• Tidak ada hasil yang ditemukan

pandangan hukum islam terhadap ketentuan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pandangan hukum islam terhadap ketentuan"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Konteks Penelitian

Berdasarkan KUH Perdata disebutkan bahwa wasiat tidak cukup dibuat hanya dengan perkataan atau ungkapan orang yang meninggal, melainkan wasiat harus dibuat dalam bentuk tertulis (akta). Namun pembuatan wasiat atau wasiat tidak selalu dapat dilakukan atau dibuat dihadapan Notaris. Pasal 946 menyatakan bahwa dalam keadaan perang, prajurit yang sedang berperang diperbolehkan membuat surat wasiat di hadapan seorang perwira berpangkat letnan di hadapan dua orang saksi.

Oleh karena itu, seseorang yang ingin membuat surat wasiat akan kesulitan untuk membuat surat wasiat di depan notaris. Namun karena terdapat perbedaan dalam pembuatan surat-surat tersebut, maka KUH Perdata memberikan batasan tersendiri mengenai pembuatan surat wasiat tanpa notaris. Sedangkan pendapat Imam Malik mengenai pembuatan wasiat ketika menderita suatu penyakit menular adalah wasiat tersebut tetap sah selama pewaris tidak mencabut wasiatnya.

Fokus penelitian

Tujuan Penelitian

Mengetahui pandangan hukum Islam mengenai ketentuan batalnya wasiat pada masa pandemi COVID-19 berdasarkan Pasal 950 ayat. 1, dalam KUHPerdata.

Manfaat Penelitian

Ini merupakan pengalaman pertama yang sangat berarti dan dapat menambah wawasan serta pengetahuan khususnya mengenai ketentuan hilangnya kekuatan hukum wasiat pada masa pandemi COVID-19.

Definisi Istilah

Berkekuatan hukum berarti suatu putusan sah atau dianggap sah, oleh karena itu putusan tersebut mempunyai kekuatan hukum yang berarti putusan tersebut dapat mempengaruhi hubungan hukum. Pandemi adalah situasi dimana suatu penyakit telah menyebar di berbagai wilayah dan menginfeksi wilayah demografis yang cukup luas. Pandemi merupakan suatu penyakit endemik yang telah menyebar ke seluruh negara atau benua dan umumnya menginfeksi banyak orang di negara tersebut.

Umumnya seseorang yang terjangkit virus ini mengidap penyakit pernafasan menular seperti influenza dan penyakit yang masuk dalam kategori penyakit serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). 17.

Sistematika Pembahasan

Pandangan Hukum Islam terhadap ketentuan hilangnya kekuatan hukum wasiat yang dibuat pada masa pandemi Covid-19 (analisis KUH Perdata Pasal 950 Ayat 1)";.

TINJAUAN PUSTAKA

Penelitian Terdahulu

Sedangkan penelitian saat ini menganalisis tentang kekuatan hukum pembuatan surat wasiat darurat dan menganalisis pasal 950 ayat 1 KUHPerdata. Fanny Kurniasari, 21 “Analisis Peradilan Terhadap Kekuatan Hukum Wasiat Atas Warisan Dalam Perspektif Kompilasi Hukum Islam dan KUHPerdata” (disertasi: Universitas Islam Malang, 2020). Dengan rumusan masalah a) Bagaimana konsep wasiat ditinjau dari Kompilasi Hukum Islam dan KUHPerdata. Dapat disimpulkan bahwa jika dilihat dari sudut Kompilasi Hukum Islam dan KUHPerdata, wasiat mempunyai beberapa persamaan dan perbedaan diantara keduanya.

Sedangkan penelitian kali ini menganalisis kekuatan hukum wasiat darurat dan menganalisis Pasal 950(1). 1, dalam KUHPerdata. Disimpulkan bahwa KUH Perdata dan KHI mempunyai persamaan dan perbedaan dalam pengaturan hibah dan wasiat. Perbedaan hasil penelitian terdahulu adalah menganalisis perbandingan hibah dan wasiat dalam KUH Perdata dan KHI.

Kajian Teori

  • Tinjauan Umum Wasiat
  • Wasiat dalam KUH Perdata
  • Sejarah KUH Perdata
  • Gambaran Umum COVID-19
  • Pasal 950 Ayat 1 KUH Perdata

20 . kali ini mengenai kekuatan undang-undang wasiat darurat dan analisis artikel 950 perenggan 1 Kanun Sivil. Orang yang menerima wasiat (al-musha lah), 3) barang/harta yang diwasiatkan (al-musha bih), 4) ketinggian atau penerimaan wasiat. Ulama bersepakat bahawa orang yang berwasiat adalah orang yang mempunyai hak milik penuh terhadap harta yang akan diwasiatkan.

Manakala penerimaan ialah pengisytiharan orang yang menerima wasiat sebagai tanda persetujuannya dan penerimaan wasiat tersebut. Wasiat juga boleh menjadi tidak sah jika orang yang memberi wasiat tidak kompeten untuk bertindak secara sah atau walaupun pewasiat bukanlah orang yang berhak mendapat barang yang akan diwarisi. Kematian orang yang menerima wasiat sebelum orang yang memberi wasiat juga boleh membatalkan wasiat atau pemusnahan barang yang akan diwasiatkan sebelum barang itu benar-benar diterima oleh orang yang menerima wasiat.

