• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengenal Kabupaten Lampung Selatan

N/A
N/A
Ricky Joe

Academic year: 2024

Membagikan " Mengenal Kabupaten Lampung Selatan"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

45

4.1 Gambaran Umum Kabupaten Lampung Selatan

Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105° 14’

sampai dengan 105° 45’ Bujur Timur dan 5° 15’ sampai dengan 6° Lintang Selatan. Mengingat letak yang demikian ini, daerah Kabupaten Lampung selatan seperti halnya daerah – daerah lain di Indonesia merupakan daerah tropis. Kabupaten Lampung Selatan bagian selatan meruncing dan mempunyai sebuah teluk besar yaitu Teluk Lampung. Di Teluk Lampung terletak sebuah pelabuhan yaitu Pelabuhan Panjang, dimana kapal – kapal dalam dan luar negeri dapat merapat. Secara umum, pelabuhan ini merupakan faktor yang sangat penting bagi kegiatan ekonomi penduduk Lampung. Sejak tahun 1982, Pelabuhan Panjang termasuk dalam wilayah Kota Bandar Lampung.

Kabupaten Lampung selatan mempunyai daratan kurang lebih seluas 210.974 Ha. Kabupaten Lampung Selatan memiliki kantor Pusat Pemerintahan di Kota Kalianda, yang diresmikan menjadi Ibukota Kabupaten Lampung Selatan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 11 Februari 1982. Berdasarkan undang-undang Nomor 2 tahun 1997 tentang pembentukan Kabupaten Tenggamus, yaitu pemekaran dari wilayah Kabupaten Lampung Selatan. Pada Tahun 2006, terjadi pemekaran Kabupaten Pesawaran dari wilayah Kabupaten Lampung Selatan. Namun,

(2)

setelah terjadi pemekaran berkurang menjadi 13 kecamatan. Kemudian pada Tahun 2008, terjadi pemekaran di Kabupaten Lampung Selatan yaitu, Kecamatan Tanjung Sari, Way Sulan, Way Panji, dan Kecamatan Bakauheni, dengan demikian jumlah Kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan secara eksisting berjumlah 17 kecamatan. Secara administrasi Kabupaten Lampung Selatan mempunyai batas – batas sebagai berikut :

1. Sebelah Utara : Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur.

2. Sebelah Selatan : Selat Sunda.

3. Sebelah Barat : Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Pesawaran.

4. Sebelah Timur : Laut Jawa. Pulau – pulau yang terdapat di Kabupaten Lampung Selatan antara lain pulau Krakatau, pulau Sebesi, pulau Sebuku, pulau Legundi, pulau Siuncal, pulau Rimau dan pulau Kandang.

Bila ditinjau dari segi luas dan keadaan alamnya, maka Kabupaten Lampung Selatan memiliki potensi yang sangat besar untuk di lihat dari segi manapun sebagai kabupaten yang memiliki banyak potensi objek wisata baik darat maupun lautnya sehingga kabupatenlampung selatan dinilai mempunyai masa depan cerah untuk lebih berkembang. Kabupaten Lampung selatan mempunyai daratan kurang lebih seluas 200.701 Ha.

Kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan secara eksisting berjumlah 17 kecamatan. Rincian mengenai masing-masing kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan dapat dilihat pada Tabel.4.1 berikut ini :

(3)

Gambar 4.1 Peta Administrasi Kecamatan Lampung Selatan

4.1.1 Sejarah terbentuknya Satpolpp

Satuan Polisi Pamong Praja, disingkat Satpol PP, adalah salah satu satuan bantuan keamanan tertua yang ada di Indonesia Satpol PP pertama kali dibentuk di Yogyakarta pada 3 Maret 1950 dengan motto Praja Wibawa, untuk membantu mengatasi persoalan keamanan pasca kemerdekaan yang belum menentu Menyusul setelahnya adalah Pembentukan Satpol PP untuk wilayah luar Jawa dan Madura Satuan yang terpisah dari kepolisian ini dibentuk sebagai bagian perangkat pemerintah daerah dalam menegakkan peraturan daerah dan penyelenggaraan ketertiban umum serta ketenteraman masyarakat Selanjutnya

1. Natar Merak Batin 21.377

2. Jati Agung Marga Agung 16.447

3. Tanjung Bintang Jati Baru 12.972

4. Tanjung Sari Kerto Sari 10.332

5. Katibung Tanjung Ratu 17.577

6. Merbau Mataram Merbau Mataram 11.394

7. Way Sulan Karang Pucung 4.654

8. Sidomulyo Sidorejo 12.253

9. Candipuro Titiwangi 8.469

10. Way Panji Sidoharjo 3.845

11. Kalianda Kalianda 16.140

12. Rajabasa Banding 10.039

13. Palas Bangunan 17.139

14. Sragi Kuala

Sekampung

8.192

15. Penengahan Pasuruan 13.298

16. Ketapang Bangun Rejo 10.860

17. Bakauheni Hatta 5.713

Jumlah 200.701

(4)

payung hukum untuk mengatur keberadaan Satpol PP adalah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Namun pada tahun 2010, pemerintah menggagas dibuatnya Peraturan Pemerintah baru untuk mengatur peran dan fasilitas satpol PP Dalam PP No 6/2010 itu,antara lain disebutkan kewenangan Satpol PP adalah "melakukan tindakan penertiban nonyustisial terhadap warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang melakukan pelanggaran atas Perda dan/atau peraturan kepala daerah".

Tetapi untuk melakukannya, anggota Satpol PP diwajibkan pula untuk menjunjung tinggi norma hukum, norma agama, hak asasi manusia, dan norma sosial lainnya yang hidup dan berkembang di masyarakat Untuk menunjang peran ini Satpol PP diberi fasilitas seperti kendaraan dan seragam, dan disyaratkan berijazah sekurang-kurangnya SMA. Keberadaan Satpol PP di daerah pada prinsipnya berkaitan dengan kepentingan penyelenggaraan fungsi pemerintahan di daerah. Konkritnya berkenaan dengan salah satu urusan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar yaitu ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat. Secara lebih spesifik hal ini tertuang dalam ketentuan pasal 255 UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah. Pada ayat (1) menyatakan bahwa Satuan Polisi Pamong Praja dibentuk untuk menegakkan Perda dan Perkada, menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman, serta menyelenggarakan pelindungan masyarakat.

Dengan demikian Satpol PP merupakan perangkat daerah yang tugas dan fungsi serta kewenangannya secara tegas dinyatakan secara langsung dalam UU pemerintahan daerah. Hal ini kemudian menjadi acuan bagi daerah

(5)

untuk membentuk organisasi Satpol PP yang sesuai dengan kebutuhan penegakkan regulasi daerah dan penyelenggaraan ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat.

Secara kelembagaan, dasar utama pembentukan Satpol PP sebagai perangkat daerah mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah yang secara eksplisit menyatakan bahwa instansi penyelenggara urusan ketenteraman dan ketertiban umum di daerah dinamakan Satpol PP. Pada regulasi ini juga diatur mengenai penentuan tipeologi Satpol PP di setiap daerah.

