• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANDUAN: Implementasi Bimbingan dan Konseling untuk Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah

N/A
N/A
Made Suardana

Academic year: 2023

Membagikan "PANDUAN: Implementasi Bimbingan dan Konseling untuk Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah menerbitkan Panduan Penerapan Bimbingan dan Konseling (GC) ini. Profil pelajar Pancasila merupakan tujuan jangka panjang dan mencakup seluruh layanan bimbingan dan konseling untuk mewujudkan peserta didik menjadi pembelajar sepanjang hayat, berkompeten, berkarakter dan bertindak sesuai nilai-nilai Pancasila. Penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling secara komprehensif menunjukkan keselarasan dengan kepentingan peserta didik melalui pemberian layanan terpadu.

Dengan demikian, pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling akan lebih lengkap, karena setiap komponen layanan disertai dengan rencana dan pelaksanaan terkait pencapaian profil siswa Pancasila. Bagi kepala satuan pendidikan, buku pedoman ini menjadi acuan fungsi kepala pengajaran yaitu membantu kelancaran proses pembelajaran termasuk bimbingan dan konseling peserta didik. Bagi guru pada umumnya, buku pegangan ini menjadi acuan dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada siswa.

Pengawas hendaknya mendiskusikan dan merefleksikan seluruh proses pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling bersama-sama dengan kepala satuan pendidikan. Selain peran di atas, panduan ini juga dapat digunakan sebagai acuan bagi mitra unit atau komunitas belajar dalam mendukung layanan bimbingan dan konseling.

Filosofi Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum Merdeka

Prinsip Dasar Layanan Bimbingan dan Konseling

Setiap siswa berhak mendapat bimbingan dan konseling agar dapat berkembang secara optimal menuju pencapaian profil siswa Pancasila. Setiap mahasiswa berhak mempunyai pilihan yang terfokus pada pengembangan minat, bakat dan karir di masa depan.

Etika Kerja Bimbingan dan Konseling dalam Implementasi di

Menjalin kerja sama dan gotong royong antar satuan pendidikan, keluarga, dan pihak lain yang terlibat dalam rangka penyelesaian permasalahan peserta didik berdasarkan data yang dikumpulkan secara keseluruhan; Menggunakan tata cara dan teknik yang tidak menyimpang dan sesuai dengan norma agama, adat istiadat, hukum dan. Mengembangkan diri menjadi penasihat pribadi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan kepribadian profesional serta mendukung proses dan hasil pelayanan.

Tujuan Layanan BK

Dalam upaya memberikan pelayanan yang terbaik kepada peserta didik dan mendukung tercapainya profil siswa Pancasila di berbagai bidang pembelajaran, selain memanfaatkan sumber daya yang ada pada satuan pendidikan secara optimal, juga perlu diselaraskan dengan peran lembaga pendidikan. keluarga sebagai yang utama. pendidik dan berkolaborasi dengan mitra.

Strategi Implementasi di Satuan Pendidikan

Satuan pendidikan juga dapat memetakan kebutuhan siswa berdasarkan dimensi, subelemen atau unsur profil siswa Pancasila yang akan dikembangkan. Untuk layanan dasar, satuan pendidikan dapat bekerja sama dengan koordinator dan/atau pelaksana proyek penguatan profil siswa Pancasila sesuai kebutuhan siswa. Misalnya: jika siswa perlu memperkuat toleransi beragama, satuan pendidikan dapat membuat proyek bertema Bhinneka Tunggal Ik.

Satuan pendidikan juga dapat menggunakan skor minat atau data penilaian diri siswa mengenai minatnya. Dengan masukan dari satuan pendidikan melalui guru bimbingan dan konseling serta guru kelas, peserta didik dapat berkembang sesuai kebutuhan dan minatnya dengan bantuan orang tuanya. Pemberian pelayanan responsif pada satuan pendidikan dilakukan untuk membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar, kesulitan pribadi dan sosial, misalnya dukungan siswa.

Setelah proses penanganan selesai, diperlukan tindak lanjut dari guru BK dan/atau sekolah untuk menangani siswa di satuan pendidikan. Siswa dibantu untuk memilih perilaku yang pantas/tidak pantas dari yang dilakukan, (kalau langsung ke refleksi sebab dan akibat, lebih tepat untuk anak yang lebih besar).

