• Tidak ada hasil yang ditemukan

ORIENTASI POLITIK MASYARAKAT PEMILIH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "ORIENTASI POLITIK MASYARAKAT PEMILIH"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Bagaimana orientasi politik PKL di Kecamatan Manggala Kota Makassar pada Pilpres 2014? Faktor Apa yang Mempengaruhi Orientasi Politik PKL di Kecamatan Manggala Kota Makassar pada Pilpres 2014.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Pedagang Kaki Lima

Pemilihan umum

Beroperasinya lembaga politik yang dikenal dengan nama pemilu lebih erat kaitannya dengan perang dibandingkan lembaga lainnya, dan merupakan arena yang paling sering mengadopsi konsep dan metode perang, sehingga politik adalah perang dan hiruk pikuk perang menjadi hiruk pikuk. , kegilaan politik. Konsep-konsep seperti “strategi dan taktik” dan teknik-teknik untuk mengekspresikan emosi politik dapat dikatakan dipahami secara harfiah dalam kosa kata umum pemilu dan dicoba untuk digunakan seefektif mungkin. Karena kedekatan konsep pemilu dan perang, maka pemilu merupakan lembaga yang selalu memerlukan konstruksi pengetahuan, body of knowledge.

Secara teoritis, pemilihan umum merupakan salah satu ciri sistem politik demokratis, dalam artian lembaga pemilu dan badan legislatif yang dihasilkannya merupakan satu-satunya penghubung yang sah antara rakyat dan pemerintah dalam masyarakat modern. Pertama, penyelenggaraan pemilu harus memberikan kesempatan penuh kepada seluruh partai politik untuk berkompetisi secara bebas, jujur, dan adil. Hubungan antara pemilu dan sirkulasi elit didasarkan pada asumsi bahwa elit berasal dan bertugas mewakili masyarakat luas.

Secara teoritis, keterkaitan pemilu dan sirkulasi elit dapat dijelaskan dengan melihat proses mobilitas para elit atau non-elit yang memanfaatkan institusi politik, pemerintah, dan lembaga masyarakat seperti DPR, partai politik, dan organisasi kemasyarakatan untuk menjadi anggota elit. Dengan demikian, pemilu diharapkan mampu melakukan pergantian atau pergantian elite penguasa secara kompetitif dan demokratis. Pemilihan Umum merupakan salah satu bentuk pendidikan politik bagi masyarakat yang bersifat langsung, terbuka, massal dan diharapkan dapat mendidik pemahaman politik serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap demokrasi.

Teori perilaku pemilih

Hal ini tidak hanya menentukan nasib pejabat publik dan kebijakan yang akan mereka ambil, namun juga keberlanjutan dan kualitas demokrasi secara keseluruhan. Perilaku memilih adalah tindakan seseorang yang turut serta memberikan suara pada orang, partai politik, atau isu publik tertentu. Lebih spesifiknya, perilaku memilih adalah partisipasi dalam pemilihan umum, pemilihan partai politik tertentu, pemilihan calon jabatan politik tertentu, dan pemilihan isu-isu publik tertentu.

Dalam kajian perilaku memilih, secara umum setidaknya terdapat tiga model untuk menjelaskan permasalahan perilaku memilih, yang kemudian akan menjelaskan arah orientasi politik PKL: model sosiologi, model psikologis, dan model ekonomi-politik. model atau teori pilihan rasional (rational choice theory). ). a) Model Sosiologis (Columbian School of Electoral Behavior) Model Sosiologis adalah yang paling awal dalam tradisi studi perilaku memilih. Pertanyaan mengenai model sosiologi muncul mengenai mekanisme bagaimana faktor sosiologi tersebut mempengaruhi perilaku memilih. Bagaimana kedudukan kelas sosial, sentimen keagamaan, sentimen etnis, sentimen rasial, atau sentimen kedaerahan berhubungan dengan keputusan untuk memilih partai politik atau calon pejabat publik tertentu.

