PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Seberapa besar peningkatan jiwa wirausaha setelah dilakukan pembelajaran media jus pisang pada siswa kelas VI SDN 2 Kedungombo? Berapakah peningkatan angka ketuntasan pembelajaran membatik dengan media sari pisang pada siswa kelas VI SDN 2 Kedungombo.
Tujuan
Manfaat
LANDASAN TEORI
Hasil Inovasi yang Relevan
Karya inovatif Taufik Timur dan Achmad Budisusetyo bertajuk Penelitian Seputar Perkembangan Industri Kerajinan Batik Tulis “Labako” di Kabupaten Jember. Tujuan jangka panjang dari penelitian ini adalah memfasilitasi perancangan motif batik Labako secara efisien, berkualitas dan meningkatkan pendapatan rumah tangga. Tahun pertama mengetahui proses produksi batik Labako secara lebih mendalam khususnya aspek kuantitas dan kualitas produksi serta kajian aspek sosial dan ekonomi pengrajin;
Untuk menjawab tujuan pertama digunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif yang disajikan dalam bentuk tabel frekuensi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa 1) Mayoritas (4,39%) responden perajin masih merasa cukup kesulitan dalam mengakses bahan produksi. Berkaitan dengan proses produksi, sebanyak 15% pengrajin mengalami kendala pada proses pengeringan dan pencelupan sehingga mudah luntur.
Sementara itu, sebanyak 85% perajin sangat tertarik mempelajari cara mendesain pola dan motif batik melalui aplikasi software berbasis teknologi informasi; Karya inovatif Putri Mulyanti diberi judul Kajian Motif Batik Druju Dusun Wonorejo Kabupaten Malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang latar belakang, ciri-ciri dan fungsi batik Druju.
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan mulai dari reduksi data, penyajian data dan diakhiri dengan penarikan kesimpulan. Dari visualisasi motif batik Druju kita temukan motif flora, fauna, sinar matahari dan lanskap, serta benda-benda teknologi sebagai alat kehidupan manusia.
KARYA INOVASI PEMBELAJARN
Rencana Karya Inovasi Pembelajaran
Proses Penemuan/ Pembaharuan
Media sari pisang dalam proses pembelajaran membatik mengandung unsur baru dalam inovasi pembelajaran jika dibandingkan dengan proses membatik pada umumnya. Perlu kita ketahui bahwa bahan pembuatan jus pisang ini seratus persen terdiri dari bahan alami yaitu jus pisang. Jika kita melihat batik yang terbuat dari sari pisang dan keesokan harinya kita melihatnya lagi, kita bisa langsung mengatakan bahwa itu adalah batik yang terbuat dari sari pisang.
Kebaruan inovasi pembelajaran menggunakan media jus pisang tidak hanya pada apa yang dihasilkan dari media tersebut, namun guru memberikan nilai tambah dalam proses pembelajaran yaitu tumbuhnya jiwa kewirausahaan. Peningkatan semangat berwirausaha dapat tercipta karena siswa mengikuti langsung proses pembelajaran dari awal sampai akhir yaitu dari pembuatan media jus pisang, proses pembelajaran membatik dengan media jus pisang dan cara memasarkan hasilnya. Sehingga dengan melalui serangkaian proses pembelajaran akan tumbuh jiwa kewirausahaan siswa dan kedepannya siswa mampu mengembangkan batik dengan media sari buah pisang.
Mekanisme kerja yang digunakan dalam penerapan media sari pisang dalam proses pembelajaran membatik dilakukan dalam tiga tahap. Tahap awal meliputi kegiatan pembuatan tinta batik dengan menggunakan media sari buah pisang, yaitu dari tahap penyadapan sari buah pisang hingga media sari pisang siap digunakan untuk produksi batik. Tahap proses merupakan tahap penerapan atau implementasi media jus pisang dalam pembelajaran membatik pada siswa kelas VI SDN 2 Kedungombo.
Tahapan ini meliputi pembuatan produk dengan belajar membatik dengan menggunakan media sari pisang. Produk yang dihasilkan dari proses pembelajaran membatik dengan media sari pisang adalah terciptanya tinta atau cat dari sari pisang, kreasi membatik yang diikuti dengan peningkatan jiwa wirausaha dan peningkatan hasil pembelajaran membatik di kelas. Siswa VI SDN 2 Kedungombo.
