• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGANALISA PUTUSAN NOMOR 211/PDT/2016/PT.SMG

N/A
N/A
naufal rafi

Academic year: 2024

Membagikan "MENGANALISA PUTUSAN NOMOR 211/PDT/2016/PT.SMG "

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MENGANALISA

PUTUSAN NOMOR

211/PDT/2016/PT.SMG

N A U F A L R A F I S P R R A D I T Y A A G U S T Y

( 1 3 1 2 2 0 0 1 3 5 ) ( 1 3 1 2 2 0 0 1 6 5 )

(2)

➢ Apakah Termasuk Dari Akibat Karena Force Majeure ?

➢ Fakta Hukum Persidangan Dari Kedua Sisi Pihak?

➢ Force Majeure Jenis Apa?

➢ Apakah Kami Setujuh Dengan Hasil Putusan Hakim Pada Putusan Perkara Ini ?

Mengenai Hal Apa Yang Kami

Analisa

(3)

Sebuah jenis perkara perdata wanprestasi (debitur)

Kreditur (suami-istri) meminjamkan uang kepada debitur (pemillik usaha kios) untuk digunakan sebagai modal

usaha debitur. Dengan telah ditentukan perjanjian mengenai pengembalian dari kedua belah pihak, yakni; pokok pinjaman utang beserta bunga dan waktu (jatuh tempo) pengembalian pinjaman.

Namun debitur tidak dapat memenuhi prestasi nya (dengan adanya sebab tertentu), hingga dari waktu yang telah

disepakati, hingga telah dilayangkan somasi (peringatan) oleh para kreditur dan hingga penyerahan surat gugatan pada perkara ini di penggadilan (2015).

Sehingga kreditur mengambil jalur hukum sebagai penyelesaiannya dengan melayangkan gugatan kepada debitur.

Duduk Perkara

(4)

PENGGUGAT

Menuntut tergugat dengan biaya ganti rugi senilai Rp. 4.186.230.000,00 dengan detail rincian nilai yang sebagaimana terlampir pada berkas perkara atas perbuatan wanprestasi debitur (tergugat).

Dimana dalam tuntutan yang diajukan oleh penggugat termasuk pokok pinjaman, dengan bunga pinjaman (4%) dan biaya gugatan.

TERGUGAT

Penyebab wanprestasi dikarenakan akibat usahanya kebakaran beserta seluruh modalnya dan biaya ganti rugi yang dituntut oleh penggugat tidak benar, sudah teransur beberapa dari nilai hutang pokok. Sisa hutang yang ada senilai Rp. 1.073.070.000,00 dan penggugat tidak pernah memberikan laporan akan sisa hutangnya.

Perihal Perkara Dari Kedua Belah Sisi Pihak

(5)

• Para Penggugat adalah pasangan suami istri yang bekerja sebagai pedagang dan sudah saling kenal dengan Tergugat sekitar 20 tahun.

• Benar adanya perikatan dalam hutang-piutang antara ANG TJOEN JWAN dan TAN SWIE IN (kreditur) dengan NANIK SURYO DARMONO (debitur) dengan nilai pinjaman Rp. 2.944.150.000,00.

• Pinjaman tersebut diadakan dengan jangka waktu dari 2012 sampai 2015 artinya pinjaman dilakukan secara berskala tidak dilakukan pada satu waktu saja. Dengan jumlah rincian tiap pinjaman sebagaimana terterah di gugatan penggugat.

• Bahwa para penggugat tidak pernah memberikan sisa hutang dari tergugat selama tempo tersebut.

• Bahwa tergugat telah membayar beberapa nilai hutangnya, sehingga yang tersisa senilai Rp. 1.073.070.000,00.

• Bahwa pada 27 Desember 2014 telah terjadi kebakaran cukup besar di Pasar Klewer. Seluruh kios dan termasuk dari kios Tergugat hangus.

• Dan penggugat telah mengetahui bahwa kios tergugat mengalami kebakaran pada 27 Desember 2014

Fakta Hukum

(6)

• Seluruh barang dagangan yang menjadi modal usaha tergugat ludes terbakar/hangus.

• Terjadinya kebakaran karena korsleting aliran listrik yang penyebab utamanya adalah pengeroposan panel listrik. Hal terebut lantaran ada titik bekas api yang lebih hitam dari bekas api lainnya.

