eL-Hekam: Jurnal Studi Keislaman
https://ojs.iainbatusangkar.ac.id/ojs/index.php/elhekam/index P - ISSN: 2528-2506
E - ISSN: 2549-8940)
NILAI UNIVERSAL ISLAM MUHAMMADIYAH DAN NU: POTRET ISLAM MODERAT INDONESIA
M. Khamim
Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Korespondensi: Jl. Kertamukti No. 5 Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten e-mail: [email protected]
Abstrak: Belakangan ini, kekerasan dan radikalisme atas nama agama kerap terjadi. Konflik di Timur Tengah yang tak kunjung usai, dan perdebatan furu'iyyah yang juga terjadi di Indonesia menarik perhatian berbagai pihak untuk mendiskusikannya. Kondisi keagamaan di Indonesia yang sangat beragam membutuhkan visi dan solusi yang dapat menciptakan kerukunan dan kedamaian dalam menjalankan kehidupan beragama, yaitu dengan mengutamakan moderasi beragama, menghargai keragaman penafsiran, dan tidak terjebak pada ekstremisme, intoleransi, dan tindakan kekerasan. Mengembangkan pemahaman
“Islam moderat” dalam konteks Indonesia dinilai penting sebagai upaya menghadirkan Islam universal. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif, tulisan ini membahas tentang universalitas Islam Muhammadiyah dan NU yang merupakan potret Islam moderat di Indonesia. Artikel ini menyimpulkan bahwa bahwa Muhammadiyah dan NU adalah dua organisasi sosial keagamaan yang berperan aktif dalam memelihara dan memperkuat jaringan dan lembaga yang mendukung moderasi Islam, bahkan menjadikan Indonesia sebagai pilot project toleransi terhadap dunia luar.
Kata Kunci: Moderasi Islam, Muhammadiyah, NU, Universalitas Islam Abstract
Lately, violence and radicalism in the name of religion have often occurred. The conflict in the Middle East that never ended, and the furu'iyyah debate that also occurred in Indonesia attracted the attention of various parties to discuss it. The very diverse religious situation in Indonesia requires visions and solutions that can create harmony and peace in carrying out religious life, namely by prioritizing religious moderation, respecting diversity of interpretations, and not being trapped in extremism, intolerance, and acts of violence.
Developing an understanding of "moderate Islam" for the Indonesian context is considered important as an effort to present universal Islam. With a qualitative descriptive approach, this paper discusses the universality of Muhammadiyah and NU Islam, which are the portraits of moderate Islam in Indonesia. In the conclusion of the paper, it is found that Muhammadiyah and NU are two socio-religious organizations that play an active role in maintaining and strengthening networks and institutions that support Islamic moderation, even making Indonesia a pilot project of tolerance for the outside world.
Keywords: Islamic universality, Islamic moderation, Muhammadiyah, NU PENDAHULUAN
Akhir-akhir ini, kekerasan dan radikalisme dengan mengatasnamakan agama kerap kali
terjadi. Konflik di Timur Tengah yang tak kunjung usai, dan perdebatan furu’iyyah yang juga terjadi di Indonesia menarik perhatian
berbagai pihak untuk mendiskusikannya.
Pengaruh konflik Timur Tengah yang berpengaruh dalam dunia Islam, membuka peluang khazanah baru dalam pemikiran Islam dengan hadirnya corak pemikiran Islam baru yang menjunjung tinggi nilai toleransi terhadap perbedaan. Di dalam diskursus pemikiran Islam di Indonesia, corak itu disebut dengan istilah Islam Moderat.
Islam moderat atau lebih khusus moderasi telah lama menjadi aspek yang menonjol dalam sejarah peradaban dan tradisi semua agama di dunia. Pada masing-masing agama terdapat ajaran kesimbangan berperilaku dan bersikap;
jalan tengah beragama di antara dua kutub ekstrim serta tidak berlebih-lebihan. Kiranya hal itu menjadi cermin beragama yang moderat, termasuk dalam agama Islam.
Islam sebagai agama universal yang spirit utama diturunkannya adalah sebagai rahmatan lil ‘alamin pada berbagai aspeknya telah menekankan pentingnya sikap keseimbangan bagi pemeluknya. Dalam tataran konsep
“Islam moderat”, pada dasarnya merupakan tawaran dalam memahami Islam. Bersikap moderat dalam ber-Islam bukanlah suatu hal yang menyimpang dalam ajaran Islam, karena hal ini dapat ditemukan rujukannya, baik dalam al-Qur’an, al-Hadits, maupun perilaku manusia dalam sejarah. Dalam konteks Indonesia, mengembangkan pemahaman
“Islam moderat” dianggap begitu penting sebagai keniscayaan adanya beragam etnis budaya termasuk agama di dalamnya.
Konsep “Islam moderat” mengajak, bagaimana Islam dipahami secara kontekstual, memahami bahwa perbedaan dan keragaman adalah sunnatullah, tidak dapat ditolak keberadaannya. Jika hal ini diamalkan, dapat diyakini Islam akan menjadi agama rahmatan lil
‘alamin (Minftahuddin, 2015). Melihat latar belakang tersebut, tulisan ini bermaksud mengupas konsep dan gagasan Islam moderat yang diasumsikan sebagai wajah Islam universal, serta model Islam moderat yang ada di Indonesia.
METODE
Artikel ini berupaya mengkaji bagaimana nilai universal Islam pada organisasi Muhammadiyah dan NU sebagai potret Islam
moderat di Indonesia. Jenis penelitian artikel ini adalah penelitian kualitatif deskriptif.