Aplikasi Praktis dalam Pembelajaran
Kegiatan mengunyah sari pisang dapat selesai karena sari pisang yang diperoleh kurang lebih cukup untuk digunakan membatik dengan menggunakan sari pisang sebagai medianya. Tahap proses merupakan tahap pengaplikasian cat warna dari media sari pisang pada proses pembelajaran membatik dengan teknik sederhana pada siswa kelas VI SDN 2 Kedungombo. Langkah kedua dalam proses membatik dengan teknik jumputan dengan media sari pisang adalah penyambungan benda pada kain.
Langkah ketiga dalam membatik dengan teknik jumputan dengan media sari pisang adalah dengan mencelupkan kain ikat ke dalam sari pisang sebagai medianya. Pemindahan ke dalam ember bertujuan untuk memudahkan proses pencelupan kain ke dalam media jus pisang. Langkah keempat dalam rangkaian pembuatan batik dengan teknik jumputan dengan media sari pisang adalah mengeringkan batik.
Pelepasan pita merupakan langkah terakhir dalam proses membatik dengan teknik jumputan dengan media sari pisang. Tahap keluaran disebut juga dengan produk hasil proses pembelajaran membatik siswa kelas VI SDN 2 Kedungombo dengan teknik jumputan yang menggunakan media sari pisang. Setelah melalui serangkaian proses pembatikan dan proses finishing, maka terciptalah batik dengan menggunakan sari buah pisang sebagai medianya.
Langkah tambahan yang memberikan nilai tambah dalam pembelajaran membatik dengan teknik sederhana dengan media sari pisang adalah pemasaran hasil batik. Pemasaran batik sari pisang dilakukan melalui pemasaran jam istirahat dan pemasaran melalui koperasi sekolah. Selain dipasarkan melalui hari pasar, batik sari pisang juga dipasarkan melalui koperasi sekolah.
Cara ini dinilai lebih efektif karena batik yang dihasilkan dari sari pisang dibeli langsung oleh pihak sekolah. Batik yang terbuat dari sari pisang ini digunakan untuk menutupi permukaan meja guru, yang dalam bahasa jawa disebut taplak meja. Penggunaan batik sari pisang sebagai taplak meja merupakan salah satu strategi untuk memperkenalkan batik sari pisang ke sekolah lain.
Data Hasil Aplikasi Praktis Inovasi Pembelajaran
Rata-rata indikator motif berprestasi tinggi siswa kelas VI SDN 2 Kedungombo yang berjumlah 10 siswa adalah 2,0 dan tergolong langka. Rata-rata indikator perilaku inovasi tinggi pada 10 siswa SDN 2 Kedungombo adalah 1,8 dan tergolong jarang. Rata-rata indikator komitmen kerja yang dimiliki siswa kelas VI SDN 2 Kedungombo yang berjumlah 10 siswa adalah 2,3 dan dinilai jarang.
Rata-rata indikator tanggung jawab 10 siswa SD Negeri 2 Kedungombo adalah 2,0 dan tergolong jarang. Rata-rata indikator selalu berani mengambil resiko pada siswa kelas 6 10 SDN 2 Kedungombo masih sebesar 1,9 dan tergolong jarang. Pembagian Predikat Indikator Jiwa Wirausaha Dalam Pembelajaran Membatik Dengan Teknik Sederhana Sebelum Menggunakan Media Jus Pisang.
Rata-rata indikator mempunyai motif berprestasi tinggi pada 10 siswa adalah 3,6 dan tergolong sering. Rata-rata indikator mempunyai perilaku inovasi tinggi pada 10 siswa kelas VI SDN 2 Kedungombo adalah 3,3 termasuk predikat kadang-kadang. Rata-rata indikator komitmen kerja siswa kelas VI SDN 2 Kedungombo yang berjumlah 10 siswa adalah 3,8 dan tergolong sering.
Rata-rata indikator tanggung jawab siswa kelas VI SDN 2 Kedungombo adalah 3,5 dan tergolong sering. Rerata selalu berani menghadapi resiko pada 10 siswa kelas 6 SDN 2 Kedungombo masih sebesar 3,1 dan termasuk dalam predikat pernah. Berdasarkan tabel di atas diperoleh data bahwa dari 10 siswa kelas VI SD Negeri 2 Kedungombo, 0% berpredikat sangat tinggi, 100% berpredikat tinggi, 0% berpredikat sedang, 0% berpredikat rendah predikat. , dan 0% mempunyai predikat rendah, penilaian sangat rendah.
