i PARADIGMA ISLAM TENTANG ILMU MANAJEMEN
Mata kuliah: Al Islam Kemuhammadiyahan 3 Dosen Pengampu: Budi Setyono, M.Pd.I
Di susun oleh kelompok 2 :
1. Adam Harianto : E2A022429 2. Via Nur Maria : E2A022434 3. Veradila Maulida : E2A022521
FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI MANAJEMEN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2024
ii KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan karunianya, sehingga kami dengan segenap kemampuan dan pengetahuan dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “paradigma islam tentang ilmu manajemen”. Berbagai hambatan dan kesulitan yang ditemui dalam penyelesaian makalah ini, namun dengan kesabaran, semangat, dan kerja keras kami akhirnya kendala- kendala tersebut dapat diselesaikan.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Bapak Budi Setyono, M.Pd.I pada mata kuliah Al Islam Kemuhammadiyahan 3. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang paradigma islam tentang ilmu manajemen bagi para pembaca dan juga penulis.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Budi Setyono, M.Pd.I, selaku Dosen mata kuliah Al Islam Kemuhammadiyahan 3 yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari, makalah yang kami buat ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.
Semarang, 29 Mei 2024
Penulis
iii DAFTAR ISI
JUDUL ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan ... 2
BAB II PEMBAHASAN ... 3
2.1 Hakikat Ilmu Manajemen ... 3
2.2 Keutamaan Ilmu Manajemen ... 6
2.3 Teori-teori ilmu Manajemen ... 7
2.4 Ayat Al-Qur’an dan Hadist yang Relevan ... 12
BAB III PENUTUP ... 17
3.1 Kesimpulan ... 17
3.2 Saran ... 17
DAFTAR PUSTAKA ... 18
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada dasarnya manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip manajemen, baik langsung maupun tidak langsung, baik disadarai ataupun tidak disadari. Dalam pandangan Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Mulai dari urusan terkecil seperti mengatur urusan rumah tangga sampai dengan urusan terbesar seperti mengatur urusan sebuah negara semua itu diperlukan pengaturan yang baik, tepat dan terarah dalam bingkai sebuah manajemen agar tujuan yang hendak dicapai bisa diraih dan bisa selesai secara efisien dan efektif. Pada dasarnya ajaran islam yang tertuang dalam Al-Qur’an dan As Sunnah mengajarkan tentang kehidupan yang serba terarah dan teratur merupakan contoh konkrit adanya manajemen yang mengarah kepada keteraturan. Puasa, haji dan amaliyah lainnya merupakan pelaksanaan manajemen yang monomintal.
Teori dan konsep manajemen yang digunakan saat ini sebenarnya bukan hal yang baru dalam perspektif islam. Manajemen itu telah ada paling tidak ketika Allah menciptakan alam semesta beserta isinya. Ketika Nabi Adam sebagai khalifah telah melaksanakan unsur-unsur manajemen tersebut. Al-Quran dan hadits diyakini mengandung prinsip dasar menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Penafsiran atas Al Quran dan Hadits perlu senantiasa dilakukan. Hal ini penting dilakukan, sebab pada satu sisi wahyu dan kenabian telah berakhir sedangkan pada sisi yang lain kondisi zaman selalu berubah seiring dengan perkembangan pemikiran manusia dan tetap mutlak diperlukannya petunjuk yang benar bagi manusia. Manusia dikenal sebagai makhluk sosial, sehingga eksistensinya dipengaruhi oleh interaksi dengan manusia lain. Di dalam berinteraksi antar individu hingga yang lebih luas mustahil tanpa adanya kiat-kiat atau manajemen. Sudah menjadi kepastian, bahwa Al Quran dan Hadits menjadi referensi dan pandangan hidup dalam aspek kehidupan umat Islam seperti manajemen.
2 1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana hakikat ilmu manajemen menurut perspektif Islam?
2. Apa saja keutamaan ilmu manajemen dalam ajaran Islam?
3. Bagaimana teori-teori manajemen yang ada dapat diaplikasikan dalam kerangka Islam?
4. Apa saja ayat-ayat Al-Qur'an dan hadist yang relevan dengan ilmu manajemen?
1.3 Tujuan
1. Mengidentifikasi dan menjelaskan hakikat ilmu manajemen dari sudut pandang Islam.
2. Menguraikan keutamaan-keutamaan ilmu manajemen dalam ajaran Islam.
3. Menganalisis teori-teori ilmu manajemen dan bagaimana teori tersebut dapat diterapkan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
4. Menyajikan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadist yang relevan sebagai landasan dalam memahami dan mengaplikasikan ilmu manajemen dalam Islam.
