• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPER MATA KULIAH SOSIOLOGI EKONOMI

N/A
N/A
Elia Putri Khoeronika

Academic year: 2024

Membagikan " PAPER MATA KULIAH SOSIOLOGI EKONOMI"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PAPER MATA KULIAH SOSIOLOGI EKONOMI

“PENGARUH GAYA HIDUP DAN KONSUMSI PADA MASYARAKAT PERKOTAAN”

Dosen pengampu : Sulistiyani S.Pd., M.Pd

Disusun Oleh:

ELIA PUTRI KHOERONIKA (211010501123) FINKA PURWANTINA(211010504246) SHAKILA PUTRI AMANDA (211010504570)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS PAMULANG 2023

(2)

i DAFTAR ISI

DAFTAR ISI... i

PENDAHULUAN ... 2

KAJIAN LITERATUR ... 5

1.1 Gaya Hidup ... 6

1.2 Perilaku Konsumen ... 10

1.3 Hubungan Konsumsi dan Gaya Hidup ... 11

1.4 Gaya Hidup Konsumtif ... 13

PENUTUP ... 15 DAFTAR PUSTAKA

(3)

2

PENDAHULUAN

Konsumsi dan gaya hidup adalah hal yang sering kita dengar setiap hari.

Konsumsi dan gaya hidup saling berhubungan. Konsumsi tidak hanya dianggap sebagai fisik dan biologis seseorang, tetapi juga berkaitan dengan aspek sosial budaya. Konsumsi berhubungan dengan selera dan tingkat kesukaan, identitas dan gaya hidup. Perkembangan ekonomi, pengetahuan, dan pendidikan secara simultan membawa kehidupan manusia ke dalam bentuk baru sebagai manusia modern yang ditandai dengan perubahan yang cepat dan jenis identitas tertentu.

Format dan identitas sosial dan kelompok sering disebut sebagai gaya hidup. Gaya hidup secara harfiah adalah tampilan yang ingin dimiliki seseorang. Konsep gaya hidup mencerminkan bagaimana seseorang hidup, bagaimana mereka menghabiskan uang mereka dan bagaimana mereka mengatur waktu mereka (Mowen dan Minnor, 1998). Gaya hidup juga dapat diartikan sebagai pola dimana seseorang hidup dan menghabiskan waktu dan uang (Engel dan Joan, 1990).

Gaya hidup masyarakat sekarang ini sudah mengalami perubahan dan perkembangan seiring berkembangnya zaman. Dahulu orang tidak terlalu mementingkan penampilan dan gaya hidup, tetapi sekarang berbeda keadaannya.

Gaya hidup telah merasuk ke dalam semua golongan tak terkecuali masyarakat perkotaan. Kita pun tidak dapat menolak perubahan dan perkembangan saat ini.

Bagaimanapun gaya hidup sudah menjadi ikon dari modernitas dan merupakan pilihan bagi kita untuk menseleksi dan memilih apa saja yang menjadi kebutuhan paling utama bagi kita agar tidak terjerumus dalam arus zaman.

(4)

3

Dalam kehidupan modern ini, masyarakat perkotaan menuntut untuk bergaya hidup konsumsi yang serba cepat dan instan. Menikmati makanan siap saji saat ini bukan lagi sekedar untuk memenuhi kebutuhan primer saja tapi juga sebagai bagian dari gaya hidup, di mana kini fooodcourt menjadi tempat berkumpul yang banyak diminati. Pada saat ini foodcourt menjadi identitas tersendiri bagi kalangan tertentu baik itu remaja maupun orang tua. Hal itu terjadi karena padatnya aktivitas dan kegiatan di luar rumah yang dilakukan oleh keluarga sehingga berkurangnya waktu untuk kumpul bersama. Makan disuatu tempat juga menjadi sarana berkumpul dan bersosialisasi. Sampai saat ini, acara seperti arisan, rapat, ulang tahun dan pernikahan sering diadakan direstaurant yang ada di foodcourt maupun yang berdiri sendiri. Foodcourt merupakan tempat untuk menikmati makanan dan minuman sambil berbincang dengan keluarga, pasangan dan teman. Jika dibandingkan dengan tahun 2000-an, makan sehari-hari lebih sering dilakukan di rumah dengan makanan olahan sendiri. Sebagai pusat kegiatan dan rekreasi masyarakat perkotaan, mall merupakan tempat favorit untuk nongkrong dan berkumpul. Pemanfaatan foodcourt dilakukan adalah karena adanya pergeseran pola hidup yang ada dimasyarakat modern saat ini. Teknologi dan perkembangan zaman membawa perubahan pada kebiasaan menggunakan uang, di mana masyarakat sekarang lebih fokus pada kenikmatan dan kesenangan yang dianggap harus dipenuhi agar merasa nyaman dan diakui eksistensinya di masyarakat. Gaya hidup dianggap sebagai identitas dan pengakuan status sosial seseorang yang jelas terlihat dari perilakunya yang selalu mengikuti perkembangan mode sebagai bagian utama untuk pemenuhan kebutuhan hidup