Faktor sosiologis tersebut tidak dapat mempengaruhi keputusan memilih secara langsung, namun dimediasi oleh persepsi dan sikap. dan calon pejabat publik. Identitas partai politik inilah yang memediasi faktor-faktor tersebut dengan opini dan sikap terhadap partai politik, calon pejabat publik, isu-isu politik terkait, dan keputusan untuk memilih partai atau calon pejabat publik tertentu. Pertemuan antara posisi atau preferensi pemilih terhadap suatu isu dengan posisi kandidat atau partai politik terhadap isu yang sama menentukan perilaku memilih seseorang.

Kerangka Pikir

Berdasarkan Tabel 11, rangkuman jawaban responden mengenai partisipasi aktif responden mengikuti dialog capres dan pemasangan poster cawapres pada masa kampanye adalah sebesar 59,75 persen. Melihat nilai rata-rata sebesar 2,03 maka dapat disimpulkan bahwa perilaku PKL dalam menolak memberikan imbalan terhadap pemilihan calon presiden dan wakil presiden tertentu menjelang pemilu adalah kurang baik. b) Perilaku PKL dalam melaporkan pelanggaran pemilu kepada Panwaslu. Berdasarkan Tabel 17, rangkuman jawaban responden mengenai dukungan calon presiden dan wakil presiden yang berasal dari daerah yang sama dan kemampuan memimpin calon presiden dari daerah yang sama adalah sangat baik.

Melihat nilai rata-rata sebesar 1,84 maka dapat disimpulkan bahwa komitmen calon wakil presiden terhadap peningkatan kesejahteraan PKL kurang baik. B). Berdasarkan tabel 20, ringkasan tanggapan responden terhadap komitmen capres dan cawapres terhadap peningkatan kesejahteraan pedagang kaki lima dan janji politik untuk menentukan pilihan beberapa capres dan cawapres dengan skor rata-rata 2,04 dan rata-rata persentase sebesar 51,12 persen. Melihat nilai rata-rata sebesar 2,12, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian uang untuk menyeleksi calon wakil presiden tertentu sebelum pemilu presiden adalah tindakan yang kurang baik.

Dari data tabel 22 di atas terlihat bahwa respon responden terhadap sembako yang diberikan untuk memilih calon presiden dan wakil presiden tertentu menjelang pemilu, terlihat dari 85 responden terdapat 46 responden dengan persentase sebesar 30,06 persen mengaku. tidak secara teratur tidak Mengingat kebutuhan dasar untuk memilih calon presiden dan wakil presiden tertentu sebelum pemilu, 19 responden dengan 24,83 persen mengaku kurang sering diberikan. Melihat skor rata-rata sebesar 1,8 maka dapat disimpulkan bahwa respon responden terhadap rutin mendapatkan sembako untuk memilih calon presiden dan wakil presiden tertentu menjelang pemilu adalah kurang baik. Berdasarkan tabel 23, rangkuman jawaban responden memberikan uang untuk memilih calon presiden dan wakil presiden sebelum pemilu dan memberikan sembako untuk memilih calon presiden dan wakil presiden tertentu sebelum pemilu adalah kurang baik.

Defenisi Operasional

METODE PENELITIAN

Jenis dan Dasar Penelitian

Jenis Data

Yaitu data yang diperoleh langsung dari responden dan informan melalui wawancara langsung dan terbuka sesuai dengan yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Yaitu data yang bersumber dari buku-buku, literatur dan dokumen-dokumen yang diperlukan sesuai dengan tujuan penelitian ini.

Populasi dan Sampel

Teknik Pengumpulan Data

Teknik ini dimaksudkan untuk melengkapi informasi yang belum lengkap yang diperoleh dari kuesioner, dan juga dapat digunakan sebagai alat pengecekan terhadap data yang meragukan atau kurang jelas dengan melakukan wawancara langsung pada sejumlah pedagang kaki lima di Kecamatan Manggala Kota Makassar. Merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan bahan-bahan berupa buku, dokumen atau bahan pustaka lainnya yang berkaitan dengan objek yang diteliti yaitu mengenai orientasi politik PKL di Kecamatan Manggala Kota Makassar dengan tujuan untuk memperoleh objek yang mendukung. kelengkapan penelitian.

