• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nama : Fifi Yuliagus NIM : 1504081 Judul

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Nama : Fifi Yuliagus NIM : 1504081 Judul"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

Judul Disertasi: Deskripsi Perilaku Keluarga dalam Pengobatan Sendiri Melalui Pendekatan Teori Health Belief Model (HBM) di Kabupaten Kinali. Pertama-tama puji syukur kehadirat Allah SWT atas terselesaikannya skripsi ini dengan lancar dan lancar. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan program sarjana di Sekolah Tinggi Perintis Farmasi Indonesia Padang.

Penyusunan dan penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Zulkarni R, S.Si, MM, Apt selaku ketua Sekolah Tinggi Farmasi Perintis Indonesia Padang, pembimbing I dan pembimbing akademik yang dengan penuh perhatian dan kesabaran telah bersedia meluangkan waktu, pikiran dan motivasi, memberikan petunjuk, ilmu, nasehat, arahan dan bimbingan selama penelitian dan penyusunan skripsi ini. Nyonya. Rahmi Yosmar, M.Farm, Apt selaku dosen pembimbing II yang dengan senang hati memberikan bimbingan, ilmu, nasehat, arahan dan bimbingan selama penelitian dan penyusunan skripsi ini.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat menjadi sumbangsih ilmu pengetahuan yang berharga dan bermanfaat bagi kita semua.

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang
  • Rumusan Masalah
  • Tujuan Penelitian
  • Manfaat Penelitian

Salah satu strategi operasional pembangunan kesehatan yang dicanangkan Kementerian Kesehatan pada tahun 2015-2019 adalah program “Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga” (Kemenkes RI, 2016). Teori ini menjelaskan bahwa perubahan perilaku dipengaruhi oleh beberapa aspek, yaitu persepsi kerentanan terhadap penyakit, persepsi keseriusan penyakit, manfaat yang dirasakan dari suatu tindakan, persepsi hambatan kinerja aktivitas, persepsi pendorong tindakan (dipengaruhi oleh media, orang lain, dan faktor lain), sosiodemografi (persepsi kemampuan bertindak dan harga diri tindakan), 2016). Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin melihat gambaran perilaku swamedikasi keluarga di Kabupaten Kinali melalui pendekatan teori Health Belief Model.

Bagaimana gambaran persepsi keseriusan yang dirasakan, manfaat yang dirasakan dan persepsi pencetus tindakan keluarga di Kecamatan Kinali. Bagaimana hubungan antara persepsi persepsi keseriusan, persepsi manfaat dan persepsi penggagas tindakan dengan perilaku keluarga dalam pengobatan sendiri di Kecamatan Kinali. Untuk mengetahui gambaran persepsi keseriusan yang dirasakan, manfaat yang dirasakan dan persepsi pencetus tindakan keluarga di Kecamatan Kinali.

Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara persepsi keparahan yang dirasakan, manfaat yang dirasakan dan persepsi penggagas tindakan dengan perilaku keluarga dalam pengobatan sendiri di Kecamatan Kinali.

TINJAUAN PUSTAKA

  • Perilaku
    • Pengertian Perilaku
    • Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku
    • Klasifikasi Perilaku Kesehatan
    • Domain Perilaku
  • Swamedikasi
    • Pengertian Swamedikasi
    • Keuntungan Swamedikasi
    • Kerugian Swamedikasi
    • Faktor Penyebab Swamedikasi
    • Risiko Swamedikasi
  • Obat
    • Pengertian Obat
    • Penggolongan Obat Swamedikasi
  • Keluarga
    • Pengertian Keluarga
    • Fungsi Keluarga
  • Teori Health Belief Model (HBM)
    • Pengertian Health Belief Model
    • Variabel-Variabel teori Health Belief Model
  • Profil Kecamatan Kinali
    • Penduduk
    • Pendidikan
    • Sarana dan Petugas Kesehatan
    • Jenis Penyakit yang dominan

Lebih lengkapnya swamedikasi adalah pengobatan masalah kesehatan umum dengan menggunakan obat-obatan yang dapat digunakan tanpa pengawasan tenaga kesehatan serta aman dan efektif untuk digunakan sendiri (WHO, 1998). Kemudahan mendapatkan produk obat membuat pasien lebih nyaman membeli obat yang bisa dibawa kemana-mana, daripada harus menunggu lama di rumah sakit atau puskesmas lainnya. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya produk obat baru yang lebih cocok, serta adanya beberapa produk obat yang sudah lama dikenal dan memiliki indeks keamanan yang baik dan termasuk dalam kategori obat bebas.

