• Tidak ada hasil yang ditemukan

Novel Hujan karya Tere Liye - BAB II

N/A
N/A
Subinarto Subinarto

Academic year: 2024

Membagikan "Novel Hujan karya Tere Liye - BAB II"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sastra

Sastra secara etimologi diambil dari bahasa-bahasa Barat (Eropa) s eperti literature (bahasa Inggris), littérature (bahasa Prancis), literatur (bah asa Jerman), dan literatuur (bahasa Belanda). Semuanya berasal dari kat a litteratura (Bahasa Latin) yang sebenarnya tercipta dari terjemahan kata grammatika (Bahasa Yunani). Litteratura dan grammatika masing-masing berdasarkan kata “littera” dan “gramma” yang berarti huruf (tulisan atau let ter). Dalam bahasa Prancis, dikenal adanya istilah belles-lettres untuk me nyebut sastra yang bernilai estetik. Istilah belles-lettres tersebut juga digun akan dalam bahasa Inggris sebagai kata serapan, sedangkan dalam baha sa Belanda terdapat istilah bellettrie untuk merujuk makna belles-lettres. D ijelaskan juga, sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sanse kerta yang merupakan gabungan dari kata sas, berarti mengarahkan, men gajarkan dan memberi petunjuk. Kata sastra tersebut mendapat akhiran tr a yang biasanya digunakan untuk menunjukkan alat atau sarana. Sehingg a, sastra berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk atau pengajaran. Seb uah kata lain yang juga diambil dari bahasa Sansekerta adalah kata Pusta ka yang secara luas berarti buku (Teeuw, 1984: 22-23).

Sastra dalam Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Sansekerta ya ng merupakan gabungan dari kata sas, berarti mengarahkan, mengajarka

(2)

n dan memberi petunjuk. Kata sastra tersebut mendapat akhiran tra yang biasanya digunakan untuk menunjukkan alat atau sarana. Sehingga, sastr a berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk atau pengajaran. Sebuah kat a lain yang juga diambil dari bahasa Sansekerta adalah kata Pustaka yan g secara luas berarti buku (Teeuw, 1984: 22-23).

Sumardjo dan Saini (1997: 3-4) menyatakan bahwa sastra adalah u ngkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang me mbangkitkan pesona dengan alat bahasa. Sehingga sastra memiliki unsu r-unsur berupa pikiran, pengalaman, ide, perasaan, semangat, kepercaya an (keyakinan), ekspresi atau ungkapan, bentuk dan Bahasa.

Hal ini dikuatkan oleh pendapat Saryono (2009: 18) bahwa sastra ju ga mempunyai kemampuan untuk merekam semua pengalaman yang em piris-natural maupun pengalaman yang nonempiris-supernatural, dengan kata lain sastra mampu menjadi saksi dan pengomentar kehidupan manus ia.

Secara rinci jenis-jenis sastra menurut Sumardjo dan Saini (1997: 1 8-19).

Menurut Sumardjo dan Saini sastra dibagi menjadi dua jenis, yaitu sastra imajinatif dan non-imajinatif. Sastra imajinatif terdiri dari puisi, prosa fiksi dan drama, sementara non-imajinatif terdiri dari esei, kritik, biografi, ot obiografi, sejarah, memoar, catatan harian dan surat-surat.

(3)

Sastra imajinatif bersifat khayalan, menggunakan bahasa konotasi dan memiliki unsur-unsur estetika, sementara sastra non-imajinatif berisi faktual, cenderung menggunakan bahasa denotatif, serta memenuhi nilai estetika.

2.1.1 Puisi

Puisi adalah bentuk tulisan bebas yang merupakan ekspresi dan ga gasan penulisnya dalam bentuk bait-bait yang diolah sedemikian rupa unt uk menghasilkan tulisan estetis yang dapat menggugah dan memberikan pesan secara tidak langsung melalui berbagai gaya bahasa, menggunaka n kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan ima jinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam m enggambarkan gagasan pelukisnya.

Sastra jenis puisi memiliki jenis yang beranekaragam antara lain.

a. Puisi Epik b. Puisi Lirik c. Puisi Dramatik

2.1.2 Prosa

Prosa sebagai cerita rekaan bukan berarti prosa adalah lamunan kosong seorang pengarang. Prosa adalah perpaduan atau kerja sama antara pikin dan perasaan. Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi (fiction).