(5)

4

sehari-hari. Bahkan gaya hidup menjadi lebih penting dari kebutuhan pokok.

Sesuai dengan pendapat Nofsinger (2005), bahwa faktor psikologis seseorang yaitu emosional mampu mempengaruhi keputusan keuangan dan pasar keuangan.

Sumartono dalam Syaiful (2012), menjelaskan gaya hidup konsumtif merupakan suatu tindakan menggunakan suatu produk serta tidak tuntas. Artinya belum habis suatu produk dipakai, seorang telah menggunakan produk lain dengan fungsi yang sama. Anggasari dalam Hotpascaman (2010) mendefinisikan perilaku konsumtif adalah tindakan membeli barang-barang yang kurang atau tidak diperhitungkan sehingga sifatnya kurang atau tidak diperhitungkan. Berdasarkan penelitian terdahulu tentang gaya hidup konsumtif dan keputusan pembelian, Faadhilah (2018) menunjukkan bahwa gaya hidup konsumtif berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Hal ini juga didukung oleh penelitian Pramudi (2015) mengungkapkan bahwa gaya hidup konsumtif berpengaruh dalam mempengaruhi keputusan pembelian dari konsumen.

Munculnya gaya hidup hedonisme juga tidak terlepas dari faktor-faktor yang menjadi motivasi seseorang dalam berbelanja. Motivasi berbelanja secara hedonis merupakan tingkah laku individu yang melakukan kegiatan berbelanja secara berlebihan untuk memenuhi kepuasan tersendiri. Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang tersebut penulis ingin membahas bagaimana pengaruh gaya hidup dan konsumsi pada masyarakat perkotaaan.

(6)

5

KAJIAN LITERATUR

Pola konsumsi merupakan suatu susunan kebutuhan pokok manusia yang nantinya akan dibutuhkan guna memenuhi kebutuhan pokoknya dalam kehidupan sehari-hari. Masalah penting yang berkaitan dengan pola konsumsi yang dipengaruhi lingkungan adalah bisa saja sekumpulan orang membentuk sebuah kelompok sesuai tujuan dan keinginan mereka masing-masing. Oleh karena itu, terbentuk gaya hidup setiap individu. Masalah yang kerap terjadi di masyarakat perkotaan adalah gaya hidup hedonisme, artinya masyarakat memiliki gaya hidup yang ingin selalu mencari kesenangan. Perkembangnya teknologi dan segala sesuatu yang serba instan seperti saat ini membuat pola hidup masyarakat menjadi berubah.

Di perkotaan, gedung perkantoran hingga pusat perbelanjaan modern menggunakan elevator atau eskalator yang nyaman tanpa banyak mengeluarkan keringat untuk memakainya. Selain itu, dia juga berkata bahwa restauran di dalam foodcourt merupakan bentuk dari budaya konsumsi dari masyarakat perkotaan dan menjadi salah satu penemuan baru di lapisan masyarakat luas (khususnya di Indonesia) yang mana penciptaan barang, gaya, dan perilaku baru tersebut merupakan strategi yang memungkinkan penciptaan tanda baru untuk memelihara jarak yang ada.