Menurut Hidayat Syah, penelitian deskriptif adalah metode penelitian yang digunakan untuk menemukan pengetahuan yang seluas- luasnya terhadap objek penelitian pada suatu masa tertentu. Sedangkan menurut Punaji Setyosari, penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan suatu keadaan, peristiwa, objek apakah orang, atau segala sesuatu yang terkait dengan variabel-variabel yang bisa dijelaskan baik dengan angka-angka maupun kata-kata. Hal senada juga dikemukakan oleh Best bahwa penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya (Gultom et al., 2022;
Hendra et al., 2022; Sanusi et al., 2022).
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah library research (studi kepustakaan) dengan teknik note taking. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif analitik.
HASIL DAN PEMBAHASAN Islam Moderat: Konsep dan Gagasan
Dalam Al Qur’an, digambarkan pribadi seorang muslim sebagai ummatan wasathan, suatu umat yang menjadi pengimbang dan pengontrol. Hal tersebut tertera dalam Qs. Al Baqarah ayat 143: “Demikianlah, Kami jadikan kamu suatu umat yang berimbang supaya kamu menjadi saksi atas seganap bangsa, Rasul pun menjadi saksi atas kamu sendiri,”. Bagi Abdullah Yusuf Ali, penerjemah Al Quran dalam Bahasa Inggris yang paling terkenal dan dihormati, menyatakan bahwa makna wasath secara harfiah adalah perantaraan, dan makna syuhada’
(saksi) adalah penengah, yang dapat mengemukakan pendapat secara jernih dan terang kepada semua pihak, orang yang adil.
Di sinilah posisi umat Islam, posisi Rasul, dan ulama yaitu sebagai pengimbang (Najib, 2001).
Ummatan wasathan sebagaimana disebutkan dalam Qs. Al-Baqarah ayat 143 di atas, secara jelas merujuk pada identitas Muslim moderat, yang berada di tengah, tidak ekstrim ke kutub mana pun, dan berpihak pada keadilan, keseimbangan, dan kebenaran.
Menurut Khaled Abou Fadhl1, Rasulullah pun jika dihadapkan antara dua pilihan yang ekstrim, juga memilih sikap moderat dan jalan tengah.“Khairul umur ausathuha,” adalah sabda populer Nabi yang mencerminkan sebaik-baik urusan adalah berada pada jalan tengah dan moderasi. Inilah aspek normatif Islam moderat dan ajakan moral untuk menjadi Muslim moderat (GEOVANIE, 2013).
Sebagaimana disebutkan dalam Qs. Al- Baqarah ayat 143 di atas, kata moderat dalam bahasa Arab dikenal dengan al-washatiyah.
Dalam ayat tersebut, kata al-Wasath bermakna terbaik dan paling sempurna (Bakry et al., 2018). Orang yang menerapkan prinsip wasathiyah bisa disebut wasith. Dalam bahasa Arab pula, kata wasathiyah diartikan sebagai
“pilihan terbaik”. Apa pun kata yang dipakai, semuanya menyiratkan satu makna yang sama, yakni adil, yang dalam konteks ini berarti memilih posisi jalan tengah di antara berbagai pilihan ekstrem. Kata wasith bahkan sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata 'wasit' yang memiliki tiga pengertian, yaitu: 1) penengah, perantara (misalnya dalam perdagangan, bisnis); 2) pelerai (pemisah, pendamai) antara yang berselisih; dan 3) pemimpin di pertandingan.
Menurut para pakar bahasa Arab, kata wasath itu juga memiliki arti “segala yang baik sesuai dengan objeknya”. Misalnya, kata
“dermawan”, yang berarti sikap di antara kikir dan boros, atau kata “pemberani”, yang berarti sikap di antara penakut (al-jubn) dan nekad (tahawur), dan masih banyak lagi contoh lainnya dalam bahasa Arab. Adapun lawan kata moderasi adalah berlebihan, atau tatharruf
1 Khaled Abou el-Fadl adalah seorang professor hukum Islam di Fakultas Hukum UCLA, Amerika Serikat.
Lulus dari Yale dan Princeton, sebelumnya menggeluti studi keislaman di Kuwait dan Mesir. Ia dilahirkan di Kuwait pada tahun 1963, tumbuh berkembang hingga menjadi remaja di Kuwait dan Mesir. Ayahnya Medhat Abou el-Fadl, adalah seorang ahli hukum Islam dan menjadi guru pertamanya untuk melawan segala bentuk penindasan. Khaled bekerja di UCLA School of Law hingga sekarang. Dia mengajar tentang HAM, Hukum Imigrasi dan Hukum Internasional. Dia juga mendedikasikan hari-harinya untuk memperjuangkan nilai-nilai pluralisme, egalitarianisme, demokrasi, kesetaraan gender dan keadilan sosial (Mu’ammar (et.al), 2012).
dalam bahasa Arab, yang mengandung makna extreme, radical, dan excessive dalam bahasa Inggris. Kata extreme juga bisa berarti
“berbuat keterlaluan, pergi dari ujung ke ujung, berbalik memutar, mengambil tindakan/jalan yang sebaliknya”. Dalam KBBI, kata ekstrem didefinisikan sebagai “paling ujung, paling tinggi, dan paling keras”.