3 BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Hakikat Ilmu Manajemen
Hakikat ilmu manajemen adalah sebagai suatu ilmu yang mempelajari cara-cara mengatur dan mengelola sumber daya secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan organisasi atau individu. Ilmu manajemen melibatkan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian sumber daya manusia, keuangan, dan materi untuk mencapai hasil yang optimal.
Ramayulis menyatakan bahwa hakikat manajemen adalah al-tadbir (pengaturan).
Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat dalam al-Qur’an seperti firman Allah:
ُرِّ بَدُي َرأمَ ألْا َن م ءاَمَّسلا ىَل إ ض أرَ ألْا َّمُث ُج ُرأعَي هأيَل إ ي ف م أوَي َناَك ُه ُراَدأق م َفألَأ ةَنَس اَّم م َنوُّدُعَت Artinya: “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”.
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah swt. Adalah pengatur (manager) alam.
Keteraturan alam raya ini merupakan bukti kebesaran Allah dalam mengelola alam ini.
Namun, karena manusia telah dijadikan khalifah di bumi (Qs. Fathir: 39), maka dia harus mengatur dan me-manage bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah telah mengatur alam raya. Manajerial setiap manusia, baik dalam konsep secara umum, yakni menjadi khalifah di bumi sebagaimana ayat diatas, maupun dalam konsep khusus, yaitu mengelola organisasi, semua pada akhirnya harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah swt maupun terhadap sesame manusia. Rosululloh saw. Bersabda:
نع لقعم نب راسي يضر الله هنع لاق: تعمس لوسر الله ىلص الله هيلع ملسو لوقي: ((اَم أن م دبَع هأي ع أرَتأسَي ُالله ةَّي ع َر، ُت أوـُـَمي َم أوَي ُت أوـُـمَي َوُه َو شاَغ ه تَّي ع َر ل َّل إ َم َّرَح ُالله هأيَلَع َةَّنَجلا
4 Artinya: “Barangsiapa seorang hamba yang dimintai pertanggung jawaban Allah atas kepemimpinannya ketika dia mati di hari kematiannya sedangkan dia seorang pendusta dalam kepemimpinannya, maka Allah mengharamkan dirinya dari surga”. (HR. Muslim).
Keberhasilan proses pendidikan bergantung juga pada pola manajemen lembaga pendidikan, sebagaimana dijelaskan Muhammad Abduh di atas. Meskipun dewasa ini lembaga-lembaga pendidikan Islam sudah mulai mengembangkan kualitas pendidikannya, terutama dalam hal manajemen, akan tetap diakui bahwa upaya tersebut masih berupa peniruan dengan tambal sulam atau dengan kata lain mengadopsi model yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan umum. Artinya perasaan harga diri bahwa apa yang bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan umum dapat juga dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Unsur-unsur Pendukung Manajemen dalam Islam
Unsur-unsur manajemen dalam Islam merupakan fungsi manajemen. Dimana ketika unsur-unsur yang ada tidak dijalankan maka optimalisasi hasil tidak akan tercapai.
Adapun unsur pendukung manajemn pendidikan Islam yaitu :
a. Planning ( Perencanaan): Planning adalah suatu proses pemikiran, baik secara garis besar maupun secara mendetail. pikir dilakukan untuk menghindari kerugian atau kegagalan.
b. Organizing (Pengorganisasian): Adalah penyusunan dan pengaturan bagian- bagian hingga menjadi suatu kesatuan. Organizing diperlukan dalam pendidikan Islam dalam rangka menyatukan visi misi sehingga tujuan bisa tercapai. Berkaitan dengan hal ini ada ungkapan ahli bijak yaitu ; ”Kebenaran yang tidak di organisir pasti akan dikalahkan oleh sesuatu yang bathil yang di organisir “
c. Actuating (Tindakan): Actuating pada hakikatnya adalah menggerakkan orang- orang untuk mencapai tujuan yang ditetapkan secara efektif dan efisien. Actuating merupakan aplikasi atau pelaksanaan dari planing yang telah di susun dan direncanakan.
d. Controlling (Pengawasan): Pengawasan merupakan penentu terhadap apa yang harus dilaksanakan sekaligus menilai dan memeperbaiki sehingga pelaksanaan program sesuai dengan apa yang direncanakan oleh pendidikan Islam.
