KASUS
1. Jika kita membeli Pertamax 92 di SPBU Shell di Bintaro Sektor 9, Tangerang Selatan seharga Rp12.190,00/liter maka hitunglah berapa unsur Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dan Pajak Pertambahan Nilai yang terkandung didalamnya? Berapakah PPh yang terutang?
Jawab:
Harga Pertamax 92 = Rp12.190/liter
PPN = 11/116 x Rp12.190/liter = Rp1.155,94 PBBKB[1] = 5/116 x Rp12.190/liter = Rp525,43 DPP = 100/116 x Rp12.190/liter = Rp10.508,62 PPh 22[2] = 0,3% X Rp10.508,62 = Rp31,52
---
[1] Tarif PBBKB menurut Surat Edaran Gubernur Banten No. SE-2/2024)
[2] Tarif PBBKB menurut Surat Edaran Gubernur Banten No. SE-2/2024)
2. Mempertimbangkan besarnya pengaruh negatif rokok terhadap masyarakat, pemerintah berusaha mengurangi kebiasaan merokok pada masyarakat dengan menggunakan sistem hybrid dalam menghitung cukai. Sistem hybrid adalah menggabungkan penggunaan sistem tarif cukai secara spesifik per batang rokok dengan tarif advalorum (berdasarkan persentase dari harga dasar).
Hitunglah berapa pajak rokok yang harus dibayar atas penjualan 10.000 batang rokok dengan tarif cukai spesifik Rp 200/batang rokok dan tarif advalorum 40% dari harga dasar per batang rokok. Harga dasar per batang rokok adalah Rp 1.500/ batang.
Jawab:
---[ Cukai Rokok ]---
Cukai Rokok = Tarif Cukai Spesifik x Jumlah Penjualan
= Rp200/batang x 10.000 batang
= Rp2.000.000,00
---[ Pajak Rokok ]---
Pajak Rokok = Tarif Advalorum x Harga Dasar per Batang Rokok x Jumlah Penjualan
= 40% x Rp 1.500/batang x 10.000 batang
= Rp6.000.000,00
---[ Pajak Rokok - Tarif Ad Valorem ]---
Pajak Rokok = Tarif Advalorum x Harga Dasar per Batang Rokok x Jumlah Penjualan
= 40% x Rp1.500/batang x 10.000 batang
= Rp6.000.000,00
---[Total Pajak Rokok]---
Total Pajak Rokok = Cukai Rokok + Pajak Rokok (dengan tarif advalorum)
= Rp2.000.000,00 + Rp6.000.000,00
= Rp8.000.000,00
---[Pajak Pertambahan Nilai Rokok]---
PPN[1] = Tarif PPN x Harga Dasar per Batang Rokok x Jumlah Penjualan
= 9,9% x Rp 1.500/batang x 10.000 batang
= Rp 1.485.000
---
[1] PPN Rokok (tarif diambil dari PMK 63/2022)
3. Sebuah Penyedia/importir bahan bakar kendaraan bermotor pada bulan November 2024 mempunyai data penjualan sebagai berikut :
No Produk Jumlah (liter) Harga per liter (Rp)
1 Premium 45.500 6.900
2 Pertalite 39.340 7.860
3 Pertamax 92 12.600 9.900
4 Pertamax Dex 8.450 10.860
5 Bio Solar 6.725 9.780
Harga per liter termasuk PPN 11% dan PBBKB 10%. Saat pembayaran adalah tanggal 10 bulan berikutnya dan saat pelaporan adalah tanggal 20 bulan berikutnya.
Pertanyaan :
a. Berapa PBBKB atas penjualan bahan bakar di atas?
Jawab :
No Produk Jumlah (liter) Harga per liter
(Rp) Jumlah PBBKB (Rp)
(a) (b) (c) (d) (e) = (c) x (d) x (10/121)
1 Premium 45.500 6.900 25.946.281,00
2 Pertalite 39.340 7.860 25.554.744,00
3 Pertamax 92 12.600 9.900 10.309.091,00
4 Pertamax Dex 8.450 10.860 7.584.049,60
5 Bio Solar 6.725 9.780 5.435.578,50
Keterangan:Rumus PBBKB= (10/121) * Jumlah (liter) * Harga per liter
b. Apabila setelah dilakukan pemeriksaan ternyata ada kesalahan penghitungan yaitu seharusnya Pertamax Dex adalah sebanyak 10.425 liter dan Bio Solar sebanyak 8.325 liter. Jika anda sebagai pemeriksa pajak daerah, maka apa yang akan anda lakukan?
Jawab :
Pemeriksa pajak dapat melakukan penagihan atas kesalahan dengan SKPDKB beserta sanksi administratif sesuai dengan berapa lama sejak disampaikannya SPTPD.
c. Berapakah jumlah yang harus dibayar oleh Wajib Pajak tersebut?
Jawab :
No Produk Jumlah
(liter)
Harga per liter (Rp)
Jumlah Penjualan
(Rp)
Jumlah PBBKB (Rp)
setelah koreksi
(a) (b) (c) (d) (f) = (c) x (d) (g)
1 Premium 45.500 6.900 313.950.000 25.946.281
2 Pertalite 39.340 7.860 309.212.400 25.554.744
3 Pertamax 92 12.600 9.900 124.740.000 10.309.091
4 Pertamax
Dex 10.425 10.860 113.215.500 9.356.652,9
5 Bio Solar 8.325 9.780 81.418.500 6.728.801,7
Jumlah 942.536.400 61.810.116
d. Apakah terdapat PPh yang dapat ditagih?
Jawab :Ya, sebesar Rp2.356.341
PPh 22 = 0,25% x Rp942.536.400 = Rp2.356.341 Ya, sebesar Rp2.356.341