Dalam bahasa Arab, setidaknya ada dua kata yang maknanya sama dengan kata extreme, yaitu al-guluw, dan tasyaddud. Meski kata tasyaddud secara harfiyah tidak di sebut dalam Al-Qur’an, namun turunannya dapat ditemukan dalam bentuk kata lain, misalnya kata syadid, syidad, dan asyadd. Ketiga kata ini memang sebatas menunjuk kepada kata dasarnya saja, yang berarti keras dan tegas, tidak ada satu pun dari ketiganya yang dapat dipersepsikan sebagai terjemahan dari extreme atau tasyaddud. Dalam konteks beragama, pengertian “berlebihan” ini dapat diterapkan untuk merujuk pada orang yang bersikap ekstrem, serta melebihi batas dan ketentuan syariat agama.
Kalau dianalogikan, moderasi adalah ibarat gerak dari pinggir yang selalu cenderung menuju pusat atau sumbu (centripetal), sedangkan ekstremisme adalah gerak seba- liknya menjauhi pusat atau sumbu, menuju sisi terluar dan ekstrem (centrifugal). Ibarat bandul jam, ada gerak yang dinamis, tidak berhenti di satu sisi luar secara ekstrem, melainkan bergerak menuju ke tengah-tengah (Amrina et al., 2021, 2022; Mudinillah, 2019).
Secara bahasa, kata moderat berasal dari bahasa Inggris moderate yang berarti mengambil sikap tengah: Tidak berlebih- lebihan pada satu posisi tertentu, ia berada pada titik sikap yang tegak lurus dengan kebenaran (Echols, 2003). Choir et.al, (2009) menyebutkan bahwa kata “moderat” dalam kamus Merriam-Webster Dictionary (kamus digital), salah satu pengertiannya adalah
“menjauhi perilaku dan ungkapan yang ekstrem” [avoiding extremes of behaviour and expresion]. Maka dalam kaitannya dengan itu, seorang yang moderat adalah seorang yang menjauhi perilaku-perilaku dan ungkapan- ungkapan yang ekstrem. Sementara itu,
“muslim moderat” didefinisikan oleh Khaleed Abou Fadhl sebagai:
Orang-orang yang yakin pada Islam sebagai keyakinan yang benar, yang mengamalkan dan mengimani lima rukun Islam, menerima warisan tradisi Islam, namun sekaligus memodifikasi aspek-aspek tertentu darinya demi mewujudkan tujuan-tujuan moral utama dari keyakinan itu di era modern. Mereka meyakini Islam, menghormati kewajiban- kewajiban kepada Tuhan, dan meyakini bahwa Islam sangat pas untuk setiap saat dan zaman. Mereka tidak memperlakukan agama mereka laksana monumen yang beku, tetapi memperlakukannya dalam kerangka iman yang dinamis dan aktif.
Konsekuensinya, Muslim moderat menghargai pencapaian-pencapaian sesama Muslim di masa silam, namun mereka hidup di zaman sekarang.
Dalam sikap keberagamaan, kelompok Islam moderat terlihat bercorak inklusif- Islamsentris, artinya mereka berpendapat bahwa orang-orang beragama lain juga bisa selamat dan ajaran mereka juga mengandung kebenaran (Islam sentris). Menurut elit agama moderat, bahwa semua agama diberikan kepada manusia supaya mereka dapat menjalani hidup secara lebih baik dalam nuansa kebesaran Tuhan semesta alam dan melakukan semua ajaran atau pesan yang telah diberikan Tuhan. Dari pandangan ini, agama juga berfungsi untuk menciptakan situasi harmoni dan saling menghormati untuk mengendalikan konflik yang mungkin timbul.
Semua pihak harus sama-sama menyadari akan pentingnya persatuan dan kesatuan umat, melalui pemahaman agama masing-masing secara benar dan tepat. Perlu ada moderasi dalam beragama, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw (Zainuddin, 2013).
Ahmad Satori (Jamilah, 2021) menyebutkan ciri mendasar Islam moderat.
Beberapa ciri mendasar dari Islam moderat yang menjadi landasan pengambilan sikap mereka dalam kehidupan, yaitu:
1. Pemikiran Islam moderat tidak menjadikan akal sebagai hakim sebagai pengambil keputusan akhir jika apa yang menjadi keputusan itu berseberangan
dengan nash dan pada saat yang sama dia tidak menafikan akal untuk bisa memahami nash.
2. Pemikiran Islam moderat memiliki sikap luwes dalam beragama. Tidak keras dan tidak kaku dalam sesuatu yang bersifat juz’i namun pada saat yang sama tidak menggampangkan sesuatu yang bersifat ushul (fundamental) sehingga dilanggar rambu-rambunya.
3. Pemikiran Islam moderat tidak akan pernah mengkuduskan turats (khazanah pemikiran lama) jika sudah jelas-jelas ada kekurangannya namun pada saat yang sama tidak pernah meremehkannya jika di dalamnya ada keindahan-keindahan hidayah.
4. Pemikiran Islam moderat merupakan pertengahan di antara kalangan filsafat idealis yang hampir-hampir tidak bersentuhan dengan realitas dan jauh dari sikap pragmatis yang sama sekali tidak memiliki idealisme.
5. Pemikiran Islam moderat adalah sikap pertengahan antara filsafat liberal yang membuka kran kebebasan tanpa batas kepada setiap individu walaupun mengorbankan kepentingan masyarakat dan jauh dari sikap over-sosial dengan mengorbankan sama sekali kepentingan individu.