5 Dalam Islam, manusia selalu dianjurkan untuk bekerja secara teratur. Dalam perkembangan modern, mengelola sesuatu secara teratur merupakan bagian dari ilmu dan praktik manajemen. Islam menganjurkan untuk melakukan pekerjaan dengan teliti dan baik. Sehingga manajemen pada perspektif syariat Islam mengacu pada adanya aturan- aturan yang harus diikuti untuk mempercepat pelaksanaan agar tidak menyimpang dari visi dan misi organisasi.
Berdasarkan pengertian diatas, manajemen Islam adalah suatu bidang ilmu yang sangat berguna di kalangan manapun untuk mengatur semua sumber daya yang ada berdasarkan kerjasama berbagai elemen organisasi agar visi dan misi organisasi dapat tercapai. Ekonomi Islam pada dasarnya merupakan upaya untuk mengintegrasikan ekonomi islam melalui Islamisasi ilmu pengetahuan. Islam sebagai sistem kehidupan yang lengkap tentu memiliki konsep kepemimpinan. Dalam pendekatan Islam manajemen ialah manajemen yang adil. Manajemen yang adil adalah manajer tidak menyalahgunakan bawahannya dan bawahanpun tidak merugikan manajer atau perusahaan tempatnya bekerja.
Nabi Muhammad Saw mencontohkan etika bisnis dalam 4 pilar:
a. Tauhid berarti pandangan kepemilikan semua aset dari transaksi bisnis di dunia adalah milik Allah SWT dan manusia hanya diberi amanah untuk mengelolanya.
b. Keadilan berarti semua keputusan mengenai transaksi atau kontrak kerja dengan mitra bisnis harus didasarkan pada kesepakatan yang disepakati bersama.
c. Kehendak Bebas yang berarti tata kelola Islam memungkinkan orang untuk melepaskan kreativitas mereka dalam bertransaksi selama itu sesuai dengan prinsip-prinsip hukum ekonomi Islam, atau halal.
d. Akuntabilitas berarti pemangku kepentingan harus memperhitungkan semua keputusan manajer.
6 1.2 Keutamaan Ilmu Manajemen
Keutamaan ilmu manajemen dalam paradigma Islam terletak pada kemampuannya untuk mengelola sumber daya dengan sebaik mungkin sesuai dengan ajaran agama. Dengan ilmu manajemen yang baik, seseorang dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan efisien, adil, dan bertanggung jawab. Ilmu manajemen yang didasarkan pada nilai-nilai Islam juga dapat membantu dalam menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan produktif.
Ilmu manajemen memiliki beberapa keutamaan dalam Islam, di antaranya:
a. Efisiensi dan Efektivitas: Islam mendorong umatnya untuk bekerja dengan efisien dan produktif. Manajemen yang baik memastikan bahwa sumber daya (waktu, tenaga, dan dana) digunakan sebaik mungkin, sesuai dengan prinsip Islam untuk menghindari pemborosan. (QS. Al-Isra: 27).
b. Amanah: Pengelolaan yang baik merupakan bentuk pelaksanaan amanah yang diembankan Allah kepada manusia, Manajemen yang efektif memastikan bahwa tugas dan tanggung jawab dilaksanakan dengan amanah dan kejujuran. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR. Bukhari dan Muslim).
c. Kemakmuran: Manajemen yang baik mampu menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan dalam masyarakat. Dalam manajemen, prinsip keadilan sangat dijunjung tinggi. Pemimpin harus berlaku adil terhadap bawahan dan memastikan kesejahteraan mereka. QS. Al-Hadid: 25 menegaskan pentingnya menegakkan keadilan dalam kehidupan.
d. Kepemimpinan yang Adil: Manajemen yang sesuai dengan prinsip Islam akan melahirkan pemimpin yang adil dan bijaksana.
e. Perencanaan dan Pengorganisasian: Islam menganjurkan umatnya untuk merencanakan dengan baik. QS. Al-Hasyr: 18 menyatakan, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)". Ini mencerminkan pentingnya perencanaan dalam setiap aspek kehidupan.
7 f. Pengendalian Diri dan Evaluasi: Dalam manajemen, pengendalian diri dan evaluasi terhadap kinerja adalah penting. QS. Al-Mulk: menyebutkan bahwa Allah menciptakan hidup dan mati untuk menguji siapa di antara hamba-Nya yang terbaik amalnya. Evaluasi diri menjadi bagian integral dalam meningkatkan kualitas manajemen.
g. Kerjasama dan Sinergi: Manajemen yang baik menekankan pentingnya kerjasama dan sinergi. QS. Al-Maidah: menyebutkan, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
h. Komunikasi yang Baik: Manajemen dalam Islam juga menekankan pentingnya komunikasi yang baik antara pemimpin dan yang dipimpin. Komunikasi yang efektif akan memperkuat hubungan dan memudahkan pencapaian tujuan bersama.
