• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga di Pura Luhur Pucak Padang Dawa

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga di Pura Luhur Pucak Padang Dawa"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 7 Issue 1 (2023) Pages 84-92

Purwadita: Jurnal Agama dan Budaya

ISSN: 2621-1017 (Online) 2549-7928 (Print) Journal Homepage: https://jurnal.stahnmpukuturan.ac.id/index.php/Purwadita

Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga di Pura Luhur Pucak Padang Dawa

Kadek Dwi Sentana Putra 1, I Made Sukma Muniksu 2

1 Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Indonesia

2 Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Indonesia

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang terdapat dalam suatu upacara khusunya upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga yang berlokasi di Pura Luhur Pucak Padang Dawa. Masyarakat Bali dalam kehidupannya selalu menyeimbangkan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhan. Pada kesempatan ini peneliti mengkaji nilai-nilai pendidikan agama Hindu pada upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga di Pura Luhur Pucak Padang Dawa. Hal ini juga secara tidak langsung masyarakat dan generasi penerus mempertahankan sekaligus melestarikan tadisi yang diwariskan oleh leluhur. Nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu yang dijkaji merupakan nilai-nilai yang terrdapat dalam upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga di Pura Luhur Pucak Padang, Dawa Desa Bangli Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan antara lain: Nilai Pendidikan Tattwa (filsafat), Nilai Pendidikan Etika, Nilai Pendidikan Upacara (ritual), dan Nilai Pendidikan Estetika.

Kata Kunci: Pendidikan Agama Hindu; Upacara; Ngapon Tapakan Panawa Sanga Abstract

The implementation of this study aims to examine the values of Hindu religious education contained in a ceremony, especially the Ngapon Tapakan Panawa Sanga ceremony located at Pura Luhur Pucak Padang Dawa. The island of Bali, which is an island with a majority Hindu population, has a cultural diversity that reflects Hinduism itself. Balinese people in their lives always balance between humans and nature, humans and humans and humans and God. On this occasion the researcher examined the values of Hindu religious education at the Ngapon Tapakan Panawa Sanga ceremony at Luhur Pucak Padang Dawa Temple, Bangli Village, Baturiti District, Tabanan Regency. This procession was carried out over a long period of time, this can be seen from the hermitage itself. Indirectly, the community and the next generation maintain and preserve traditions passed down from their ancestors. The values of Hindu Religious Education studied are the values contained in the Ngapon Tapakan Panawa Sanga ceremony at Luhur Pucak Padang Temple, Dawa Bangli Village, Baturiti District, Tabanan Regency, including: Values of Tattwa Education (philosophy), Values of Ethical Education, Values of Ceremonial Education (rituals), and the Value of Aesthetic Education.

Keywords: Hindu Religious Education; Ceremony; Ngapon Tapakan Panawa Sanga

Copyright (c) 2023 This is an open access article under the CC–BY-SA license

Corresponding author: I Made Sukma Muniksu Email Address : [email protected]

Received 16 February 2023, Accepted 14 March 2023, Published 30 March 2023 DOI: https://doi.org/10.55115/purwadita.v7i1.2951

Publisher: Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

(2)

PENDAHULUAN

Bali merupakan pulau yang penduduknya mayoritas beragama Hindu. Di pulau ini juga banyak terdapat kebudayaan yang unik. Keanekaragaman budaya ini tidak terlepas dari Agama itu sendiri. Budaya yang menjadi daya tarik pulau Bali seakan-akan melekat pada kehidupan sehari-hari masyarakat Bali yang sekaligus sebagai ciri khas dari masyarakat Hindu di Bali. Masyarakat Hindu di Bali memiliki karisma dan daya tarik yang magis. Hal ini disebabkan hampir setiap hari umatnya mempersembahkan sesaji atau yadnya kepada Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Hal ini secara langsung maupun tidak langsung akan menimbulkan suatu kesan magis yang sangat kental dengan spiritual, karena banyak pura yang tersebar di pulau Bali, baik dipegunungan, pedesaan, perkotaan, pinggir pantai, di tengah danau maupun di tengah hutan yang memberikan ilustrasi semakin kokoh dan kental kesan magis tersebut.

