• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Pemberdayaan Rumah Tangga Pesisir

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Model Pemberdayaan Rumah Tangga Pesisir"

Copied!
183
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pembangunan masyarakat akan stagnan jika ketiga domain besar tersebut di atas berfungsi secara terpisah dan terfokus pada kepentingannya masing-masing. PBB merumuskan definisi pembangunan masyarakat sebagai suatu proses yang menggabungkan seluruh upaya non-pemerintah dengan upaya pemerintah daerah untuk memperbaiki kondisi masyarakat secara ekonomi, sosial, dan budaya, serta mengintegrasikan masyarakat yang ada ke dalam kehidupan bangsa untuk berintegrasi. dan memberikan peluang yang memungkinkan masyarakat berkontribusi penuh terhadap kemajuan dan kesejahteraan bangsa (Conyer, 2004).

Masyarakat Pesisir

Kemiskinan suprastruktural merupakan kemiskinan yang disebabkan oleh variabel kebijakan makro yang tidak terlalu kuat berpihak pada pembangunan nelayan. Kemiskinan budaya adalah kemiskinan yang disebabkan oleh variabel-variabel yang melekat dan melekat yang menjadi cara hidup tertentu.

Gambaran Umum Wilayah Pesisir Sulawesi Selatan

Sekilas Tentang Kawasan Pesisir Kabupaten Pinrang Kabupaten Pinrang dikenal sebagai salah satu “gudang pangan” di Sulawesi Selatan, sekaligus penghasil udang, susu, kakao, kopi, cendana, dan kelapa. Dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Kabupaten Barru pada tahun 2005 mempunyai nilai sebesar 67,50 yang berarti keadaan tersebut sudah membaik dibandingkan tahun 2004 yang mencapai 67,10 namun masih lebih rendah dibandingkan IPM Provinsi Sulawesi Selatan yang sebesar 68,10.

Gambar 1.1. Aktivitas Nelayan di Kabupaten Takalar Sulawesi  Selatan
Gambar 1.1. Aktivitas Nelayan di Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan

Tujuan Penulisan

Merumuskan model pemberdayaan rumah tangga buruh nelayan untuk pengembangan budidaya perikanan pesisir di Sulawesi Selatan.

Metodologi

Melakukan analisis kesiapan masyarakat nelayan untuk berpartisipasi dalam gerakan pemberdayaan melalui budidaya perairan pesisir. Jenis dan jumlah bahan pengikat Persyaratan minimum per orang per tahun menurut Direktorat Jenderal Pertanian RI pada tahun 2019.

Pemecahan Terhadap Permasalahan

POTENSI LINGKUNGAN FISIK DAN SOSIAL

Analisis Potensi Linkungan Fisik

Setiap jenis biota mempunyai tingkat (%) tertentu dalam hal toleransi kehidupannya, penyesuaian sifat kandungan salinitas perairan. Jenis biota budidaya perikanan yang potensial berkaitan dengan pemilihan jenis yang sesuai dengan kondisi lokasi pengembangan.

Analisis Potensi Lingkungan Sosial Ekonomi

Sangat miskin (tidak cukup pangan): jika pengeluaran rumah tangga di bawah 240 kg setara beras per orang per tahun. Tidak miskin: jika pengeluaran rumah tangga melebihi 320 kg setara beras per orang per tahun.

Tabel 2.1. Jenis dan Jumlah Bahan Pokok Kebutuhan Minimum  Per  Orang Per Tahun Menurut Ditjen Agraria RI Tahun 1979  No
Tabel 2.1. Jenis dan Jumlah Bahan Pokok Kebutuhan Minimum Per Orang Per Tahun Menurut Ditjen Agraria RI Tahun 1979 No

POTENSI FISIK BUDIDAYA LAUT DAN PESISIR

Budidaya Rumput Laut

Pengembangan budidaya rumput laut merupakan salah satu alternatif pemberdayaan masyarakat pesisir yang memiliki keunggulan dalam hal: (1) produk yang dihasilkan memiliki kegunaan yang beragam, (2) ketersediaan lahan untuk budidaya yang cukup luas dan (3) teknologi budidaya yang dibutuhkan mudah (Kementerian Kelautan dan Perikanan). dan Perikanan, 2011). Sejak tahun 1986 hingga saat ini, jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan di Kepulauan Seribu adalah Eucheuma cottonii. Oleh karena itu, suhu air yang baik untuk budidaya rumput laut adalah 20-28°C dengan fluktuasi harian maksimum 4°C (Puslitbangkan, 2011).

