Kepala kantor/UPT/Satker/KPB menyampaikan permohonan beserta data/dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 kepada pimpinan unit Eselon I terkait; Apabila terbukti tidak sesuai dengan rencana program, kepala unit Eselon I memerintahkan audit kepada kepala kantor/UPT/Satker/KPB terkait dengan tembusan kepada kepala biro keuangan dan perlengkapan. . . Kepala Kantor/UPT/Satker/KPB menyampaikan permohonan disertai data/dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 kepada kepala kantor wilayah DJKN dengan tembusan kepada kepala unit Eselon I terkait;
Kepala Kantor/UPT/Satker/KPB mengajukan permohonan disertai data dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 kepada pimpinan KPKNL dengan tembusan kepada pimpinan unit Eselon I terkait; Apabila terbukti tidak sesuai dengan rencana program, pimpinan unit Eselon I memerintahkan revisi kepada kepala kantor/UPT/Satker/KPB bersangkutan dengan tembusan kepada pimpinan KPKNL; Kepala Kantor/UPT/Satker/KPB mengajukan permohonan disertai data lengkap kepada pimpinan unit Eselon I terkait, tembusan Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan;
Kepala Biro/UPT/Satker/KPB menyampaikan permohonan disertai rincian lengkap kepada Kepala Biro Wilayah DJKN dengan tembusan kepada Kepala Unit Eselon I terkait dan tembusan kepada Sekretaris Jenderal. Kepala Biro/UPT/Satker/KPB mengajukan permohonan dengan rincian lengkap kepada Kepala KPKNL dengan tembusan kepada pimpinan unit Eselon I terkait dan tembusan kepada Sekretaris Jenderal. Kepala Biro/UPT/Satker/KPB mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Wilayah DJKN, dengan tembusan kepada Kepala Unit Eselon I terkait;
Kepala kantor/UPT/Satker/KPB menyampaikan permohonan tersebut kepada pimpinan KPK dengan tembusan kepada pimpinan unit Eselon I terkait;
Penerimaan negara yang wajib disetor ke kas umum negara oleh mitra kerja sama eksploitasi BMN selama masa kerja sama eksploitasi, terdiri atas:
Perhitungan nilai BMN dalam rangka penentuan besaran kontribusi tetap dilakukan oleh penilai yang ditugaskan oleh
Penetapa~ besaran kontribusi tetap atas BMN selain tanah
Penerimaan negara yang harus disetorkan ke kas umum negara oleh mitra kerja sama pemanfaatan BMN selama masa kerja sama pemanfaatan terdiri atas:. pembagian keuntungan yang timbul dari kerja sama pemanfaatan BMN. Direktur Jenderal Kekayaan Negara sudah memberikan persetujuan. kemudian Pengguna Barang membuat Surat Kerja Sama Pemanfaatan dan mengirimkannya secara bertahap ke Kantor/UPT/Satker/KPB untuk dibuat perjanjian kerja sama pemanfaatan. Kepala Kantor/UPT/Satker/KPB mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Wilayah DJKN dengan tembusan kepada pimpinan unit Eselon I terkait dan Sekretaris Jenderal;
Kepala unit Eselon I meneliti dan menilai salinan usulan kerja sama penempatan BMN. Apabila terbukti tidak sesuai dengan kondisi lapangan terkait aset yang akan dikerahkan kerjasamanya, Kepala Unit Eselon I akan memerintahkan peninjauan kembali kepada Kepala Biro/UPTI Satker/KPB. dilibatkan dalam tembusan Kepala Kantor Wilayah DJKN; Setelah kepala kantor wilayah DJKN memberikan izin, pengguna real estate membuat surat kerjasama penggunaan dan meneruskannya secara bertahap kepada kepala kantor/UPT/Satker/KPB untuk perjanjian penggunaan bersama. Kepala Biro/UPT/Satker/KPB mengajukan permohonan kepada Kepala KPKNL dengan tembusan kepada pimpinan unit Eselon I terkait dan Sekretaris Jenderal;
Salinan usulan kerjasama pemanfaatan BMN diperiksa dan dievaluasi oleh pimpinan unit Eselon I. Apabila ternyata tidak sesuai dengan kondisi lapangan mengenai aset yang akan digunakan kerjasama tersebut, kepala unit Eselon I memerintahkan pemeriksaan kepada kepala kantor terkait/Satker UPTI/KPB tembusan pimpinan KPKNL;. Setelah mendapat persetujuan dari Kepala KPKNL, Kepala Kantor/UPT/Satker/KPB segera membuat perjanjian kerjasama penggunaan dan meneruskan datanya kepada pimpinan unit Eselon I terkait, dan tembusannya kepada Dinas Keuangan dan Peralatan. Penghapusan BMN adalah tindakan menghapus BMN dari daftar barang dengan menerbitkan Surat Keputusan pejabat yang berwenang tentang pembebasan Pengguna Real Estat dan/atau Pengguna Real Estat yang Kuasa dari tanggung jawab administratif dan fisik yang berada di bawah penguasaannya.