Masyarakat Bali dalam kehidupannya selalu menyeimbangkan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhan. Hal ini dilandasi dengan kesadaran bahwa yang ada di alam semesta ini antara unsur yang satu dengan unsur yang lainnya saling berkaitan dan membentuk suatu sistem, sehingga bisa dikatakan nilai dasar dari kehidupan umat Hindu itu memiliki nilai keseimbangan. Seperti yang dituliskan di atas, bahwa kehidupan masyarakat di Bali tidak lepas dari ajaran agama yang mendasar yang akan membawa dan menjadikan tradisi itu tetap kokoh dan lestari. Di era globalisasi ini dengan berpedoman dan berpatokan pada Tri Kerangaka Dasar sebagai nilai Pendidikan agama Hindu yakni Tattwa (filsafat), Susila (etika), dan Acara (Ritual). Ketiga kerangka dasar agama Hindu ini merupakan tiga hal yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.

Ini terlihat dari kebudayaan, pristiwa ritual atau upacaranya yang dijiwai oleh ketiga unsur tersebut, tetapi generasi muda pada era globalisasi sekarang ini tidak mau menerima begitu saja tetapi harus mengetahui dan mencari arti serta filosofis dari suatu upacara maupun prosesi.

Tiga kerangka dasar agama Hindu ini dapat diibaratkan seperti halnya sebutir telur yang utuh. Kuning telur merupakan perwujudan dari Tattwa (filsafat), putih telur merupakan perwujudan dari Susila (etika) sedangkan bagian yang paling luar yaitu kulit telur merupakan perwujudan dari Acara (ritual). Apabila dari ketiga bagian dari telur ini hilang maka telur ini tidak bisa dikatakan sebagai telur yang utuh, begitu pula halnya dengan Tri Kerangka Dasar agama Hindu ini apabila salah satunya hilang maka pelaksanaan suatsu ritual atau prosesi tidak akan berjalan dengan sempurna. Ketiga kerangka dasar sebagai bagian dari nilai pendidikan agama Hindu inilah yang dijalankan oleh umat Hindu, apabila dilaksanakan dengan benar, mantap dan serasi maka kerukunan akan tercipta pada kehidupan beragama (Surayin, 2002:3-4)

Kehidupan beragama yang tentram akan tercermin apabila ketiga Kerangka Dasar agama ini dijalankan oleh suatu individu, kelompok ataupun masyarakat dalam suatu wilayah yang ada di Bali. Kehidupan umat Hindu kususnya di Bali tidak lepas dengan kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilaksanakan baik itu dalam kurun waktu yang panjang dan dilaksanakan setiap harinya. Kegiatan ini dilaksanakan dengan penuh ketulus iklasan dari umat itu sendiri yang dinamakan dengan yadnya. Yadnya yang terdapat di Bali berbagai macam bentuk dan jenis yang tentunya berbeda antara wilayah yang satu dengan yang lainnya namun pada intinya tetaplah sama. Agama Hindu yang dikenal sebagai agama yang fleksibel tidak mengharuskan umatnya menghaturkan serta mempersembahkan apa yang sudah di patokan. Umat Hindu di Bali menjalakan dan melaksanakan yadnya haruslah di dasarkan atas ketulusikhlasan dan keyakinan. Dengan begitu apa yang di persembahkan dan di haturkan akan bisa diterima olehnya dengan ketulusan juga.

Pelaksanaan yadnya khususnya umat Hindu yang ada di pulau Bali melaksanakan sesuai dengan aturan serta keadaan atau kondisi yang berada di masing-masing wilayah atau Desa Pakraman itu sendiri. Dalam melaksanakan yadnya tentulah harus tahu kepada siapa kita akan mempersembahkannya. Dalam hal ini umat Hindu memiliki bermacam-macam bentuk

(3)

dan simbol yang diyakini oleh umat itu sendiri memiliki kekuatan di luar dari kekuatan manusia itu sendiri. Bermacam-macam bentuk dan simbol ini dijadikan oleh umat Hindu untuk memusatkan konsentrasi atau pikiran agar dapat terpusat saat melakukan atau mempersembahkan suatu yadnya.