1.3 Teori Ilmu Manajemen
Beberapa teori ilmu manajemen yang relevan dalam paradigma Islam antara lain:
a. Teori Kepemimpinan
Memegang prinsip kepemimpinan yang adil, tawadhu', dan berorientasi pada kebaikan bersama. Di dalam Islam kepemimpinan identik dengan sebutan Kholifah yang berarti wakil atau pengganti. Istilah ini dipergunakan setelah wafatnya Rosulullah SAW namun jika merujuk pada firman Allah SWT:
ْ ذِإ َو َْلاَق َْكُّب َر ِْةَكِئ َلَ َم لِل يِ نِإ ْ ل ِعا َج يِف ْ ِض رَْ لا ْ ةَفيِل َخْۖ اوُلاَق ُْلَع جَتَأ ا َهيِف ْ ن َم ُْد ِس فُي ا َهيِف
ُْكِف سَي َو َْءا َم ِ دلا ُْن حَن َو ُْحِ بَسُن َْك ِد م َحِب ُْس ِ دَقُن َو َْكَلْۖ َْلاَق يِ نِإ ُْمَل عَأ ا َم َْل َْنو ُمَل عَت
Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 30)
8 Kata khalifah dalam ayat tersebut tidak hanya ditunjukkan kepada para khalifah sesudah Nabi, tetapi juga kepada semua manusia yang ada dibumi ini yang bertugas memakmurkan bumi ini. Kata lain yang dipergunakan yaitu Ulil Amri yang mana kata ini satu akar dengan kata Amir sebagaimana disebutkan diatas. Kata Ulil Amri berarti pemimpin tertinggi dalam masyarakat Islam. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An Nisa’ ayat 59 yang berbunyi:
اَي اَهُّيَأ َْني ِذَّلا اوُن َمآ اوُعي ِطَأ ََّْاللّ اوُعي ِطَأ َو َْلوُس َّرلا يِلوُأ َو ِْر مَ لا ْ مُك ن ِمْۖ ْ نِإَف ْ مُت ع َزاَنَت يِف ْ ء يَش
ُْهوُّد ُرَف ىَلِإ َِّْاللّ ِْلوُس َّرلا َو ْ نِإ ْ مُت نُك َْنوُن ِم ؤُت َِّْللّاِب ِْم وَي لا َو ِْر ِخ لْاْۚ َْكِل ََٰذ ْ ر ي َخ ُْنَس حَأ َو ْ لَي ِو أَت
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An Nisa’: 59)
اَذِإ َو ْ مُهَءا َج ْ ر مَأ َْن ِم ِْن مَ لا ِْوَأ ِْف و َخ لا اوُعاَذَأ ِْهِبْۖ ْ وَل َو ُْهوُّد َر ىَلِإ ِْلوُس َّرلا َْٰىَلِإ َو يِلوُأ
ِْر مَ لا ْ مُه ن ِم ُْه َمِلَعَل َْني ِذَّلا ُْهَنوُطِب نَت سَي ْ مُه ن ِمْۗ َْل وَل َو ُْل ضَف َِّْاللّ ْ مُك يَلَع ُْهُت َم ح َر َو ُْمُت عَبَّت َل
َْناَط يَّشلا َّْلِإ ْ لَيِلَق
Artinya: “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). (QS. An Nisa’: 83)
Kemudian kata Wilayah juga disebutkan dalam al Quran dan juga dapat bermakna memerintah, menguasai, menyayangi dan menolong
9 Artinya: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)”. (QS. Al Ma’idah: 55)
ا َمَّنِإ ُْمُكُّيِل َو َُّْاللّ ُْهُلوُس َر َو َْني ِذَّلا َو اوُن َمآ َْني ِذَّلا َْنو ُميِقُي َْة َلََّصلا َْنوُت ؤُي َو َْةاَك َّزلا ْ مُه َو َْنوُع ِكا َر Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
ْ مُكُّلُك ْ عا َر ْ مُكُّلُك َو ْ لوُئ سَم ْ نَع ِْهِتَّيِعَر ُْماَم ِ لْا ْ عا َر ْ لوُئ سَم َو ْ نَع ِْهِتَّيِع َر ُْلُجَّرلا َو ْ عا َر يِف ِْهِل هَأ َْوُه َو ْ لوُئ سَم ْ نَع
ِْهِتَّيِع َر
Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR.