Selanjutnya berkenaan dengan pembentukan organisasi, tugas, fungsi, dan wewenang, sumber daya manusia, kewajiban Pemerintah Daerah, koordinasi, pembinaan, pengawasan, penghargaan, dan pelaporan serta pengaturan kualifikasi PPNS untuk Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Satpol PP, mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2019 tentang Satuan Polisi Pamong Praja. Kedua regulasi ini kemudian menjadi pedoman bagi daerah membentuk Satpol PP melalui peraturan daerah.

1. Sebelum Kemerdekaan

Dimulai sejak VOC menduduki Batavia (Jakarta) Tahun 1620 dibutuhkan suatu lembaga teknis yang berfungsi memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat pada saat itu, maka dibentuklah BAILLUW (Polisi merangkap Jaksa sekaligus Hakim) yang dapat secara langsung menangani suatu perselisihan dan masalah di bidang penegakan hokum dan peraturan yang berlaku pada saat itu.

(6)

Bailluw pada masa pemerintahan Raffles dikembangkan dan diberdayakan dengan

membentuk Satuan Baru lainnya yang disebut

dengan BESTTUURPOLITIE (Polisi Pamong Praja) dengan tugas khusus membantu Kewedanaan / Pemerintahan Daerah dalam rangka penegakan peraturan daerah, ketenteraman dan ketertiban umum masyarakat.

2. Jaman Kemerdekaan s/d sekarang

a. Setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan, selanjutnya Tanggal 18 Agustus 1945 dibentuk Badan Kepolisian Negara dimana didalamnya terdapat Satuan Polisi Pamong Praja yang bertugas secara khusus menangani masalah ketenteraman dan ketertiban umum.

b. Melalui Surat Perintah Jawatan Praja Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 1948 tanggal 30 Oktober 1948 dibentuk Polisi Penjaga Keamanan Kapanewonan di D.I.Yogyakarta, lalu pada pada Surat Perintah Jawatan Praja Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 tanggal 10 November 1948 diberi nama Detasemen Polisi Pamong Praja.

c. Tanggal 03 Maret 1950 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : UP.32/2/21 Tahun 1950 dibentuk Kesatuan Polisi Pamong Praja untuk tiap – tiap Kapanewonan di Wilayah Pulau Jawa dan Madura dengan Formasi : 1 Manteri Polisi, 5 Calon Agen Polisi Pamong Praja dan 5 Pembantu Keamanan.

d. Berdasarkan saran dan pendapat dari Menteri Keamanan Pertahanan dengan Suratnya Nomor KP.1/1135/39 tanggal 12 November 1959, maka pada

(7)

Tanggal 30 November 1960 diterbitkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor : 71 Tahun 1960 59 dibentuk Polisi Pamong Praja diluar Pulau Jawa dan Madura dengan Formasi 1 Manteri Polisi, 5 Calon Agen Polisi Pamong Praja.

e. Atas saran Surat Kepala Staf Pengusa Perang Tertinggi Nomor 0643/PEPERTI/1961 maka pada tanggal 11 Juli 1962 diterbitkan Peraturan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah Nomor : 10 Tahun 1962 tentang Pembentukan Pagar Baya.

f. Peraturan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah Nomor : 1 Tahun 1963 dibentuk Kesatuan Pagar Praja.

g. Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja.

h. Berdasarkan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999, yang telah diganti dengan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang – Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

i. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan

(8)

Pemerintah Daerah Kabupaten / Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

j. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741).

4.1.2 Tugas Pokok dan Fungsi SatpolPP Lampung Selatan

Dalam menyelenggarakan tugasnya SATPOL PP mempunyai fungsi:

1 Penyusunan program ketentraman, ketertiban umum, perlindungan masyarakat, menegakan Peraturan Daerah, Peraturan Bupati dan Keputusan Bupati;

2 Pelaksanaan kebijakan pemeliharaan dan penyelenggaraan ketentraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat;

3 Pelaksanaan kebijakan penegakan Peraturan Daerah, Peraturan Bupati dan Keputusan Bupati;

4 Pelaksanaan koordinasi pemeliharaan dan penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum dan perlindungan masyarakat serta Penegakan Peraturan Daerah, Peraturan Bupati dan Keputusan Bupati dengan aparat Kepolisian Negara Republik Indonesia, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dan atau aparat penegak hukum;

5 Pengawasan terhadap masyarakat agar mematuhi dan mentaati Peraturan Daerah, Peraturan Bupati dan Keputusan Bupati;

(9)

6 Pengkoordinasian pelaksanaan kebijakan teknis, pemberian bimbingan, pembinaan dan pengawasan dibidang SATPOL PP;

7 Pelaksanaan urusan kerumahtanggan, kepegawaian, keuangan, perlengkapan, surat-menyurat dan pelaporan;

8 Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati.

4.1.3 Susunan Organisasi Kantor Satuan Polisi Pamong Praja

Susunan Organisasi Kantor atuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lampung Selatan, terdiri dari :

a. Kepala Satuan PolPP Kabupaten Lampung Selatan b. Sekretaris PolPP Kabupaten Lampung Selatan,

c. Kepala Sub Bagian perencanaan PolPP Kabupaten Lampung Selatan d. Kepala Sub Keuangan dan Aset PolPP Kabupaten Lampung Selatan e. Kepala Sub Kepegawaian dan Umum PolPP Kabupaten Lampung

Selatan

f. Kepala Bidang Ketentramnan dan Ketertiban Umum g. Kepala Bidang Penegakan Perda dan Perbub

h. Kepala BIdang Pembinaan Masyarakat Aparatur Kepala BIdang Perlindungan masyarakat

i. Kepala Seksi.

(10)

Gambar 4.1.3. Struktur Organsasi SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan

(11)

4.1.4 Uraian Tugas dan Fungsi Susunan Organisasi 4.1.4.1 Kepala Satuan Polisi Pamong Praja

Kepala Satuan PolPP mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan sebagian urusan otonomi daerah yang dilimpahkan oleh Bupati. Pelimpahan urusan otonomi daerah sebagaimana dimaksud pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pada pasal 126 ayat (1) yang dijelaskan bahwa: Kecamatan dipimpin oleh camat dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang bupati atau walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. Dan selanjutnya dalam Pasal 126 ayat (3) huruf F menyatakan bahwa Camat memiliki kewenangan untuk membina penyelenggaraan pemerintahan desa menyelenggarakan tugas umum pemerintahan meliputi :

a. Mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat;

b. Mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum;

c. Mengkoordinasikan penerapan dan penegakan peraturan perundangundangan;

d. Mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum;

e. Mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat Kecamatan;

(12)

f. Membina penyelenggaraan pemerintahan desa dan atau kelurahan;

g. Melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan Desa atau Kelurahan.

4.1.4.2 Sekretaris SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan

Sekretariat Kecamatan mempunyai tugas pokok menyusun rencana, melaksanakan tugas-tugas kesekretariatan yang meliputi administrasi kepegawaian Keuangan, Umum dan membuat laporan pelaksanaan tugas. Dalam menyelenggarakan tugas pokok dimaksud, Sekretariat mempunyai fungsi :

a. pelaksanaan urusan umum;

b. pelaksanaan urusan administrasi kepegawaian;

c. pelaksanaan urusan administrasi keuangan;

d. pelaksanaan urusan perlengkapan;

e. pelaksanaan urusan ketatausahaan.