Berbagai macam bentuk serta simbol yang diwujudkan dalam bentuk Pratima, Barong atau petapakan ini sangatlah berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Hindu. Pada saat- saat tertentu sesuwunan atau petapakan ini akan di tedunkan (dikeluarkan) karena diyakini dapat memberikan kesejahteraan pada umatnya. Dalam kurun waktu tertentu petapakan atau sesuwunan ini akan direnovasi yang dalam istilah Bali disebut dengan Ngapon atau Ngodak.

Adapun tujuan dilaksanakan upacara Ngapon ini untuk memunculkan kembali taksu yang dimilikinya.

Ngapon merupakan suatu istilah yang digunakan pada saat berlangsungnya upacara proses perbaikan Tapakan atau sesuwunan. Prosesi upacara Ngapon ini biasanya dilakukan di tempat-tempat suci, seperti misalnya di griya, puri atau di pura itu sendiri. Prosesi Ngapon ini dilaksanakan apabila sesuwunan atau petapakan mulai mengalami kerusakan-kerusakan, untuk menjaga tetap suci dan taksunya Tapakan itu maka dilaksanakan upacara ngapon. Pada kesempatan ini peneliti mengkaji nilai-nilai pendidikan agama Hindu pada upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga di Pura Luhur Pucak Padang Dawa, Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Prosesi ini dilaksanakan dalam kurun waktu yang lama, ini dilihat dari petapakan itu sendiri. Petapakan Nawa Sanga yang terdapat di Pura Luhur Pucak Padang Dawa melihat kondisi yang mulai mengalami kerusakan, akhirnya masyarakat yang sekaligus sebagai penyungsung setuju untuk melaksanakan prosesi sakral ngapon. Hal ini juga secara tidak langsung masyarakat dan generasi penerus mempertahankan sekaligus melestarikan tadisi yang diwariskan oleh leluhur.

METODE

Pemilihan metode sangat penting dalam melaksanakan sebuah penelitian. Metode- metode tersebut dapat dipergunakan dalam pengumpulan data dan juga cara pengolahanya, karena metode adalah langkah atau jalan yang digunakan untuk melakukan perencanaan hinggas pada pemecahan suatu persoalannya. Hubungannya dengan upaya ilmiah, maka metode itu menyangkut masalah cara kerja yang berguna untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan (Koentjaraninggrat, 1985 : 16).

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif. Untuk memperoleh data valid dan objektif, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Kepustakaan suatu teknik pengumpulan data dengan cara mengkaji bahan pustaka berupa sumber bahan bacaan, buku refrensi atau hasil penelitian lain yang memiliki kaitan dengan permasalahan yang diangkat, 2) Observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian, 3) wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan antara dua orang atau lebih, bertatap muka, mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan, 4) pengumpulan data dengan dokumentasi yaitu mengumpulkan data-data melalui gambar- gambar yang diambil pada saat proses penelitian baik kejadian yang sudah lampau yang dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, dan karya bentuk.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu yang Tersirat dalam Upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga di Pura Luhur Pucak Padang Dawa

Setiap kegiatan yadnya di Bali, sarat dengan makna-makna simbolis yang terdapat didalamnya dan nilai-nilai yang melingkupi rangkaian upacara tersebut. Nilai Pendidikan Agama Hindu yang dimaksud dalam pembahasan ini yaitu suatu nilai yang bisa dijadikan sebagai dasar pedoman yang menentukan kehidupan manusia dalam interaksinya dengan

(4)

lingkungan sesuai dengan sifatnya, nilai ini hanya dapat diukur menggunakan hati nurani (nilai non material) dan terdapat pula nilai yang berwujud (nilai material) yang tampak pada keindahan Tapakan Penawa Sanga setelah proses perbaikan ini adalah suatu usaha dalam melindungi dan melestarikan warisan leluhur dari arus modernisasi.

Terkait dengan hal tersebut maka terdapat beberapa nilai pendidikan yang akan dibahas antara lain yaitu: (1) Nilai Pendidikan Tattwa, (2) Nilai Pendidikan Etika, (3) Nilai Pendidikan Upacara, (4) Nilai Pendidikan Estetika.