6. Pemikiran Islam moderat bersikap lentur dan senantiasa adaptatif dalam sarana namun tetap kokoh dan ajeg sepanjang menyangkut masalah prinsip dan dasar.
7. Pemikiran Islam moderat tidak pernah melakukan tajdid dan ijtihad dalam hal-hal yang bersifat pokok dan jelas dalam agama dan merupakan masalah-masalah qath’i, dan pada saat yang sama tidak setuju dengan sikap taklid berlebihan sehingga menutup pintu ijtihad walaupun masalahnya adalah masalah kontemporer yang sama sekali tidak terlintas dalam benak ulama-ulama terdahulu (ISMAIL, 2007).
8. Pemikiran Islam moderat tidak pernah meremehkan nash dengan dalih maksud- maksud syariah (maqashid syariah) dan pada saat yang sama tidak mengabaikan
maksud syariah dengan dalih menjaga nash.
9. Pemikiran Islam moderat menentang sikap keterbukaan tanpa batas dan ketertutupan tanpa batas.
10. Pemikiran Islam moderat mencela pemujaan organisasi yang unlimited sehingga menjadi laksana berhala dan mencela sikap seseorang yang tidak mengindahkan cara hidup terorganisir.
11. Islam moderat berbeda dengan sikap orang-orang yang hanya mendengungkan universalisme tanpa melihat kondisi dan keadaan setempat dan cara berpikiran yang sangat lokal sehingga tidak bisa menjalin hubungan dengan gerakan- gerakan Islam lokal.
12. Islam moderat tidak berlebihan dalam mengharamkan sesuatu sehingga seakan- akan di dunia ini tidak ada yang lain kecuali yang haram saja dan tidak berani menghalalkan sesuatu yang jelas haram hingga seakan-akan di dunia ini tidak ada yang haram.
13. Mazhab pemikiran moderat akan terbuka terhadap peradaban manapun namun
akan senantiasa mampu
mempertahankan jati dirinya tanpa mengalami erosi orisinalitasnya.
14. Pemikiran Islam moderat mampu mengadopsi pemikiran manapun dan bahkan mampu mengembangkannya sepanjang tidak berlawanan dengan nash yang sharih (jelas).
15. Pemikiran Islam moderat berada diantara liberalisme mutlak dan kejumudan mutlak. Berada diantara al-ifrath dan tafrith.
Berpaham Islam moderat sebagaimana disebutkan di atas, sebenarnya tidaklah sulit mencari rujukannya dalam sejarah perkembangan Islam, baik di wilayah asal Islam itu sendiri maupun di Indonesia. Lebih tepatnya, Islam moderat dapat merujuk, jika di wilayah tempat turunnya Islam, kepada praktik Islam yang dilakukan Nabi Muhammad Saw.
dan para sahabatnya, khususnya al-Khulafa al- Rashidin, sedangkan dalam konteks Indonesia dapat merujuk kepada para penyebar Islam yang terkenal dengan sebutan Walisongo.
Generasi pengusung Islam moderat di
Indonesia berikutnya, hanya sekedar miniatur, mungkin dapat merujuk kepada praktik Islam yang dilakukan organisasi semacam Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
Secara garis besar, Islam moderat menekankan pada sikap menghargai dan menghormati keberadaan “yang lain” (the other). Istilah moderat adalah sebuah penekanan bahwa Islam sangat membenci kekerasan, karena berdasarkan catatan sejarah, tindak kekerasan akan melahirkan kekerasan baru. Padahal, Islam diturunkan Allah adalah sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh masyarakat dunia) (Ali, 2013).
Moderasi Islam di Indonesia
Istilah “moderasi” merupakan kata benda dari kata “moderation” dalam Bahasa Inggris, yang kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “moderasi”. Dalam bahasa Indonesia, istilah “moderasi” berarti sebuah posisi yang tidak berlebihan, tidak terlalu lembut atau terlalu kasar, tidak terlalu ke kanan dan tidak terlalu ke kiri. Moderasi berarti mengambil jalan yang tengah yang bisa diterima secara rasional.
Di Indonesia, istilah “moderasi” sering dikaitkan dengan “agama” sehingga muncul istilah popular “moderasi beragama”. Istilah ini semakin popular seiring dengan munculnya paham-paham dan gerakan radikalisme yang terjadi pada akhir-akhir ini. Di antara paham- paham dan gerakan tersebut, sering mengatasnamakan agama sebagai legitimasi dalam perjuangannya (Salik, 2020). Moderasi beragama adalah cara pandang kita dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Lukman Hakim Saifudin mengatakan bahwa moderasi beragama adalah jalan tengah dalam keberagaman agama di Indonesia. Ia adalah warisan budaya Nusantara yang berjalan seiring, dan tidak saling menegasikan antara agama dan kearifan lokal. Esensi ini yang diinginkan oleh moderasi beragama karena beragama secara moderat sudah menjadi karakteristik umat beragama di Indonesia dan lebih cocok untuk kondisi masyarakat kita yang majemuk. Beragama secara moderat adalah model beragama yang telah lama
dipraktikkan dan tetap diperlukan pada era sekarang (Bimas, 2019).
Lebih lanjut, Lukman Hakim Saifuddin menyebut bahwa situasi keagamaan di Indonesia yang sangat beragam membutuhkan visi dan solusi yang dapat menciptakan kerukunan dan kedamaian dalam menjalankan kehidupan keagamaan, yakni dengan mengedepankan moderasi beragama, menghargai keragaman tafsir, serta tidak terjebak pada ekstremisme, intoleransi, dan tindak kekerasan. Semangat moderasi beragama adalah untuk mencari titik temu dua kutub ekstrem dalam beragama. Di satu sisi, ada pemeluk agama yang ekstrem meyakini mutlak kebenaran satu tafsir teks agama, seraya menganggap sesat penafsir selainnya.