Umumnya di Indonesia budidaya rumput laut dilakukan dengan tiga cara penanaman berdasarkan posisi tanaman di dasar perairan (Dirjen Budidaya Perikanan Direktorat Budidaya, 2004).

Gambar 3.1. Proses Pengeringan Rumput Laut
Gambar 3.1. Proses Pengeringan Rumput Laut

Budidaya Ikan dalam Keramba Jaring Apung

Pelampung menjaga semua fasilitas penangkaran tetap terapung, termasuk pos jaga dan benda atau barang lain yang diperlukan untuk tujuan pengelolaan. Jangkar digunakan untuk menjamin seluruh sarana budidaya tidak bergeser dari tempatnya akibat pengaruh arus angin dan gelombang. Sarana penangkaran berupa rangka/rakit, keramba apung, pelampung dan sejenisnya harus dipelihara secara berkala.

Permasalahan yang biasa terjadi pada budidaya benang terapung adalah kontaminasi/penempelan organisme yang menempel tersebut seperti permata, alga, kerang dan lain-lain dapat terjadi pada setiap tempat budidaya yang terendam air.

Gambar 3.3. Jenis Keramba Apung untuk Menangkap Ikan
Gambar 3.3. Jenis Keramba Apung untuk Menangkap Ikan

Budidaya Teripang

Dijelaskan lebih lanjut, teripang yang dijadikan tetua adalah yang sudah dewasa atau diperkirakan mampu bereproduksi dengan ukuran berkisar antara 20-25 cm. Sedangkan bibit teripang alami yang baik untuk budidaya budidaya pen adalah yang memiliki berat antara 30 hingga 50 gram per ekor atau memiliki panjang tubuh kurang lebih 5 cm hingga 7 cm. Dengan ukuran tersebut, benih mentimun dinilai lebih tahan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Teripang dapat dipanen setelah ukuran teripang bervariasi antara 4 hingga 6 per kg (ukuran pasar).

Kepiting Bakau

Usaha Kerajinan Hasil Laut dan Pesisir

Memilih Komoditi Unggulan

Terbatasnya sumber daya yang tersedia, tidak mungkin dapat menghasilkan seluruh barang yang dibutuhkan masyarakat, oleh karena itu pilihan harus diambil. Kemampuan teknis merupakan salah satu unsur yang melekat pada kualitas tenaga kerja sebagai sumber daya manusia. Dilihat dari bentuknya: (1) Modal riil, yaitu barang-barang yang dapat digunakan dalam proses produksi yang terdiri atas modal uang dan modal barang. 2) Modal abstrak, yaitu modal yang tidak terlihat, namun terlihat hasilnya, seperti kecerdasan, pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan nama baik (modal amanah).

Dari sisi potensi sumber daya alam, ditemukan banyak organisme hidup laut dan pesisir yang bernilai komersial yang dapat dibudidayakan di wilayah laut dan pesisir Sulawesi Selatan.

Gambar 3.6. Model Sistem Pemilihan Komoditi Biota Budidaya  Unggulan
Gambar 3.6. Model Sistem Pemilihan Komoditi Biota Budidaya Unggulan

Latar Belakang Kemiskinan Nelayan

Berbeda dengan perikanan darat (misalnya budidaya perairan), perikanan laut menggunakan konsep “milik bersama” dalam pemanfaatan sumber daya laut. Istilah “properti bersama” (Wantrup dan Bishop, 2015 dalam Hannesson, 2016) mengacu pada pembagian hak milik atau sumber daya di mana banyak pemilik memiliki hak yang sama untuk menggunakan sumber daya tersebut. Sehubungan dengan sifat sumber daya milik bersama, perusahaan bebas masuk dan masing-masing ingin memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, sehingga kegiatan penangkapan ikan cenderung ke arah pengelolaan yang bersifat deplesi (Friedheim, 2010).