(4)

a. Fiksi

Istilah fiksi dalam pengertian ini berarti cerita rekaan (cerkan) atau ceria hayalan (Nurgiyantoro, 2007:2).

1) Novel

2) Cerita pendek 3) Novelet

b. Drama

Drama adalah kisah yang menggunakan dialog sebagai bahan utama untuk menyampaikan cerita dan berbagai rangkaian peristiwa yang ada dalam suatu cerita. Dalam proses penciptaannya, drama dibuat dalam bentuk naskah untuk kemudian dilakonkan dalam pementasan Seni Teater atau bahkan diekranisasi (transformasi) menjadi Film.

Drama dibagi menjadi dua jenis, yaitu Drama Prosa dan Drama Puisi.

Selanjutnya dapat dikategorisasikan lagi menjadi:

1) Komedi 2) Tragedi 3) Melodrama 4) Tragedi-Komedi

Sastra non-imajinatif adalah karya yang tidak berasal dari khayalan semata dan didasarkan pada data-data real yang ilmiah. Karya tulis jenis ini mengambil informasi dari sumber terpercaya, lalu mengemasnya dalam tulisan estetis agar lebih menarik dan menggugah pembacanya.

(5)

1) Esei 2) Kritik

3) Biografi atau riwayat hidup 4) Otobiografi

5) Sejarah 6) Memoar

7) Catatan harian 8) Surat-surat

2.2 Pengertian Karya Sastra

Dunia kesastraan juga mengenal karya sastra yang berdasarkan ce rita atau realita. Menurut pandangan Sugihastuti (2007: 81-82) karya sastr a merupakan media yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaika n gagasan-gagasan dan pengalamannya. Sebagai media, peran karya sa stra sebagai media untuk menghubungkan pikiran-pikiran pengarang untu k disampaikan kepada pembaca. Selain itu, karya sastra juga dapat merefl eksikan pandangan pengarang terhadap berbagai masalah yang diamati d i lingkungannya. Realitas sosial yang dihadirkan melalui teks kepada pem baca merupakan gambaran tentang berbagai fenomena sosial yang perna h terjadi di masyarakat dan dihadirkan kembali oleh pengarang dalam ben tuk dan cara yang berbeda.

Menurut pandangan Sugihastuti (2007: 81-82) karya sastra merupa kan media yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan gagasa

(6)

n-gagasan dan pengalamannya. Sebagai media, peran karya sastra seba gai media untuk menghubungkan pikiran-pikiran pengarang untuk disamp aikan kepada pembaca. Selain itu, karya sastra juga dapat merefleksikan pandangan pengarang terhadap berbagai masalah yang diamati di lingkun gannya. Realitas sosial yang dihadirkan melalui teks kepada pembaca me rupakan gambaran tentang berbagai fenomena sosial yang pernah terjadi di masyarakat dan dihadirkan kembali oleh pengarang dalam bentuk dan c ara yang berbeda. Selain itu, karya sastra dapat menghibur, menambah p engetahuan dan memperkaya wawasan pembacanya dengan cara yang u nik, yaitu menuliskannya dalam bentuk naratif. Sehingga pesan disampaik an kepada pembaca tanpa berkesan mengguruinya.

Menurut Jabrohim (2012: 19), karya sastra adalah suatu wujud krea tivitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wuju d ciptaannya dapat menjadi kaidah. Susanto (2016: 11), karya sastra adal ah dunia rekaan yang realitas atau faktanya telah dibuat sedemikian rupa oleh pengarang.

2.3 Pengertian Karya Sastra Novel

Kata novel berasal dari kata latin novellus yang diturunkan pula dari kata noveis yang berarti “baru”. Dikatakan baru karena bila dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi, drama, dan lain-lain, maka j enis novel ini muncul. Novel adalah karya imajinatif yang mengisahkan sisi utuh atas problematika kehidupan sesorang atau beberapa orang tokoh (T

(7)

arigan, 2015: 167). Yang berarti novel adalah karangan yang mengandun g cerita kehidupan baik berdasarkan kenyataan maupun bersifat khayalan sebagai hiburan yang terdapat tokoh-tokoh mengagumkan, kata-kata men arik sarat makna dan unsur-unsur yang terdapat dalam novel.

