• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGENALI FIKSI A. Pengantar - Repository Unpak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "MENGENALI FIKSI A. Pengantar - Repository Unpak"

Copied!
162
0
0

Teks penuh

Yang ditekankan dalam puisi biasanya adalah permainan bahasa yang indah, sedangkan dalam prosa cerita yang menarik ada di dalamnya. Fiction Gate – 7 yang diinginkan pembicara adalah pendengar setia yang tidak berhenti sejenak dalam pidatonya. Jika cerita dalam prosa fiksi hanya sebatas peristiwa, yang ada hanya cerita seperti berita di surat kabar.

Meski prosa fiksi tidak sesuai dengan kenyataan, namun membuat jiwa kemanusiaan pembacanya semakin halus. Sisi menghibur yang ditawarkan dalam prosa adalah cerita yang menarik, cerita yang unik, baru diketahui pertama kali, yang terkadang membuat pembaca ikut terlibat dalam cerita tersebut. Hiburan yang menyenangkan, ketika televisi kita hanya diisi dengan gosip kelam, acara komedi yang tidak lucu, artis stunt atau bahkan acara musik yang berjam-jam dipenuhi komentar, prosa fiksi memberikan hiburan yang mendidik.

Dari cerita ini kita akan belajar bahwa meremehkan makhluk lain bukanlah hal yang baik. Gerbang Fiksi – 17 Sebut saja Djenar Maesa Ayu dengan kumpulan cerpennya “Jangan Main-Main (dengan Gendermu)” sebagai sastra yang mengeluarkan istilah sastra wangi.

Pengantar

Contoh Prosa Fiksi

Mungkin Anda bisa bertanya kepada guru yang sedang mengajar, “Apakah kamu sudah membaca novel yang diajarkannya?” Jika tidak, hal ini mungkin merupakan bagian dari penyalahgunaan pendidikan. Mimpi berikutnya saya berada di tengah lautan penonton yang duduk di tengah-tengah pertunjukan wayang golek. Saat aku memandangnya, boneka yang muncul di mimpi pertamaku berbisik di telingaku beberapa kali: "Siapa aku?".

Saya tidak tahu bagaimana ceritanya dimulai karena saya tidak pernah ingat di mana mimpi itu dimulai. Seolah-olah yang disampaikan Aki bersifat mistis, bukan cerita wayang yang diceritakannya. Ia bercerita, saat kecil, acara favoritnya adalah acara Wayang Golek di televisi nasional.

Raja yang kemudian disebut Raja Duryudana berdiri dengan seluruh tokoh di sisinya. Dalam mencari nama wayang misterius ini, saya tidak bisa berkonsentrasi pada setiap aktivitas selama berhari-hari.

Analisis Unsur Intrinsik Prosa Fiksi

Pelabuhan Fiksi – 43 Jika plotnya klise atau terlalu banyak kebetulan, kemungkinan besar akan mudah dilupakan. Pelabuhan Fiksi – 45 Semakin realistis suatu tokoh dihadirkan, pembaca akan semakin mudah terbawa emosi. Sama seperti kehidupan nyata, ketika semua orang menjadi karakter utama, kita bisa melihat cerita dari sudut pandang yang berbeda.

Fiction Gate – 51 Jika dalam fiksi menggunakan POV 1 tapi dia mengetahui semua keadaannya, maka akan menjadi kecanggungan dalam cerita. Biasanya penggunaan POV 1 terbatas ini ditangani penulis dengan menggunakan sudut pandang dari berbagai sisi agar cerita mengalir lebih objektif. Sebaliknya, kadang-kadang kita akan menjumpai fiksi prosa eksperimental yang menggunakan kata ganti orang kedua (kamu, kamu, kamu) sebagai tokoh utama dalam cerita.

Gates of Fiction – 55 Aliterasi merupakan rangkaian kata yang berdekatan sehingga menghasilkan kalimat yang enak dibaca. Oleh karena itu, dalam buku “Gerbang Sastra” ini tidak akan dibahas lebih jauh perbedaan ketiganya, hanya pembahasan saja yang menjadi tujuan utamanya.