Dengan semakin banyaknya masyarakat yang melakukan pengobatan sendiri, maka dibutuhkan informasi tentang obat yang tepat untuk kebutuhannya. Dalam pengobatan sendiri, beberapa risiko muncul akibat ketidaktahuan akan keseriusan gangguan dan penggunaan obat yang tidak tepat. Agar tidak berisiko munculnya keluhan lain akibat penggunaan obat yang tidak tepat, dalam pengobatan sendiri yang benar, masyarakat harus mengetahui informasi yang jelas dan terpercaya.

Obat bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya merupakan obat keras, namun dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter dan disertai dengan tanda peringatan. Dalam melakukan pengobatan sendiri harus mengetahui cara penggunaan obat yang benar yaitu obat tidak digunakan terus menerus, digunakan sesuai anjuran yang tertera pada etiket dan brosur, bila obat yang digunakan menimbulkan hal yang tidak diinginkan maka hentikan pemakaian dan pilih obat yang tepat dan informasi lengkap tanyakan pada apoteker (Depkes RI, 2006).

Gambar 2.2 Logo obat bebas terbatas, sumber: Depkes RI (2006)
Gambar 2.2 Logo obat bebas terbatas, sumber: Depkes RI (2006)

METODE PENELITIAN

  • Waktu dan Tempat Penelitian
    • Waktu Penelitian
    • Tempat Penelitian
  • Jenis dan Desain Penelitian
  • Populasi dan Sampel
    • Populasi
    • Sampel
  • Teknik Sampling
  • Instrumen Penelitian
  • Definisi dan Batasan Operasional
    • Definisi Operasional
    • Batasan Penelitian
  • Jenis danTeknik Pengumpulan Data
    • Jenis Data
    • Teknik Pengumpulan Data
  • Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
    • Uji Validitas
    • Uji Reliabilitas
  • Analisis Data
    • Uji Deskriptif
    • Analisis Bivariat
  • Penilaian Kuesioner

Katalog Kabupaten Kinali dalam Angka 2018 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik menyebutkan jumlah rumah tangga di Kabupaten Kinali adalah 16304 rumah tangga atau rumah tangga. Berdasarkan rumus Slovin dapat dihitung jumlah sampel rumah tangga di Kecamatan Kinali. Untuk mengatasi kemungkinan putus keluarga, sampel ditambah 10%, sehingga jumlah sampel yang dibutuhkan adalah:

Keluarga yang salah satu anggota keluarganya bekerja di bidang kesehatan atau belajar di bidang kesehatan. Kuesioner bagian III berisi pertanyaan mengenai gambaran persepsi keparahan, persepsi manfaat dan persepsi efek pencetus saat swamedikasi. Hubungan antara perilaku pengobatan sendiri dengan variabel teori HBM didefinisikan sebagai apakah ada hubungan yang signifikan antara perilaku pengobatan sendiri dengan persepsi keseriusan, manfaat dan pemicu tindakan dengan melihat p-value, jika p-value > 0,05 berarti tidak ada hubungan, jika p < 0,05 berarti ada hubungan.

Variabel teori Health Belief Model yang digunakan dalam penelitian ini dibatasi hanya pada tingkat keparahan yang dirasakan, manfaat yang dirasakan, dan persepsi inisiator tindakan. Peneliti mengamati bagaimana gambaran perilaku keluarga terhadap swamedikasi di Kecamatan Kinali melalui pendekatan teori Health Belief Model. Kuesioner/kuesioner yaitu dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada masyarakat atau pasien di puskesmas berupa kertas yang harus dijawab mengenai gambaran perilaku keluarga mengenai pengobatan sendiri di Kecamatan Kinali melalui pendekatan teori Health Belief Model.

Jumlah minimal responden yang digunakan untuk eksperimen kuesioner adalah 30 responden karena distribusi nilai dengan jumlah minimal 30 responden akan mendekati kurva normal (Singarimbun dan Efendi, 1995), oleh karena itu uji validitas kuesioner dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 30 keluarga di kecamatan selain kecamatan Kinali. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau dapat dipercaya jika tanggapan seseorang terhadap pertanyaan konsisten atau stabil bila diukur hanya sekali. Nilai cronbach alpha pada penelitian ini adalah 0,6 dengan asumsi daftar pertanyaan yang diujikan akan dikatakan reliabel apabila nilai cronbach alpha > 0,6.