Ikan sebagai sumber biologi mempunyai sifat-sifat yang boleh dilihat dari aspek biologi dan aspek aliran.

Tabel 3.1. Jenis dan Jumlah Bahan Pokok Kebutuhan Minimum  Per Orang Per Tahun Menurut Dirjen Agraria Ri Tahun 2019
Tabel 3.1. Jenis dan Jumlah Bahan Pokok Kebutuhan Minimum Per Orang Per Tahun Menurut Dirjen Agraria Ri Tahun 2019

Pengertian Kemiskinan Nelayan

Jika ditambah dengan cara penangkapan ikan yang tidak terkendali (deplesi = deplesi dan overfishing), maka lokasi penangkapan ikan juga akan semakin jauh dari pantai. Menyikapi hal-hal tersebut di atas dan terkait dengan struktur dan kelas sosial nelayan di Sulawesi Selatan, maka tantangan kehidupan nelayan khususnya nelayan pekerja (sawi) dapat diringkas dalam satu kata. Kemiskinan struktural: keadaan atau keadaan kemiskinan akibat dampak kebijakan pembangunan yang belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat sehingga menimbulkan ketimpangan.

Sebab Pokok Kemiskinan Nelayan

Subade dan Abdullah (2013) mengemukakan argumen lain yaitu nelayan tetap bertahan di industri perikanan karena biaya peluang yang rendah. Dengan kata lain, biaya peluang (opportunity cost) adalah kemungkinan lain yang dapat diambil oleh nelayan jika mereka tidak berhasil menangkap ikan. Ketika biaya peluangnya rendah, nelayan cenderung tetap melanjutkan usahanya meskipun usahanya sudah tidak menguntungkan dan efisien.

Jadi yang terjadi adalah, para nelayan tetap bekerja sebagai nelayan karena hanya itu yang bisa mereka lakukan.

Indikator Kemiskinan pada Nelayan

Nilai Tukar Nelayan

Artinya, tidak ada masyarakat yang benar-benar tidak berdaya, karena kalaupun ada, pasti sudah punah. Untuk itu harus ada program khusus bagi masyarakat yang kurang berdaya, karena program umum yang berlaku untuk semua orang tidak selalu menjangkau lapisan masyarakat tersebut. Perlindungan harus dilihat sebagai upaya untuk mencegah persaingan yang tidak setara dan eksploitasi yang kuat terhadap pihak yang lemah.

Selanjutnya harus menggunakan pendekatan kelompok karena anggota masyarakat yang kurang berdaya akan kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi.

Mengentaskan Kemiskinan Masyarakat Pesisir

Sistem rantai dingin merupakan penerapan cara penanganan ikan dengan menggunakan es untuk menghindari penurunan kualitas ikan. Dikatakan sistem rantai dingin karena hakikatnya menggunakan es sepanjang rantai pemasaran dan pengangkutan ikan, yaitu sejak ditangkap atau diangkat dari laut hingga ikan tiba di pasar eceran atau di tangan. konsumen. Penyebab lain kurang berhasilnya sistem rantai dingin adalah kurang memadainya sarana dan prasarana pabrik es.

Segala program dan pendekatan yang dilakukan untuk meningkatkan pendapatan nelayan dan mengentaskan mereka dari kemiskinan, seperti yang telah dijelaskan di atas, misalnya membuang garam ke laut.

Kebijakan Pengentasan Kemiskinan Nelayan

Demikian pula, banyak kemitraan antara nelayan dan pengusaha besar gagal karena kesenjangan dalam pembagian keuntungan, risiko dan biaya. Sebaliknya pola hubungan kemitraan antara nelayan dan swasta justru dipandang negatif oleh nelayan dan konsep baik ini ditolak oleh nelayan. Menurut Sritua dan Adi Sasono (2011), mungkin hambatan terbesar untuk mengentaskan kemiskinan di negara-negara terbelakang, termasuk Indonesia, adalah masalah ketergantungan dan keterbelakangan sosial ekonomi negara tersebut terhadap orang asing.