• Dengan hal ini tergugat tidak dapat memenuhi prestasinya untuk membayar utang-piutang yang telah dilakukannya.

• Pengguat melayangkan gugatan kepada tergugat pada 10 Agsutus 2015 di PN Surakarta dengan selanjutnya diadili dan diputuskan pada 29 Maret 2016 dari Perkara Nomor 191/Pdt.G/2015/PN.Skt.

• Karena penggugat merasa tidak puas dengan hasil putusan pada penggadilan pertama, ia mengajukan banding pada 31 Maret 2016.

• Penggugat dalam banding tidak memberikan memori banding sehingga hakim tidak mengetahui apa yang menjadi alasan keberatan pembanding dalam banding tersebut.

• Selanjutnya Pengadilan Tinggi Semarang menerima banding tersebut dan memeriksa putusan pengadilan Surakarta Nomor:

191/Pdt.G/2015/PN.Skt. Pada akhirnya, putusan hakim pada tingkat banding ini sependapat dengan putusan a quo.

Fakta Hukum

(7)

APAKAH KAMI

SEPENDAPAT DENGAN PUTUSAN HAKIM PADA PERKARA INI ?

Ya, Kami Sependapat Dengan Putusan Hakim Pada Perkara Ini Dan Kami Berpendapat Ini Wanprestasi Bukan Sebab Force Majeur

Dasar kami setujuh dan mengatakan hal dimikian,

sebagai berikut;

(8)

Force Majeure

Sebagian besar kontrak modern mencakup klausul tegas yang membahas force majeure, yang termasuk didalam boilerplate (klausul yang bersifat teknis). Sehingga dengan dibuatnya klausul force majeure akan dapat memberikan pembebasan bagi para pihak dari sanksi yang sudah disepakati apabila terjadi hal-hal yang bersifat alamiah atau di luar kendali manusia yang dapat menghambat mereka dalam melaksanakan kewajiban kontraknya.

Secara umum, klausul force majeure mencakup bencana alam seperti kebakaran alam, gempa bumi, banjir, angin topan, dan tornado, serta peristiwa buatan manusia seperti perang, terorisme, dan pemogokan.

"Force majeure" adalah istilah hukum yang merujuk pada kejadian luar biasa dan tak terduga yang mencegah seseorang atau pihak memenuhi kewajiban kontrak. Konsep force majeure berakar pada doktrin common law tentang ketidak mungkinan dan ketidak mampuan. Pihak yang berusaha menerapkan doktrin ketidak mampuan di bawah hukum umum harus menunjukkan bahwa peristiwa yang membuat kinerja menjadi tidak mungkin tidak terduga dan tidak dapat diramalkan oleh para pihak. Force majeure merupakan salah satu konsep dalam hukum perdata dan diterima sebagai prinsip dalam hukum.

(9)

Kebakaran alam adalah suatu peristiwa terbakarnya hutan dan/atau lahan, baik secara alami maupun oleh perbuatan manusia, sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan yang menimbulkan kerugian ekologi, ekonomi, sosial budaya dan politik.

Kebakaran alam bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kilat dan guntur yang menyambar pohon, letusan gunung berapi, atau gesekan ranting kering yang mengandung minyak. Selain itu, kebakaran alam juga bisa dipicu oleh aktivitas manusia, seperti kegiatan berladang, perkebunan, penyiapan lahan untuk ternak sapi, hingga kegiatan hutan tanaman industri.

Force Majeure

Sebagai contoh dari kebakaran alam adalah Kebakaran Hutan 1997-1998 yang berlangsung dari September 1997 hingga Juni 1998 di Kalimantan dan Riau, menjadi salah satu kebakaran hutan terbesar di dunia dalam dua abad terakhir. Luas lahan yang terbakar mencapai 19,7 juta hektare (ha), serta menimbulkan 100.000 orang terserang penyakit akibat asap dan 240 tewas.

(10)

Point tujuan kami menjelaskan pengertian force majeure akibat kebakaran alam, untuk sebagai dasar pemahaman kami dalam berpendapat bahwa pada kasus perkara yang kami kaji ini sebab kebakaran tidak termasuk pada force majeure.

 Kebakaran pada pasar klewer karena korsleting listrik yang disebabkan pengeroposan panel listrik.

Dasar Pendapat Kami

(11)

Panel listrik adalah sebuah alat atau perangkat yang memiliki fungsi untuk membagi, menyalurkan dan kemudian mendistribusikan energi listrik dari sumbernya (pusat) kepada konsumen (pemakai).