Bukhari: 2278).
Teori Motivasi
Dalam Islam, motivasi kerja dihubungkan erat dengan konsep tugas (amanah), tanggung jawab, serta tujuan hidup yang selaras dengan ajaran agama. Beberapa konsep utama dalam motivasi kerja dalam Islam:
a. Taqwa (Ketakwaan): Motivasi kerja dalam Islam diperkuat oleh konsep taqwa, yaitu ketakwaan kepada Allah. Seorang Muslim diberi dorongan untuk menjalankan tugas dan pekerjaan dengan baik sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Kesadaran akan tanggung jawab terhadap pekerjaan sebagai amanah dari Allah dapat menjadi motivasi yang kuat.
b. Ikhlas (Niat yang Tulus): Niat yang tulus dan ikhlas dalam bekerja sangat ditekankan dalam Islam. Seorang Muslim diingatkan untuk melakukan pekerjaan dengan niat yang murni, bukan semata-mata untuk mencari pujian manusia, tetapi sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Konsep ikhlas ini dapat meningkatkan kualitas kerja dan memberikan motivasi yang tahan lama.
10 c. Sikap Syukur: Islam mendorong umatnya untuk bersyukur terhadap nikmat yang diberikan Allah, termasuk nikmat pekerjaan dan rezeki. Sikap syukur ini dapat menjadi pendorong positif untuk terus berusaha dan memberikan yang terbaik dalam pekerjaan.
d. Bersikap Adil dan Berbuat Baik: Konsep adil (‘adl) dan berbuat baik (ihsan) juga terkait erat dengan motivasi kerja dalam Islam. Seorang Muslim diajarkan untuk bekerja dengan adil, baik dalam memperlakukan rekan kerja maupun dalam menyampaikan pelayanan kepada orang lain.
Motivasi kerja dalam Islam tidak hanya terfokus pada keberhasilan duniawi, tetapi juga pada kesempurnaan akhirat. Dengan memandang pekerjaan sebagai amanah dan kesempatan untuk beribadah, seorang Muslim dapat menemukan motivasi yang mendalam dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Motivasi dalam bekerja memiliki peran yang sangat penting dalam Islam. Dalam perspektif Islam, bekerja dianggap sebagai bagian dari ibadah dan sekaligus sebagai wujud pengabdian kepada Allah.
Bekerja dengan penuh motivasi dan dedikasi dianggap sebagai cara untuk mencapai keberkahan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Teori Organisasi
Dalam islam, perintah berorganisasi ini dapat kita temukan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 yang artinya;
اَي اَهُّيَأ ُْساَّنلا اَّنِإ ْ مُكاَن قَل َخ ْ ن ِم ْ رَكَذ َْٰىَث نُأ َو ْ مُكاَن لَع َج َو ا بوُعُش َْلِئاَبَق َو اوُف َراَعَتِلْۚ َّْنِإ ْ مُك َم َر كَأ
َْد ن ِع َِّْاللّ ْ مُكاَق تَأْۚ َّْنِإ ََّْاللّ ْ ميِلَع ْ ريِب َخ
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah, ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal".
Sebagaimana telah dijelaskan dalam kandungan ayat tersebut, bahwa manusia diciptakan untuk saling berinteraksi satu sama lain dalam menjalani kehidupan sosial.
Yang mana interaksi-interaksi tersebut akan mendapatkan wadah berupa organisasi. Untuk selanjutnya, mari kita pelajari bagaimana prinsip berorganisasi secara islam.
11 Organisasi dalam islam memiliki tiga prinsip yang harus diketahui serta diamalkan:
a. prinsip ubudiah. Ubudiah merupakan konsep yang meletakkan segala sesuatu yang dilakukan organisasi sebagai ibadah atau suatu bentuk pengabdian diri terhadap Allah. Yang mana dalam menjalani prinsip ini diharapkan pelaku prinsip akan menjalaninya dengan ikhlas yang mana ikhlas merupakan penggerak utama menuju kesungguhan kerja dan peningkatan prestasi.
b. Prinsip masuliyyah. Dalam prinspi ini, pelaku organisasi dituntu senantiasa berwaspada dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Prinsip selanjutnya adalah Itqan. Mencapai titik Khidmat dan kepengurusan yang cemerlang merupakan tuntutan dalam menjalani prinsip ini. Setiap pelaku organisasi dikehendaki mengutamakan kualiti dan produktivitas dalam memberi perkhidmatan.
c. prinsip ukhuwah, atau biasa disebut sebagai persaudaraan. Menyambung dari konsep dasar organisasi yang sebagai wadah berinteraksi dalam menuju cita-cita yang sama, prinsip ukhuwah menuntut pelaku organisasi agar senantiasa menjaga hubungan baik antar individu maupun antar kelompok. Sebab dengan terjalinnya hubungan baik anar pihak, makan diharapkan terjadinya kemudahan dalam mencapai sebuah tujuan sebab banyaknya bantuan dan dukungan dari lingkungan sekitar baik itu secara tenaga, materi, atau pemikiran.