Sekretaris mempunyai tugas merencanakan operasionalisasi, memberi tugas, memberi petunjuk, menyelia, mengatur, mengevaluasi, dan melaporkan Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud, Sekretaris mempunyai fungsi :

(13)

a. Penyusunan kebijakan teknis administrasi kepegawaian, administrasi keuangan, perencanaan pelaporan dan urusan rumah tangga;

b. Penyelenggaraan Kebijakan Administrasi umum;

c. Pembinaan, pengkoordinasian, pengendalian, pengawasan program dan kegiatan Sub Bagian;

d. Penyelenggaraan evaluasi program dan kegiatan sub bagian Sekretariat Kecamatan terdiri dari :

1. Sub Bagian Penyusunan Program

Sub bagian penyusunan program mempunyai tugas merencanakan operasionalisasi kerja, memberi tugas, memberi petunjuk, menyelia, mengatur, mengevaluasi dan melaporkan tugas dibidang penyusunan program, perencanaan dan pelaporan.

2. Sub bagian keuangan mempunyai tugas merencanakan operasionalisasi, memberi petunjuk, memberi tugas, menyelia, mengatur, mengevaluasi dan melaporkan urusan keuangan, kegiatan kebendaharawanan dalam rangka pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD);

3. Sub Bagian Umum Kepegawaian dan Perlengkapan mempunyai tugas merencanakan operasionalisasi, memberi tugas, memberi petunjuk, penyedia, mengatur,

(14)

mengevaluasi dan melaporkan kegiatan administrasi Umum dan Kepegawaian.

4.1.4.3 Kepala Bidang Satpolpp Kabupaten Lmapung Selatan

Seksi Tata Pemerintahan yang mempunyai tugas membantu Pimpinan Daerah dalam membina, mengkoordinasikan dan melaksanakan tugas di bidang pemerintahan; Rincian tugas Seksi Tata Pemerintahan sebagai berikut :

a. menyusun program dan kegiatan seksi tata pemerintahan;

b. menyelenggarakan penilaian lomba desa tingkat kecamatan;

c. menyelenggarakan fasilitasi kerjasama antar desa dan penyelesaian perselisian antar desa;

d. melaksanakan kegiatan administrasi kependudukan dan catatan sipil, inventarisasi aset daerah atau kekayaan daerah lainnya yang ada diwilayahnya;

e. menilai prestasi kerja bawahan untuk

f. merencanakan dan menyusun serta menyelenggarakan program-program kegiatan pengembangan pemberdayaan masyarakat lintas desa dalam wilayah Lampung Selatan;

g. mempersiapkan bahan dan data untuk penyelenggaraan pemilihan umum;

(15)

h. mempersiapkan bahan dan data untuk pembinaan Ideologi Negara, kesatuan bangsa dan peningkatan partisipasi politik masyarakat;

i. melaksanakan pembinaan keagrarian dalam rangka tertib pertanahan;

j. melakukan inventarisasi terhadap permasalahan- permasalahan dan memberikan solusi pemecahan;

k. memberikan saran dan pertimbangan kepada Pimpinan;

l. membuat laporan sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan tugas.

4.1.4.4 Kepala Seksi SatpolPP kabupaten Lampung Selatan

mempunyai tugas pokok membantu Kasat Polpp dalam membina, mengkoordinasikan dan melaksanakan tugas bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Desa; Rincian tugas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa sebagai berikut :

a. Menyusun program dan kegiatan;

b. Melaksanakan fasilitasi dan koordinasi penyelenggaraan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa;

c. Melaksanakan pelayanan kepada masyarakat di bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Desa;

(16)

d. Membantu koordinasi pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa serta menjaga dan memelihara sarana dan prasarana dalam wilayah desa;

e. Melaksanakan pembinaan dan pengembangan usaha perekonomian;

f. Melaksanakan dan memfasilitasi pemungutan atas pajak dan retribusi daerah diwilayahnya;

g. Mengkoordinasikan kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan dalam wilayah Lampung Selatan;

h. Memfasilitasi pelaksanaan musyawarah pembangunan temu karya unit daerah kerja pembangunan;

i. Merencanakan dan menyusun program pelaksanaan kegiatan perekonomian dan usaha kecil masyarakat lintas desa;

j. Melaksanakan pemantauan, evaluasi kelancaran produksi dan distribusi barang-barang kebutuhan masyarakat;

k. Membantu instansi terkait dalam penataan dan pemuktahiran data masyarakat miskin;

l. Memfasilitasi pembinaan organisasi kepemudaan dan olahraga;

m. Melaksanakan pembinaan terhadap lembaga keagamaan, pemberian bantuan sarana dan prasarana rumah ibadah;

n. Mengkoordinasikan kegiatan pencegahan dan penanggulangan bencana alam;

(17)

o. Mengkoordinasikan bimbingan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular;

p. Memfasilitasi penyelenggaraan sarana pendidikan dan kesehatan

q. Melaksanakan pembinaan kegiatan peningkatan partisipasi dan peranan wanita;

r. Memberi saran dan pertimbangan kepada Pimpinan;

s. Menginventarisir permasalahan-permasalahan dan menyiapkan data/bahan pemecahan masalah sesuai bidang tugasnya;

t. Membuat laporan sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan tugas;

u. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh pimpinan.

4.1.4.5 Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum

Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum mempunyai tugas pokok membantu Pimpinan Daerah dalam membina, mengkoordinasikan dan melaksanakan tugas dibidang ketentraman dan ketertiban Umum.

4.1.4.6 Seksi Kesejahteraan Sosial

Seksi Kesejahteraan Sosial mempunyai tugas pokok membantu Pimpinan dalam menyelenggarakan pemerintahan di

(18)

bidang pemberian kesejahteraan sosial kepada masyarakat. Rincian tugas Seksi Kesejahteraan Sosial sebagai berikut :

a. Menyusun rencana dan program kerja sebagai pedoman b. Mengolah, merumuskan dan mengevaluasi program yang

terkait dengan kesejahteraan rakyat;

c. Memfasilitasi kegiatan perkoperasian, dunia usaha, perdagangan dan perbankan;

d. Mendorong dan memberdayakan kelompok tani dan peternak;

e. Melayani dan memberdayakan organisasi keagamaan, PKK dan organisasi kemasyarakatan lainnya;

f. Mendorong dan memberdayakan organisasi profesi;

g. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan dan kesejahteraan pada Sekretaris Kecamatan;

h. Menilai hasil kerja bawahan dengan cara mengevaluasi hasil pelaksanaan tugas;

i. Menilai prestasi kerja bawahan untuk pembinaan karier;

k. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan atasan.

