREND, PROSPECT, AND REFLECTION IN INDONESIA
A Satriyo's chapter in the edited volume by Edward Aspinall and Marcus Mietzner provides a general picture of the rise of female political leaders in direct local elections. In turn, the introduction of the direct local head election leads to the increasing number of female elected leaders in local politics. Looking at the table, we can see a feature of the female leaders elected in the first term of the direct local elections.
Manan, the elected mayor of Tanjung Pinang in direct local elections in 2008, has quite a varied political career history. As we understand the characteristics of female leaders elected in the first term of direct elections for local mayors, what about their characteristics in the second term of direct local elections. Looking at the Table, we can see some characteristics of the female leaders elected in the second term of the direct elections for local mayors.
The feature is in the same categorization as in the first term of direct local elections. Kurniawati Hastuti Dewi | Female leadership and democratization ..| 341 prominent male politicians, was a significant factor behind the emergence and victory of female political leaders in the second term of direct local head elections. Family ties made a significant contribution to their emergence in the second term of direct local head elections.
Furthermore, with the increase in the number of female political leaders in the direct elections of local mayors, this shows that gender is not a limiting factor for women's political careers. Islam is specifically mentioned as the religion embraced by the majority of elected female leaders in either the first or second term of direct local election, and gender in democratization in Indonesian local politics.
ARAH PERKEMBANGAN DEMOKRASI DI PERDESAAN PASCA ORDE BARU
Pada saat yang sama, perlu dibangun mekanisme penyelesaian konflik yang melembaga di desa agar konflik tidak berlarut-larut. Sebagaimana diketahui, sentralisasi yang diperkenalkan Orde Baru telah merusak struktur demokrasi yang ada di desa. Terkadang terjadi pergeseran pola partisipasi yang cukup menarik, seperti di Desa Anjani (Lombok Timur).
Di masa lalu, warga menunjukkan sikap apatis terhadap pembangunan desa – hasil pembangunan dari atas ke bawah dan padat karya. Pemerintah desa sendiri belum banyak berperan dalam penyelesaian konflik yang muncul di desa. Salah satu akibatnya, camat tidak berperan efektif dalam penyelesaian konflik di desa-desa sehingga tidak mundur.
Mekanisme permusyawaratan kepala desa dengan badan permusyawaratan desa sebenarnya harus berkesinambungan, sebagai tanda bahwa kekuasaan kepala desa “terbatas”. Pada prinsipnya kelaziman lembaga adat yang masih hidup di desa-desa genealogis tetap terjaga, termasuk lembaga adat yang sampai saat ini bekerja menyelesaikan berbagai sengketa/konflik yang timbul di masyarakat. Heru Cahyona | Arah pembangunan demokrasi..| 365 Sikap kepemimpinan yang tertutup bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pembangunan demokrasi tidak berjalan bahkan rawan manipulasi, seperti yang terjadi di desa Ngabul (Jepara).
Ke depan perlu dipikirkan mekanisme penyelesaian konflik di desa agar konflik tidak berkepanjangan. Sebab, konflik elit di pedesaan telah merusak perkembangan demokrasi di pedesaan dan membuat arus demokrasi menjadi negatif.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA PASCAORDE BARU: REFLEKSI TENTANG
Sejak awal reformasi, setidaknya ada empat perubahan penting yang mempengaruhi sistem perencanaan pembangunan di Indonesia. Pertama, peran Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) kini lebih terbatas dibanding masa Orde Baru. Ahmad Helmy Fuady | Perencanaan Pembangunan di Indonesia..| 377 Tulisan ini bertujuan untuk melihat perkembangan perencanaan pembangunan yang terjadi sejak tumbangnya rezim Orde Baru dan dampaknya terhadap partisipasi masyarakat dalam kondisi baru tersebut.
Keempat, makalah ini membahas pengaruh langsung pemilihan presiden dan kepala daerah terhadap mekanisme perencanaan pembangunan. Praktik pembangunan dan perencanaan pembangunan di Indonesia pada masa Orde Baru tidak terlepas dari pengaruh negara-negara pembangunan ala Keynesian dan Asia. Bagian selanjutnya dari makalah ini menjelaskan perubahan lingkungan perencanaan pembangunan di Indonesia seiring berkembangnya pemikiran ini.
Satu hal yang sangat menonjol pada masa Orde Baru adalah perencanaan pembangunan yang sangat terpusat di Jakarta. Ahmad Helmy Fuady | Perencanaan Pembangunan di Indonesia..| 385 Minimnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan juga dibuktikan dengan Governance Index yang disusun oleh Partnership3 pada tahun 2008. Bagian selanjutnya akan membahas pengaruh mekanisme perencanaan pembangunan yang baru terhadap peningkatan partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan.
Dalam penyusunan RPJM ini memang ada Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang harus melibatkan masyarakat. Bagian ini menunjukkan bahwa pemilihan langsung presiden dan kepala daerah juga tidak memberikan ruang yang lebih luas bagi partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan.
RINGKASAN DISERTASI OPOSISI DALAM SISTEM PRESIDENSIAL
SEPENGGAL PENGALAMAN PDI PERJUANGAN (PDIP) DI ERA PEMERINTAHAN SBY-JK
Tuswoyo | Oposisi dalam sistem presidensial: ..| 401 Memang, peran kritis partai oposisi di DPR atau di forum publik lainnya telah menyebabkan peningkatan apresiasi publik terhadap keberadaan oposisi di DPR. Sekontroversial apapun keberadaan partai oposisi dalam sistem presidensial, keberadaan partai oposisi dalam demokrasi tetap diperlukan. Hal ini memperkuat gagasan bahwa pemerintah dan partai oposisi tidak memiliki perbedaan orientasi ideologis.
Dahl dan Arend Lijphart menjelaskan adanya karakteristik yang berbeda antara keberadaan partai oposisi di negara-negara yang menganut sistem parlementer. Dalam negara yang menganut sistem parlementer, hubungan antara pemerintah dan partai oposisi bersifat adversarial, karena mereka yang berkuasa bersifat eksklusif, kompetitif dan saling bertentangan (adversary). Dengan demikian, baik di negara yang menganut sistem parlementer maupun presidensial, partai oposisi tetap ada, dengan anggapan partai oposisi adalah satu-satunya.
Tuswoyo | Oposisi dalam sistem presidensial: ..| 405 Di kedua negara dengan sistem presidensial dan parlementer, partai-partai oposisi bisa mendapatkan keuntungan dari setiap debat parlementer. Debat di parlemen sangat penting karena dapat mempengaruhi pandangan publik terhadap kebijakan pemerintah atau partai oposisi di daerah lain. Hal ini sekaligus menjadi pembenaran ideologis bagi PDIP sebagai partai oposisi yang menjadikan orientasi populis sebagai basis penentangannya.
Perbedaan cara pandang tersebut membuat partai oposisi dan pemerintah saling bersaing untuk mempengaruhi partai politik di DPR dan pemilih di luar parlemen. Hal yang menarik adalah isu isu publik yang diperebutkan antara pemerintah dan partai oposisi.