Gambar 2.1. Gambaran siklus layanan dalam Bimbingan dan KonselingPemetaan
Gambar 2.1. Gambaran siklus layanan dalam Bimbingan dan KonselingPemetaan

Strategi Satuan Pendidikan dalam Pencegahan dan

Definisi lebih mendalam mengenai kekerasan seksual di lingkungan pendidikan dapat merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nomor. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2015 tentang Kekerasan Seksual pencegahan dan penanganan tindak kekerasan di lingkungan satuan pendidikan, tindak kekerasan berdasarkan diskriminasi terhadap suku, agama, ras dan/atau antar golongan (SARA) merupakan segala bentuk pembedaan, pengecualian, pembatasan atau pilihan berdasarkan SARA yang mengakibatkan pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan mendasar dalam kesetaraan. Tindakan kekerasan yang dilakukan di dalam satuan pendidikan maupun antar satuan pendidikan dapat menimbulkan trauma pada siswa.

Dalam menghadapi situasi tersebut, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) memberikan inovasi melalui program pencegahan dan penanganan tindak kekerasan di satuan pendidikan. Sementara pada aspek penanganan, salah satu langkah konkritnya adalah dengan menyediakan saluran pelaporan tindak kekerasan melalui Laman Pelaporan Kementerian Pendidikan dan Riset dan Teknologi (https://kemdikbud.lapor.go.id). Mengajak siswa untuk melakukan refleksi dan proaktif menjaga lingkungan belajar yang sehat di satuan pendidikan.

Bantuan intensif bagi siswa yang mempunyai persoalan bermasalah dan bila perlu keterlibatan keluarga dan tenaga profesional. Dalam kasus kekerasan (baik perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi) yang dilakukan oleh pelajar atau anak, maka anak tersebut juga diperlakukan sebagai korban ketika memberikan pendampingan dan layanan rehabilitasi.

Tabel 2.2. Prinsip Penanggulangan di Satuan Pendidikan
Tabel 2.2. Prinsip Penanggulangan di Satuan Pendidikan

Strategi Pemberdayaan Keluarga

Apakah satuan pendidikan menghargai orang tua sebagai individu yang percaya pada kemampuannya dalam mengambil keputusan dalam kehidupan berkeluarga? Apakah orang tua merasa terlindungi, dipahami dan diterima ketika berbicara terbuka mengenai permasalahan siswa? Memastikan pada satuan pendidikan bahwa setiap orang tua menerima layanan dasar, dan memberikan kesempatan untuk memberikan dukungan yang lebih intensif bila diperlukan.

Ketika peserta didik menjadi bagian dari satuan pendidikan, maka keterlibatan orang tua harus didukung melalui berbagai bentuk strategi pelibatan dan pemberdayaan. Bekerja sama dengan orang tua/keluarga, satuan pendidikan harus konsisten melaksanakan hal-hal berikut. Yakinkan orang tua bahwa pertemuan harus dilihat sebagai kesempatan untuk berbagi pengalaman guna meningkatkan proses belajar siswa.

Keterlibatan orang tua dalam layanan bimbingan dan konseling oleh satuan pendidikan hendaknya tidak hanya dilakukan ketika siswa mempunyai masalah. Guru wali kelas dapat menjadi penghubung utama antara satuan pendidikan dengan keluarga, serta dapat mengetahui topik-topik yang dibutuhkan orang tua untuk mendampingi proses belajar siswa. Ciptakan kegiatan yang memberikan kesempatan kepada orang tua untuk saling mengenal, bukan hanya guru kelas atau anggota satuan pendidikan.

Memperkenalkan profesi orang tua dapat membantu membuka wawasan siswa dalam hal pengembangan minat, bakat dan karir, bahkan sejak dini. Dalam hal ini, satuan pendidikan harus mempertimbangkan jenis kegiatan yang tidak membebani orang tua agar memudahkan keterlibatan orang tua. Komunikasi yang teratur dan efektif dengan orang tua tentang program satuan pendidikan dan kemajuan siswa.

Satuan pendidikan dapat mendorong orang tua untuk menghadiri pertemuan atau kegiatan bersama orang tua. Apabila pihak satuan pendidikan mengetahui adanya cara komunikasi antara pendidik dan orang tua yang kurang efektif atau. Beberapa hal yang harus diperhatikan satuan pendidikan ketika berkomunikasi dengan orang tua adalah sebagai berikut.

Strategi Kerja Sama dengan Mitra

Apabila jumlah siswa dalam 1 (satu) kelas berjumlah 30 (tiga puluh) orang, maka waktu yang diperlukan paling sedikit adalah 300 (tiga ratus) menit.

Gambar 1. Dimensi RIASEC
Gambar 1. Dimensi RIASEC

Gambar

Gambar 1. Karakteristik Profil Pelajar Pancasila (Kepka BSKAP, 2021) Hal ini sejalan dengan filosofi pendidikan
Gambar 2.1. Gambaran siklus layanan dalam Bimbingan dan KonselingPemetaan
Tabel 2.2. Prinsip Penanggulangan di Satuan Pendidikan
Gambar 1. Dimensi RIASEC

Referensi

Dokumen terkait