Menurut Aminuddin (2012: 66), membahas sebuah novel harus me ngetahui unsur sastra yang ada pada novel-novel tersebut. Unsur sastra d alam sebuah novel ada dua, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intri nsik, yaitu tema, alur, latar, penokohan dan gaya Bahasa. Sedangkan yan g termasuk unsur ekstrinsik adalah unsur dari luar yang dapat menjadi ba han pengarang menciptakan karya sastra atau menjadi bahan pertimbang an bagi pembaca, seperti biografi, filsafat hidup, dan unsur budaya.

2.4 Tere Liye

Tere Liye adalah penulis dan akuntan berkebangsaan Indonesia. T ere Liye memiliki nama asli Darwis. Darwis lahir pada 21 Mei 1979 di Kab upaten Lahat, Sumatera Selatan. Tere Liye merupakan anak ke-enam dari tujuh bersaudara, dari pasangan Pasai dan Nursam. Kehidupan masa keci l yang dilalui dengan penuh kesederhanaan. Kedua orang tuanya berprofe si sebagai petani.

Sebagai seorang penulis yang dikenal sangat produktif, total sudah ada lebih dari 30 buku yang ditulis dari tahun 2005. Para penggemar novel karangan Tere Liye pada dasarnya berasal dari berbagai latar belakang,

(8)

mulai dari remaja yang masi sekolah hingga orang dewasa yang sudah m enikah.

Novel Karya Tere Liye adalah novel-novel bergendre fiksi yang tida k hanya tentang romance tetapi juga ada politik, keluarga, action, dan tent unya dapat dinikmati untuk semua usia.

Novel yang diciptakan Bang Tere memuat banyak hal terkait politik, keluarga, sejarah, fantasy, dan lain-lain. Sebagian bahasa yang digunaka n dalam novel tersebut menggunakan bahasa baku, sehingga banyak ora ng menyukai novel karya Bang Tere.

2.5 Sinopsis Novel Hujan karya Tere Liye

Dalam novel ini ada beberapa makna atau pesan yang disampaikan, diantaranya tentang melupakan, tentang perpisahan, tentang sahabat, tentang perasaan atau percintaan.

Mengenai alur cerita yang mengisahkan puluhan tahun kedepan yang dimana membuat para pembaca berimajinasi akan sesuatu yang terjadi di masa depan sesuai dengan keadaan yang diceritakan dalam novel hujan karya Bang Tere, juga banyak hal baru yang bisa diambil dalam novel tersebut.

Novel ini menceritakan tentang perjalanan hidup dan kisah cinta se orang wanita yang bernama Lail. Lail menjadi yatim piatu sejak usianya m asih 13 tahun. Semua bermula saat terjadi bencana gempa bumi dan gun ung meletus yang berangsur-angsur di kota, tempat tinggalnya.

(9)

Letusan Gunung Api Purba melebihi letusan dari Gunung Krakatau dan Gunung Api Tambora. Beruntungnya, ia berhasil ditolong dan diselamatkan oleh seorang anak laki-laki berusia 15 tahun, bernama Esok.

Saat terjadi bencana tersebut Ibu Esok dapat diselamatkan, tetapi kedua kakinya diharuskan diamputasi.

Selama kurang lebih satu tahun dari bencana tersebut, Lail dan Esok tinggal di sebuah pengungsian, keduanya tidak terpisahkan bagaikan kakak dan adik, semua orang pun mengetahui mereka berdua.

Keduanya pun kerap kali membantu petugas pengungsian. Sampai akhirnya, pemerintah memberikan pemberitahuan untuk menutup tempat pengungsian. Hal itulah yang menyebabkan Esok dan Lail menjadi terpisah.

Lain akan menetap di sebuah panti sosial, sementara Esok diangkat menjadi anak oleh salah satu keluarga. Di panti sosial di mana Lail menetap, dirinya mendapat seorang teman, tepatnya teman sekamarnya yang sangat ceria, lucu, dan penuh akan semangat dalam hidupnya bernama Maryam. Maryam mempunyai rambut kribo yang halus dan bersih.