Teknik Analisis Data

Skala Likert dikembangkan oleh Rensis Likert (1932) yang paling sering digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi responden terhadap suatu objek. Tidak tahu / tidak tahu / tidak aktif / tidak sering / tidak mendukung / tidak bisa mengelola / tidak melakukan /.

Tabel 1: Klasifikasi Skor
Tabel 1: Klasifikasi Skor

Jadwal penelitian

Dari data tabel 7 diatas terlihat jawaban responden tentang pengetahuan calon presiden yang akan dipilih terlihat dari 85 responden, responden sangat mengenal calon presiden yang akan dipilih, mengetahui sedikit dan 9 orang (5,02%) tidak mengetahui calon presiden yang akan dipilih. Dengan skor rata-rata sebesar 2,29, partisipasi responden dalam memantau aktif dialog capres dan cawapres dinilai baik. b) Partisipasi PKL dalam memasang poster calon presiden pada masa kampanye. Dapat disimpulkan bahwa partisipasi aktif responden dalam mengikuti dialog capres dan cawapres serta partisipasi pedagang kaki lima dalam pemesanan poster capres dan cawapres cukup baik.

Dari data Tabel 12 di atas terlihat bahwa tanggapan responden terhadap penolakan pemberian reward terhadap pemilihan calon presiden tertentu sebelum pemilu presiden terlihat dari 85 responden, sering ditolak sebanyak 11 responden sebesar 25,43 persen, sering ditolak sebanyak 16 responden sebesar 27,74 persen. . Kadang-kadang menolak sebanyak 23 responden dengan persentase 26,58 persen, ada yang tidak menolak memberikan imbalan atas pemilihan calon presiden dan wakil presiden tertentu sebanyak 35 responden dengan persentase 20,23 persen. Dari data Tabel 13 di atas terlihat bahwa tanggapan responden terhadap pelaporan penipuan ke Panwaslu terlihat dari 85 responden, 65 responden dengan 58,03 persen tidak melaporkan, 13 responden dengan 23,21 persen melaporkan kadang-kadang, 7 responden dengan 18,75 persen. persen dilaporkan. padahal seringkali tidak ada yang dilaporkan. Berdasarkan Tabel 14, rangkuman jawaban responden terhadap perilaku menolak memberi imbalan menjelang pemilu presiden dan melaporkan pelanggaran pemilu ke Panwaslu adalah sebesar 41,75 yang artinya perilaku menolak memberi imbalan pada pemilihan presiden dan wakil presiden tertentu -terpilih - Calon presiden sebelum pemilu dan melaporkan pelanggaran pemilu ke Panwaslu dianggap buruk.

Dari data tabel 15 diatas terlihat tanggapan responden mendukung cawapres dari daerah yang sama terlihat dari 85 responden, sebanyak 48 responden dengan persentase 64,11 persen sangat mendukung calon wakil presiden dari daerah yang sama. , 28 responden dengan 29,26 persen mendukung calon wakil presiden dari daerah yang sama, 8 responden dengan 8,55 persen kurang mendukung calon wakil presiden dari daerah yang sama, dan 3 responden dengan 1,04 persen tidak mendukung calon wakil presiden yang datang. dari wilayah yang sama. dapat disimpulkan bahwa dukungan terhadap calon wakil presiden yang berasal dari daerah yang sama sangat baik. b) Menurut PKL, calon presiden yang berasal dari daerah yang sama bisa memimpin dengan baik. Dapat disimpulkan bahwa dukungan calon presiden dan wakil presiden yang berasal dari daerah yang sama dan kemampuan memimpin calon wakil presiden yang berasal dari daerah yang sama sangat baik. Dari data tabel 18 diatas terlihat bahwa tanggapan responden terhadap komitmen capres terhadap peningkatan kesejahteraan PKL terlihat dari 85 responden, 35 responden dengan 22,29 persen menyatakan capres dan cawapres tidak. berkomitmen meningkatkan kesejahteraan PKL, sebanyak 32 responden dengan persentase 40,76 persen menyatakan calon presiden dan wakil presiden tidak berkomitmen meningkatkan kesejahteraan PKL. PKL dan 4 responden sebesar 10,19 persen menyatakan pasangan capres dan cawapres berkomitmen meningkatkan kesejahteraan PKL.