Sehingga apakah pengeroposan panel listirk dapat menyebabkan kebakaran: Ya, pengeroposan atau kerusakan pada panel listrik bisa menyebabkan kebakaran. Hal tersebut dapat terjadi karena berpengaruh pada komponen-komponen didalamnya yang memiliki fungsi masing- masing, seperti mcb, mccb, lampu indikator, busbar tembaga dan sekring, semua peralatan tersebut bisa saja terbakar akibat korsleting listrik.

Tanda-tanda panel listrik akan terbakar dapat kita prediksi dari suhu panas di dalam panel, panas di area panel memiliki potensi besar akan terjadinya lelehan kabel kawat tembaga kering dan selanjutnya terbakar¹.

(12)

Point tujuan kami menjelaskan pengertian force majeure akibat kebakaran alam, untuk sebagai dasar pemahaman kita dalam berpendapat bahwa pada kasus perkara yang kami kaji ini sebab kebakaran tidak termasuk pada force majeure.

 Kebakaran pada pasar klewer karena korsleting listrik yang disebabkan pengeroposan panel listirk.

 Sehingga dari pengetahuan tersebut, pada perkara ini sebab kebakaran merupakan suatu kelalaian manusia.

 Kebakaran itu bisa saja tidak dapat terjadi apabila dilakukan pengecekan dan maintenance pada komponen panel listirk tersebut.

Dengan pula memperhatikan tanda-tanda yang ada sebagai bentuk dari pencegahan kebakaran atau hal yang tidak diinginkan.

Dasar Pendapat Kami

Jadi atas dasar ini lah kami dapat mengatakan hal demikian tersebut.

Selanjutnya mengenai dasar hukum dari tuntutan hakim kepada tergugat pada perkara ini sebagai berikut;

(13)

• Pasal 1234 KUHPerdata (BW) menjelaskan bahwa prestasi yang dituntut umumnya berupa tiga hal, yakni memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, dan untuk tidak berbuat sesuatu.

 Melihat Pasal ini bahwa pada konteks utang-piutang debitur dituntut berprestasi untuk berbuat sesuatu, yakni debitur harus membayar hutang sesuai kesepakatan perjanjian yang dilakukannya dengan kreditur. Namun pada perkara kami ini debitur justru berbuat wanprestasi yang secara akademis masuk pada jenis “melaksanakan apa yang telah dijanjikan, tetapi tidak sesuai dengan apa yang disepakati”, dimana pada perkara ini debitur membayar hutang ada tenggang waktu yang disepakati tersebut tetapi tidak dapat membayar hutangnya kepada kreditur dengan lunas karena adanya sebab-sebab yang menghambat debitur.

Sehingga pada perkara ini karena debitur telah lewat masa tenggang waktu pelunasan hutang yang telah disepakatinya

bersama kreditur, maka debitur dikenakan juga pula membayar hutang pokoknya beserta bunganya.

(14)

• Pasal 1238 KUHPerdata (BW) menyatakan bahwa debitur dinyatakan lalai dengan surat perintah, atau dengan akta sejenis itu, atau berdasarkan kekuatan dari perikatan sendiri, yaitu bila perikatan ini mengakibatkan debitur harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan.

 Pada putusan hakim mengenai “Menghukum Tergugat untuk membayar kepada Para Penggugat hutangnya sebesar Rp 1.073.070.000,- (satu milyar tujuh puluh tiga juta tujuh puluh ribu rupiah)” telah sesuai dengan Pasal 1238 KUHPerdata (BW) karena debitur masih memiliki sisa hutangnya pada saat telah lewat waktu yang ditentukan karena sebab kelalaian nya sendiri.

Sebab kami mengatakan debitur lalai karena ia masih bisa dengan berbagai cara/usaha dan dengan keadaan bersusah

payah sekalipun untuk tetap berusaha berprestasi dalam perjanjian yang telah dibuatnya. Kami berpendapat bahwa

debitur masih bisa berusaha dengan meminjam uang sebagai modal untuk membuat suatu usaha baru. Guna untuk

tetap adanya itikad baik dari debitur meskipun dengan menyicil mungkin kreditur akan lebih memahami situasiya.

(15)

• Pasal 1365 KUHPerdata (BW) menyatakan bahwa tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang membuat kerugian tersebut untuk mengganti kerugian tersebut.