Anak di bawah umur yang belum mencapai umur delapan belas tahun tidak diperbolehkan membuat surat wasiat.” Aturan pembuatan wasiat terdapat dalam Pasal 931 KUH Perdata. Wasiat hanya dapat dibuat dengan akta grafis, akta umum, atau akta tertutup atau rahasia. Menurut Pasal 940 KUH Perdata, wasiat rahasia adalah wasiat yang dibuat secara mandiri oleh orang yang akan meninggalkan wasiat, tetapi tidak boleh ditulis dengan tangannya sendiri.

Sejak munculnya kasus pertama di Indonesia hingga 15 September 2022, sudah ada 6.402.686 orang Indonesia yang terjangkit virus ini dan 157.849 orang meninggal.56. Pasal 947 menyatakan bahwa orang yang sedang dalam perjalanan laut dapat membuat wasiat di hadapan nakhoda kapal atau nakhoda di hadapan dua orang saksi. Kemudian, dalam Pasal 948 dijelaskan bahwa seseorang dapat membuat wasiat tanpa kehadiran notaris, apabila ia berada di tempat yang terdapat wabah penyakit atau penyakit menular lainnya, dengan membuat wasiat di hadapan notaris. petugas publik di hadapan dua orang saksi.

Wasiat yang dibuat tanpa kehadiran Notaris akan kehilangan kekuatan hukumnya jika pewasiat meninggal dunia dalam waktu enam bulan dari akhir alasan pembuatan wasiat. Sekiranya pewasiat meninggal dunia selepas 6 bulan selepas tamat sebab-sebab membuat wasiat, iaitu tamatnya perang, tamatnya pelayaran laut dan hilangnya penyakit berjangkit, wasiat yang dibuat sebelum ini dalam keadaan sedemikian tidak akan sah. . Kemudian disebabkan wasiat tidak sah, menurut Asser-Meyers, pembatalan wasiat tidak perlu dilakukan oleh sesiapa pun.59 Ini bermakna wasiat ini akan terbatal dengan sendirinya selepas lenyapnya peristiwa yang menyebabkan penciptaannya. . daripada kehendak itu.

METODE PENELITIAN

Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pertama, pendekatan undang-undang (statutorypendekatan) dengan menganalisis seluruh peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan permasalahan hukum yang diteliti dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya keterkaitan antara suatu undang-undang dengan peraturan perundang-undangan lainnya, berkaitan dengan kekuasaan Undang-undang tentang wasiat. dibuat pada masa pandemi COVID-19 yaitu dalam KUHPerdata, KHI dan hukum Islam. Kedua, pendekatan komparatif yaitu dengan membandingkan suatu kaidah dengan kaidah yang lain, yang dalam penelitian ini adalah kaidah mengenai kekuatan hukum wasiat yang dibuat pada masa pandemi COVID-19 dalam KUH Perdata, KHI dan Hukum Islam. Ketiga, pendekatan konseptual, yaitu dengan mengkaji pandangan dan doktrin hukum mengenai kekuatan hukum wasiat yang dibuat pada masa pandemi COVID-19.

Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, dimana peneliti dalam penelitian ini mengumpulkan data dari perpustakaan dan literatur yang ada.

Sumber Data

Teknik Pengumpulan Data

Metode Analisis Data

Peruntukan kehilangan kuasa undang-undang dalam wasiat yang dibuat semasa pandemik COVID-19 berdasarkan undang-undang sivil Perkara 950 perenggan 1. Wasiat yang dibuat dalam keadaan di atas mesti ditandatangani oleh pewasiat dan mesti dimasukkan dalam akta untuk sebab-sebab - kerana apabila saksi atau pewasiat tidak boleh menandatangani wasiat (Perkara 949 Kanun Sivil). Keadaan apabila seseorang itu bermusafir di laut, dalam hal ini undang-undang memberi peluang kepada mereka yang ingin berwasiat.

Surat wasiat yang dibuat di tempat yang terisolasi karena penyakit menular dan keadaan yang ada resiko kematian. 71 Soesilo & Pramudj R, KUHPerdata, 222. wewenang), dalam hal ini undang-undang memberikan kesempatan kepada mereka yang hendak membuat wasiat dengan cara membuat wasiat di hadapan pejabat umum setempat dan dihadirkan dua orang saksi. Alasan dibuatnya wasiat tersebut harus dicantumkan dalam akta.

Walau bagaimanapun, wasiat yang dibuat di bawah syarat-syarat tertentu akan menyebabkan wasiat kehilangan kuasa undang-undang jika pewasiat meninggal dunia dalam tempoh enam bulan selepas penyakit berjangkit (COVID-19) berakhir. Wasiat yang dibuat semasa pandemik COVID-19 telah ditulis oleh orang yang membuat wasiat, ditandatangani oleh pewasiat sendiri, yang sedang dalam proses disediakan di hadapan pegawai kerajaan. Pandangan undang-undang Islam terhadap peruntukan kehilangan kuasa undang-undang dalam penggubalan wasiat semasa pandemik Covid-19 berdasarkan artikel 950 perenggan 1 kanun sivil.