Dalam penelitian ini, analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara keparahan yang dirasakan, manfaat, atau pemicu tindakan dan pengetahuan keluarga tentang pengobatan sendiri. Disebabkan oleh trigger jika respon responden memiliki indeks > 50% dengan nilai total > 2.

HASIL dan PEMBAHASAN

Hasil

1.476, manfaat yang dirasakan dari pengobatan sendiri mendapat nilai rata-rata 3,21 dengan standar deviasi 1,351, dan persepsi penyebab tindakan nilai rata-rata 2,66 dengan standar deviasi 1,289 (Tabel 12). Uji Kolmogrov-Smirnov yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara perilaku swamedikasi keluarga dengan ketiga variabel HBM menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku swamedikasi dengan persepsi keparahan, manfaat, dan pemicu tindakan (p value > 0,05) (Tabel.

Pembahasan

Uji Kolmogrov-Smirnov yang digunakan untuk menguji hubungan antara perilaku keluarga dalam swamedikasi dan ketiga variabel HBM menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara perilaku swamedikasi dengan persepsi keparahan, manfaat dan pemicu tindakan (p-value > 0,05) (Tabel 13,14,15. Hasil penelitian menunjukkan kuesioner-perilaku bagian 2 dan Cron-famibar bagian 8). 3 kuesioner yang terdiri dari persepsi keseriusan, keuntungan, pemicu tindakan dengan nilai Cronbarch Alpha masing-masing. Karakteristik sosiodemografi keluarga di Kecamatan Kinali, menunjukkan sebagian besar responden adalah responden berusia antara 29-39 tahun, jenis kelamin perempuan, pendidikan terakhir SMA, pekerjaan rumah tangga.

Perilaku pengobatan sendiri ditinjau dari karakteristik sosiodemografi menunjukkan bahwa perilaku pengobatan sendiri yang baik ditemukan pada responden berusia 18-28 tahun (34,7%), jenis kelamin perempuan (75,5%). Sebagian besar perilaku swamedikasi yang masuk dalam kategori baik terjadi antara usia 18-28 tahun, sejalan dengan penelitian Shankar et al (2002) yang menyatakan bahwa kelompok usia di bawah 30 tahun lebih cenderung melakukan swamedikasi secara rasional. Selanjutnya diketahui dari tabel 10 bahwa perilaku swamedikasi pada keluarga dengan pendidikan tertinggi SMA/sederajat dan perguruan tinggi sebagian besar berada pada kategori baik.

Menurut penelitian Hantoro et al (2014) tentang pengaruh pengetahuan terhadap perilaku pengobatan sendiri NSAID pada etnis Surabaya yang menyatakan bahwa ada pengaruh pengetahuan terhadap perilaku penggunaan NSAID, semakin banyak pengetahuan meningkat maka perilaku pengobatan sendiri meningkat. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, perilaku pengobatan mandiri keluarga di Kecamatan Kinali termasuk dalam kriteria sedang (skor total 5-<10) dengan nilai rata-rata 9,33. Sementara itu, analisis deskriptif terhadap variabel teori HBM menunjukkan bahwa persepsi keseriusan swamedikasi di Kecamatan Kinali termasuk dalam kriteria serius (skor total > 2,5) dengan nilai rata-rata 2,62, manfaat yang dirasakan dari swamedikasi termasuk dalam kriteria menguntungkan (skor total > 2,5) dengan nilai rata-rata 3,21, dan persepsi pelaku tindakan dalam melakukan swamedikasi. obat tersebut termasuk dalam kriteria yang disebabkan oleh aksi pemicunya.

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa rata-rata keluarga di Kecamatan Kinali melakukan pengobatan sendiri dikarenakan ketiga variabel teoretis HBM, sehingga dapat diketahui bahwa variabel HBM yang signifikan yang membuat keluarga di Kecamatan Kinali melakukan pengobatan sendiri adalah persepsi keseriusan, manfaat yang dirasakan dan pemicu tindakan. Pemicu yang paling berpengaruh adalah rekomendasi dari dokter (42,4%), keluarga, teman dan kolega (40,2%), televisi (10,6%), buku dan brosur (6,8%), selain penelitian ini. Penelitian oleh Pirzadeh et al (2014) menunjukkan bahwa faktor lain yang memotivasi mahasiswa kesehatan di Universitas Isfhan untuk melakukan pengobatan sendiri adalah pengalaman pengobatan sendiri sebelumnya (60,7%), ketersediaan obat yang mudah (50,5%), penyakit ringan (45,5%), hasil yang baik (48,5%), kurangnya waktu atau kesibukan (42,3%).