Teori Human Relations
Dalam pandangan Islam, human relations dianggap sebagai kesepakatan yang disetujui oleh pihak pemberi kerja dan penerima kerja dalam berkomunikasi. Hubungan kerja sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan motivasi, baik secara indogen maupun eksogen. Human relations juga dianggap sebagai syarat utama untuk keberhasilan suatu komunikasi baik komunikasi antar perorangan maupun komunikasi dalam organisasi instansi.
12 Dalam pandangan Islam, beberapa faktor yang mempengaruhi human relations adalah:
a. Lingkungan Kerja: Lingkungan kerja fisik dan non fisik dapat mempengaruhi hubungan antarmanusia dalam organisasi.
b. Motivasi: Motivasi yang kuat dapat meningkatkan kinerja karyawan dan mempengaruhi hubungan antarmanusia.
c. Kepemimpinan: Kepemimpinan yang efektif dapat mempengaruhi hubungan antarmanusia dalam organisasi.
Dalam pandangan Islam, teori human relation memiliki beberapa implikasi yang signifikan:
a. Komunikasi: Komunikasi yang efektif adalah titik berangkat pemahaman, penafsiran, dan tindakan. Dalam Islam, komunikasi dianggap sebagai fasilitator penting dalam proses pembuatan keputusan.
b. Kepemimpinan: Kepemimpinan yang efektif dapat mempengaruhi hubungan antarmanusia dalam organisasi dan memastikan keberhasilan suatu organisasi.
c. Motivasi: Motivasi yang kuat dapat meningkatkan kinerja karyawan dan mempengaruhi hubungan antarmanusia.
1.4 Ayat Al-Qur’anْdanْHadistْYangْRelevan
Dalam al-Quran banyak sekali ditemukan ayat-ayat yang memerintahkan kepada setiap muslim untuk membuat perencanaan akan masa depan, diantaranya firman Allah swt surat al-Hasyr ayat 18:
اَي اَهُّيَأ َْني ِذَّلا اوُن َمآ اوُقَّتا ََّْاللّ ْ رُظ نَت ل َو ْ س فَن اَم ْ ت َمَّدَق ْ دَغِلْۖ اوُقَّتا َو ََّْاللّْۚ َّْنِإ ََّْاللّ ْ ريِب َخ ا َمِب
َْنوُل َم عَت Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah tiap-tiap diri memperhatikan apa yang telah dia persiapkan untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah maha tahu terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Di dalam ayat di atas Allah swt memerintahkan kepada orang beriman untuk bertakwa kepada Allah serta mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok. Dalam
13 tafsirnya As-Shabuni (tt:355) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “Wal Tanzhur Nafsun Ma Qaddamat Lighad” adalah hendaknya masing-masing individu memperhatikan amal-amal sholeh apa yang diperbuat untuk menghadapi Hari Kiamat.
Ayat ini memberi pesan kepada orang-orang beriman untuk memikirkan masa depan yang dituangkan dalam konsep yang jelas dan sistematis, ini disebut perencanaan (planning).
Perencanaan ini menjadi sangat penting karena berfungsi sebagai pengarah bagi kegiatan, target-target dan hasil-hasilnya di masa depan sehingga apapun kegiatan yang dilakukan dapat berjalan dengan tertib.
Islam sangat mendorong umatnya untuk melakukan segala sesuatu secara terorganisir, sebab suatu kebenaran yang tidak terorganisir akan mudah dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir. Organizing yang rapi dan kuat akan terwujud dengan adanya kesatuan dalam segala tindakan. Islam sangat memotivasi umatnya untuk bersatu dan tidak berpecah belah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 103:
او ُم ِصَت عا َو ِْل ب َحِب َِّْاللّ ا عي ِم َج َْل َو اوُق َّرَفَتْۚ او ُرُك ذا َو َْت َم عِن َِّْاللّ ْ مُك يَلَع ْ ذِإ ْ مُت نُك ْ ءاَد عَأ َْفَّلَأَف
َْن يَب ْ مُكِبوُلُق ْ مُت حَب صَأَف ِْهِت َم عِنِب ا نا َو خِإ ْ مُت نُك َو َْٰىَلَع اَفَش ْ ة َر فُح َْن ِم ِْراَّنلا ْ مُكَذَق نَأَف اَه ن ِمْۗ
َْكِل ََٰذَك ُْنِ يَبُي َُّْاللّ ْ مُكَل ِْهِتاَيآ ْ مُكَّلَعَل َْنوُدَت هَت Artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Ayat ini memberi pesan kepada orang-orang beriman untuk melakukan segala sesuatu secara terorganisir, sebab suatu kebenaran yang tidak terorganisir akan mudah dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir, ini disebut Pengorganisasian (organizing).
