Pengertian, penciptaan dan perannya dalam perekonomian, (ii) Penyusunan statistik persediaan uang, (iii) instrumen pengendalian moneter dan (iv) neraca pembayaran: konsep, metode dan aplikasi. Neraca pembayaran merupakan salah satu indikator penting dalam perumusan kebijakan ekonomi makro, mengingat keterkaitannya dengan sektor internal yaitu sektor riil, moneter, dan keuangan. Semua ini bertujuan untuk mencapai kesamaan pandangan dalam pengamatan dan analisis neraca pembayaran yang disusun oleh suatu negara.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran penulisan ini, khususnya rekan-rekan dari Pusat Pendidikan dan Kajian Perbankan Sentral dan Departemen Statistik Neraca Pembayaran - Direktorat Perekonomian dan Moneter Bidang Statistik dan rekan-rekan lainnya yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu. Selain itu, transaksi pembayaran bunga atas pinjaman pemerintah yang merupakan bagian dari pengeluaran pemerintah dalam APBN juga dicatat dalam neraca pembayaran dalam neraca pendapatan. Sedangkan aliran modal asing yang menjadi sumber pendanaan kegiatan baik pemerintah (fiskal) maupun perbankan komersial akan masuk dalam perkembangan transaksi modal dan keuangan di neraca pembayaran.
Oleh karena itu, neraca pembayaran merupakan indikator penting dalam perumusan kebijakan ekonomi makro negara. Secara umum, transaksi di sektor eksternal yang dicatat dalam neraca pembayaran mencerminkan semua aliran sumber daya, baik uang maupun barang dan jasa, yang kepemilikannya berpindah dari satu negara ke negara lain. Sebagaimana tercantum dalam Buku Pegangan Neraca Pembayaran (BOP) Edisi Kelima yang diterbitkan pada tahun 1993, neraca pembayaran secara umum didefinisikan sebagai.
Secara umum pengertian penduduk suatu negara dalam TN dapat diartikan sebagai individu atau lembaga yang baik.
Metode Pencatatan dan Penyajian Neraca Pembayaran
Berdasarkan prinsip pencatatan di atas, maka transaksi yang dicatat pada sisi debet dan sisi kredit adalah sebagai berikut. Sesuai dengan sistem yang disetujui, pendaftaran transaksi tersebut di atas harus disertai dengan pendaftaran di sisi kredit. Sesuai dengan sistem yang disetujui, pencatatan transaksi-transaksi tersebut di atas harus disertai dengan pencatatan di sisi debet.
Transaksi yang menyebabkan perubahan aktiva dan kewajiban. Jika pemerintah negara A meminjam $2.000 dari pemerintah negara B, kewajibannya meningkat, selain meningkatkan aset negara A. Perubahan pada sisi aset tidak boleh diikuti dengan perubahan pada sisi kewajiban, tetapi dapat diikuti dengan perubahan pada sisi aset lainnya. Sesuai dengan cara pembukuan neraca pembayaran, kredit perdagangan dicatat per negara A di sisi debit (karena peningkatan kekayaan), sebaliknya, ekspor barang ke B akan dicatat di sisi kredit.
Jika nilai ekspor pada contoh di atas adalah $1.000, pendaftaran PE negara A adalah sebagai berikut. Transaksi yang menimbulkan perubahan hanya pada sisi kewajiban Tindakan ekonomi antara penduduk dan bukan penduduk hanya dapat mempengaruhi sisi kewajiban. Penyajian neraca pembayaran dapat dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu penyajian standar dan penyajian analitik.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan antara metode pencatatan dan penyajian NP dengan neraca perusahaan sebagai berikut. Sebaliknya, transaksi yang melibatkan hipotek dan surat utang jangka panjang lainnya dikelompokkan dalam satu komponen karena kedua jenis instrumen keuangan tersebut memiliki kesamaan. Sebagai contoh, penyajian analitis neraca pembayaran Indonesia sejak Repelita I membagi ekspor dan impor baik barang maupun jasa ke dalam 2 kelompok besar, yaitu kelompok migas dan kelompok nonmigas.
Kredit (+) Debit (-) Transaksi . *) Menjelaskan perubahan cadangan devisa yang dikelola oleh bank sentral negara A, sebagai otoritas moneter. Mengacu pada manual BOP yang menyatakan bahwa perubahan cadangan devisa diperhitungkan untuk pengukuran.
Struktur dan Keseimbangan Neraca Pembayaran
Transaksi modal dan keuangan (capital and financial accounts). 2) Transaksi keuangan tidak termasuk cadangan devisa (financial account) a) Investasi asing langsung b) Investasi dalam surat berharga (investasi portofolio). Secara umum, giro mewakili nilai bersih antara sisi kredit dan debit dari semua transaksi yang tercatat di setiap komponen giro. Beberapa transaksi yang termasuk dalam kelompok jasa antara lain jasa transportasi, pariwisata dan komunikasi.