4.1.5 Keadaan Pegawai pada SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan

Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lampung Selatan mempunyai tugas menyelenggarakan pembantuan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Provinsi Lampung. Untuk mengetahui lebih lanjut kegiatan Kantor SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan hingga bulan

(19)

Desember Tahun 2022 mempekerjakan 29 orang pegawai yang dapat dilihat pada tabel 4.1.5.1 berikut ini :

Tabel 4.1.5.1

Jumlah Pegawai Pada SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2022

No Bidang Pekerjaan Jumlah Pegawai

(Orang)

1 Kasat PolPP 1

2 Sekretaris PolPP 1

3 Pelayanan Umum 3

4 Perencanaan dan Keuangan 4

5 Trantibum 6

6 Pembangunan 4

7 Pertanahan dan Tata Ruang 3

8 Kesosnaker 3

9 Pemerintahan 4

Jumlah 29

Sumber : Kantor SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan.Tahun 2022

Keadaan pegawai Pada SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan, sebagai salah satu komponen penting dalam menjalankan Budaya organisasi, karena sumber daya manusia pegawai ini sangat menentukan keberhasilan melaksanakan dan meyelesaikan tugas-tugas dan pekerjaan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dan Karakteristik responden berdasarkan jenis pada SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.1.5.2 :

(20)

Tabel 4.1.5.2

Komposisi Jenis Kelamin Pegawai

No Jenis Kelamin frekuensi %

1 Laki-laki 17 60

2 Perempuan 12 40

Jumlah 29 100

Sumber : Hasil Penelitian, 2022

Dari tabel 4.1.5. terlihat bahwa pegawai yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dari pada pegawai yang berjenis kelamin perempuan, pegawai laki-laki yaitu berjumlah 15 orang atau 60 persen, sedangkan responden perempuan yaitu berjumlah 10 orang atau 40 persen, yang bertugas Pada SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan.

Kemudian untuk melihat karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.1.5.3 :

Tabel 4.1.5.3

Komposisi Tingkat Pendidikan Pegawai

No Tingkat Pendidikan Frekuensi %

1 SMA 14 60,00

2 Sarjana 10 40,00

3 Magister 5 10,00

Jumlah 29 100

Sumber : Hasil Penelitian, 2022

(21)

Dari tabel 4.1.5.3. tersebut diketahui paling banyak pegawai Pada Bagian Protokol Kabupaten Lampung Selatan, berpendidikan Sarjana sebanyak 10 orang atau 40 persen, kemudian SMA, berjumlah 12 orang atau 60 persen, selanjutnya yang berpendidikan Magister S2 sebanyak 5 orang atau 10 persen, ini sudah tentu mempengaruhi kualitas pelayanan. Seorang Pegawai mampu cermat dan cepat dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan pegawai Pada SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan, dipengaruhi tingkat pendidikannya.

Golongan pegawai pada SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan berpengaruh terhadap kemampuan mengerjakan tugas pokok dan fungsi pegawai. Golongan pegawai dapat dilihat pada Tabel 4.1.5.4 berikut:

Tabel 4.1.5.4

Distribusi Pegawai Berdasarkan Golongan

No Golongan Frekuensi Persentase (%)

1 II 9 34.29

2 III 6 11,23

3 IV 2 5,71

Non Golongan/Honorer 12 48.57

Jumlah 29 100

Sumber : hasil penelitian, 2022.

Tabel 4.1.7 tersebut menunjukkan bahwa pegawai golongan II sebanyak 9 orang 34.29 persen, Golongan III sebanyak 6 orang atau 11,23 persen, dan golongan IV sebanyak 2 orang atau 5,71 persen, kemudian non

(22)

golongan atau pagawai honorer yaitu sebanyak 12 orang atau 48.57 persen.

Hal ini menunjukkkan bahwa dari segi golongan pegawai sebahagian besar pegawai dianggap mampu untuk melaksanaan tugas pokok dan funsinya. Ini disebabkan bahwa semakin tinggi golongan pegawai semakin baik pula dan pengalamannya.

4.2 Hasil Penelitian

Pada bab ini peneliti akan menguraikan data danhasil penelitian tentang Pelaksanaan Budaya Organisasi pada Kantor SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan, untuk meningkatkan kinerja pegawai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. SatpolPP terlebih daluhu mempersiapkan mulai dari waktu, tempat serta sarana dan prasarana, untuk itu dalam menyiapkan suatu acara harus saling berkoordinasi dengan Pihak terkait agar tidak terjadi kesalahan dan terlebih dahulu melakukan persiapan segala hal yang di perlukan untuk mengadakan kegiatan maupun sosialisai kepada masyarakat. Adapun data yang didapat dari hasil penelitian ini melalui wawancara, observasi partisipatif dan dokumentasi yang di lakukan pada anggota/pegawai SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan dan kemudian peneliti menganalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif.

4.2.1 Pelaksanaan Budaya Organisasi Pada Kantor SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan

Budaya organisasi yang merupakan norma, nilai-nilai, asumsi, kepercayaan, filsafat, kebiasaan organisasi, yang dikembangkan dalam

(23)

waktu yang lama oleh anggota organisasi yang disosialisasikan dan diajarkan kepada anggota baru serta diterapkan dalam aktivitas organisasi sehingga mempengaruhi pola pikir, sikap, dan perilaku anggota organisasi dalam memproduksi produk, melayani mayarakat, dan mencapai tujuan organisasi.

Pada pelaksanaanya Budaya organisasi yang ada di kantor SatpolPP kabupeten Lampung Selatan dapat dikatakan belum terbentuk sebagai sebuah organisasi, bahkan tidak jarang kinerja anggota organisasi dilakukan sebagai individu. Intinya, budaya organisasi diperlukan untuk mengubah perilaku individual ke perilaku organisasional. Dalam menganalisis sebuah budaya organisasi berarti berusaha untuk mempelajari serta memahami budaya sebuah organisasi yang ada, khusunya terdapat di kantor SatpolPP kabupeten Lampung Selatan budaya organisasi seharusnya memiliki Nilai- nilai BerAKHLAK yang merupakan semboyan dan pondasi baru bagi ASN di Indonesia dan merupakan kepanjangan dari Berorientasi pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Adanya core values ASN ini sebagai sari dari nilai-nilai dasar ASN sesuai dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara dalam satu kesamaan persepsi yang lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh seluruh ASN termasuk SatpolPP.

Tujuan dari budaya organisasi adalah untuk mengetahui kinerja pegawai pada pada kantor SatpolPP kabupaten Lampung Selatan serta mengubah

(24)

sikap dan perilaku anggota untuk mencapai produktivitas kerja menjadi lebih baik.

Sedangkan Manfaat dari penerapan budaya organisasi pada kantor satpolPP Kabupaten Lampung Selatan adalah a) mempererat ikatan antar anggota organisasi, b) Sebagai alat untuk mengontrol situasi sehari-hari dalam

organisasi, c) Mengatur anggota organisasi agar berfungsi sesuai jabatannya, d) Menjadi panduan untuk menjalankan sistem organisasi. e) Memacu

sistem dalam organisasi untuk berjalan dengan maksimal.

4.2.1.1 Pelaksanaan Budaya Organisasi Dalam Berorientasi Pelayanan

Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Pelayanan publik yang baik didasarkan pada prinsip- prinsip yang digunakan untuk merespons berbagai kebutuhan dalam penyelenggaraan pelayanan publik di lingkungan birokrasi.