(7)

6 1.1 Gaya Hidup

Menurut Weber (Damsar, 2002:120), gaya hidup merupakan selera pengikat kelompok dalam (in group) aktor-aktor kolektif atau kelompok status, berkompetisi ditandai dengan kemampuan untuk memonopoli sumber-sumber budaya. Menurut Plummer (1983:131), gaya hidup adalah cara hidup individu yang diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam hidupnya (ketertarikan) dan apa yang mereka pikirkan tentang dunia sekitarnya.

1.1.1. Bentuk-Bentuk Gaya Hidup

Menurut Chaney (dalam Idi Subandy, 1997) ada beberapa bentuk gaya hidup, antara lain:

A. Industri Gaya Hidup

Dalam industry gaya hidup, penampilan mengalami ekstisisasi dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang memperhatikan penampilannya dianggap ada, itu sebabnya kegandrungan manusia modern akan gaya hidup sangat mempengaruhi sebuah individua tau kelompok. Oleh sebab itu, industry gaya hidup Sebagian besar ada pada industry penampilan.

B. Iklan Gaya Hidup

Sebagian besar iklan mempresentasikan gaya hidup yang didalamnya menawarkan gaya visual yang mempesona. Sadar atau tidak sadar iklan mempengaruhi perilaku konsumsi seseorang, dengan adanya iklan membuat suatu produk lebih menarik perhatian dibandingkan produk yang tidak diiklankan. Itu sebabnya sebuah pencitraan yang dilansir oleh media televisi dan iklannya akan

(8)

7

berpengaruh pada target audiens yang sama, hingga mereka begitu yakin dan percaya dengan pencitraan dari produk yang diiklankan tersebut tanpa ada perlawanan.

C. Public Relations dan Journalisme Gaya Hidup

Budaya berbasis selebriti membantu pembentukan indentitas dari para konsumen temporer. Dalam budaya konsumen, identitas diibaratkan “aksesoris fashion”. Terbentuknya Generasi Milenial ini melalui identitas yang diilhami selebriti seperti cara mereka berpakaian untuk berpergian. Oleh sebab itu, selebriti dan citra mereka digunakan momen demi momen untuk membantu konsumen dalam parade identitas.

D. Gaya Hidup Mandiri

Kemandirian dalam hidup bergantung kepada pribadi itu sendiri. Dengan nalar yang dimiliki manusia, mereka dapat menyusun strategi dan bertanggung jawab serta menanggung resiko yang akan terjadi terhadap pilihan gaya hidup mandiri. Adanya gaya hidup mandiri, manusia akan bebas dalam menentukan pilihannya, serta menciptakan inovasi-inovasi yang kreatif untuk menunjang kemandirian tersebut.

E. Gaya Hidup Hedonisme

Gaya hidup hedonisme lebih mengarah pada mengambur-hamburkan uang untuk membeli suatu barang yang kurang bermanfaat dengan tujuan hanya untuk memuaskan diri. Seperti berbelanja tas dan jam mahal, kebiasaan nongkrong di foodcourt dan cafe, serta membelanjakan uangnya untuk barang-barang lucu yang

(9)

8

kurang bermanfaat. Perilaku ini menimbulkan seseorang tidak bisa mengontrol pengeluaran keuangannya, yang menyebabkan hedonisme tersbut menjadi kebiasaan seseorang untuk menampakkan dirinya lebih dibanding yang lain.

1.1.2. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Gaya Hidup a) Faktor Internal

➢ Sikap

Melalui sikap, setiap individu dapat memberikan tanggapan atau respon terhadap gaya hidup.

➢ Pengalaman dan Pengamatan

Pengalaman mempengaruhi pengamatan social dalam tingkah laku.

Pengalaman diperoleh dari masa lalu dan membentuk pandangan terhadap suatu hal.

➢ Kepribadian

Karakteristik dan cara berperilaku setiap individu yang berbeda-beda yang menampilkan kepribadian seseorang.

➢ Konsep Diri

Konsep diri sebagai inti dari pola kepribadian akan menentukan perilaku individu dalam menghadapi suatu persoalan.

➢ Motif

Apabila motif seseorang terhadap kebutuhan dan keinginan tinggi, maka cenderung akan mengarah kepada perilaku hedonisme.

➢ Persepsi

(10)

9

Persepsi adalah proses pemahaman seseorang terkait penyampaian sebuah informasi.

b) Faktor Eksternal

➢ Kelompok Referensi

Kelompok referensi adalah kelompok yang memberikan pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan perilaku seseorang.