Nilai Pendidikan Tattwa (Filsafat)

Pendidikan tattwa merupakan suatu pendidikan yang mempelajari tentang aspek atau kebenaran sesuatu. Dalam ajaran Agama Hindu mengajarkan tentang 5 (lima) kepercayaan atau keyakinan yang disebut dengan Panca Sradha. Panca artinya lima, dan Sradha artinya kepercayaan (Maswinara, 2002: 4). Jadi Panca Sradha artinya lima kepercayaan yang dimilki oleh ajaran Agama Hindu. Adapun bagian dari Panca Sradha yaitu (1) percaya dengan adanya Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa. (2) percaya dengan adanya Atman, Atman adalah percikan kecil dari dari Parama Atma yang menjiwai setiap makhluk hidup. Umat Hindu yakin jiwatman inilah yang menggerakan setiap tindakannya.Oleh karena itu, ketika jiwatman melepaskan dari Stula Sarira manusia, Atman ini ini dipuja sebagai bagian dari Umat Hindu yang berfungsi mengantarkan dirinya dengan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa. (3) percaya dengan adanya hukum Karma Phala yaitu setiap umat Hindu yakin bahwa setiap perbuatan yang baik akan membawa hasil yang baik dan perbuatan yang buruk akan membawa hasil yang buruk.

Kesadaran dengan adanya hasil setiap perbuatan, menyadarkan umat Hindu untuk selalu berpikir, berkata dan berbuat yang baik sesuai dengan ajaran Agama Hindu. (4) percaya dengan adanya Punarbawa atau Samsara yaitu kelahiran berulang-ulang ke dunia dengan membawa akibat suka dan duka. Punarbawa terjadi karena Jiwatman masih dipengaruhi oleh Karma Wasana dan kematian akan diikuti oleh kelahiran. (5) percaya dengan adanya Moksa.

Moksa merupakan tujuan tertinggi dalam ajaran Agama Hindu, Moksa juga berarti kebebasan dari ikatan duniawi, bebas dari Karma Phala dan bebas dari Samsara.

I Ketut Suargita (29 Mei 2022) ketika diwawancarai menyatakan bahwa kelima keyakinan tersebut menuntun umat Hindu dalam bertingkah laku agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai Agama. Karena kepercayaan ini yang menjadi dasar dalam menghubungkan diri kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang dalam pelaksanaannya dapat melalui empat jalan yang disebut dengan Catur Marga (1) Bhakti Marga adalah melalui jalan kebhaktian yang tekun untuk memuja Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa. (2) Karma Marga adalah melalui berkarya dengan ketulusan hati tanpa terikat dengan hasil yang dikerjakan. (3) Jnana Marga adalah melalui jalan pengetahuan kerohanian. (4) Yoga Marga adalah melalui jalan pengendalian diri dan melaksanakan Astangga Yoga.

Nilai Tattwa (Filsafat) yang terdapat dalam upacara Ngapon Tapakan Penawa Sanga di Pura Luhur Pucak Padang Dawa Desa Bangli Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan adalah merupakan wujud terima kasih kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena masyarakat Desa Bangli sebagai penyungsung Tapakan Penawa Sanga meyakini bahwa apa yang dirasakan dan dimiliki, semuanya merupakan anugerah dari Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa baik itu kesejahteraan dan kemakmuran yang dirasakan oleh masyarakat Desa Bangli. (Wawancara I Ketut Suargita 29 Mei 2022).

Sesuai dengan hasil observasi, wawancara, dan sumber lainnya maka dapat disimpulkan pendidikan tattwa merupakan suatu pendidikan yang mempelajari tentang aspek atau kebenaran sesuatu dan percaya dengan adanya Panca Sradha, disamping itu umat Hindu agar selalu dalam bertingkah laku tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran.

Karena kepercayaan ini yang menjadi dasar dalam menghubungkan diri dengan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dalam pelaksanaannya dapat melalui empat jalan yang disebut

(5)

Catur Marga. Tujuannya agar selalu mendapat anugerah dari Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa baik itu kesejahteraan maupun kemakmuran dalam kehidupan beragama.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga di Pura Luhur Pucak Pdang Dawa Desa Bangli Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan memiliki nilai Pendidikan Tattwa (Filsafat). Nilai Pendidikan Tattwa sebagai upaya untuk mendidik masyarakat Desa Bangli untuk mendekatkan diri dengan Tuhan agar diberikan anugerah atau keselamatan dan kerahayuan serta terhindar dari mala atau cuntaka.