Pelaksanaan kerja merupakan aspek terpenting dalam fungsi manajemen karena merupakan pengupayaan berbagai jenis tindakan itu sendiri, agar semua anggota kelompok mulai dari tingkat teratas sampai terbawah berusaha mencapai sasaran organisasi sesuai dengan rencana yang ditetapkan semula, dengan cara yang baik dan
14 benar. Adapun istilah yang dapat dikelompokkan kedalam fungsi pelaksanaan ini adalah directing commanding, leading dan coornairing.
Al-Qur’an dalam hal ini sebenarnya telah memberikan pedoman dasar terhadap proses pembimbingan, pengarahan ataupun memberikan peringatan dalam bentuk actuating ini. Allah berfiman dalam surat al-kahfi ayat 2 sebagai berikut :
ا مِ يَق َْر ِذ نُيِل ا س أَب ا دي ِدَش ْ ن ِم ُْه نُدَل َْر ِ شَبُي َو َْنيِن ِم ؤ ُم لا َْني ِذَّلا َْنوُل َم عَي ِْتا َحِلاَّصلا َّْنَأ ْ مُهَل ا ر جَأ ا نَس َح Artinya : Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orangorang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik (Q.S al Kahfi ayat 2).
Suatu contoh pelaksanaan dari fungsi manajemen dapat ditemukan pada pribadi agung, Nabi Muhammad Saw. ketika ia memerintahkan sesuatu pekerjaan, beliau menjadikan dirinya sebagai model dan teladan bagi umatnya. Rasulullah Saw adalah al Qur‟an yang hidup (the living Qur‟an). Artinya, pada diri Rasulullah Saw tercermin semua ajaran Al-Qur‟an dalam bentuk nyata. Beliau adalah pelaksana pertama semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya. Oleh karena itu, para sahabat dimudahkan dalam mengamalkan ajaran Islam yaitu dengan meniru perilaku Rasulullah Saw.
Controlling atau pengawasan, sering juga disebut pengendalian. Pengendalian adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud dan tujuan yang telah digariskan semula. Pengawasan adalah salah satu fungsi dalam manajemen untuk menjamin agar pelaksanaan kerja berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dalam perencanaan.
Pengawasan/pengendalian adalah proses untuk memastikan bahwa aktivitas sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan. Proses pengendalian dapat melibatkan beberapa elemen yaitu : Menerapkan standar kinerja, Mengukur kinerja, Membandingkan unjuk kerja dengan standar yang ditetapkan, dan Mengambil tindakan korektifsaat terdeteksi penyimpangan.
15 Dalam al Quran pengawasan bersifat transendental, jadi dengan begitu akan muncul inner dicipline (tertib diri dari dalam). Itulah sebabnya di zaman generasi Islam pertama, motivasi kerja mereka hanyalah Allah kendatipun dalam hal-hal keduniawian yang saat ini dinilai cenderung sekuler sekalipun.
Mengenai fungsi pengawasan, Allah SWT berfirman di dalam al Quran sebagai berikut:
َْني ِذَّلا َو اوُذ َخَّتا ْ ن ِم ِْهِنوُد َْءاَيِل وَأ َُّْاللّ ْ ظيِف َح ْ م ِه يَلَع اَم َو َْت نَأ ْ م ِه يَلَع ْ لي ِك َوِب Artinya : Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi (perbuatan) mereka; dan kamu (ya Muhammad) bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka (Q.S As Syuura ayat:6).
ْ نِإَف اوُض َر عَأ ا َمَف َْكاَن لَس رَأ ْ م ِه يَلَع ا ظيِف َحْۖ ْ نِإ َْك يَلَع َّْلِإ ُْغ َلََب لاْۗ اَّنِإ َو اَذِإ اَن قَذَأ َْناَس ن ِ لْا اَّن ِم ْ ة َم ح َر َْح ِرَف اَهِبْۖ ْ نِإ َو ْ مُه ب ِصُت ْ ةَئِ يَس اَمِب ْ ت َمَّدَق ْ م ِهي ِد يَأ َّْنِإَف َْناَس ن ِ لْا ْ روُفَك Artinya : Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat) (Q.S As Syuura ayat 48).