Pengaruh tersebut akan membawa seseorang kepada gaya hidup tertentu.

➢ Keluarga

Keluarga membawa peranan besar terhadap gaya hidup seseorang, misalnya anak yang dilahirkan di keluarga kaya akan berbeda dengan anak yang dilahirkan di keluarga miskin. Anak dari keluarga miskin akan lebih bersikap prihatin dengan kondisi keluarga, sedangkan anak yang dilahirkan di keluarga kaya akan bersikap bergantung pada orang tua.

➢ Kelas Sosial

Kelas sosial seseorang mempengaruhi pilihan gaya hidup seseorang.

➢ Kebudayaan

Kebudayaan meliputi adat istiadat, moral, dan pengetahuan. Kebudayaan berpengaruh terhadap gaya hidup seseorang. Misalnya orang yang berasal dari daerah padang yang dikenal dengan kata “glamour” dimana gaya hidup tersebut mempengaruhi kelas sosial.

Sekarang ini, gaya hidup merupakan ciri dari sebuah modernitas, maksudnya yaitu siapa saja yang hidup dalam masyarakat modern pasti akan menggunakan ide/gagasan mengenai gaya hidup untuk menggambarkan

(11)

10

tindakannya sendiri maupun orang lain. Perubahan pola dari gaya hidup masyarakat perkotaan, yakni seberapa besar status dan kedudukan orang tersebut dalam kehidupan sekitar. Dengan adanya hal tersebut, maka pengertian gaya hidup dapat diartikan sebagai cara untuk menumbuhkan kebersamaan yang dapat menciptakan simbol kebudayaan dengan menggunakan identitas pribadi. Apalagi saat ini mall merupakan faktor nyata bagi kehidupan modern yang fasilitasnya lengkap dan menarik pengunjung untuk datang kesana dengan segala suasana bersama siapa saja. Selain itu, fenomena selera barat mulai mewarnai gaya hidup masyarakat perkotaan. Hal ini bisa kita lihat dari munculnya restaurant siap saji dan hiburan seperti cafe, diskotik, klub malam serta maraknya pembangunan toko swalayan dan departement store. Sehingga dapat disimpulkan bahwa gaya hidup merupakan pola atau cara seseorang dalam menghabiskan waktunya dalam bermasyarakat.

1.2 Perilaku Konsumen

American Marketing Association (AMA) menjelaskan bahwa, “Perilaku konsumen merupakan interaksi dinamis antara kognitif, afektif dan konatif atau perilaku, dan lingkungannya di mana manusia melakukan kegiatan pertukaran dalam hidup mereka. Berdasarkan pernyataan di atas terdapat tiga pokok pikiran yang penting dalam perilaku konsumen yaitu: pertama perilaku konsumen bersifat dinamis, yang berarti perilaku seorang konsumen, kelompok konsumen selalu bergerak sepanjang waktu. Kedua, perilaku konsumen sebagai sikap yang melibatkan interaksi kognitif (kesadaran), afektif (perasaan) dan konatif (tindakan atau perilaku) dan kejadian di sekitar. Ketiga, perilaku konsumen melibatkan

(12)

11

pertukaran, karena itu peran pemasaran adalah untuk menciptakan pertukaran dengan konsumen melalui formulasi dan penerapan strategi pemasaran”. (dalam Effendi, 2016:11).

Menurut Setiadi (2003:2) perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini. Sedangkan menurut Hurriyati (2005:68), perilaku konsumen berkaitan erat dengan proses pengambilan keputusan untuk menggunakan barang atau jasa untuk memuaskan kebutuhannya. Dalam ilmu ekonomi dikatakan bahwa manusia adalah makhluk ekonomi yang selalu berusaha memaksimalkan kepuasannya dan selalu bertindak rasional. Para konsumen akan berusaha memaksimalkan kepuasannya selama kemampuan finansialnya memungkinkan.

Salah satu yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah banyaknya berbagai macam penawaran produk, baik secara langsung maupun melalui media massa. Berdasarkan beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen merupakan semua tindakan yang dilakukan konsumen baik individu maupun kelompok pada saat membeli, ketika membeli, dan setelah membeli guna memuaskan kebutuhan mereka.