Nilai Pendidikan Etika (Susila)

Etika dan susila merupakan tingkah laku yang baik atau menunjukan kebaikan.

Manusia merupakan makhluk yang tidak bisa hidup sendiri selalu satu dengan yang lainnya saling bergantungan. Dalam hidup bersama ini diperlukan suatu peraturan-peraturan untuk mengatur kehidupan ini. Peraturan atau pedoman dalam bertingkah laku ini disebut dengan Tata Susila (Subagiasta, 2007: 5).

Ajaran susila tidak hanya mencangkup ranah individual semata namun juga mencangkup ranah sosial yang dalam hal ini adalah lingkungan bermasyarakat dan juga bernegara. Setiap orang diharuskan berperilaku susila yang membawa keharmonisan dan kebahagiaan terhadap dirinya sendiri dan juga terhadap masyarakat, sesuai dengan koridor agama, ajaran susila merupakan peraturan-peraturan berperilaku yang sesuai dengan kaidah agama, peraturan ini timbul karena manusia hidup bersama-sama dengan manusia lain, dengan mahkluk lain dan dengan alam sekitarnya. Seperti apa yang disebutkan dalam Kitab Sarasamusccaya 160 sebagai berikut: silam pradhānam puruse tadyasyeha prānasyati, na tasya jivityenārtho duhsilam kinprayojanam. Terjemahan: Susila itu adalah yang utama (dasar mutlak) pada titisan sebagai manusia, jika ada prilaku (tindakan) titisan sebagai manusia itu tidak susila, apakah maksud orang itu dengan hidupnya, dengan kekuasaan, dengan kebijaksanaan, sebab sia-sia itu semuanya (hidup, kekuasaan dan kebijaksanaan) jika tidak ada penerapan kesusilaan pada perbuatan (praktek susila)” (Kadjeng, dkk, 2005: 128).

Berdasarkan sloka di atas, menuntun umat agar memiliki kesadaran akan pentingnya ajaran tata susila yang pada dasarnya bertujuan membina hubungan yang selaras dan kerukunan antar seserang (jiwatman) dan mahkluk hidup lainnya dengan menerapkan tingkah laku yang baik, tata kesopanan dan berbudi pekerti mulia. Dalam kehidupan bersama orang harus mengatur dirinya dengan lingkungan, tunduk kepada norma-norma yang berlaku. Tindakan etika ini didasari atas pengetahuan yang mendalam tentang ajaran Tri Kaya Parisudha yang terdiri dari Manacika, Wacika, dan Kayika, ajaran Tri Guna yang terdiri dari Sattwan, Rajas, dan Tamas, serta ajaran Catur Paramitha yang terdiri dari Maitri, Karuna, Mudita, dan Upeksa. Disamping itu juga harus melaksnakan larangan-larangan seperti Sad Ripu, Sad Atatayi, dan Sapta Timira yang merupakan enam musuh yang terdapat dalam diri manusia dan Sapta Timira merupakan tujuh macam penyebab kegelapan. Ajaran etika yang paling tampak adalah ajaran Tat TwamAsiyang berarti dia adalah aku, dan juga pada dasarnya berarti aku adalah engkau. Hal ini mengandung arti bahwa kita wajib dan harus mengasihi orang lain sebagaimana menyayangi diri kita sendiri (Suhardana, 2010: 1).

Dalam filsafat Hindu Tat Twam Asi berarti ajaran kesusialaan tanpa batas, yang identik dengan ajaran prikemanusiaan dan sila Pancasila, dan inilah yang merupakan dasar utama untuk mewujudkan masyarakat yang damai.Selain itu ajaran Tri Kaya Parisudha juga merupakan dasar perilaku.Adapun bagian dari Tri Kaya Parisudha adalah (1) Manacika Parisudha yaitu berpikir yang baik. (2) Wacika Parisudha yaitu berkata yang baik. (3) Kayika Parisudha yaitu bertingkah laku yang baik.

Berdasarkan hasil observasi Ngapon Tapakan Penawa Sanga dilaksanakan sesuai dengan ajaran Tri Kaya Parisudha agar dalam pelaksanaannya upacara tidak menyalahi aturan atau norma yang berlaku dalam pelaksanaan yadnya dalam ajaran Agama Hindu.