Contoh pengawasan dari fungsi manajemen dapat dijumpai dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari sebagai berikut: Al Bukhari Muslim meriwayatkan dari Ibnu „Abbas, ia berkata: “Suatu malam aku menginap di rumah bibiku, Maimunah.
Setelah beberap saat malam lewat, Nabi bangun untuk menunaikan shalat. Beliau melakukan wudhu` ringan sekali (dengan air yang sedikit) dan kemudian shalat. Maka, aku bangun dan berwudhu` seperti wudhu` Beliau. Aku menghampiri Beliau dan berdiri di sebelah kirinya. Beliau memutarku ke arah sebelah kanannya dan meneruskannshalatnya sesuai yang dikehendaki Allah …”.
Dari peristiwa di atas dapat ditemukan upaya pengawasan Nabi Muhammad Saw terhadap Ibnu „Abbas yang melakukan kesalahan karena berdiri di sisi kiri Beliau saat menjadi makmum dalam shalat bersama Beliau. Karena seorang makmum harus berada di sebelah kanan imam, jika ia sendirian bersama imam. Beliau Shallallahu 'alaihi wa
16 sallam tidak membiarkan kekeliruan Ibnu Abbas dengan dalih umurnya yang masih dini, namun Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tetap mengoreksinya dengan mengalihkan posisinya ke kanan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam melakukan pengawasan, beliau langsung memberi arahan dan bimbingan yang benar.
17 BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Proses manajemen sebenarnya telah dicontohkan di dalam al Quran dan diaplikasikan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Memang, al Quran dan Hadits Nabi tidak menyebutkan hal-hal yang berhubungan dengan manajemen secara rinci. Tetapi bagaimana kita menggali dan menafsirkannya, karena sesungguhnya manajemen telah ada dan tercantum dalam al Quran dan Hadits sebagai sumber pokok ajaran Islam seperti fungsi-fungsi manajemen (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan Pengawasan) bahkan Al qur’an dan Hadits memberikan arahan tentang keterampilan kepemimpinan dan kompetensi apa saja yang harus dimiliki seorang pemimpin.
Paradigma Islam tentang ilmu manajemen menekankan integrasi antara prinsip manajemen modern dengan nilai-nilai Islam. Manajemen dalam Islam berfokus pada kepemimpinan berbasis nilai, etika dan moralitas, tujuan jangka panjang yang mencakup kesejahteraan dunia dan akhirat, serta keseimbangan dan keberlanjutan. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan untuk efisiensi dan efektivitas tetapi juga untuk keadilan, kejujuran, dan kemaslahatan umat manusia.
3.2 Saran
Untuk membangun Integrasi Nilai Islam dalam ilmu Manajemen, Institusi pendidikan harus memasukkan nilai-nilai Islam dalam kurikulum manajemen untuk membentuk pemimpin yang beretika dan Penerapan Etika dalam Kebijakan Organisasi, Organisasi perlu mengadopsi kebijakan yang mencerminkan kejujuran, transparansi, dan keadilan dalam semua aspek manajemen.
18 DAFTAR PUSTAKA
Muhadi Zainuddin dan Abd. Mustaqim, Studi Kepemimpinan Islam. Telaah Normatif dan Historis, (Semarang: Putra Mediatama press. 2005), 58.
https://mpi.iaitfdumai.ac.id/2016/04/hakekat-manajemen-dalam-pendidikan islam.html?m=1 diakses: 29 mei 2024 18:06.
Azimi Zul. 2024. “MOTIVASI DALAM ISLAM”. Jurnal Tahqiqa, Vol. 18, No. 1, Tahun 2024.
https://www.kompasiana.com/saniasakinata6686/5fb22471d541df73fc483312/mengena l-konsep-organisasi-dalam-islam?page=2&page_images=1diakses: 29 mei 2024 Anwar kasful dkk. 2024 “Human Relation (Alaqah Insaniyah) dalam Perspektif Islam”.
Jurnal Pendidikan Tambusai Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024
Goffar Abdul. “MANAJEMEN DALAM ISLAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADITS”. https://media.neliti.com/media/publications/290449-manajemen- dalam-islam-perspektif-al-qura-ebacc34e.pdf diakses 30 mei 2024 08:01