Kelompok ini biasa disebut ultrakonservatif.
Di sisi lain, ada juga umat beragama yang esktrem mendewakan akal hingga mengabaikan kesucian agama, atau mengorbankan kepercayaan dasar ajaran agamanya demi toleransi yang tidak pada tempatnya kepada pemeluk agama lain. Mereka biasa disebut ekstrem liberal. Keduanya perlu dimoderasi. Ide dasar moderasi adalah untuk mencari persamaan dan bukan mempertajam perbedaan. Jika dielaborasi lebih lanjut, ada setidaknya tiga alasan utama mengapa perlu moderasi beragama di Indonesia, yaitu:
Pertama, salah satu esensi kehadiran agama adalah untuk menjaga martabat manusia sebagai makhluk mulia ciptaan Tuhan, termasuk menjaga untuk tidak menghilangkan nyawanya. Itu mengapa setiap agama selalu membawa misi damai dan keselamatan. Untuk mencapai itu, agama selalu menghadirkan ajaran tentang keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan; agama juga mengajarkan bahwa menjaga nyawa manusia harus menjadi prioritas; menghilangkan satu nyawa sama artinya dengan menghilangkan nyawa keseluruhan umat manusia. Moderasi ber- agama menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Orang yang ekstrem tidak jarang terjebak dalam praktik beragama atas nama Tuhan hanya untuk membela keagunganNya saja seraya mengenyampingkan aspek kema- nusiaan. Orang beragama dengan cara ini rela merendahkan sesama manusia “atas nama Tuhan”, padahal menjaga kemanusiaan itu
sendiri adalah bagian dari inti ajaran agama.
Sebagian manusia sering mengeksploitasi ajaran agama untuk memenuhi kepentingan hawa nafsunya, kepentingan hewaninya, dan tidak jarang juga untuk melegitimasi hasrat politiknya. Aksi-aksi eksploitatif atas nama agama ini yang menyebabkan kehidupan beragama menjadi tidak seimbang, cenderung ekstrem dan berlebihlebihan. Jadi, dalam hal ini, pentingnya moderasi beragama adalah karena ia menjadi cara mengembalikan praktik beragama agar sesuai dengan esensinya, dan agar agama benar-benar berfungsi menjaga harkat dan martabat manusia, tidak sebaliknya.
Kedua, ribuan tahun setelah agama-agama lahir, manusia semakin bertambah dan beragam, bersuku-suku, berbangsa-bangsa, beraneka warna kulit, tersebar di berbagai negeri dan wilayah. Seiring dengan perkembangan dan persebaran umat manusia, agama juga turut berkembang dan tersebar.
Karya-karya ulama terdahulu yang ditulis dalam bahasa Arab tidak lagi memadai untuk mewadahi seluruh kompleksitas persoalan kemanusiaan. Teks-teks agama pun mengalami multitafsir, kebenaran menjadi beranak pinak;
sebagian pemeluk agama tidak lagi berpegang teguh pada esensi dan hakikat ajaran agamanya, melainkan bersikap fanatik pada tafsir kebenaran versi yang disukainya, dan terkadang tafsir yang sesuai dengan kepentingan politiknya. Maka, konflik pun tak terelakkan. Kompleksitas kehidupan manusia dan agama seperti itu terjadi di berbagai belahan dunia, tidak saja di Indonesia dan Asia, melainkan juga di berbagai belahan dunia lainnya. Konteks ini yang menyebabkan pentingnya moderasi beragama, agar peradaban manusia tidak musnah akibat konflik berlatar agama.
Ketiga, khusus dalam konteks Indonesia, moderasi beragama diperlukan sebagai strategi kebudayaan kita dalam merawat keindonesiaan. Sebagai bangsa yang sangat heterogen, sejak awal para pendiri bangsa sudah berhasil mewariskan satu bentuk kesepakatan dalam berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang telah nyata berhasil menyatukan semua kelompok agama, etnis, bahasa, dan budaya. Indonesia disepakati
bukan negara agama, tapi juga tidak memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari warganya. Nilai-nilai agama dijaga, dipadukan dengan nilai-nilai kearifan dan adat istiadat lokal, beberapa hukum agama dilembagakan oleh negara, ritual agama dan budaya berjalin berkelindan dengan rukun dan damai. Itulah sesungguhnya jati diri Indonesia, negeri yang sangat agamis, dengan karakternya yang santun, toleran, dan mampu berdialog dengan keragaman. Ekstremisme dan radikalisme niscaya akan merusak sendisendi keindonesia- an kita, jika dibiarkan tumbuh berkembang.
Karenanya, moderasi beragama amat penting dijadikan cara pandang (Kementerian Agama, 2019).
Menurut Qustulani et al., (2019), paham Islam moderat atau moderasi Islam mesti dibumikan di Nusantara. Islam moderat sangat representatif memberikan jawaban dan solusi terhadap seluruh permasalahan yang dihadapi umat Islam dewasa ini. Ia tidak terlalu ekstrim ke kanan, dalam hal ini overtekstual, tapi juga tidak terlalu ekstrim ke kiri, dalam artian overkontekstual. Islam moderat selalu mengedepankan keseimbangan antara teks dan konteks, antara wahyu dan akal. Karena keduanya adalah kebenaran yang bersumber dari Tuhan. Mengabaikan salah satunya berarti meninggalkan sebagian kebenaran Tuhan.
