• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANDUAN PRAKTIKUM MATA KULIAH NAVIGASI

N/A
N/A
wina april

Academic year: 2023

Membagikan "PANDUAN PRAKTIKUM MATA KULIAH NAVIGASI"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh :

Ir. Irhamsyah, M.Si.

Eka Anto Supeni, S.Pi, M.Si.

Aulia Azhar Wahab, S.Pi., M.Si.

(GPPK601)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

NAVIGASI

PANDUAN PRAKTIKUM MATA KULIAH

PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU

TAHUN 2020

(2)

PRAKTIK 2: BARINGAN SILANG

1. Deskripsi singkat praktik :

Mengerjakan peta laut (pengenalan simbol, skala, garis baringan dan haluan) untuk penentuan posisi kapal dengan cara kombinasi garis baringan 2. Sasaran pembelajaran praktikum :

Mampu menjelaskancara penentuan posisi kapal dengan kombinasi dua atau tiga garis baringan

3. Tata tertib dan etika praktik : 4. Alokasi waktu praktik :

5. Tempat praktik : Ruang laboratorium

6. Teori atau prinsip dasar yang menjadi landasan praktikum :

Dalam setiap pelayaran, tempat atau posisi kapal sewaktu-waktu perlu diketahui dengan jelas agar bahaya-bahaya dapat di hindari dan kapal jangan terlalu menyimpang dari garis haluan yang telah ditentukan.

Pasaribu (1972) mengemukakan bahwa penentuan posisi kapal yang umum dilakukan ada 4 macam yaitu sebagai berikut :

1. Navigasi Duga ; penentuan posisi kapal berdasarkan perhitungan haluan dan jauh dari suatu tempat yang diketahui.

2. Navigasi Baringan Silang; penentuan posisi kapal dengan membaring benda-benda di darat

3. Navigasi Astronomi; penentuan posisi kapal dengan cara pengukuran tinggi benda angkasa

(3)

4. Navigasi Elektronik; penentuan posisi kapal dengan pertolongan alat- alat elektronik.

Menurut Salim (1978), penetuan posisi kapal dengan baringan diperlukan syarat-syarat tertentu seperti :

1 Benda-benda yang dapat dibaring hanyalah benda-benda yang dikenal dan

terdapat di peta jika ragu-ragu dalam pengenalan benda baringan lebih baik jangan dibaring. Buku kepanduan bahari untuk daerah yang bersangkutan dapat memebantu dalam pengenalan benda-benda baringan 2 Tentukan baringan-baringan sedemikian rupa sehingga titik potong antara

garis-garis baringan tidak lebih kecil dari 300 dan sudut potong yang paling baik adalah 900

3 Benda yang arah baringannya berubah lambat, dibaring lebih dahulu.

Misalnya : benda yang berada di dekat garis haluan di muka atau di belakang kapal dan benda yang letaknya jauh dari kapal.

Ada beberapa garis baringan dikapal antara lain adalah sebagai berikut : 1) Baringan Sejati ( Bs )adalah sudut antara Utara Sejati (US) dengan

garis baringan,dihitung dari Utara kekanan;

2) Baringan Maknit ( Bm ) adalah sudut antara Utara Maknit (UM) dengan garisbaringan, dihitung dari Utara kekanan; dan

3) Baringan Pedoman ( Bp )adalah sudut antara Utara Pedoman (UP) dengan garis baringan, dihitung dari Utara kekanan.

Baringan yang diambil dari ke suatu target (baringan pedoman) yakni arah target dilihat dari kapal. Pada saat garis baringan dilukis di peta, baringan

(4)

pedoman dirubah jadi baringan sejati dengan konversi sembir (salah tunjuk) dan garis baringan tersebut dibuat dari target sehingga arahnya harus berbeda 180o (berlawanan arah). Perubahan arah baringan dilakukan dengan cara : jika baringan sejati yang diperoleh < 180o ditambah 180o dan jika > 180o dikurang 180o.

Suyono (1994) menyatakan bahwa salah satu cara untuk mendapatkan tempat kedudukan kapal (posisi kapal) adalah dengan membaring. Pengambilan baringan dapat dilakukan dengan bantuan pedoman (kompas) dan alat pembaring. Alat pembaring yang paling sederahana adalah alat baring penjera celah dan penjera benang. Selanjutnya Palumian (1985) mengemukakan pula bahwa alat-alat untuk membaring (pesawat baring) yang umum digunakan adalah semat (semat bayangan) untuk pelorus pesawat baring penjera dan pesawat baring Thomson. Semat baik dipakai membaring matahari untuk mengambil asimut dengan perantaraan bayangan di atas piringan pedoman, oleh karenanya alat ini sering juga disebut semat bayangan. Pelorus adalah alat pembantu bayangan dan pesawat baring yang terbuat dari kuningan /tembaga berbangun lingkaran dan di bagi dari 00 – 3600. garis tengahnya 20 – 25 cm yang dipasang tetap di kiri /kanan anjungan dengan garis U – S sejajar lunas kapal. Hasil baringan (baringan pedoman = Bp) adalah haluan ± baringan pelorus.