Pendekatan Analisis Sastra

Berbeda dengan cerita “Bumi Manusia” yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer puluhan tahun sebelum novel Fredy S. pendekatannya dapat digunakan dalam kajian sastra. Misalnya studi literatur yang mengkaji feminisme dalam “Ronggeng Dukuh Paruk”, novel karya Ahmad Tohari.

Srintil yang ingin menjadi penari ronggeng murni di kawasan Dukuh Paruk harus rela diangkat menjadi 'ronggeng' pada masanya. Tentu saja dukun Sakarya memandikan Srintil sempat memanfaatkan kesempatan untuk berbuat 'nakal' pada Srintil. Berdasarkan uraian singkat tersebut (lebih jelasnya terdapat pada lampiran di akhir bab ini), kita dibimbing oleh penulis kritik sastra untuk mengikuti pendapatnya.

Gerbang Fiksi - 63 Sayangnya, pembelajaran di kelas hanya menuntut kita mempertimbangkannya dari segi unsur internal.

Pendekatan Subjektif: Resepsi Sastra

Namun perlu diingat bahwa kita tidak bisa selamanya egois jika kita sudah punya selera; selalu begitu, itu saja. Orang pertama akan berkata, "Saya baru saja kembali." Orang kedua juga bisa berkata, "Alhamdulillah masih ada." Sebelum proses penculikan, sebenarnya Kerajaan Alengka mengutus Sarpakenaka (adik Rahwana) untuk mendeportasi Rama, Lesmana dan Dewi Sinta dari hutan Dandaka.

Hari demi hari, Dewi Sinta menjalani hidupnya dengan penuh harapan agar Rama segera menjemputnya. Pikiran, perasaan, pengalaman, kekhawatiran, keinginan, dan sebagainya ia ungkapkan dalam karya sastra yang indah untuk dinikmati. Jika dalam resepsi sastra penekanannya adalah pada penerimaan karya sastra bagi pembaca, maka pendekatan ekspresif ini menitik beratkan pada sisi ekspresif pengarang itu sendiri.

Oka Rusmini merupakan lulusan Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Udayana dan kemudian bekerja sebagai jurnalis di Harian Bali Post. Dibesarkan dengan budaya Bali yang kental, Oka Rusmini tumbuh dalam kehidupan berkeluarga yang dituntut untuk berperilaku lebih baik, sopan dan beradab serta pandai membuat perlengkapan upacara keagamaan Hindu dan lain sebagainya. Pembagian kasta dalam agama Hindu Bali inilah yang sering disinggung Oka Rusmini dalam fiksinya.

Sebab menurut Freud (baca: Freud) proses penciptaan sebuah karya sastra tidak jauh berbeda dengan proses bermimpi. Bisa dipastikan, saat Oka Rusmini menciptakan Luh Sekar atau Ida Ayu Telaga, ada bagian dirinya yang masuk ke dalam tokoh tersebut. Selain pendekatan ekspresif dan resepsi terhadap karya sastra, ada kajian lain yang lebih obyektif, yakni karya sastra itu sendiri.

Pendekatan Mimesis

Hal ini lebih sering dijadikan kajian dalam analisis siswa, karena tidak lagi subjektif dalam apa yang dianggap dugaan dan mereka. Ketika orang 'menggambarkan' dunia yang diciptakan Tuhan dengan dunia yang dibuat oleh manusia, tentu tidak akan sama. Dari mereka kita dapat menyimpulkan bahwa realitas dunia nyata dan dunia khayalan fiksi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Gerbang Fiksi – 79 dalam hidup, oposisi terhadap kelas proletar (miskin, buruh, buruh) semakin dalam kesulitan. Gates of Fiction – 81 perundungan terhadap guru dan siswa lainnya, dunia pendidikan seolah terus melakukan kekerasan terhadap masyarakat awam. Jika segala sesuatunya mahal dan kaum proletar tidak mempunyai kekuatan untuk membelinya, barang-barang pada akhirnya akan menjadi tidak berguna dan tidak berguna.

