PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam studi kasus ini adalah bagaimana memberikan pelayanan kesehatan pada lansia penderita hipertensi di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda Tahun 2018.
Tujuan Penulisan
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
Tujuan khusus penulisan ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai asuhan keperawatan pada lansia penderita hipertensi di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda, antara lain:
Manfaat Penulisan
- Manfaat Teoritis
- Manfaat Praktis
- Bagi Responden
- Bagi Tempat Pelaksanaan Studi Kasus
- Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan
Alasan masuk rumah klien 1 Klien 2. Klien sendiri bersedia menginap di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana.
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Batasan Lanjut Usia
Masalah Yang Dihadapi Oleh Lansia
Konsep Medis
- Definisi
- Klasifikasi
- Etiologi
- Manifestasi Klinis
- Patofisiologi
- Pathway
- Komplikasi
- Penatalaksanaan
- Perawatan Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha
Bergabunglah dengan National's Committee on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure, sebuah badan penelitian hipertensi di Amerika Serikat, yang menetapkan batasan tekanan darah yang berbeda-beda. Dalam laporan tahun 1993 yang dikenal dengan JPC-V, tekanan darah pada orang dewasa berusia 18 tahun ke atas diklasifikasikan sebagai berikut. Pada orang lanjut usia, penyebab hipertensi disebabkan oleh perubahan elastisitas dinding aorta, berkurangnya katup jantung, penebalan dan pengerasan, kemampuan jantung memompa darah, hilangnya elastisitas pembuluh darah dan peningkatan resistensi pembuluh darah perifer. . .
Gejala ada jika menunjukkan kerusakan pembuluh darah, dengan tanda-tanda khas, sesuai dengan sistem organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah yang terlibat. Pada pemeriksaan fisik kelainan yang ditemukan hanyalah tekanan darah tinggi, namun dapat juga ditemukan perubahan pada retina seperti perdarahan, eksudat, penyempitan pembuluh darah dan yang paling parah adalah edema pada pupil (edema pada diskus optikus) ( Aspiani, 2016). Pada titik ini, neuron pra-ganglionik melepaskan asetilkolin, yang merangsang serabut saraf pasca-ganglionik ke pembuluh darah, dimana pelepasan norepinefrin menyebabkan vasokonstriksi.
Pada saat yang sama ketika sistem saraf simpatik menstimulasi pembuluh darah sebagai respons terhadap rangsangan emosional, kelenjar adrenal juga terstimulasi, sehingga menghasilkan aktivitas vasokonstriksi tambahan. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronis jika pembuluh darah arteri yang menyuplai otak mengalami hipertrofi dan penebalan, sehingga aliran darah ke area otak yang disuplai darah menjadi berkurang, arteri serebral yang mengalami aterosklerosis dapat melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya aterosklerosis.
Konsep Asuhan Keperawatan
- Pengkajian Keperawatan
- Diagnosa Keperawatan
- Rencana Keperawatan
- Implementasi Keperawata
- Evaluasi Keperawatan
METODE PENULISAN
Subyek Penulisan
Subyek dalam penulisan ini adalah dua orang klien lansia penderita hipertensi di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda dengan kriteria subjek sebagai berikut.
Batasan Istilah
Kedua klien mengatakan mereka merasa lebih nyaman setelah melakukan kompres hangat untuk mengurangi nyeri leher.
Lokasi dan Waktu Penulisan
Prosedur Studi Kasus
Teknik dan Instrument Pengumpulan Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Instrumen Pengumpulan Data
Keabsahan Data
Kemudian data tersebut diobservasi untuk memeriksa apakah data yang diperoleh sesuai dengan hasil observasi penulis.
Analisis Data
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran dan Lokasi Study Kasus
Karakteristik Subyek Penulisan
Data Asuhan Keperawatan
Pengkajian Keperawatan
Diagnosa Keperawatan
Intervensi Keperawatan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4x24 jam diharapkan gangguan mobilitas fisik tidak bertambah parah sesuai kriteria outcome.
Implementasi Keperawatan
Klien dapat mengubah posisi secara mandiri, dapat berpindah dari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya secara mandiri.