Bp = haluan (+) Baringan pelorus (benda berada di sebelah kanan kapal) Bp = Haluan (–) Baringan pelorus (benda berada di sebelah kiri kapal)

7. Bahan dan Alat

(5)

Untuk praktikum ini bahan dan alat yang digunakan adalah peta-peta laut, mistar jajar, busur derajat, jangka, pensil dan penghapus.

8. Prosedur kerja :

Penentuan posisi kapal yang akan di praktekkan dalam praktikum ini adalah: baringan silangdua dan tiga benda target,

Baringan silang : tahapan yang dilakukan :

1. Dibaring dua benda yang dikenal berturut-turut dengan pedoman pada jam tertentu sehingga diperoleh adalah baringan pedoman.

2. Baringan-baringan pedoman di koreksi dengan sembir (variasi + deviasi) untuk mendapatkan baringan sejati.

3. Baringan-baringan sejati dilukis di peta dan ditarik dari benda-benda yang dibaring dengan arah berlawanan baringan sejatinya.

4. Perpotongan kedua garis baringan tersebut menunjukkan posisi pada jam saat baringan dilakukan di kapal.

Suar A

Pulau Katak

Bp I Bp II

Jam 07.30

Garis Haluan

Gambar 1. Barigan selang 2 benda target

(6)

Gambar 1. Barigan selang 2 benda target

Langkah-langkah membaring

Urutan melakukan baringan bersilang dengan tiga benda baringan (lihat lukisan)1. Tentukan dan kenalilah benda yang akan dibaring dengan pasti, 2. Baringlah ketiga benda yang terpilih ( I, II, III ) secara tepat dan berurutan, 3. Jabarkan baringan pedoman (Bp) menjadi baringan sejati (Bs)

4. Tariklah garis lurus baringan sejati dari benda I, II, III dalam arah

berlawanan,5. Diperoleh titik potong berbentuk setiga kecil yang merupakan posisi kapal.

Pengertian Dasar Baringan Bersilang Dengan Tiga Buah Benda Baringan

Baringan bersilang dengan tiga buah benda baringan dilaksanakan seperti pada carabaringan bersilang dengan dua benda baringan, hanya disini benda

baringannya adatiga buah Ada beberapa keuntungan dalam baringan ini:

a. Baringan ini lebih teliti, karena ada baringan ketiga berfungsi sebagai pengontrol,

b. Kemudian dari ketiga perpotongan garis tersebut akan membentuk sebuah segitiga,c. Dalam segitiga, posisi kapal tepatnya diperpotongan tiga garis diagonal segitiga.

Gambar 2. Penentuan posisi kapal dengan baringan silang tiga benda

(7)

Contoh Soal.

Kapal berlayar dengan haluan pedoman 2760. Pada jam 11.30 berturut-turut dibaring Pulau I (Bp.1)= 3550, Pulau II (Bp.II.)= 480, dan Pulau III (Bp.III.) = 3310. Hitung dan lukislah posisi kapal pada jam 11.30, diketahui Variasi = - 30dan Deviasi = - 20

Penyelesaian :

Diketahui : Hp = 2760, Pada jam 11.30 : Bp.I = 3550 Variasi = -30, Bp.II = 480, Deviasi= -20Bp.III = 3310

Perhitungan

Variasi = - 30 Deviasi = - 20+ Sembir = - 50 Bp.I

S

= 355°

= - 5° +

Bp.II S

= 48°

= - 5° +

Bp.III S

= 331°

= - 5° + Bs I = 350°

= 180°

Bs II = 43°

= 180°

Hp Sembir

= 276°

= - 5° + Hs = 271°

Bs III = 336°

= 180°

= 170° = 223° = 156°

Dari Pulau I ditarik garis baringan I dengan arah 1750, dari Pulau II ditarik garis baringan II dengan arah 430dan dari Pulau III ditarik garis baringan III dengan arah 1560. Garis garis baringan tadi akan berpotongan di S yang merupakan posisi kapal jam 11.30 seperti pada lukisan tersebut diatas.

Referensi

Dokumen terkait