Untuk memperoleh informasi dalam penerapan budaya organisasi dalam pelayanan kepada masyarakat yang ada di Satpolpp Lampung Selatan peneliti telah mewawancarai beberapa nasrasumber yang memahami bagaimana kegiatan dan tugas yang ada pada Satpolpp Lampung Selatan Berdasarkan Dari hasil wawancara dengan key informan Bp. Maturidi Ismail, SH selaku Kassat PolPP Kabupaten Lampung Selatan terkait dengan

(25)

pelayanan kepada masyarakat sebagaimana dalam hasil wawancara sebagai berikut :

“Ya, dalam Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah harus kita sebagai satpolPP harus menjaga keamanan, ketentraman, serta memberikan pegamanan kepada masyarakat juga harus diberi akses yang sebesar- besarnya untuk mempertanyakan dan menyampaikan pengaduan apabila mereka merasa tidak puas dengan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah (wawancara tanggal 8 juli 2023)

Kemudian Pendapat dari Bp. Maturidi Ismail. SH tersebut dikuatkan dengan pernyataan yang di berikan dari hasil wawancara oleh Bp. Erdanda, SH.,MM Selaku Sekretaris terkait dengan Pelayanan kepada masyarakat beliau menjelaskan:

Dalam penyelenggaraan pelayanan publik, pemerintah sebagai penyelenggara pelayanan publik harus menyediakan akses bagi warga negara untuk mengetahui segala hal yang terkait dengan pelayanan publik yang diselenggarakan tersebut, seperti persyaratan, prosedur, biaya, dan sejenisnya. Kita sebagai sattpolpp memberikan keamanan kepadadengan menjaga dan Masyarakat juga harus diberi akses yang sebesar- besarnya untuk mempertanyakan dan menyampaikan pengaduan apabila mereka merasa tidak puas dengan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah.(Wancara tanggal 10 Juli 2023)

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan para informan, dapat diperoleh informasi pelayanan kepada masuyarakat pada SatpolPP Lampung Selatan sudah terpenuhi, adapun kewenangan yang di berikan pimpinan sudah dilakukan dengan tanggung jawab, lalu didukung oleh para pihak lain yang membantunya untuk bekerja secara gotong -royong, bukan mengabaikan tugas dan kewenangan yang di berikan kepada Pimpinan.

(26)

4.2.1.2 Pelaksanaan Budaya Organisasi yang Akuntabel dan Kompeten

Dalam konteks ASN Akuntabilitas adalah kewajiban untuk mempertanggungjawabkan segala tindak dan tanduknya sebagai pelayan publik kepada atasan, lembaga pembina, dan lebih luasnya kepada publik dengan melaksanakan tugas dengan jujur, bertanggung jawab, cermat, disiplin dan berintegritas tinggi Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab, efektif, dan efisien Tidak menyalahgunakan kewenangan jabatan. Serta Meningkatkan kompetensi diri untuk menjawab tantangan yang selalu berubah Membantu orang lain belajar Melaksanakan tugas dengan kualitas terbaik. Pengembangan kompetensi dan karakter ASN penting diselaraskan sesuai visi, misi, dan misi, termasuk nilai-nilai birokrasi pemerintah dengan Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan berkepribadian.

Berdasarkan Dari hasil wawancara dengan keyinforman Bp.

Maturidi Ismail, SH selaku Kassat PolPP Kabupaten Lampung Selatan terkait dengan penerapan budaya organisasi yang akuntable dan kompeten terdapat dalam hasil wawancara sebagai berikut :

“Ya, dalam penerapa pada anggota SatpolPP harus memiliki Kemampuan melaksanaan tugas dengan jujur, bertanggung jawab, cermat, disiplin dan berintegritas tinggi Kemampuan menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab, efektif, dan efisien” (wawancara tanggal 8 juli 2023)

Kemudian Pendapat dari Bp. Maturidi Ismail. SH tersebut dikuatkan dengan pernyataan yang di berikan dari hasil wawancara oleh ibu. Sringatin, SH.,MM Selaku Kasubbag Umum dan Kepegawaian terkait dengan

(27)

penerapan budaya organisasi yang akuntable dan kompeten beliau menjelaskan:

“bahwa, dalam setiap angota harus bertanggungjawab atas kepercayaan yang diberikan dengan terus belajar dan mengembangkan kapabilita serta, bertanggung jawab, cermat, disiplin dan berintegritas tinggi” (Wancara tanggal 10 Juli 2023) Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan para informan, dapat diperoleh informasi penerapan budaya organisasi yang kompeten dan akuntable pada SatpolPP Lampung Selatan sudah terpenuhi, tugas yang diberikan oleh pimpinan sudah dilakukan dengan rasa tanggung jawab yang tinggi, jujur dan mematuhi arahan yang di berikan pimpinan.

4.2.1.3 Pelaksanaan Budaya Organisasi yang Harmonis

Keanekaragaman suku dan bahasa yang ada di SatpolPP lampung Selatan itu dapat dipahami disebabkan karena banyaknya anggota SatpolPP dari berbagai macam daerah yang bekerja di Lampung Selatan, Hal tersebut mengakibatkan terjadinya percampuran ras, suku bangsa, agama, etnis dan budaya yang membuat beragamnya suku bangsa dan budaya pada setiap anggota di kantor SatpolPP Lampung Selatan. Keanekaragaman tersebut membawa dampak terhadap kehidupan lingkungan dan budaya organisasi yang ada pada kantor tersebut, Pada penerapan budaya organisasi keharmonisan tercipta dengan menghargai setiap orang apapun latar belakangnya, suka menolong orang lain dan membangun lingkungan kerja yang kondusif.

(28)

Berdasarkan Dari hasil wawancara dengan keyinforman Bp. Maturidi Ismail, SH selaku Kassat PolPP Kabupaten Lampung Selatan terkait dengan pelaksanaan budaya organisasi yang harmonis terdapat dalam hasil wawancara sebagai berikut :

“Ya, dalam membuat lingkungan yang harmonis kira perlu menghindari Sikap Otoritas dan menjalin komunikasi terbuka baik kepada pimpinan dan sesame anggota dengan adanya ruang untuk mengkomunikasikan aspirasinya akan menimbulkan rasa saling menghargai satu sama lain.” (wawancara tanggal 8 juli 2023) Kemudian Pendapat dari Bp. Maturidi Ismail. SH tersebut dikuatkan dengan pernyataan yang di berikan dari hasil wawancara oleh Bp. Mahyuddin, SH selaku Kabid Tibum terkait dengan penerapan budaya organisasi yang harmonis beliau menjelaskan:

“bahwa, dalam menciptakan lingkungan kerja yang harmonis setiap angota harus terjalin komunikasi yang baik, agar terbentuknya rasa saling memahami dan akan meningkatkan kualitas kinerja setiap anggota” (Wancara tanggal 10 Juli 2023)

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan para informan, dapat diperoleh informasi penerapan budaya organisasi yang harmonis pada SatpolPP Lampung Selatan sudah terpenuhi, dengan sudah terjalin komunikasi yang baik antara sesama anggota dalam menjalankan tugasnya.