Di panti sosial ada beberapa peraturan yang perlu dipatuhi dan dilaksanakan oleh Lail juga Maryam. Lail yang kadang kala merindukan sosok Esok, membuat mereka berdua mempunyai jadwal pertemuan yang terbilang rutin. Meski hanya satu bulan satu kali, tetapi bagi Lail, hal tersebut adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu dan berarti.

(10)

Pertemuan keduanya sekadar berbagi cerita dari aktivitas atau kegiatan yang biasa masing-masingnya lakukan. Namun, sayangnya, jadwal rutin tersebut terpaksa berubah ketika Esok harus meneruskan pendidikannya di ibu kota. Lail dan Esok hanya berjumpa ketika liburan semester.

Lail mencoba untuk menyibukkan dirinya dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi orang-orang. Kemudian, Lail dan Maryam mendaftarkan dirinya di sebuah organisasi relawan dan mereka adalah relawan yang paling muda.

Tidak hanya itu, keduanya pun mengukir prestasi, salah satunya adalah mereka ditempatkan pada sektor 2 di mana ada dua kota kembar terletak di hulu dan hilir yang dinyatakan berjarak 50 kilometer. Ketika itu, bendungan di hulu retak, lalu bilamana bendungan tersebut jebol, akan menghancurkan dua kota kembar tersebut. Kesibukan yang dijalani Lail membuat dirinya mampu mengalihkan rasa rindunya pada Esok.

Esok setiap kali datang untuk menemui Lail, menaiki sepeda dengan warna merah yang dulu ketika bencana kerap kali mereka gunakan, lalu dilengkapi dengan topi pemberian Lail. Esok menghampirinya tanpa terduga-duga.

Namun, sayangnya, frekuensi pertemuan keduanya pun semakin jarang. Lail dan Esok hanya dapat bertemu selama sekali dalam satu tahun, itu juga apabila Esok tidak sibuk. Lail tidak pernah menghubungi Esok begitupun sebaliknya. Terkadang dirinya menanyakan kabar Esok

(11)

pada ibu Esok begitupun dengan Esok. Usut punya usut, nyatanya keluarga yang mengadopsi Esok merupakan keluarga dari seorang wali kota.

Singkat cerita, Esok yang sedang mengerjakan proyek sebuah kapal luar angkasa, hendak membawa penduduk di bumi ke luar angkasa guna menghindari bencana dahsyat yang dikhawatirkan akan melebihi gunung meletus pada masa itu untuk beberapa tahun. Bencana tersebut, yaitu di mana suhu bumi akan semakin memanas yang diakibatkan kerusakan lapisan stratosfer karena keegoisan para manusia bumi.

Semenjak peristiwa gunung meletus, iklim di bumi sangat tidak terkendali. Para petinggi dari negara mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) guna memecahkan personal tersebut. Akhirnya, para petinggi negara subtropis dan tropis berlomba mengirimkan pesawat hingga berkali-kali untuk mengeluarkan dan menyemprotkan gas anti sulfur dioksida di lapisan stratosfer.

Dalam jangka yang terbilang singkat, hal tersebut memang membuat iklim kembali pulih, tetapi persoalan baru justru muncul. Esok dengan kecerdasan yang dimilikinya pun ikut andil dalam proyek tersebut.

Namun, sangat disayangkan karena penduduk yang dapat pergi dari bumi tidaklah semua, melainkan dipilih secara acak.

Esok memiliki dua tiket dalam kapal tersebut. Hingga suatu hari, wali kota menghampiri Lail dan memohon pada Lail apabila ia diberikan

(12)

tiket oleh Esok, wali kota itu meminta agar tiketnya diberikan pada anaknya, yaitu Claudia.

Terjadilah kesalahpahaman dalam kejadian tersebut.

2.6 Unsur Instrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra it u sendiri (Nurgiyantoro, 1994:23). Pada umumnya para analis sastra cenderung berupaya memahami ide atau gagasan pengarang yang ingin disampaikan pengarang atau dengan kata lain mencari tema suatu kisahan. Untuk memahami tema ini ada berbagai unsur sastra yang perlu ditelaah. Unsur-unsur tersebut, antara lain: tema, penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa dan amanat semua ini dinamakan unsur- unsur intrinsik.