1. Manacika Parisudha yang tercermin dalam pelaksanaan upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga yaitu mulai dari perencanaan sampai pada penyelenggaraan betul-betul

(6)

dilandasi oleh niat dan pikiran yang suci dan tulus ikhlas, sehingga jalannya upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga menjadi aman dan tentram.

2. Wacika Parisudha yang tercermin dalam pelaksanaan upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga, mulai dari peparuman (rapat) dengan seluruh elemen yang bersangkutan dilandasi dengan kata-kata yang hormat dan sopan, dan juga Pemangku sebagai peganteb banten. Dalam pelaksanaannya masyarakat tidak diperbolehkan berkata kasar yang dapat menyinggung perasaan orang lain, yang dapat mengganggu kemantapan seseorang dalam mengikuti tahapan-tahapan upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga.

Sehingga diharapkan dalam pelaksanaan upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga tidak ada warga masyarakat yang berkata-kata kotor agar tidak mengganggu proses pelaksanaan dan apa yang menjadi harapan dari masyarakat tercapai dengan baik.

3. Kayika Parisudha yang tercermin mulai dari persiapan pengumpulan bahan-bahan upacara yang diperoleh dari usaha halal, suci, dan bersih. Selain itu dari segi tindakan dalam penyiapan perlengkapan sampai pada perbaikan (ngapon) Tapakan Panawa Sanga juga dilandasi rasa tulus ikhlas. Dalam pelaksanaannya semata-mata rasa pengabdian dan Bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sehingga maksud lain tujuan pelaksanaan upacara Ngapon Tapakan Penawa Sanga ini dapat tercapai dengan baik yaitu mendapat anugerah keselamatan, kerahayuan, dan kesejahteraan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Ketiga hal tersebut merupakan dasar dalam bertingkah laku karena dari pikiran yang suci dan baik akan muncul kata-kata yang baik serta prilaku yang baik pula. Ajaran Tri Kaya Parisudha merupakan hal yang sangat penting karena dengan didasari dengan pikiran yang suci, baik dan tulus ikhlas maka upacara akan terlaksana dengan baik. Berkaitan dengan upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga di Pura Luhur Pucak Padang Dawa Desa Bangli Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan, yang bertujuan untuk penyatuan umat dan untuk mencapai keharmonisan hidup maka harus didasari pikiran yang suci dan beretika yang baik, karena melaksanakan suatu upacara tanpa dilandasi dengan pikiran pikiran yang suci dan etika yang baik maka upacar tersebut tidak ada artinya.

Nilai etika (susila) yang terdapat dalam upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga di Pura Luhur Pucak Padang Dawa Desa Bangli Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan adalah terwujud dalam sikap dan tingkah laku mulai dari perencanaan, persiapan, sampai pada pelaksanaan dan pembuatan sarana dan perasarana yang dilakukan dengan cara gotong royong. Krama begitu semangat pada saat melaksanakan Ngapon Tapakan Panawa Sanga dan didasari dengan hati yang tulus suatu pekerjaan pasti akan terselesaikan lebih cepat sesuai dengan harapan. Krama juga memakai pakaian adat yang rapi pada saat ngayah dan sembahyang. Hal ini menjadikan krama merasa lebih tenang dan nyaman baik itu dalam persiapan sarana dan prasarana sampai pada proses perbaikan Tapakan Panawa Sanga dan juga rasa kebersamaan yang dimiliki jauh beda, karena cara bicaranya pun lebih sopan dari hari- hari biasa (Wawancara I Ketut Suargita 29 Mei 2022).

Dari hasil observasi, wawancara dan sumber lain di atas dapat disimpulkan bahwa etika (susila) adalah suatu tindakan atau perilaku baik dalam wujud ucapan atau perkataan dan perbuatan hal ini sangat penting dalam pergaulan di keluarga maupun di masyarakat karena perkataan atau ucapan mencerminkan kepribadian seseorang. Maka hendaknya diperlukan pengendalian diri yang tidak saja dengan kata-kata tetapi juga dalam berpikir serta berbuat sehingga semua dapat terhindar dari hal-hal yang kurang baik. Dengan mengamalkan ajaran kebaikan melalui konsep yang telah ada, yang sesuai dengan ajaran Tri Kaya Parisudha dalam kehidupan sehari-hari maka sudah jelas umat telah mengamalkan ajaran kebaikan sesuai dengan konsep ajaran etika (susila) yang menjadi acuan hidup umat Agama Hindu.