Dari data tabel 19 diatas terlihat bahwa reaksi responden terhadap janji politik untuk menentukan pilihan calon presiden dan wakil presiden tertentu terlihat dari 85 responden, sebanyak 29 responden dengan 30,20 persen menyatakan bahwa janji politik presiden dan wakil presiden dan wakil presiden tertentu. calon calon presiden kurang tegas dalam memilih calon presiden dan wakil presiden, 24 responden dengan persentase 12,5 persen menyatakan bahwa janji calon presiden dan wakil presiden tidak menentukan apakah calon wakil presiden tertentu harus dipilih, 18 responden dengan persentase 28,12 persen menyatakan bahwa janji calon presiden dan wakil presiden menentukan apakah mereka akan memilih calon wakil presiden tertentu, dan 14 responden dengan persentase 29,16 persen menyatakan berjanji. Pasangan calon presiden dan wakil presiden sangat menentukan dalam memilih calon presiden dan wakil presiden tertentu. Dari data tabel 21 di atas terlihat bahwa reaksi responden terhadap pemberian uang untuk memilih calon presiden tertentu sebelum pemilu presiden terlihat pada 85 responden, sebanyak 41 responden dengan 45,30 persen mengaku tidak sering melakukannya. memberikan uang untuk memilih calon presiden tertentu sebelum pemilu, 20 responden dengan 11,04 persen mengaku tidak diberikan uang untuk memilih calon wakil presiden tertentu sebelum pemilu, 17 responden dengan 28,17 persen mengaku sering memberikan uang untuk memilih calon wakil presiden tertentu calon sebelum pemilu dan 7 responden dengan persentase 15,46 persen mengaku sangat sering diberikan uang untuk memilih calon presiden dan wakil presiden tertentu sebelum pemilu.

Tabel 3:Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin  No.  Jenis Kelamin  Jumlah   Persentase
Tabel 3:Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No. Jenis Kelamin Jumlah Persentase

HASIL DAN PEMBAHASAN

Orientasi Politik PKL dalam Pemilihan Presiden 2014

  • Sosialisasi Pemilihan Presiden terhadap PKL
  • Partisipasi PKL Terhadap Pemilihan Presiden 2014
  • Perilaku PKLdalam Pemilihan Presiden 2014

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Orientasi Politik PKL

  • Faktor Sosiologis

Gambar

Tabel 22.  Pemberian sembako jelang pemilu untuk memilih calon tertentu ..    54  Tabel 23
Tabel 1: Klasifikasi Skor
Tabel 2 : Jadwal Penelitian
Tabel 3:Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin  No.  Jenis Kelamin  Jumlah   Persentase
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengaturan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima, selama ini ada anggapan bahwa penggunaan tanah negara untuk kepentingan Pedagang Kaki Lima khususnya di Kecamatan

Dari tabel 1.4 di atas terungkap bahwa faktor yang mendorong tumbuh dan meluasya tingkat orientasi politik masyarakat etnis Tionghoa di Kota Pontianak dalam

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi peraturan daerah terhadap Pedagang Kaki Lima di pasar (studi kasus pada Pedagang Kaki Lima Pasar Projo Ambarawa,

Keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang demikian, membuat pemerintah Kecamatan Sukolilo untuk melakukan pemberdayaan terhadap para pedagang kaki lima di kota surabaya

Dari hasil penelitian diketahui bahwa fenomena partisipasi politik pedagang kaki lima binaan pemerintah kota di Surabaya Selatan pada pemilihan kepala daerah

Dari fenomena aktivitas pedagang kaki lima yang terjadi pada Gasibu Bandung, dan tiga kota lainnya sebagai komparasi, diketahui bahwa keberadaan pedagang kaki lima pada ruang

Dalam masyarakat adat, tokoh merupakan sosok yang dianggap sebagai panutan. Sehingga orientasi politik yang dimiliki oleh tokoh adat memberikan pengaruh yang cukup

Dari uraian diatas maka penulis akan mengajukan penelitian dengan judul “Rasionalitas Orientasi Politik Masyarakat Nelayan di Kabupaten Majene pada Pemilihan Umum