Pendekatan ini, menurut Sritua, Arief dan Adi Sasono (2011), muncul ketika studi empiris terhadap proses pertumbuhan ekonomi di negara-negara dunia ketiga yang terbelakang secara umum tidak menunjukkan ketidakakuratan pendekatan tersebut.

Konsep Strategi

Model pemberdayaan keluarga nelayan yang bekerja untuk mengembangkan usaha budidaya perikanan pesisir di Sulawesi Selatan. Pendapatan per bulan Kepala keluarga nelayan miskin yang bekerja di Desa Lero, Kecamatan Suppa. Pengeluaran non-makanan per bulan pada nelayan miskin yang bekerja pada rumah tangga di Desa Lero, Kecamatan Suppa.

Jumlah Pengeluaran Bulanan Keluarga Nelayan Miskin di Desa Lero Kecamatan Suppa Kabupaten.

Gambar 4.5. Pemberdayaan Melalui Peran Organisasi Daerah  Makna  yang  terkandung  dari  strategi  ini  adalah  bahwa  para  manajer  memainkan  peranan  yang  aktif,  sadar,  dan  rasional  dalam merumuskan strategi organisasi
Gambar 4.5. Pemberdayaan Melalui Peran Organisasi Daerah Makna yang terkandung dari strategi ini adalah bahwa para manajer memainkan peranan yang aktif, sadar, dan rasional dalam merumuskan strategi organisasi

MODEL PEMBERDAYAAN RUMAH TANGGA

Bagan Alir Sistematika Penelitian

Potensi Sumberdaya Alam Sulawesi Selatan

Dataran berpasir berlumpur Sulawesi Selatan terletak di sepanjang pantai timur mulai dari pantai Kab. Di Sulawesi Selatan, teluk ini membentang di sepanjang pantai selatan Kabupaten Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan Bulukumba. Satu-satunya terumbu karang bercincin (atol) di Sulawesi Selatan adalah terumbu utara Takabonerate.

Di perairan laut Sulawesi Selatan, ikan ini banyak ditemukan di lepas pantai di kawasan laut dangkal, terutama di habitat terumbu karang.

Karakteristik Wilayah Pesisir Kabupaten Pinrang

Pengeluaran rumah tangga miskin pekerja nelayan di Desa Lero Kecamatan Suppa terdiri dari pengeluaran makanan dan non makanan. Setelah membagi total pendapatan rumah tangga nelayan miskin dengan jumlah tanggungan, diperoleh pendapatan per penduduk sebesar Rp. Biaya per penduduk per tahun untuk unit rumah tangga nelayan miskin di Desa Lero Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang adalah Rp.

Usaha budidaya perairan pesisir yang cocok bagi anggota keluarga nelayan miskin adalah pengasapan dan budidaya ikan hias.

Tabel 5.16. Pendapatan Per Bulan Kepala Keluarga Rumah  Tangga Nelayan Buruh Miskin di Desa Lero Kecamatan Suppa
Tabel 5.16. Pendapatan Per Bulan Kepala Keluarga Rumah Tangga Nelayan Buruh Miskin di Desa Lero Kecamatan Suppa

Karakteristik Wilayah Pesisir Kabupaten Takalar

Dalam program Golden Gate, Kabupaten Takalar berpotensi dijadikan pusat inkubator pengembangan rumput laut. Kabupaten Takalar sesuai dengan potensinya yang didukung oleh empat kecamatan pesisir dengan panjang garis pantai sekitar 73 km ditetapkan sebagai pusat pengembangan agrobisnis perikanan dan rumput laut. Pada tahun 2006, produksi rumput laut mencapai 9.721 ton dengan luas sekitar 3.025, sehingga Kabupaten Takalar mempunyai potensi sumber daya kelautan khususnya ikan layang dan rumput laut.

Berdasarkan peta sebaran potensi budidaya laut, Kabupaten Takalar mempunyai potensi rumput laut.