2.6.1 Tema

Tema adalah ide atau gagasan utama dari sebuah novel. Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita, yang berperan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya Aminudin (1995:91).

Tema merupakan suatu inti atau pokok pikiran yang mendasari keseluruhan cerita dalam novel. Pada dasarnya, tema telah dikembangkan menjadi beberapa rangkaian jalan cerita yang memberikan suatu sentuhan perasaan kepada si pembaca, agar bisa merasakan

(13)

keadaan dan suasana di dalam cerita novel tersebut. Contohnya, tema tentang keagamaan, pendidikan, maupun sosial.

2.6.2 Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah suatu pelaku yang bermain dalam cerita Tokoh dala m novel adalah kumpulan orang-orang yang ditampilkan dalam setiap bab ak atau jalannya cerita dari awal hingga akhir Tokoh-tokoh tersebut memili ki pendirian yang berbeda-beda, baik dari segi perwatakan moral yang ad a pada dirinya maupun ekspresi yang dilakukan melalui ucapan ataupun ti ndakannya. Tokoh dibagi menjadi tiga jenis sebagai berikut.

a. Tokoh berdasarkan teknik penyampaian dan citranya dibagi menjad i dua, yaitu dramatik dan analitik.

b. Tokoh berdasarkan pengembangan plot dibagi menjadi dua, yaitu p rotagonis dan antagonis.

c. Tokoh berdasarkan tingkatan peranan dibagi menjadi dua, yaitu tok oh utama dan tokoh tambahan/figuran.

Tokoh adalah pelaku dalam sebuah novel. Sedangkan penokohan merupakan watak atau karakter dari tokoh yang ada dalam cerita novel. B erdasarkan jenis watak, tokoh bisa dibagi menjadi tiga kategori, yakni:

1) Tokoh Protagonis, tokoh pusat dalam cerita. Tokoh utama ini digambarkan sebagai sosok yang baik dan biasanya selalu mendapatkan masalah.

(14)

2) Tokoh Antagonis, tokoh yang menjadi kebalikan dari tokoh ut ama dalam cerita. Tokoh ini digambarkan sebagai sosok yan g tidak bersahabat dan menentang tokoh utama.

3) Tokoh Tritagonis, tokoh yang menjadi penengah antara toko h protagonis dan antagonis. Tokoh ini digambarkan sebagai sosok yang netral.

4) Tokoh tambahan/figuran, merupakan tokoh-tokoh pembantu dalam cerita yang tidak memiliki banyak peran, dan hanya sebagai pewarna dalam cerita.

2.6.3 Alur

Alur cerita adalah rangkaian atau susunan sejak awal hingga akhir.

Artinya alur cerita merupakan struktur rangkaian kejadian-kejadian dalam cerita yang tersusun secara kronologis.

Umumnya, alur dalam novel dibagi menjadi tiga macam, yakni alur maju, alur mundur dan alur campuran.

a. Alur maju

Alur maju menampilkan peristiwa secara runtut mulai dari awal, ten gah sampai akhir. Sebuah cerita yang menggunakan alur maju ini mudah dipahami. Biasanya, cerita-cerita anak menggunakan alur m aju karena memudahkan anak untuk memahami rangkaian ceritany a.

b. Alur mundur

(15)

Alur mundur atau biasa disebut flashback menceritakan peristiwa d ari bagian penyelesaian terlebih dahulu. Biasanya alur mundur dipa kai untuk peristiwa yng latar waktunya adalah masa lalu.

c. Alur campuran

Alur campuran merupakan alur yang ceritanya bergerak secara lon cat (awal-akhir-awal-akhir). Alur ini biasa digunakan dalam dalam n ovel misteri atau novel fantasi.

Untuk membangun pengertian alur cerita yang utuh, diperlukan unsur-unsur di dalam alur cerita dan bagaimana alur cerita seharusnya terjadi di dalam sebuah peristiwa pada karya sastra. Berikut ini merupakan unsur-unsur alur cerita atau tahapan alur cerita dari awal sampai akhir.