1.3 Hubungan Konsumsi dan Gaya Hidup

Konsumsi terhadap barang merupakan landasan bagi penjenjangan dari kelompok status. Sehingga situasi kelas ditentukan oleh ekonomi sedang situasi status ditentukan oleh penghargaan sosial. Pada masyarakat perkotaan, para pengusaha berhak mendapat gelar bangsawan karena dia mampu memberi suatu

(13)

12

sumbangan pada keraton. Walau ada pihak yang lebih berhak mendapat gelar tersebut. Menurut Vablen (1973), mengatakan bahwa penghargaan sosial terhadap masyarakat luas terletak pada keperkasaan, misalnya perang. Sedang pada masyarakat industri terletak pada kepemilikan kesejahteraan seseorang. Juga pada konsumsi yang dilakukan sebagai indikator dari gaya hidup kelompok status.

Han Peter Mueller (1989), mengatakan ada 4 pendekatan dalam memahami gaya hidup :

1. Pendekatan Psikolog Perkembangan

Yaitu tindakan seseorang tidak hanya disebabkan oleh teknik, ekonomi dan politik, tetapi juga dikarenakan perubahan nilai.

2. Pendekatan Kuantitatif Sosial Struktur

Yaitu mengukur gaya hidup berdasarkan konsumsi yang dilakukan seseorang.

Pendekatan ini menggunakan sederet daftar konsumsi yang mempunyai skala nilai.

3. Pendekatan Kualitatif Dunia Kehidupan

Yaitu memandang gaya hidup sebagai lingkungan pergaulan.

4. Pendekatan Kelas

Yaitu mempunyai pandangan bahwa gaya hidup merupakan rasa budaya yang direprodiksi bagi kepentingan struktur kelas.

(14)

13 1.4 Gaya Hidup Konsumtif

Setiaji dalam Konsumerisme (1995) menyatakan perilaku konsumtif adalah kecenderungan seseorang berperilaku berlebihan dalam membeli sesuatu atau membeli secara tidak terencana. Sebagai akibatnya, mereka kemudian membelanjakan uangnya dengan membabi buta dan tidak rasional. Sekadar untuk mendapatkan barang-barang yang menurut anggapan mereka dapat menjadi simbol keistimewaan. Hal tersebut mendorong masyarakat untuk melakukan pembelian yang hanya untuk memenuhi kepuasan atau biasa disebut perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif yang dilakukan masyarakat perkotaan saat ini tidak mempertimbangkan fungsi dan kegunaan dari barang yang dibeli tetapi mereka lebih mementingkan gengsi yang melekat pada barang tersebut dan sekarang bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan tapi untuk memenuhi keinginan yang sifatnya untuk mengikuti mode yang disebabkan dari pengaruh lingkungan seperti disekitar tempat tinggal dan ditempat kerja. Jika mereka tidak mengikuti apa yang terjadi disekitar mereka maka akan dikucilkan.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (dalam Lina dan Rosyid, 1997: 2) memberikan batasan mengenai perilaku konsumtif, yakni kecenderungan seseorang untuk mengkonsumsi barang tanpa batas dan lebih mementingkan keinginan semata daripada kebutuhan. Fromm dalam The Sane Society (2008) menjelaskan seseorang dikatakan konsumtif apabila dirinya memiliki barang yang lebih disebabkan karena pertimbangan status. Seseorang yang konsumtif membeli barang yang diinginkan, bukan yang dibutuhkan, secara berlebihan dan tidak wajar untuk menunjukkan status dirinya. dampak ekonomi dari perkembangan

(15)

14

gaya hidup dari kelas menengah abangan adalah muncul dan membesarnya kelompok perusahaan pasar swalayan seperti Matahari, Borobudur dan lainnya, dimana tidak hanya menjual barang-barang yang diproduksi untuk konsumsi dalam negeri tetapi juga menyajikan barang yang berkualitas ekspor. Kemudian banyak muncul bioskop twenty-one, pesatnya perkembangan media massa yang melakukan spesialisasi dan ekspansi pasar seperti Gramedia. Lajunya pertumbuhan dan perkembangan bank-bank swasta seperti BCA dan Danamon.