Tabel 5.28. Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Jumlah  Pendapatan Responden
Tabel 5.28. Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Jumlah Pendapatan Responden

Karakteristik Wilayah Pesisir Kabupaten Bone

Dalam strata sosial nelayan di Desa Panyula Kecamatan Tanete Riattang Timur terbagi menjadi tiga yaitu: Nelayan Punggawa, Nelayan Juragan dan Nelayan Buruh. Dari hasil tabel diatas dapat disimpulkan bahwa buruh nelayan di Desa Panyula mempunyai tingkat pendapatan yang sedang. Dari Tabel 5.38 terlihat bahwa pendapatan rumah tangga sebagian besar nelayan yang bekerja adalah sebesar Rp.

Untuk mengetahui pengeluaran rumah tangga buruh nelayan di Desa Panyula, lihat Tabel 5.39 di bawah ini.

Tabel 5.38. Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Nelayan Buruh  di Kelurahan Panyula Tahun 2020
Tabel 5.38. Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Nelayan Buruh di Kelurahan Panyula Tahun 2020

Evaluasi Program Pemberdayaan Pemerintah

Kemiskinan nelayan dan anggota rumah tangga nelayan yang bekerja harus dilihat sebagai fenomena yang melibatkan banyak aspek, baik struktural maupun kultural. Dengan demikian, model penguatan rumah tangga nelayan pekerja harus dilakukan dalam kerangka pendekatan yang holistik dan holistik, dengan memperhatikan sistem nilai, kelembagaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat lokal, potensi lokal, unit usaha masyarakat dan daya dukung lingkungan. . Tidak cukup hanya dilakukan dalam bentuk 'top-down project', namun membutuhkan waktu yang lama agar nelayan dan anggota rumah tangganya benar-benar mandiri dan berdaya.

Jangan sampai masing-masing instansi mengambil kebijakan sendiri-sendiri sehingga diperlukan suatu langkah terpadu yang dapat menciptakan sinergi dalam memanfaatkan potensi yang ada, seperti di pesisir pantai, Kabupaten Bone mempunyai potensi kelautan yaitu rumput laut, perikanan dan udang yang dapat dimanfaatkan oleh anggota rumah tangga. nelayan yang bekerja, pengetahuan, keterampilan dan bantuan dalam pengolahan rumput laut harus diperoleh.

Problema dari Karakteristik Rumah Tangga Miskin Nelayan

Tempat tinggal yang sehat dan layak merupakan kebutuhan yang masih sulit dicapai oleh masyarakat nelayan miskin. Memburuknya kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup serta terbatasnya akses terhadap sumber daya alam oleh masyarakat nelayan miskin. Masyarakat nelayan miskin sangat rentan terhadap perubahan pola pemanfaatan sumber daya alam dan perubahan lingkungan.

Permasalahan utama yang dihadapi masyarakat nelayan miskin adalah terbatasnya akses masyarakat miskin nelayan terhadap sumber daya alam dan menurunnya kualitas lingkungan, baik sebagai sumber penghidupan maupun penunjang kehidupan sehari-hari.

Internalisasi Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan

Tujuan PEMP adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui terciptanya sistem produksi dan pengelolaan sumber daya perikanan yang menjamin kelangsungan ketersediaan sumber daya dan kelangsungan usaha perikanan berbasis masyarakat. Kegiatan ekonomi produktif yang dilakukan tentu saja didasarkan pada potensi sumber daya alam yang tersedia, peluang pasar, kapasitas dan penguasaan teknologi masyarakat, serta dukungan adat dan budaya. Analisis pemanfaatan spasial dalam pengelolaan sumber daya pesisir di Desa Lero Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang.

Pentingnya Konservasi Sumber Daya Pesisir dan Laut dalam Budaya Lokal Patorani Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar Melalui Perspektif Fenomenologis.

Gambar

Gambar 1.1. Aktivitas Nelayan di Kabupaten Takalar Sulawesi  Selatan
Gambar 1.2. Wilayah Pesisir Kabupaten Pinrang Sulawesi  Selatan
Gambar 1.3. Wilayah Pesisir Kabupaten Pinrang Sulawesi  Selatan
Gambar 1.4. Lingkungan Pesisir Kabupaten Bone Sulawesi  Selatan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh penambahan zeolit terhadap konsentrasi merkuri pada tailing dari Kulon Progo Demikian juga untuk sampel tailing yang diperoleh dari Wonogiri, dengan ditambahkannya zeolit