Berdasarkan tabel di atas diperoleh data sebaran hasil belajar siswa pada pembelajaran membatik dengan teknik sederhana sebelum menggunakan media jus pisang. Perlu kita ingat bahwa kriteria ketuntasan minimal (KKM) materi membatik dengan teknik sederhana adalah 75. Berdasarkan tabel diatas maka data sebaran hasil belajar siswa pada pembelajaran membatik dengan teknik sederhana setelah menggunakan media jus pisang adalah sebagai berikut: 5 siswa atau 50% mendapat nilai 80 dan sebanyak 5 siswa atau 50% mendapat nilai 90.
Analisis Hasil Aplikasi Praktis Inovasi Pembelajaran
Berdasarkan uraian di atas maka indikator kinerja hasil belajar siswa kelas VI SDN 2 Kedungombo mengenai membatik dengan teknik sederhana dinyatakan tercapai. Berdasarkan data yang diperoleh setelah menggunakan media jus pisang persentase ketuntasan hasil belajar meningkat hingga 100%. Karya inovatif berjudul Pemanfaatan Getah Pisang untuk Meningkatkan Jiwa Kewirausahaan dan Hasil Belajar Membatik pada Siswa Kelas VI SD Negeri 2 Kedungombo dibagikan pada seminar persiapan penelitian tindakan kelas (PTK) dan persiapan tindakan sekolah (PTK) yang diselenggarakan oleh Forum Kelompok Kerja Guru ( FKKG) Kabupaten Baturetno pada hari Sabtu tanggal 28 April 2018 di SD Negeri 2 Kedungombo.
Selama proses seminar ada dua pertanyaan yang diajukan oleh Wasito, S.Pd. selaku kepala SD Negeri 2 Belikurip dan Siti Zulaicha, S.Pd. sebagai guru di SD Negeri 6 Baturetno. mengajukan pertanyaan mengenai ciri-ciri warna batik yang dihasilkan dari sari buah pisang, sedangkan Siti Zulaicha, S.Pd. menanyakan apakah proses membatik dengan media sari pisang dapat diselesaikan dalam satu kali pertemuan. Tanggapan pertama ditujukan kepada Wasito, S.Pd. yakni warna khas batik berbahan sari pisang adalah warna merah lembut yang berbeda dengan warna yang dihasilkan warna batik lainnya. Jawaban kedua ditujukan kepada Siti Zulaicha, S.Pd. Artinya, idealnya proses membatik dengan menggunakan media sari pisang dapat diselesaikan dalam dua kali pertemuan.
Terjadi peningkatan jiwa wirausaha setelah pembelajaran pemanfaatan media jus pisang pada siswa kelas VI SDN 2 Kedungombo dari predikat rendah menjadi tinggi yaitu 10,0 menjadi 17,3. Terdapat peningkatan tingkat ketuntasan hasil belajar membatik setelah diajarkan menggunakan media jus pisang pada siswa kelas VI SDN 2 Kedungombo sebesar 40%, dari 60% menjadi 100%. Di akhir karya inovatif ini, penulis memberikan beberapa saran mengenai karya inovatif ini :.
Adanya karya inovatif ini mendorong siswa untuk selalu meningkatkan jiwa kewirausahaannya sehingga kedepannya dapat menemukan inovasi di bidang lain dan dapat menciptakan industri kreatif untuk mengarungi persaingan di abad 21. Adanya karya inovatif ini mendorong guru untuk selalu inovatif khususnya dalam bidang pendidikan agar guru tidak hanya bergantung pada penggunaan perangkat pengajaran yang ada sebelumnya. Adanya karya inovatif ini menjadi acuan penggunaan media jus pisang dalam pembelajaran membatik khususnya di SDN 2 Kedungombo dan sekolah lain pada umumnya. Kajian Motif Batik Druju Dusun Wonorejo Kabupaten Malang, http://jurnal-online.um.ac.id/data/article/articleDF879C783D8AABDDCA9B. Media pembelajaran Pendekatan baru.
Apabila terdapat kendala dapat menghubungi SIAP P/>DNl!J LPMP Admtn setempat atau mengirimkan email ke [email protected]. Kategori SD SORAM dengan judul “Pemanfaatan Media Getah Pisang untuk Meningkatkan Kewirausahaan Batik dan Hasil Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri 2 Kedungombo”.
Desiminasi
PENUTUP
Saran