Hasil analisis bivariat dengan menggunakan Kolmogrov-Smirnov menunjukkan bahwa ketiga variabel HBM yang diuji tidak ada hubungannya dengan perilaku swamedikasi keluarga di Kecamatan Kinali, dimana p-value masing-masing variabel tersebut lebih besar dari 0,05. Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh persepsi keparahan, persepsi manfaat, dan persepsi inisiator tindakan terhadap perilaku pengobatan sendiri. Hasil analisis antara data sosiodemografi dan variabel teori HBM menunjukkan bahwa hanya usia yang memiliki hubungan signifikan dengan persepsi keparahan, dimana diperoleh nilai p < 0,05.

Hasil data sosiodemografi lainnya yaitu umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan dan pendapatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan perceived benefit dan action driver.

Tabel 1. Uji Validitas Perilaku Keluarga dalam Swamedikasi
Tabel 1. Uji Validitas Perilaku Keluarga dalam Swamedikasi

KESIMPULAN dan SARAN

Kesimpulan

Saran

Determinan swamedikasi pada lansia dan penjelasannya berdasarkan Health Belief Model. Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pengobatan sendiri yang aman, tepat dan rasional pada masyarakat Kota Bandar Lampung. Pengaruh pengetahuan terhadap perilaku swamedikasi obat antiinflamasi nonsteroid (Ains) oral pada etnis Arab di Surabaya.

Pengobatan sendiri di kalangan mahasiswa Ilmu Kedokteran Universitas Isfahan berdasarkan Health Belief Model. 2015 Penentu perilaku mencari pengobatan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2013. Persepsi pemicu tindakan: - Kampanye media massa - Surat kabar atau majalah - Saran dari orang lain - Penyakit keluarga atau.

Mengajukan izin ke kantor Bupati Pasaman Barat bagian KESBANGPOL dan menyerahkan surat rekomendasi pelaksanaan.

Gambar 4. Kerangka Konsep Keluarga
Gambar 4. Kerangka Konsep Keluarga

Gambar

Gambar 2.2 Logo obat bebas terbatas, sumber: Depkes RI (2006)
Tabel 2. Uji Validitas Persepsi Keseriusan
Tabel 4. Uji Validitas Persepsi Pencetus Tindakan
Tabel 5. Hasil Uji Reliabilitas
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil uji statistik dengan model Kolmogorov-Smirnov seperti yang terdapat dalam tabel 4-3 dapat dilihat dari signifikan (2-tailed) Kolmogorov- Smirnov dari

 Jika variabel terikat menentukan nama yang sudah ada atau non -variabel yang ada untuk permintaan ini adalah / akan dapat mengakses karena / tidak akan di MIB melihat

Hasil : Variabel lingkungan sosial yang mempunyai hubungan yang signifikan terhadap perilaku merokok adalah semua variabel yang ada yaitu lingkungan keluarga,

Selain itu jika melihat hubungan dari setiap bentuk dukungan keluarga, didapatkan data bahwa ada hubungan yang signifikan antara dukungan instrumental dengan perilaku

Hasil : Variabel lingkungan sosial yang mempunyai hubungan yang signifikan terhadap perilaku merokok adalah semua variabel yang ada yaitu lingkungan keluarga,

Uji linearitas merupakan uji untuk melihat apakah ada hubungan linear yang signifikan dari dua buah variabel yang sedang diteliti. Uji ini merupakan prasyarat

ABSTRAK Nama : Jafar Nim : 105270000915 Judul : Peranan Dakwah Muhammadiyah Terhadap Perbaikan Perilaku Remaja Di Desa Maninili Barat Kecamatan Tinombo Selatan Kabupaten Parigi

Tabel 2 Ujii Normalitass Kolmogrof-Smirnov Variabel Signifikan Aktivitas fisik 0,200 Memori jangka pendek 0,000 Berdasarkan tabel 2 uji normalitas Kolmogrof- Smirnov bahwa didapat