 Pada putusan hakim mengenai “Menghukum Tergugat untuk membayar kepada Para Penggugat hutangnya sebesar Rp 1.073.070.000,- (satu milyar tujuh puluh tiga juta tujuh puluh ribu rupiah)” telah juga menjalankan dari fungsi Pasal 1365 KUHPerdata (BW) karena terdapat kerugian yang dialami oleh kreditur.

Alasan kami memasukan Pasal 1365 KUHPerdata (BW) terdapat adanya kerugian materil yakni sebagaimana pinjaman

uang yang diberikan kreditur kepada debitur dan inmateril yang dialami oleh penggugat (kreditur) berupa penurunan

kredebilitas/kepercayaan dari para teman/relasi bisnis, serta gangguan pada kondisi kesehatan dan kejiwaan nya yang

terterah didalam gugatan penggugat.

(16)

 Pada putusan hakim ini, menurut kami telah juga sesuai sebagaimana dasar pada Pasal 1239 KUHPerdata (BW) mengatur bahwa debitur yang wanprestasi wajib memberikan penggantian biaya, rugi dan bunga; Pasal 1243 KUHPerdata (BW) mengatur bahwa penggantian biaya, rugi dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan, barulah mulai diwajibkan, apabila si berutang, setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya atau jika sesuatu harus diberikannya setelah melewati tenggang waktu yang dilampaukannya; dan Pasal 1250 ayat (1) KUHPerdata (BW) mengatur bahwa dalam tiap-tiap perikatan yang semata-mata berhubungan dengan pembayaran sejumlah uang, penggantian biaya, rugi dan bunga sekadar disebabkan terlambatnya pelaksanaan, hanya terdiri atas bunga yang ditentukan oleh undang-undang.

• Putusan Hakim “membayar bunga sebesar 6 (enam) persen pertahun sejak Januari 2015 sampai gugatan ini diajukan”

UU yang menetapkan bunga dari suatu kealpaan/kelalaian, dimuat Lembaran Negara No. 22 Tahun 1948 telah

menetapkan bunga dari suatu kelalaian/kealpaan (bunga moratoir) yang dapat dituntut oleh kreditur dari debitur

adalah sebesar 6 (enam) % per tahun.

(17)

KESIMPULAN

• Sehingga didapati pada perkara ini adalah kasus wanprestasi.

• Bukan karena sebab/keadaan yang memaksa (force majeur)

• Dengan demikian, maka tetap debitur harus membayar hutangnya sebagaimana hutang pokok dan bunga.

• Debitur masih dengan berbagai usaha apapun dan dengan bersusah payah masih dapat berprestasi (itikad baik).

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa dalil Penggugat poin 7 (8?) untuk memohon sita jaminan (CB) atas tanah milik Tergugat tidak benar dan tidak beralasan hukum, karena dasar gugatan yang didalilkan

Bahwa adalah tidak Wajar bila Penggugat Dr Penarik Vr dan Turut Menggugat Dr Turut Menarik Vr yang sudah kehilangan Mobil dan sudah membayar Premi Asuransi,

672/ 2009 tanggal 18 Juni 2009 tanggal 18 Juni 2009 atas nama Penggugat/ Pembanding pada Turut Tergugat II sebesar Rp 672.478.125 ( Enam ratus tujuh puluh dua

15. Bahwa pada bulan Nopember 2010 Kepala Desa Kampung Dalam melakukan pertemuan untuk melakukan mediasi atas sengketa lahan Penggugat dengan Tergugat I dan Tergugat

membayar kerugian kepada Penggugat sebesar sisa pokok pembiayaan Rp420.203.977,- (empat ratus dua puluh juta dua ratus tiga ribu sembilan ratus tujuh puluh

Bahwa setelah Penggugat mengetahui alamat rumah Tergugat yang di Bogor, maka selanjutnya Penggugat pada hari Sabtu sore tanggal 20 Desember 2014 mendatangi rumah

Menimbang, bahwa Pembanding semula Tergugat II Konpensi/ Penggugat Rekonpensi untuk kepentingan pemeriksaan dalam tingkat banding tidak mengirimkan memori banding

1 Saksi Nannie Hardiyantie, dibawah sumpah pada pokoknya menerangkan, bahwa saksi kenal dengan Penggugat dan Tergugat dan diantara penggugat dan tergugat ada masalah sengketa tanah, dan