Pemahaman moderat menjadi kemestian, apalagi dalam konteks keindonesiaan yang sangat majemuk. Pemahaman yang berada di tengah-tengah sebenarnya menjadi esensi agama Islam itu sendiri, yang dalam sejarahnya agama Islam datang sebagai penyeimbang agama-agama sebelumnya (Qustulani et al., 2019).
Muhammadiyah dan NU: Menakar Potret Islam Moderat di Indonesia
Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), meminjam istilah Komaruddin Hidayat, adalah “pemegang saham” bagi lahirnya republik ini. Keduanya merupakan ormas terbesar di dunai Islam, yang lahir jauh sebelum republik ini berdiri. Keduanya jauh lebih tua dan lebih besar jasanya ketimbang semua partai politik yang sekarang lagi ikut menikmati kue kekuasaan (Sobary, 2010).
Muhammadiyah dan NU adalah dua organisasi
Islam yang sudah malang-melintang dalam memperjuangkan bentuk-bentuk moderasi Islam, baik lewat institusi pendidikan yang mereka kelola maupun kiprah sosial-politik- keagamaan yang dimainkan. Oleh karena itu, kedua organisasi ini patut disebut sebagai dua institusi civil society yang amat penting bagi proses moderasi negeri ini. Muhammadiyah dan NU merupakan dua organisasi sosial keagamaan yang berperan aktif dalam merawat dan menguatkan jaringan dan institusi-institusi penyangga moderasi Islam, bahkan menjadikan Indonesia sebagai proyek percontohan toleransi bagi dunia luar. Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU selama ini memainkan peran yang signifikan dalam mengusung ide-ide keislaman yang toleran dan damai.
Dalam sejarah kolonialisme di Indonesia, Muhammadiyah dapat disebut moderat, karena lebih menggunakan pendekatan pendidikan dan transformasi budaya. Karakter gerakan Muhammadiyah yang sangat moderat, sebenarnya sejak awal telah dibangun oleh pendiri organisasi ini, yaitu K.H. Ahmad Dahlan. Dikatakan, bahwa salah satu pelajaran yang paling penting dari kepemimpinan Ahmad Dahlan adalah komitmen kuatnya kepada sikap moderat dan toleransi beragama.
Selama kepemimpinannya dapat terlihat adanya kerja sama kreatif dan harmonis dengan hampir semua kelompok masyarakat (Ali, 2013). Bahkan, dengan rekan Kristennya, beliau mampu mengilhami rasa hormat dan kekaguman. Contoh yang paling menarik dari kemampuan K.H. Ahmad Dahlan adalah mengikat persahabatan erat dengan banyak pemuka agama Kristen. Kenyataan bahwa beliau dikenal sebagai orang yang toleran terhadap kaum misionaris Kristen akan tetapi tidak berarti lantas beliau mengkompromikan prinsip-prinsipnya. Dia adalah seorang praktisi dialog antar agama yang sejati, dalam pengertian dia mendengar apa yang dikatakan dan memerhatikan apa yang tersirat dibalik kata yang diucapkan (Shihab, 1997).
Sementara NU, sebagaimana yang dikehendaki pendirinya, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, bersama sejumlah ulama yang membentuk kelahiran NU sebagai sebuah organisasi keislaman yang telah memberikan
inspirasi bagi sebagian besar umat Islam di tanah air untuk menjalankan misi Islam sebagai agama yang mengedepankan toleransi dan moderatisme dalam pemahaman keagamaan. Misi tersebut dipopulerkan dengan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yaitu Islam yang dibangun di atas fundamen kasih sayang bagi seluruh manusia di seantero alam dan juga makhluk-makhluk lain yang berada di muka bumi. Langkah ini penting bagi generasi muda Muslim untuk senantiasa mempunyai landasan pemikiran yang kuat di satu sisi, tetapi yang tidak kalah penting dari itu semua adalah menerjemahkan pandangannya dalam kehidupan sosial yang relatif majemuk. Sebuah pemahaman keagamaan yang mestinya mampu melindungi dan menerima kemajemukan sebagai rahmat dan sunnah Tuhan (Misrawi, 2009).
NU sejak semula memberikan kontribusinya dalam wawasan keagamaan moderat dan ikut mendorong pembentukan ide kebangsaan. Dalam ranah keagamaan, NU berhasil merumuskan gagasan dasar tentang tawassuth (moderat), tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), dan i’tidal (keadilan). Inilah yang menjadi sikap dasar NU dalam merespons isu-isu keagamaan di tanah air.
Dengan gagasan dasar ini, NU telah berhasil melahirkan generasi bangsa yang mengedepankan hidup dalam suasana yang toleran dan moderat, bukan dengan kekerasan (Zeda, 2010).
Sikap at-Tawassuth (termasuk al-I’tidal dan at-Tawazun) yang ada pada NU, bukan berarti serba kompromistis dengan mencampur adukkan semua unsur (sinkretisme). Juga bukan mengucilkan diri dari menolak pertemuan dengan unsur apa-apa. Karakter at- Tawassuth bagi Islam adalah memang sejak semula Allah Swt. sudah meletakkan di dalam Islam segala kebaikan, dan segala kebaikan itu pasti terdapat di antara ujung tatharruf, sifat mengujung, ekstrimisma (KH, n.d.).