Dengan pelaksanaan upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga di Pura Luhur Pucak Padang Dawa Desa Bangli Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan yang penuh dengan rasa tulus ikhlas, disiplin, dan sikap arif baik dalam tahapan-tahapan upacara maupun dalam proses perbaikan bisa terselesaikan dengan rasa kebersamaan oleh krama tersebut.

(7)

Nilai Pendidikan Upacara (Ritual)

Nilai Upacara (Ritual) yang terdapat dalam upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga di Pura Luhur Pucak Padang Dawa Desa Bangli Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan adalah diperlukannya sarana upakara yang disebut dengan Bebantenan. Menurut Wiana (2009: 5), banten yaitu salah satu upakara yang digunakan dalam upacara agama Hindu dalam bentuk visualisasi seni budaya agama. Banten juga mengandung pengertian sebagai uangkapan kemantapan rasa dan keyakinan serta sebagai jembatan umat untuk menghubungkan diri dengan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta semua manifestasinya.

Wawancara dengan I Wayan Jamiana (29 Mei 2022) menyatakan bahwa, bebantenan umat Hindu dapat menumbuhkan rasa keyakinan dan kepercayaan sucinya untuk mengendalikan Bhuta Kala yang ada pada diri manusia agar tidak mengganggu dalam berbagi kegiatan. Begitu pula halnya, bebantenan sebagai salah satu sarana pendukung pada saat dilaksanakannya upacara Ngapon Tapakan Penawa Sanga dipercaya dan diyakini sebagai salah satu sarana penghubung umat (masyarakat) dengan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga dapat berjalan dengan baik tanpa adanya hambatan.

Berdasarkan observasi, dan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa upacara merupakan pelaksanaan dari suatu yadnya atau korban suci, dengan sarana yang digunakan adalah banten sebagai alat menolong untuk memudahkan manusia menghubungkan diri dengan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam bentuk nyata. Sarana upakara yang digunakan pada saat upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga mulai dari upacara nangiyang sampai pada upacara akir yakni upacara pasupati memiliki banyak makna yang berfungsi sebagai wujud terima kasih juga berfungsi sebagai penetralisir dan bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam dan keharmoisan hidup dalam bermasyarakat.

Nilai Pendidikan Estetika

Setiap manusia mempunyai rasa keindahan terhadap sesuatu yang dipandangnya.

Alam dengan aneka ragam isinya mempunyai keindahan dan tergantung pada cara manusia itu sendiri dan begitu pula budaya yang merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia memiliki nilai-nilai keindahan dan estetika.

Seni erat kaitannya dengan kegiatan menciptakan atau mewujudkan suatu berupa ide, gagasan, pengalaman, pengetahuan yang perwujudannya harus memenuhi nilai estetika.Estetik atau estetika sering dihubungkan dnegan cabang ilmu “filsafat” tentang keindahan atau teori keindahan (Teory of beauty) yang menerangkan serta membahas tentang keindahan tersebut.Problom in the Filosophy of chritism (masalah dalam filsafat estetika) menyebutkan sesuatu yang menyenangkan tersebut sebagai suatu ciri-ciri estetika yaitu: (a) Kesatuan (unity) merupakan suatu karya seni dikatakan memiliki nilai estetis jika merupakan suatu kesatuan dan perpaduan dari unsur-unsur pembentuknya secara sempurna. (b) Kerumitan (compelexity) merupakan suatu kerya seni dikatakan memiliki nilai estetis atau unsur-unsur keindahan jika memiliki unsur-unsur pertentangan, saling berlawanan dan saling menyeimbang. (c) Kesungguhan (intensity) merupakan karya seni dikatakan memiliki unsur estetis jika karya yang ditampilkan tidak kosong atau terlalu menonjol, seperti lembut, kasar, gembira, duka, seram, atau ceria sesuai dengan karakter seni yang dibuat dan diharapkan para penciptanya (Parmajaya, 2007: 4).