1. Tahap Pengenalan (Exposition atau Orientasi)

Adalah tahapan pertama dalam alur cerita. Dalam tahap ini, unsur- unsur dasar cerita seperti tokoh, latar tempat, waktu, dan suasana dihadirkan di tahap ini. Dengan begitu, pembaca atau penonton dapat mengetahui siapa saja yang menjadi tokoh sebuah cerita, di mana dan kapan cerita itu berlangsung, serta suasana apa yang hendak dibangun oleh pengarang di dalam cerita itu.

2. Tingkat Kemunculan Konflik (Rising Action)

Merupakan tahap munculnya konflik dalam cerita. Konflik biasanya muncul dari pertentangan antar tokoh, atau si tokoh utama

(16)

mengalami masalah yang tidak diduga. Dengan adanya tahap ini, pembaca atau penonton akan mengetahui konflik apa yang akan dialami tokoh selama cerita berlangsung. Tahap ini kemudian akan mengantarkan pembaca atau penonton menuju tahap selanjutnya yang lebih rumit dan menegangkan.

3. Tahap Konflik Memuncak (Turning Point atau Klimaks)

Permasalahan yang sudah diperkenalkan di tahap sebelumnya kemudian memuncak di tahap ini. Hal itu membuat sang tokoh mengalami ketegangan dan kesulitan dalam menghadapi konflik yang dia hadapi. Akibatnya, pembaca atau penonton pun menjadi ikut tegang menyimak cerita yang disajikan kepada mereka. Untuk membangun situasi konflik memuncak atau klimaks di tahap ini, bisa menggunakan contoh majas klimaks di dalam penulisan ceritanya.

4. Tahap Konflik Menurun (Antiklimaks)

Permasalahan yang memuncak di dalam suatu cerita mulai menurun di tahap ini. Dalam tahap ini, sang tokoh mulai mengetahui cara mengatasi konflik yang tengah dia hadapi.

Ketegangan yang dialami oleh pembaca atau penonton pun menurun di tahap ini. Ketegangan tersebut pelahan berubah menjadi kekaguman. Hal itu terjadi karena para pembaca atau

(17)

penonton terkesima karena sang tokoh berhasil menyelesaikan masalah yang tengah dia hadapi dengan cara yang tak terduga.

Dalam penulisan tahap ini, pengarang bisa menggunakan contoh majas antiklimaks untuk memperkuat suasana konflik yang kian menurun atau antiklimaks.

5. Tingkat Resolusi (Resolusi)

Di tahap ini, semua masalah yang tersaji di dalam cerita sudah terselesaikan. Tidak ada konflik lanjutan karena semua konflik sudah diselesaikan oleh sang tokoh di dalam cerita yang disajikan.

Di tahap ini, pembaca atau penonton bisa menyimpulkan kesan yang mereka dapat dari cerita tersebut, sekaligus pesan atau amanat di balik cerita tersebut.

2.6.4 Latar

Latar atau setting adalah gambaran tentang peristiwa-peristiwa yang ada dalam cerita. Latar adalah salah satu unsur pembangun cerita yang vital. Adapun latar dibagi menjadi tiga, yaitu latar tempat, yang pada dasarnya menunjukkan tempat disuatu cerita, latar waktu dan suasana.

a. Latar tempat

Latar tempat adalah penunjukan lokasi terjadinya sebuah peristiwa.

Misalnya di taman, di sekolah, di dalam gedung, di terminal, di rumah, di pesawat, dan lain-lain.

(18)

b. Latar waktu

Latar waktu adalah latar dimana tokoh dalam cerita melakukan sesuatu pada saat terjadinya peristiwa. Contohnya pagi hari, siang hari, malam hari, masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.

c. Latar suasana

Latar suasana merupakan situasi yang terjadi ketika tokoh atau pelaku dalam cerita melakukan suatu hal, seperti perasaan gembira, lelah, sedih, marah, kecewa, dan sebagainya.

2.6.5 Sudut pandang

Sudut pandang atau point of view adalah suatu pandangan penulis tentang siapa yang bercerita. Sudut pandang dibagi menjadi dua macam, yaitu sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga.