Suburnya pertumbuhan pusat-pusat “kesegaran jasmani” yang menawarkan sejumlah aktivitas fisik yang dapat mempercantik dan memperindah tubuh seperti senam dengan berbagai macam jenisnya mulai dari tradisional sampai modern.

(16)

15 PENUTUP

Pola konsumsi dan gaya hidup merupakan dua hal yang sangat berkaitan.

Pola konsumsi menentukan keberhasilan tingkat kesukaan yang dimiliki oleh sebuah produk. Pola konsumsi lebih banyak dihubungkan dengan makanan, tetapi dapat juga dikaitkan dengan pakaian ataupun barang yang digunakan sehari-hari.

Pola konsumsi dipengaruhi media, pemasaran atau periklanan, dan lainnya. Pada saat ini masyarakat memilih untuk bergaya hidup konsumsi serba cepat dan instan. Tempat makan cepat saji seiring berjalannya waktu semakin banyak bermunculan, contohnya seperti restaurant dan foodcourt.

Gaya hidup yang dimiliki oleh individu dapat mempengaruhi pola konsumsi seseorang. Misalnya seseorang memiliki gaya hidup hedonisme atau dapat dibilang boros individu tersebut akan lebih sering menghamburkan uang karena banyak berbagai macam penawaran produk, seperti digunakan untuk berbelanja pakaian, dan barang-barang mewah lainnya. Sedangkan gaya hidup sedentari dapat dikategorikan gaya hidup yang tidak sehat, lebih sering diam, dan kurang beraktivitas. Hubungan antara konsumsi dan gaya hidup terbentuk ketika kita melihat seseorang dalam mengkonsumsi suatu barang maka akan terlihat bagaimana gaya hidup mereka. Selain itu konsumsi dapat juga dijadikan penentu kelas sosial seseorang. Oleh karena itu, pola konsumsi sangat ditentukan oleh gaya hidup yang dimiliki oleh masing-masing individu.

(17)

16

DAFTAR PUSTAKA

Aini, E. N., & Andjarwati, A. L. (2020). Pengaruh Gaya Hidup Konsumtif dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian. BISNIS : Jurnal Bisnis Dan Manajemen Islam, 8(1), 17. https://doi.org/10.21043/bisnis.v8i1.6712

Huda, C. (2013). Pemikiran Ekonomi Bapak Ekonomi Islam; Ibnu Khaldun.

Economica: Jurnal Ekonomi Islam, 4(1), 103–124.

https://doi.org/10.21580/economica.2013.4.1.774

Nur Lailatul Mufidah. (2006). Pola Konsumsi Masyarakat Perkotaan: Studi Deskriptif Pemanfaatan Foodcourt oleh Keluarga Nur. Unair, 2.

Pulungan, D. R., Koto, M., & Syahfitri, L. (2018). Pengaruh Gaya Hidup Hedonis Dan Kecerdasan Emosional Terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa. Seminar Nasional Royal (SENAR), 9986(September), 401–406.

Referensi

Dokumen terkait

Jasa Layanan Transportasi Online menjadi salah satu bisnis yang sedang berkembang pesat di masyarakat (daerah perkotaan) saat ini dan penelitian ini menarik untuk

3 Dilihat dari latar belakang program studi yang sudah jelas memiliki salah satu misi “Melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang pendidikan ekonomi yang

Salah satu bentuk konsumsi oleh masyarakat modern adalah sebuah tren, tren yang dikonsumsi yaitu tren adventure yang telah menjadi sebuah fenomena unik yang sedang

Mata kuliah ini membahas tentang ruang lingkup sosiologi dan kebudayaan pertanian, proses sosial, konsep dasar budaya dan masyarakat, kelembagaan sosial, kelompok

memberdayakan masyarakat salah satunya bentuk yang digunakan adalah bentuk kegiatan teknologi sodis solar water disifektan yaitu membuat air minum yang steril dan layak konsumsi

Dalam hal ini seperti yang dijelaskan oleh salah satu masyarakat Dusun Tolonggeru Desa Mbawa sebagai berikut: “Budaya Upacara Raju di Uma Leme dapat menjadi salah satu bentuk