Watak moderat (tawassuth) merupakan ciri Ahlus Sunnah waljamaah2 yang paling menonjol, di samping i’tidal (bersikap adil), tawazun (bersikap seimbang), dan tasamuh
2 Yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah dan Jama’ah di dalam lapangan teologi Islam adalah kaum Asy’ariah dan kaum Maturidi (Nasution, 1986).
(bersikap toleran) sehingga ia menolak segala bentuk tindakan dan pemikiran yang ekstrem (tatharruf) yang dapat melahirkan penyimpangan dan penyelewengan dari ajaran Islam. Dalam pemikiran keagamaan, juga dikembangkan keseimbangan (jalan tengah ) antara penggunaan wahyu (naqliyah) dan rasio (‘aqliyah) sehingga dimungkinkan akomodatif terhadap perubahan-perubahan di masyarakat sepanjang tidak melawan doktrin-doktrin dogmatis, meskipun keseimbangan itu tidak bisa benar-benar berdiri di tengah antara wahyu dan akal, tetapi lebih condong pada wahyu dari pada akal (taqdim al-naql ‘ala al-‘aql).
Masih sebagai konsekuensinya terhadap sikap moderat, maka Ahlussunnah wal jamaah juga memiliki sikap-sikap yang lebih toleran terhadap tradisi dibanding dengan paham kelompok-kelompok Islam lainnya (Syaltut, 2002).
Muhammadiyah dan NU baik melalui kekuatan struktural dari pusat hingga ranting maupun sayap-sayap kultural yang dimilikinya telah dan terus memainkan peran penting dalam proses konsolidasi demokrasi di Indonesia. Peran positif sebagai konsolidator demokrasi ini terutama sekali terlihat dalam upaya-upaya Muhammadiyah dan NU dalam membangun ‘perdamaian positif’ (positive peace) melalui berbagai kiprahnya di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, filantropi, kebencanaan, dan dakwah sosial kemasyarakatan. Muhammadiyah menunjukkan kontribusi yang luar biasa dalam upaya-upaya menghadirkan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi masyarakat, antara lain melalui aktivisme filantropis dan pelayanan sosial di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan belakangan kebencanaan. Sementara itu, NU nampak menonjol dalam kontribusi kulturalnya dalam mempromosikan dan mengarusutamakan ajaran Islam yang penuh dengan kedamaian dan toleransi, juga dalam upayanya membendung arus ekstremisme dan intoleransi keagamaan yang belakangan merebak (kib, 2020).
KESIMPULAN
Berpaham Islam moderat dalam konteks Indonesia dapat merujuk kepada para
penyebar Islam yang terkenal dengan sebutan Walisongo. Generasi pengusung Islam moderat di Indonesia berikutnya, hanya sekedar miniatur, mungkin dapat merujuk kepada praktik Islam yang dilakukan organisasi semacam Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Muhammadiyah dapat disebut moderat, karena lebih menggunakan pendekatan pendidikan dan transformasi budaya. Sementara Nahdlatul Ulama sebagai sebuah organisasi keislaman telah memberikan inspirasi bagi sebagian besar umat Islam di tanah air untuk menjalankan misi Islam sebagai agama yang mengedepankan toleransi dan moderatisme dalam pemahaman keagamaan. Kiranya kedua organisasi masyarakat yang lahir dari rahim Indonesia ini dapat disebut sebagai penggerak moderasi beragama sejak berdirinya dan gencar memerangi terorisme dan radikalisme yang mengatasnamakan agama. Keduanya mampu menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil
‘alamin, yaitu Islam yang dibangun di atas fundamen kasih sayang bagi seluruh manusia di seantero alam dan juga makhluk-makhluk lain yang berada di muka bumi.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Ali, S. (2013). Mengawal tradisi Meraih Prestasi :Inovasi dan Aksi Pendidikan Islam. UIN Maliki Press.
http://sman1pule-
trenggalek.jatimlib.my.id//index.php?p
=show_detail&id=2030, http://sman1pule-
trenggalek.jatimlib.my.id//lib/minigal nano/createthumb.php?filename=../..
/images/docs/BUKU_MENGAWAL _TRADISI_MERAIH_PRESTASI_S URYADHARMA_ALI_al.jpg.jpg&wid th=200
Amrina, A., Gazali, G., Mudinillah, A., Agustina, A., & Luksfinanto, Y. (2021).
Utility of the Smart App Creator Application as an Arabic Learning Media. Izdihar: Journal of Arabic Language Teaching, Linguistics, and Literature, 4(3), 319–334.
Amrina, A., Mudinillah, A., & bin Mohd Noor, A. F. (2022). The Contribution of
Arabic Learning To Improve Religious Materials for Students. Ijaz Arabi Journal of Arabic Learning, 5(1).
Bakry, M., Aziz, A., Dawing, D., &
Baharuddin, A. (Eds.). (2018).
Konstruksi Islam Moderat: Menguak Prinsip Rasionalitas, Humanitas, dan Universalitas Islam. Lembaga Ladang Kata. http://repositori.uin- alauddin.ac.id/15151/1/KONSTRUK SI%20ISLAM%20MODERAT.pdf, http://repositori.uin-
alauddin.ac.id/15151/
Bimas, K. (2019). Moderatisme Islam :kumpulan tulisan para penggerak moderasi
beragama.—. Kemenag RI.
http://slims.radenfatah.ac.id:80/index.
php?p=show_detail&id=26072
Choir [et.al, T. (2009). Islam dalam berbagai Pembacaan Kontemporer. Pustaka Pelajar.
http://libcat.uin-
malang.ac.id//index.php?p=show_det ail&id=38919
Echols, J. M. (2003). Kamus Inggris—Indonesia:
An English—Indonesian dictionary (H.