Evaluasi Keperawatan
- Pembahasan
Pada pengkajian hari terakhir kedua klien mengatakan nyeri sudah berkurang dan klien dapat mengontrol nyeri dengan teknik manajemen nyeri, tekanan darah Klien 1 150/80 mmHg, dan tekanan darah Klien 2 140/80 mmHg. Pada saat pengkajian klien 2 diperoleh informasi bahwa klien mengatakan mudah lupa, klien mengatakan dapat mengenali wajah orang namun tidak dapat mengingat namanya, klien mengatakan tidak dapat mengingat sesuatu, pada saat menilai derajat gangguan intelektual menggunakan pada SPMSQ jumlah jawaban salah sebanyak 5 atau tergolong mengalami gangguan. Pada penilaian hari terakhir, klien mengatakan bahwa ia mengetahui nama siswa dan mampu mengenali lingkungannya, klien mampu menjawab pertanyaan tentang nama siswa dengan benar.
Pada saat pengkajian diperoleh data, klien menyatakan kurang kuat berjalan jauh, klien menyatakan kurang kuat berdiri dalam jangka waktu lama, klien terlihat berjalan lambat, klien didampingi , kekuatan otot berkurang dan terbantu siswa saat berjalan jauh. Penulis berasumsi bahwa data yang diperoleh diatas sesuai dengan teori, kedua klien mengalami penurunan kekuatan otot sehingga klien tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Saat dievaluasi di hari terakhir, klien menyatakan memahami cara mengubah posisi dan dapat mendemonstrasikannya.
Pada saat pengkajian pada klien 2 diperoleh data bahwa klien mengatakan makan jaring utuh, klien mengatakan hanya makan sayur, klien alergi ikan tuna, berat badan 47 kg, tinggi badan 153 cm, frekuensi makan. . 3 kali sehari dan habiskan ½ porsi makan. Saat dinilai pada hari terakhir, klien mengatakan memahami pentingnya gizi atau makanan bagi tubuh, klien mengatakan hari ini cukup makan, dan hari ini klien mengonsumsi ¾ dari makanannya (nasi dan lauk pauk). Pada saat pengkajian diperoleh data dari klien yang menyatakan telah dijelaskan kepadanya, namun ia lupa, bahwa klien sering mengonsumsi makanan dan sering menambahkan garam pada makanannya.
Pada pengkajian klien mengatakan bahwa ia memahami penyakitnya, apa penyebabnya, apa tanda dan gejalanya, serta cara pengendaliannya. Kedua klien mempunyai diagnosis yang sama yaitu nyeri kronik berhubungan dengan faktor merugikan biologis, penurunan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot, dan kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya paparan informasi. Klien yang lain mempunyai diagnosis yang tidak diderita klien satu, diagnosis tersebut adalah gangguan memori yang berhubungan dengan proses penuaan.
Kedua klien memiliki beberapa diagnosis yang sama seperti nyeri kronis, gangguan mobilitas fisik, defisit kognitif, dan risiko jatuh. Hasil evaluasi yang dilakukan penulis pada kedua klien menunjukkan tanda dan gejala yang sama. Kedua klien mendapat diagnosis yang sama, namun yang membedakan klien 2 adalah diagnosis gangguan memori terkait proses penuaan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Saran
Bagi Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda diharapkan diberikan perhatian khusus seperti penyediaan pegangan tangan di sekeliling dinding untuk memudahkan klien dan mencegah klien terjatuh. Bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada gerontik harus menggunakan pendekatan proses keperawatan yang komprehensif yang mencakup partisipasi klien sehingga dapat mencapai tujuan. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan karya tulis ilmiah ini dapat dijadikan referensi bagi peneliti selanjutnya yang akan memberikan asuhan keperawatan pada lansia penderita hipertensi.
Asuhan keperawatan pada klien lansia hipertensi dengan nyeri leher di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Kota Samarinda. Pelatihan Range of Motion berpengaruh terhadap mobilitas fisik pada lansia di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Unit Abiyoso Yogyakarta. Asuhan keperawatan pada klien lansia hipertensi dengan masalah keperawatan kecemasan di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda.