• Tidak ada hasil yang ditemukan

NON DEROGABLE RIGHTS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "NON DEROGABLE RIGHTS"

Copied!
166
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Landasan Hukum Hak Asasi Manusia

Padahal, hukuman mati sangat bertentangan dengan hak asasi manusia (selanjutnya disingkat HAM) yang memuat ketentuan-ketentuan hak yang tidak dapat dikurangi (non-derogable). 12 Guillotine merupakan alat untuk membunuh seseorang yang telah dijatuhi hukuman mati secara cepat dan 'manusiawi'.

Hak Asasi Manusia di Masa Orde Baru

Kemudian, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (selanjutnya disebut Undang-Undang Hak Asasi Manusia), disusul dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (disingkat Undang-Undang Pengadilan Hak Asasi Manusia). Undang-undang ini mengatur seluruh hak asasi manusia, termasuk hak hidup yang tidak dapat ditangguhkan, yang menjadi fokus kajian ini.

PENGATURAN NON DEROGABLE

Filsafat dan Pengaturan Hak Asasi Manusia

  • Konsep Dasar Hak Asasi Manusia
  • Konvergensi Non Derogable Rights
  • Historisitas HAM

Penjelasan berbeda untuk konsep dan posisi berbeda, dalam Robert Haas (Ed), Human Rights and the Media, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1999, hal. Kekhawatiran terhadap hak asasi manusia juga menyebabkan terbentuknya Organisasi Buruh Internasional (ILO) pada tahun 1919.

Implikasi Yuridis Ratifikasi Instrumen HAM

  • Instrumen HAM Internasional
  • Ratifikasi HAM oleh Indonesia

Berdasarkan kenyataan pahit di atas, Indonesia terus mengembangkan kerangka hukum yang mengatur peningkatan hak asasi manusia. Rahman Zainuddin, Hak Asasi Manusia di Indonesia, dalam Haris Munandar (ed.), Perkembangan Politik, Situasi Global dan Hak Asasi Manusia di Indonesia;.

Polical Will Regulasi HAM di Indonesia

Sedangkan syarat hukum yang ketat antara lain: hukuman mati, penjara seumur hidup, tidak mengenal keluarga, dan lain-lain. 92. Masyhur Effendi, Dimensi/Dinamika Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan Internasional, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1994. Indonesia telah mempunyai modal dasar dan pandangan hidup Pancasila yang sarat dengan nilai-nilai keadilan dan hak asasi manusia yang dimilikinya. tidak adalah tidak diterapkan sepenuhnya.

Dari sudut pandang hukum, apabila asas-asas Pancasila belum terimplementasi dalam kehidupan masyarakat, mungkin seharusnya kesatuan pemahaman terhadap asas-asas hukum yang bersumber dari Pancasila itu sendiri harus terlihat wajahnya, khususnya wajah hukum yang berkaitan dengan hak asasi manusia. Sehubungan dengan posisi-posisi tersebut di atas, maka wajar pula jika kita bertanya dan mengusulkan bagaimana penyelenggaraan keadilan sebagai cerminan pelaksanaan hak asasi manusia harus berorientasi pada pemerintah. Tampak dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik bahwa instrumen internasional sebagaimana dimaksud pada huruf c pada prinsipnya tidak bertentangan dengan Pancasila dan hukum Negara Republik Indonesia. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sesuai dengan hakikat Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara hukum yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, menjamin persamaan kedudukan semua warga negara di hadapan hukum dan keinginan bangsa Indonesia untuk menjunjung tinggi hak asasi manusia. untuk terus memajukan dan melindungi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam mencapai tujuan politik, negara harus berlandaskan pada aturan-aturan hukum yang ada, sehingga dapat tercipta suatu negara hukum dalam arti materiil (rechtstaats). Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia, yang selanjutnya disingkat RANHAM, menggambarkan masa depan yang baik untuk menghapuskan diskriminasi terhadap perempuan dan melindungi hak-hak mereka.97 RANHAM ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden No. 129/1998 dan tercantum dalam lampiran Keputusan Presiden. Pelaksanaan RANHAM dijamin dengan pembentukan Komite Nasional Hak Asasi Manusia.99 Anggotanya adalah menteri-menteri Republik Indonesia yang berwenang.

KLAUSUL NON DEROGABLE RIGHTS

Deskripsi Klausul Non Degorable Rights

  • Pengaturan dalam Undang-Undang Dasar
  • Pengaturan dalam Undang-Undang No. 39

Pertentangan Pengaturan Non Derogable

  • Kontroversi Hukuman Mati
  • Peraturan tentang Pengakuan Kesamaan

Itulah sebabnya hak-hak ini disebut hak asasi manusia.215 Dari sekian banyak hak asasi manusia, hak ini adalah yang paling penting. Baehr, Human Rights in Foreign Policy, diterjemahkan: Somardi, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1998) hal.