Wawancara dengan I Gde Suryawan (29 Mei 2022) menyatakan, upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga di Pura Luhur Pucak Padang Dawa Desa Bangli Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan sebagai prosesi keagamaan merupakan suatu hal yang sangat indah. Hal ini nampak pada saat proses ngapon (perbaikan) Tapakan Panawa Sanga yang dibuat dan dikerjakan oleh Pangayah dan masyarakat yang memiliki rasa esthetik yang tinggi dan luhur.

Proses ini membutuhkan nilai seni yang luar biasa terlihat dari setiap tahapan yang dilaksanakan seperti misalnya tapel (parerai) yang dicat kembali dan hiasan Tapakan yang terbuat dari belulang kulit sapi hingga menjadi sebuah bentuk yang indah seperti terlihat pada gambar 1.

(8)

Gambar 1. Nilai Estetika pada parerai dan badong Tapakan Panawa Sanga

Selain nilai seni yang dituangkan dalam proses perbaikan Tapakan Panawa Sanga, hal yang tidak lepas dari nilai seni dan luhur yang begitu tinggi adalah sarana penunjang dalam upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga berupa banten. Banten yang dikerjakan oleh masyarakat memiliki wujud karya yang bermacam-macam itu merupakan keterampilan yang dipadu oleh daya cipta, rasa, dan karsa yang dijiwai oleh Tattwa Agama Hindu. Persembahan berupa banten dalam sebuah pelaksanaan yadnya merupakan sebuah hasil karya seni.

Berdasarkan hasil observasi, wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa Nilai Pendidikan Estetika yang terdapat dalam upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga yaitu mendidik masyarakat agar terampil dalam menyiapkan dan melaksanakan upacara yadnya yang dipadu oleh cipta, rasa, dan karsa sehingga menghasilkan karya seni yang indah dan luhur.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian mengenai nilai-nilai pendidikan agama Hindu dalam upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga di Pura Luhur Pucak Padang Dawa, Desa Bangli Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan, maka dapat disimpulkan pelaksanaan upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga di Pura Luhur Pucak Padang Dawa, Desa Bangli Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan dilaksanakan di utama mandala Pura Luhur Pucak Padang Dawa yang melibatkan cakorda ubud, pangelingsir pura, panyarikan pura, pamangku pura dan oleh seluruh komponen masyarakat Desa Bangli.

Berorientasi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu yang tersirat dalam upacara Ngapon Tapakan Panawa Sanga di Pura Luhur Pucak Padang, Dawa Desa Bangli Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan antara lain: Nilai

(9)

Pendidikan Tattwa (filsafat), Nilai Pendidikan Etika, Nilai Pendidikan Upacara (ritual), dan Nilai Pendidikan Estetika.

DAFTAR PUSTAKA

Kadjeg, I Nyoman, dkk. 2005. Sarasamusccaya. Surabaya: Paramita.

Maswinara, Wayan. 2002.Konsep Panca Sraddha. Surabaya: Paramita.

Parmajaya, I Putu Gede. 2007. Seni Sakral. Denpasar: Institut Hindu Negeri Denpasar.

Subagiasta, I Ketut.2007. Etika Pendidikan Agama Hindu. Surabaya: Paramita

Suhardana, Komang. 2010. Tat Twam Asi Ajaran Kesamaan Naetabat Manusia. Surabaya:

Paramita.

Surayin, Ida Ayu Putu. 2002. Dewa Yadnya. Surabaya: Paramita.

Koentjaraninggrat. 1981. Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta: Gramedia Jakarta.

Koentjaraninggrat.1997.Kebudayaan Mentalitas Pembangunan, Jakarta: Gramesia.

Koentjaraninggrat.1980. Manusia dan Kebudayaan. Jakarta: Gramesia.

Wiana, I Ketut. 2018. Suksmaning Banten. Surabaya: Paramita.

Referensi

Dokumen terkait

It is necessary for Indonesia local airlines to assess the current level of service quality and the importance of each aspect of service quality to determine

Karena pengejawantahan diri manusia adalah hasil rentangan antara sumber daya insani dan aktualisasi itu (diri). dalam PMA Nomor 16 tahun 2010 tentang pengelolaan