All Eyes on Papua: Mengapa Viral di Media Sosial?
Hafid Gio
Arti harfiah dari "All Eyes on Papua" adalah "semua mata tertuju pada Papua". Ungkapan ini menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap hutan Papua yang terancam dijadikan lahan perkebunan sawit. Poster bertuliskan "All Eyes on Papua" viral di media sosial, dan tagar tersebut menjadi trending topik di platform X dan Instagram. Warganet menyuarakan kekhawatiran bahwa hutan Papua akan dibabat oleh pejabat dan petinggi untuk perkebunan sawit.
Masyarakat adat di Papua saat ini sedang memperjuangkan hak mereka atas hutan adat.
Mereka menilai bahwa pejabat yang hanya mementingkan bisnis membuat masyarakat Papua miskin. Pengorbanan hutan untuk perkebunan sawit dianggap egois dan tidak berperikemanusiaan. Kampanye "All Eyes on Papua" bergema untuk menyuarakan konflik lahan yang sedang terjadi di Papua, khususnya yang melibatkan masyarakat adat Marga Moro dan Suku Awyu yang menggugat izin lingkungan kebun sawit PT Indo Asiana Lestari (PT IAL).
Masyarakat adat Papua Barat menolak rencana pembabatan hutan seluas 36 ribu hektar tersebut, karena jika proyek terlaksana, hutan adat yang menjadi sumber penghidupan mereka akan hilang dan mengancam kehidupan mereka. Yayasan Pusaka Bentala Rakyat mengajak orang-orang menandatangani petisi di change.org sejak 2 Maret 2024 untuk mencabut izin sawit PT IAL. Menghilangkan hutan alam seluas separuh Jakarta dianggap sebagai bencana, karena akan menghilangkan emisi 25 juta ton CO2, yang setara dengan 5 persen dari tingkat emisi karbon tahun 2030, berdampak global.
Pada 27 Mei 2024, masyarakat adat Papua Barat, Awyu dan Moi, melakukan aksi unjuk rasa damai di depan gedung Mahkamah Agung (MA) dengan memakai baju adat mereka.
Mereka meluapkan penolakan atas izin perusahaan perkebunan kelapa sawit di Boven Digoel dan Sorong. Aksi ini dilakukan setelah gugatan mereka di pengadilan tingkat pertama dan kedua gagal. Gugatan kini memasuki tahap kasasi, yang menjadi harapan terakhir bagi masyarakat adat Papua untuk mempertahankan hutan adat mereka.