PERSPEKTIF FILSAFAT TERHADAP

Pengantar

Untuk penjelasan lain, lihat: Mawlana Abu A'la Mawdudi, Hak Asasi Manusia dalam Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1995. Sebagai implikasi daripada ini, hak asasi manusia diletakkan sebagai artikel yang paling mendesak dalam perundangan negara. Perkara ini tidak dapat dinafikan kerana Deklarasi Hak Asasi Manusia masih menjadi isu "panas" di semua negara.

Keempat, bahwa sehubungan dengan itu perlu adanya Keputusan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tentang Hak Asasi Manusia. Untuk itu keberadaan Pengadilan Hak Asasi Manusia di Indonesia merupakan salah satu instrumen hukum yang melindungi hak asasi manusia. 205Achie Sudiarti Luhilima, Mekanisme Hak Asasi Perempuan Internasional dan Nasional, Jurnal Dinamika Hak Asasi Manusia, Vo.

Optik Ontologis

  • Hak Hidup dan Eksistensi Manusia
  • Persamaan Hukum dan Kebebasan

Ciptaan manusia tidak hanya diciptakan, tetapi manusia dikaruniai dengan hak-hak kodrati yang dimilikinya sejak dilahirkan. Lahirnya UU Perkawinan pada hakikatnya melalui proses panjang serangkaian perjuangan perempuan di Indonesia untuk menuntut keadilan dan pengakuan atas hak asasi mereka.224 Setidaknya kita bisa mencatat bahwa sejak perjuangan R.A. 226 Meski sudah diratifikasi selama 21 tahun, Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan masih diabaikan oleh para pemangku kepentingan di Indonesia.

227 Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) atau Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan), harus diakui implementasinya masih menghadapi kendala yang cukup besar. Ketidakmampuan untuk menangani hak asasi perempuan pada akhirnya menjadi salah satu hambatan utama dalam implementasi CEDAW.228. Selain hal tersebut, faktor lain yang juga menjadi kendala dalam implementasi CEDAW adalah belum paham atau pahamnya negara-negara peserta mengenai standar hak asasi manusia dan cara mencapainya.

Selain itu, dalam implementasi CEDAW, masih kurangnya keahlian, metodologi dan kemampuan menerapkan standar hak asasi manusia dalam menganalisis permasalahan sosial dan cara mengatasinya. Sejumlah kendala struktural, seperti budaya yang tidak memenuhi standar hak asasi manusia, kesulitan mencapai keadilan dan kurangnya cara untuk menghilangkan diskriminasi, serta norma dan praktik budaya yang cenderung menstereotipkan peran berdasarkan gender dan bentuk-bentuk diskriminasi lainnya. seksisme, juga merupakan bagian dari permasalahan: hambatan terhadap implementasi CEDAW. Selain itu, sebagian besar perempuan belum menyadari hak asasi mereka dan bagaimana mengklaim dan mengatasi hak-hak tersebut.229.

Optik Epistemologis

  • Basis Pengetahuan Hak Kodrati
  • Pergulatan Manusia Sebagai Makhluk
  • Hakikat Kebebasan Manusia; Perspektif
  • Konsep Hak Asasi Manusia Versi Agama
  • Humanisasi Hukum

Alasan kuat di balik esensialisme dan fundamentalisme terbukti mempunyai implikasi serius terhadap permasalahan hak asasi manusia. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan untuk menemukan landasan lain dalam pengertian dan penafsiran manusia, hakikat kemanusiaan, dan hak asasi manusia. Pemusnahan manusia terhadap orang lain merupakan salah satu hal mendasar dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Landasan etika hak asasi manusia sebenarnya berasal dari menguatnya sentimentalitas dalam interaksi peradaban manusia. Oleh karena itu, tanpa saling menyangkal, tidak dapat dihindari untuk memisahkan sentimentalitas dari rasionalitas sebagai landasan pengetahuan yang mendasari persoalan hak asasi manusia. Barangkali ia merasa bahwa segala tingkah laku dan tindakannya di dunia akan selalu dikuasai oleh Tuhan, dan dari sinilah ia sebenarnya menyadari bahwa kebebasan penuh adalah sesuatu yang tidak dapat dimiliki oleh manusia.256.

Para penggagas determinisme memandang manusia – dan seluruh alam semesta – sebagai jam mekanis yang telah dirancang sebelumnya dan segala sesuatunya bersifat tetap, yang perlu dilakukan hanyalah tetap menjalankannya. Juga ketika orang memuji, mengagumi dan memberi penghargaan atas perbuatan baik dan heroik seseorang - misalnya, menganugerahkan hadiah hak asasi manusia 'Yap Tiam Hiem Award', menganugerahkan Hadiah Nobel Perdamaian. Kesimpulan dari pemaparan ini adalah hak asasi manusia dalam perspektif agama (Islam) dipetakan dalam dua bagian.