4.2.1.4 Pelaksanaan Budaya Organisasi yang loyal

Loyalitas merupakan suatu hal yang bersifat emosional. Untuk bisa mendapatkan sikap loyal seseorang, terdapat banyak faktor yang akan memengaruhinya. beberapa ciri/karakteristik yang dapat digunakan oleh organisasi untuk mengukur loyalitas pegawainya, khususnya pada kantor

(29)

SatpolPP Lampung Selatan dalam penerapan budaya organisasi tentang loyalis setiap anggota harus memegang teguh ideologi Pancasila, yang berdasakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, serta Peraturan Daerah yang ada di Kabupaten Lampung Selatan. sebagai anggota SatpolPP yang loyal akan selalu taat pada peraturan, kesadaran ini membuat anggota akan bersikap taat tanpa merasa terpaksa atau takut terhadap sanksi yang akan diterimanya apabila melanggar peraturan tersebut. Hal ini di ungkapkan berdasaran informasi Dari hasil wawancara dengan keyinforman Bp. Maturidi Ismail, SH selaku Kassat PolPP Kabupaten Lampung Selatan terkait dengan pelaksanaan budaya organisasi yang loyal terdapat dalam hasil wawancara sebagai berikut :

“Ya, Ketika seorang anggota memiliki sikap sesuai dengan pengertian loyalitas, maka secara otomatis ia akan merasa memiliki tanggung jawab yang besar terhadap organisasinya. Setiap anggota akan berhati-hati dalam mengerjakan tugas-tugasnya, namun sekaligus berani untuk mengembangkan berbagai inovasi demi kepentingan organisasi” (wawancara tanggal 8 juli 2023)

Kemudian Pendapat dari Bp. Maturidi Ismail. SH tersebut dikuatkan dengan pernyataan yang di berikan dari hasil wawancara oleh Bp. Erdanda, SH.,MM Selaku Sekretaris terkait dengan penerapan budaya organisasi yang loyal beliau menjelaskan:

“ya, Pegawai yang memiliki sikap loyalitas, tidak segan untuk bekerja sama dengan anggota lain. Bekerja sama dengan orang lain dalam suatu kelompok memungkinkan seorang anggota mampu mewujudkan impian perusahaan untuk dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin dicapai oleh seorang anggota secara invidual”

(Wancara tanggal 10 Juli 2023)

(30)

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan para informan, dapat diperoleh informasi penerapan budaya organisasi yang loyal pada SatpolPP Lampung Selatan sudah terpenuhi, dengan pada setiap anggota memiliki bertanggung jawab terhadap tugasnya sehingga pada akhirnya akan menimbulkan sikap sesuai dengan pengertian loyalitas demi tercapainya tujuan organisasi dan mampu menghadapi permasalahan dengan bijaksana.

4.2.1.5 Pelaksanaan Budaya Organisasi yang adaptif

Kebutuhan kemampuan beradaptasi ini juga berlaku juga setiap organisasi dalam menjalankan fungsinya. pada setiap individu di tekankan untuk mampu menghadapi permasalahan yang sama, yaitu perubahan lingkungan yang konstan, sehingga karakteristik adaptif dibutuhkan, baik sebagai bentuk mentalitas kolektif maupun individual. Budaya adaptif dalam pemerintahan merupakan budaya organisasi di mana ASN memiliki kemampuan menerima perubahan, termasuk penyelarasan organisasi yang berkelanjutan dengan lingkungannya, juga perbaikan proses internal yang berkesinambungan Dalam hal ini Satuan Polisi Pamong Praja (Satpolpp) Lampung Selatan ini tercermin dari kemampuan respon setiap anggota dalam mengadaptasi perubahan baik dari segi internal maupun eksternal dengan cara cepat menyesuaikan diri menghadapi perubahan, terus berinovasi dan mengembangkan kreativitas dan Bertindak proaktif. hal ini diungkapkan berdasaran informasi Dari hasil wawancara dengan keyinforman Bp. Maturidi Ismail, SH selaku Kassat PolPP Kabupaten

(31)

Lampung Selatan terkait dengan pelaksanaan budaya organisasi yang adaptif terdapat dalam hasil wawancara sebagai berikut :

“Ya, kita sebagai ASN harus menerapkan budaya yang adptif khusnya pada anggota SatpolPP lampung selatan ini karena kita harus cepat menyesuaikan diri dalam menghadapi perubahan apapun, contohnya seperti pergantian pimpinan, perubahan perda (peraturan Daerah) dan untuk itu kita harus segera memahami dan menyesuaikan diri agar setiap anggota dapat bekerja secara cepat dan efektif.” (wawancara tanggal 8 juli 2023)

Kemudian Pendapat dari Bp. Maturidi Ismail. SH tersebut dikuatkan dengan pernyataan yang di berikan dari hasil wawancara oleh ibu. Sringatin, SH.,MM Selaku Kasubbag Umum dan Kepegawaian terkait dengan penerapan budaya organisasi yang adaptif beliau menjelaskan:

“bahwa, kita sebagai anggota SatpolPp harus memiliki kemampuan untuk berubah dan terus berupaya antisipatif dalam menghadapi perubahan apapun” (Wancara tanggal 10 Juli 2023)

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan para informan, dapat diperoleh informasi penerapan budaya organisasi yang adaptif pada SatpolPP Lampung Selatan sudah terpenuhi, pada setiap anggota mampu menyesuaikan diri menghadapi perubahan serata dapat bekerja secara cepat dan efektif.

4.2.1.6 Pelaksanaan Budaya Organisasi yang Kolaboratif

Budaya kolaboratif mengacu pada nilai-nilai, norma, dan praktik yang mendorong kolaborasi, kerjasama, dan berbagi informasi di antara anggota organisasi budaya ini menekankan pentingnya kerja tim, saling mendukung, dan saling menghargai kontribusi setiap individu didalam budaya kolaboratif, semua anggota organisasi dihargai sebagai bagian dari tim yang

(32)

berfungsi untuk mencapai tujuan bersama dengan memberi kesempatan kepada berbagai pihak untuk berkontribusi terbuka dalam bekerja sama untuk menghasilkan nilai tambah bagi setiap anggota hal ini diungkapkan berdasaran informasi Dari hasil wawancara dengan keyinforman Bp.

Maturidi Ismail, SH selaku Kassat PolPP Kabupaten Lampung Selatan terkait dengan pelaksanaan budaya organisasi yang kolaboratif terdapat dalam hasil wawancara sebagai berikut :

“ya, sebagai anggota SatpolPP dapat bersama-sama mengatasi tantangan dan hambatan yang dihadapi oleh organisasi. dengan saling berkomunikasi mereka dapat bekerja bersama untuk menemukan solusi yang paling efektif dan efisien. Dalam situasi sulit, kolaborasi dapat memberikan dukungan dan kekuatan untuk menghadapi masalah dengan lebih baik.” (wawancara tanggal 8 juli 2023)

Kemudian Pendapat dari Bp. Maturidi Ismail. SH tersebut dikuatkan dengan pernyataan yang di berikan dari hasil wawancara oleh Bp. Mahyuddin, SH selaku Kabid Tibum terkait dengan penerapan budaya organisasi yang kolaboratif beliau menjelaskan:

“bahwa, komunikasi yang terbuka dan transparan dihargai dan didorong. Anggota tim merasa lebih nyaman untuk berbicara tentang ide, masalah, dan perasaan mereka. Ini menciptakan lingkungan yang lebih terbuka dan transparan di mana setiap orang merasa didengar dan dihargai” (Wancara tanggal 10 Juli 2023) Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan para informan, dapat diperoleh informasi penerapan budaya organisasi yang kolaboratif pada SatpolPP Lampung Selatan sudah terpenuhi, pada setiap anggota mampu pengembangan diri dengan menjalin komunikasi sebagai bagian dari pertumbuhan individu dan organisasi.