Selanjutnya, transaksi dalam kelompok transfer mencakup transaksi yang tidak menimbulkan kewajiban untuk melakukan pembayaran (unrequited transfer), seperti hibah yang diterima oleh pemerintah atau swasta. Transaksi Modal dan Finansial (Capital and Financial Account) Secara keseluruhan, neraca modal dan finansial merupakan nilai bersih dari sisi kredit dan debit dari seluruh transaksi yang dicatat dalam setiap komponen transaksi modal dan finansial. Sementara itu, transaksi keuangan yang meliputi transaksi yang menyebabkan bertambahnya atau berkurangnya aset dan/atau kewajiban luar negeri dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu transaksi keuangan selain aset cadangan dan transaksi yang mengakibatkan perubahan cadangan devisa.
Sedangkan transaksi keuangan yang melibatkan cadangan devisa atau aset cadangan merupakan pos-pos yang menampung surplus atau defisit NP. Item ini menunjukkan besarnya perubahan jumlah cadangan devisa yang dikuasai otoritas moneter6 terkait dengan transaksi internasional yang terjadi dalam jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun. Besarnya KPZ yang dimiliki oleh setiap anggota tergantung dari besarnya kuota penyetoran valuta asing.7 KPZ dapat dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari cadangan devisa, mengingat dapat ditarik sewaktu-waktu dalam bentuk fasilitas yang dapat diberikan oleh IMF;
Dengan demikian, SDR memungkinkan besarnya cadangan devisa setiap negara meningkat, sekaligus meningkatkan likuiditas internasional. Komponen yang menimbulkan surplus atau defisit antara lain transaksi yang termasuk dalam neraca berjalan dan transaksi yang termasuk dalam neraca modal dan finansial tidak termasuk cadangan devisa (reserve assets), dan disebut “transaksi otonom”. Sedangkan komponen yang menampung surplus atau defisit keuangan antara lain transaksi yang menyebabkan perubahan cadangan devisa dan disebut “transaksi akomodasi”.
Surplus dalam transaksi otonom muncul ketika sisi kredit dari transaksi yang dicatat lebih besar dari sisi debit; Begitu pula sebaliknya jika terjadi kekurangan. Dalam literatur ekonomi dan keuangan internasional, transaksi otonom diklasifikasikan sebagai transaksi "di atas garis", sedangkan transaksi akomodatif adalah transaksi "di bawah garis". Dalam konsep ini, transaksi yang termasuk dalam autonomous transaction atau transaksi yang menghasilkan surplus atau defisit hanyalah ekspor dan impor barang, sehingga neraca NP diukur dengan besarnya surplus atau defisit kedua transaksi tersebut.
Neraca Pembayaran Indonesia dan Karakteristiknya
Sumber data dalam menyusun neraca pembayaran berasal dari berbagai sumber, baik internal Bank Indonesia maupun dari luar Bank Indonesia. Ekspor dan impor nonmigas berasal dari dokumen ekspor (Surat Keterangan Ekspor Barang) dan impor (Surat Keterangan Impor Barang). Ekspor dan impor migas bersumber dari laporan dan informasi dari instansi terkait, seperti Direktorat Migas dan Pertamina.
Jasa migas bersumber dari laporan dan informasi antara lain dari Kementerian Pertambangan dan Energi, Pertamina dan perusahaan kontraktor migas. Data transaksi modal dan finansial berasal dari Bank Indonesia, Bappenas, Kementerian Keuangan, Badan Koordinasi Penanaman Modal, Pertamina, PT Garuda dan perbankan. Untuk gambaran yang lebih jelas tentang penyajian NPI dalam bentuk standar dan analitik dapat dilihat pada tabel di bawah ini: dalam jutaan USD) NERACA PEMBAYARAN INDONESIA.
Namun jika direvisi lebih lanjut dengan menerbitkan transaksi ekspor impor minyak dan gas bumi (migas), karakteristik neraca perdagangan nonmigas secara umum menunjukkan defisit. 2) Neraca jasa Indonesia selalu menunjukkan lebih banyak pengeluaran daripada pendapatan, sehingga karakteristik neraca jasa selalu menunjukkan defisit. Seperti halnya neraca perdagangan, neraca jasa memiliki ciri yang sama, yaitu umumnya menunjukkan defisit pada neraca jasa nonmigas dan selalu surplus pada neraca jasa migas.
Defisit neraca jasa selalu terkait erat dengan pengeluaran yang relatif besar untuk pembayaran bunga utang dan biaya pengangkutan barang impor. Ditinjau lebih lanjut, karakteristik neraca pembayaran, seperti neraca perdagangan dan neraca jasa, secara umum menunjukkan defisit pada neraca berjalan nonmigas dan menunjukkan surplus pada neraca berjalan migas. Dapat dikatakan bahwa pada periode setelah krisis ekonomi tahun 1997 sampai dengan tahun 2001, karakteristik NPI menunjukkan perubahan sebagai berikut.
Namun, neraca perdagangan di luar migas yang sebelumnya menunjukkan defisit berubah menjadi surplus, sedangkan neraca perdagangan dengan migas tetap menunjukkan surplus. Situasi ini terutama disebabkan oleh menurunnya kegiatan impor nonmigas, yang pada akhirnya menjadi surplus selain neraca berjalan neraca pembayaran secara keseluruhan yang baik. Hal ini terkait dengan penurunan secara umum aliran dana dari luar negeri, baik publik maupun swasta, sementara pembayaran pokok pinjaman tetap tinggi.
Daftar Pustaka