Undang-undang menentukan peruntukan semasa merangka wasiat dalam situasi kecemasan bahawa wasiat itu akan kehilangan kuasa undang-undang jika pewasiat meninggal dunia dalam tempoh enam bulan dari akhir peristiwa yang menyebabkan penggubalan wasiat. Dapat disimpulkan bahawa wasiat dalam KUH Perdata memerlukannya dalam bentuk wasiat yang disimpan di Notaris. Alasan yang menentukan hilangnya kekuatan hukum dalam wasiat yang dibuat selama pandemi COVID-19 yang diatur dalam pasal 950 ayat 1 KUH Perdata adalah apabila pewasiat meninggal dunia enam bulan setelah peristiwa tersebut berakhir.

Dalam hukum Islam, suatu wasiat yang dibuat pada masa pandemi COVID-19 sebagaimana disebutkan dalam pasal 950 ayat 1 KUHPerdata tidak dapat dibatalkan secara hukum, wasiat tersebut masih mempunyai kekuatan hukum sepanjang pewaris tidak mencabut wasiat tersebut. . Keabsahan hukum wasiat yang dibuat di hadapan notaris bagi anak angkat dalam warisan orang tua. Analisis hukum kekuatan hukum wasiat atas warisan dalam perspektif kompilasi hukum Islam dan hukum perdata.

PEMBAHASAN

Analisis terhadap ketentuan hilangnya kekuatran hukum

Analisis Hukum Islam terhadap ketentuan tentang

PENUTUP

Simpulan

Dapat diartikan bahwa wasiat hanya berlaku selama enam bulan setelah pewaris meninggal dunia, jika wasiat dianggap tidak sah lebih dari enam bulan. Ketentuan undang-undang ini mempunyai kelemahan, yaitu undang-undang tidak memberikan kesempatan kepada hakim pengadilan untuk memeriksa dan memutus sah atau tidaknya suatu wasiat. Dalam undang-undang ini, notaris terlalu diberikan penghormatan dalam menentukan sah atau tidaknya suatu wasiat. bukan. Ketentuan ini berakibat tidak terlindunginya hak-hak pewaris yang statusnya telah melakukan perbuatan hukum wasiat.

Menurut hukum syarak, untuk mengetahui ada wasiat atau tidak, ia perlu dibuktikan dengan dua orang saksi. Wasiat yang dibuat semasa pandemik COVID-19 dianggap sebagai bukti yang mengikat kerana wasiat dibuktikan oleh pewasiat, tandatangan pewasiat, dua orang saksi dan dibuat di hadapan pegawai kerajaan, dan terdapat salinan wasiat.

Saran-saran

Al-Jaiziri Abdurrahman, 1990, Buku Al-Fiqh 'Ala Al-Madzahib Al-Arba'ah, Juz 3, Bejrut: Dar Al-Kitab Al-'Ilmiah. Anshori, Abdul Ghofur, Pravna filozofija donacij in oporok v Indoneziji, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2018. At-Thanuki, Imam Sahnun, Al-Mudawanah Al-Kubro, Bejrut: Dar Al-pole al-Ilmiyah, Juz 4, Set .

Mengelola pelayanan kesehatan pada masa pandemi Covid-19 dari sudut pandang hukum kesehatan”, Jurnal Inicio Legis, Vol. Hibah dan Wasiat dalam Analisis Komparasi antara KUH Perdata dan Susunan Hukum Islam.

Referensi

Dokumen terkait

Sistematika penulisan disajikan untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang penelitian yang akan dilakukan. Bab I Pendahuluan, berisi latar belakang masalah, pembahasan

Pada bab ini diuraikan mengenai gambaran umum lokasi penelitian, yaitu Kepolisian Daerah Kabupaten Mesuji pembahasan profil singkat responden penelitian, pembahasan dan

Bab I Pendahuluan, berisikan tentang : Latar belakang masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metode

Bab ini merupakan bab yang berisikan hasil penelitian dan pembahasan yang akan menjawab permasalahan dalam penelitian mengenai bagaimana prosedur pelaksanaan

Bab I : PENDAHULUAN yang berisikan mengenai pentingnya penelitian ini yang dipaparkan dalam latar belakang masalah, hal ini memberikan gambaran umum bagaimana Kinerja Asesor

Sistematika Pembahasan Adapun sistematika pembahasan dalam penelitian ini adalah : Bab I Pendahuluan, pada bab ini terdapat sub-sub bab yakni latar belakang yang memuat permasalahan

BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini menerangkan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.. BAB II

Penjabaran sistematika pembahasan adalah sebagai berikut: BAB I Pendahuluan, berisikan latar belakang masalah yang mendasari dibukanya gerbang kerjasama perdagangan migas antara Korea