(33)

4.2.2 Kendala yang mempengaruhi Pelaksanaan Budaya Organisasi Pada Kantor SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan

Berdasarkan hasil wawancara dengan informanyang telah dilakukan, berikut akan di uraikan kendala-kendala yang merupakan penghambat pelaksanaan Budaya Organisasi pada Kantor SatpolPP kabupaten Lmapung Selatan.

4.2.2.1 Kurangnya Memahami Perintah dan Arahan yang di berikan Pimpinan

Kemampuan seorang pemimpin sangat penting bagi perjalanan sebuah organisasi dimana dan kapan pun. Untuk itu, motivasi yang terus-menerus kepada bawahan akan sangat berpengaruh untuk meningkatkan motivasi kerjanya. Ini menjadi daya dorong atau perangsang untuk pelaksanaan tugas dan fungsi.

Dalam hal ini Satpolpp Lampung Selatan memiliki beberapa anggota yang harus memahami potensi yang ada pada dirinya dengan memahami dan berkomunikasi yang intents tentang tugas dan arahan yang di berikan kepada setiap anggota dengan cara ini kita akan menangkap informasi sebanyak mungkin lalu menganalisanya, dan dijalankan sesuai dengan perintah. dari hasil wawancara dengan keyinforman Bp. Maturidi Ismail, SH selaku Kassat PolPP Kabupaten Lampung Selatan terkait dengan kurangnya memahami arahan yang ada dalam setiap anggota satpolpp terdapat dalam hasil wawancara sebagai berikut :

(34)

“ya, terkadang dalam memberikan pengarahan kepada setiap anggota masih banyak yang kurang memahami dikarenakan ada beberapa anggota yang tidak memperhatikan dan bertanya tentang apa tugas yang saya berikan” (wawancara tanggal 8 juli 2023) Kemudian Pendapat dari Bp. Maturidi Ismail. SH tersebut dikuatkan dengan pernyataan yang di berikan dari hasil wawancara oleh Bp. Mahyuddin, SH selaku Kabid Tibum terkait dengan penerapan budaya organisasi yang kolaboratif beliau menjelaskan:

“benar, untuk itu kita harus berkomunikasi yang terbuka dan jelas kepada setiap Anggotaagar semua memahami apa perintah yang diberikan oleh pimpinan” (Wancara tanggal 10 Juli 2023)

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan para informan, dapat diperoleh informasi penerapan budaya organisasi yang kolaboratif pada SatpolPP Lampung Selatan belum terpenuhi secara ideal, masih cukup banyak anggota yang belum memahami perintah dan arahan yang di berikan.

4.2.2.2 Keterbatasan Sarana dan Prasarana

Untuk dapat melaksanakan tugas secara optimal, suatu organisasi memerlukan sarana dan prasarana yang memadai dan baik dalam jumlah maupun kualitasnya. Upaya untuk memaksimalkan kinerja pada setiap anggota diperlukan peralatan yang menunjang seperti kendaraan Dinas sehingga kinerja Satpol PP berjalan lancer dan dapat turun ke lapangan tepat waktu untuk seluruh lokasi. Berdasarkan dari hasil wawancara dengan keyinforman Bp. Maturidi Ismail, SH selaku Kassat PolPP Kabupaten

(35)

Lampung Selatan terkait dengan kurangnya sarana dan prasarana terdapat dalam hasil wawancara sebagai berikut :

“ya benar ,sarana dan perasarana kita masih kurang, seperti mobil dinas untuk mengangkut anggota peralatan savety untuk menghadang Pendemo masih kurang” (wawancara tanggal 8 juli 2023)

Kemudian Pendapat dari Bp. Maturidi Ismail. SH tersebut dikuatkan dengan pernyataan yang di berikan dari hasil wawancara oleh Bp. Erdanda, SH.,MM Selaku Sekretaris terkait dengan kurangnya sarana dan prasarana beliau menjelaskan:

“ya benar ,sarana dan perasarana kita masih kurang, seperti mobil dinas danperlengkapan savety tetapi kita berupaya untuk melengkapinya telah di ajukan penambahan untuk kendaraan dinas dan perlengkapan lainnya” (wawancara tanggal 8 juli 2023)

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan para informan, dapat diperoleh informasi penerapan budaya organisasi yang kolaboratif pada SatpolPP Lampung Selatan belum terpenuhi secara ideal, kurangnya sarana dan prasarana membuat kinerja satpolPP kabupaten Lampung Selatan dirasa kurang maksimal.

4.3 Pembahasan

SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan merupakan salah satu Instansi yang melaksanakan tugas umum pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, pada pelaksanaanya Budaya organisasi yang ada di kantor SatpolPP kabupeten Lampung Selatan dapat dikatakan belum terbentuk sebagai sebuah organisasi, bahkan tidak jarang kinerja anggota organisasi dilakukan

(36)

sebagai individu. Intinya, budaya organisasi diperlukan untuk mengubah perilaku individual ke perilaku organisasional. Dalam menganalisis sebuah budaya organisasi berarti berusaha untuk mempelajari serta memahami budaya sebuah organisasi yang ada, khusunya terdapat di kantor SatpolPP kabupeten Lampung Selatan budaya organisasi seharusnya memiliki Nilai- nilai BerAKHLAK yang merupakan semboyan dan pondasi baru bagi ASN di Indonesia dan merupakan kepanjangan dari Berorientasi pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Adanya core values ASN ini sebagai sari dari nilai-nilai dasar ASN sesuai dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara dalam satu kesamaan persepsi yang lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh seluruh ASN termasuk SatpolPP yaitu :

a. Pelaksanaan Budaya Organisasi Pada Kantor SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan

1. Berorientasi Pelayanan, yaitu komitmen memberikan pelayanan prima demi kepuasan masyarakat pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Pelayanan publik yang baik didasarkan pada prinsip- prinsip yang digunakan untuk merespons berbagai kebutuhan dalam penyelenggaraan pelayanan publik di lingkungan birokrasi.

(37)

2. Akuntabel dan kompeten, yaitu bertanggungjawab atas kepercayaan yang diberikan dan terus belajar dan mengembangkan kapabilitas dalam konteks ASN Akuntabilitas adalah kewajiban untuk mempertanggungjawabkan segala tindak dan tanduknya sebagai pelayan publik kepada atasan, lembaga pembina, dan lebih luasnya kepada publik dengan melaksanakan tugas dengan jujur, bertanggung jawab, cermat, disiplin dan berintegritas tinggi Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab, efektif, dan efisien Tidak menyalahgunakan kewenangan jabatan. Serta Meningkatkan kompetensi diri untuk menjawab tantangan yang selalu berubah Membantu orang lain belajar Melaksanakan tugas dengan kualitas terbaik. Pengembangan kompetensi dan karakter ASN penting diselaraskan sesuai visi, misi, dan misi, termasuk nilai-nilai birokrasi pemerintah dengan Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan berkepribadian.