Misalnya ada seorang anak laki-laki, yaitu seorang laki-laki yang kembali tertarik secara seksual kepada laki-laki. Jika sosialisme menganggap sumber permasalahannya adalah perbedaan kelas antara kaya dan miskin, feminisme beranggapan bahwa permasalahan utama dalam hidup adalah ketika perempuan menjadi kelas kedua setelah laki-laki. Sejak kecil, ketika anak perempuan disuruh membersihkan rumah, anak laki-laki juga diperbolehkan bermain dengan teman-temannya.

Hal-hal yang berbau eksploitasi tubuh perempuan dalam fiksi merupakan hal yang tidak pernah berhenti untuk dikaji. Penentangan perempuan terhadap persamaan hak dengan laki-laki bukan berarti feminisme membenci laki-laki. Padahal, pembagian kerja antara perempuan dan laki-laki pada awalnya dilakukan sesuai dengan sifat masing-masing.

Namun lama kelamaan meluas, pekerjaan yang lazim bagi laki-laki adalah pekerjaan di luar (publik), sedangkan perempuan bekerja di rumah tangga (domestik). Maka dimulailah perjuangan perempuan untuk mendapatkan persamaan hak dengan laki-laki. Kajian feminisme ini bisa kita manfaatkan untuk melihat ketidakberdayaan perempuan terhadap laki-laki.

Menulis Prosa Fiksi

Tujuan utama dari Mata Kuliah Apresiasi dan Kajian Prosa Fiksi adalah agar mahasiswa yang mengajar mampu menulis prosa fiksi dan mempelajarinya. Intinya menjadi seorang penulis tidak bisa hanya duduk diam dan hanya mendengarkan ceramah dosen saja. Hal terpenting dalam menulis fiksi prosa adalah bagaimana mengubah ide menjadi cerita yang menarik.

Ia menjadi modal penting, sebagai suatu muatan mekanis yang akan digunakan oleh para penulis dalam menciptakan prosa fiksi.

Sumber-Sumber Inspirasi

Gates of Fiction – 133 Terkadang kita mendapatkan ide-ide baru, namun ide tersebut masih jauh dan tidak dapat diimplementasikan dalam penelitian yang sedang berjalan. Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” berfokus pada tokoh Srintil yang berprofesi sebagai Ronggeng di Dukuh Paruk. Konon, nenek moyang seluruh masyarakat Dukuh Paruk adalah Ki Secamenggala, seorang bromocorah yang sengaja mencari kawasan paling sepi sebagai tempat menghabiskan sejarah kejahatannya.

Makam Ki Secamenggala yang terletak di lereng bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi pusat kehidupan spiritual mereka. Gumpalan abu kemenyan di nisan Ki Secamenggala membuktikan bahwa perilaku mental masyarakat Dukuh Paruk terpusat di sana (Tohari, 2011:10). Dari uraian tersebut terlihat bahwa Dukuh Paruk masih berada pada masa jahiliyah dalam ranah keimanan.

Uraian tentang Dukuh Paruku dilengkapi dengan ucapan orang asing yang ingin mengatakan, misalnya: “Jangan melanggengkan kemiskinan seperti warga Dukuh Paruku”. Suami istri dukun ronggeng merasa perlu melakukan hal tersebut karena menurut hukum Dukuh Paruk disebutkan bahwa karir seorang ronggeng terhenti pada kehamilan pertamanya” (Tohari, 2011:90). Dukuh Paruk merupakan sosok yang begitu dikagumi dan dikagumi terutama oleh kaum laki-laki dan diidam-idamkan oleh kaum perempuan.

Referensi

Dokumen terkait

Sementara itu guritan (kadang disebut juga nandai) berbeda dari cerita prosa umumnya (andai-andai) antara lain karena bentuknya. Guritan berbentuk prosa lirik,