Orang pertama dicirikan sebagai cara penyampaian melalui kata-kata aku atau saya secara langsung dalam cerita. Adapun orang ketiga merupakan suatu penyampaian cerita dengan penulis berada di sisi luar cerita.

Sudut pandang adalah cara pandang seorang pengarang dalam menyampaikan cerita novelnya. Secara umum, terdapat dua jenis sudut pandang, yakni sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang sendiri bisa dibagi menjadi empat macam, yaitu:

a. Sudut pandang orang pertama – sebagai pelaku utama.

b. Sudut pandang orang pertama – sebagai pelaku sampingan.

c. Sudut pandang orang ketiga – serba tahu.

(19)

d. Sudut pandang orang ketiga – sebagai pengamat.

2.6.6 Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah cara khas seorang pengarang dalam mengungkapkan ide atau gagasannya melalui cerita. Dengan kata lain, gaya bahasa adalah cara pengarang mengungkapkan gagasannya melalui bahasa yang digunakannya. Pengarang memilih kata-kata yang tepat dan menyusun kalimat dengan menggunakan gaya tertentu sesuai dengan ciri khas kepribadiannya.

2.6.7 Amanat

Amanat adalah sebuah pesan tertentu yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui cerita dalam novel. Amanat bisa berupa kritik sosial, ajakan, protes dan lain sebagainya. Amanat umumnya dibagi menjadi dua:

a. Tersurat, disampaikan dengan jelas.

b. Tersirat, disampaikan secara tersembunyi.

2.7 Unsur Ekstrinsik

Selain unsur-unsur dimaksud terdapat pula unsur-unsur ekstrinksik.

Untuk analisis unsur terakhir ini biasanya terdapat nilai yang ada dalam Masyarakat. Nilai-nilai ini sering diangkat oleh pengarang dalam ceritanya.

Bisa nilai agama, politik, sosial, budaya dan lain sebagainya.

(20)

a. Nilai sosial adalah nilai yang dilihat dari sudut pandang hubungan manusia atau masyarakat.

b. Nilai agama adalah nilai yang dilihat dari sudut pandang seseorang berdasarkan hubungannya dengan Tuhan.

c. Nilai moral adalah nilai yang dilihat dari sudut pandang kepribadian atau sikap seseorang dalam menyikapi suatu masalah.

d. Nilai budaya adalah nilai yang dilihat dari sudut pandang kebiasaan, adat istiadat, kepercayaan oleh masyarakat setempat.

Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun cerita di luar karya sastra itu. Meskipun unsur ini berada di luar karya sastra namun secara tid ak langsung unsur ekstrinsik mempengaruhi totalitas cerita yang dibangun oleh pengarang. Menurut Wellek dan Weren (2013: 71).

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil analisis penokohan yang telah dilakukan terhadap tokoh-tokoh dalam novel yang berjudul Pukat (Serial Anak-anak Mamak) karya Tere Liye dapat

Terkait dengan fenomena adanya kemiripan alur dan tema dalam beberapa novel, penelitian ini akan melihat sejauh mana keterkaitan cerita dalam novel Senja, Hujan, dan

1) memeriksa data yang telah digunakan dari novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye; 2) menyusun hasil pemeriksaan data, 3) mengklasifikasikan tokoh dan penokohan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan aspek emosi tokoh utama Lail dan untuk mendiskripsikan dampak positif dan negatif aspek emosi tokoh utama Lail

Metode penelitian deskriptif kualitatif penulis jadikan sebagai metode penelitian untuk menganalisis nilai emosi pada tokoh Lail dalam novel Hujan karya Tere Liye

Fokus kajian dalam penelitian ini adalah analisis bentuk stilistika dalam novel Hujan karya Tere Liye dengan sub fokus kajiannya berupa bahasa figuratif (majas perbandingan dan

Dalam novel Hafalan Sholat Delisa karya Tere Liye yang akan penulis teliti, (1) unsur intrinsik yang meliputi tema, tokoh dan penokohan, alur, latar dan amanat, (2)

Hasil penelitian menunjukkan terdapat tokoh dan penokohan, konflik batin tokoh utama dan bentuk psikologi novel Janji Karya Tere Liye Kebutuhan Fisiologis, Kebutuhan Akan Rasa Aman,