3. Harmonis, yaitu saling peduli dan menghargai perbedaan keanekaragaman suku dan bahasa yang ada di SatpolPP Lampung Selatan itu dapat dipahami disebabkan karena banyaknya anggota SatpolPP dari berbagai macam daerah yang bekerja di Lampung Selatan, Hal tersebut mengakibatkan terjadinya percampuran ras, suku bangsa, agama, etnis dan budaya yang membuat beragamnya suku bangsa dan budaya pada setiap anggota di kantor SatpolPP Lampung

(38)

Selatan. Keanekaragaman tersebut membawa dampak terhadap kehidupan lingkungan dan budaya organisasi yang ada pada kantor tersebut, Pada penerapan budaya organisasi keharmonisan tercipta dengan menghargai setiap orang apapun latar belakangnya, suka menolong orang lain dan membangun lingkungan kerja yang kondusif.

4. Loyal, yaitu berdedikasi dan mengutamakan kepentingan Bangsa dan Negara Loyalitas merupakan suatu hal yang bersifat emosional. Untuk bisa mendapatkan sikap loyal seseorang, terdapat banyak faktor yang akan memengaruhinya. beberapa ciri/karakteristik yang dapat digunakan oleh organisasi untuk mengukur loyalitas pegawainya, khususnya pada kantor SatpolPP Lampung Selatan dalam penerapan budaya organisasi tentang loyalis setiap anggota harus memegang teguh ideologi Pancasila, yang berdasakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, serta Peraturan Daerah yang ada di Kabupaten Lampung Selatan. sebagai anggota SatpolPP yang loyal akan selalu taat pada peraturan, kesadaran ini membuat anggota akan bersikap taat tanpa merasa terpaksa atau takut terhadap sanksi yang akan diterimanya apabila melanggar peraturan tersebut.

5. Adaptif, yaitu terus berinovasi dan antusias dalam menggerakkan serta menghadapi perubahan Kebutuhan kemampuan beradaptasi ini juga berlaku juga setiap organisasi dalam menjalankan fungsinya. pada setiap individu di tekankan untuk mampu menghadapi permasalahan yang sama, yaitu perubahan lingkungan yang konstan, sehingga

(39)

karakteristik adaptif dibutuhkan, baik sebagai bentuk mentalitas kolektif maupun individual. Budaya adaptif dalam pemerintahan merupakan budaya organisasi di mana ASN memiliki kemampuan menerima perubahan, termasuk penyelarasan organisasi yang berkelanjutan dengan lingkungannya, juga perbaikan proses internal yang berkesinambungan Dalam hal ini Satuan Polisi Pamong Praja (Satpolpp) Lampung Selatan ini tercermin dari kemampuan respon setiap anggota dalam mengadaptasi perubahan baik dari segi internal maupun eksternal dengan cara cepat menyesuaikan diri menghadapi perubahan, terus berinovasi dan mengembangkan kreativitas dan Bertindak proaktif.

6. Kolaboratif, yaitu membangun kerja sama yang sinergis Budaya kolaboratif mengacu pada nilai-nilai, norma, dan praktik yang mendorong kolaborasi, kerjasama, dan berbagi informasi di antara anggota organisasi budaya ini menekankan pentingnya kerja tim, saling mendukung, dan saling menghargai kontribusi setiap individu didalam budaya kolaboratif, semua anggota organisasi dihargai sebagai bagian dari tim yang berfungsi untuk mencapai tujuan bersama dengan memberi kesempatan kepada berbagai pihak untuk berkontribusi terbuka dalam bekerja sama untuk menghasilkan nilai tambah bagi setiap anggota.

(40)

b. Kendala yang mempengaruhi Pelaksanaan Budaya Organisasi Pada Kantor SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan

kendala-kendala yang merupakan penghambat pelaksanaan Budaya Organisasi pada Kantor SatpolPP kabupaten Lmapung Selatan.

1. Kurangnya Memahami Perintah dan Arahan yang di berikan Pimpinan

Kemampuan seorang pemimpin sangat penting bagi perjalanan sebuah organisasi dimana dan kapan pun. Untuk itu, motivasi yang terus- menerus kepada bawahan akan sangat berpengaruh untuk meningkatkan motivasi kerjanya. Ini menjadi daya dorong atau perangsang untuk pelaksanaan tugas dan fungsi, Satpolpp Lampung Selatan memiliki beberapa anggota yang harus memahami potensi yang ada pada dirinya dengan memahami dan berkomunikasi yang intents tentang tugas dan arahan yang di berikan kepada setiap anggota dengan cara ini kita akan menangkap informasi sebanyak mungkin lalu menganalisanya, dan dijalankan sesuai dengan perintah.

2. Keterbatasan Sarana dan Prasarana

Untuk dapat melaksanakan tugas secara optimal, suatu organisasi memerlukan sarana dan prasarana yang memadai dan baik dalam jumlah maupun kualitasnya. Upaya untuk memaksimalkan kinerja pada setiap anggota diperlukan peralatan yang menunjang seperti kendaraan Dinas sehingga kinerja Satpol PP berjalan lancer dan dapat turun ke lapangan tepat waktu untuk seluruh lokasi.

Gambar

Gambar 4.1 Peta Administrasi Kecamatan Lampung Selatan
Gambar 4.1.3. Struktur Organsasi SatpolPP Kabupaten Lampung Selatan
Tabel  4.1.7    tersebut  menunjukkan  bahwa  pegawai  golongan  II  sebanyak 9 orang 34.29 persen,  Golongan III sebanyak 6 orang atau 11,23  persen, dan golongan IV sebanyak 2 orang atau 5,71 persen, kemudian non

Referensi

Dokumen terkait

Kabupaten yang luasnya 4.950,40 kilometer persegi atau sekitar 14 persen dari luas wilayah Provinsi Lampung, sebagian besar wilayahnya berupa dataran tinggi, dan sisanya berupa

Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki angka luas panen ubi kayu tertinggi di Indonesia dengan luas panen sebesar 256.632 hektar pada tahun

Sebagai studi kasus untuk mendapatkan suatu model kawasan pembangkit listrik dipilih Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung yang memiliki

Lokasi penelitian berada di Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung yang menjadi tujuan wisatawan asing dari berbagai negara. wilayah Kabupaten Pesisir Barat memiliki luas

Tapak kawasan wisata Pantai Merak Belantung terletak di Desa Merakbelantung, berjarak 14,5 km dari Kalianda, Ibu Kota Kabupaten Lampung Selatan, 58,5 km dari Bandar Lampung, 88,5

Desmayanti. Peran Tokoh Masyarakat dalam Mengatasi Konflik Antar Warga Studi Kasus Tawuran Masyarakat Bali Lampung Kabupaten Lampung Selatan Provinsi

BUPATI LAMPUNG SELATAN KEPUTUSAN BUPATI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN NOMOR: B/Ho /IV.04/HK/2019 TENTANG PENETAPAN DELINIASI PERENCANAAN RENCANA DETAIL TATA RUANG RDTR KAWASAN

Provinsi Sulawesi Selatan terletak di bagian selatan Sulawesi dengan ibu kota