Shadily, Ed.; Cet. 27). Gramedia
Pustaka Utama.
http://opac.perpusnas.go.id/DetailOp ac.aspx?id=680308,
http://opac.perpusnas.go.id/uploaded _files/sampul_koleksi/original/Mono graf/MUL 30.jpg
GEOVANIE, J. (2013). Civil Religion: Dimensi Sosial Politik Islam. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama.
http://digilib.ulm.ac.id/pusat/index.p hp?p=show_detail&id=37440
Gultom, E., Frans, A., & Cellay, E. (2022).
Adapting the Graphic Novel to Improve Speaking Fluency for EFL Learners. Al-Hijr: Journal of Adulearn
World, 1(2), 46–54.
https://doi.org/10.55849/alhijr.v1i2.1 3
Hendra, R., Jamilus, J., Dogan, R., & Gugler, T. K. (2022). Job Analysis Urgentity (Task) in Islamic Education. Al-Hijr:
Journal of Adulearn World, 1(2), 55–64.
https://doi.org/10.55849/alhijr.v1i2.1 5
ISMAIL, A. S. E. A.-. (2007). Islam moderat:
Menebar islam rahmatan lil’alamin. ikadi.
http://kin.perpusnas.go.id/DisplayDat a.aspx?pId=40208&pRegionCode=TE LUNI&pClientId=116
Jamilah, S. (2021). Moderate Islamic Education to Enhance Nationalism among Indonesian Islamic Student Organizations in the Era of Society 5.0. Journal of Social Studies Education Research, 12(3), 79–100.
KH, A. S. (n.d.). Khitthah nahdliyyah.
kib, kehadiran I. I. yang direpresentasikan oleh M. dan N. mampu menjadi oase dan. (2020). Dua Menyemai Damai: Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan
Demokrasi. UGM Press.
http://perpustakaan.kemendagri.go.id /opac/index.php?p=show_detail&id=
4081,
http://perpustakaan.kemendagri.go.id /opac/lib/minigalnano/createthumb.p hp?filename=images/docs/ekstremis me&width=200
Minftahuddin, M.-. (2015). Islam Moderat Konteks Indonesia dalam Perspektif
Historis. MOZAIK.
http://journal.uny.ac.id/index.php/m ozaik/article/view/4338,
http://journal.uny.ac.id/index.php/m ozaik/article/view/4338/3766, http://journal.uny.ac.id/index.php/m ozaik/article/view/4338/3767, http://journal.uny.ac.id/index.php/m ozaik/article/downloadSuppFile/4338 /742
Misrawi, Z. (2009). Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Moderasi,keumatan,dan kebangsaan (ed. 1). Kompas.
http://opac-
perpusbunghatta.perpusnas.go.id/detai l-opac?id=11051,
http://uploaded_files-
perpusbunghatta.perpusnas.go.id/sam pul_koleksi/original/Monograf/CVR2 0120117082759.jpg
Mu’ammar (et.al), M. A. (Ed.). (2012). Studi Islam: Perspektif insider / outsider (Cet. 1).
IrciSoD.
Mudinillah, A. (2019). The development of interactive multimedia using Lectora Inspire application in Arabic Language learning. Jurnal Iqra’: Kajian Ilmu Pendidikan, 4(2), 285–300.
Najib, B. A. (2001). Islam Dinamis Menggugat Peran Agama Membongkar Doktrin yang Membatu (Cet. I). Kompas.
http://demo.inlislitev31.perpusnas.go.i d/opac/detail-opac?id=2528
Nasution, H. (1986). Teologi Islam: Aliran aliran sejarah analisa perbandingan. UI Press.
Qustulani, M., Irfani, F., Ishak Fariduddin, E.,
& Suhendra, A. (2019). Moderasi Beragama Jihad Ulama Menyelamatkan Umat dan Negeri dari Bahaya Hoax.
Semarang: PSP Nusantara.
Salik, M. (2020). Nahdlatul Ulama dan gagasan moderasi Islam.
Sanusi, S., Musnandar, A., Sutomo, S., Rafiu Ibrahim, A., & Lantong, A. (2022).
Implementation of Character Education: Perspective of Love for All Hatred For None in Spiritual, Social and Humanitarian Characters Formation in SMU Plus Al-Wahid. Al- Hijr: Journal of Adulearn World, 1(2), 65–
70.
https://doi.org/10.55849/alhijr.v1i2.1 1
Syaltut, M. (2002). NU liberal: Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam / Mujamil Qomar.
Mizan.
http://opac.stainponorogo.ac.id//inde x.php?p=show_detail&id=8208
Zainuddin, H. M. (2013). Pluralisme Agama:
Dalam Analisis Konstruksi Sosial (H. M.
I. Esha, Ed.; Printing 2). UIN - Maliki Press.
https://inlis.malangkota.go.id/opac/d etail-opac?id=111217
Zeda, K. (2010). Nahdlatul Ulama: Dinamika Ideologi Dan Politik Kenegaraan (A. F.
Sjadzlili, Ed.; Cet 1). Kompas.
http://katalogarpuscilacap.perpusnas.g o.id/detail-opac?id=20887