A. Alur transaksi Ijarah dan Ijarah Muntahiya Bit Tamlik
Melaksanakan akad Ijarah dan Imbt memiliki beberapa langkah seperi skema gambar di bawah :
1. Negosiasi dan Akad Ijarah
Nasabah yang berminat untuk mengajukan permohonan ijarah di bank syariah harus mengisi formulir permohonan yang telah disediakan. Dalam proses ini, berbagai informasi yang diberikan oleh nasabah akan memverifikasi kebenarannya dan dianalisis untuk menilai kelayakannya. Bank syariah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap data yang disampaikan, termasuk aspek finansial dan tujuan penggunaan ijarah. Bagi nasabah yang dianggap memenuhi syarat dan layak, langkah selanjutnya adalah mengadakan perikatan yang formal melalui penandatanganan kontrak ijarah atau imbt. Proses ini memastikan bahwa semua pihak memahami hak dan kewajiban masing-masing, serta menjamin bahwa transaksi dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah yang berlaku.
2. Membeli barang/jasa pada pemasok
Sebagaimana difatwakan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN), setelah akad ijarah disepakati, bank syariah selanjutnya berkewajiban untuk menyediakan objek sewa yang akan digunakan oleh nasabah sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Objek sewa tersebut dapat berupa barang maupun jasa, tergantung pada kebutuhan nasabah dan jenis akad yang dilakukan. Dalam praktiknya, bank syariah dapat memberikan kuasa atau mewakilkan kepada nasabah untuk mencarikan sendiri barang atau jasa yang dibutuhkan. Setelah nasabah menemukan objek yang sesuai, bank kemudian akan melakukan pembelian atau pembayaran atas barang atau jasa tersebut, sehingga secara kepemilikan sah dimiliki oleh bank. Selanjutnya, barang atau jasa tersebut disewakan kepada nasabah dengan skema ijarah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah yang berlaku. Mekanisme ini memberikan fleksibilitas bagi nasabah, sekaligus memastikan bahwa proses pembiayaan tetap berada dalam koridor hukum syariah.
3. Menggunakan objek Ijarah
Nasabah yang telah menyepakati kontrak ijarah berhak untuk menggunakan barang atau jasa yang disewakan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Selama periode penggunaan objek sewa, nasabah memiliki tanggung jawab untuk menjaga kondisi barang dan menanggung biaya pemeliharaan yang diperlukan, sesuai dengan kesepakatan yang tercantum dalam kontrak. Namun apabila terjadi kerusakan pada barang sewa yang bukan disebabkan oleh kelalaian nasabah, maka Bank Syariah sebagai pembersewa akan menanggung biaya perbaikan. Hal ini mencerminkan komitmen bank untuk memastikan
bahwa nasabah dapat menggunakan objek sewa dengan nyaman dan aman, sekaligus menjaga prinsip keadilan dan tanggung jawab dalam hubungan sewa- menyewa. Dengan demikian, kedua belah pihak dapat menjalankan hak dan kewajiban mereka dengan baik, sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati.
4. Membayar sewa pada bank
Sebagai pihak penyewa dalam akad ijarah, nasabah berkewajiban untuk membayar sewa kepada Bank Syariah sesuai dengan besaran dan jangka waktu yang telah disepakati dalam kontrak sewa. Pembayaran fee sewa ini merupakan bentuk kompensasi atas pemanfaatan barang atau jasa yang disediakan oleh bank selama periode sewa berlangsung. Besaran fee sewa ditentukan berdasarkan nilai manfaat dari objek sewa, jangka waktu penggunaan, serta kesepakatan antara kedua belah pihak yang dituangkan secara jelas dalam akad.
Pembayaran dilakukan secara berkala, baik bulanan, triwulanan, maupun sesuai skema lain yang telah disepakati bersama. Kewajiban ini menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga kelangsungan akad ijarah, serta mencerminkan komitmen nasabah terhadap prinsip keadilan dan kepatuhan terhadap perjanjian syariah yang telah dibuat.
5. Mengalihkan hak milik barang ijarah pada akhir masa sewa (khusus IMBT) Dalam transaksi Ijarah Muntahiya Bittamlik (IMBT), setelah masa sewa atau ijarah selesai dan seluruh kewajiban pembayaran fee sewa telah dipenuhi oleh nasabah, bank syariah sebagai pemilik sah atas barang memiliki hak untuk mengalihkan kepemilikan barang tersebut kepada nasabah selaku penyewa.
Pengalihan hak milik ini merupakan bagian dari kesepakatan awal dalam akad IMBT, di mana pada akhir masa sewa, aset yang sebelumnya disewakan akan berpindah kepemilikannya kepada nasabah, baik melalui mekanisme hibah (pemberian), jual beli dengan harga sisa (nominal tertentu), maupun hadiah setelah pelunasan seluruh kewajiban. Proses ini dilakukan melalui akad tersendiri yang sah secara hukum dan sesuai prinsip syariah. Dengan demikian, akad IMBT tidak hanya memberikan manfaat penggunaan aset selama masa sewa, tetapi juga membuka kesempatan bagi nasabah untuk menjadi pemilik sah dari aset tersebut pada akhir periode akad, sehingga memberikan solusi pembiayaan yang lebih berkelanjutan dan bernilai tambah bagi nasabah.
B. Cakupan Standar Akuntansi Ijarah dan Ijarah Muntahiya Bit Tamlik
Ketentuan akuntansi untuk transaksi ijarah diatur dalam PSAK No. 107 yang berlaku untuk penyusunan dan penyajian laporan keuangan mulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2009. Standar ini memuat tentang mekanisme transaksi dan ketentuan tentang pengakuan dan pengukuran transaksi yang terdapat dalam skema ijarah baik untuk pemberi sewa maupun penyewa. Beberapa hal dicakup dalam standar ini adalah pengakuan dan pengukuran biaya perolehan, penyusutan, pendapatan, beban dan perpindahan kepemilikan. Bentuk aplikasi standar ini akan dibahas pada subbab teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi ijarah bagi bank syariah.
C.