Optik Aksiologis

  • Subjektivitas Manfaat Hukum
  • Hukum Untuk Keadilan

Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian di bidang hak asasi manusia. Masyhur Effendi, Dimensi/Dinamika Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan Internasional (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1994) hal. Baerh, Peter R., Hak Asasi Manusia dalam Politik Luar Negeri, Trans: Somardi, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1998.

David Weissbrodt, Hak Asasi Manusia: Tinjauan dari Perspektif Sejarah, dalam Peter Davires (Ed), Hak Asasi Manusia, Sebuah Antologi, Diterjemahkan: A. Penjelasan berbeda tentang konsep dan sudut pandang yang berbeda, dalam Robert Haas (Ed), Hak - Manusia Rights and Media, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1998. Hassan Suryono, Implementasi dan Sinkronisasi Hak Asasi Manusia Internasional dan Nasional, dalam Muladi (Ed), Hakikat Hak Asasi Manusia, Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan Masyarakat, (Bandung : Refika Aditama, 2005)h.

Himahanto Juwana, Pemberdayaan Budaya Hukum dalam Perlindungan Hak Asasi Manusia di Indonesia; Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Sistem Hukum Internasional, Dalam Muladi (Red), Hak Asasi Manusia; Satjipto Rahadjo, Ilmu Hukum (Bandung: Adytia Bhakti, 2000) hal. 23 Satya Arinanto, Hak Asasi Manusia dalam Transisi Politik di Indonesia. Penjelasan berbeda tentang konsep dan posisi berbeda, dalam Robert Haas (Ed), Hak Asasi Manusia dan Media (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999) hal.

PENUTUP

KESIMPULAN

Hak yang tidak dapat dicabut itu adalah sebutan untuk hak yang tidak dapat dikurangi dengan cara apapun, bahkan oleh negara sekalipun. Hak yang tidak dapat dikurangi dalam konteks Indonesia mencakup beberapa pengaturan, antara lain: dari Bab XA UUD 1945, Pasal 4 UU No. Pendekatan ontologis menghasilkan klaim bahwa hak hidup dan persamaan di hadapan hukum merupakan hak yang sudah menjadi kodrat manusia.

Dari sudut pandang filosofis, hak untuk hidup merupakan turunan dari eksistensi manusia, yang dalam arti praktis dan pragmatis bukanlah hak orang lain untuk mengambil nyawa orang lain. Pendekatan epistemologis memberikan gambaran jelas bagaimana manusia dapat menciptakan hak-hak kodrati dalam dirinya. Aksiologi pengaturan hak-hak yang tidak dapat dicabut mempunyai pendulum, yang satu hak mengenai keadilan, yang lain lagi kemanfaatan, dan yang lain lagi keamanan hukum.

Namun, dapat dipastikan bahwa pengaturan hak yang tidak terbatas tidak sepenuhnya memenuhi harapan.

SARAN

Rahman Zainuddin, Hak Asasi Manusia di Indonesia, dalam Haris Munandar (ed), Perkembangan Politik, Situasi Global dan Hak Asasi Manusia di Indonesia; Kumpulan esai untuk menghormati Prof. Abdullahi Ahmed An-Na'im, Dekonstruksi Syariah, Wacana Kebebasan Sipil, Hak Asasi Manusia dan Hubungan Internasional dalam Islam, (Yogyakarta: LKiS. Abdullahi Ahmed An-Na'im, Hak Sipil dalam Islam Lihat, Jurnal Taswirul Afkar, Edisi No.1/Mei-Juni 1997, hal.

Bahar, Safroedin, Hak Asasi Manusia, Analisis KOMNAS HAM dan Pengurus HANKAM/ABR, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996. Nikel, Hak Asasi Manusia, Refleksi Filsafat Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Diterjemahkan: Titis Eddy Arini, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996) hal. Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN), Catatan Hasil Perumusan Perubahan Pertama dan Kedua UUD 1945 Maret 2001. editor), Laporan Keadaan Hak Asasi Manusia di Indonesia Jakarta: Yayasan Bantuan Hukum Indonesia. 1987.

Hak Asasi Manusia, Beberapa Wacana Nyata dan Krusial, Makalah dipresentasikan pada pertemuan Lembaga Hak Asasi Manusia Kawanua Persatuan Masyarakat Sulawesi Utara dan Keharmonisan Keluarga Kawanua di Jakarta pada tanggal 29 September 2006, http://. Van Boven, Instrumen dan Prosedur Internasional untuk Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999) hal. Wignjosoebroto, Suetandyo, Toleransi dalam Keberagaman: Visi Abad 21, Kumpulan Tulisan Hak Asasi Manusia, Surabaya, PusHam, 2003.

Referensi