Persyaratan tambahan: bagi kendaraan bermotor yang berumur paling sedikit 10 (sepuluh) tahun, terhitung sejak tanggal, bulan, tahun pembelian atau tanggal, bulan, tahun pembuatan (selain pembelian), hilang atau rusak berat karena kecelakaan atau force majeure dengan kondisi 30%. berdasarkan keterangan instansi yang berwenang), tidak mengganggu pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Kantor PTISatker/KPB/U. BMN dalam keadaan rusak berat, terkena bencana alam dalam keadaan force majeure, atau sebab lain di luar kemampuan manusia; Petugas Administrasi Barang Milik Negara (SPA) melakukan inventarisasi barang yang kondisinya memenuhi syarat pemindahan dan segera melaporkan kepada Kantor Satuan Kerja/Kuasa Pengguna Barang.
Daftar nama, NIP, Kedudukan dalam Panitia Penghapusan;
Daftar Barang yang akan dihapus
Melakukan Penelitian/Pemeriksaan/Penilaian BMN yang dituangkan dalam Berita Acara dan ditandatangani oleh
Membuat daftar BMN yang akan dihapus, dengan data yang lengkap serta ditandatangani oleh seluruh Panitia
CPI Pengguna Real Estat mengajukan usulan pemindahan secara bertahap (sesuai batas kewenangannya) untuk mendapatkan persetujuan penolakan dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kanwil DJKN, dan KPKNL dengan disertai dokumen pendukung yang lengkap; Setelah pendapat pertama disetujui, satuan kerja Eselon I mengajukan permohonan kepada Otoritas Pengguna Barang untuk menerbitkan keputusan penghapusan (sesuai dengan batas kewenangan penandatanganan keputusan penghapusan). Setelah adanya keputusan penghapusan barang milik negara dari pejabat yang berwenang, kepala kantor satuan kerja menghapuskan barang milik negara dari catatan Sistem Informasi Manajemen Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK BMN), setelah memperoleh berita acara lelang dari Daftar Barang Milik Negara. Barang Milik Pengguna Barang Yang Sah.
Dalam usulan penghapusan BMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2), untuk mendapat persetujuan pengurus sesuai dengan batas kewenangannya, BMN dibagi menjadi 3 (tiga) klasifikasi, yaitu. Kepala Biro/UPT/Satker/KPB mengajukan permohonan disertai data/dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 kepada pimpinan unit Eselon I terkait; Apabila terbukti tidak memenuhi persyaratan, Kepala Unit Eselon I memerintahkan peninjauan kembali kepada Kepala Biro/UPT/Satker/KPB yang bersangkutan, dengan tembusan kepada Kepala Biro Keuangan dan Perlengkapan.
Penetapan persetujuan I. Rekomendasi usulan penghapusan menjadi kewenangan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (Kakanwil DJKN); Kepala Kantor/UPT/Satker/KPB mengajukan permohonan disertai data/dokumen sebagaimana dimaksud dalam pasal 26 kepada Kakanwil DJKN dengan tembusan kepada pimpinan unit Eselon I terkait; Kepala Kantor/UPT/Satker/KPB segera menyampaikan usulan tersebut kepada pimpinan unit Eselon I terkait. kemudian kepala unit Eselon I mengusulkan kepada Kepala Biro Keuangan dan Peralatan untuk mendapatkan surat keputusan. Tata cara penetapan status penggunaan BMN Klasifikasi 3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal huruf c ditetapkan dengan ketentuan sebagai berikut:
Kepala Kantor/UPT/Satker/KPB mengajukan usulan penghapusan dengan dilampiri data dokumen Pasal 26 kepada pimpinan KPKNL dengan tembusan kepada pimpinan unit Eselon I terkait; Apabila terbukti tidak memenuhi persyaratan, pimpinan unit Eselon I memerintahkan audit kepada kepala UPT/Satker/KPB yang bersangkutan dengan tembusan kepada pimpinan KPKNL; Pada saat Kepala KPKNL menerbitkan Surat Persetujuan I. Rekomendasi, Kepala Dinas/UPT/Satker/KPB segera menyampaikan usulan tersebut kepada Kepala unit Eselon I yang bersangkutan dan tembusannya kepada Dinas Keuangan dan Kelengkapan untuk memperoleh sebuah surat keputusan.
Sekretaris Jenderal atas nama Menteri Perhubungan, untuk BMN berupa: kecuali tanah dan/atau bangunan dengan nilai pembelian BMN untuk paket yang diusulkan di atas Rp. Kepala Biro Keuangan dan Peralatan atas nama Sekretaris Jenderal BMN kecuali tanah dan/atau bangunan, nilai pembelian BMN untuk paket yang diusulkan lebih dari Rp. Irjen, Direktur Jenderal atau Kepala Dinas Perhubungan untuk BMN dengan nilai satuan sampai dengan Rp. BMN yang dihapus dengan tindakan selanjutnya tanpa pemindahtanganan, diatur oleh ketentuan yang berlaku; Pemusnahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan dengan cara membakar, menghancurkan, membuang dan/atau menenggelamkan di dasar laut.
Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, maka Bab IV angka 4 huruf a Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM.3 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Penghapusan, Penggunaan, Pertukaran Barang Milik Negara dan Tata Cara Pemindahan Status Barang Milik Negara. rumah negara kelas II dengan rumah negara kelas III di lingkungan kementerian Hubungan tersebut dinyatakan tidak sah.